Banyak orang harus bermasalah ketika hubungannya terbentur perbedaan, entah perbedaan agama, etnis, budaya, bangsa, kelas sosial, bahkan jurusan atau profesi. Masalah ini klise dan umum ditemukan di semua kasus perbedaan, yaitu keadaan ketika mereka tidak bisa bersatu karena perbedaan itu. Nah, lalu biasanya yang terjadi adalah kedua pihak jadi galau dan ujung-ujungnya kalau sudah nggak kuat menghadapi tantangan itu biasanya mengakhiri hubungan begitu saja. Sebegitu cepatnya menyerahkah? Memangnya kalau ada perbedaan dua orang yang saling mencintai nggak bisa bersatu? Wah, sayang sekali dong kalau gitu apa gunanya Tuhan mempertemukan mereka? Kok kalau saya tidak secepat itu menyerah ya?
Saya berpandangan bahwa perbedaan dalam hubungan itu selalu bisa dijembatani. Tetapi pertama-tama, untuk bisa melihat cara menjembataninya ini dibutuhkan dua jiwa dan pemikiran yang sudah cukup dewasa. Kebetulan saya tipe orang yang menolak hubungan percintaan di bawah umur (dengan batas minimal umur itu sekitar 17 tahun). Alasannya sederhana, orang di bawah usia itu rata-rata belum bisa menyikapi hubungannya dengan benar dan keputusan-keputusannya masih sering banyak dipengaruhi orang tua tanpa bisa menyampaikan pemikiran dan alasan masuk akal milik sendiri. Kalau hubungan percintaan dengan perbedaan itu terjadi di usia segini sih nggak heran kalau ujung-ujungnya pisah.
Terus hubungannya sama hermeneutik apa? Nah, balik lagi ke jalur pembicaraan semula, bahwa setiap perbedaan termasuk yang level berat seperti agama itu bisa dijembatani. Caranya dengan proses Verstehen (saling mengerti) yang berhubungan sama suatu konsep filsafat bernama hermeneutik. Pada intinya sih hermeneutik ini semacam proses penyampaian dan penafsiran pesan, berasal dari nama dewa pengantar pesan bangsa Yunani, Hermes. Kebetulan karena saya berasal dari jurusan sastra, maka saya membahasnya dari sudut pandang sastra untuk memberi gambaran yang lebih mudah. Teori hermeneutik ini sering dipakai untuk mengkritik karya sastra. Dalam suatu karya sastra, ada seorang penulis yang ingin menyampaikan pesan lewat tulisannya. Pesan itu kemudian ditangkap oleh pembaca. Namun karena ada perbedaan latar belakang antara penulis dan pembaca, maka seringkali pesan tidak bisa tersampaikan persis sama dengan yang dikehendaki penulis. Proses menangkap dan menafsirkan pesan yang seringkali dipengaruhi oleh latar belakang pembaca itulah yang disebut proses Verstehen.
Proses Verstehen tidak hanya terjadi dalam hubungan antara penulis dan pembaca, melainkan juga antartokoh dalam cerita. Misalkan ada dua tokoh dengan latar belakang berbeda bertemu dan satu sama lain saling bertolak belakang. Dua tokoh ini membawa latar belakang A dan B yang berbeda dalam berperilaku. Ketika mereka bertemu, proses Verstehen yang terjadi lewat interaksi keduanya menghasilkan satu titik temu (anggap sebagai titik C) yang menjadi reaksi bersama hasil interaksi tersebut. Hasil interaksi ini terbagi dalam tiga jenis, yaitu: perluasan cakrawala (Horizonterweiterung), pendekatan cakrawala (Horizontannaeherung) dan peleburan/pembauran cakrawala (Horizontverschmelzung).
Mari kita gunakan contoh dengan perbedaan dalam hubungan tadi untuk menjelaskan ketiga jenis hasil proses Verstehen di atas. Misalkan ada seorang pria dengan agama A yang menjalin hubungan dengan wanita beragama B. Jika proses Verstehen mereka menghasilkan perluasan cakrawala, maka baik pria maupun wanita cukup mengetahui bahwa dalam ajaran agama pasangannya ada dogma, ritual, peraturan, dll. yang demikian. Keduanya tidak bisa menerima sepenuhnya mengapa ada hal-hal tersebut dalam agama pasangannya. Proses Verstehen ini bisa dianggap gagal, tapi bisa juga berhasil, jika pada akhirnya satu sama lain memilih untuk menganggap bahwa agama adalah hal privat yang tidak perlu dipaksakan untuk dimengerti oleh satu sama lain, intinya lebih baik diprivatkan dan tidak usah dibicarakan lagi di ruang publik antarkeduanya. Mereka bisa menaruh cinta di atas keyakinan dalam menyikapi perbedaan itu. Jika proses Verstehen menghasilkan pendekatan cakrawala, maka baik pria maupun wanita mengetahui mengapa dalam ajaran agama pasangannya ada dogma, ritual, peraturan, dll. yang demikian serta menerima dan memakluminya. Pria maupun wanita tetap setia dengan keyakinan masing-masing namun (mungkin) ketika pasangannya merayakan hari raya, ia mengucapkan selamat, ikut membantu dalam menyiapkan perayaan, atau bahkan turut memeriahkan tanpa harus ikut serta dalam ritual di tempat ibadahnya. Hal ini adalah hasil yang paling ideal :) Proses Verstehen terakhir adalah yang paling banyak diharapkan banyak orang tetapi kalau untuk saya tetap kurang oke. Jika hasil proses Verstehen adalah pembauran cakrawala, maka salah satu dari kedua pihak menerima dan mengikuti dengan rela apa yang diyakini pasangannya. Mengapa salah satu dan bukan saling? Karena nggak mungkin kan seseorang memeluk dua agama, atau mereka akhirnya cuma tukar agama (nanti perbedaannya cuma pindah posisi dong?). Intinya, ketika proses Verstehen ini berhasil (salah satu dari hasil di atas), maka pasti hubungan tersebut akan langgeng dan berhasil.
Hmm... tapi bagaimana dengan lingkungan sosial? dengan keluarga? dengan institusi agamanya? Nah, inilah pentingnya kedewasaan. Ketika seseorang sudah dewasa dan merasa bahwa proses tersebut telah berhasil, maka ia bisa menentukan sikap sendiri. Tidak satu pun orang di dunia ini yang dapat menentang kekuatan niat dan rencana Tuhan. Ketika kedua orang merasa cocok, apalagi yang harus dikhawatirkan. Oh, tapi ingat, pandangan ini berdasarkan pandangan saya yang sesungguhnya pernikahan itu kontrak sosial antara dua manusia :) Keluarga dan lingkungan sosial hanya sebagai penasehat dan pengarah, tetapi tidak bisa mengatur mutlak dua orang yang sudah dewasa dan punya hak memutuskan ini. Tentang institusi agama..., banyak pilihan kok, kalau memang keduanya sudah merasa saling cocok kan bisa dicari jalan keluarnya. Ada kok agama yang masih mengizinkan pernikahan beda, atau kalau saya sendiri tipe orang yang nggak mau cepat menyerah, karena nggak satu pun orang tahu akan masa depan. Siapa tahu suatu saat hukum agama berubah. Siapa tahu suatu saat di masa depan terbukti bahwa semua jalan keyakinan sama aja. Siapa tahu (walaupun sebenarnya kurang sreg sih) salah satu dari kita akhirnya ikut meyakini apa yang diyakini pasangannya. Siapa tahu... siapa tahu.. dan masih banyak hal yang tidak kita tahu bisa terjadi di masa depan. Intinya sih yang diperlukan cuma keberhasilan proses saling mengerti itu, kalau sudah saling mengerti, siapa lagi yang bisa menghalangi? Hanya jika bukan takdirnya atau bukan rencana Tuhan-lah hubungan itu akan menjadi gagal. Jadi, buat yang sedang menjalani hubungan dengan perbedaan (seperti saya :P), berhentilah menggalau yang tidak penting, mantapkan dulu keberhasilan proses Verstehen-nya supaya bisa melangkah lebih jauh :) Semoga berhasil :)
viele Liebe,
LV~Eisblume
Tampilkan postingan dengan label pluralisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pluralisme. Tampilkan semua postingan
28.10.12
12.8.12
Bhinneka Tunggal Ika, hanya sekedar semboyan saja?
Gue selalu mau nulis ini dan baru kesampaian sekarang, setelah banyak peristiwa terjadi mendorong gue untuk melakukannya. Plus bentar lagi Hari Kemerdekaan Indonesia jadi pas banget untuk bahas hal-hal seperti ini :)
Pernah nggak sih kalian menanyakan hal ini: apakah Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika itu beneran ada? Atau Bhinneka Tunggal Ika itu hanya semboyan buat keren-kerenan negara kita di mata internasional aja? Pertanyaan ini tuh selalu muncul di kepala gue kalau sedang heboh-hebohnya ada isu berkaitan dengan keberagaman SARA di negara kita. Gue tahu, negara kita itu bagus sekali apalagi dari segi keberagamannya. Gimana enggak, sukunya macam-macam dari yang asli maupun pendatang. Agama juga macam-macam, nggak terhitung lagi kepercayaan yang bahkan kita sendiri aja nggak tahu eksistensinya. Bahasa daerah macam-macam. Duh, apalagi yang macam-macam? Banyak banget kan... Dan menurut gue hal ini tuh jadi nilai plus di mata internasional.
