Tampilkan postingan dengan label middle earth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label middle earth. Tampilkan semua postingan

1.1.13

The Hobbit: Penuh Pesan Moral

Tahun 2013 ini saya mau mengawali dengan iseng menulis review film yang telah mewarnai akhir tahun 2012 saya: The Hobbit: An Unexpected Journey. Berhubung saya bukan ahli tentang teknik film, saya akan lebih banyak membahas dari segi ceritanya.

The Hobbit: An Unexpected Journey merupakan prekuel dari trilogi The Lord of The Rings sekaligus bagian pertama dari trilogi The Hobbit. Disutradarai oleh Peter Jackson dan dibintangi aktor-aktor yang keren membuat film ini tidak kalah oke dibandingkan sekuelnya. Hal yang membuat film ini melampaui The Lord of the Rings adalah teknik yang digunakan (tentu saja, karena LOTR dibuat 10 tahun sebelum film ini :)). Film The Hobbit menggunakan kamera yang sangat canggih yang mampu merekam 48 frame per detik. Hal ini membuat gambar yang dihasilkan sangat jelas dan bahkan lebih terang dari warna-warna yang kita lihat di kenyataan. Beruntung saya sempat menyaksikan The Hobbit dalam versi 3D (di Djakarta XXI, cuma 40 ribu loh ^^ *promosi*).

Sama seperti LOTR, The Hobbit merupakan film yang diadaptasi dari karya J.R.R. Tolkien dengan judul yang sama. Namun, film The Hobbit tidak murni mengambil dari bukunya saja, melainkan juga menyisipkan beberapa bagian yang tertulis dalam Appendix buku ke-3 The Lord of The Rings yaitu The Return of the King. Sebagai penyuka fantasi, tentu bagi saya The Hobbit dan rangkaian kronik Middle Earth lainnya sangat keren dan sukses menjadi dunia pelarian yang sangat menyenangkan. Terlepas dari pendapat subjektif itu, menurut saya, The Hobbit adalah film yang dipenuhi pesan moral (sama seperti LOTR ^^). Nah, setelah bagian yang ini, spoiler alert yak :P

Film The Hobbit dibuka dengan flashback pada masa kejayaan kerajaan ras Dwarf dengan sang raja, Thror, yang berkuasa di bawah gunung. Di bawah gunung yang bernama Erebor itu rupanya tersimpan begitu banyak bahan tambang yang mahal dan melimpah seperti emas, perak, dan berbagai jenis batu mulia. Kejayaan kerajaan ini bermula ketika mereka menemukan bahan tambang baru yang sangat berharga, yaitu Arkenstone. Dari hasil tambang ini, sang raja membangun kota-kota mewah dan istana di bawah gunung yang dipenuhi pilar-pilar megah. Namun, sang raja menjadi tamak dan terus menggali dan mengeksploitasi hasil tambang di dalam gunung itu. Bencana datang ketika tiba-tiba seekor naga bernama Smaug menyerbu kerajaan Dwarf tersebut, menghancurkan kota-kotanya dan membunuh banyak jiwa termasuk sang raja. Kaum Dwarf yang tersisa terusir dari tanah mereka dan terpaksa mengembara ke berbagai penjuru Middle Earth. Di sini sudah ada pesan moral pertama yang disampaikan lewat kata-kata Bilbo yang menceritakan flashback itu: "Di mana ada kegilaan, di situlah hal buruk akan datang." Pada intinya segala hal yang berlebihan akan mendatangkan bencana atau hal buruk.

Cerita berlanjut ke beberapa tahun setelahnya, kaum Dwarf yang terusir berusaha mencari tanah tempat tinggal baru. Anak dari Raja Thror, yaitu Thrain, mencoba memasuki tambang milik nenek moyang mereka yang sudah ditinggalkan di bawah Misty Mountain, yaitu Khazad-Dum. Sesampainya di sana, ia justru mendapati bahwa tambang telah diduduki oleh Orcs (salah satu makhluk jahat di Middle Earth) dan terbunuh. Putranya yang bernama Thorin kemudian mengumpulkan pasukannya dan bergerak menuju Khazad-Dum untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya. Raja Orcs yang bernama Azog berhasil dibunuh, namun anaknya yaitu Bolg berhasil lolos. Di pihak Dwarf terdapat angka kematian yang sangat tinggi sebagai dampak perang. Orcs yang tersisa rupanya tidak tinggal diam. Mereka memburu Thorin, yang kini menggantikan ayahnya sebagai raja Dwarf, untuk dibunuh sebagai bentuk balas dendam atas kematian raja mereka. Pesan moral kedua: segala hal yang dilandasi dendam hanya akan membawa hal yang lebih buruk lagi dan permusuhan yang berkelanjutan.

