Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

23.5.14

Melepas Dirinya

Dari balik tiang, Sang Ksatria memandangi sosok mungil dalam balutan gaun biru itu. Putrinya, kekasihnya, seseorang yang telah menjadi pengabdiannya selama bertahun-tahun, tengah berdiri dikelilingi para dayangnya yang sibuk merapikan rambutnya. Diamatinya rambut coklat tua yang kini terikat dalam kuncir kuda, berayun-ayun lembut seiring dengan gerakan tubuh mungil Sang Putri. Sebelumnya ia tak pernah mengikat rambutnya demikian. Sang Putri selalu berkuncir setengah atau membiarkan rambutnya terurai bebas. Dan pada saat itulah sang ksatria akan mengagumi kecantikannya. 
"Tunggu sebentar," ujar Sang Putri pada dayang-dayangnya untuk menghentikan aktivitas mereka. Kemudian ia berjalan mendekati tiang, tempat Sang Ksatria berdiri mengamatinya dalam sunyi.
Sang Ksatria tidak menghindar atau membela diri. Dengan berani ia keluar dari persembunyiannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sang Putri bertanya. "Masih adakah sesuatu yang ingin kau katakan? Tidakkah kau baca suratku semalam?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya," jawab Sang Ksatria.
Sang Putri hanya tersenyum memaklumi. Ia tidak melarang, atau memarahi ksatria malang itu. Ia sadar bahwa keduanya pernah memiliki masa lalu yang indah bersama-sama, yang sayangnya tidak berlanjut lagi.
"Tinggalkan aku berdua dengannya," pinta Sang Putri kepada para dayangnya. 
Dalam beberapa detik, hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu, bersama kesunyian panjang di antara mereka.
"Maaf untuk keputusanku," suara lembut Sang Putri memecah kesunyian, berharap ia tidak terlalu menyakiti hati seseorang yang telah berbagi hati dan jiwanya selama bertahun-tahun. 
"Ya, apa lagi hal yang bisa kukatakan, Putri, selain menerima maafmu. Inilah risiko yang harus kutanggung sebagai ksatriamu," jawab Sang Ksatria, berusaha berbesar hati dan rela, namun suaranya yang seperti tertahan tidak mampu menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya.
Mengapa Sang Putri tega berbuat demikian? Bukankah dirinya yang selalu ada dalam hari-hari kesepian Sang Putri? Bukankah ia yang selalu menjadi tempat berbagi dalam suka dan duka? Apakah kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Sang Putri mencampakkannya seperti ini?

Pandangannya menerawang ke pemandangan padang rumput yang tampak dari jendela kastil. Ia teringat pada suatu hari yang mereka habiskan di bawah pohon Linde. Salah satu hari ketika pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik.
"Aku akan pergi ke negeri yang jauh. Telah kudaftarkan diriku untuk pergi bersama rombongan ksatria kastil ini," ujar Sang Ksatria pada hari itu.
Sang Putri hanya terdiam lama. Tatapan matanya mengisyaratkan kecemasan dan kekecewaan. Ia menarik nafas berkali-kali, seolah mengumpulkan kekuatan atau menyusun kata-kata dalam benaknya.
"Mengapa tak kau bicarakan denganku? Akankah kau meninggalkan diriku berhari-hari tanpa kabar dan membiarkanku dalam kecemasan akan bahaya yang kau hadapi di negeri-negeri nan jauh itu?" kata Sang Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kesempatan ini tidak datang dua kali. Sudah sejak lama aku menginginkannya," Sang Ksatria bersikukuh meyakinkan kekasihnya.
"Tapi tidak bisakah setidaknya kau bicarakan itu denganku dulu?" Sang Putri tertunduk sedih.
"Percayalah, ini akan jadi sesuatu yang baik. Aku pergi untuk menyiapkan segalanya, sehingga nanti aku pun dapat membawamu melihat negeri-negeri yang jauh itu," kata Sang Ksatria.
Sang Putri tersenyum kecil. Ia sedikit terhibur, meski jauh di dalam hatinya, ia sungguh tidak rela. Bukan karena ia takut ksatrianya akan menemukan putri lain di negeri yang jauh. Bukan karena ia takut ksatrianya tak akan mampu melewati berbagai bahaya dan rintangan di sana. Tapi karena ia merasa sudah terlupakan oleh Sang Ksatria. Ia merasa tengah menjadi sebuah mainan yang hanya diletakkan di sudut ruangan, tak dipedulikan ketika Sang Ksatria mengambil keputusan untuk memiliki sebuah kesenangan baru. Sudahkah kekasihnya lupa, bahwa cinta baginya adalah waktu dan perhatian, bukan ajang pamer kehebatan atau hujan hadiah?

Lalu berangkatlah Sang Ksatria bersama rombongan ksatria kastil itu. Dengan gagah ia menunggang kuda unggulannya yang berderap meninggalkan negeri itu. Pada tombak yang dibawanya terikat kain biru bunga Kornblume, warna simbol Sang Putri. Sang Putri berdiri dekat pintu kastil, melambai-lambaikan sapu tangan dalam warna yang sama. Bibirnya mengucap doa, berharap ksatrianya akan kembali.

Hari berganti hari, namun Sang Putri tak kunjung melihat sosok yang dicintainya kembali berkendara menuju kastilnya. Ia termenung di dekat jendela, memandang bayangan biru dari puncak-puncak gunung di negeri yang jauh. Berulang kali ia tanyakan pada kurirnya, adakah surat dari sang kekasih. Mula-mula surat itu datang, namun kemudian tidak lagi. Sang Ksatria seperti hilang tanpa jejak, meninggalkan Sang Putri dalam kesepiannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Sang Raja mengetuk pintu kamar Sang Putri dan membawa kabar.
"Putriku, mau sampai kapan kau bersedih demikian? Ikutlah bersamaku. Aku akan mengadakan kunjungan ke Kerajaan Utara," ujar Sang Raja.
Sang Putri menoleh mendengar ajakan Sang Raja. Ia tak suka bersosialisasi. Baginya Sang Ksatrialah satu-satunya orang yang mampu menghibur dan menyenangkan dirinya. Tetapi kemudian ia memandang jendela. Ia tahu Sang Ksatria masih mencintainya, tetapi mungkin dengan caranya sendiri dan bukan dengan cara yang diinginkannya. Tak ada salahnya mengikuti ajakan ayah, demikian ia berpikir. Mungkin ia akan mendapat teman. Lagipula sudah lama ia tertarik dengan kehidupan di Kerajaan Utara yang penuh kedamaian dan kemakmuran. Dan di sana tinggal seorang pangeran, sahabat lamanya, yang sudah lama tak berhubungan dengannya.

