17.2.12

And Finally I Only Have to Open My Heart..

Berhubung belum jauh-jauh dari Hari Kasih Sayang (yang sebenarnya gak bener-bener gue rayain juga, bukan karena budaya Baratnya tetapi karena setiap hari sudah terasa Valentine buat gue, cieilaaahhh...), jadi gue mau curcol dikit soal Liebe.

Beberapa hari lalu gue sempat melakukan perenungan, ya semacam flashback tentang kehidupan cinta gue sejak yang pertama sampai yang sekarang. Kalau ditotal udah lumayan banyak juga orang yang gue "ekele"in dan yang meng"ekele"kan gue. (Hmm.. ekele itu bahasa ciptaannya temen gue, Abeth, yg artinya kira2 menggebet/suka, jadi kalo ada kata "ekele" artinya gebetan ya). Ekele gue dari yang pertama sampai yang sekarang tujuh. Satu di antaranya persis seperti impian gue, tapi di antara tujuh orang itu nggak ada yang sampai jadi. Di samping itu ada beberapa orang yang ngekelein gue juga (yang dalam waktu bersamaan gue sama sekali nggak mengekelekan mereka) tapi ada 2 yang jadi.

Sebenarnya untuk ukuran zaman sekarang gue terbilang agak telat mengalami yang namanya pacaran pertama kali. Kalau rata-rata orang udah pernah coba di SMP atau SMA, gue baru nyoba pas kuliah. Pas SMP kepentok aturan nyokap dan waktu SMA gak punya pemandangan karena di sekolah homogen. Jujur aja gue dulu sempat desperate juga kenapa kok teman-teman gue banyak yang suka atau berhasil jadi sama ekelenya sementara gue enggak. Banyak teman gue yang abis putus pasti ada aja yang gandeng lagi sementara gue jadian aja belom. Kata siapa gue gak pernah Upe (Usia Panik)? Nah tapi gue selalu punya senjata: gue menghibur diri dengan menyakinkan kalau jodoh gue emang bukan dari Indonesia tapi gue harus merambah dunia internasional yang memang gue impikan dari dulu. Emang sih kriteria gue ketinggian, secara fisik gue prefer orang Jerman, Slavia atau Skandinavia (ingat, bukan sekedar bule! tapi ada preferensi bangsa), secara karakter gue maunya yang jujur, setia, sabar, pengertian, romantis, lebih pintar dari gue, punya sifat kaya ksatria2 zaman Mittelalter dan belum pernah melakukan *piiiiiip* (yakali ada orang Jerman, Slavia atau Skandinavia yang kaya gini secara rata2 orang sana 13 tahun udah itu). Nah ketinggian kan, tuh??

Setelah beberapa kali gagal dengan ekele lokal gue gara-gara macem-macem alasan yang gue gak ngerti akhirnya gue merambah dunia internasional dengan ikut Deutschcamp. Di sana gue punya ekele orang Jerman, tinggi, cakep, pinter dan baik hati bernama Till Langrehr hahaha... eh sayangnya dia boro-boro ngelirik gue ternyata dia udah punya cewek pula. Yah, sedih deh... Dan jujur aja gue emang gak begitu dekat sama dia sekalipun gue udah berusaha sepertinya dia memang gak tertarik. Setelah dia gue sempat kenalan juga dengan beberapa orang Jerman yang menurut gue menarik via internet tetapi sepertinya mereka juga gak tertarik sama gue. Gue pun jadi desperado lagi dan berpikir jangan-jangan orang luar pun gak tertarik sama gue, apalagi setelah temen gue si Maya bilang muka gue terlalu cakep (huekkk narsis) buat orang bule yang biasanya seleranya sama muka mbak-mbak. -____-a

Akhirnya gue mulai berpikir, kalau gue terus-terusan berharap nemuin orang sempurna kaya kriteria gue itu kapan gue belajar menjalin hubungan. Apalagi sampai sekarang belum ada Praktikan ganteng yang masih muda dan mengajar di jurusan gue. Oke taruhlah gue baru jadian waktu gue udah di Jerman (paling cepat ya S2 dan itu kira2 umur gue udah 22-23 berarti 2 tahun lagi udah sampai usia ideal menikah). Saat itu pasti gue udah dikejar-kejar umur dan gak mungkin berlama-lama lagi pacaran kan? Sementara gue gak pengalaman pasti masih bego ini itu dan kekanak-kanakan, gimana caranya tuh orang bisa tahan? Sejak saat itu gue berpikir untuk pakai prinsip "carpe diem". Gue mulai berefleksi kenapa sampai kuliah belum jadian. Apakah gue tipe yang tidak disukai? Ternyata tidak juga, tapi kebanyakan orang yang mengekelekan gue itu langsung gue tepis dan usir karena jelas udah gak sesuai dengan kriteria gue. Gue gak pernah mau kenal dan lihat mereka lebih dalam lagi, gak cuma sekedar "kelokalannya" dan beberapa sifat minus yang membuat dia gak perfect dan dicoret dari daftar gue. Gue sombong banget berasa kaya putri bangsawan yang semuanya harus sempurna. Ya jelas aja gak ada yang jadi. Apalagi dengan orang-orang itu gue semacam membangun tembok tinggi dan pasang tulisan dijidat "gak mau didekati sama orang selain Jerman, Slavia atau Skandinavia".

Prinsip "carpe diem" itu sendiri bukan berarti jadian sama semua orang yang ngekelein gue, tapi lebih pada berpandangan realistis dan gak perlu lihat yang jauh-jauh kalau di sini sudah ada. Buat apa ngejar orang yang  gak jelas bakal ada atau tidak, atau yang gak suka sama kita sementara di dekat kita ada seseorang yang benar-benar menyukai kita dan menawarkan hatinya untuk kita? Siapa tahu dengan kita membuka hati sedikit dan membiarkan dia mencintai kita nantinya kita akan sadar bahwa orang itulah yang sebenarnya ditakdirkan untuk jadi pasangan kita? :') (duh, bahasanya...). Biarkan aja dulu orang itu (sekalipun gak sesuai dengan kriteria kita) mencintai kita dengan caranya, dari situ kita akan sadar kok orang itu sebenarnya berarti gak buat kita, pantas gak untuk kita habiskan waktu berlama-lama sama dia. Yang sesuai kriteria belum tentu yang terbaik juga buat kita, siapa tahu nantinya kita akan lebih bahagia dengan seseorang yang sama sekali gak bisa kita bayangkan? (contohnya gue sekarang :'D). Well, sometimes God gives me not what I want but what I need, and finally I only have to open my heart, to let him to love me through his own way... :) So far I'm happier than before :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar