Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

23.5.14

Melepas Dirinya

Dari balik tiang, Sang Ksatria memandangi sosok mungil dalam balutan gaun biru itu. Putrinya, kekasihnya, seseorang yang telah menjadi pengabdiannya selama bertahun-tahun, tengah berdiri dikelilingi para dayangnya yang sibuk merapikan rambutnya. Diamatinya rambut coklat tua yang kini terikat dalam kuncir kuda, berayun-ayun lembut seiring dengan gerakan tubuh mungil Sang Putri. Sebelumnya ia tak pernah mengikat rambutnya demikian. Sang Putri selalu berkuncir setengah atau membiarkan rambutnya terurai bebas. Dan pada saat itulah sang ksatria akan mengagumi kecantikannya. 
"Tunggu sebentar," ujar Sang Putri pada dayang-dayangnya untuk menghentikan aktivitas mereka. Kemudian ia berjalan mendekati tiang, tempat Sang Ksatria berdiri mengamatinya dalam sunyi.
Sang Ksatria tidak menghindar atau membela diri. Dengan berani ia keluar dari persembunyiannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sang Putri bertanya. "Masih adakah sesuatu yang ingin kau katakan? Tidakkah kau baca suratku semalam?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya," jawab Sang Ksatria.
Sang Putri hanya tersenyum memaklumi. Ia tidak melarang, atau memarahi ksatria malang itu. Ia sadar bahwa keduanya pernah memiliki masa lalu yang indah bersama-sama, yang sayangnya tidak berlanjut lagi.
"Tinggalkan aku berdua dengannya," pinta Sang Putri kepada para dayangnya. 
Dalam beberapa detik, hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu, bersama kesunyian panjang di antara mereka.
"Maaf untuk keputusanku," suara lembut Sang Putri memecah kesunyian, berharap ia tidak terlalu menyakiti hati seseorang yang telah berbagi hati dan jiwanya selama bertahun-tahun. 
"Ya, apa lagi hal yang bisa kukatakan, Putri, selain menerima maafmu. Inilah risiko yang harus kutanggung sebagai ksatriamu," jawab Sang Ksatria, berusaha berbesar hati dan rela, namun suaranya yang seperti tertahan tidak mampu menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya.
Mengapa Sang Putri tega berbuat demikian? Bukankah dirinya yang selalu ada dalam hari-hari kesepian Sang Putri? Bukankah ia yang selalu menjadi tempat berbagi dalam suka dan duka? Apakah kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Sang Putri mencampakkannya seperti ini?

Pandangannya menerawang ke pemandangan padang rumput yang tampak dari jendela kastil. Ia teringat pada suatu hari yang mereka habiskan di bawah pohon Linde. Salah satu hari ketika pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik.
"Aku akan pergi ke negeri yang jauh. Telah kudaftarkan diriku untuk pergi bersama rombongan ksatria kastil ini," ujar Sang Ksatria pada hari itu.
Sang Putri hanya terdiam lama. Tatapan matanya mengisyaratkan kecemasan dan kekecewaan. Ia menarik nafas berkali-kali, seolah mengumpulkan kekuatan atau menyusun kata-kata dalam benaknya.
"Mengapa tak kau bicarakan denganku? Akankah kau meninggalkan diriku berhari-hari tanpa kabar dan membiarkanku dalam kecemasan akan bahaya yang kau hadapi di negeri-negeri nan jauh itu?" kata Sang Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kesempatan ini tidak datang dua kali. Sudah sejak lama aku menginginkannya," Sang Ksatria bersikukuh meyakinkan kekasihnya.
"Tapi tidak bisakah setidaknya kau bicarakan itu denganku dulu?" Sang Putri tertunduk sedih.
"Percayalah, ini akan jadi sesuatu yang baik. Aku pergi untuk menyiapkan segalanya, sehingga nanti aku pun dapat membawamu melihat negeri-negeri yang jauh itu," kata Sang Ksatria.
Sang Putri tersenyum kecil. Ia sedikit terhibur, meski jauh di dalam hatinya, ia sungguh tidak rela. Bukan karena ia takut ksatrianya akan menemukan putri lain di negeri yang jauh. Bukan karena ia takut ksatrianya tak akan mampu melewati berbagai bahaya dan rintangan di sana. Tapi karena ia merasa sudah terlupakan oleh Sang Ksatria. Ia merasa tengah menjadi sebuah mainan yang hanya diletakkan di sudut ruangan, tak dipedulikan ketika Sang Ksatria mengambil keputusan untuk memiliki sebuah kesenangan baru. Sudahkah kekasihnya lupa, bahwa cinta baginya adalah waktu dan perhatian, bukan ajang pamer kehebatan atau hujan hadiah?

Lalu berangkatlah Sang Ksatria bersama rombongan ksatria kastil itu. Dengan gagah ia menunggang kuda unggulannya yang berderap meninggalkan negeri itu. Pada tombak yang dibawanya terikat kain biru bunga Kornblume, warna simbol Sang Putri. Sang Putri berdiri dekat pintu kastil, melambai-lambaikan sapu tangan dalam warna yang sama. Bibirnya mengucap doa, berharap ksatrianya akan kembali.

Hari berganti hari, namun Sang Putri tak kunjung melihat sosok yang dicintainya kembali berkendara menuju kastilnya. Ia termenung di dekat jendela, memandang bayangan biru dari puncak-puncak gunung di negeri yang jauh. Berulang kali ia tanyakan pada kurirnya, adakah surat dari sang kekasih. Mula-mula surat itu datang, namun kemudian tidak lagi. Sang Ksatria seperti hilang tanpa jejak, meninggalkan Sang Putri dalam kesepiannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Sang Raja mengetuk pintu kamar Sang Putri dan membawa kabar.
"Putriku, mau sampai kapan kau bersedih demikian? Ikutlah bersamaku. Aku akan mengadakan kunjungan ke Kerajaan Utara," ujar Sang Raja.
Sang Putri menoleh mendengar ajakan Sang Raja. Ia tak suka bersosialisasi. Baginya Sang Ksatrialah satu-satunya orang yang mampu menghibur dan menyenangkan dirinya. Tetapi kemudian ia memandang jendela. Ia tahu Sang Ksatria masih mencintainya, tetapi mungkin dengan caranya sendiri dan bukan dengan cara yang diinginkannya. Tak ada salahnya mengikuti ajakan ayah, demikian ia berpikir. Mungkin ia akan mendapat teman. Lagipula sudah lama ia tertarik dengan kehidupan di Kerajaan Utara yang penuh kedamaian dan kemakmuran. Dan di sana tinggal seorang pangeran, sahabat lamanya, yang sudah lama tak berhubungan dengannya.

Maka berangkatlah Sang Raja dan Sang Putri dengan kereta kuda menuju Kerajaan Utara, tempat Sang Pangeran yang terkenal dengan kehebatan ekspansinya tinggal. Mereka dijamu dengan makanan laut khas negeri itu. Meski kedua kerajaan tersebut seringkali bermusuhan, Sang Pangeran tampaknya sangat ramah, khususnya kepada Sang Putri. Sang Putri merasa bahagia, seolah-olah menemukan penghiburan atas kesepiannya.
"Aku terpikir untuk membawamu tinggal di sini," ujar Sang Pangeran suatu hari, ketika ia dan Sang Putri tengah berlayar di salah satu fyord yang menjadi kenampakan alam khas Kerajaan Utara.
"Sungguhkah itu, Pangeran? Engkau tahu kita berbeda bangsa, dan seringkali berada pada pihak yang berlawanan," Sang Putri tampak tak percaya.
"Tidak masalah bagiku. Dengan bangsamu aku sudah terbiasa hidup bersama selama tahun-tahun belakangan ini. Lagipula kau adalah pengecualian bagiku," jelas Sang Pangeran.
Sang Putri tampak bahagia mendengarnya. Sembari menatap keindahan fyord yang ditunjukkan Sang Pangeran, ia banyak menceritakan tentang mimpi-mimpinya. Sang Pangeran berdiri di sampingnya, memainkan rambut panjangnya yang pada saat itu diikat kuncir kuda.
"Sesungguhnya aku sangat senang melakukan perjalanan. Namun aku tanpa daya untuk melakukannya. Aku terkurung dalam kastil dan tak bahagia. Hatiku ingin menyaksikan negeri-negeri yang jauh dengan alam yang indah," ujar Sang Putri.
"Mungkin kita bisa pergi bersama? Mintalah izin ayahmu dan kita akan pergi bersama menyaksikan negeri-negeri yang jauh," kata Sang Pangeran.
"Mungkinkah itu? Aku ingin sekali pergi berlayar dengan kapal panjang seperti milikmu ini," Sang Putri berandai-andai.
"Kita akan mengusahakannya bersama-sama. Membangun kapal panjang untuk berdua dan melihat negeri-negeri yang jauh bersama-sama. Dan kau tak perlu khawatir tentang hidup di sini. Aku tak akan memaksamu bertanggung jawab atas bagian dapur atau berlatih menjahit. Di Kerajaan Utara kau bisa setara denganku," kata Sang Pangeran.
Sang Putri tersenyum senang. Ia seperti menemukan  kebahagiaannya lagi. Sungguh tidak disangka, bahwa ia dan Sang Pangeran memiliki banyak impian yang sama. Sang Raja pun tak berkeberatan. Ia siap mengizinkan Sang Putri untuk menikahi Sang Pangeran dan tinggal di Kerajaan Utara. Dan hari ini adalah hari ketika Sang Putri akan berangkat ke tanah Sang Pangeran dan menyongsong mimpi-mimpinya.
"Begitukah, Putri? Kau lebih memilih Sang Pangeran dibanding diriku? Tak bisakah kau setia selagi aku pergi menjelajah negeri-negeri yang jauh?" tanya Sang Ksatria.
"Aku sudah mencoba. Bukan aku tak setia menunggumu. Aku hanya ingin dilibatkan dan diajak serta. Aku tak ingin kau tinggal di belakang, menunggumu mengejar kesenanganmu, dengan alasan aku akan diajak serta suatu hari nanti. Itu hanya pembenaran darimu. Sejak awal aku tak pernah menyukainya, bahwa kau bertualang seorang diri tanpa membawaku. Aku menginginkan seseorang, yang dengannya aku dapat berbagi dan membangun mimpi bersama-sama. Karena pada akhirnya, seseorang yang mengajakku ikut serta akan menang atas seseorang yang mengejar kesenangan hanya untuk dirinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, maafkan aku dan biarkan aku pergi," ujar Sang Putri, jauh dalam hatinya masih ada sedikit rasa bersalah yang terselip akibat ketidakmampuannya menunggu hingga Sang Ksatria pulang.
"Kau seperti tidak mengerti perasaanku," kata Sang Ksatria tertunduk sedih.
"Maafkan aku," sang Putri berkata pendek.
Sang Ksatria mendesah. Ia sadar, sudah saatnya ia melepas Sang Putri pergi. Mungkin memang ia ditakdirkan untuk terus-menerus berkorban bagi Sang Putri. Bersama dengan itu terdengar suara derap langkah kaki kuda dari jendela kastil. Kereta kuda yang akan mengantar Sang Putri telah tiba. Dayang-dayang kembali masuk ke ruangan untuk mengantar Sang Putri menuju kereta kuda itu. Sang Ksatria mengikuti mereka di belakang.
"Selamat tinggal," ujar Sang Ksatria, nyaris dalam bisikan.
"Selamat tinggal. Semoga kau berbahagia meski tanpa diriku,"  balas Sang Putri, yang kemudian melangkah masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintu selamanya dari Sang Ksatria.
by Frouwelinde
24.05.14
for my confession about life 
 
