Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

23.5.14

Melepas Dirinya

Dari balik tiang, Sang Ksatria memandangi sosok mungil dalam balutan gaun biru itu. Putrinya, kekasihnya, seseorang yang telah menjadi pengabdiannya selama bertahun-tahun, tengah berdiri dikelilingi para dayangnya yang sibuk merapikan rambutnya. Diamatinya rambut coklat tua yang kini terikat dalam kuncir kuda, berayun-ayun lembut seiring dengan gerakan tubuh mungil Sang Putri. Sebelumnya ia tak pernah mengikat rambutnya demikian. Sang Putri selalu berkuncir setengah atau membiarkan rambutnya terurai bebas. Dan pada saat itulah sang ksatria akan mengagumi kecantikannya. 
"Tunggu sebentar," ujar Sang Putri pada dayang-dayangnya untuk menghentikan aktivitas mereka. Kemudian ia berjalan mendekati tiang, tempat Sang Ksatria berdiri mengamatinya dalam sunyi.
Sang Ksatria tidak menghindar atau membela diri. Dengan berani ia keluar dari persembunyiannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sang Putri bertanya. "Masih adakah sesuatu yang ingin kau katakan? Tidakkah kau baca suratku semalam?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya," jawab Sang Ksatria.
Sang Putri hanya tersenyum memaklumi. Ia tidak melarang, atau memarahi ksatria malang itu. Ia sadar bahwa keduanya pernah memiliki masa lalu yang indah bersama-sama, yang sayangnya tidak berlanjut lagi.
"Tinggalkan aku berdua dengannya," pinta Sang Putri kepada para dayangnya. 
Dalam beberapa detik, hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu, bersama kesunyian panjang di antara mereka.
"Maaf untuk keputusanku," suara lembut Sang Putri memecah kesunyian, berharap ia tidak terlalu menyakiti hati seseorang yang telah berbagi hati dan jiwanya selama bertahun-tahun. 
"Ya, apa lagi hal yang bisa kukatakan, Putri, selain menerima maafmu. Inilah risiko yang harus kutanggung sebagai ksatriamu," jawab Sang Ksatria, berusaha berbesar hati dan rela, namun suaranya yang seperti tertahan tidak mampu menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya.
Mengapa Sang Putri tega berbuat demikian? Bukankah dirinya yang selalu ada dalam hari-hari kesepian Sang Putri? Bukankah ia yang selalu menjadi tempat berbagi dalam suka dan duka? Apakah kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Sang Putri mencampakkannya seperti ini?

Pandangannya menerawang ke pemandangan padang rumput yang tampak dari jendela kastil. Ia teringat pada suatu hari yang mereka habiskan di bawah pohon Linde. Salah satu hari ketika pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik.
"Aku akan pergi ke negeri yang jauh. Telah kudaftarkan diriku untuk pergi bersama rombongan ksatria kastil ini," ujar Sang Ksatria pada hari itu.
Sang Putri hanya terdiam lama. Tatapan matanya mengisyaratkan kecemasan dan kekecewaan. Ia menarik nafas berkali-kali, seolah mengumpulkan kekuatan atau menyusun kata-kata dalam benaknya.
"Mengapa tak kau bicarakan denganku? Akankah kau meninggalkan diriku berhari-hari tanpa kabar dan membiarkanku dalam kecemasan akan bahaya yang kau hadapi di negeri-negeri nan jauh itu?" kata Sang Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kesempatan ini tidak datang dua kali. Sudah sejak lama aku menginginkannya," Sang Ksatria bersikukuh meyakinkan kekasihnya.
"Tapi tidak bisakah setidaknya kau bicarakan itu denganku dulu?" Sang Putri tertunduk sedih.
"Percayalah, ini akan jadi sesuatu yang baik. Aku pergi untuk menyiapkan segalanya, sehingga nanti aku pun dapat membawamu melihat negeri-negeri yang jauh itu," kata Sang Ksatria.
Sang Putri tersenyum kecil. Ia sedikit terhibur, meski jauh di dalam hatinya, ia sungguh tidak rela. Bukan karena ia takut ksatrianya akan menemukan putri lain di negeri yang jauh. Bukan karena ia takut ksatrianya tak akan mampu melewati berbagai bahaya dan rintangan di sana. Tapi karena ia merasa sudah terlupakan oleh Sang Ksatria. Ia merasa tengah menjadi sebuah mainan yang hanya diletakkan di sudut ruangan, tak dipedulikan ketika Sang Ksatria mengambil keputusan untuk memiliki sebuah kesenangan baru. Sudahkah kekasihnya lupa, bahwa cinta baginya adalah waktu dan perhatian, bukan ajang pamer kehebatan atau hujan hadiah?

