Tampilkan postingan dengan label favourite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label favourite. Tampilkan semua postingan

5.8.12

Men of Gondor (My Journey to Middle Earth part 3)

Kalau di post sebelumnya gue cerita soal tokoh favorit gue di LOTR versi film, sekarang gue mau cerita kalau ternyata setelah baca bukunya sampai The Two Towers, rupanya pilihan gue berubah.

Setelah gue baca bukunya, pilihan tokoh favorit gue jatuh pada Men of Gondor alias ras manusia dari Gondor (emang sih karena gue manusia ujung-ujungnya seleranya manusia juga). Lebih tepatnya lagi Aragorn dan Faramir. Bukan karena mereka ganteng (ganteng sih, tapi itu 'kan di filmnya, di buku nggak ada deskripsi tampang yang detail tuh), tapi lebih ke karakter keduanya. Baik Aragorn maupun Faramir adalah dua tokoh di LOTR yang lolos seleksi "Ksatria Idaman" ala gue (huekk kontes apaan nih -.-a).

Aragorn and Faramir

Apa sih kriteria buat menang kontes "Ksatria Idaman"? Tentu saja punya 3 karakter utama menurut aturan Rittertum (keksatriaan) di abad pertengahan. Tiga sifat utama yang makin langka saja ditemukan pada spesies cowok ini adalah: Êre, Treue, dan Heldenmuot (ditulis dalam bahasa Mittelhochdeutsch supaya lebih ngena xD) atau diterjemahkan kira-kira menjadi: kehormatan, loyalitas/kesetiaan dan kepahlawanan. Tentu saja anda sekalian tidak akan menemukan kriteria seperti kejujuran, keterbukaan, dll karena itu lebih menyerupai kontes cari jodoh dan di sini gue bukan membahas tentang cari jodoh hahaha..

Oke, balik lagi ke manusia-manusia ganteng dari Gondor ini. Buat yang belum baca atau nonton (walaupun kemungkinannya kecil) mungkin harus "kenalan" dulu nih sama mereka. Aragorn son of Arathorn heir of Isildur, demikian biasanya gue menyebut Men yang satu ini, sekalipun sepertinya bukan itu nama panjangnya. Aragorn adalah keturunan resmi dari garis raja-raja penguasa Gondor dan Arnor (Arnor adalah sebuah kerajaan di utara yang sudah hilang dan hancur akibat salah satu perang besar di Middle Earth jadi yang tersisa tinggal Gondor di selatan). Sejak nenek moyangnya yang keberapa entahlah gue juga lupa meninggalkan tahta Gondor tanpa pewaris, akhirnya tidak ada lagi orang dari garis keturunan raja yang menjadi raja di situ. Sementara itu nun jauh di Rivendell (The Last Homely Home dan Imladris nama lainnya dan kota ini merupakan tempat tinggal para Elves), tinggal garis keturunan Isildur yang lain dari anaknya yang satu lagi. Dulunya mereka menguasai kerajaan Arnor sebelum runtuh dan hilang karena serangan dari utara, tapi kemudian terpencar-pencar dan menghilang. Aragorn adalah keturunan terakhir dari keluarga ini. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di antara para Elves di Rivendell sehingga ia pun memberikan hatinya pada Arwen Undomiel, putri Elves dari Rivendell. Ia juga tergabung dalam Rangers (ksatria pengembara yang tersisa dari garis keturunan kerajaan manusia di utara dan ahli dalam berburu) dan dikenal dengan nama Strider. Kemunculan pertamanya dalam cerita adalah ketika ia menolong para Hobbit (Frodo,dkk) di Bree, sebuah tempat tidak jauh dari The Shire, dari kejaran para Nazgul (tangan kanannya Sauron). Pada saat itu ia masih menggunakan nama Strider dan memiliki kesan yang misterius. Sekalipun menjadi keturunan resmi raja Gondor, Aragorn tidak pernah menggunakan posisi itu untuk merebut kekuasaan orang atau mencari keuntungan untuk diri sendiri. Bahkan di versi film, ia justru tidak percaya diri bahwa ia dapat menjadi raja yang bijak dan tidak melakukan hal ceroboh seperti Isildur, nenek moyangnya yang tewas ketika mengamankan cincin itu untuk dirinya sendiri.

Men yang satu lagi, Faramir son of Denethor adalah putra dari wakil raja (Steward) yang selama ratusan tahun menggantikan tugas kepemimpinan raja di Gondor sampai keturunan resmi dari keluarga raja (yaitu Aragorn) kembali dan mengambil alih tugasnya. Faramir memiliki kakak laki-laki bernama Boromir. Boromir ini salah satu anggota dari Fellowship of the Rings yang diutus untuk membantu Frodo dalam perjalanannya ke Mordor. Sayangnya di tengah perjalanan, sang kakak harus mati dalam serangan Orcs setelah sebelumnya nyaris merebut cincin dari Frodo. Boromir adalah anak kesayangan Denethor. Ia selalu mendapat kepercayaan dari sang ayah. Kebalikannya, Faramir selalu jadi nomor dua. Sang ayah tidak begitu percaya padanya. Bahkan kalau di versi film, dengan kejamnya sang ayah menyatakan ia sangat ingin nasib kedua anaknya ditukar sehingga biarlah Faramir menggantikan Boromir mati di tangan Orcs. >.< Meski demikian, Faramir tetap setia mengabdikan diri pada sang ayah dan Gondor. Bahkan ketika sang ayah menyuruhnya merebut kembali Osgiliath (kota pertahanan terakhir kerajaan Gondor yang direbut oleh pasukan Mordor) dengan kekuatan tentara yang sedikit, ia tetap berangkat sekalipun ia tahu bahwa ia tidak akan selamat dari misi itu. Semua itu dilakukan dengan harapan sang ayah akan sedikit memandang dan mengakui dirinya. Ia menolak mencari pengakuan ayahnya dengan cara kotor, misalnya dengan mencuri cincin dari Frodo dan membawanya ke Gondor, sekalipun ia punya kesempatan terbuka di depan matanya.

Êre --- Baik Aragorn maupun Faramir pantas menjadi dua orang yang terhormat di Middle Earth. Keduanya berhasil menunjukkan kualitas masing-masing dan menjalankan perannya dengan baik. Tak satupun dari mereka menunjukkan kelemahan manusia yang sempat dideskripsikan dalam novel itu, yaitu haus kekuasaan. Bahkan mereka berhasil menolak godaan dari cincin yang sesungguhnya berpotensi membawa mereka pada kekuasaan.
Treue --- Ada sedikit perbedaan pada mereka berhubungan dengan kesetiaannya. Ketika memutuskan untuk bergabung dalam Fellowship of the Ring, Aragorn telah bersumpah akan membantu Frodo (kalau di film dinyatakan dalam salah satu dialognya: my sword will serve you). Hal ini terbukti dalam perjalanan panjang itu, bahwa ia sama sekali tidak mencoba merebut benda itu dari Frodo dan mengulang kesalahan leluhurnya. Selain itu Aragorn, yang punya kekasih seorang Elves yaitu Arwen dan harus berpisah darinya untuk waktu lama dalam misi itu, telah berhasil menunjukkan kesetiaannya pada wanita itu sampai akhir cerita. Padahal ia tahu bahwa kecil kemungkinannya Arwen akan setia padanya sampai dunia ketidakabadian manusia dan di tengah petualangannya ia sempat bertemu dengan Eowyn, seorang putri dari Rohan yang satu ras dengannya. Tetapi tetap ia tidak berpindah hati ^^ (duh.., ksatria banget kaaaan~). Sedangkan dalam cerita Faramir, kesetiaannya ditujukan pada Gondor dan ayahnya, seperti yang gue ceritakan di atas. Lebih baiknya lagi, kesetiaan itu ditunjukkan dengan cara yang bersih dan keputusan yang bijak.
Heldenmuot ---- Nah, apalagi ini, sudah jelas mereka berdua punya sifat bak pahlawan bagi ras dan bangsanya, bahkan bagi seluruh Middle Earth. Dalam setiap perang mempertahankan kebaikan di Middle Earth dari kekuasaan gelap yang mengancam, mereka selalu siap sedia dan berperang dengan berani. Dengan menolak godaan dari cincin kekuasaan itu mereka juga telah menunjukkan sikap pahlawan sejati. Mereka berkorban mengesampingkan kepentingannya demi kedamaian di Middle Earth dan bagi seluruh bangsa yang tinggal di sana.

Two souls of men
Best of all knights
From the dreamland
Come in my nights

Wise as the old
Shining in gold
Both North and South
Name them in mouth

Two souls of men
Know the heirloom
Will bring the land
Back to its doom
Don't take the thing
For their glory
Instead they bring
Peace and merry
 Cuma beberapa bait puisi yang gue tulis terinspirasi dari mereka. Semoga di bumi ini makin banyak pemimpin (dan terutama, cowok!) yang sifatnya seperti mereka. Kembalikan Rittertum ke dunia!! xD



29.7.12

About Friendship and Love...

Sebenarnya postingan ini mau gue masukin ke Journey to Middle Earth series karena masing berhubungan sama LOTR tapi kok kalau dipikir-pikir jadi lebih banyak curcolan gue ya? hahaa...

Bermula dari seorang follower di Tumblr yang nanya di inbox gue: "Who's your favourite LOTR character and why?" Astaga! Tega banget dia nanya begini ke gue... Itu pertanyaan sadis lho.., lebih susah jawabnya daripada pertanyaannya Miss Universe! Masa gue disuruh milih dari sekian banyak tokoh superkeren?

Akhirnya dengan hati yang sebenarnya nggak tega untuk nggak menyebutkan yang lain, pilihan gue jatuh sama Sam dan Arwen. Buset, boro2 tokoh utama, yang satu enggak ganteng yang satu cewek -.-a Hmm.. sebenarnya kalau nggak ada pertanyaan "why" sih gue lebih pilih Aragorn sama Legolas (Frodo juga deh ^^) soalnya kan gue gak perlu ngasih tahu kalau alasan gue milih mereka karena ganteng/cute (kesannya gue menyikapi film dengan dangkal banget cuma liat tampang pemain -.-a).