 
 
 
 
 

13.3.14

Jembatan Pelangi dan Sebuah Janji


Suara butiran hujan yang menabrak jendela kaca di depanku terdengar begitu nyaring kali ini. Beberapa kali kuhentikan kegiatan mengepak pakaianku dan melongok keluar. Hari menjelang sore dalam musim panas paling kelabu yang pernah kualami. Awan hitam masih menggantung di langit, tanpa menyisakan secercah harapan akan kehadiran pelangi sebelum hari ini berakhir. Aku mendesah sedih, lalu meninggalkan jendela dan kembali pada setumpuk pakaian yang masih berserakan di atas tempat tidur. Tidak kusangka liburanku akan berakhir seperti ini. Seolah tanpa harapan, datang kemari hanya untuk kehilangan impian lagi. 

Dua minggu lalu ia masih tersenyum malu di balik awan kelabu tipis yang menjelang cerah. Lengkung tujuh warna mengiringi langkah kakiku yang begitu ringan dari sebuah burung besi yang baru tiba di negerimu.
"Lysa!" kudengar suaramu di balik kerumunan orang-orang yang datang menjemput. "Lysa! Aku di sini!"
Tubuhmu tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan orang-orang sebangsamu. Kau coba lambaikan tanganmu hingga aku dapat melihatnya dari kejauhan.
"Bjørn! Bjørn! Akhirnya kita bertemu lagi!!" 
Aku menyeruak menerobos kerumunan orang itu. Kau raih tanganku dan kulepaskan sesaat koper beroda yang kubawa. Untuk kedua kalinya kita berpelukan di alam nyata.

Kurogoh saku jaketku. Kali ini aku tak akan lupa melakukan hal ini seperti pada pertemuan pertama di musim panas lima tahun lalu.
"Senyum, Bjørn!" kataku, lalu menekan tombol dan membuat kenangan dalam kamera kecilku.
"Pasti aku tampak bodoh. Aku tak bisa senyum, hahaha...," tawamu.
Aku memandangi foto itu. Ia menghias layar ponselku. Beberapa hari lalu kau mencetaknya dan menempatkannya dalam pigura kecil yang kau letakkan di atas meja. Satu-satunya pigura dan satu-satunya foto yang kau punya di atas sana. Satu-satunya foto di dunia yang begitu berkesan bagi seseorang di luar keluargaku namun ada aku di dalamnya. Dan kau tidak tampak bodoh di sana, Bjørn. Bahkan kau tersenyum dengan baik, begitu bahagia, seperti yang selalu tampak ketika kita sedang bersama.

Kuletakkan ponsel itu dan kembali mendekati jendela. Kegelapan masih merajai langit. Semakin gelap, karena hari semakin sore. Seolah mengingatkanku untuk bergegas mengisi koperku kembali sebelum hari kepulanganku besok. Kukatakan pada langit, jika aku enggan pulang. Aku masih ingin di sini. Menemanimu di rumah berlantai dua yang tampak terlalu besar jika kau huni seorang diri. Bukankah kau yang menginginkan kedatanganku, menjadi tetanggamu dan berbagi rumah denganmu suatu saat nanti? Kau tidak akan pergi sekarang dan melepaskan impian ini begitu saja 'kan? Ini baru hari kedua, seharusnya kau masih punya tiga puluh delapan hari lagi untuk tinggal di sini. Atau mungkin tidak, karena empat puluh hari adalah perhitunganku, sedang bagimu tak ada sedetik pun kesempatan untuk menemaniku lagi di dunia ini. Mereka membawamu langsung pada hari kau harus pergi. Itulah mengapa sang pelangi tampak pada hari itu, meskipun hujan selebat sore ini turun.
"Jangan sedih, Lysa. Hujan ini tak akan menghentikan jalan-jalan kita," kau mencoba menghiburku saat itu terjadi.
"Aku hanya tidak menyangka, musim panas akan berjalan seperti ini di sini. Kupikir aku akan melihat musim panas seperti lima tahun lalu," jawabku, mencoba mengingat pertemuan singkat kita yang kupaksakan di tengah rangkaian kegiatanku yang padat lima tahun lalu. 
"Ah, kau seperti tidak tahu saja, Lysa. Kota ini terkenal dengan sebutan kota hujan. Bahkan warganya akan kecewa jika gagal memecahkan rekor tahun sebelumnya," jelasmu mencoba menghiburku dengan fakta unik tentang tempat tinggalmu.
"Ada rekornya?" aku tampak heran.
"Tentu saja. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah ketika satu hari menjelang pemecahan rekor tiba-tiba hari cerah, lalu disusul hari hujan berturut-turut. Rusaklah penantian warga kota ini selama setahun lamanya hingga musim panas datang kembali."
Aku tak dapat menahan tawa mendengar ceritamu. Begitu menghibur hingga hujan tak lagi menghalangiku untuk membujukmu agar kita kembali berjalan. Jaket bertudung kita kenakan dan kau membuka payung, agar kita dapat tetap melangkah di tengah hujan.
"Hujannya betul-betul deras. Sepertinya kita tidak akan melihat pelangi hari ini," ujarku tiba-tiba. Entah bagaimana ingatan akan langit yang mewarnai hari ketibaanku muncul lagi.
Kau menepuk bahuku dengan tanganmu yang basah oleh hujan.
"Yah, mau bagaimana lagi. Sepertinya hari ini memang tidak akan ada yang datang," katamu.
"Aku tidak mengerti," ujarku.
"Bangsa Norse kuno percaya bahwa pelangi adalah jembatan penghubung antardunia. Bifrost namanya. Konon, jika pelangi muncul, berarti ada penghuni Asgard yang turun ke bumi. Atau sebaliknya, ada manusia yang pergi ke sana," ceritamu sambil menggamit tanganku dan bersiap menyeberang jalan.
Sungguh aku tertarik pada cerita itu, namun kutahan komentarku, karena aku sibuk menyeka air hujan yang tetap saja menerpa wajahku meski sudah dinaungi payung. Sepertinya aku mendengar teriakanmu, sayup-sayup di balik suara derasnya air yang ditumpahkan dari langit. Entah apa yang kau teriakkan, tetapi sedetik kemudian tubuhku seperti dihantam sesuatu dengan keras. Aku terhempas ke atas aspal yang basah lalu berguling beberapa kali. Untuk beberapa detik sekelilingku menjadi gelap. Namun rintik-rintik air tiada henti menjatuhi kepalaku yang terasa sakit dan membuatku bangun tak berapa lama kemudian.

Saat itu hanya namamu yang kuingat. Kuteriakkan ia berulang kali, namun kau diam membisu, seolah tak berada di sana bersamaku. Suaraku parau, dan air hujan berlomba-lomba mengaliri kerongkonganku. Kuraba aspal yang basah dan mencoba berdiri. Gagal. Ada sesuatu yang membuat kakiku terasa sakit. Rasa itu memaksaku tersadar akan keadaan sekitar. Mataku mengenali bayangan orang-orang. Mereka berkerumun di sebuah sudut, dekat dengan dua cahaya kuning terang yang menyerupai mata raksasa. Cahaya itu tidak bergerak, terus menyala. Dan bayangan-bayangan itu berbicara. Cukup gaduh di tengah suara hujan, namun tak dapat kumengerti bahasanya.

Aku merangkak mendekat. Tubuhku yang kecil mencoba menerobos kerumunan yang entah mengapa sepertinya tidak terlalu menyadari keberadaanku. Lalu aku melihatmu di sana, di tengah kerumunan. Diam tak bergerak, terbujur kaku seperti dalam tidur tanpa akhir. Orang-orang tampak panik dan berusaha membangunkanmu. Beberapa di antara mereka sibuk menghubungi polisi dan ambulance. Pikiranku nyaris kosong, gagal menyatukan potongan-potongan gambar kejadian yang baru saja berlalu.
"Seseorang beri tahu aku apa yang terjadi! Seseorang, tolonglah!" pintaku lirih.
"Apa dia temanmu?" seorang ibu berwajah sangat cemas bertanya padaku.
Aku mengangguk sekuat tenaga.
"Dia tertabrak bus itu ketika mencoba menolongmu. Kami mencoba mencari bantuan. Semoga ia masih tertolong."
Tak kupedulikan lagi kata-kata wanita itu. Aku langsung menghampirimu. Kuusap wajahmu yang basah oleh air hujan. Rintiknya sedikit mereda saat itu, berbanding terbalik dengan yang mengaliri kedua pipiku.
"Lysa," kau buka matamu dan berbisik lemah.
"Bjørn! Bjørn! Lihat aku! Janganlah kau pergi, sebentar lagi bantuan akan datang untukmu," aku menjerit lirih. 
"Tidak, Lysa. Aku sudah senang melihat kau selamat. Terima kasih sudah memberiku kesempatan membantu mewujudkan impianmu."
"Bjørn, jangan pergi! Bjørn!" tangisku. "Aku datang kemari untuk mewujudkan mimpi bersamamu. Kau tidak bisa pergi begitu saja."
Kau usap kepalaku yang basah kuyup, seolah berusaha menenangkanku.
"Lysa, aku ingin kau melihat ke arah sana."
Kau angkat tanganmu dengan susah payah. Jarimu menunjuk ke langit utara. Aku melihatnya. Ada pelangi di sana. Lengkung tujuh warna tersenyum di balik awan kelabu yang mulai berhenti menangis. Entah bagaimana hal yang tak kusangka akan muncul tampak di sana. Hujan mereda, meski langit belum penuh terangnya. Aku berpaling kembali padamu, ketika kusadari tanganmu berhenti membelai rambutku. Kulihat matamu terpejam. Tiada jawaban saat kau kupanggil. Tak dapat kutahan kembali air mata yang ingin meleleh turun, ketika kulihat beberapa petugas rumah sakit mengangkatmu ke atas tandu dan menutup seluruh dirimu dengan kain. Aku enggan melihatnya terlalu lama. Kupalingkan wajahku kembali pada sang pelangi. Itukah artinya mengapa kau muncul hari ini, wahai pelangi? Apakah seseorang dari Asgard baru saja turun menjemput temanku? Ataukah kau datang agar Bjørn bisa menyeberang ke sana?