Terlepas dari perang Dwarf dan Orcs, cerita inti The Hobbit adalah usaha merebut kembali Erebor dari tangan Smaug sang naga. Usaha ini dipimpin oleh Thorin sang raja Dwarf dengan bantuan Gandalf the Grey sang penyihir bijak yang mencarikan satu orang lagi sebagai pelengkap rombongan Dwarf yang sudah terdiri dari 13 orang tersebut. Entah apa alasannya, Gandalf memilih Bilbo, seorang Hobbit yang sehari-harinya hidup damai di dalam lubang bersama makanan-makanan lezat dan perapian di Bag End. Mulanya Bilbo ragu untuk ikut karena ia merasa tidak bisa melalui perjalanan yang berbahaya seperti itu dan lebih memilih menikmati hidup di rumahnya. Pada akhirnya karena terbujuk nasehat Gandalf yang berkata: "dunia itu bukan berada di peta dan buku, melainkan di luar sana." Bilbo pun ikut dalam rombongan.

Masalah muncul dalam rombongan tersebut karena Bilbo merasa rendah diri karena bantuan yang diberikan hanya sedikit dan terkesan lebih banyak menghambat perjalanan. Di sisi lain, Thorin sang pimpinan rombongan merasa bahwa Bilbo tidak berguna dan skeptis bahwa ia akan membantu dalam perjalanan itu. Seiring waktu berjalan, rombongan Dwarf bersama Bilbo dan Gandalf melewati berbagai petualangan yang mendebarkan dan rintangan-rintangan berbahaya seperti ditangkap Troll, dikejar pasukan Orcs, melintasi pegunungan yang dipenuhi raksasa batu, sampai ditawan kaum Goblin. Pada saat ditawan kaum Goblin inilah Bilbo terpisah dan bertemu Gollum, makhluk yang memiliki cincin yang nantinya akan menggemparkan seluruh Middle Earth. Bilbo "tanpa sengaja" mencuri cincin itu dari Gollum. Selanjutnya, Bilbo-lah yang membawa cincin itu sampai kemudian keponakannya, Frodo, akan membawa cincin itu untuk dihancurkan dalam trilogi LOTR. Pesan moral ketiga: setiap orang pasti memiliki suatu misi dalam hidupnya yang telah direncanakan oleh sang pencipta. Bahkan orang yang paling kecil dan bukan siapa-siapa pun bisa mengubah dunia. Hal ini terbukti lewat Bilbo dan (nantinya) Frodo. Sekadar info, Hobbit adalah makhluk paling apatis dan tidak diperhitungkan di antara ras-ras lain yang menghuni Middle Earth.

Pesan moral yang paling penting muncul pada akhir cerita. Ketika itu, Bilbo yang awalnya hanya mempersulit dan nyaris memutuskan untuk pulang ke rumah, justru kembali kepada rombongan Dwarf untuk membantu mereka dari kejaran para Orcs. Saat Thorin berhasil ditangkap dan nyaris terbunuh di tangan para Orcs, Bilbo-lah yang turun dari pohon tempat dia menyelamatkan diri hanya untuk mengalihkan perhatian para Orcs dan menyelamatkan Thorin. Pada akhirnya, Bilbo menyadari kemampuannya dan merasa lebih percaya diri. Di sisi lain, pesan moral terpenting datang dari Thorin. Dengan jiwa besar, ia memeluk Bilbo dan meminta maaf. Dengan berani ia mengakui bahwa ia telah salah menilai Bilbo dan meremehkannya. Ternyata justru Bilbo-lah yang menyelamatkannya. Thorin dan Bilbo kemudian menjadi teman dan bersama-sama melangkah menuju Erebor.

Kalau menonton dan memperhatikan lebih detil, bisa jadi lebih banyak lagi pesan moral yang didapatkan, misalnya ketika Bilbo memilih untuk membiarkan Gollum tetap hidup. Perbuatan ini rupanya memberikan dampak yang sangat positif bagi seluruh Middle Earth yang akan terungkap dalam trilogi LOTR. Intinya, perbuatan yang baik, suatu saat akan berbuah sangat baik. Kemudian ada juga pesan yang disampaikan Gandalf ketika ia memberikan sebilah pedang pada Bilbo: "Keberanian bukan berarti berapa jumlah nyawa yang telah kau bunuh, tetapi justru berapa jumlah yang tidak kau bunuh."