Lalu berangkatlah Sang Ksatria bersama rombongan ksatria kastil itu. Dengan gagah ia menunggang kuda unggulannya yang berderap meninggalkan negeri itu. Pada tombak yang dibawanya terikat kain biru bunga Kornblume, warna simbol Sang Putri. Sang Putri berdiri dekat pintu kastil, melambai-lambaikan sapu tangan dalam warna yang sama. Bibirnya mengucap doa, berharap ksatrianya akan kembali.

Hari berganti hari, namun Sang Putri tak kunjung melihat sosok yang dicintainya kembali berkendara menuju kastilnya. Ia termenung di dekat jendela, memandang bayangan biru dari puncak-puncak gunung di negeri yang jauh. Berulang kali ia tanyakan pada kurirnya, adakah surat dari sang kekasih. Mula-mula surat itu datang, namun kemudian tidak lagi. Sang Ksatria seperti hilang tanpa jejak, meninggalkan Sang Putri dalam kesepiannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Sang Raja mengetuk pintu kamar Sang Putri dan membawa kabar.
"Putriku, mau sampai kapan kau bersedih demikian? Ikutlah bersamaku. Aku akan mengadakan kunjungan ke Kerajaan Utara," ujar Sang Raja.
Sang Putri menoleh mendengar ajakan Sang Raja. Ia tak suka bersosialisasi. Baginya Sang Ksatrialah satu-satunya orang yang mampu menghibur dan menyenangkan dirinya. Tetapi kemudian ia memandang jendela. Ia tahu Sang Ksatria masih mencintainya, tetapi mungkin dengan caranya sendiri dan bukan dengan cara yang diinginkannya. Tak ada salahnya mengikuti ajakan ayah, demikian ia berpikir. Mungkin ia akan mendapat teman. Lagipula sudah lama ia tertarik dengan kehidupan di Kerajaan Utara yang penuh kedamaian dan kemakmuran. Dan di sana tinggal seorang pangeran, sahabat lamanya, yang sudah lama tak berhubungan dengannya.