Maka berangkatlah Sang Raja dan Sang Putri dengan kereta kuda menuju Kerajaan Utara, tempat Sang Pangeran yang terkenal dengan kehebatan ekspansinya tinggal. Mereka dijamu dengan makanan laut khas negeri itu. Meski kedua kerajaan tersebut seringkali bermusuhan, Sang Pangeran tampaknya sangat ramah, khususnya kepada Sang Putri. Sang Putri merasa bahagia, seolah-olah menemukan penghiburan atas kesepiannya.
"Aku terpikir untuk membawamu tinggal di sini," ujar Sang Pangeran suatu hari, ketika ia dan Sang Putri tengah berlayar di salah satu fyord yang menjadi kenampakan alam khas Kerajaan Utara.
"Sungguhkah itu, Pangeran? Engkau tahu kita berbeda bangsa, dan seringkali berada pada pihak yang berlawanan," Sang Putri tampak tak percaya.
"Tidak masalah bagiku. Dengan bangsamu aku sudah terbiasa hidup bersama selama tahun-tahun belakangan ini. Lagipula kau adalah pengecualian bagiku," jelas Sang Pangeran.
Sang Putri tampak bahagia mendengarnya. Sembari menatap keindahan fyord yang ditunjukkan Sang Pangeran, ia banyak menceritakan tentang mimpi-mimpinya. Sang Pangeran berdiri di sampingnya, memainkan rambut panjangnya yang pada saat itu diikat kuncir kuda.
"Sesungguhnya aku sangat senang melakukan perjalanan. Namun aku tanpa daya untuk melakukannya. Aku terkurung dalam kastil dan tak bahagia. Hatiku ingin menyaksikan negeri-negeri yang jauh dengan alam yang indah," ujar Sang Putri.
"Mungkin kita bisa pergi bersama? Mintalah izin ayahmu dan kita akan pergi bersama menyaksikan negeri-negeri yang jauh," kata Sang Pangeran.
"Mungkinkah itu? Aku ingin sekali pergi berlayar dengan kapal panjang seperti milikmu ini," Sang Putri berandai-andai.
"Kita akan mengusahakannya bersama-sama. Membangun kapal panjang untuk berdua dan melihat negeri-negeri yang jauh bersama-sama. Dan kau tak perlu khawatir tentang hidup di sini. Aku tak akan memaksamu bertanggung jawab atas bagian dapur atau berlatih menjahit. Di Kerajaan Utara kau bisa setara denganku," kata Sang Pangeran.
Sang Putri tersenyum senang. Ia seperti menemukan  kebahagiaannya lagi. Sungguh tidak disangka, bahwa ia dan Sang Pangeran memiliki banyak impian yang sama. Sang Raja pun tak berkeberatan. Ia siap mengizinkan Sang Putri untuk menikahi Sang Pangeran dan tinggal di Kerajaan Utara. Dan hari ini adalah hari ketika Sang Putri akan berangkat ke tanah Sang Pangeran dan menyongsong mimpi-mimpinya.
"Begitukah, Putri? Kau lebih memilih Sang Pangeran dibanding diriku? Tak bisakah kau setia selagi aku pergi menjelajah negeri-negeri yang jauh?" tanya Sang Ksatria.
"Aku sudah mencoba. Bukan aku tak setia menunggumu. Aku hanya ingin dilibatkan dan diajak serta. Aku tak ingin kau tinggal di belakang, menunggumu mengejar kesenanganmu, dengan alasan aku akan diajak serta suatu hari nanti. Itu hanya pembenaran darimu. Sejak awal aku tak pernah menyukainya, bahwa kau bertualang seorang diri tanpa membawaku. Aku menginginkan seseorang, yang dengannya aku dapat berbagi dan membangun mimpi bersama-sama. Karena pada akhirnya, seseorang yang mengajakku ikut serta akan menang atas seseorang yang mengejar kesenangan hanya untuk dirinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, maafkan aku dan biarkan aku pergi," ujar Sang Putri, jauh dalam hatinya masih ada sedikit rasa bersalah yang terselip akibat ketidakmampuannya menunggu hingga Sang Ksatria pulang.
"Kau seperti tidak mengerti perasaanku," kata Sang Ksatria tertunduk sedih.
"Maafkan aku," sang Putri berkata pendek.
Sang Ksatria mendesah. Ia sadar, sudah saatnya ia melepas Sang Putri pergi. Mungkin memang ia ditakdirkan untuk terus-menerus berkorban bagi Sang Putri. Bersama dengan itu terdengar suara derap langkah kaki kuda dari jendela kastil. Kereta kuda yang akan mengantar Sang Putri telah tiba. Dayang-dayang kembali masuk ke ruangan untuk mengantar Sang Putri menuju kereta kuda itu. Sang Ksatria mengikuti mereka di belakang.
"Selamat tinggal," ujar Sang Ksatria, nyaris dalam bisikan.
"Selamat tinggal. Semoga kau berbahagia meski tanpa diriku,"  balas Sang Putri, yang kemudian melangkah masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintu selamanya dari Sang Ksatria.
by Frouwelinde
24.05.14
for my confession about life 
 
 
 
 
 
 

26.7.13

Hanya Sebuah Khayalan yang Ketinggian

Di beberapa tulisan sebelumnya, gue selalu menekankan bahwa mimpi adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan usaha keras dan fokus. Tapi di tulisan yang kali ini gue memutuskan untuk membagikan sedikit pemikiran (atau kegalauan?) gue berkaitan dengan mimpi ini. Pertanyaan seputar apakah gue sebetulnya sudah kebanyakan mimpi sebetulnya sudah sering bertualang di kepala gue. Ya, jujur aja sebagai tukang mimpi yang beberapa mimpinya sudah tercapai, tetap aja sebagai manusia gue merasa kurang. Gue merasa ada banyak mimpi yang belum diwujudkan tapi waktunya sedikit, atau malah terasa nggak mungkin. Sejauh ini mimpi-mimpi gue yang tercapai diperjuangkan dengan doa yang banyak, kemampuan kognitif dan harapan. Dan itu semua nggak mudah. Rata-rata butuh perjalanan panjang, gagal di sana-sini dan lain sebagainya. Gue pengen juga kadang-kadang ketiban mimpi yang tiba-tiba, yang karena keberuntungan gitu. Ok, baiklah, gue pernah sih beberapa kali ketiban keberuntungan kecil-kecil, termasuk menangin satu mini CD lagu Mittelalter yang jelas gak bakal dijual di Indonesia, tapi bukan mimpi seperti itu yang gue maksud.

Mimpi yang gue maksud sedikit banyak disebabkan oleh diri sendiri yang kebanyakan baca komik, baca novel romantis, nonton film atau bahkan ngepoin teman sendiri. Nah, ini nih yang mulai membuat gue berpikir bahwa gue udah kebanyakan melakukan hal-hal itu. Atau sebetulnya bukan benda-benda itu sih yang bikin gue jadi tukang mimpi, tapi guenya sendiri yang masih sulit mendefinisikan beberapa hal di dalamnya sebagai "khayalan belaka" dan bukan "realita yang mungkin aja terjadi". Gimana ya, kadang-kadang gue suka ngarep berlebihan sih kalau-kalau kejadian-kejadian di komik, novel dan film itu bisa terjadi beneran sama gue. 

Apa sih sebetulnya yang ada di komik, novel atau film yang gue nikmati sampai jadi kebanyakan mimpi itu. Yah.., sebetulnya ujung-ujungnya persoalannya sama sih, masalah masa depan. Lebih jelasnya, bertemu seseorang yang akan jadi masa depan kita. Gue heran ya kenapa sih kalau di komik, novel atau film itu kejadiannya selalu menarik (ya iyalah kalau ngebosenin atau biasa banget ntar gak ada yang beli -.-a). Misalnya nih, di novel romantis pertama yang gue baca, judulnya Love in Prague karyanya Riheam. Pasti banyak deh yang udah baca ini. Sebetulnya cerita cintanya biasa aja sih, tipikal teenlit gitu. Tapi kenapa yah, kok dua karakternya ini bisa jatuh cinta dengan latar belakang kota Praha yang cantiknya to the max? Padahal nih ya, kalau yang namanya jatuh cinta tuh mau kejadiannya di perkampungan kumuh pinggir rel dekat tempat pembuangan sampah pun rasanya tetap aja semua jadi indah banget, apalagi di kota secantik Praha :'3 Atau cerita yang ditulis sama empat penulis lokal, yang judulnya Travelers' Tale: Belok Kanan, Barcelona. Dua tokoh yang tadinya nggak disangka-sangka malah ketemu dan akhirnya nikah. Dan mereka jadi mengenal satu sama lain lewat perjalanan panjang yang mereka lalui untuk sampai di Barcelona. Mengenal seseorang dan jadi suka dalam suatu kesempatan melakukan perjalanan bersama itu menurut gue keren banget. Novel-novel kayak gini tuh sekarang lagi menjamur banget dan merekalah satu-satunya kelompok novel cecintaan yang gue masih suka baca (soalnya gue gak suka yang settingnya cuma di sekolah, kampus atau kehidupan perkantoran. Bosen banget -,-"). Gimana nggak makin berkhayal coba. 

Sebetulnya cerita-cerita di komik nggak sampai seheboh novel sih, karena mereka kebanyakan bersetting sekolah atau kampus. Tapi tetep aja ya, apapun yang mereka lakukan di sana, atau adegan-adegannya terasa "lebih" daripada dunia nyata. Adegan favorit gue misalnya kalau ada karakter yang pasangan lagi kencan di taman ria. Terus pas naik ferris wheel tiba-tiba tanpa sadar mereka ciuman. Atau misalnya mereka baru pdkt terus pas di puncak ferris wheel itu mereka jadian. Hmm.. gimana ya, waktu gue jadian kayanya gak ada yang sampai segitunya. Tempat jalan terromantis paling museum atau Kota Tua (yang udah banyak alaynya jadi bikin males -.-a). Itu pun pergerakannya terbatas oleh norma-norma ketimuran yang sebetulnya masih gue pertanyakan kenapa. Hmm...