Sayang sekali film ini tiba di Indonesia bersamaan dengan munculnya dua film lokal yang juga bagus, 5cm dan Habibie Ainun. Perfilman Indonesia yang semakin membaik memberikan lebih banyak tempat pada kedua film tersebut. Film The Hobbit hanya muncul di bioskop-bioskop yang memiliki teknologi pemutar film 3D atau kamera High Frame Rate. Selain itu, tampaknya selera masyarakat Indonesia terhadap film fantasi tidak begitu besar seperti masyarakat negara lain. Hal ini membuat film The Hobbit mungkin tidak akan terlalu lama bertahan di bioskop-bioskop dalam negeri. Jadi, yang mau nonton dan belum sempat, buruan nonton! Nggak nyesel loh ^^

PS: Selain Thorin, ada Dwarf lain yang superganteng, namanya Kili :)

~ Eisblume


13.8.12

A Lay for the Land of Dream

I sing a lay for the land of dream:

Where the rivers keep flowing and gleam
And the golden sun never stop her light
Nor the white dim stars to brighten the night
The morning dew and those greenish hills

There live my friends, the merry hole-folk
Outside their doors to go to the mills

Back to the far land, the people tell more
About the fair folk and wonderful tale
Come here and there to reach the sea shore
Kingdom of wonder beyond the sky pale

There live a king in the fairest land
Own he a high throne and a mighty sword

Men of honour reached the golden sand
In long years ere him to proclaim the word
Deep in the caves of the precious stone
Dwell the dwarf lords in glittering hall
Long may the time till the quest well done
Ere the world get their best dreams and all

End of all ways may the wisest know
And until that I'll let my life flows
Runaway to walk my path on the land
To release myself from the nightmare's hand
Here I end my lay for the land of dream

by LV~Eisblume
13.08.12
for Middle Earth, a land who save me from loneliness..









5.8.12

Men of Gondor (My Journey to Middle Earth part 3)

Kalau di post sebelumnya gue cerita soal tokoh favorit gue di LOTR versi film, sekarang gue mau cerita kalau ternyata setelah baca bukunya sampai The Two Towers, rupanya pilihan gue berubah.

Setelah gue baca bukunya, pilihan tokoh favorit gue jatuh pada Men of Gondor alias ras manusia dari Gondor (emang sih karena gue manusia ujung-ujungnya seleranya manusia juga). Lebih tepatnya lagi Aragorn dan Faramir. Bukan karena mereka ganteng (ganteng sih, tapi itu 'kan di filmnya, di buku nggak ada deskripsi tampang yang detail tuh), tapi lebih ke karakter keduanya. Baik Aragorn maupun Faramir adalah dua tokoh di LOTR yang lolos seleksi "Ksatria Idaman" ala gue (huekk kontes apaan nih -.-a).

Aragorn and Faramir

Apa sih kriteria buat menang kontes "Ksatria Idaman"? Tentu saja punya 3 karakter utama menurut aturan Rittertum (keksatriaan) di abad pertengahan. Tiga sifat utama yang makin langka saja ditemukan pada spesies cowok ini adalah: Êre, Treue, dan Heldenmuot (ditulis dalam bahasa Mittelhochdeutsch supaya lebih ngena xD) atau diterjemahkan kira-kira menjadi: kehormatan, loyalitas/kesetiaan dan kepahlawanan. Tentu saja anda sekalian tidak akan menemukan kriteria seperti kejujuran, keterbukaan, dll karena itu lebih menyerupai kontes cari jodoh dan di sini gue bukan membahas tentang cari jodoh hahaha..

Oke, balik lagi ke manusia-manusia ganteng dari Gondor ini. Buat yang belum baca atau nonton (walaupun kemungkinannya kecil) mungkin harus "kenalan" dulu nih sama mereka. Aragorn son of Arathorn heir of Isildur, demikian biasanya gue menyebut Men yang satu ini, sekalipun sepertinya bukan itu nama panjangnya. Aragorn adalah keturunan resmi dari garis raja-raja penguasa Gondor dan Arnor (Arnor adalah sebuah kerajaan di utara yang sudah hilang dan hancur akibat salah satu perang besar di Middle Earth jadi yang tersisa tinggal Gondor di selatan). Sejak nenek moyangnya yang keberapa entahlah gue juga lupa meninggalkan tahta Gondor tanpa pewaris, akhirnya tidak ada lagi orang dari garis keturunan raja yang menjadi raja di situ. Sementara itu nun jauh di Rivendell (The Last Homely Home dan Imladris nama lainnya dan kota ini merupakan tempat tinggal para Elves), tinggal garis keturunan Isildur yang lain dari anaknya yang satu lagi. Dulunya mereka menguasai kerajaan Arnor sebelum runtuh dan hilang karena serangan dari utara, tapi kemudian terpencar-pencar dan menghilang. Aragorn adalah keturunan terakhir dari keluarga ini. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di antara para Elves di Rivendell sehingga ia pun memberikan hatinya pada Arwen Undomiel, putri Elves dari Rivendell. Ia juga tergabung dalam Rangers (ksatria pengembara yang tersisa dari garis keturunan kerajaan manusia di utara dan ahli dalam berburu) dan dikenal dengan nama Strider. Kemunculan pertamanya dalam cerita adalah ketika ia menolong para Hobbit (Frodo,dkk) di Bree, sebuah tempat tidak jauh dari The Shire, dari kejaran para Nazgul (tangan kanannya Sauron). Pada saat itu ia masih menggunakan nama Strider dan memiliki kesan yang misterius. Sekalipun menjadi keturunan resmi raja Gondor, Aragorn tidak pernah menggunakan posisi itu untuk merebut kekuasaan orang atau mencari keuntungan untuk diri sendiri. Bahkan di versi film, ia justru tidak percaya diri bahwa ia dapat menjadi raja yang bijak dan tidak melakukan hal ceroboh seperti Isildur, nenek moyangnya yang tewas ketika mengamankan cincin itu untuk dirinya sendiri.