Maka berangkatlah Sang Raja dan Sang Putri dengan kereta kuda menuju Kerajaan Utara, tempat Sang Pangeran yang terkenal dengan kehebatan ekspansinya tinggal. Mereka dijamu dengan makanan laut khas negeri itu. Meski kedua kerajaan tersebut seringkali bermusuhan, Sang Pangeran tampaknya sangat ramah, khususnya kepada Sang Putri. Sang Putri merasa bahagia, seolah-olah menemukan penghiburan atas kesepiannya.
"Aku terpikir untuk membawamu tinggal di sini," ujar Sang Pangeran suatu hari, ketika ia dan Sang Putri tengah berlayar di salah satu fyord yang menjadi kenampakan alam khas Kerajaan Utara.
"Sungguhkah itu, Pangeran? Engkau tahu kita berbeda bangsa, dan seringkali berada pada pihak yang berlawanan," Sang Putri tampak tak percaya.
"Tidak masalah bagiku. Dengan bangsamu aku sudah terbiasa hidup bersama selama tahun-tahun belakangan ini. Lagipula kau adalah pengecualian bagiku," jelas Sang Pangeran.
Sang Putri tampak bahagia mendengarnya. Sembari menatap keindahan fyord yang ditunjukkan Sang Pangeran, ia banyak menceritakan tentang mimpi-mimpinya. Sang Pangeran berdiri di sampingnya, memainkan rambut panjangnya yang pada saat itu diikat kuncir kuda.
"Sesungguhnya aku sangat senang melakukan perjalanan. Namun aku tanpa daya untuk melakukannya. Aku terkurung dalam kastil dan tak bahagia. Hatiku ingin menyaksikan negeri-negeri yang jauh dengan alam yang indah," ujar Sang Putri.
"Mungkin kita bisa pergi bersama? Mintalah izin ayahmu dan kita akan pergi bersama menyaksikan negeri-negeri yang jauh," kata Sang Pangeran.
"Mungkinkah itu? Aku ingin sekali pergi berlayar dengan kapal panjang seperti milikmu ini," Sang Putri berandai-andai.
"Kita akan mengusahakannya bersama-sama. Membangun kapal panjang untuk berdua dan melihat negeri-negeri yang jauh bersama-sama. Dan kau tak perlu khawatir tentang hidup di sini. Aku tak akan memaksamu bertanggung jawab atas bagian dapur atau berlatih menjahit. Di Kerajaan Utara kau bisa setara denganku," kata Sang Pangeran.
Sang Putri tersenyum senang. Ia seperti menemukan  kebahagiaannya lagi. Sungguh tidak disangka, bahwa ia dan Sang Pangeran memiliki banyak impian yang sama. Sang Raja pun tak berkeberatan. Ia siap mengizinkan Sang Putri untuk menikahi Sang Pangeran dan tinggal di Kerajaan Utara. Dan hari ini adalah hari ketika Sang Putri akan berangkat ke tanah Sang Pangeran dan menyongsong mimpi-mimpinya.
"Begitukah, Putri? Kau lebih memilih Sang Pangeran dibanding diriku? Tak bisakah kau setia selagi aku pergi menjelajah negeri-negeri yang jauh?" tanya Sang Ksatria.
"Aku sudah mencoba. Bukan aku tak setia menunggumu. Aku hanya ingin dilibatkan dan diajak serta. Aku tak ingin kau tinggal di belakang, menunggumu mengejar kesenanganmu, dengan alasan aku akan diajak serta suatu hari nanti. Itu hanya pembenaran darimu. Sejak awal aku tak pernah menyukainya, bahwa kau bertualang seorang diri tanpa membawaku. Aku menginginkan seseorang, yang dengannya aku dapat berbagi dan membangun mimpi bersama-sama. Karena pada akhirnya, seseorang yang mengajakku ikut serta akan menang atas seseorang yang mengejar kesenangan hanya untuk dirinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, maafkan aku dan biarkan aku pergi," ujar Sang Putri, jauh dalam hatinya masih ada sedikit rasa bersalah yang terselip akibat ketidakmampuannya menunggu hingga Sang Ksatria pulang.
"Kau seperti tidak mengerti perasaanku," kata Sang Ksatria tertunduk sedih.
"Maafkan aku," sang Putri berkata pendek.
Sang Ksatria mendesah. Ia sadar, sudah saatnya ia melepas Sang Putri pergi. Mungkin memang ia ditakdirkan untuk terus-menerus berkorban bagi Sang Putri. Bersama dengan itu terdengar suara derap langkah kaki kuda dari jendela kastil. Kereta kuda yang akan mengantar Sang Putri telah tiba. Dayang-dayang kembali masuk ke ruangan untuk mengantar Sang Putri menuju kereta kuda itu. Sang Ksatria mengikuti mereka di belakang.
"Selamat tinggal," ujar Sang Ksatria, nyaris dalam bisikan.
"Selamat tinggal. Semoga kau berbahagia meski tanpa diriku,"  balas Sang Putri, yang kemudian melangkah masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintu selamanya dari Sang Ksatria.
by Frouwelinde
24.05.14
for my confession about life 
 
 
 
 
 
 

25.4.14

Dongeng Peri Clairessa (3 - end)