Oke, balik ke pilihan gue. Sam dan Arwen. Gue pilih mereka sebenarnya karena karakter keduanya paling "nyambung" sama hidup gue. Sam mewakili persahabatan dan Arwen untuk cinta. Nah.., sekarang bisa gue mulai curcolnya??

Samwise Gamgee. Sebenarnya "cuma" tukang kebunnya Frodo, bahkan selalu manggil majikannya itu dengan sebutan "Mr". Jelas sebenarnya nggak ada hubungan "persahabatan" yang seimbang. Tapi ternyata duh... :') (maaf, jadi pengen nangis gue..) Kalau ngikutin filmnya dari awal sampai akhir, plus baca bukunya, langsung berasa segimana kuatnya persahabatan mereka. Walaupun sebenarnya dua-duanya sama-sama setia, tapi gara-gara adegan Frodo sempat ninggalin Sam karena tertipu Gollum gue jadi ngasih perhatian lebih sama Sam. Sosok seperti dia ini gue nggak pernah nemuin sepanjang hidup gue sampai sekarang. Boleh dibilang Sam ini mengingatkan gue sama sesuatu yang pengen banget gue miliki. Persahabatan sejati.

Sekedar info aja..., kalau ada orang nanya begini ke gue: "seandainya lo dan sahabat lo jatuh cinta sama orang yang sama, dan orang itu jatuh cintanya sama lo, lo pilih mana? sahabat lo atau cowo itu?" Gue bakal jawab: "sahabat gue, kenapa? karena nyari sahabat itu susah!" :c

Dari gue kecil sampai sekarang, jujur gue belum pernah tuh merasakan yang dibilang "persahabatan sejati". Mungkin kalau nggak ada teman-teman gue di jurusan Jerman sekarang, gue bisa bilang sahabat itu cuma bullshit. Tapi karena ada mereka gue masih berusaha menaruh harapan, siapa tahu mereka ini yang bakal jadi sahabat sejati gue. Gue pengen punya, walaupun sekedar satu orang aja (seperti Sam dengan Frodo), yang benar-benar ada di samping gue nggak cuma karena segi positif yang gue punya tapi juga segi negatif. Kalau lihat di FOTR, Sam ikut dalam perjalanan bersama Frodo awalnya cuma gara-gara dia janji sama Gandalf nggak akan ninggalin tuannya setelah ketangkap nguping. Tapi toh setelah Gandalf pergi dia tetap setia sama janjinya, sampai berusaha ngejar Frodo di sungai trus nyaris tenggelam (hiks..bagian itu sedih :'( Bahkan di ROTK, waktu Frodo "ngebuang" dia karena tipu muslihat Gollum pun akhirnya Sam yang nolongin Frodo dari Orcs dan bantuin dia supaya sampai di Mount Doom. Garis bawah tuh saudara-saudara, dibuang! Zaman sekarang gue ragu masih ada orang kayak gitu...

Gue pernah punya beberapa orang yang dekat sama gue sejak SD, tapi semuanya bohong. Ujung-ujungnya mereka berkhianat atau pergi. Gue ingat waktu SMA dulu sempat punya sahabat. Kita sama-sama suka bahasa Jerman, tapi semenjak dia nge-fans Twilight (waktu itu lagi booming-boomingnya dan gue bahkan belum punya kesempatan untuk baca), kita jadi nggak nyambung lagi. Sejak itu dia kumpul sama teman-teman lain yang sesama fans Twilight. Gue sampai coba ngikutin bukunya dan filmnya (walaupun akhirnya suka juga) supaya paling enggak bisa nyambung lagi. Eh, waktu gue udah suka Twilight juga, teman gue ini malah sibuk mencerca habis filmnya yang katanya jelek, gak sebagus bukunya. Terus kita jadi nggak nyambung lagi.

Di sekolah gue kebanyakan muridnya anak orang (super!) kaya. Entah kenapa setiap kali gue mau coba masuk ke lingkungan anak-anak itu, gue selalu nggak nyambung. Apalagi sejak itu kan mereka pada ngobrol lewat BBM (dan gue nggak punya BB). Terus kalau ada di lingkungan mereka itu gue selalu merasa outsider. Gue nggak bisa cocok sama gaya hidup mereka. Selain itu, gue juga selalu merasa jadi outsider. Entahlah gue nggak ngerti siapa yang salah. Selera gue nggak pernah nyambung sama mereka. Hampir selalu beda. Dan apa yang gue suka itu di mata mereka dipandang sebagai "freak" atau subculture yang aneh, misalnya: musik mittelalter, gothic, folk, dll. Rata-rata teman gue taunya lagu korea/jepang, lagu barat mainstream, bahkan sekalinya nggak mainstream tetap aja masih dikenal orang (misalnya musik jadul, psychedelic, dll.) Itu udah ngurangin topik obrolan gue sama teman-teman. Anehnya, sekalinya gue freak banget sama sesuatu, pasti ada aja yang ngatain. Gue nggak ngerti salah gue di mana karena kalau mereka ngomongin hal kesukaannya pun begitu -.-a kenapa gue nggak boleh?