Menjelang keberangkatan gue ke Jerman, gue pun semakin berkhayal ketinggian. Masalahnya, orang yang bakal jadi masa depan kita itu kan bisa ada di mana aja. Kalau gue diberkati dengan cerita hidup yang menarik seperti novel dan film, bisa aja orang itu ada di kursi samping gue pas di pesawat, di ruang tunggu bandara, di segala sudut kota Munich, di antrean panjang menuju Neuschwanstein, di dalam U-Bahn/S-Bahn, di suatu sudut di kota Salzburg ketika gue tengah berpetualang sendirian di sana, di tengah keramaian festival Mittelalter yang mungkin gue datangi, di dalam perpustakaan LMU ketika gue mencari bahan untuk skripsi, bahkan di kamar tetangga di Wohnheim. Atau bisa aja orang itu sebetulnya teman lama di Eropa yang jauh-jauh datang ke Munich ketemuan langsung dan lalu berlanjut sampai... ehem. >////< 

Yah... gue gak mau berharap muluk-muluk sih. Sampai saat ini gue cuma berdoa supaya perjalanan gue ini membawa sesuatu yang berguna dan menyenangkan, termasuk pengalaman-pengalaman seru yang tidak terlupakan. Berkaca pada pengalaman teman-teman gue, sebut saja si A, si D dan si S, semua berani melepaskan masa lalunya dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan setelah berani melepas masa lalu gue, gue pun memperoleh masa depan yang lebih cerah dan mimpi-mimpi lain yang tercapai. Amin. :)


6.3.13

Supersekip

Ya, pada hari ini gue akan menceritakan pengalaman yang baru saja gue alami. Sebuah pengalaman yang tentang gue yang supersekip sampai terpaksa menelan kerugian jutaan dolar (eh lebay ding, gak sampai segitu juga hahaha...). Pertama-tama akan gue jelaskan dulu istilah "supersekip". Supersekip berasal dari 2 kata bahasa Inggris, yaitu super, yang berarti sangat, dan skip yang sebenarnya berarti terlewat atau melewati. Kata skip di lidah banyak orang saat ini diserap menjadi sekip yang kira-kira artinya tidak teliti, tidak memperhatikan sehingga melewatkan sesuatu yang penting atau melakukan kesalahan. Nah.., karena yang gue alami ini supersekip jadi hal itu adalah sesuatu yang parah!

Jadi begini sodara-sodara, perlu diketahui sebelumnya bahwa gue baru saja memenangkan hadiah bulanan sebuah lomba posting mimpi (serius ini, posting mimpi!) dari EF yang roman-romannya sih gadget. Karena kebetulan gue memang sedang butuh HP baru yang bisa internetan untuk kelas TJI, jadi gue pun bersemangat menanti dengan penasaran si hadiah ini. Kemarin malam gue baru menerima sebuah e-mail dari institusi penyelenggara lomba tentang mekanisme pembelian hadiah. Di situ tertulis bahwa hadiah bisa diambil di EF cabang Tebet pada hari Rabu. Wow, gue langsung melotot ketika membaca jamnya, Pk 11.00! Astaga itu kan gue lagi kelas. Hmm.. perlu dicatat lagi bahwa gue sebenarnya anticabut. Bukan karena sok rajin, tapi karena gue malas susulan tugas atau ketinggalan materi yang bikin bingung di pertemuan selanjutnya. Alhasil gue memutar otak bagaimana caranya gue bisa ambil hadiah hari ini tapi tetap kuliah semaksimal mungkin. Setelah diskusi dengan nyokap yang akhirnya mengizinkan gue cabut satu matkul, gue pun menyusun rencana. Pagi-pagi gue akan masuk sesi 1 dari jam 8-10, izin kelas sesi 2 yang jam 10-12 dan balik ke kampus lagi buat kelas sesi 3 yang jam 1-3. Gue putuskan untuk kirim sms minta izin ke dosen native sesi 1 pagi-pagi sebelum berangkat. Di tengah jalan gue berpikir ulang, karena sejujurnya gue lebih gak rela melepas kelas bahasa Jerman bersama native speaker, karena belajar dengan native speaker selalu lebih seru. Akhirnya gue putuskan untuk izin di jam terakhir aja, biar gue juga nggak bolak-balik ke kampus. Lagipula gue paling cuma rugi 1 jam karena biasanya kelas yang sesi 3 cepat bubarnya.

Sembari menunggu kereta yang hari ini gak tau kenapa juga lambreta lambada banget, gue telepon contact person penyelenggara lomba (ibu W) yang waktu itu menghubungi gue. Gue bermaksud laporan kalau gue baru bisa ambil hadiahnya jam 2 siang. Eh, sialnya Ibu W belum datang dan kata mbak resepsionis (atau sekretarisnya?), pesan gue bakal disampaikan. Gue tunggu balasan sampai jam 10 (karena katanya Ibu W baru datang jam segitu) gak ada balasan. Tanpa berpikir panjang, setelah sesi 2 berakhir gue langsung buru-buru ngejar kereta buat ambil hadiah. Beruntung gue dapat kereta tidak lama setelah gue beli tiket. Sampai Kalibata, gue ganti taksi. Karena mengantisipasi macet, akhirnya gue minta dia lewat jalan tikus. Dalam setengah jam gue sampai di tempat tujuan.

Di sana gue langsung menemui resepsionis buat konfirmasi pengambilan hadiah. Lalu terjadi percakapan sbb:
Gue: Siang, Mbak, saya yang kemarin menang lomba Gomakehistory, saya mau ambil hadiah hari ini.
        Harusnya jam 11 tadi tapi saya sudah konfirmasi ke Ibu W bakal telat.
Mbak Resepsionis: Siang, oh, hadiah apa ya? Konkretnya bentuk apa?
Gue: Wah, saya nggak tahu juga Mbak, gak dikasih tahu sama Ibu W.
Mbak Resepsionis: Ada bukti pemenangnya nggak?
*gue ngasih fotokopi KTP dan mbak itu bingung*
Mbak Resepsionis: maksudnya pemberitahuan sebagai pemenang.
Gue: Oh, ada di email
Mbak Resepsionis: Ya udah coba dibuka emailnya di sini *nyodorin komputer ke gue*

Gue pun cepat2 browsing email dan membuka email dari Ibu W. Sesuatu yang gue sekip itu sebenarnya terpampang jelas di sana dan gue bahkan belum ngeh sampai waktu itu! Anehnya, Mbak Resepsionis juga gak ngeh, dan dia dengan santainya print screen email itu buat bukti. Habis itu dia masuk ke ruangan kantornya. Gue menunggu dengan gaje sambil ngebayangin hadiah apa yang bakal gue dapat. Lalu Mbak Resepsionis balik lagi dan memanggil gue sambil menyodorkan hasil print email tadi.

Gue: Jadi gimana, Mbak?
Mbak Resepsionis: Iya betul, Mbak memang memenangkan hadiah ini. Tapi *terus dia nunjuk bagian yang gue sekip itu* hadiahnya belum sampai sini. Hadiahnya kan baru bisa diambil TANGGAL 13 MARET 2013, sekarang baru tanggal 6, jadi masih minggu depan, Mbak.
Gue: *diam mematung* *dalam otak langsung mengkalkulasi kerugian yang gue derita: cabut kelas dan bayar taksi*

Akhirnya gue pun mengucapkan terima kasih pada Mbak Resepsionis dan berjalan keluar dengan otak yang terus-terusan bilang: "supersekip banget sih lo!" pada diri sendiri.

4.3.13

Ternyata Mereka Begitu...

Hari ini gue baru saja menyaksikan suatu kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Kejadiannya sederhana sih, perselisihan antarteman. Biasa saja 'kan di dunia perkuliahan? Yang jadi tidak biasa adalah karena dari situ gue tersadar akan sesuatu yang ada di belakang "kedamaian" yang selama ini gue lihat setelah ditutupnya tahun 2012 kemarin dengan peristiwa yang sangat amat tidak mengenakkan.