Kesunyian mengelilingiku begitu lama. Ketika tersadar dari lamunan tampak setumpuk pakaianku masih berantakan di atas tempat tidur, sama menolaknya untuk pulang seperti diriku. Entah untuk yang keberapa kali kutarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri dan mendorongnya untuk segera menyelesaikan tugas yang tersisa. Pelan-pelan kumasukkan pakaian yang sudah terlipat satu demi satu ke dalam koper sembari terus mencari serpihan memori yang mungkin dapat memberiku jawaban, mengapa liburanku harus berakhir sepilu ini. Jawaban itu tak juga kutemukan, hingga aku selesai mengepak koperku dan bersiap meninggalkan kamar itu. Pesawatku akan terbang mengantarku pulang tengah malam ini dan keluargamu akan mengantarku ke bandara.

Mereka tiba beberapa menit setelah aku selesai mengunci kamarmu dan berusaha menuruni tangga dengan dibebani koper berodaku yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Sudah siap, Lysa?" ibumu bertanya di depan pintu.
Aku memandang sekeliling. Apartemenmu terasa besar dan kosong, sunyi dan sepi, meski masih bisa kudengar gema tawa kita di beberapa sudut dindingnya. Kutarik nafas panjang berusaha meyakinkan diri.
"Ia sudah tenang di sana, Lysa. Kami akan jaga tempat ini baik-baik," ujar ibumu sembari memberi tepukan lembut di bahuku.
"Terima kasih," balasku, lalu berbalik membelakangi rumah itu, mengunci pintunya dan memberikan kunci itu pada ibumu.
Ia berterima kasih sembari mengantarku ke mobil. Sudah ada ayahmu dan adik perempuanmu di sana. Perjalanan ke bandara berlangsung dengan sunyi. Kami semua diam, seolah memikirkan kenangan kami masing-masing dengan dirimu. Aku menatap ke luar jendela. Hujan reda pada detik-detik terakhir menjelang terbenamnya matahari. Di balik awan kembali muncul pelangi yang datang memberi jawaban kepadaku. Pelangi yang dalam keyakinanku adalah simbol janji Tuhan. Pelangi yang sama seperti pelangi tujuh tahun lalu, yang muncul ketika aku menangis dalam doa seorang diri di kamarku.
"Tuhan, jika engkau berkenan, berikanlah aku seorang sahabat sejati, yang menyayangiku apa adanya."

by LV~Eisblume
140314
for our everlasting friendship
inspired by our friendship, our night talks about the rainbow, and Gnom's song lyric titled "Bestevenn"
 
 


 

 
 
 



3.2.14

Nordlys ved Vinduet: Cahaya Utara di Jendela


Dengan langkah gontai dan penuh kekecewaan kudorong pintu kabin yang kau pinjam dari temanmu demi rencana kita. Menyaksikan cahaya utara. Aurora borealis. Nordlys, katamu, yang sepertinya tidak begitu menyukai impianku. Hari demi hari kusisihkan uang-uang kecilku demi membentuk gunungan logam dalam kaleng-kaleng bertuliskan sebuah kalimat motivasi - "aku ingin pergi ke Norwegia". Tetapi tampaknya semua akan menjadi percuma malam ini. Langit tak bersahabat, tertutup tirai awan tebal yang membuat sang cahaya ajaib tak muncul.
"Jangan sedih," katamu sambil menepuk bahuku dua kali. Sejak kuajarkan istilah "puk-puk" kamu pun jadi sering melakukannya di kala mencoba menghiburku. 
Aku menoleh padamu tanpa suara. Hanya tatapan kecewa yang kutunjukkan. Aku tahu, bukan salahmu sang cahaya tidak muncul. Hanya saja, aku begitu khawatir jikalau kesempatan ini jadi satu-satunya yang kumiliki karena begitu sulitnya melakukan perjalanan ini.
"Perjalananmu tidak akan sia-sia, kok. Aku yakin. Kau sudah melihat fyord-fyord itu, berlayar di atas kapal longship yang legendaris sambil menikmati mead langsung dari drinking horn. Bahkan kita sudah bertemu langsung dan mengusahakan banyak hal bersama-sama. Setidaknya lebih dari setengah daftarmu terlaksana, bukan?" kau ingatkan aku akan berbagai kesenangan yang sudah kita lakukan bersama selama seminggu ini. 
Kugelengkan kepala dengan pasrah dan kulempar diriku di atas sofa nyaman di depan perapian kecil.
"Sudahlah, percuma menghiburku. Itu tidak ada gunanya. Cahaya utara itu tujuan utamaku pergi ke sini. Dan di bawahnya aku menanti keajaiban," aku bersikeras.
"Entah keajaiban apa yang kau nanti, aku tidak mengerti. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, cahaya itu cuma keajaiban alam biasa. Biasan cahaya matahari dengan warna-warni yang lebih cantik di malam hari. Ia istimewa hanya karena kau belum pernah melihatnya. Bukan berarti dengan kau berdiri di bawah sana tiba-tiba akan ada hal yang terjadi seperti dalam dongeng, " kau berkata sambil tertawa. Seolah menertawaiku dan aku benci itu. Kupalingkan pandangan ke arah perapian dan segera meraup pemandangan hangat yang ada di sana.
"Secangkir coklat panas?" tanyamu.
"Terserah kau saja," jawabku dengan ketus tanpa menoleh sedikit pun.
"Baiklah, aku segera kembali," lalu langkahmu terdengar menjauh menuju dapur kecil di bagian belakang kabin.
Dari perapian hangat aku berpindah pada jendela kaca di sisi kananku yang tak bertirai. Kucoba memindahkan rasa hangat perapian di mataku pada tumpukan salju di luar. Menguapkan awan di langit dan membiarkan tirai warna-warni yang kunanti jatuh dari langit bagai air terjun yang menari di udara. Di manakah sang putri dari utara itu bersembunyi? Mengapa ia tak ingin menemuiku?
"Apa yang kau lihat?" tanyamu, memecah keheningan dengan tiba-tiba. Kau berikan secangkir coklat panas buatanmu ke dalam tanganku, yang langsung mencairkan rasa dingin dengan sempurna.
"Takk!" balasku, "dan tidak, aku tidak melihat apapun selain tumpukan salju di luar," jawabku sambil menyeruput rasa manis yang hangat dalam cangkir itu sedikit demi sedikit.
"Kau marah padaku?" tanyaku, yang justru membuatku semakin kesal.
"Perkataanmu yang tadi sedikit tidak enak didengar," kataku ketus.
Kau berjalan mendekat, mengambil duduk di sampingku di atas sofa nyaman itu. Aku menghindar, merapatkan tubuhku pada sisi kanan sofa yang berada dekat jendela. Kau di sisi satunya, memandangiku. Dan aku rasa itu mengganggu ketika aku sedang kesal seperti ini. Kunikmati coklat panas itu tanpa menoleh ke arahmu, justru membelakangimu dan menatap awan tebal yang menutup langit. Terus menatapnya sampai mataku terasa berat. Sesuatu membasahinya. Menyampaikan pesan akan kemungkinan perjalanan yang sia-sia. Seluruh tubuhku terasa berat, seolah mengingatkan akan panjangnya perjalananan di tengah udara dingin yang kulalui untuk tiba ke sini dan melihat kekosongan. Dan kini aku dapat merasakan rasa asin bercampur manis di bibirku. Kuletakkan cangkir coklatku di meja dan merebahkan kepalaku sambil terus menatap jendela, berharap air mata ini akan memanggil sang putri utara agar keluar dan menari untukku.