Men yang satu lagi, Faramir son of Denethor adalah putra dari wakil raja (Steward) yang selama ratusan tahun menggantikan tugas kepemimpinan raja di Gondor sampai keturunan resmi dari keluarga raja (yaitu Aragorn) kembali dan mengambil alih tugasnya. Faramir memiliki kakak laki-laki bernama Boromir. Boromir ini salah satu anggota dari Fellowship of the Rings yang diutus untuk membantu Frodo dalam perjalanannya ke Mordor. Sayangnya di tengah perjalanan, sang kakak harus mati dalam serangan Orcs setelah sebelumnya nyaris merebut cincin dari Frodo. Boromir adalah anak kesayangan Denethor. Ia selalu mendapat kepercayaan dari sang ayah. Kebalikannya, Faramir selalu jadi nomor dua. Sang ayah tidak begitu percaya padanya. Bahkan kalau di versi film, dengan kejamnya sang ayah menyatakan ia sangat ingin nasib kedua anaknya ditukar sehingga biarlah Faramir menggantikan Boromir mati di tangan Orcs. >.< Meski demikian, Faramir tetap setia mengabdikan diri pada sang ayah dan Gondor. Bahkan ketika sang ayah menyuruhnya merebut kembali Osgiliath (kota pertahanan terakhir kerajaan Gondor yang direbut oleh pasukan Mordor) dengan kekuatan tentara yang sedikit, ia tetap berangkat sekalipun ia tahu bahwa ia tidak akan selamat dari misi itu. Semua itu dilakukan dengan harapan sang ayah akan sedikit memandang dan mengakui dirinya. Ia menolak mencari pengakuan ayahnya dengan cara kotor, misalnya dengan mencuri cincin dari Frodo dan membawanya ke Gondor, sekalipun ia punya kesempatan terbuka di depan matanya.

Êre --- Baik Aragorn maupun Faramir pantas menjadi dua orang yang terhormat di Middle Earth. Keduanya berhasil menunjukkan kualitas masing-masing dan menjalankan perannya dengan baik. Tak satupun dari mereka menunjukkan kelemahan manusia yang sempat dideskripsikan dalam novel itu, yaitu haus kekuasaan. Bahkan mereka berhasil menolak godaan dari cincin yang sesungguhnya berpotensi membawa mereka pada kekuasaan.
Treue --- Ada sedikit perbedaan pada mereka berhubungan dengan kesetiaannya. Ketika memutuskan untuk bergabung dalam Fellowship of the Ring, Aragorn telah bersumpah akan membantu Frodo (kalau di film dinyatakan dalam salah satu dialognya: my sword will serve you). Hal ini terbukti dalam perjalanan panjang itu, bahwa ia sama sekali tidak mencoba merebut benda itu dari Frodo dan mengulang kesalahan leluhurnya. Selain itu Aragorn, yang punya kekasih seorang Elves yaitu Arwen dan harus berpisah darinya untuk waktu lama dalam misi itu, telah berhasil menunjukkan kesetiaannya pada wanita itu sampai akhir cerita. Padahal ia tahu bahwa kecil kemungkinannya Arwen akan setia padanya sampai dunia ketidakabadian manusia dan di tengah petualangannya ia sempat bertemu dengan Eowyn, seorang putri dari Rohan yang satu ras dengannya. Tetapi tetap ia tidak berpindah hati ^^ (duh.., ksatria banget kaaaan~). Sedangkan dalam cerita Faramir, kesetiaannya ditujukan pada Gondor dan ayahnya, seperti yang gue ceritakan di atas. Lebih baiknya lagi, kesetiaan itu ditunjukkan dengan cara yang bersih dan keputusan yang bijak.
Heldenmuot ---- Nah, apalagi ini, sudah jelas mereka berdua punya sifat bak pahlawan bagi ras dan bangsanya, bahkan bagi seluruh Middle Earth. Dalam setiap perang mempertahankan kebaikan di Middle Earth dari kekuasaan gelap yang mengancam, mereka selalu siap sedia dan berperang dengan berani. Dengan menolak godaan dari cincin kekuasaan itu mereka juga telah menunjukkan sikap pahlawan sejati. Mereka berkorban mengesampingkan kepentingannya demi kedamaian di Middle Earth dan bagi seluruh bangsa yang tinggal di sana.