Dalam lentera yang dibawa sang rambut emas, Clairessa duduk dengan tenang. Pakaiannya berkilau-kilau indah begitu terang, seolah sinar mentari yang diserap pada tempo hari tak pernah habis untuk selamanya. Bersama sang rambut emas, ia mengarungi lautan menuju sebuah negeri di utara yang diketahuinya bernama Frozenland. Sang rambut emas tampak bosan dalam perjalanan panjang itu, sehingga dikeluarkannya Clairessa dari kotak lentera dan mulai mengajaknya berbicara, seolah-olah mereka dapat mendengar satu sama lain.
"Kuharap kau tidak keberatan kubawa pulang, peri cahaya," katanya. "Sejak aku melihatmu dalam gelap malam itu, kupikir kau akan cocok untuk membantu negeriku."
Clairessa tersenyum lebar dan bahagia. Ia berputar-putar menari di depan wajah sang rambut emas.
"Aku tak tahu apa kau mengerti yang kukatakan, peri. Tapi aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Eirik, hanya seorang petualang dari Frozenland yang penasaran dengan negeri tropis. Tak kusangka aku menemukan peri sepertimu. Kuharap aku tahu namamu," kata sang rambut emas.
"Clairessa!" seru sang peri, yang tentu saja tak akan terdengar. Namun Clairessa tidak peduli. Baginya, pergi dari Tropicalea sudah menjadi kebahagiaan.
"Kau tahu? Kau mengingatkanku pada periku yang dulu pernah kumiliki juga. Namanya Lysette. Mungkin ia peri cahaya tercantik di seluruh Frozenland. Tetapi tentu ia tidak akan bertahan selamanya. Mentari yang jarang datang telah mematikan cahayanya," ujar Eirik.
Clairessa mendengar kisah itu dengan prihatin. Frozenland tampaknya suatu kerajaan yang sangat malang. Ia teringat pada mentari yang membuat cahayanya berlimpah seperti sekarang. Dalam satu hari itu, nyaris tak ada sedikit pun waktu yang digunakan mentari untuk pergi menghilang, kecuali ketika ia berganti tempat dengan bulan. 
"Izinkan aku mengirimkan seberkas cahaya mentari negeri tropis ke Frozenland," Clairessa menjawab, meski ia tahu Eirik tak akan mendengar dirinya.
 Akan tetapi, pria berambut emas itu tampaknya mengerti. Karena kemudian ia tersenyum. Dimasukkannya kembali Clairessa ke dalam kotak lentera yang dibawanya.

Kapal merapat di pelabuhan Frozenland. Untuk pertama kalinya Clairessa menyaksikan sendiri negeri yang malang itu. Langit tertutup awan mendung, tak menyisakan celah bagi mentari untuk muncul. Salju turun perlahan, namun terasa lebih lebat ketika ditiup angin laut. Bongkahan-bongkahan es yang pecah mengambang di beberapa bagian laut. 

Eirik turun dari kapal. Clairessa ada di dalam lentera yang tergantung di jemarinya. Peri cahaya itu dapat melihat peri-peri lain yang berdiam sunyi dalam lampu-lampu penerang jalan di dermaga. Cahayanya biru, membeku seperti tak pernah mendapat asupan lagi. Semua peri itu menunduk. Namun ketika Clairessa lewat, kemilau tubuh dan pakaiannya yang gemilang memaksa para peri itu untuk memandang lebih dekat. Clairessa dapat melihat, peri-peri yang putih seperti pualam dengan rambut panjang yang diikat dengan cara berbeda dengan rambutnya mulai bersandar pada dinding lampu yang menatap jalanan pelabuhan. Ia ingin memberi salam pada mereka, namun ia tak mengerti bahasa peri Frozenland. Beruntunglah Clairessa, tampaknya para peri cahaya menerima dirinya. Mereka tersenyum memandangnya.

Eirik membawa Clairessa ke sebuah bangunan yang memiliki menara jam yang menjulang. Clairessa begitu terpesona memandang bangunan itu. Tidak pernah sekalipun ia melihat bangunan seperti itu di hutan. Mungkin bangunan semacam itu ada pula di negerinya, hanya saja ia belum sempat melihat karena ia tak pernah sungguh-sungguh mencapai dunia manusia di sana. Di dalam bangunan itu tampak suram. Clairessa melihat para peri cahaya lain yang menari begitu cepat di dalam perapian. Dengan kecepatan seperti itu tampaknya mereka tak akan mampu bertahan lama. Tetapi dalam dingin seperti ini pastilah mereka harus melakukannya. 