Sesuatu menyentuh rambutku dan memainkannya. Aku tahu itu kau, yang tanpa kusangka mengingat salah satu bagian pembicaraan kita pada bulan-bulan sebelumnya, bahwa aku senang jika seseorang memainkan rambutku.
"Dengar," akhirnya kau bicara, "maafkan aku untuk yang tadi. Aku tidak bermaksud membuatmu semakin kecewa atau terdengar menyepelekan mimpimu. Aku hanya tidak begitu suka dengan kekecewaanmu. Itu akan merusak malam ini. Kita sudah mengumpulkan uang demi perjalanan jauh ke utara dan menikmati malam ini. Jikalau impian itu tak datang, bukankah masih ada malam yang panjang yang bisa kita habiskan bersama?
Kupalingkan wajahku dari jendela. Perkataanmu tadi memang ada benarnya. Mungkin aku terlalu fokus pada impianku hingga lupa pada impian-impian kecil lainnya yang ingin kuwujudkan serta. Salah satunya, bertemu denganmu di dunia nyata.
"Tetapi apakah yang kau katakan tadi itu benar, bahwa cahaya utara hanyalah keajaiban  alam semata?" tanyaku.
 "Tidak. Tentu saja tidak. Ia lebih dari sekedar fenomena alam," katamu sembari duduk di atas lantai kayu beralaskan permadani kecil dari bulu-bulu. Aku beringsut mendekatimu, dengan tetap berada di atas sofa nyaman yang hangat. Aku tahu betul saat-saat kau akan mulai bercerita.
"Jadi apakah yang membuat cahaya utara adalah keajaiban sungguhan?" tanyaku tak sabar dalam nada yang lebih ceria. Berharap cerita kecilmu dapat sedikit menghiburku dari kegagalan mimpi ini, dan mengawali malam panjang kita bersama-sama.
"Legenda Norse kuno bilang bahwa cahaya utara diciptakan oleh kemilau pakaian yang dikenakan oleh para Valkyrie ketika turun menjemput para pahlawan yang gugur dalam perang. Para Valkyrie adalah wanita-wanita cantik serupa bidadari yang diutus oleh sang mahadewa Odin untuk memilih siapa saja para pejuang yang harus gugur di medan perang. Mereka akan dibawa menuju Valhalla, tempat mereka akan menghadiri jamuan makan dan pesta bersama para dewa, hingga nanti turun kembali mendampingi para dewa dalam Ragnarok, perang terakhir itu," kau bercerita dengan begitu bersemangat, seolah pernah kau saksikan sendiri segala hal yang kau ceritakan. Tetapi aku tahu alasan sesungguhnya, karena memang demikianlah yang kau percayai.
 Begitu nyata segala kata yang terucap olehmu ketika membentuk cerita singkat itu, hingga aku merasa dapat menyaksikan sendiri kemilau cahaya yang kau kisahkan tadi. Tirai cahaya dari pakaian para Valkyrie itu berkilau tujuh warna, tertiup angin utara dan berkibar di udara. Para Valkyrie menari, membiarkan pakaiannya jatuh mendekati padang salju di bawah. Aku tak mampu membayangkan perang, sebaliknya aku dapat melihat desa-desa kecil beratap aneka warna yang berkerumun di beberapa sudut padang salju, menyembul di balik bebukitan putih yang tampak dingin.
"Nordlys!" serumu tiba-tiba. "Se, nordlys vet vinduet!"
Dengan segera aku menoleh ke belakang, pada jendela kaca tak bertirai yang kupunggungi. Lapisan awan tebal telah menghilang tak berbekas, berganti dengan air terjun hijau kebiruan yang menari dengan latar belakang langit malam yang berbintang.
"Cahaya utara!" seruku lirih, lalu menutup mulut tak percaya, namun percuma karena senyumku mengembang tak mampu kutahan. 
"Ayo, kita keluar sekarang!" kau tarik tanganku hingga aku berhenti terpaku pada pemandangan di jendela dan segera keluar menjemput sang impian. 
Kulangkahkan kaki melalui pintu kabin kayu itu dan dengan segera tubuhku merinding. Bukan karena dingin, aku yakin. Melainkan kebahagiaan teramat sangat yang menyelimuti hati ini dan menghangatkannya. Mengikutimu aku berlari ke padang salju.
"Aku berhasil! Kita berhasil!!" sorakku bahagia, melompat dan menari dalam balutan pakaian musim dingin di bawah cahaya utara itu.
Kau berdiri tak jauh, melihat dan memandangku. Kutangkap raut wajah bahagia padamu, seolah turut merasa senang telah berhasil membantuku mencapai impian itu. Kau biarkan diriku melompat dan menari dalam kebahagiaan. Hingga akhirnya kau hampiri aku dan tarianku berhenti. Kau raih tanganku dan kau genggam keduanya.
"Terima kasih," kataku, nyaris tak dapat kubendung tangis bahagia yang hendak meleleh turun.
"Lepaskanlah rasa bahagia itu," katamu. "Jangan kau tahan."
Kubiarkan kehangatan mencairkan rasa beku yang menyelimuti kedua pipiku. Kau lepaskan genggaman tanganmu dan mulai menyeka air mataku dengan jemarimu yang berlapis bahan rajutan hangat.
"Menyaksikan cahaya utara, impianmu sudah terwujud," katamu sambil menatapku dengan senyuman turut bahagia.
"Terima kasih sudah membantuku mewujudkan sebagian impian terbesarku," kataku, kubalas senyum itu dengan milikku.
"Sebagian? Mengapa? Bukankah ini sudah semuanya?" kau tampak bingung.
"Ya, karena sebetulnya impian itu masih ada lanjutannya. Tapi tidak perlu, memang belum saatnya, " kataku sembari terkikik senang.
Kau tersenyum lagi tanpa melepas tatapanmu. Cahaya utara membuat wajahmu dan padang salju di sekeliling kita berwarna-warni begitu cantik. Aku merasa tengah berada di dalam mimpi yang tak pernah ingin kuakhiri. Terus menerus kupandangi keindahan cahaya utara itu.
"Maukah kau pejamkan matamu sebentar? Kau akan melihat cahaya itu lebih indah setelahnya," pintamu.
"Berapa lama harus kulakukan?" tanyaku, ragu akan kehilangan pemandangan langka itu.
"Sampai aku bilang boleh kau buka," jawabmu.
Kupejamkan kedua mataku. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tak ada suara darimu, sampai sesuatu yang hangat menyentuh bibir mungilku. Rasanya begitu hangat, sampai melelehkan setiap lapisan dingin yang menyelimuti seluruh tubuhku. Aku tak dapat berkata-kata, bahkan membuka mata pun aku tak sanggup lagi. Terlampau bahagia hati ini, seolah ingin terus menari di bawah cahaya penuh keajaiban yang begitu cantik.
"Bukalah matamu," kembali kau genggam tanganku. "Menyaksikan, menari dan memperoleh ciuman pertama di bawah cahaya utara. Impianmu telah terwujud."
Aku begitu tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Nyaris tak dapat kutemukan kata-kata untuk membalas ucapanmu.
"Glad i deg, vennen min," kataku, sembari menatapmu dengan penuh kebahagiaan.
Kau tarik aku dalam dekapanmu dan kau bisikkan sesuatu, "jeg elsker deg, min kjære."


030214
by LV~Eisblume

note about language translation:

se, nordlys vet vinduet!: lihatlah, cahaya utara di jendela!
glad i deg, vennen min: aku sayang kamu, teman.
jeg elsker deg, min kjære: aku cinta kamu, sayang.




18.6.13

Marienplatz, Jam 3 Sore


Tanpa peduli pada panas terik yang menerjang, siang itu aku menyusuri jalan-jalan di sudut-sudut kota Munich menuju pusat kota. Marienplatz. Ke sanalah aku akan pergi. Distrik kota tua Munich itu memang tidak terlalu jauh dari apartemen tempatku menginap selama mengikuti konferensi mahasiswa Program Studi Jerman sedunia yang tengah berlangsung di salah satu universitas ternama di kota ini. Sebetulnya tidak ada kegiatan yang tengah berlangsung di sana, hanya saja, hari ini adalah satu-satunya waktu yang kumiliki untuk menangkap kemegahan menara-menara gereja di pusat kota itu dengan kameraku. Tak hanya menara-menara itu, aku pun hendak mendengarkan dentingan jam dengan boneka-boneka menari yang selalu berbunyi setiap jamnya.

Sebetulnya aku bisa saja menempuh perjalanan dengan kereta api bawah tanah, tetapi aku tidak ingin. Pemandangan kota ini terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan. Lagipula letak apartemenku sungguh tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki dan aku akan tiba di Marienplatz. Dan benar saja, tanpa terasa kakiku telah menginjak lapangan luas berlantai konblok itu. Menara-menara gereja tua dari abad-abad lampau menjulang tinggi di salah satu sisinya. Dari menara-menara itu, berterbangan burung-burung gereja dan merpati ke sana kemari. Mereka mengitari menara-menara itu seolah tengah berkejaran. Segera kutangkap pemandangan itu dengan kameraku.

Kudekati sebuah air mancur yang terletak di sana. Sembari duduk menunggu pertunjukkan jam berbunyi, aku berusaha menangkap pemandangan orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Sungguh pemandangan yang menarik, seolah aku menyaksikan dunia modern berpadu indah dengan masa lampau. Konsentrasiku pada orang-orang itu terhenti, ketika aku mendengar suatu suara asing yang menyebut sesuatu yang tidak asing. Namaku! Ya, aku yakin sekali orang itu meneriakkan namaku. Tetapi, kupikir ulang, namaku bukan nama yang tidak lazim di dunia barat. Ah, mungkin saja ia memanggil orang lain.

Sebuah tangan menepuk pundakku hingga aku berbalik dan terkejut. Aku mengenalnya. Aku kenal dia. Kenal betul siapa dia.
"Kamu?? Bagaimana bisa kamu ada di sini?" aku terkejut hingga mundur beberapa langkah, hendak memastikan bahwa itu memang sosok yang kukenal.
Sosok itu hanya melemparkan senyum jahil, seolah senang melihat dirinya telah berhasil mengejutkan diriku. Sementara itu, aku hanya bengong dan bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sini dan menemukanku di tempat ini.

* * *

3 Minggu Sebelumnya

isblomst : boleh aku tanya sesuatu?
rycerz    : silakan. kamu mau tanya apa?
isblomst : setelah sekian lama kita kenal, pendapatmu tentang aku apa?                               
rycerz    : hmm... aku suka wanita yang cerdas
isblomst : jadi, maksudmu aku cerdas? Atau sebaliknya?
rycerz    : kalau kamu nggak cerdas, aku nggak akan mau bicara sama kamu. Kamu cerdas, ramah dan menarik. Aku ingin sekali ketemu secara pribadi sama kamu.
isblomst : ahh.. terima kasih :P
rycerz    : giliranmu.
isblomst : kamu dewasa dan penuh perhatian. Kamu sangat baik dan aku juga ingin mengenalmu lebih lagi.
rycerz    : :)
isblomst : ya Tuhan, tidak bisakah kita ketemu? Aku sungguh-sungguh ingin ketemu kamu. Seandainya kamu bisa menemuiku di Munich. Aku ingin mengunjungi beberapa tempat bersamamu. :')
rycerz    : itu sulit, tetapi bukannya nggak mungkin. Ah, aku punya ide lain. Bagaimana kalau ketemu di Passau? Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku.
isblomst : sepertinya akan sulit. Karena aku punya jadwal, dan aku perlu uang lebih untuk ke sana. Ah, lupakanlah. Itu cuma ide gilaku. Kita bisa ketemu kalau aku ke Eropa lagi kapan-kapan.
rycerz    : maaf ya, liburan ini aku harus belajar. Banyak hal yang harus kukerjakan.
isblomst : nggak apa-apa. Aku bisa mengerti.