Untungnya di antara teman-teman yang sekarang ini gue berhasil menebar sedikit virus "Mittelalter" haha.. jadi ada beberapa yang masih nyambung ngobrolin hal itu sama gue :) Tapi tetap aja kalau mereka lagi ngomongin korea, ngomongin orang yang nggak gue tau (misalnya salah satu ekelenya), ngomongin film/lagu jadul, tetap aja gue jadi outsider lagi :'C Mungkin memang gue salah tempat atau waktu lahir kali ya...
Mungkin kata-katanya C.S.Lewis (pengarang Chronicles of Narnia, sahabat J.R.R.Tolkien) benar kali ya.. "kalau kamu merasa tidak cocok dengan apapun di dunia ini, mungkin memang kamu diciptakan untuk dunia yang lain" :") Kalau pertemanan di kuliah ini gagal lagi, mungkin luar negeri jadi harapan terakhir gue...

Tokoh kedua yang gue pilih itu Arwen Undomiel. Putri bangsa Elves dari Rivendell yang super cantik ini buat gue jadi inspirasi untuk harapan dan cinta. Dikisahkan bahwa Arwen sebagai bangsa Elves adalah golongan yang immortal, sedangkan kekasihnya, Aragorn, adalah bangsa Men (manusia) yang bisa mati. Ayah Arwen, Elrond, pada awalnya kurang setuju jika anaknya menikahi seorang manusia. Ia beranggapan bahwa masa depan anaknya akan jadi suram karena setelah kematian pasangannya, anaknya hanya akan menderita dan merasa sendirian. Maka dari itu Elrond menyuruh Arwen untuk mengejar kapal terakhir di Grey Havens yang akan membawanya ke Undying Lands di seberang lautan untuk melarikan diri dari perang yang berkecamuk di Middle Earth. Tapi di tengah jalan, Arwen berbalik meninggalkan rombongan dan kembali ke Rivendell untuk menunggu kekasihnya pulang dari misi berbahaya yang dijalaninya. Padahal saat itu keabadian dan kekuatannya sebagai Elves mulai menghilang karena pengaruh kuasa jahat dari Mordor. Semua itu hanya karena ia masih memiliki harapan akan hidup bahagia bersama kekasihnya di masa depan nanti. :')

Cerita ini mengingatkan gue sama hubungan yang lagi gue jalanin sekarang. Kalau Arwen dan Aragorn beda bangsa, gue dan Ritter beda agama. Yah, kira-kira samalah, sama-sama ditentang ortu. Seolah-olah dengan bersatu dengan orang yang beda agama itu semacam jalan menuju kematian (baca: neraka) buat kita. Tapi karena adanya harapan akan kebahagiaan di masa depan sekalipun beda jalan, hubungan bisa tetap lanjut.. xD Arwen dan kesetiaannya pada harapan itu menginspirasi gue untuk tetap setia dan mencoba menjalani dulu relationship ini hehehe.. :P


15.7.12

My Journey to Middle Earth (part 1)

Halo semuanya, 
Gue nulis langsung dari Middle Earth nih ^^ *sepik* Maaf ya jadi jarang nulis gara-gara perjalanan panjang ini. Demi apapun sekarang gue lagi keranjingan LOTR!! (iya gue tau gue telat, awas klo ada yang ketawa >. >)

Hmm... ya begitulah gue selalu jadi manusia telat. Dulu waktu semua orang heboh Twilight, gue bahkan belum menyadari keberadaan novel itu. Terus waktu semua orang freak SuJu, gue sibuk ngejek-ngejekin mereka kayak bencong. Eh tiba-tiba pas semua orang nggak suka lagi atau udah bosen, gue baru suka. Terang aja semua orang jadi males gitu lihat kelebayan gue hahahaa,,, Nah kalo kasus yang ini agak beda dan menurut gue harusnya bisa lebih dimaafin kali ya secara filmnya keluar tahun 2002 (gue masih anak SD ingusan yang tontonannya kartun disney!). Tapi kayanya nggak bisa dimaafin juga sih secara filmnya udah diulang-ulang dari kapan tau di berbagai stasiun TV tapi gue lewatkan begitu saja atau nonton setengah-setengah. Well, sebelum nonton di HBO gue cuma tahu kalo trilogi LOTR tuh film yang isinya orang ganteng semua! (ya nggak semua juga sih hahaha...)