Kenyataan bahwa banyak sekali sisi negatif negara kita yang juga terekspos ke luar negeri nggak bisa kita pungkiri. Korupsi, pembajakan, terorisme, kemiskinan, konflik-konflik dalam negeri, separatisme, illegal logging, dll. semua pernah masuk media internasional. Kebetulan gue suka sekali menjalin pertemanan dengan teman-teman dari berbagai negara dan gue selalu malu kalau segi negatif ini ketahuan. Untungnya sisi positif Indonesia dari keberagamannya bisa menutupi semua itu. Gue selalu bilang sama mereka: yah, itu bangsanya yang bikin citra buruk seperti itu, tapi kenyataannya Indonesia bagus lho. Kita punya buanyak sekali suku dan bahasa, kita terdiri dari masyarakat yang keyakinannya beragam. Percaya nggak kalau kita aja punya 4 tahun baru dalam setahun: tahun baru masehi, tahun baru Imlek, tahun baru Hijriyah dan tahun baru Saka. Waktu teman-teman gue dengar ini mereka memuji-muji Indonesia. Tapi JLEB!! kenyataannya gue sadar kalau gue sudah bohong ke mereka. Kenyataannya ada yang nggak beres di negara kita berkaitan dengan keberagaman ini. Gue nggak tahu kenapa, tapi gue ingat cerita nyokap gue dulu bahwa pada zaman Orde Baru masalah semacam ini tuh nyaris nggak lebih dari masalah kecil yang biasa ada di semua negara. Coba lihat sekarang deh.. Orang mau ibadah aja susah, mendirikan tempat ibadah harus izin sana sini, tempat ibadah dihancurkan, orang-orang dari golongan suku tertentu dianggap bukan "Indonesia", diskriminasi terjadi di sana-sini. Gue jadi bertanya-tanya lagi, sebenarnya segi positif yang gue bilang ke teman-teman di luar sana itu ada beneran nggak sih?
Yang gue tulis di atas bukan karangan. Gue yakin sekarang kalau Bhinneka Tunggal Ika itu nggak lebih dari semboyan doang. Kalau nggak percaya coba deh kita renungkan hal berikut ini:
- Kalau kita berada di antara orang-orang Indonesia, kita cenderung masih memandang mereka sebagai suku A, suku B, agama A, agama B. Jarang yang bisa memandang cukup sampai "sesama Indonesia" saja. Anggapan "sesama Indonesia" cuma berlaku kalau sedang ada pertandingan sepak bola, bulu tangkis atau intinya punya musuh bersama atau ketika sudah jadi teman akrab.
- Sebagian besar dari kita senang dan menerima adanya hari besar agama lain di kalender hari nasional Indonesia hanya karena senang dengan liburnya, bukan karena rasa ingin respek pada penganutnya. Pasti sebagian besar dari kita masa bodoh aja, bahkan nggak kasih ucapan apa-apa sekali pun teman kita merayakannya.
- Sebagian besar dari kita masih jauh lebih suka jika dipimpin oleh orang yang segolongan baik agama, suku, ras, dll. tetapi prestasinya biasa aja atau bahkan buruk daripada dipimpin oleh orang yang golongannya beda tapi prestasinya lebih bagus.
- Sebagian besar dari kita setidaknya masih menganggap suku tertentu sebagai "bukan Indonesia" atau "pendatang" sekalipun kenyataannya mereka dan nenek moyangnya sudah lama ada di Indonesia.
Kalau kita banyak setuju dengan pertanyaan di atas, artinya Bhinneka Tunggal Ika buat kita itu hanya semboyan doang dan belum masuk ke kehidupan kita sehari-hari. Kita masih mengutamakan kelompok atau golongan di atas kesatuan sebagai Indonesia.
Kadang-kadang gue berharap pemerintah bisa memberi contoh yang baik lewat institusi-institusinya supaya Bhinneka Tunggal Ika nggak cuma jadi semboyan aja. Eh tapi sayangnya enggak. Bahkan dari institusi yang di dalamnya beranggotakan anak-anak dan remaja (yang harusnya sejak kecil diajarkan tentang penerapan semboyan itu) saja tidak. Misalnya saja institusi pendidikan milik pemerintah, dari jenjang SD sampai Universitas. Kebetulan gue nggak pernah mengayom pendidikan di sekolah milik pemerintah sampai akhirnya gue kuliah di UI dan terkaget-kaget dengan isinya. Beberapa hal yang gue catat berkaitan dengan bahasan di post ini:
1. Sejak masuk UI gue sering banget dengar orang tanya: "asal mana?" dan ketika gue tanya lagi: "asal apa? sekolah?", orang tsb menjawab: "bukan, asal daerah." Lebih parah lagi kalau orang itu langsung tanya: "suku mana?" hohoho.. pertanyaan ini paling males gue jawab. Memang apa pentingnya suku gue buat orang itu? Mau dicatat ke database? Udahlah ngapain sih masih bahas-bahas suku segala, kita sama kok orang Indonesia, suku-sukuan itu buat personal aja deh nggak usah dibawa keluar. Gue tau itu bisa memperkaya Indonesia, tapi kenyataannya pertanyaan begitu tuh nggak penting dan ujung-ujungnya malah dipakai buat beda-bedain orang :(
2. Sikap yang sama berlaku untuk pertanyaan: "agama apa?" dan semua kolom agama di semua biodata yang terpaksa gue isi kecuali yang buat database mahasiswa yang di SIAK NG. Lebih kesel lagi kalau pertanyaannya: "Lo x atau non-x?" Seolah-olah yang penting cuma x ini doang dan sisanya nggak dilihat lagi ragamnya cuma dibilang non-x. Duh di Indonesia kan ada 5 agama lainnya yang diakui (dan sebenarnya menurut gue ini masalah juga, masa dari ratusan keyakinan yang diakui cuma 5, padahal kita lebih beragam dari itu).