Gue masih ingat betul akhir tahun 2012 yang ditutup dengan semacam forum. Di forum itu setiap orang boleh mengutarakan perasaannya terhadap orang lain di depan seluruh peserta forum (teman-teman seangkatan). Sebetulnya tradisi ini sudah ada sejak zaman gue SMA dan terbilang cukup sukses. Permasalahannya adalah, ketika forum SMA dulu, kelas gue cuma ada 18 orang dan rata-rata mereka punya kelompok pertemanan masing-masing sehingga tidak ada satu pun anak yang diserang secara tunggal (kecuali satu peristiwa yang memang sudah keterlaluan dan sepertinya tidak perlu dibahas lagi di sini karena yang bersangkutan pun akhirnya minta maaf dan berbaikan :)). Nah, di sini forumnya betul-betul kejam. Seseorang bisa diserang secara tunggal di depan satu angkatan sendiri, dibongkar segala kesalahan dan kejelekannya yang belum tentu melibatkan secara langsung semua orang di ruangan itu. Bahkan bisa saja kesalahan yang disebut tentang orang itu adalah kekesalan personal seorang temannya secara pribadi dan bukan untuk konsumsi publik. Akibat forum itu, kita seperti menelanjangi dan ditelanjangi satu sama lain. Kita seperti dibongkar dan dikorek-korek kesalahannya sehingga semua orang seolah menjadi berpikiran yang sama dengan satu orang yang punya masalah tadi. Yah, awalnya gue berpikiran begitu.

Tapi pada akhirnya gue mencoba melihat sisi positif forum itu. Sebelum mulai, pemimpin forum mengatakan bahwa apa yang terjadi di sini berakhir sampai di sini saja, setelah itu kita semua akan memulai awal yang baru. Gue juga mencoba tidak menghakimi dan berprasangka terlebih dahulu pada semua orang. Gue yakin lebih banyak orang di ruangan itu yang cenderung tidak peduli dan pemaaf, terutama orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat langsung dan hanya ikut mendengar saja. Di forum itu gue juga dapat pengalaman positif melihat sisi baik dari orang-orang yang sebelumnya sudah dilabeli "buruk". Ya..begitulah..., pada saat itu gue rasa forum cukup berhasil dan tidak buruk.

Sampai ketika gue melihat kejadian pada hari ini. Latar belakang permasalahannya adalah seorang teman yang sebelumnya mendapat cap "buruk" itu (sebut saja Z) lupa membawa tugas yang diserahkan padanya dan harus dibawa hari ini dengan alasan waktu pengerjaan tugas yang tidak buruk. Akibat tugas yang lupa dibawa itu, kami sekelompok tidak bisa memulai mengerjakan keseluruhan tugas lebih awal. Seorang teman lain di kelompok itu (sebut saja P) menanyakan pada Z tentang tugasnya. Pada awalnya Z bersikap santai, namun lama-kelamaan nada jawabannya meninggi dan terkesan marah. Karena gue di situ juga, gue pun melihat sendiri bahwa memang Z sepertinya marah. P pun buru-buru meminta Z untuk bersikap santai dan menekankan bahwa tidak ada yang memarahi dia. Z keluar kelas dengan masih berbicara beberapa hal yang membuat P dan seorang teman lain bernama Y kesal. Setelah didiskusikan, akhirnya kita sepakat untuk mengerjakan tugas yang tadinya menjadi tanggung jawab Z tetapi nanti Z tetap harus membayar ganti rugi materinya. Z setuju dan berlalu pergi.

Masalah selesai? Ya, buat gue, tapi tidak untuk mereka. Mereka masih lanjut saja membicarakan Z. Beberapa teman di luar kelompok kami pun diajak bergabung untuk mendengar cerita tentang Z. Gue ada di situ juga, sehingga mendengar dengan jelas segala hal yang dibeberkan di meja itu (yang sayangnya harus pula didengar orang-orang lain di luar kelompok yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali). Tragisnya, pemimpin forum pun ikut membicarakan. Syukurlah tadi dia sempat bertemu Z dan mengingatkannya. Tapi tentu saja bukan hanya Z yang harusnya diingatkan. Mengapa?

Bukankah tadi penyelesaian telah disepakati dan Z sudah pergi dengan mengiyakan ganti rugi materi? Kenapa kesalahan yang dibuatnya masih diungkit dan dibeberkan pada yang lain yang tidak ada hubungannya? Gue tidak membela Z, karena gue ada di tempat ketika Z tiba-tiba marah. Menurut gue, cara menjawab Z tidak tepat dan bisa memicu kesalahpahaman. Gue maklum jika P dan Y kesal mendengar jawaban Z, tapi ketika kemudian keburukan Z dibeberkan pada orang-orang lain setelah penyelesaian masalah disepakati, apakah hal itu benar? Saat itu juga gue teringat pada forum pada akhir tahun lalu. Jangan-jangan hal yang sama terjadi di belakang setelah forum itu berakhir. Semua kesalahan orang dalam forum itu masih dibicarakan dan disimpan dalam benak semua orang yang hadir di sana? Ah, sepertinya permasalahan di antara kita bukanlah keberadaan mereka yang dicap "buruk" ini, melainkan mereka yang kurang mampu untuk menahan diri tidak menceritakan beberapa hal yang tidak seharusnya jadi konsumsi semua orang. Kesalahan orang lain tidak untuk disebarkan kepada orang yang tidak ada hubungannya. Ya, seharusnya begitu. Kalau tidak, forum pun tidak akan berguna, karena justru akan membuat perpecahan dan beberapa orang semakin dikucilkan dan dicap "buruk".

24.2.12

Budaya Kita, Budaya Maksa?

Ini sama sekali bukan esai antropologi. Ini sebenarnya hanya unek-unek gue beberapa hari ini. Langsung saja ya...
Gue biasanya bukan jadi orang pengamat yang suka mengamati sesuatu hal sampai detail, apalagi terus dipikirin dan direnungkan. Tapi kali ini gue baru "ngeh" bahwa ada banyak kejadian di sekitar gue yang membuat gue menulis post ini. Budaya kita, budaya maksa? Maksudnya? Sederhana saja, orang Indonesia itu kalau gue lihat hobinya maksain apapun. Sampai-sampai gue mikir keadaan memaksakan apapun ini sudah sangat membudaya dan bisa ditemui di mana saja!

Sebut saja kejadian yang paling sering gue lihat (dan kalian yang suka naik kendaraan umum juga). Kalau kita naik kendaraan umum, nyaris apapun itu, kereta, angkot, bus, transjakarta, dll. terutama yang bukan untuk perjalanan jauh pasti penuh banget. Penuhnya sampai nggak wajar (coba aja kalo naik kereta arah Jakarta pada pagi hari dan Bogor pada malam hari). Mengapa demikian? Karena sopir/masinis sudah tau penumpang penuh dan desak-desakan sampai pintu nggak bisa ditutup lagi, masih aja dimasukin penumpang baru. Penumpangnya juga nggak tau diri, udah tau di dalam penuh masih aja maksa naik. Duh -___-a
Alasannya memang masuk akal sih, sopir ngejar setoran dan penumpang mau cepat-cepat sampai tujuan.

Kejadian kedua misalnya di jalan raya. Waktu itu gue lagi naik motor di daerah Pasar Minggu dan macet karena lampu merah. Lampu merah! bukan macet total karena kecelakaan! Apa yang terjadi? Banyak banget motor yang nyelonong maksa lewat trotoar, padahal itu daerah pasar. Plis deh, trotoar itu kan buat pejalan kaki, masa nunggu lampu merah sedikit aja nggak mau. Padahal kalau di jalan sabar dikit gue yakin macetnya nggak akan parah. Lebih parahnya lagi, polisi yang harusnya bantu mengatur jalan malah ikut-ikutan. Waktu itu gue lagi di lampu merah Kalibata-Duren Tiga yang lamanya nggak manusiawi itu. Gara-gara harus nunggu seratus sekian detik sampai lampu hijau jalanan di situ jadi macet panjang. Eh tiba-tiba di samping gue ada polisi gendut naik motor jalan di trotoar di depan Taman Makam Pahlawan. Gilak!