Tapi kalo dipikir-pikir gue sadar mungkin ini rencana Tuhan kenapa gue baru ada kesempatan nonton sekarang (apa pula ini bawa-bawa Tuhan -__-a). Dimulai dari waktu gue suka minta-minta film sama temen-temen gue yaitu Nuke dan Mumut yang punya segudang film di laptopnya. Awalnya cuma mau minta Red Riding Hood tapi karena gue lihat banyak film bagus lain yang belum gue tonton di koleksi mereka, akhirnya gue putuskan untuk ngopi juga. Intinya sih waktu itu trilogi LOTR cuma jadi sekedar "film bagus yang belum gue tonton". Sampai akhirnya gue mengalami kebosanan setelah UAS selesai. ue pun memutuskan buat nonton yang pertama. Awalnya iseng doang dengan asumsi film ini latar belakangnya agak-agak medieval gitu (zaman yang paling gue suka :D). Dan setelah gue tonton... jeng jeng... *drumrolls* astaga nih film bagus banget agsgdhagdjhgajsghfdahgfjgajkshda.. (baca: gak terdeskripsikan lagi deh bagusnya). Mungkin ini adaptasi terbaik yang pernah gue lihat (agak sotoy sih soalnya gue kan waktu itu belum baca novelnya). 

Melanjutkan bagian satu, akhirnya gue tonton juga bagian dua. Kali ini bareng adek gue yang beberapa hari sebelumnya begadang sampai jam setengah 4 pagi buat ngejar gue nonton yang pertama. And guess what?? Tiba-tiba aja HBO nayangin iklan kalau trilogi ini bakal ditayangin akhir bulan Juni secara beruntun. Whoaaaa.. kayanya emang gue ditakdirkan untuk kenal lebih dekat sama trilogi LOTR sekarang instead of waktu keluarnya film ini di tahun 2002. Habis nonton filmnya secara beruntun sekarang gue semacam nggak mau keluar dari Middle Earth. Bahkan gue langsung searching lewat Lontar UI kali-kali novelnya ada di Perpusat. And thanks God, novelnya ada lengkap bahasa Inggris maupun Indonesia. Akhirnya gue pinjem juga tuh novelnya. Bagian satu yang Fellowship of the Ring gue habiskan dalam waktu seminggu (sampai gue menemukan gimana caranya mengurangi adiksi gue terhadap internet!). Dan ketika mau lanjut ke bagian dua yang The Two Towers, duhhh.. kayanya susaaaah banget move on. Gue jatuh cinta sama tokoh Strider di bagian pertama ahahaha... :3

Oke, cukup cerita soal kronologi keranjingan gue dengan trilogi terkeren yang pernah gue temui sampai sekarang itu. Nah, sekarang balik lagi ke soal rencana Tuhan. Menurut gue, kesempatan ini bukan nggak disengaja atau kebetulan, tapi emang rencana Tuhan. Ada dua alasan:
1.) Kalau gue nonton tahun 2002 atau waktu filmnya diputar berulang-ulang di tahun-tahun setelahnya, gue cuma akan nonton dan mendapat kesan kalau filmnya keren, epik dan pemainnya ganteng. Titik. Nggak lebih. Minimal inspirasi untuk nulis lagi. Tapi sekarang, setelah gue kuliah di jurusan Jerman, gue lebih mengerti esensi filmnya. Gue bisa mendapatkan lebih dari sekedar cerita epik dan tampang ganteng. Gue sekarang ngerti apa itu huruf Rune, macam-macam ras di Middle Earth (yang mirip sama 9 dunia dalam mitologi Germanik/Norse), bahkan gue lebih menikmati legenda cincinnya yang serupa dengan karya sastra Jerman kuno favorit gue: Nibelungenslied :)
2.) Tuhan semacam mau mengembalikan gue ke jalan yang benar. Dia menunjukkan ke gue bahwa hal-hal yang gue suka (baca: mitologi Norse, Rune, magic, paganism, wicca, dll.) yang menjurus pada kesesatan dan kemusyrikan bisa dipakai untuk menyampaikan nilai-nilai cinta kasih yang diajarkan dalam ajaran agama yang gue anut. Kalau diamati dalam dialog filmnya (apalagi bukunya) gue bisa menemukan ajaran cinta kasih yang disisipkan sang pengarang. Gue sempat baca sedikit biografinya J.R.R.Tolkien dan dibilang di situ bahwa dia adalah penganut Katolik yang taat. Sedikit banyak hal ini pasti menginspirasi nilai-nilai dalam karyanya, salah satunya LOTR ini. Dan kerennya, dia bisa menggunakan unsur-unsur mitologi Norse, magic, dll yang harusnya bertentangan dengan ajaran agama itu untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut :D This inspires me, really :)

Sebenarnya ada banyak nih yang mau gue tulis, tapi kalau ditulis di sini semua jadi semacam nggak nyambung gitu. Jadi bagian pertama perjalanan gue disudahi di sini saja...
Bis dann :))

11.4.11

Ada yang tahu, items ini kalau di Indonesia belinya di mana?

Halo semuanya, habis selesai UTS akhirnya saya bisa senang2 lagi di blog ini dan gak melulu posting soal catetan, rangkuman, dll. Langsung aja ke topik, saya yang sangat suka fashion jadul ini sedang mencari beberapa items fashion yang setelah saya muter-muter di tukang jualan dari yang emperan kaki lima sampai mall agak susah ditemukan. Mungkin ada yang pernah lihat di mana barang2 dalam wishlist saya ini dijual? So here it is:

1. Perhiasan apapun macam kalung/gelang/cincin/anting yang motifnya kaya gini (Celtic Spiral).
2. Kalung Celtic Cross
3. Cincin Celtic Knot 

Anyway, yang perhiasan gini2 bahannya gak harus emas putih/perak yaa.. imitasi juga gapapa ^^

4. Dreamcatcher necklace

5. Atasan putih kerah sabrina yang lengannya puff kaya gini :)

6. Tas kulit kaya gini nih...

7. Sepatu ujung lancip bahan kulit macem ini

Kalo ada yang nemuin, tolong ya... kasih tau saya di mana bisa belinya :D terima kasih semuaaa~



21.7.10

It's D for Deutschland

My love and dream is started with D and also ended with D. Yes, it's DEUTSCHLAND.