* * *

Ia ceritakan semuanya dengan jelas. Tentang percakapanku dan dia selepas tengah malam itu. Tentang kata-kata dan harapanku yang diingatnya terus sampai saat ini. Tentang keinginan rahasiaku yang sesungguhnya masih ingin kuwujudkan meski kuminta ia melupakannya. Dan kemarin ia memutuskan untuk memenuhi keinginanku. Ia tinggalkan pekerjaannya. Ia lupakan setumpuk buku tebal yang harus ia pelajari jelang ujian akhirnya hanya demi mengejar kereta lintas negara yang berangkat di waktu pagi. Hanya demi menemuiku di sini.
"Tapi aku masih tak mengerti. Kota ini luas. Bagaimana bisa kau menemuiku di sini?" aku bertanya bingung.
Ia mengambil tempat di sampingku. Sembari memandang pada menara-menara katedral, ia ceritakan dengan sabar, suatu hal yang rupanya terlewat olehku.

* * *
Sekitar setengah jam sebelumnya

isblomst : sudah dulu ya, aku mau siap-siap pergi.
rycerz    : ke mana? memang kamu sedang nggak ada acara?
isblomst : begitulah, dan ini satu-satunya kesempatan yang kupunya.
rycerz    : mau ke mana?
isblomst : ke Marienplatz. Mau hunting foto bagus
rycerz    : Ohh.., jangan lupa jamnya.
isblomst : ya, aku tahu. Sekarang sudah jam dua lebih. Aku akan mengejar dentangan yang jam tiga.
rycerz    : baiklah, hati-hati ya. Simpan foto bagus untukku.
isblomst : oke, sampai nanti :)

isblomst is offline

* * *

"Sebetulnya aku tadi sudah tiba di Hauptbahnhof ketika aku berkirim pesan itu," katanya sembari tersenyum jahil.
"Lalu?"
"Awalnya aku mau tanya lokasimu, tapi kemudian kamu sudah membocorkannya duluan."
"Kamu ya... keterlaluan! Senang sekali mengerjai aku!" kucubit lengannya dengan gemas.
"Hehee.. aku kan sudah bilang. Aku jahat banget!!" ia menjulurkan lidahnya, seolah mengejekku. "Tapi kamu senang 'kan?"
Aku mengangguk kuat. Dalam hati kubisikkan rasa terima kasih. Meski aku dan dia tak punya hubungan apapun, aku merasa begitu dekat dengannya. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengan sosok yang begitu cocok denganku. Ia seperti sahabat, kekasih, dan kakak laki-laki yang sangat kudambakan keberadaannya. Ia seorang pendengar yang baik, selalu bersedia mendengarkan masalah-masalahku. Dan ia begitu dewasa, mampu memberiku saran-saran yang tak pernah terpikir sebelumnya. Ialah alasanku meninggalkan keputusan lama yang telah kubuat, yang pada akhirnya tidak terlalu membahagiakan. Aku memang belum tahu akan jadi apa kita berdua nanti. Sepasang sahabat pun tak apa, karena aku masih menginginkannya. Tetapi jika lebih, mengapa tidak?

Jam berdentang lima belas kali. Fünfzehn Uhr, kata orang Jerman. Seluruh Marienplatz, termasuk aku dan dia terdiam sejenak, memandang pada boneka-boneka menari di menara jam sana. Marienplatz, jam tiga sore, tempat kami bertemu secara langsung untuk pertama kalinya.


By LV~Eisblume
19.06.13
for my wish...


                                                           

17.6.13

The Winged Knight

Once upon a time on a cloudy day, Lady Terezka was sitting near the window. Her eyes gazed into the field surrounding her beautiful castle. Her mind flew somewhere, far to her dreams. If we could look at her face, we might find unhappiness there. All people thought that she was the luckiest woman on the earth at that time, because she lived in a very beautiful castle and married to a young handsome knight with a gentle heart. But deep inside her heart, all was different. Indeed she had a beautiful castle, but after quite a long time lived inside it, she felt that that was not her home. 

She looked at the linden tree that located not far from her window. Now the leaves started to fall one by one. It was a linden tree which was planted by her husband to remind them at her previous home, her lovely small castle. Under the linden tree near her castle they met each other for the first time. She knew exactly that he was the part of the cavalries that had just conquered some parts of her kingdom. She knew exactly that he served a big kingdom, which located far in the east, among the golden sand mountains. She knew exactly that he believe in different way with her. But Lady Terezka did not care about that. All that she believed is that this knight was very kind and gentle-hearted, loyal and even willing to leave his kingdom, just to build another castle on the land he had conquered, although all his companion has returned to their kingdom. 

While gazed at the green field below her window, suddenly she saw a gleaming light from afar. The light came nearer and nearer and it revealed to her as a strong white horse bore a knight in a shining armor. She was amazed with what she saw. Who was the knight, who dare to enter this area. He must be not one of her husband's companion. He must be a knight from an unknown place to her, because as she paid more attention to him, it seemed to her that there were wings on his back.
"A winged knight?" she whispered to herself. "I wondered where he came from. What are he doing near my castle?"
Even though she knew exactly that he didn't part of her castle, she hoped that this knight will pass the field safely, without being known by any of her husband's knight. But then the knight suddenly disappeared. Lady Terezka was surprised and began to search him, who had become her center of attention for a while. But before she could find the mysterious knight, someone called her name. The voice came from below, just below her window.
"I beg your pardon, young lady. But why do you seem very sad in this lovely day?" asked the voice politely.
Surprised, because it was the mysterious knight who spoke to her, Lady Terezka answered, "I...I.. i just wondering if my choice was true...."

The knight smiled without replying anything. He stared at the beautiful woman at the window and waited, as if he knew that Lady Terezka would answer more. And he was right.
"I'm not sure if I chose the right way... to agree and live in this place," said Lady Terezka.
"But this place is very beautiful, my lady. Why should you be sad because of it?" asked the winged knight.
"Because I feel trapped inside here, inside my own choice to marry the owner," answered the lady again.
"Is he mean to you? What had he done to you so that you become sad right now?" 
"No, he didn't do anything. In fact he is very kind and gentle-hearted. But it's me who feel uncomfortable with everything. I just heard what happen outside there. What his friends has done to my beloved land, my beloved kingdom. I know that he don't do anything and aren't involved in it, but those friends.... I can't see him being with his friends," told Lady Terezka to the winged knight.
"Oh, well, i understand. It seems that you and he come from different origin and now both of your kingdom are in war against each other," the knight smiled.
Lady Terezka nodded. Far in her heart she hoped that this knight wants to help her by giving some advice.
"But the difference don't give a problem, right?" 
"No, it doesn't. Even he built for me a special room to preserve my culture and let me decorate this castle in the way i want. But i still feel trapped. I can't eat my favorite food again, because it was uncommon for his tongue. I can't speak freely when deep in my heart i disagree with what his knights do, because i don't want to hurt his heart. He was proud of his culture and his knights. But i can't stand here without doing anything, while his friends attacked and conquered parts of my kingdom one by one," said Lady Terezka. Her voice sounded hopeless.
"Before you took this decision, my Lady, do you think about these consequences? What had attracted you to join him in the eternal vow?" asked the winged knight, his voice sounded very mature and wise for Lady Terezka, and she couldn't resist not to answer.
"I was still young at that time. For me, to be free from my childhood castle was really a dream. And there he came, with some adventurous challenges lay ahead. He introduced me to the world I've never known, the world of his culture and his kingdom which until that time I read only through old scrolls in my father's room. He was very romantic at that time. He wrote me some Minnelieds and that was so sweet. I ran away with him despite of the forbid of my parents..," said the beautiful lady.
The winged knight smiled slyly. He planned to do something. He knew that there is a solution for this enchanting lady. But he had to think about it first. And then the lady asked him.
"And who are you, winged knight? Never I heard about you before, nor your cavalry. Where are you come from? And where is your position in this terrible war?"
"I'm one of the winged knight cavalry. The strongest among all cavalry in this war. I'm behind your kingdom, my lady. I serve your king with my loyalty and everything that i have. I practice some culture with you and i believe in the same way with you. I know exactly what happen outside there and that you're in danger, my lady. You should immediately run away."
"What? Me? Runaway? But how... I'm trapped behind this high wall," said Lady Terezka sadly.
"Write your husband a letter of goodbye and jump here, my lady. I'll save you from this castle forever. You'll enjoy my castle very much. You can live freely and there is no enemy knights, because I and my companion will not let them enter our peaceful land."
And the beautiful Lady Terezka did what the winged knight said. She jumped onto his horse and ran away forever, left her dark past time and the trapping castle. In the land of the winged knight, they live happily ever after and keep fighting against the kingdom from the east until they left the land forever.


18.06.13
by LV~Eisblume
for my experience, wish and dream~
 

 
 

 

 
 
 
 

23.3.13

Tawaran Kedua sang Raja Mimpi

"Selamat malam, Sayangku, Annetta," 
Sapaannya yang lembut membuatku terkejut. Aku tersentak bangun tetapi kenyataannya aku masih berada di alam tak nyata. Aku tidak menyangka ia akan datang lagi. Sekitar tiga tahun lalu ia datang padaku, dalam tidur, tetapi ketika aku terbangun, aku merasa aku belum tidur sama sekali. Hari itu jadi melelahkan untukku.
"Masihkah kau ingat aku? Aku di sini untuk menawarkan kembali sebuah tawaran yang mungkin kau akan pertimbangkan lagi," katanya.
"Hal apa yang akan kau tawarkan padaku kali ini, Raja Mimpi?" aku memberanikan diri bertanya.
"Belum berubah dari yang dulu, Annetta," katanya lagi.
Ingatanku langsung melayang pada tawarannya dulu. Pada pertemuanku dengan Raja Mimpi yang pertama kali. Malam itu aku hendak tidur ketika tiba-tiba saja ia muncul di jendelaku dan mengajakku pergi. Ia perlihatkan padaku istananya yang megah lagi indah. Dalam istana berwarna putih bermenara tinggi itu tinggal  bangsawan, ksatria, para putri, permaisuri, peri, penyihir, dewa-dewi dan segala makhluk ajaib lainnya yang kisah-kisahnya selalu kusukai. Sang Raja Mimpi dan aku berbagi kesukaan yang sama. Legenda-legenda magis dari tanah tempatnya berasal, yang kebetulan kutemukan dalam buku-buku yang kubaca. Favorit sang Raja Mimpi adalah sosok ksatria angsa yang tampan. Favoritku adalah seorang putri dari bangsa bidadari asal tanah utara. Lalu sang Raja Mimpi juga menunjukkan padaku setangkai bunga. Biru keunguan warnanya. Konon katanya, bunga itu simbol cinta abadi dan banyak tumbuh di tanah asalnya. Bunga itu indah sekali. Aku tak dapat melupakan warna birunya yang begitu cantik.