3. Ucapan salam di semua acara. Bukannya gue gak mau jawab atau sentimen, nggak sama sekali. Gue tahu itu hanya sebuah ucapan salam yang nggak ada salahnya dibalas (bahkan selalu gue balas). Sama dengan ucapan "Guten Tag" ketika masuk jurusan Jerman. Tapi masalahnya ada di sini nih: itu bukan bahasa Indonesia >.> dan nggak semua orang menempatkan "selamat pagi/siang/sore/malam" di belakangnya. Kenapa sih di institusi yang sifatnya milik umum, milik pemerintah dan universal nggak pakai bahasa Indonesia aja. Kecuali kalau ada di kelas bahasa tsb sih silakan aja. Coba deh kita ganti salam itu pakai bahasa Inggris, atau "God be with you" gitu misalnya, pasti nggak enak juga kan? Pakai bahasa asing di tengah acara resmi institusi yang labelnya "Indonesia" :c
4. Salah satu maba gue baru aja masuk UI dan ikut OBM. Pas di kelas Learning Skill dan disuruh muterin kertas trus ngisi pendapat tentang teman yang punya kertas itu, banyak orang nulis di kertas dia dengan tulisan nama sukunya atau yang berhubungan dengan itu. Buat apa coba? Setahu gue kertas itu harusnya dipakai untuk nulis karakter orang tsb deh -.-a Lebih parahnya lagi si maba ini cerita ke adek gue kalau dia dulu di SMA cuma satu-satunya anak yang agamanya beda. Sampai pas kelas agama gurunya frustasi trus marah-marah dan bilang: "ini nih akibatnya kalau kamu minoritas!" setelah sebelumnya menarik dia ke ruang guru. Hmm.. yang gue kaget, sekolahnya ini ternyata jadi partner pemerintah Jerman. Duh, kalau gue jadi pemerintah Jerman gue akan berpikir sekolah ini gak deserve posisi itu, karena mereka gagal melakukan sesuatu yang sedang diperjuangkan sekali sama pemerintah Jerman: Multikulturalisme.
5. Gue sama teman gue pernah lihat spanduk gede-gede di depan stasiun soal sukarelawan yang mau dikirim ke Palestina. Menurut gue spanduk itu berlebihan banget ya. Pertama, ngapain coba sukarelawan digembar-gemborkan. Sukarelawan kan harusnya anonim. Kedua, gue heran sama universitas ini. Indonesia masih banyak masalah, banyak orang-orang di wilayah terpencil yang nggak tersentuh tangan pemerintah. Kenapa nggak kirim sukarelawan ke sana aja trus digembar-gemborkan? Mereka sama-sama Indonesia lho...jadi kayanya lebih pantas digembar-gemborkan :) Yah, mungkin orang Indonesia (lagi-lagi) lebih melihat yang segolongan daripada yang sebangsa -__-a atau lagi-lagi cuma buat citra bagus yang palsu di mata internasional. Sama dengan konflik di Rohingya yang digembar-gemborkan tapi lupa kalau negara sendiri masih diskriminatif sama kelompok-kelompok minoritas -__-a
Gue tahu betul kalau di mana-mana minoritas, baik dari segi suku, agama, ras bahkan gaya dan selera (makanya ada namanya subculture) pasti didiskriminasi. Hak mereka nggak akan sebanyak kelompok mayoritas. Banyak orang Indonesia yang menunjuk-nunjuk kalau misalnya di Jerman terjadi hal yang sama terhadap para imigran Turki, di Norwegia terjadi hal yang sama terhadap imigran Afrika dan Afghanistan, dan lain sebagainya. Tapi ingat, Jerman, Norwegia, dan negara-negara itu pada awalnya bersifat monokultur. Negara yang terdiri dari satu bangsa, satu ras bahkan punya agama resmi. Sementara itu Indonesia berdiri di atas keberagaman itu. Berbagai suku, agama, ras dan golongan mendirikan Indonesia, bersumpah lewat Sumpah Pemuda dan akhirnya menghasilkan semboyan itu. Hal itu yang membuat kita jadi tidak boleh diskriminatif dan harus mengutamakan Indonesia di atas golongan. Kalau tidak setuju dengan hal ini lebih baik keluar dan buat negara sendiri khusus untuk kelompoknya :)
Tulisan ini sama sekali bukan buat mancing pertengkaran atau menyerang pihak-pihak tertentu. Gue bahkan nggak menyebut terang-terangan berbagai macam pihak yang ada di sini. Pada intinya inilah hal yang gue rasakan selama ini dan gue temukan di sekitar gue. Kalau ada hal yang menyinggung baik langsung dan tidak gue minta maaf sedalam-dalamnya. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita semua :)
Peace,
Eisblume :)
Pernah nggak sih kalian menanyakan hal ini: apakah Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika itu beneran ada? Atau Bhinneka Tunggal Ika itu hanya semboyan buat keren-kerenan negara kita di mata internasional aja? Pertanyaan ini tuh selalu muncul di kepala gue kalau sedang heboh-hebohnya ada isu berkaitan dengan keberagaman SARA di negara kita. Gue tahu, negara kita itu bagus sekali apalagi dari segi keberagamannya. Gimana enggak, sukunya macam-macam dari yang asli maupun pendatang. Agama juga macam-macam, nggak terhitung lagi kepercayaan yang bahkan kita sendiri aja nggak tahu eksistensinya. Bahasa daerah macam-macam. Duh, apalagi yang macam-macam? Banyak banget kan... Dan menurut gue hal ini tuh jadi nilai plus di mata internasional.