Nggak tahu kenapa ya, saya bisa cinta banget sama Jerman dan apapun yang berhubungan. Padahal jujur saja, saya sama sekali nggak ada hubungannya dengan negara asal wurst ini. Saya nggak punya turunan Jerman, keluarga saya nggak ada yang pernah menginjakkan kaki di Jerman, bahkan saya baru mulai mengenal bahasa Jerman waktu SMA. Satu fakta yang menarik, di masa mudanya mama saya sama sekali nggak suka Jerman. Alasannya sederhana, termakan fakta sejarah. Kata mama saya Jerman sama dengan Nazi dan mereka adalah bangsa kejam yang suka perang. Mungkin karena itu saya jadi cinta mati sama Jerman, semacam karma gitu lhoo.. dan parahnya lagi, pendapat saya justru berkebalikan dengan mama.

It's D for door and D for dream. Yes, it's the door of my dream. It's DEUTSCHLAND.

Inilah hal yang membuat saya jatuh cinta sama segala hal berbau Jerman. Timnas sepak bola Jerman di piala dunia 2006! Kalau nggak ada mereka, atau seandainya saya tidak pernah melihat mereka mungkin sekarang ceritanya akan lain. Sebenarnya tim dukungan saya tahun 2006 itu Prancis, sesuai dengan negara favorit saya waktu itu. Kenapa dulu suka Prancis? Itu karena permainan role-play dengan teman-teman. Saya dulu menciptakan tokoh-tokoh cerita yang mewakili negara-negara peserta PBB, kemudian tokoh-tokoh itu saya perankan bersama teman-teman saya sehari-hari. Kami saling memanggil dengan nama tokoh tersebut kalau sedang ngumpul. Kebetulan tokoh favorit saya berasal dari Prancis maka saya mendukung Prancis.

Ketika piala dunia mulai, adik saya (yang kebetulan tokoh role playnya dari Jerman) mendukung Jerman. Ayah saya yang selalu menonton bersama saya malah pendukung Jerman sejati sejak piala dunia-piala dunia sebelumnya. Akhirnya setiap pertandingan Jerman berlangsung, saya selalu ikut nonton karena pasti rame. Pada pertandingan pertama Jerman, saya langsung terkagum-kagum oleh aksi die Mannschaft, terutama Lahm dan Klose. Sejak saat itu saya mendua hati, antara dukung Prancis atau Jerman. Saya justru lebih sering nonton pertandingan Jerman daripada Prancis. Dan ketika Jerman dikalahkan Italia di semifinal, saya jauh lebih sedih daripada ketika Prancis dikalahkan Italia di final.

It's D for delivered, because I wish I was born in DEUTSCHLAND.

Piala dunia berlalu dan kala itu saya duduk di kelas 9. Saya mendapatkan absen 11, sama dengan nomor punggung Klose :) Melihat aksi Klose yang memenangkan gelar top skor, saya terinspirasi untuk memperoleh nilai 10 terbanyak di kelas. Memang akhirnya tidak berhasil, tapi nomor 11 ini sukses menginspirasi saya hingga berhasil merebut peringkat 3 untuk nilai ujian. Sejak saat itu saya menobatkan nomor 11 sebagai nomor keberuntungan, sekaligus makin cinta sama Jerman. Saya mulai suka mengumpulkan pernak-pernik seperti pin bendera Jerman dan memakai gelang dengan warna hitam-merah-emas. Tetapi sampai saat itu juga saya masih memandang Prancis sebagai tujuan masa depan. Saya masih bermimpi kuliah di Sorbonne, kuliah Sastra Prancis atau belajar fashion design di Prancis karena itu hobi saya.

Maka ketika di SMA, saya mengambil bahasa pilihan Prancis dan kelas fashion design. Ketika memilih bahasa itu saya sempat dilema antara Prancis dan Jerman. Saya putuskan tidak mengambil Jerman karena saya berencana masuk jurusan bahasa yang nanti akan belajar bahasa Jerman juga.