Seorang wanita, umurnya tampak belum terlalu tua, turun dari tangga dan menemui Eirik. Dari pakaiannya, Clairessa menebak bahwa ia memegang peranan penting. 
"Selamat pagi, Ibu Walikota," sapa Eirik. "Saya membawa sesuatu untuk Anda dan seluruh penduduk negeri ini."
"Katakan padaku, Eirik. Apa yang kau temukan dari petualanganmu?" tanya wanita itu.
"Seorang peri cahaya. Dalam lentera ini. Ia begitu terang namun hangatnya cocok untuk negeri kita. Mungkin ia bisa menggantikan para peri yang ada pada lampu plasa kota ini," jelas Eirik sembari menunjukkan lentera dengan Clairessa di dalamnya.
"Oh?!" sang wanita tampak begitu terkejut menyaksikan cahaya Clairessa. "Peri cahaya apa ini? Mengapa begitu cantik?"
"Aku mendapatkannya dari Tropicalea," jawab Eirik. "Dan tampaknya ia tidak keberatan jika kubawa ke sini, karena di sana ia kurang panas."
Ibu Walikota tampak bahagia. Seolah-olah ia sudah menemukan solusi bagi bencana musim dingin di negerinya, setidaknya untuk sementara. Ia mengajak Eirik untuk keluar dari bangunan itu dan berjalan menuju sebuah air mancur di tengah plasa yang terletak di depan balai kota. Air mancur itu membeku karena udara yang sangat dingin. Di puncaknya terdapat sebuah lampu yang sudah mati.
"Bisakah kau tolong aku memindahkan perimu ke dalam lampu itu?" pinta Ibu Walikota.
Eirik mengangguk menyanggupi. Dikeluarkannya Clairessa yang terbang dengan tenang mengikuti telapak tangannya menuju lampu di atas air mancur itu. Dan segeralah sumber cahaya baru memancar dari tengah plasa kota. Cahaya Clairessa yang begitu terang menerangi bagian utama kota itu, memaksa orang-orang untuk keluar, menyaksikan sendiri keajaiban dari negeri tropis yang baru tiba di Frozenland. Beberapa dari mereka mendekat untuk menghangatkan diri. Kehangatan Clairessa rupanya cukup untuk melelehkan sedikit demi sedikit air mancur yang membeku. Tak percaya akan keajaiban itu, Clairessa pun menangis bahagia.

* * *
Waktu berlalu. Bencana musim dingin di Frozenland telah berakhir, meski udaranya masih jauh lebih dingin dibandingkan Tropicalea. Clairessa masih bahagia membantu masyarakat di sana. Terlebih lagi karena dari tempatnya berdiri, di tiang lampu di atas air mancur balai kota, ia dapat menyaksikan laut yang dipenuhi kapal-kapal berlayar, berikut pegunungan yang menjulang di bagian timur kota itu. Mentari mulai muncuk kembali, sehingga Clairessa dapat menyerap cahayanya dan membuat dirinya terus menjadi terang, meski ketika musim dingin datang melanda. 

Suatu malam musim dingin, Clairessa tengah memperhatikan kota yang sudah sunyi dari orang-orang yang berlalu lalang ketika tiba-tiba disaksikannya suatu keanehan tampak di langit. Clairessa melihat cahaya, warnanya hijau kebiruan, seperti jatuh dari angkasa, namun tiada bintang yang menjadi sumbernya di sana. Ia menduga bahwa itu sepasukan peri cahaya Frozenland yang belum terlalu dikenalnya. Dugaan itu lenyap ketika Clairessa menyadari sesuatu. Cahaya hijau itu mampu diserap oleh tubuhnya! Ia memperhatikan sekitarnya. Tak ada peri lain yang melakukannya, entah mengapa. Clairessa tak peduli. Ia membiarkan cahaya itu jatuh dan menari, di atas langit yang menaungi plasa kota. Ia begitu bahagia merasakan pengalaman itu. Cahaya hijau itu, tidak sama dengan mentari, karena ia tidak hangat, namun tampak indah seperti warna zamrud.

"Peri cahaya?! Apa yang kau lakukan?!" terdengar suara familiar di telinganya. 
Clairessa menjauhi cahaya itu dan melihat ke arah sumber suara. Eirik berdiri di sana, dekat dengan air mancur dan sedang memperhatikan dirinya dengan wajah heran. 

"Lihatlah aku!" ujar Clairessa, lalu ia menari dan berputar, membiaskan cahaya hijau kebiruan yang baru saja diserapnya dari langit.
Eirik terpana melihat cahaya itu. Ia terkesima cukup lama, sampai kemudian berseru dengan senang.
"Penduduk Frozenland!! Kalian tak akan percaya apa yang akan kalian lihat! Sekarang kita punya lampu yang bercahaya seperti aurora!"
Beberapa orang mulai membuka jendelanya dan langsung terpana seperti Eirik. Anak-anak berlarian keluar dari rumah dan mendekati air mancur tempat lampu aurora itu berada. Clairessa terus menari, membiaskan cahaya itu hingga ke lekuk-lekuk arsitektur balai kota. Ia begitu bahagia melihat dirinya sekarang. Apa yang telah menjadi kelemahannya di negerinya, kini menjadi kekuatannya di negeri orang. Ia tak percaya akan apa yang telah terjadi padanya. Dan ia tentu lebih bahagia lagi, jika mengetahui bahwa ialah satu-satunya peri cahaya yang mampu membiaskan warna aurora borealis. Tidak hanya di Frozenland, tetapi juga di seluruh dunia. 