Kenyataan bahwa banyak sekali sisi negatif negara kita yang juga terekspos ke luar negeri nggak bisa kita pungkiri. Korupsi, pembajakan, terorisme, kemiskinan, konflik-konflik dalam negeri, separatisme, illegal logging, dll. semua pernah masuk media internasional. Kebetulan gue suka sekali menjalin pertemanan dengan teman-teman dari berbagai negara dan gue selalu malu kalau segi negatif ini ketahuan. Untungnya sisi positif Indonesia dari keberagamannya bisa menutupi semua itu. Gue selalu bilang sama mereka: yah, itu bangsanya yang bikin citra buruk seperti itu, tapi kenyataannya Indonesia bagus lho. Kita punya buanyak sekali suku dan bahasa, kita terdiri dari masyarakat yang keyakinannya beragam. Percaya nggak kalau kita aja punya 4 tahun baru dalam setahun: tahun baru masehi, tahun baru Imlek, tahun baru Hijriyah dan tahun baru Saka. Waktu teman-teman gue dengar ini mereka memuji-muji Indonesia. Tapi JLEB!! kenyataannya gue sadar kalau gue sudah bohong ke mereka. Kenyataannya ada yang nggak beres di negara kita berkaitan dengan keberagaman ini. Gue nggak tahu kenapa, tapi gue ingat cerita nyokap gue dulu bahwa pada zaman Orde Baru masalah semacam ini tuh nyaris nggak lebih dari masalah kecil yang biasa ada di semua negara. Coba lihat sekarang deh.. Orang mau ibadah aja susah, mendirikan tempat ibadah harus izin sana sini, tempat ibadah dihancurkan, orang-orang dari golongan suku tertentu dianggap bukan "Indonesia", diskriminasi terjadi di sana-sini. Gue jadi bertanya-tanya lagi, sebenarnya segi positif yang gue bilang ke teman-teman di luar sana itu ada beneran nggak sih?
Yang gue tulis di atas bukan karangan. Gue yakin sekarang kalau Bhinneka Tunggal Ika itu nggak lebih dari semboyan doang. Kalau nggak percaya coba deh kita renungkan hal berikut ini:
- Kalau kita berada di antara orang-orang Indonesia, kita cenderung masih memandang mereka sebagai suku A, suku B, agama A, agama B. Jarang yang bisa memandang cukup sampai "sesama Indonesia" saja. Anggapan "sesama Indonesia" cuma berlaku kalau sedang ada pertandingan sepak bola, bulu tangkis atau intinya punya musuh bersama atau ketika sudah jadi teman akrab.
- Sebagian besar dari kita senang dan menerima adanya hari besar agama lain di kalender hari nasional Indonesia hanya karena senang dengan liburnya, bukan karena rasa ingin respek pada penganutnya. Pasti sebagian besar dari kita masa bodoh aja, bahkan nggak kasih ucapan apa-apa sekali pun teman kita merayakannya.
- Sebagian besar dari kita masih jauh lebih suka jika dipimpin oleh orang yang segolongan baik agama, suku, ras, dll. tetapi prestasinya biasa aja atau bahkan buruk daripada dipimpin oleh orang yang golongannya beda tapi prestasinya lebih bagus.
- Sebagian besar dari kita setidaknya masih menganggap suku tertentu sebagai "bukan Indonesia" atau "pendatang" sekalipun kenyataannya mereka dan nenek moyangnya sudah lama ada di Indonesia.
Kalau kita banyak setuju dengan pertanyaan di atas, artinya Bhinneka Tunggal Ika buat kita itu hanya semboyan doang dan belum masuk ke kehidupan kita sehari-hari. Kita masih mengutamakan kelompok atau golongan di atas kesatuan sebagai Indonesia.