It's D for Death, because I want to end my life in DEUTSCHLAND.
Kelas 11. Di sinilah mimpi saya benar-benar jelas dan terbuka. Di sinilah saya menemukan cinta sejati saya ternyata memang Jerman. Saya masuk kelas bahasa. Sedikit cerita, sekolah saya tergabung dalam PASCH Schulen:Partner der Zukunft, yaitu sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia yang memiliki ikatan kerjasama dengan pemerintah Jerman. Ketika sekolah saya terdaftar sebagai salah satunya, baru ada 10 sekolah di Indonesia. Apa keuntungannya? Pemerintah Jerman mengucurkan banyak dana untuk memberikan fasilitas-fasilitas untuk sekolah ini khususnya dalam belajar bahasa Jerman. Sekolah saya diberikan banyak buku, video, alat-alat penunjang belajar, bahkan dibekali dengan native speaker dari Jerman. Beasiswa untuk belajar bahasa Jerman dan kegiatan-kegiatan berbau Jerman juga sangat tersedia. Masih banyak lagi keuntungannya. Ketika guru Jerman saya bercerita tentang ini, saya nggak bisa berhenti senyum. Dalam pikiran saya: "Ya Tuhan, ini dia...pintu mimpi saya telah terbuka dengan jelas. Ini dia tujuan hidup saya."

Target saya waktu itu beasiswa kursus musim panas langsung di Jerman. Tetapi saingan saya di kelas sangat banyak, sementara kesempatan yang tersedia hanya 4 orang. Akhirnya saya memang tidak berhasil. Saya sempat putus asa dan nyaris berhenti menyukai Jerman. Ternyata, Tuhan memberikan saya kesempatan lain. Berdasarkan hasil seleksi beasiswa musim panas, saya dipilih oleh Goethe-Institut untuk mengikuti Deutschcamp di Thailand selama seminggu. Dari Deutschcamp itu saya mendapatkan sertifikat yang sangat berguna ketika saya mendaftar PPKB UI ^^
Foto ini adalah saya (baris pertama, duduk, nomor 2 dari kanan) dan para peserta Deutschcamp di Thailand tahun 2009 kemarin. Saat itulah saya mewujudkan impian sejak kecil saya, pergi ke luar negeri dengan gratis. Dan lihat, siapa yang membantu mewujudkan mimpi saya? pemerintah Jerman! :D That's why I love Germany more and more. Masih ada banyak kesempatan yang saya dapatkan, saya bersama teman sekelas sempat tampil di Goethe-Institut beberapa kali untuk menghibur tamu undangan dalam acara berkaitan dengan kerjasama ini, saya juga sempat mengikuti beberapa workshop musik bersama musisi dari Jerman, semua itu belum termasuk buku, media, film, dsb yang menarik yang dapat saya nikmati di perpustakaan sekolah.

It's D for desire, because almost all of my wishes related to DEUTSCHLAND.

Ternyata cinta itu memang ada ujiannya. Perjalanan saya mencintai Jerman sepanjang kelas 11 dan 12 Bahasa yang berhasil bikin saya mengalihkan pilihan jurusan kuliah ke Sastra Jerman itu sama sekali tidak mudah. Ketika teman-teman di kelas sudah mulai jenuh dengan pelajaran Bahasa Jerman, terutama setelah mereka menjadi sangat tidak suka dengan guru (baik dari sekolah maupun sang native speaker), saya sedapat mungkin berusaha mempertahankan cinta saya. Saya tahu, teman-teman di kelas bahkan di sekolah banyak yang tidak suka dengan saya karena saya tetap eksis mencintai dan membela bahwa pelajaran bahasa Jerman itu bagus, asik, menyenangkan, dll. Apalagi kalau saya suka sesuatu bisa lebay sekali, sudah pasti teman-teman saya yang benci pelajaran Jerman ikut-ikutan benci saya. Bahkan karena kesukaan saya, seorang teman yang dulunya dekat sama saya sampai menjauh dan bilang saya membosankan karena apa-apa pasti Jerman. Tapi saya tidak peduli, mereka kan nggak tahu bagaimana rasanya kalau impian kita kesampaian. Mereka nggak tahu betapa saya berterima kasih pada negara bersimbol elang hitam yang sudah menunjukkan ke mana arah masa depan saya, memberi banyak kesempatan agar saya bisa maju dan mengembangkan talenta di bidang bahasa, bahkan membantu mewujudkan mimpi saya untuk ke luar negeri tanpa harus menyulitkan orang tua dengan biaya ini itu.

Itu belum semua lho. Awal tahun 2010, saya mengenal cowok-cowok ganteng Asia lewat Super Junior dan The GazettE. Wah, saya pikir saat itu saya bakal beralih kiblat ke Asia Timur, karena saya heboh banget ngefans mereka. Saya sampai bela-belain mecahin celengan demi cd versi A Bonamana milik Super Junior! Tetapi, kemudian piala dunia bergulir dan saya kembali ke cinta lama saya, Jerman, lewat timnas sepak bolanya yang sudah mengalami banyak perubahan dari tahun 2006 lalu. Btw, ujian dari teman-teman masih berlangsung lho, tapi saya cuek saja toh kita sudah nggak berhubungan lagi kan? Malah saya kenal dengan teman-teman baru yang ternyata punya cinta yang sama.

It's D for destination, because I want to see my future in DEUTSCHLAND.