Two souls of men
Best of all knights
From the dreamland
Come in my nights

Wise as the old
Shining in gold
Both North and South
Name them in mouth

Two souls of men
Know the heirloom
Will bring the land
Back to its doom
Don't take the thing
For their glory
Instead they bring
Peace and merry
 Cuma beberapa bait puisi yang gue tulis terinspirasi dari mereka. Semoga di bumi ini makin banyak pemimpin (dan terutama, cowok!) yang sifatnya seperti mereka. Kembalikan Rittertum ke dunia!! xD



29.7.12

About Friendship and Love...

Sebenarnya postingan ini mau gue masukin ke Journey to Middle Earth series karena masing berhubungan sama LOTR tapi kok kalau dipikir-pikir jadi lebih banyak curcolan gue ya? hahaa...

Bermula dari seorang follower di Tumblr yang nanya di inbox gue: "Who's your favourite LOTR character and why?" Astaga! Tega banget dia nanya begini ke gue... Itu pertanyaan sadis lho.., lebih susah jawabnya daripada pertanyaannya Miss Universe! Masa gue disuruh milih dari sekian banyak tokoh superkeren?

Akhirnya dengan hati yang sebenarnya nggak tega untuk nggak menyebutkan yang lain, pilihan gue jatuh sama Sam dan Arwen. Buset, boro2 tokoh utama, yang satu enggak ganteng yang satu cewek -.-a Hmm.. sebenarnya kalau nggak ada pertanyaan "why" sih gue lebih pilih Aragorn sama Legolas (Frodo juga deh ^^) soalnya kan gue gak perlu ngasih tahu kalau alasan gue milih mereka karena ganteng/cute (kesannya gue menyikapi film dengan dangkal banget cuma liat tampang pemain -.-a).

Oke, balik ke pilihan gue. Sam dan Arwen. Gue pilih mereka sebenarnya karena karakter keduanya paling "nyambung" sama hidup gue. Sam mewakili persahabatan dan Arwen untuk cinta. Nah.., sekarang bisa gue mulai curcolnya??

Samwise Gamgee. Sebenarnya "cuma" tukang kebunnya Frodo, bahkan selalu manggil majikannya itu dengan sebutan "Mr". Jelas sebenarnya nggak ada hubungan "persahabatan" yang seimbang. Tapi ternyata duh... :') (maaf, jadi pengen nangis gue..) Kalau ngikutin filmnya dari awal sampai akhir, plus baca bukunya, langsung berasa segimana kuatnya persahabatan mereka. Walaupun sebenarnya dua-duanya sama-sama setia, tapi gara-gara adegan Frodo sempat ninggalin Sam karena tertipu Gollum gue jadi ngasih perhatian lebih sama Sam. Sosok seperti dia ini gue nggak pernah nemuin sepanjang hidup gue sampai sekarang. Boleh dibilang Sam ini mengingatkan gue sama sesuatu yang pengen banget gue miliki. Persahabatan sejati.

Sekedar info aja..., kalau ada orang nanya begini ke gue: "seandainya lo dan sahabat lo jatuh cinta sama orang yang sama, dan orang itu jatuh cintanya sama lo, lo pilih mana? sahabat lo atau cowo itu?" Gue bakal jawab: "sahabat gue, kenapa? karena nyari sahabat itu susah!" :c

Dari gue kecil sampai sekarang, jujur gue belum pernah tuh merasakan yang dibilang "persahabatan sejati". Mungkin kalau nggak ada teman-teman gue di jurusan Jerman sekarang, gue bisa bilang sahabat itu cuma bullshit. Tapi karena ada mereka gue masih berusaha menaruh harapan, siapa tahu mereka ini yang bakal jadi sahabat sejati gue. Gue pengen punya, walaupun sekedar satu orang aja (seperti Sam dengan Frodo), yang benar-benar ada di samping gue nggak cuma karena segi positif yang gue punya tapi juga segi negatif. Kalau lihat di FOTR, Sam ikut dalam perjalanan bersama Frodo awalnya cuma gara-gara dia janji sama Gandalf nggak akan ninggalin tuannya setelah ketangkap nguping. Tapi toh setelah Gandalf pergi dia tetap setia sama janjinya, sampai berusaha ngejar Frodo di sungai trus nyaris tenggelam (hiks..bagian itu sedih :'( Bahkan di ROTK, waktu Frodo "ngebuang" dia karena tipu muslihat Gollum pun akhirnya Sam yang nolongin Frodo dari Orcs dan bantuin dia supaya sampai di Mount Doom. Garis bawah tuh saudara-saudara, dibuang! Zaman sekarang gue ragu masih ada orang kayak gitu...