Kadang-kadang gue berharap pemerintah bisa memberi contoh yang baik lewat institusi-institusinya supaya Bhinneka Tunggal Ika nggak cuma jadi semboyan aja. Eh tapi sayangnya enggak. Bahkan dari institusi yang di dalamnya beranggotakan anak-anak dan remaja (yang harusnya sejak kecil diajarkan tentang penerapan semboyan itu) saja tidak. Misalnya saja institusi pendidikan milik pemerintah, dari jenjang SD sampai Universitas. Kebetulan gue nggak pernah mengayom pendidikan di sekolah milik pemerintah sampai akhirnya gue kuliah di UI dan terkaget-kaget dengan isinya. Beberapa hal yang gue catat berkaitan dengan bahasan di post ini:
1. Sejak masuk UI gue sering banget dengar orang tanya: "asal mana?" dan ketika gue tanya lagi: "asal apa? sekolah?", orang tsb menjawab: "bukan, asal daerah." Lebih parah lagi kalau orang itu langsung tanya: "suku mana?" hohoho.. pertanyaan ini paling males gue jawab. Memang apa pentingnya suku gue buat orang itu? Mau dicatat ke database? Udahlah ngapain sih masih bahas-bahas suku segala, kita sama kok orang Indonesia, suku-sukuan itu buat personal aja deh nggak usah dibawa keluar. Gue tau itu bisa memperkaya Indonesia, tapi kenyataannya pertanyaan begitu tuh nggak penting dan ujung-ujungnya malah dipakai buat beda-bedain orang :(
2. Sikap yang sama berlaku untuk pertanyaan: "agama apa?" dan semua kolom agama di semua biodata yang terpaksa gue isi kecuali yang buat database mahasiswa yang di SIAK NG. Lebih kesel lagi kalau pertanyaannya: "Lo x atau non-x?" Seolah-olah yang penting cuma x ini doang dan sisanya nggak dilihat lagi ragamnya cuma dibilang non-x. Duh di Indonesia kan ada 5 agama lainnya yang diakui (dan sebenarnya menurut gue ini masalah juga, masa dari ratusan keyakinan yang diakui cuma 5, padahal kita lebih beragam dari itu).
3. Ucapan salam di semua acara. Bukannya gue gak mau jawab atau sentimen, nggak sama sekali. Gue tahu itu hanya sebuah ucapan salam yang nggak ada salahnya dibalas (bahkan selalu gue balas). Sama dengan ucapan "Guten Tag" ketika masuk jurusan Jerman. Tapi masalahnya ada di sini nih: itu bukan bahasa Indonesia >.> dan nggak semua orang menempatkan "selamat pagi/siang/sore/malam" di belakangnya. Kenapa sih di institusi yang sifatnya milik umum, milik pemerintah dan universal nggak pakai bahasa Indonesia aja. Kecuali kalau ada di kelas bahasa tsb sih silakan aja. Coba deh kita ganti salam itu pakai bahasa Inggris, atau "God be with you" gitu misalnya, pasti nggak enak juga kan? Pakai bahasa asing di tengah acara resmi institusi yang labelnya "Indonesia" :c
4. Salah satu maba gue baru aja masuk UI dan ikut OBM. Pas di kelas Learning Skill dan disuruh muterin kertas trus ngisi pendapat tentang teman yang punya kertas itu, banyak orang nulis di kertas dia dengan tulisan nama sukunya atau yang berhubungan dengan itu. Buat apa coba? Setahu gue kertas itu harusnya dipakai untuk nulis karakter orang tsb deh -.-a Lebih parahnya lagi si maba ini cerita ke adek gue kalau dia dulu di SMA cuma satu-satunya anak yang agamanya beda. Sampai pas kelas agama gurunya frustasi trus marah-marah dan bilang: "ini nih akibatnya kalau kamu minoritas!" setelah sebelumnya menarik dia ke ruang guru. Hmm.. yang gue kaget, sekolahnya ini ternyata jadi partner pemerintah Jerman. Duh, kalau gue jadi pemerintah Jerman gue akan berpikir sekolah ini gak deserve posisi itu, karena mereka gagal melakukan sesuatu yang sedang diperjuangkan sekali sama pemerintah Jerman: Multikulturalisme.
5. Gue sama teman gue pernah lihat spanduk gede-gede di depan stasiun soal sukarelawan yang mau dikirim ke Palestina. Menurut gue spanduk itu berlebihan banget ya. Pertama, ngapain coba sukarelawan digembar-gemborkan. Sukarelawan kan harusnya anonim. Kedua, gue heran sama universitas ini. Indonesia masih banyak masalah, banyak orang-orang di wilayah terpencil yang nggak tersentuh tangan pemerintah. Kenapa nggak kirim sukarelawan ke sana aja trus digembar-gemborkan? Mereka sama-sama Indonesia lho...jadi kayanya lebih pantas digembar-gemborkan :) Yah, mungkin orang Indonesia (lagi-lagi) lebih melihat yang segolongan daripada yang sebangsa -__-a atau lagi-lagi cuma buat citra bagus yang palsu di mata internasional. Sama dengan konflik di Rohingya yang digembar-gemborkan tapi lupa kalau negara sendiri masih diskriminatif sama kelompok-kelompok minoritas -__-a
Gue tahu betul kalau di mana-mana minoritas, baik dari segi suku, agama, ras bahkan gaya dan selera (makanya ada namanya subculture) pasti didiskriminasi. Hak mereka nggak akan sebanyak kelompok mayoritas. Banyak orang Indonesia yang menunjuk-nunjuk kalau misalnya di Jerman terjadi hal yang sama terhadap para imigran Turki, di Norwegia terjadi hal yang sama terhadap imigran Afrika dan Afghanistan, dan lain sebagainya. Tapi ingat, Jerman, Norwegia, dan negara-negara itu pada awalnya bersifat monokultur. Negara yang terdiri dari satu bangsa, satu ras bahkan punya agama resmi. Sementara itu Indonesia berdiri di atas keberagaman itu. Berbagai suku, agama, ras dan golongan mendirikan Indonesia, bersumpah lewat Sumpah Pemuda dan akhirnya menghasilkan semboyan itu. Hal itu yang membuat kita jadi tidak boleh diskriminatif dan harus mengutamakan Indonesia di atas golongan. Kalau tidak setuju dengan hal ini lebih baik keluar dan buat negara sendiri khusus untuk kelompoknya :)
Tulisan ini sama sekali bukan buat mancing pertengkaran atau menyerang pihak-pihak tertentu. Gue bahkan nggak menyebut terang-terangan berbagai macam pihak yang ada di sini. Pada intinya inilah hal yang gue rasakan selama ini dan gue temukan di sekitar gue. Kalau ada hal yang menyinggung baik langsung dan tidak gue minta maaf sedalam-dalamnya. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita semua :)
Peace,
Eisblume :)
10.5.12
Kambing, Domba dan Serigala
Sama seperti hampir
seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis
muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan
kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan
ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak
tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak
pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak
akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku
di tengah kegiatan makan rumputnya.