Sekarang saya sedang menunggu mulainya kuliah. Mulai September saya akan belajar Sastra Jerman di Universitas Indonesia dan saya sangat sangat sangat tidak sabar! Gimana enggak, nanti saya setiap hari akan bertemu segala hal berbau Jerman, malah katanya akan ada praktikan dari Jerman yang ikut membantu kita belajar. Nilai plus lagi kalau praktikannya kebetulan ganteng heheheheh...

Rencananya kalau lulus nanti saya ingin kerja di kedutaan atau pusat kebudayaan Jerman. Tetapi sebelumnya saya ingin mengikuti program au-pair ke Jerman. Siapa tahu nanti akan banyak kenalan baru dan (amin) ketemu jodoh hehehe... Oke ini tukang mimpi banget, tapi saya pengen punya pasangan orang Jerman terus nikahannya gaya Bavaria pakai bunga cornflower (oh, wake me up please!). Terus kalau bisa menetap di sana sampai akhir hidup, kecuali kalau Indonesia kondisinya lebih baik di masa depan ;) Entah apa yang akan dipikirkan pemerintah kalau baca tulisan saya ini, mungkin saya sudah dibuang atau diasingkan. Tapi mau gimana lagi, cinta kan nggak bisa dipaksa, baik dipaksa untuk ada atau dihentikan. Lagipula, saya masih bernasionalisme kok, karena saya selalu berharap Indonesia jadi semakin baik dan selama saya masih menginjakkan kaki di bumi pertiwi saya akan berusaha memberikan yang terbaik.

So that was my love story with Deutschland.

My love and dream is started with D and also ended with D. Yes, it's DeutschlanD :)








20.7.10

Why Cornflower??

Karena cornflower adalah bunga favorit saya, yang sejujurnya belum pernah saya pegang apalagi lihat dengan mata kepala sendiri.

Lalu apa alasan saya menyukai cornflower?

Saya tidak punya hobi berkebun, tetapi saya sangat suka bunga. Dulu seperti kebanyakan orang, saya sangat suka mawar dan sakura. Tetapi setelah mengetahui lebih banyak tentang cornflower, saya jadi lebih suka bunga ini. Sedikit cerita tentang cornflower tersirat dalam puisi (sebenarnya mau saya bikin lagu, tapi saya belum menemukan nadanya) saya yang berjudul "Centaurea" ---> postingan sebelumnya tuh ^^

Centaurea (cyanus) adalah nama latin dari cornflower biru, spesies cornflower yang paling saya sukai. Bunga ini berasal dari Eropa dan termasuk dalam kelompok bunga yang memiliki warna biru murni dari pigmen protocyanin. Tinggi batangnya kira-kira 16-35 inci dan umumnya tumbuh liar di ladang jagung, gandum, dll. Cornflower termasuk tanaman langka yang dilindungi.

Alasan pertama saya, sederhana saja, karena saya suka warna biru. Alasan kedua saya dapatkan setelah mengetahui lebih lanjut mengenai bunga ini. Cornflower terkenal dalam sejarah (khususnya sejarah Jerman ---> land of my dream :)). Sesuai bait pertama puisi "Centaurea", bunga ini konon berhasil menyelamatkan anak-anak Ratu Louise dari Prussia yang disembunyikan ibunya di padang cornflower ketika melarikan diri dari Berlin dan dikejar oleh pasukan Napoleon. Karenanya, cornflower dijadikan simbol kerajaan Prussia khususnya karena warnanya sama dengan seragam tentara kerajaan. Setelah penyatuan Jerman tahun 1875, cornflower dijadikan bunga nasional Jerman.

Cornflower tidak hanya menjadi bunga nasional Jerman, tetapi juga Estonia. Di negara-negara Skandinavia, bunga ini diambil sebagai simbol salah satu partai politik.
Beberapa tokoh dunia sangat menyukai bunga ini. Bunga ini menjadi favorit Kaisar Wilhelm I, anak dari Ratu Louise. Di jaman modern, John F. Kennedy juga mengambil cornflower sebagai bunga favoritnya.

Dua bait terakhir puisi "Centaurea" menceritakan alasan yang lain. Cornflower dikenal sebagai Blaue Blume atau bunga biru dalam sejarah kesusastraan Jerman zaman Romantik karena dianggap menginspirasi karya-karya pada masa itu.
Blaue Blume adalah simbol utama zaman Romantik yang berarti hasrat, cinta dan perjuangan metafisikal untuk sesuatu yang abadi dan tidak terjangkau. Banyak sastrawan bahkan di luar Jerman yang karya-karyanya terinspirasi dari sang bunga biru.

Dalam cerita rakyat, dikisahkan bahwa cornflower dipakai oleh para pria yang sedang jatuh cinta, jika warna birunya menghilang terlalu cepat, maka itu disimbolkan bahwa cinta sang pria tidak terbalas.

Cerita yang menarik di balik bunga inilah yang membuat saya sangat menyukainya. Bahkan saya bermimpi di masa depan nanti akan menggunakan bunga ini di pesta pernikahan. Hehee...^^

Seperti cornflower yang memiliki banyak cerita menarik dan memiliki kemampuan menyembunyikan sesuatu dengan baik, saya ingin blog ini juga akan terisi dengan cerita dan rahasia menarik dari saya :)