Gue pernah punya beberapa orang yang dekat sama gue sejak SD, tapi semuanya bohong. Ujung-ujungnya mereka berkhianat atau pergi. Gue ingat waktu SMA dulu sempat punya sahabat. Kita sama-sama suka bahasa Jerman, tapi semenjak dia nge-fans Twilight (waktu itu lagi booming-boomingnya dan gue bahkan belum punya kesempatan untuk baca), kita jadi nggak nyambung lagi. Sejak itu dia kumpul sama teman-teman lain yang sesama fans Twilight. Gue sampai coba ngikutin bukunya dan filmnya (walaupun akhirnya suka juga) supaya paling enggak bisa nyambung lagi. Eh, waktu gue udah suka Twilight juga, teman gue ini malah sibuk mencerca habis filmnya yang katanya jelek, gak sebagus bukunya. Terus kita jadi nggak nyambung lagi.

Di sekolah gue kebanyakan muridnya anak orang (super!) kaya. Entah kenapa setiap kali gue mau coba masuk ke lingkungan anak-anak itu, gue selalu nggak nyambung. Apalagi sejak itu kan mereka pada ngobrol lewat BBM (dan gue nggak punya BB). Terus kalau ada di lingkungan mereka itu gue selalu merasa outsider. Gue nggak bisa cocok sama gaya hidup mereka. Selain itu, gue juga selalu merasa jadi outsider. Entahlah gue nggak ngerti siapa yang salah. Selera gue nggak pernah nyambung sama mereka. Hampir selalu beda. Dan apa yang gue suka itu di mata mereka dipandang sebagai "freak" atau subculture yang aneh, misalnya: musik mittelalter, gothic, folk, dll. Rata-rata teman gue taunya lagu korea/jepang, lagu barat mainstream, bahkan sekalinya nggak mainstream tetap aja masih dikenal orang (misalnya musik jadul, psychedelic, dll.) Itu udah ngurangin topik obrolan gue sama teman-teman. Anehnya, sekalinya gue freak banget sama sesuatu, pasti ada aja yang ngatain. Gue nggak ngerti salah gue di mana karena kalau mereka ngomongin hal kesukaannya pun begitu -.-a kenapa gue nggak boleh?

Untungnya di antara teman-teman yang sekarang ini gue berhasil menebar sedikit virus "Mittelalter" haha.. jadi ada beberapa yang masih nyambung ngobrolin hal itu sama gue :) Tapi tetap aja kalau mereka lagi ngomongin korea, ngomongin orang yang nggak gue tau (misalnya salah satu ekelenya), ngomongin film/lagu jadul, tetap aja gue jadi outsider lagi :'C Mungkin memang gue salah tempat atau waktu lahir kali ya...
Mungkin kata-katanya C.S.Lewis (pengarang Chronicles of Narnia, sahabat J.R.R.Tolkien) benar kali ya.. "kalau kamu merasa tidak cocok dengan apapun di dunia ini, mungkin memang kamu diciptakan untuk dunia yang lain" :") Kalau pertemanan di kuliah ini gagal lagi, mungkin luar negeri jadi harapan terakhir gue...

Tokoh kedua yang gue pilih itu Arwen Undomiel. Putri bangsa Elves dari Rivendell yang super cantik ini buat gue jadi inspirasi untuk harapan dan cinta. Dikisahkan bahwa Arwen sebagai bangsa Elves adalah golongan yang immortal, sedangkan kekasihnya, Aragorn, adalah bangsa Men (manusia) yang bisa mati. Ayah Arwen, Elrond, pada awalnya kurang setuju jika anaknya menikahi seorang manusia. Ia beranggapan bahwa masa depan anaknya akan jadi suram karena setelah kematian pasangannya, anaknya hanya akan menderita dan merasa sendirian. Maka dari itu Elrond menyuruh Arwen untuk mengejar kapal terakhir di Grey Havens yang akan membawanya ke Undying Lands di seberang lautan untuk melarikan diri dari perang yang berkecamuk di Middle Earth. Tapi di tengah jalan, Arwen berbalik meninggalkan rombongan dan kembali ke Rivendell untuk menunggu kekasihnya pulang dari misi berbahaya yang dijalaninya. Padahal saat itu keabadian dan kekuatannya sebagai Elves mulai menghilang karena pengaruh kuasa jahat dari Mordor. Semua itu hanya karena ia masih memiliki harapan akan hidup bahagia bersama kekasihnya di masa depan nanti. :')