“Nona, aku mau mengaku,” katanya.
Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara
sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
“Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,”
ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
“Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
“Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
“Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak
bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian
nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan
domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru
berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku
jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing
dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak,
mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur,
bagaimana jika ada spesies lain?
“Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak
peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
“Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku
tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat
yang lebih banyak rumput.
***
Siapa sangka pada hari
selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
“Nona, apa kamu mau
dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
“Ada apa lagi ini?
Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
“Kemarin... kambing
gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,”
katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan
membisikkan sesuatu.
Aku langsung melotot
dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
“Iya, jangan bilang
siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami
tahu.”
“Uh, baiklah, kalian
merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
“Hmm... ide yang
bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
Maka pada hari-hari
selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari
kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja
yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa
domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga.
Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi
berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak
saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku.
Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka
membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
Aku duduk mengamati
ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman
yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan
dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput
agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan
lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana
karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya,
lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku
yang berada dekat dengan hutan itu.
Hari beranjak sore dan
aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan
meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku
berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku
pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku
kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena
airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
Aku tengah berjalan
santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan
dari kejauhan. Anjingku menggonggong
tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi
sesuatu di sana.
“Ada apa, Hundie?!”
aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan
yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku
mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang
lain.
“Oh, tolonglah, di
mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling
dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing
sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
Tapi, di mana domba
betina kecil itu???
* * *
“Tidak, sesuatu pasti
terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik.
Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah
hutan.
Hutan itu. Ya, hutan
itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie
mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu
kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik.
Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah
memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan
kekasih barunya.
Hundie duduk di
sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah
memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih
ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu.
Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa
tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
Aku kembali ke
peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan
langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin
rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon
yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting
dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti
banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
Setengah jam sudah aku
memasuki hutan tanpa tanda-tanda domba
kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan
mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak
yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak
pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua
dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
Angin dingin berkesiur
tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar
hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah
jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya
meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua
yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang
dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu
dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga
rumah itu.
“Kreeet...,” terdengar
suara pintu dibuka.
Aku dan Hundie melompat
masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah.
Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
Seorang bapak tua
berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti
pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang
apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai
kalung logam.
“Aku akan pergi, “
katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang
wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau
menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti
di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam
dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping
sang wanita.
“Lagi?” tanya wanita
itu.
“Ya, kau tahu aku
siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
“Baiklah. Tunggu
sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali
dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi
cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara
itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
“Kompas leluhur kita.
Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
Sang pengembara
berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari
belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana.
Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke
arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku
pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil
di dalam hutan itu?
Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu,
aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang
tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia.
Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke
kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut
sedih menyaksikan duka si kambing muda.
“Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali
menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
“Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha
menyembunyikan kejadian tadi sore.
“Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu.
Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya
tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
“Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng
kuat-kuat.
“Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota
itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi,
nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
“Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh
masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
“Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari
kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan
menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau
aku menanyakan pertanyaan itu.
“Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang
buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha
sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
“Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat
apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu
begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata
ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba
ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari
anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar
untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius.
Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu
tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa
yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa
yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam
dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu
katapun luput dari telingaku.
“Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya
kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal
tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu
atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang
bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud
membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi
pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir
berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan
aktivitasnya. Mereka ...,”
“... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat
fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
“Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan.
Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan
Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka
mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
“Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka?
Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita
biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan
keindahannya di sana,” kataku.
“Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa
dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan
yang benar,” jawab ayahku.
“Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu
menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana,
juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak
saudagar penjual kain itu. Katanya
mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang
lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
“Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku
meninggikan suaranya.
“Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa
ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita
nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
Ayahku melayangkan
tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
“Sudah, Yah... biarkan
saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak
masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
Ayah diam, tangannya
diturunkan namun masih memandangku dengan marah. Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari
keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing.
Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah
sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan
kekasihku...
Pandangan kualihkan
pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti
bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang
menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak
terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu
hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya
sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang
memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan
mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat
dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana
bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
Tiba-tiba kambing
mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
“Hei..., hei..., ada
apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
“Dia pulang...,” jawab
kambingku kegirangan.
“Dia siapa?” aku
bingung.
“Domba cantik,”
jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari
arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi.
Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
“Nona..., nona..., aku
pulang!!” serunya girang.
“Hei.., domba
kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang
selamat.
“Aku akan cerita pada
Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
Dan malam itu, aku
meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak
terduga.
“Kemarin aku sedang
merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya
aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga.
Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir
lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani
pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
“Ceritakan padaku, apa
yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
“Hmm.. baiklah. Dia
bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup
di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara
yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan
mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung
gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia
dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas
pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
“Hmm... aneh, tapi
menarik ya...,” aku bergumam.
“...lalu si ibu adalah
wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan
tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya
sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing
hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai
pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala
mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat?
Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat
semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
“Cerita yang sangat
menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu
berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
“Apa maksud Nona? Aku
tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang
ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
“Serigala itu musuhnya
domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
“Tidak, tidak mungkin.
Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan
mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri
dari laranganku.
“Tidak, kau tak akan
ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu
tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan
coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala!
Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
“Jangan larang aku,
Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku
tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku.
Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang
memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan
terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat
baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh
dariku. Seperti menjaga jarak.
“Kau.. domba.. kau
akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu,
kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang
bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
“Terserah apa kata
Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan
gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat
impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
Tidak. Dia kabur lagi.
Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku
harus mengejarnya.
Aku berlari melintasi
padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk
kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh
domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan
lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh
domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
“Oh, tidaaaaaakkk....,”
aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
Aku terduduk lemas
sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi
sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau
coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
Lolongan serigala
terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu
melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya
begitu besar.
“Domba itu milikku.
Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang
tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku
terdiam. Sunyi.
***
“Hei, sampai kapan kau
mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku
mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang
membawa palu dan pedang.
“Oh..., hai...,
halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di
mana serigala tadi?” tanyaku.
“Sudah kusuruh pulang
dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal
kalau sama orang asing,” jawabnya.
Langsung kusadari
bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang
kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya.
Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
“Aku tadi sedang
bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil
melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu
dari desa bangsa itu ya?” ia menunjuk
kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
Aku mengangguk. “Tapi
jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
“Aku mengerti,”
katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya.
Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh
bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak
saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.
20.8.11
Langit dan Bumi
Cintamu pada langit seperti cintaku pada bumi
Langit yang tak terjangkau
dan bumi antah berantah
Langit paling puncak
dan bumi yang terujung
Rindumu pada langit seperti rinduku pada bumi
Langit yang megah
dan bumi yang indah
Langit yang agung
dan bumi yang permai
Setiap kali kau memikirkan langit
maka aku akan memikirkan bumi
Kau tiada terpisah dengan langit,
karena ia kedamaian
Aku tak ingin terpisah dari bumi,
karena ia kebebasan
Langit cemburu padaku,
jika aku bersamamu
Dan bumi tak menyukainya,
kau menginjak tubuhnya
Jika suatu hari kau pergi dariku untuk langit,
aku akan meninggalkanmu untuk bumi.
by LV~Eisblume
10.08.11
Maka berpeganganlah pada cinta kita, kekasih,
sampai langit dan bumi memisahkan kita
For the future...
8.8.11
Khayal
Kau tahu apa itu khayal?
Ia seperti dekapan eratmu,
demikianlah khayal itu
Kau tahu apa itu berkhayal?
Membayangkan sentuhan lembutmu,
itulah berkhayal
Kau tahu apa itu khayalan?
Dua telapak yang bersentuhan,
Lenganmu yang mendekap erat
Kecupan lembut selamat malam
semuanya khayalan...
ya, khayalan...
Ah, toleransi itu memang tidak mudah..
tapi ia indah.
By LV~Eisblume
08.08.11
for the experience...and the beautiful tolerance..
Ia seperti dekapan eratmu,
demikianlah khayal itu
Kau tahu apa itu berkhayal?
Membayangkan sentuhan lembutmu,
itulah berkhayal
Kau tahu apa itu khayalan?
Dua telapak yang bersentuhan,
Lenganmu yang mendekap erat
Kecupan lembut selamat malam
semuanya khayalan...
ya, khayalan...
Ah, toleransi itu memang tidak mudah..
tapi ia indah.
By LV~Eisblume
08.08.11
for the experience...and the beautiful tolerance..
Langganan:
Postingan (Atom)