Tak hanya itu yang kubagi dengan sang Raja Mimpi. Raja Mimpi punya kisah kelam dalam hidupnya. Ia merindu cinta sejati yang dapat menemani dan mengerti hidupnya. Ia benci perang, yang kenyataannya ada dalam kesehariannya sebagai pemimpin bangsa. Ia ingin memenuhi tuntutan rakyat sebagai tokoh panutan yang taat agama, negara dan bangsa. Namun hatinya memberontak. Hatinya menolak karena tersiksa, tak bisa menjalani hidup sebagaimana yang ia inginkan. Kehidupan damai tempatnya bisa melakukan kehendaknya, khususnya mengekspresikan cinta pada seni tinggi yang dikaguminya. Aku pun punya kisah kelam dalam hidupku. Aku mendamba persahabatan sejati tanpa pengkhianatan. Aku menginginkan kejujuran dalam setiap hubungan. Aku benci dunia dan segala kehancuran orang-orangnya. Aku pun merasa banyak orang telah begitu mengekspektasikan diriku menjadi yang terbaik di mana pun dan kapan pun.  Bagaimana bisa aku hidup dalam kondisi demikian? Aku pun punya batas bukan? Ada kalanya aku ingin jadi manusia biasa yang tidak selalu diharap jadi yang terbaik, melainkan bisa memberi yang terbaik sebisaku dan bahagia karenanya.

Sang Raja Mimpi telah membangun pelariannya. Istana putih yang megah berisikan makhluk-makhluk legenda itulah pelariannya dari kenyataan pahit di hidupnya. Seolah mengerti apa yang kualami, ia lintasi ratusan tahun ke depan hanya demi bertemu denganku. Ia tahu aku adalah teman sependeritaannya. Ia hendak mengajakku berbagi kebahagiaan di istananya. Ia tawarkan dunia pelarian itu padaku.
"Terima kasih telah mengajakku jalan-jalan, Raja Mimpi. Sungguh malam yang menakjubkan untuk berbagi kebahagiaan bersamamu. Namun sayang sekali, aku belum bisa menerima tawaranmu. Sepertinya aku masih ingin mencoba menaruh harapan pada kenyataan, " kutolak tawarannya dengan halus.
"Kau yakin, Annetta? Sebab telah kualami kenyataan itu, dan di dalamnya tak ada satu pun yang indah. Kau hanya akan menderita di sana. Maka larilah ke alam mimpi bersamaku," ajaknya.
Aku menggeleng pelan dan sedih. "Tidak, Raja Mimpi. Terima kasih untuk tawarannya. Meskipun demikian, perjalanan ini tak akan sia-sia. Lihatlah apa yang kulakukan," kuambil secarik kertas dan menulisinya dalam gelap. Aku tidak ingin membangunkan ibu dan adikku yang berbagi kamar denganku. Kutulis dalam gelap beberapa detil perjalananku dengan sang Raja Mimpi.

Hari-hari selanjutnya kucoba tuangkan poin-poin di kertas itu dalam serangkaian peta kata-kata yang membentuk untaian cerita. Pada intinya cerita itu berkisah akan perjalananku dengan sang Raja Mimpi melintasi istana putih megahnya. Namun kemudian cerita itu terhenti. Aku bertemu Holger. Holger, sosok pria idamanku yang telah mencuri hari-hariku. Holger memperkenalkan diriku pada kenyataan yang indah. Kisah cinta yang manis terus kurangkai hari demi hari bersama Holger. Pada mulanya kisah kami terasa indah, namun lama kelamaan tidak. Holger dan aku begitu berbeda. Aku, seorang gadis pemimpi yang terobsesi pada hal-hal yang tidak nyata. Aku, seorang gadis kekanak-kanakan yang masih menumpukan hidupnya dan melarikan diri pada mimpi setiap kali ada masalah di kenyataan. Holger, seorang pemuda yang berpikiran sederhana dan cenderung cuek dan santai menghadapi masalah di kenyataan. Holger, seorang pemuda yang senang bergaul dan punya banyak teman. Holger sangat menyayangiku, aku pun juga demikian. Holger tidak pernah menyakitiku dan selalu berusaha membuatku bahagia. Hal itulah yang membuatku tidak ingin menyakitinya juga.
"Jadi bagaimana keputusanmu, Annetta?" sang Raja Mimpi menunggu jawabanku.
"Sebelumnya aku ingin bertanya dulu. Apakah Holger boleh ikut serta?" tanyaku memohon pada sang Raja Mimpi.
 "Sayang sekali, Annetta," ia menggeleng. "Holger-mu tak boleh ikut bersamamu. Dunia ini kubangun untuk pelarian pribadiku, dan aku hanya ingin membaginya dengan teman sependeritaanku."
Aku terdiam dan bingung. Saat ini, Holger sedang sibuk dengan sepak bola yang ditekuninya. Sementara aku yang merasa tengah sendiri seperti tenggelam lagi dalam obsesiku pada hal-hal yang tidak nyata namun indah. Meskipun demikian, aku tidak pernah melupakan Holger. Hanya saja aku sedikit takut tidak sanggup hidup bersamanya dalam keadaan masih menjadi tukang mimpi seperti ini. Atau mungkin ada hal lain.
"Baiklah, waktuku tak banyak, Annetta. Sebaiknya kau putuskan pilihanmu. Tetap bersama Holger atau ikut aku ke istanaku?" tanya sang Raja Mimpi.
"Jadi maksudmu, aku tak akan bisa pulang kembali dan menemui Holger?" aku mulai khawatir.
"Tentu tidak, Annetta. Di alam sana, hanya ada aku, kau dan dongeng-dongeng yang kita sukai. Dan kau tak bisa kembali," jelasnya. 
"Dengar Annetta, tidakkah kau renungkan lebih lagi bahwa Holger bukanlah sosok yang tepat untukmu? Lihatlah dirinya, bagaimana bisa orang sepertinya menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan seperti yang kau mau?" bahkan aku tidak tahu lagi apakah pertanyaan itu berasal dari sang Raja Mimpi, atau hatiku sendiri yang mulai menyadari ketidakberesan di antara aku dan Holger.
Akhirnya aku membuat pilihan. Pilihan yang penting dalam hidupku, mungkin. Pilihan yang terdengar bodoh, menurut orang lain.
"Kalau begitu, bawalah aku bersamamu, Raja Mimpi. Izinkan aku tinggal bersamamu di istana dongeng itu. Bawalah jiwaku lari bersamamu, karena aku sudah lelah dengan pahitnya kenyataan," kuulurkan tanganku ke arah sang raja yang segera menyambutnya.
Cintaku pada sang Raja Mimpi lebih besar daripada apapun. Walau sesungguhnya kami terpisah rentang waktu ratusan tahun, mimpi telah mengizinkan kami bersatu. Bagaimana bisa aku menolaknya? Kutinggalkan Holger bersama kenyataan dunia yang pahit, untuk menjadi permaisuri sang Raja Mimpi di istana putihnya yang penuh dongeng dan legenda. Tawaran kedua dari sang Raja, tak kusia-siakan menjadi sekedar cerita saja. Bersamanya aku menghilang dalam kegelapan malam yang menyelimuti kamarku, dan tak pernah kembali lagi.


by LV~Eisblume
24.03.13
for the second visit to my dream
 
 

 
 
 
 

24.1.13

Terima Kasih pada Malam yang Dingin...

Angin dingin berhembus kuat di seluruh negeri. Udara yang beku menusuk kulit siapapun yang berada di luar bagaikan jarum-jarum besi yang tiada ampun. Pohon dan rerumputan bergoyang-goyang dan bergesekan karena tiupannya. Tidak ada seorang pun tampak di jalan pada malam itu, kecuali sesosok pria berpakaian lusuh yang terus memeluk tubuhnya erat-erat sembari berjalan. Kedua kakinya melangkah perlahan-lahan tetapi mantap melawan kuatnya angin yang bertiup. Tujuannya hanya satu: kekasihnya yang tinggal di kastil megah di ujung jalan itu. Dinginnya malam tak sebanding dengan pertemuan dengan sang kekasih.

Semakin mendekati bangunan kastil berwarna abu-abu itu, langkah sang pria justru diperlambat. Ia berbelok menjauhi gerbang utama. Tentu saja ia ingat betul bahwa kastil itu bukan tempat yang tepat untuknya dan karenanya ia harus melewati jalan lain agar tidak tertangkap penjaga. Ia melangkah masuk ke taman kastil lewat sebuah lubang di pagar batu yang tidak disadari keberadaannya oleh para penjaga. Dengan segera dirinya tiba di taman belakang kastil. Ke arah taman itulah jendela sang kekasih menghadap. Sang pria dapat melihat sosok seorang wanita di balik tirainya, yang sayangnya belum menyadari keberadaannya.