Terus ada lagi kejadian di gereja. Kemarin gue misa Rabu Abu di gereja, kebetulan ambil jam yang paling malam (19.30). Gue udah duduk sama nyokap sebelahan dan bangku gereja itu kan di bagian tempat duduknya ada semacam kotak-kotak pembatas yang menunjukkan satu kotak itu ya buat satu orang. Tiba-tiba ada segeng ibu-ibu masuk dan bermaksud duduk di sebelah gue. Mereka berempat sementara di situ cuma ada space untuk tiga orang. Eh.. yang satu maksa loh, padahal di bangku-bangku bagian depan masih ada banyak tempat kosong (yang kalau mau ditempati ya gak bisa berempat sekaligus berderet tapi satu-satu diseling orang lain). Ini ibu maksa banget sampai gue yang udah duluan di situ duduk setengah pantat. Akhirnya gue ngomong ke nyokap untuk minta duduk pisah gue di bangku depan. Sepertinya si ibu itu dengar, langsung deh dia bisik-bisik ke temen-temennya trus pindah duduk di depan. ckckckck...

Memang sih hal-hal tersebut hanya kejadian sehari-hari di kota-kota besar. Gue gak tau apakah kejadian juga di tempat lain. Tapi budaya maksa ini sepertinya memang ada. Bahkan sistem di pemerintahan kita aja maksa. Mau menerapkan demokrasi tapi negara belum sejahtera dan masih miskin ckckck.. mana bisa berhasil. Syarat utama demokrasi kan kesejahteraan rakyat dulu.

Tapi kalau dilihat-lihat lagi permasalahan utama dari budaya maksa yang gue cerita tadi sepertinya ada di kependudukan deh. Orang Indonesia kesejahteraan dan pendapatannya masih rendah tapi pada maksa bikin anak banyak dan gede-gedean keluarga. Duh.. terang aja ya kendaraan umum penuh -___-a Belum lagi Jakarta yang udah penuh ini masih ditambah banyak orang berurbanisasi.. makin penuuuhhhh... Lebih parah lagi, satu orang beli kendaraan satu. Nggak ngerti lagi deh... x.x

Gue selalu mengidam-idamkan negara sepi kayak di Skandinavia atau negara tertib tidak maksa seperti Jerman.... Lebih sehat, lebih nyaman, lebih aman, dan lebih teratur juga. Kapan ya Indonesia (atau setidaknya Jakarta dulu deh) berubah kayak gitu...

17.2.12

And Finally I Only Have to Open My Heart..

Berhubung belum jauh-jauh dari Hari Kasih Sayang (yang sebenarnya gak bener-bener gue rayain juga, bukan karena budaya Baratnya tetapi karena setiap hari sudah terasa Valentine buat gue, cieilaaahhh...), jadi gue mau curcol dikit soal Liebe.

Beberapa hari lalu gue sempat melakukan perenungan, ya semacam flashback tentang kehidupan cinta gue sejak yang pertama sampai yang sekarang. Kalau ditotal udah lumayan banyak juga orang yang gue "ekele"in dan yang meng"ekele"kan gue. (Hmm.. ekele itu bahasa ciptaannya temen gue, Abeth, yg artinya kira2 menggebet/suka, jadi kalo ada kata "ekele" artinya gebetan ya). Ekele gue dari yang pertama sampai yang sekarang tujuh. Satu di antaranya persis seperti impian gue, tapi di antara tujuh orang itu nggak ada yang sampai jadi. Di samping itu ada beberapa orang yang ngekelein gue juga (yang dalam waktu bersamaan gue sama sekali nggak mengekelekan mereka) tapi ada 2 yang jadi.

Sebenarnya untuk ukuran zaman sekarang gue terbilang agak telat mengalami yang namanya pacaran pertama kali. Kalau rata-rata orang udah pernah coba di SMP atau SMA, gue baru nyoba pas kuliah. Pas SMP kepentok aturan nyokap dan waktu SMA gak punya pemandangan karena di sekolah homogen. Jujur aja gue dulu sempat desperate juga kenapa kok teman-teman gue banyak yang suka atau berhasil jadi sama ekelenya sementara gue enggak. Banyak teman gue yang abis putus pasti ada aja yang gandeng lagi sementara gue jadian aja belom. Kata siapa gue gak pernah Upe (Usia Panik)? Nah tapi gue selalu punya senjata: gue menghibur diri dengan menyakinkan kalau jodoh gue emang bukan dari Indonesia tapi gue harus merambah dunia internasional yang memang gue impikan dari dulu. Emang sih kriteria gue ketinggian, secara fisik gue prefer orang Jerman, Slavia atau Skandinavia (ingat, bukan sekedar bule! tapi ada preferensi bangsa), secara karakter gue maunya yang jujur, setia, sabar, pengertian, romantis, lebih pintar dari gue, punya sifat kaya ksatria2 zaman Mittelalter dan belum pernah melakukan *piiiiiip* (yakali ada orang Jerman, Slavia atau Skandinavia yang kaya gini secara rata2 orang sana 13 tahun udah itu). Nah ketinggian kan, tuh??

Setelah beberapa kali gagal dengan ekele lokal gue gara-gara macem-macem alasan yang gue gak ngerti akhirnya gue merambah dunia internasional dengan ikut Deutschcamp. Di sana gue punya ekele orang Jerman, tinggi, cakep, pinter dan baik hati bernama Till Langrehr hahaha... eh sayangnya dia boro-boro ngelirik gue ternyata dia udah punya cewek pula. Yah, sedih deh... Dan jujur aja gue emang gak begitu dekat sama dia sekalipun gue udah berusaha sepertinya dia memang gak tertarik. Setelah dia gue sempat kenalan juga dengan beberapa orang Jerman yang menurut gue menarik via internet tetapi sepertinya mereka juga gak tertarik sama gue. Gue pun jadi desperado lagi dan berpikir jangan-jangan orang luar pun gak tertarik sama gue, apalagi setelah temen gue si Maya bilang muka gue terlalu cakep (huekkk narsis) buat orang bule yang biasanya seleranya sama muka mbak-mbak. -____-a

Akhirnya gue mulai berpikir, kalau gue terus-terusan berharap nemuin orang sempurna kaya kriteria gue itu kapan gue belajar menjalin hubungan. Apalagi sampai sekarang belum ada Praktikan ganteng yang masih muda dan mengajar di jurusan gue. Oke taruhlah gue baru jadian waktu gue udah di Jerman (paling cepat ya S2 dan itu kira2 umur gue udah 22-23 berarti 2 tahun lagi udah sampai usia ideal menikah). Saat itu pasti gue udah dikejar-kejar umur dan gak mungkin berlama-lama lagi pacaran kan? Sementara gue gak pengalaman pasti masih bego ini itu dan kekanak-kanakan, gimana caranya tuh orang bisa tahan? Sejak saat itu gue berpikir untuk pakai prinsip "carpe diem". Gue mulai berefleksi kenapa sampai kuliah belum jadian. Apakah gue tipe yang tidak disukai? Ternyata tidak juga, tapi kebanyakan orang yang mengekelekan gue itu langsung gue tepis dan usir karena jelas udah gak sesuai dengan kriteria gue. Gue gak pernah mau kenal dan lihat mereka lebih dalam lagi, gak cuma sekedar "kelokalannya" dan beberapa sifat minus yang membuat dia gak perfect dan dicoret dari daftar gue. Gue sombong banget berasa kaya putri bangsawan yang semuanya harus sempurna. Ya jelas aja gak ada yang jadi. Apalagi dengan orang-orang itu gue semacam membangun tembok tinggi dan pasang tulisan dijidat "gak mau didekati sama orang selain Jerman, Slavia atau Skandinavia".