(Tamat)

Dongeng Peri Clairessa (2)

Setelah perjalanan panjang yang menegangkan, Clairessa tiba di tepi hutan. Meski cahaya tubuhnya begitu terang, ia berhasil mengelabui para penjaga Tropicalea dengan bersembunyi di balik dedaunan. Ia mencari-cari Lichta dan peri-peri lain. Namun bukan Lichta yang ia temukan, melainkan beberapa manusia yang datang memasuki hutan. Clairessa terpaku memandang mereka. Begitu besar dan gagah. Mereka mengenakan pakaian berlapis-lapis dan menggendong tas yang besar di punggung. Clairessa tahu semua benda-benda itu, karena meski dunianya berbeda dengan para manusia, ia telah mempelajari tentang mereka dalam buku-bukunya.

Sambil bersembunyi di balik dedaunan, Clairessa memperhatikan para manusia itu. Ketiganya pria, namun mereka tampak berbeda. Salah satunya berkulit sangat terang, putih seperti nyala tubuhnya. Rambutnya keemasan seperti warna pakaiannya, yang menyimpan cahaya mentari terlampau banyak. Ketiga manusia itu duduk di tanah. Salah satunya mulai menumpuk kayu di bagian tengah. Clairessa tahu apa yang harus ia lakukan. Manusia itu ingin membuat api unggun, dan para peri cahaya seharusnya hadir di sana untuk menghasilkan api dan menjaganya agar tetap menyala sepanjang malam. 
"Jangan gila kau, Clairessa! Mana mungkin kau bisa membuat api?! Panas saja kau tak punya," ejek Lichta yang tiba-tiba saja sudah terbang di belakangnya.
"Ah, tidak. Aku tidak akan melakukannya. Lagipula, belum saatnya kita di sana dan membantu mereka. Itu tugas para peri yang sudah resmi meninggalkan Tropicalea," ujar Clairessa.
"Buat apa menunggu mereka. Kenyataannya kitalah yang ada di sini dan kita sudah cukup pandai untuk melakukannya," kata Sonneia, dikedipkannya salah satu matanya ke arah Lichta.
"Kalian gila! Bagaimana kalau itu berbahaya?" Clairessa terdengar panik. Ia berusaha memperingatkan teman-temannya.
"Kau terlalu penakut. Aku yakin itu tidak masalah," kata Lichta, kemudian terbang meninggalkan Clairessa di balik pepohonan. Sonneia dan peri-peri cahaya lainnya menyusul di belakangnya.
Clairessa memilih untuk menunggu dan menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh para peri cahaya itu. Dilihatnya salah satu manusia itu tengah mengambil dua buah batu dan mulai menggosok-gosokkan keduanya. Ia tahu, bahwa gosokan dua batu adalah tanda bagi para peri untuk terbang mendekat dan membuat api di sekitar bagian batu yang bergesekan. Di saat itulah Lichta, Sonneia dan yang lainnya terbang menuju kedua batu itu. Mereka menari dan menari di sana, menciptakan percikan api yang berpijar kecil di antara keduanya. Batu itu didekatkan pada kayu, dan mereka terus menari dan menari hingga menciptakan api yang sangat besar. Lichta dan Sonneia begitu bangga akan pekerjaan mereka, yang tentu saja belum selesai, karena mereka harus mempertahankan api itu sampai pagi.