Diambilnya kerikil yang banyak terdapat di taman itu dan dilemparkannya hingga mengenai kaca jendela sang wanita. Mendengar suara yang ditimbulkan kerikil itu, sang gadis membuka daun jendelanya dan melongok ke bawah.
"Franz?" ia tampak terkejut. "Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" tanyanya. Ia tidak menyangka kekasihnya akan datang.
"Oh, Louisa..., tolong bukakan pintunya untukku," pinta Franz. "Izinkan diriku masuk ke tempatmu."
Louisa menunjukkan wajah ragu sesaat, lalu ia menggeleng. "Maafkan aku, Sayang, aku tidak mungkin melakukannya. Kau tahu ayahku mengawasi semua tempat malam ini. Aku juga tidak mungkin keluar dari kamar ini. Sebuah palang besi mengunci pintunya dan kuncinya tidak ada padaku."
"Ayolah, Louisa, kau tahu di luar sini sangat dingin. Apa kau tega membiarkan diriku berdiri di bawah cahaya bulan di tengah angin yang beku seperti ini sepanjang malam?" kata Franz terus membujuk.
"Kurasa... aku ada ide...," sesaat wajah sang gadis berubah cerah, "ah.., tidak.. hal itu tidak mungkin dilakukan," katanya tertunduk kecewa.
"Sayang, katakan saja idemu. Percaya padaku. Jika kau membukakan pintu bagiku malam ini, maka pagi tidak akan cepat datang seperti biasanya."
 Masih dengan wajah ragu, Louisa berbalik membelakangi jendela lalu menghilang pergi. Franz nyaris putus asa dan menyerah pergi ketika tiba-tiba gadis itu muncul lagi sembari melempar sesuatu keluar jendela. Kain beraneka warna menjuntai panjang dan sambung-menyambung terikat kuat di samping tempat tidurnya. Kain itu dibuatnya dengan mengikat tirai, kain penutup tempat tidur, berikut gaun-gaun dan selendang yang dimilikinya.
"Naiklah dengan kain itu, Franz!" serunya. "Cepatlah, sebelum penjaga menyadari keberadaanmu!"
Dengan cepat namun berhati-hati, Franz menggunakan untaian kain yang menjuntai ke bawah itu untuk memanjat ke kamar Louisa. Beberapa saat kemudian, ia tiba di jendela gadis itu.
"Teruntuk Franz-ku yang pemberani," dikecupnya kening kekasihnya itu setelah sebelumnya menarik kembali untaian kain panjang yang terikat pada tiang tempat tidurnya itu agar penjaga tidak melihatnya.
"Terima kasih untuk kekasihku yang telah membukakan pintunya untukku," Franz membalas Louisa itu dengan mengulum bibir gadisnya itu sebanyak tujuh kali.
"Berterima kasihlah pada malam yang dingin di luar sana. Kekejamannya telah membuatku tidak tega membiarkanmu berdiri di luar sepanjang malam," kata Louisa.
 * * *
Fajar mulai merekah di ufuk timur. Seekor burung kecil yang bertengger di dahan pohon linde tepat di depan kamar Louisa berkicau merdu menyambut pagi. Gadis itu terbangun dan tersadar bahwa ia telah lupa menutup jendela kemarin malam. Meski demikian, ia tidak peduli. Apa yang dialaminya sepanjang malam adalah suatu hal yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Diliriknya Franz yang masih terlelap di sampingnya. Lengannya yang kuat masih mendekap erat dirinya. Dibisikkannya rasa terima kasih dalam hatinya. Terima kasih pada malam yang dingin.


by LV~Eisblume
a story inspired by Faun's song titled "Diese Kalte Nacht" from the album "Von den Elben" and my sister's story titled "The Lady's Wedding".
 

 
 

 

15.11.12

Kepulangan Kerudung Merah


Berbulan-bulan sudah Ibu menanti kepulangan anak semata wayangnya. Ia masih ingat hari itu, ketika anak gadisnya berpamitan ke rumah Nenek. Ia ingat betul pakaian yang dikenakan anaknya, sebuah jubah merah berkerudung dari wol yang dijahitnya khusus bagi anaknya itu. Kerudung Merah, demikian orang memanggil anaknya karena pakaian yang selalu dikenakannya tersebut. Pada hari itu pergilah Kerudung Merah ke rumah Nenek. Ibu telah berpesan sebelumnya, agar gadis itu menjauhi hutan dan terutama seekor serigala yang tinggal di sana. Namun, entah apa yang terjadi, sejak hari itu Kerudung Merah tidak pernah pulang.

Hari ini adalah ulang tahun Kerudung Merah. Sejak pagi Ibu sudah bangun dan membersihkan rumah. Ia menyiapkan banyak makanan lezat, termasuk kue cokelat dengan ceri dan krim kesukaan anaknya itu. Ia melakukan semuanya, seolah Kerudung Merah masih ada dan tinggal bersama dengannya. Ketika semua telah siap, terkejutlah Ibu karena telah melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Astaga! Aku lupa, kau sudah tidak ada, Kerudung Merah," bisiknya lirih dalam hati. 
Ia meletakkan sapu yang dipakainya untuk membersihkan lantai di sudut ruangan, kemudian beranjak menuju jendela. Dipandanginya keluasan hutan di luar sana.
"Oh, anakku, Kerudung Merah. Di mana pun kamu berada, juga kalau kamu telah di surga, kamu akan selalu tahu bahwa aku selalu mengingatmu," katanya, seolah menyampaikan pesannya pada angin dan berharap pesan itu akan terbawa masuk ke dalam hutan.
Ibu terus berada di situ sembari membayangkan berbagai kenangan yang dialaminya bersama Kerudung Merah. Ia teringat masa-masa ketika keduanya hidup bersama dengan damai di pondok bersama-sama. Tanpa sadar Ibu tertidur bersandar di bingkai jendela.

* * *

Mentari terbenam di ufuk barat, membawa kegelapan meliputi hutan. Sesosok bayangan kecil berjalan mengendap-endap ke arah pinggir hutan. Di tangannya ada sebuah obor yang apinya menyala-nyala. Di balik cahaya api terdapat sosok bayangan lain yang lebih besar mengikuti bayangan kecil.
"Sssh.. jangan berulah ya, ada seseorang yang akan kukenalkan," kata bayangan kecil itu dalam bisikan.
Bayangan besar mengangguk-angguk menurut pada isyarat tangan yang dibentuk bayangan kecil. Perlahan-lahan keduanya mendekati pondok di tepi hutan, tempat Ibu tertidur bersandar pada bingkai jendela. Bayangan kecil segera mengenali sosok Ibu. Ia berlari mendekati sosok itu dan menampakkan wujud aslinya, Kerudung Merah. 
"Ibu! Bangunlah! Anakmu sudah pulang!" serunya menghambur ke arah wanita yang tertidur itu.
Ibu terbangun karena terkejut. Ia melihat sosok berkerudung merah dari matanya yang masih mengantuk, tetapi ia tidak bisa mengenali suaranya.
"Kaukah itu, Kerudung Merah? Anakku yang hilang itu? Mengapa suaramu berbeda??" tanya Ibu.
Ia berusaha membuka matanya lebih lebar. Dilihatnya sosok cantik jelita dengan rambut emas yang terurai di balik kerudung merahnya. Tidak ada lagi dua buah kepang yang menjulur di balik kerudung itu, seperti yang selalu ia buatkan jika Kerudung Merah hendak pergi ke luar. Tidak ada lagi bibir kecil yang menguncup. Bibir itu telah berganti dengan warna merah delima dalam bentuk lengkungan kecil yang manis. Tidak ada lagi tubuh yang bulat dan mungil, hanya ada sosok molek seorang gadis dewasa yang ramping. Ketika keterkejutan Ibu belum berakhir akibat sosok cantik itu, muncullah sosok lain yang besar yang sedari tadi mendampingi Kerudung Merah. Sosok itu menampak diri sebagai seekor serigala abu-abu besar dengan kuku dan taring yang tajam. Mata kuningnya tiada henti memandang Kerudung Merah, bukan tatapan hendak memangsa, tetapi sebuah tatapan penuh cinta yang hangat. Ibu tidak bisa berkata-kata menyaksikan pemandangan sore itu.
"Selamat sore, Ibu tersayang," kata gadis itu dalam suara merdu layaknya seorang wanita. "Aku telah menjadi dewasa sekarang."
by LV~Eisblume
16.11.12
for my birthday 

 
 
 
 

7.10.12

Ketika Aku Berteduh di Bawah Payung Seorang Diri

"Besok acaranya apa?" tanyamu di sela-sela penjelasan pembicara dari seminar kritik film dalam sebuah acara kampus yang diselenggarakan jurusanku.
"Paginya seminar, lalu malamnya ada musik. Aku pengen banget nih nonton musiknya, ada Payung Teduh lho," kataku dengan bersemangat.
"Ah, kalau besok aku nggak bisa. Banyak tugas," jawabmu sembari mengalihkan pandangan.
"Tugas? Tugas apa?" tanyaku kecewa.
"Ya pokoknya banyak tugas, misalnya ada bersama-sama kamu," lalu kau cubit hidungku seperti biasa. Aku tertawa tersipu-sipu. Kamu bisa aja, pikirku.

*  *  *
Percakapan itulah yang kuingat sepanjang hari ini, sebelum akhirnya aku yakin bahwa hujan akan turun malam ini. Keyakinan itu muncul, ketika kubaca pesan singkatmu sebagai balasan pertanyaanku akan keberadaan dirimu siang ini.
"Udah pulang, udah di rumah,"
"Kok nggak bilang kalau mau pulang?"
"Aku buru-buru, Sayang," jawabmu disertai titik dua bintang, favoritku yang kini terkesan seperti usahamu mengganggap tak ada hal yang salah.
Kubiarkan pesan singkatmu di kotak masuk tanpa balasan. Kau harusnya tahu, betapa kecewanya aku. Kata-katamu kemarin, sekalipun nadanya bercanda, cukup membuatku berekspektasi akan sesuatu yang kini terlampau jauh untuk diharapkan.

* * *
Auditorium Gedung 9 FIB UI masih sepi ketika aku masuk ke sana dan mendapati dua orang temanku telah duduk di tempat favorit kami. Namun, tepat sebelum band yang kutunggu tampil, auditorium perlahan-lahan terisi penuh. Sorot lampu aneka warna yang tadinya berdansa kini mulai meredup dan fokus ke tengah panggung. Cahaya kuning temaram memang sengaja disiapkan panitia untuk membangun suasana. Beberapa saat kemudian, masuklah empat personil band bersama alat musik masing-masing. Mereka menempatkan diri di atas panggung dan mengalunlah lagu pertama.

"Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang malam ini. Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya..."

Semua orang riuh rendah bertepuk tangan, tapi aku tidak. Benakku sibuk memainkan memori. Lirik itu seperti sesuatu, sesuatu yang pernah kudengar. Tidak persis, tapi senada. Baris-barisnya mengingatkanku pada puisi-puisimu yang menghiasi hari-hari di awal cerita kita. Kata-kata yang kudengar saat aku dan kamu baru menjadi kita. Betapa aku ingin mengenangnya bersamamu, bukan seorang diri seperti ini. 

Kupandangi sekitar. Kedua temanku yang duduk setingkat di bawahku tertawa-tawa sembari menikmati lagu-lagu yang mengalun. Bahkan seolah mereka tidak sadar akan keberadaanku. Diiringi kata demi kata dalam lirik, aku kembali tenggelam dalam kesepian.

"Malam jadi saksinya. Kita berdua di antara kata. Yang tak terucap ....
Mungkinkah kita ada kesempatan. Ucapkan janji takkan berpisah selamanya."