Prinsip "carpe diem" itu sendiri bukan berarti jadian sama semua orang yang ngekelein gue, tapi lebih pada berpandangan realistis dan gak perlu lihat yang jauh-jauh kalau di sini sudah ada. Buat apa ngejar orang yang  gak jelas bakal ada atau tidak, atau yang gak suka sama kita sementara di dekat kita ada seseorang yang benar-benar menyukai kita dan menawarkan hatinya untuk kita? Siapa tahu dengan kita membuka hati sedikit dan membiarkan dia mencintai kita nantinya kita akan sadar bahwa orang itulah yang sebenarnya ditakdirkan untuk jadi pasangan kita? :') (duh, bahasanya...). Biarkan aja dulu orang itu (sekalipun gak sesuai dengan kriteria kita) mencintai kita dengan caranya, dari situ kita akan sadar kok orang itu sebenarnya berarti gak buat kita, pantas gak untuk kita habiskan waktu berlama-lama sama dia. Yang sesuai kriteria belum tentu yang terbaik juga buat kita, siapa tahu nantinya kita akan lebih bahagia dengan seseorang yang sama sekali gak bisa kita bayangkan? (contohnya gue sekarang :'D). Well, sometimes God gives me not what I want but what I need, and finally I only have to open my heart, to let him to love me through his own way... :) So far I'm happier than before :D

23.1.12

Dongeng yang Salah Tulis

.................
Sang ksatria bertemu putri di jendela menara dan hendak dijadikan kekasihnya. Wanita malang itu pun harus melintasi hutan belantara dan nyaris tersesat di dalamnya. Ia bertemu sosok penyihir jahat dan melarikan diri dari kutukannya. Lalu ia tiba di gua misterius yang tak berujung dan dihuni seekor naga besar penyembur api. Dihunuskannya pedang dan dikalahkannya naga itu. Dengan penuh luka hasil pertempuran berlarilah ia kembali ke istana menemui sang ksatria. Harta karun sang naga dibawa dalam tangannya.

"Ksatria, inilah harta karun persembahanku padamu, bersama segala perjuangan yang nyaris membunuhku. Aku melakukannya karena aku menerima cintamu..., " 


by LV~Eisblume
23.01.12
for all obstacle that i have to face, because i accepted your love...

21.11.11

Best Birthday!!

Well, boleh ya gue numpang curcol, kan keseringan gue ngisi blog ini pakai catetan2 kuliah yang pastinya bakal malesin banget buat dibaca (apalagi sama anak2 di luar jurusan gue). Emang sih lebih sering lagi gue isi puisi yang pastinya ngga banyak juga yang ngerti, jadi sekarang saatnya curcol beneran pakai bahasa sehari2, bukan bahasa resmi (ala catatan MJ) atau bahasa sastra (ala puisi2 gue).

Gue mau cerita deh ya, tanggal 16 November kemaren gue baru aja ulang tahun yang ke-19 (ciee.. selamat ulang tahun ya buat gue..^^ *cacatmode:on*) dan gue merasa kalo ulang tahun gue yang kali ini beda banget dari sebelum-sebelumnya, bahkan bisa dibilang ulang tahun terbaik gue. Walaupun ngga ada dinner di resto Jerman atau jalan2 ke mana, tapi ulang tahun ini top mamen karena doa gue terkabul!! Kira-kira gue doa apa ya? Well, udah lama banget gue punya impian ngerayain ultah berdua sama seorang pacar heheheh... udah dari kapan ya, sejak SMA mungkin (yah ketauan kalo gue upe terselubung -.-a), dan ternyata baru terkabul tahun ini!! Nggak hanya itu, sebelum2nya gue ultah maksimal cuma dirayain di tengah keluarga aja. Paling sama temen2 cuma bagi2 kue atau snack. Udah gitu ulang tahun gue sering terlupakan gitu, paling orang cuma inget karena liat FB trus sekedar ngucapin aja. Dulu pas di SMA kan kelas gue cuma ada 18 orang yang terbilang kompaklahh... nah kalo ada yang ulang tahun sering banget disurprise pagi2, misalnya papan tulis dihias gitu trus dinyanyiin (paling beruntung kalo pas jam pertama tuh kelas Mandarin atau Jerman pasti dinyanyiin rame2 haha..), trus pas siang pulang sekolah kadang ada acara "siraman" yang tentunya ngga cuma pake air tapi juga telor dan tepung hahaha.. Emang sih gue ngga suka disirem2 gitu soalnya kan bau dan jadi rebek bersihinnya, tapi yang bagian di pagi hari itu lho, gue suka ngebayangin kalo ada temen yg disurprise pagi2, kapan ya gue dapat surprise berkesan kaya gini?

Dan ternyata gue baru dapat jawaban angan2 gue itu di kuliah semester 3 pada ultah yang ke-19 (tahun terakhir gue bisa senang2 nih -.-a). Gimana ceritanya? Jadi sebenarnya gue agak berharap dengan adanya sang Ritter (baca: pacar gue hihihi..:P) gue bakal dapet hadiah berkesan. Pertama gue mikir, mungkin dia bakal jadi orang pertama yang ngucapin ke gue, well, ternyata dia ketiduran dan ngga terbukti. Gue ngga kecewa sih soalnya gue udah menduga kemungkinan ini juga. Terus gue pikir dia bakal ngasih surprise pas gue sampai di kampus, misalnya bawa temen2 musikalisasi puisinya trus nyanyi rame2 buat gue. Eh, ternyata enggak juga. Malah pertemuan kita berjalan biasa2 aja. Sampai pas istirahat dia ngajak gue nemenin dia balikin buku di Perpusat, yang awalnya gue tolak karena ngga lama kemudian gue ada kelas FonFol. Akhirnya gue putuskan buat nemenin, dan ternyata di sana dia ngajak gue ke tepi danau. Terus.. dia keluarin deh itu kotaknya, diiket pita warna kuning. Dia bilang kotaknya boleh dibuka setelah dia ngucapin selamat tidur ke gue, trus ngga boleh ada yg lihat selain gue, dan gue disuruh nyari pesan tersembunyi dari dalam kotak itu. Nah lohh... tau aja dia kalo gue paling ngga tahan sama rahasia dan ngga sabaran ngebuka kotaknya. Untungnya gue berhasil nahan nafsu untuk ngebuka kotaknya.

Isi kotaknya ternyata sesuatu yg sederhana tapi ngena. Ucapan selamat ulang tahun yang didekorasi sedemikian rupa dan ditulis di atas kertas berbentuk kristal es (Eisblume) dalam dua huruf yang sudah ngga dipakai lagi --- huruf favorit kita --- Rune dan Arab Melayu. Awww... bagus bangeeeeetttt :') sampe speechless gue... *___* Sayang sekali ngga bisa gue tunjukin karena sesuai perjanjian itu rahasiaaa...

Tapi dasar gue yang ngga pernah puas, setelah terima hadiah itu masih aja gue berkhayal akan kejutan yang lebih dari itu. Hari berikutnya gue berusaha menyadarkan diri sendiri buat ngga terlalu berekspektasi dan bersyukur aja sama yang gue terima. Terus di hari berikutnya itu juga kebetulan ada kejadian yang ngga ngenakin. Gue lagi ngga ada kelas karena dosennya belum pulang dari India dan akhirnya gue nyampah doang ke kampus gara-gara dateng cuma buat latihan PSPB doang. Gue menyempatkan diri ketemu Ritter yang nanti sore mau ada latihan PSPB juga tapi waktunya sampai malem2 jadi kita ngga bisa pulang bareng. Eh di pertemuan yang (menurut gue) super singkat itu dia malah minta izin cabut soalnya ada temennya yang lagi berantem. Sukses deh gue bete gara2 itu dan waktu dia pamitan gue cuma noleh dengan muka males. Terus gue cabut latihan PSPB dan tiba2 gue mulai ngerasa bersalah sama sikap gue itu. Padahal Ritter kan udah baik mau nyempetin waktunya buat ketemu gue, plus gue keinget sama hadiahnya yang kemaren, jadi langsung deh gue kirimin sms minta maaf. Dimaafin sih, tapi abis itu kita berdua sama2 sibuk dan gak sms lagi sampai sore.