Cerita ini mengingatkan gue sama hubungan yang lagi gue jalanin sekarang. Kalau Arwen dan Aragorn beda bangsa, gue dan Ritter beda agama. Yah, kira-kira samalah, sama-sama ditentang ortu. Seolah-olah dengan bersatu dengan orang yang beda agama itu semacam jalan menuju kematian (baca: neraka) buat kita. Tapi karena adanya harapan akan kebahagiaan di masa depan sekalipun beda jalan, hubungan bisa tetap lanjut.. xD Arwen dan kesetiaannya pada harapan itu menginspirasi gue untuk tetap setia dan mencoba menjalani dulu relationship ini hehehe.. :P


16.7.12

My Journey to Middle Earth (part 2)

Sebenarnya ini gak begitu penting sih, tapi gue udah nggak bisa nahan diri buat nggak nulis di sini xD
Jadi ada dua hal kocak yang gue baru alami berkaitan dengan kesukaan baru gue di postingan sebelumnya hihihi....

Cerita 1

Gue dan adek gue lagi nonton The Two Towers di HBO. Pas lagi scene yang ada Gollum, nyokap gue pas lagi keluar kamar dan ngeliat ke TV...

Nyokap: apa itu?? (nunjuk Gollum di TV)
Gue dan adek: Itu Gollum.
Nyokap: (diem bentar, ngamatin gambarnya) itu ada tit**nya gak?
Gue dan adek: *ketawa ngakak sampe guling-guling habis itu geleng-geleng*
Gue (dalam hati): ini nyokap gue epik banget deh, kayanya cuma dia di dunia ini yang tertarik mengetahui apakah makhluk sejelek itu ada tit**nya. -____-a

Cerita 2

Gue mau ke Mall pake celana rumah. Nyokap ngeliat...
Nyokap: kamu tuh jangan ke Mall pake celana gondor-gondor gitu dong!
Gue: *ketawa ngakak* yah.. kalo celana Gondor bagus dong. Mending aku pake itu aja deh...
Nyokap: *bingung*

Well, gue nggak ngerti kenapa nyokap gue bilang gondor-gondor instead of gombor-gombor atau gombrong-gombrong -__-a

Yah, begitulah... gue nggak ngerti kenapa nyokap gue ikutan jadi aneh. Jangan-jangan kalo malem dia diam-diam keluar kamar trus ngambil novel LOTR gue dan baca. Ada lagi yang aneh, gue sama dia sekarang porsi makannya kayak Hobbit, alias 6x sehari. -__-a

15.7.12

My Journey to Middle Earth (part 1)

Halo semuanya, 
Gue nulis langsung dari Middle Earth nih ^^ *sepik* Maaf ya jadi jarang nulis gara-gara perjalanan panjang ini. Demi apapun sekarang gue lagi keranjingan LOTR!! (iya gue tau gue telat, awas klo ada yang ketawa >. >)

Hmm... ya begitulah gue selalu jadi manusia telat. Dulu waktu semua orang heboh Twilight, gue bahkan belum menyadari keberadaan novel itu. Terus waktu semua orang freak SuJu, gue sibuk ngejek-ngejekin mereka kayak bencong. Eh tiba-tiba pas semua orang nggak suka lagi atau udah bosen, gue baru suka. Terang aja semua orang jadi males gitu lihat kelebayan gue hahahaa,,, Nah kalo kasus yang ini agak beda dan menurut gue harusnya bisa lebih dimaafin kali ya secara filmnya keluar tahun 2002 (gue masih anak SD ingusan yang tontonannya kartun disney!). Tapi kayanya nggak bisa dimaafin juga sih secara filmnya udah diulang-ulang dari kapan tau di berbagai stasiun TV tapi gue lewatkan begitu saja atau nonton setengah-setengah. Well, sebelum nonton di HBO gue cuma tahu kalo trilogi LOTR tuh film yang isinya orang ganteng semua! (ya nggak semua juga sih hahaha...)