"Sayang, kamu inget nggak?" 
"Inget apa?"
"Itu lho, waktu kita kejebak hujan di payung gedung satu,"
"Ah, ya, haha..., aku inget dong,"
"Hihi.. waktu itu kita 'kan masih zaman galau-galau gitu. Ngomongin perbedaan, takut kalau nanti di masa depan kita nggak bisa nyatu karena beda agama," 
"Hehe...iya, tapi tenang aja, siapa yang tahu masa depan? Jalanin aja dulu,"
"Iya, kamu bener. Harapan itu selalu ada kok,"

Ah. Aku tersentak dari lamunanku. Tanpa sadar, benakku telah memainkan kata-kata, membuat seolah-olah aku sedang bercakap-cakap denganmu karena kenangan yang dibawa lirik lagu ini. Aku kembali melihat sekeliling, menatap keramaian yang membawa sepi untukku. Kukirim lagi pesan singkat, berharap kamu membalasnya untuk sedikit mengusir rasa sepiku.
"Coba kalau kamu di sini sekarang, kapan lagi coba Payung Teduh tampil sore. Biasanya 'kan mereka selalu disimpan buat malam, dan aku nggak selalu bisa pulang malam :'( " tulisku.
Hanya berselang beberapa menit, kuterima balasanmu. Dengan mencuri-curi kesempatan ketika sang vokalis sibuk berinteraksi dengan penonton, kubaca pesan singkatmu.
"Bolehkah saya menyimpan maaf dari kamu sebab hari ini?"
Ah, teganya dirimu, Sayang. Meminta maaf dengan bahasa yang sedemikian menyentuh. Rupanya menghubungimu bukan ide bagus. Aku malah jadi semakin sedih. Mengapa aku harus jahat membuatmu merasa bersalah? 

Lagu terhenti sesaat. Seseorang membuka pintu samping auditorium. Sepertinya panitia bagian keamanan yang hendak bertukar jaga. Samar-samar kudengar suara alam berbisik lewat udara. Hujan. Hujan yang deras terlihat dari balik pintu auditorium ketika ia terbuka. Rupanya langit sedang menangis di luar. Kualihkan pandanganku kembali pada band yang sedang bermain di atas panggung. Aku masih ingin berteduh, karena kurasakan isyarat hujan lain yang hendak turun.

"Aku cari kamu. Disetiap malam yang panjang. Aku cari kamu. Kutemui kau tiada..."

Lirik lagu ini, sungguh menggambarkan perasaanku sekarang, asal kamu tahu. 

Lalu teman-temanku yang duduk di tingkat bawah, seolah dengan sengaja menoleh padaku dan berbisik di tengah alunan suara sang vokalis yang menenangkan. 
"Mana dia? Kok dia nggak datang?" tanya salah satunya.
"Dia nggak datang, dia sibuk kerja," jawabku tanpa berani memandang kedua temanku. 
"Ah, sayang banget ya dia nggak ada. Padahal kalau mau nonton band ini 'kan harus ada dia. Ah.. sayang banget...," kata yang lain sambil mengguncang-guncangkan tanganku. 
Kembali kualihkan pandangan, tapi yang kutemukan lebih menyakitkan. Teman lain yang duduk di sisi kiriku sedang asyik mesra dengan kekasihnya. Ah, beruntung sekali dia, menikmati lagu-lagu seindah ini berdua dengan yang terkasih. Memandang mereka hanya menambah kesepianku saja. Sekali lagi hati ini menegaskan kalau ia menginginkanmu, di sisiku, sekarang.

"Aku ingin berjalan bersamamu. Dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua denganmu. Diantara daun gugur...."

"Kamu tahu nggak, kenapa aku manggil kamu "Ritter"?" tanyaku suatu hari.
"Nggak, kenapa?"
"Karena Ritter itu bahasa Jermannya ksatria. Kamu itu seperti ksatria buat aku, dan aku wanitanya. Kamu 'kan suka nulis dan bacain puisi buat aku, seperti ksatria-ksatria di abad pertengahan yang suka nyanyi di bawah jendela kamar wanita yang dicintainya. Tapi karena biasanya cinta di antara mereka itu terlarang karena sang wanita sudah dijodohkan, wanitanya akan turun diam-diam dari balkon, terus mereka ketemu berdua di bawah pohon Linde. Pohon Linde itu kalau di Jerman jadi simbol cinta," jelasku.
Kamu tersenyum, lalu melanjutkan, "aku mau dong, berdua sama kamu di bawah pohon Linde."

Bayangan percakapan itu menghilang perlahan, larut dalam riuh rendah tepuk tangan penonton yang membahana. Kedua temanku ikut serta, selagi aku menarik diri. Aku mundur ke belakang, tak ingin melihat keramaian itu. Hujan turun, membasahi pipi kiriku terlebih dahulu. Konon katanya, kalau air mata menetes dari mata kiri terlebih dahulu, artinya tangis itu sedih. Mungkin aku berlebihan dengan ini, karena banyak temanku yang toh sedang sendiri tetapi tetap bahagia. Mungkin aku berlebihan, karena toh kamu selalu ada di hari-hari biasanya. Mungkin aku berlebihan, tapi entah mengapa aku merasa kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi.

Masih dalam gelap aku menyingkir, pergi dari keramaian yang membawa sepi. Hujan masih turun di luar, namun aku tak ingin peduli. Kembali kulanjutkan malam ini dengan berteduh di bawah payung seorang diri, sambil melangkah dalam perjalanan pulang.



by LV~Eisblume
07.10.12
based on a true story~
ditulis dalam rangka proyek #UIMenulis dari @NBC_UI 


10.5.12

Kambing, Domba dan Serigala


Sama seperti hampir seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
                Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku di tengah kegiatan makan rumputnya.
                “Nona, aku mau mengaku,” katanya.
                Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
                “Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,” ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
                “Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
                “Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
                “Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
                Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak, mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur, bagaimana jika ada spesies lain?
                “Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
                “Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat yang lebih banyak rumput.
***
                Siapa sangka pada hari selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
                “Nona, apa kamu mau dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
                “Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
                “Kemarin... kambing gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,” katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan membisikkan sesuatu.
                Aku langsung melotot dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
                “Iya, jangan bilang siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami tahu.”
                “Uh, baiklah, kalian merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
                “Hmm... ide yang bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
                Maka pada hari-hari selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga. Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku. Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
                Aku duduk mengamati ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya, lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku yang berada dekat dengan hutan itu.
                Hari beranjak sore dan aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
                Aku tengah berjalan santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan dari kejauhan.  Anjingku menggonggong tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi sesuatu di sana.
                “Ada apa, Hundie?!” aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang lain.
                “Oh, tolonglah, di mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
                Tapi, di mana domba betina kecil itu???
* * *
                “Tidak, sesuatu pasti terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik. Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah hutan.
                Hutan itu. Ya, hutan itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik. Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan kekasih barunya.
                Hundie duduk di sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu. Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
                Aku kembali ke peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
                Setengah jam sudah aku memasuki hutan tanpa  tanda-tanda domba kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
                Angin dingin berkesiur tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga rumah itu.
                “Kreeet...,” terdengar suara pintu dibuka.
                Aku dan Hundie melompat masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah. Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
                Seorang bapak tua berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai kalung logam.
                “Aku akan pergi, “ katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping sang wanita.
                “Lagi?” tanya wanita itu.
                “Ya, kau tahu aku siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
                “Baiklah. Tunggu sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
                “Kompas leluhur kita. Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
                Sang pengembara berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana. Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
                Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil di dalam hutan itu?
                Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu, aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia. Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut sedih menyaksikan duka si kambing muda.
                “Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
                “Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha menyembunyikan kejadian tadi sore.
                “Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu. Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
                “Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng kuat-kuat.
                “Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi, nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
                “Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
                “Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau aku menanyakan pertanyaan itu.
                “Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
                “Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
                Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
                Aku menggeleng pelan.
                “Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius. Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
                Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu katapun luput dari telingaku.
                “Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan aktivitasnya. Mereka ...,”
                “... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
                “Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
                Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan. Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
                “Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka? Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan keindahannya di sana,” kataku.
                “Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan yang benar,” jawab ayahku.
                “Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana, juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak saudagar penjual kain itu.  Katanya mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
                “Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku meninggikan suaranya.
                “Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
                Ayahku melayangkan tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
                “Sudah, Yah... biarkan saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
                Ayah diam, tangannya diturunkan namun masih memandangku dengan marah.  Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing. Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan kekasihku...
                Pandangan kualihkan pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
                Tiba-tiba kambing mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
                “Hei..., hei..., ada apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
                “Dia pulang...,” jawab kambingku kegirangan.
                “Dia siapa?” aku bingung.
                “Domba cantik,” jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi. Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
                “Nona..., nona..., aku pulang!!” serunya girang.
                “Hei.., domba kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang selamat.
                “Aku akan cerita pada Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
                Dan malam itu, aku meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak terduga.
                “Kemarin aku sedang merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga. Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
                “Ceritakan padaku, apa yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
                “Hmm.. baiklah. Dia bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
                “Hmm... aneh, tapi menarik ya...,” aku bergumam.
                “...lalu si ibu adalah wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat? Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
                “Cerita yang sangat menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
                “Apa maksud Nona? Aku tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
                “Serigala itu musuhnya domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
                “Tidak, tidak mungkin. Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri dari laranganku.
                “Tidak, kau tak akan ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala! Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
                “Jangan larang aku, Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku. Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh dariku. Seperti menjaga jarak.
                “Kau.. domba.. kau akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu, kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
                “Terserah apa kata Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
                Tidak. Dia kabur lagi. Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku harus mengejarnya.
                Aku berlari melintasi padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
                “Oh, tidaaaaaakkk....,” aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
                Aku terduduk lemas sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
                Lolongan serigala terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya begitu besar.
                “Domba itu milikku. Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku terdiam. Sunyi.
***
                “Hei, sampai kapan kau mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang membawa palu dan pedang.
                “Oh..., hai..., halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di mana serigala tadi?” tanyaku.
                “Sudah kusuruh pulang dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal  kalau sama orang asing,” jawabnya.
                Langsung kusadari bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya. Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
                “Aku tadi sedang bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu dari desa bangsa itu ya?”  ia menunjuk kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
                Aku mengangguk. “Tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
                “Aku mengerti,” katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya. Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.