Tiba-tiba udah menjelang jam 6 sore dan selesai latihan PSPB, Ritter sms gue lagi bilang katanya gue jangan pulang dulu karena dia mau ketemu gue di parkiran Gedung 9. Gue tanya apa kita mau pulang bareng, dan (sayangnya) jawabannya enggak, karena dia ternyata cuma mau ngomong sesuatu sama gue. Habis itu gue langsung bergegas ke parkiran dan ternyata gue harus menunggu lama di sana sampai bete. Gue sms dia terus dan berulang kali ingetin kalo gue naik kereta sendiri dan ngga mau pulang malem2. Setelah cukup dibikin bete tiba2 ada mobil dateng, berhenti pas di depan gue. Gue belum ngeh tuh mobil siapa, tiba2 dari jendelanya Ritter nongol sambil melambai2. Pas gue mendekat tiba2 dia buka pintunya, dia lipet kursi mobil yg tengah dan langsung nyanyi Happy Birthday sama temen2 semobilnya (ada 2 "kakak ipar" gue dan pacarnya salah satu). Terus gue ditunjukin sesuatu yang ada di jok belakang mobil: sebuah ucapan yang didekorasi sangat cantik dengan dasar berbentuk negara Jerman dan dilapisi mawar2 warna prussian blue dan putih kesukaan gue plus kertas2 ucapan dan foto2 dari temen2 terdekat gue! Gilaa... gue cuma bisa speechless trus nangis sendiri sampai nelusupin kepala ke pelukan Ritter. Huhuhuu.. ngga pernah gue ketemu surprise yang kaya gini seumur hidup :') Ternyata selama ini Ritter udah nyiapin sesuatu buat gue!! Sukses deh sampai pulang jalan ke stasiun mata gue masih berkaca2 dan ngga tau harus ngomong apa.

Sayangnya ngga mungkin gue bawa ucapan itu pulang naik kereta karena bentuknya gede banget! Guess what, akhirnya Ritter bawain itu khusus buat gue dari Depok ke wohnung pas hari Minggu sampai kehujanan! How sweet is my only love!! <3 <3 <3 Gue jadi berasa jahat dan ngga enak karena gue sering banget ngambek dan bete cuma gara2 hal sepele. Kaya anak2 aja gue. Tapi walaupun begitu dia masih baiiiikkk banget sama gue. Gue jadi sering galau karena merasa ngga deserve dapat dia yang sebaik itu :"3 How I love him, the owner of my heart :')

Well then, itu dia curcolan gue hahaha.. sekarang saatnya parade foto. Penasaran kan sama ucapan yang dia bikin buat gue??

Ini dia ucapannya.. judulnya "From Bonn to Muenchen" karena impian dia kuliah Filologi di Bonn dan gue pengen banget kuliah Germanistik di Muenchen, jadi seolah2 ini gambaran kalau kita bakal ketemu lagi di Jerman :')


Nah ini versi gundulnya (foto sama kartu ucapan udah diambil), keliatan kan Bonn sama Muenchennya? :)


Ucapan dari teman2 Germanistik!! Ki-ka dari atas: Ardel, Mumut, Nuke, Olly, Maya, Siska, Mona dan Rey :)

Ucapan dari sahabat2nya Ritter :)

Dari anak2 MarkasSastra :D
Dari "kakak2 ipar" hehehe...:P



24.10.11

Mencintaimu

adalah ketika aku tak tahu lagi yang mana air mata bahagia dan yang mana air mata duka. Aku bahagia kar'na kau, tapi aku sedih, kar'na merasa tak pantas untukmu

by LV~Eisblume
20.10.11
for what I did yesterday, and for you :')

8.8.11

Khayal

Kau tahu apa itu khayal?
Ia seperti dekapan eratmu,
demikianlah khayal itu

Kau tahu apa itu berkhayal?
Membayangkan sentuhan lembutmu,
itulah berkhayal

Kau tahu apa itu khayalan?
Dua telapak yang bersentuhan,
Lenganmu yang mendekap erat
Kecupan lembut selamat malam
semuanya khayalan...
ya, khayalan...

Ah, toleransi itu memang tidak mudah..
tapi ia indah.


By LV~Eisblume
08.08.11
for the experience...and the beautiful tolerance..

27.6.11

Romantische Ironie

Walau ia sebuah jurang yang ditumbuhi rumpun bunga,
namanya tetap jurang
Dan aku telah berguling-guling di tengah bunga bunga itu
Jatuh begitu dalam hingga puncaknya begitu jauh
Basah oleh darah merah yang rasanya tak asin lagi namun tawar
Bercampur wangi bunga mekar memandikan tubuhku
dalam jurang berselimut warna-warna musim semi


Aku tahu betul benda itu pisau dan ia berujung tajam
Tapi kilaunya di bawah sinar malam memantraiku
membuatku menyentuhnya, meremasnya dengan jari-jariku
menggenggamnya sampai ujungnya masuk dalam kulitku
Sakitnya tak lagi terasa karena berulang kali sudah aku lakukan
Hanya ada darah merah mengalir bersama derita-derita manis


Kata orang aku bodoh. Biarkan kata orang!
Jurang dan pisau itu caraku menemukan bahagia
Benda-benda itu caraku merasa dicinta
Walau sesaat, setidaknya aku pernah bahagia




28.06.11
by LV~Eisblume
It happened too often until the sorrow become sweet sweet sorrow :')

28.3.11

Sebuah perumpamaan

Sang elang betina jatuh cinta pada sebuah arca batu. Namun arca batu itu hanya melirik pada wanita pemikir di sudut taman. Selagi menggalau hatinya, sang elang betina didatangi sesosok garuda yang mengajaknya terbang bersama melupakan arca batu itu. Sang elang betina jadi ragu, manakah yang akan ia pilih? Arca batu yang tak peduli padanya, atau garuda yang tak dicintainya? (bersambung)




for my experience...

19.3.11

Seandainya Saja Bisa... (curhatan seorang mahasiswi Sastra Jerman)

Hari ini saya mau cerita atau tepatnya numpang curcol. Setelah satu semester saya belajar di jurusan Sastra Jerman FIB UI, saya merasa bahwa apa yang saya dapat di sini sangat kurang dan belum maksimal. Saya merasa materi yang diberikan masih kurang padat dan belum mampu memenuhi keingintahuan saya yang besar mengenai Jerman. Saya tahu bahwa cara belajar mahasiswa memang berbeda dari siswa. Kita tidak lagi disuapi melainkan dianjurkan untuk mencari sendiri materi yang memang tidak diperdalam di kelas. Namun alangkah baiknya apabila di kelas pun diadakan sesi khusus untuk membahas materi-materi ini.

Yang sangat saya sesalkan, sesungguhnya kesempatan itu ada namun tampaknya tidak dimanfaatkan atau dimanfaatkan untuk hal lain yang bagi saya kurang penting. Di FIB para mahasiswa diwajibkan untuk mengambil mata kuliah wajib universitas maupun fakultas. Mata kuliah wajib universitas yang sudah saya dapatkan di antaranya MPKT A (ini semacam PKn, budi pekerti dan etika disatukan), MPK seni, MPK agama dan Bahasa Inggris. Setelah saya jalani, saya merasa keempat-empatnya tidak terlalu penting. Mengapa? MPKT A misalnya, saya merasa tujuan dari pembelajaran MPKT itu yakni membuat mahasiswa mampu bertindak dan berpikir dengan baik dan benar (sesuai ajaran etika, moral dan berpikir tepat dan logis) tidak tercapai. Pada akhirnya walaupun saya diceramahi di dalam kelas untuk beretika sesuai Pancasila dan lain-lain, saya tetap pada pendirian saya bahwa manusia bebas bertindak apa saja sejauh tidak merugikan orang lain. Toh dalam diskusi kelas pun saya selalu berseberangan dengan yang lain. Isi buku MPKT menurut saya terlalu berlebihan dan tidak efektif dalam penyampaian. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan tetapi tidak dapat dipadatkan. Yang lebih parah lagi, isi buku itu kadang-kadang bertentangan dengan pemikiran saya. Apa iya lalu saya harus dipaksa mengikutinya?
Kemudian dengan MPK seni, saya memilih kelas musik dan vokal. Ekspektasi saya adalah saya akan mendapat pengetahuan tentang musik dan sedikit mengenai praktiknya. Ternyata, karena sks nya hanya 1 pada akhirnya MPK seni tidak lebih dari teori-teori yang disampaikan dengan terburu-buru dan praktik yang kurang sekali. Nah, lain lagi masalahnya dengan MPK Agama dan MPK Bahasa Inggris. Kedua hal ini sudah saya dapat dan diulang-ulang dari SD. Masa harus belajar lagi? Agama itu urusan pribadi masing-masing orang dan lebih merupakan tanggung jawab bagi keluarga dalam pengajarannya. Bahasa Inggris, di kelas ini saya menemukan hal unik. Kemarin ketika saya menerima kembali hasil karangan saya, saya lihat bahwa di situ sama sekali tidak ada koreksi dari dosen. Saya tidak percaya karena selama satu semester belajar bahasa Jerman saya yakin bahwa bahasa Inggris saya amburadul. Ternyata benar, setelah saya ketik ulang di Ms Word dan saya cek tata bahasanya, ada beberapa bagian yang salah. Bagaimana bisa dosen tidak melihat dan tidak mengoreksi kesalahan sebanyak itu? -.-"