Tapi kalo dipikir-pikir gue sadar mungkin ini rencana Tuhan kenapa gue baru ada kesempatan nonton sekarang (apa pula ini bawa-bawa Tuhan -__-a). Dimulai dari waktu gue suka minta-minta film sama temen-temen gue yaitu Nuke dan Mumut yang punya segudang film di laptopnya. Awalnya cuma mau minta Red Riding Hood tapi karena gue lihat banyak film bagus lain yang belum gue tonton di koleksi mereka, akhirnya gue putuskan untuk ngopi juga. Intinya sih waktu itu trilogi LOTR cuma jadi sekedar "film bagus yang belum gue tonton". Sampai akhirnya gue mengalami kebosanan setelah UAS selesai. ue pun memutuskan buat nonton yang pertama. Awalnya iseng doang dengan asumsi film ini latar belakangnya agak-agak medieval gitu (zaman yang paling gue suka :D). Dan setelah gue tonton... jeng jeng... *drumrolls* astaga nih film bagus banget agsgdhagdjhgajsghfdahgfjgajkshda.. (baca: gak terdeskripsikan lagi deh bagusnya). Mungkin ini adaptasi terbaik yang pernah gue lihat (agak sotoy sih soalnya gue kan waktu itu belum baca novelnya). 

Melanjutkan bagian satu, akhirnya gue tonton juga bagian dua. Kali ini bareng adek gue yang beberapa hari sebelumnya begadang sampai jam setengah 4 pagi buat ngejar gue nonton yang pertama. And guess what?? Tiba-tiba aja HBO nayangin iklan kalau trilogi ini bakal ditayangin akhir bulan Juni secara beruntun. Whoaaaa.. kayanya emang gue ditakdirkan untuk kenal lebih dekat sama trilogi LOTR sekarang instead of waktu keluarnya film ini di tahun 2002. Habis nonton filmnya secara beruntun sekarang gue semacam nggak mau keluar dari Middle Earth. Bahkan gue langsung searching lewat Lontar UI kali-kali novelnya ada di Perpusat. And thanks God, novelnya ada lengkap bahasa Inggris maupun Indonesia. Akhirnya gue pinjem juga tuh novelnya. Bagian satu yang Fellowship of the Ring gue habiskan dalam waktu seminggu (sampai gue menemukan gimana caranya mengurangi adiksi gue terhadap internet!). Dan ketika mau lanjut ke bagian dua yang The Two Towers, duhhh.. kayanya susaaaah banget move on. Gue jatuh cinta sama tokoh Strider di bagian pertama ahahaha... :3

Oke, cukup cerita soal kronologi keranjingan gue dengan trilogi terkeren yang pernah gue temui sampai sekarang itu. Nah, sekarang balik lagi ke soal rencana Tuhan. Menurut gue, kesempatan ini bukan nggak disengaja atau kebetulan, tapi emang rencana Tuhan. Ada dua alasan:
1.) Kalau gue nonton tahun 2002 atau waktu filmnya diputar berulang-ulang di tahun-tahun setelahnya, gue cuma akan nonton dan mendapat kesan kalau filmnya keren, epik dan pemainnya ganteng. Titik. Nggak lebih. Minimal inspirasi untuk nulis lagi. Tapi sekarang, setelah gue kuliah di jurusan Jerman, gue lebih mengerti esensi filmnya. Gue bisa mendapatkan lebih dari sekedar cerita epik dan tampang ganteng. Gue sekarang ngerti apa itu huruf Rune, macam-macam ras di Middle Earth (yang mirip sama 9 dunia dalam mitologi Germanik/Norse), bahkan gue lebih menikmati legenda cincinnya yang serupa dengan karya sastra Jerman kuno favorit gue: Nibelungenslied :)
2.) Tuhan semacam mau mengembalikan gue ke jalan yang benar. Dia menunjukkan ke gue bahwa hal-hal yang gue suka (baca: mitologi Norse, Rune, magic, paganism, wicca, dll.) yang menjurus pada kesesatan dan kemusyrikan bisa dipakai untuk menyampaikan nilai-nilai cinta kasih yang diajarkan dalam ajaran agama yang gue anut. Kalau diamati dalam dialog filmnya (apalagi bukunya) gue bisa menemukan ajaran cinta kasih yang disisipkan sang pengarang. Gue sempat baca sedikit biografinya J.R.R.Tolkien dan dibilang di situ bahwa dia adalah penganut Katolik yang taat. Sedikit banyak hal ini pasti menginspirasi nilai-nilai dalam karyanya, salah satunya LOTR ini. Dan kerennya, dia bisa menggunakan unsur-unsur mitologi Norse, magic, dll yang harusnya bertentangan dengan ajaran agama itu untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut :D This inspires me, really :)

Sebenarnya ada banyak nih yang mau gue tulis, tapi kalau ditulis di sini semua jadi semacam nggak nyambung gitu. Jadi bagian pertama perjalanan gue disudahi di sini saja...
Bis dann :))