Saya ingin jika seandainya bisa, mata kuliah wajib universitas dihapuskan saja dan diganti dengan mata kuliah wajib jurusan sesuai yang telah kita pilih. Hal itu akan lebih baik. Para mahasiswa akan dapat lebih mendalami dan maksimal dalam menyerap ilmu di jurusannya. Atau setidaknya jumlah sksnya yang diperbanyak. Semester ini untuk Sastra Jerman hanya wajib mengambil 15 sks, itu pun 6 sks untuk mata kuliah wajib universitas. Berarti yang wajib jurusan hanya 11. Sangat kurang menurut saya. Mengapa? Karena jelas-jelas ada beberapa mata kuliah yang kekurangan jam. Buktinya mudah saja, dosen yang mengajar Perkembangan Kesusastraan (Pekasus) di kelas saya mengatakan bahwa ia tidak akan membahas sastra abad pertengahan karena waktunya kurang. Bayangkan! dari sekian panjang periode kesusastraan (abad 1-21) kita melompati abad pertengahan yang nota bene berlangsung dari abad 8-16. Delapan abad dilewati begitu saja padahal jelas sumbangan dari abad ini khususnya untuk zaman Klasik dan Romantik cukup besar! *geleng-geleng kepala* Seharusnya jam untuk mata kuliah ini bisa ditambah agar kita bisa membahas juga bagian yang dibuang tersebut.
Kemudian kelas PKJ, saya merasa bahwa materi sangat banyak namun tidak semua dapat dibahas di kelas. Banyak bagian-bagian penting yang dari tahun ke tahun semakin dikurangi (saya lihat ini dari catatan mahasiswa angkatan senior saya yang begitu lengkap sementara pada angkatan saya hal-hal tersebut tidak lagi disinggung). Bahkan di kelas B (saya di kelas A) banyak pertanyaan dalam kelas yang akhirnya tidak pernah terjawab. Jelas bahwa mata kuliah ini perlu ditambah sksnya sehingga mahasiswa dapat menyerap pengetahuan dengan maksimal.

Usul saya lagi, alangkah baiknya jika di jurusan Sastra Jerman ada mata kuliah wajib Mitologi Norse/Teutonic. Sebagaimana Sastra Perancis yang kebudayaannya berasal dari masa klasik (Romawi dan Yunani) mempelajari juga Mitologi Yunani, maka Sastra Jerman yang kebudayaannya berdasar pada mitologi Skandinavia kuno tentu perlu juga mempelajarinya. Sedikit banyak Mitologi Norse/Teutonic mempengaruhi atau menginspirasi banyak karya-karya sastra Jerman sampai sekarang. Sayang sekali jika tidak dipelajari. Gambaran tentang pengaruh ini mungkin dapat saya ceritakan sedikit. Dalam mitologi Norse/Teutonic ada suatu kisah yang disebut Edda atau Volsunga Saga. Kisah inilah yang kemudian disebut Nibelungenlied dalam sastra Jerman abad pertengahan. Nibelungenlied kemudian diubah menjadi opera tiga seri (Der Ring des Nibelung, Valkyrie, die Gotterdaemmerung) oleh Richard Wagner. Wagner ini merupakan komposer dan musisi ternama yang menjadi favorit dari Ludwig II von Bayern (yang membangun Neuschwanstein), Friedrich Nietzsche (filsuf besar Jerman) dan Adolf Hitler (diktator Jerman pada masa PD II). Nah, sedikit banyak pasti karya-karya Wagner berpengaruh pada mereka bertiga yang punya pengaruh dalam sejarah dan budaya Jerman.

Saya melihat salah satu universitas di Jerman yang memiliki jurusan Sastra Jerman (di sana disebut Germanistik) terbaik yaitu Universitas Freiburg di Baden-Wuerttemberg menuliskan hal-hal yang dipelajari dalam Germanistik itu. Termasuk di dalamnya perkembangan kesusastraan Jerman dari masa abad pertengahan sampai modern, telaah teks sastra termasuk yang ditulis dalam bahasa Jerman kuno (Althochdeutsch, Mittelhochdeutsch, Neuhochdeutsch), salah satu bahasa asing dari rumpun Skandinavia (Norwegia, Swedia, Denmark atau Eslandia), dan tentu saja Mitologi Norse/Teutonic. Seandainya jurusan Sastra Jerman tempat saya belajar juga melakukannya. Sayang sekali tidak. Atau mungkin memang sengaja tidak supaya saya nanti belajar lagi dan memperdalam hal-hal yang kurang ini di Universitas Freiburg? (AMIIIIINN...)

4.3.11

die Schönekluge

Aku tak tahu apa kau tahu,
dia yang kusuka menyukaimu
Si cantik dan pandai
Yang meninggalkan kesan indah,
di hari pertama kau dan dia saling melihat

Aku tak tahu apa kau mau
Memberinya sedikit saja kesempatan
Kesempatan yang kutawarkan padanya,
tapi ia tolak.
Ia tolak demi kau
Si cantik dan pandai

Aku bisa saja cemburu padamu
Kar'na dia yang kuingin ada padamu
Aku bisa saja membencimu
Kar'na kau punya yang tak kupunya
Tapi aku tak ingin
meninggalkan jejak dosa
karena kau yang tak bersalah

Maka aku mohon
Jangan kau biarkan perasaannya sia-sia
Jangan kau sakiti hatinya,
yang menginginkanmu
Jika kau lakukan,
wahai si cantik dan pandai,
aku akan membencimu
dan tak kan pernah memaafkanmu.


By LV~Eisblume
04.03.11

22.2.11

They say... You say... I say...

About our favourite country..
They say USA, you say Japan, I say Germany
About our favourite language...
They say English, you say Chinese, I say German
About our favourite time..
They say future, you say present, I say past
About our favourite fashion items...
They say jeans, you say T-shirt, I say vintage dress
About our favourite genre of music...
They say pop, you say jazz, I say world music
About our favourite author...
They say JK Rowling, you say Shakespeare, well I say.. the Minnesingers ^^
About our currently loved musician...
They say Lady Gaga, you say Radiohead, well I say.. Estampie
About our favourite mode city...
They say Paris, you say NYC, I say Harajuku!!
About our favourite fashion style...
They say anything up-to-date, you say chic and simple, I say gothic lolita :)
About our favourite lesson beside language..
They say Maths, you say art, I say history :)
About our favourite hang out companion...
They say boyfriend, you say best friend, I say my family
About our favourite flower...
They say roses, you say cherry blossoms, I say cornflowers
About our favourite colours...
They say black, you say pink, I say Prussian blue
About our favourite dance...
They say modern dance, you say ballet, I say Vienna waltz
About our favourite kind of tea...
They say jasmine tea, you say green tea, I say peppermint tea
About our favourite kind of performing arts...
They say gigs, you say plays, I say opera
About our favourite genre of movie...
They say comedy, you say horror, I say historical movie with half happy end
About our view on intermarriage...
They say it is forbidden by religion
You say it's not good for our future
I say it would be wonderful experience :)
About our view on this world...
They say it's getting better because everything are modern
You say what's happening is the best
I say the world will getting worse and worse, never coming back
About our view on the porn video case in Indonesia
They say it's a sin
You say they should be punished for not obeying the law
I say.. well, it's their human rights to do that ^^

Well, that's me...
I'm different. I'm not with the mainstream.
I'm unique and I'm proud :D
There still lot of things actually :)
Sometimes I wish I can find someone that sail in the same stream as me...