Jam demi jam berlalu. Lichta, Sonneia dan para peri cahaya pengikut mereka mulai kelelahan. Clairessa menyadari hal itu dari api yang mulai meredup. Dilihatnya ketiga manusia yang sudah tertidur tampak sedikit tidak nyaman. Berulang kali mereka menggosok-gosokkan telapak tangannya akibat dingin yang menusuk. 
"Tampaknya peri-peri cahaya yang membuat api kita tidak mampu bertahan lama," komentar salah satu dari mereka yang tiba-tiba terbangun akibat ketidaknyamanan itu.
"Belum apa-apa apinya sudah kecil, Payah! Padahal kayunya masih banyak," keluh yang lain.
"Ini belum apa-apa, teman. Di negeriku, Frozenland, jarang sekali kami memiliki malam hangat seperti ini. Terutama tahun-tahun belakangan ini. Para peri cahaya tidak mampu bertahan lama di bawah suhu dingin akibat sinar mentari yang mereka serap terlalu sedikit," ujar yang berambut emas.
Akhirnya Lichta, Sonneia dan para peri cahaya pengikut mereka tidak lagi mampu bertahan. Mereka terkulai lemas di sekitar kayu-kayu yang belum terbakar, lalu tertiup angin dan menghilang dalam gelap, menyisakan kabut tipis sebagai jejaknya, yang dikenal manusia sebagai asap. Para manusia tampak kecewa. Mereka bermaksud menyalakan api lagi. Di saat itulah Clairessa keluar dari persembunyiannya.
"Oh lihat, kawan!" seru salah satu manusia itu. "Ada peri kecil yang tersisa! Terang sekali cahayanya!"
"Mungkinkah ia bisa membuat api?" tanya yang lain.
"Aku tak yakin, karena ia seorang diri dan kecil. Tetapi cahaya terangnya bisa menyalakan lentera kita," kata yang berambut emas.
Pria berambut emas itu kemudian mengulurkan tangannya dan berusaha meraih Clairessa untuk disimpan dalam lentera. Tentu saja Clairessa sangat senang, karena ia setidaknya bisa membantu para manusia itu.
"Wah, aneh sekali! Aku bisa menyentuhnya tanpa merasa terlalu panas!" ujar yang berambut emas dengan nada senang.
"Masa sih? Bagaimana bisa? Peri cahaya 'kan panas sekali, apalagi yang berasal dari negeri ini," temannya tampak heran.
"Ya, aku baru saja menyentuhnya. Rasanya cukup hangat, mengingatkan aku pada hari-hari bermentari di negeriku," kata yang berambut emas mencoba meyakinkan.
"Kalau tidak salah kau pernah bilang, kalau negerimu sedang mengalami masalah cuaca. Mengapa tidak kau bawa saja lentera dengan peri cahaya ini. Kurasa cahayanya akan cukup membantu menerangi hari-hari gelap tanpa matahari yang kau katakan," usul salah satu manusia itu.
"Hmm.. kau benar juga,"
"Ya, betul sekali itu! Lagipula panasnya sepertinya akan cukup untuk orang-orang di negerimu yang tidak terlalu menyukai panas seperti bangsaku," timpal yang lainnya.
Si rambut emas tersenyum senang mendengar usul kedua temannya. Ia mengangguk-angguk penuh persetujuan. Dalam lentera, Clairessa menari bahagia. Tak ia sangka ia akan mengetahui kegunaan dirinya secepat itu. Bahkan saat ini ia semakin tidak sabar melihat negeri lain yang terdengar begitu jauh dari Tropicalea. Meski ia harus meninggalkan tanah kelahirannya, Clairessa tidak keberatan. Ia begitu senang memperoleh kesempatan menemukan dirinya kembali, dan mungkin, memperoleh teman yang sesungguhnya.

(bersambung) 

Dongeng Peri Clairessa (1)

Segala keajaiban alam di dunia ini dikerjakan oleh makhluk-makhluk kecil cantik yang tak kita sadari keberadaannya. Tak percayakah kau akan apa yang baru saja kukatakan? Sekarang cobalah pejamkan mata dan berhentilah melihat dunia dengan kedua mata di wajahmu. Mulailah melihat dunia dengan mata di hatimu dan mungkin kau akan melihat sesuatu yang tengah menjadi pemandanganku saat ini.

Aku melihat sebuah hutan hujan tropis yang hijau dan lebat di suatu lereng gunung. Di dalam hutan itu tumbuh beraneka jenis pohon dan tanaman yang batang dan dahannya besar-besar. Sulur-sulur hijau berjatuhan ke lantai hutan atau menghubungkan pohon demi pohon. Di sana-sini tampak bebungaan yang warnanya indah. Di hutan itu terdapat sebuah kerajaan peri, salah satu yang terbesar di dunia, yang bernama Tropicalea. Peri-peri Tropicalea mendiami celah-celah kecil di batang-batang pohon, tidur di atas helai dedaunan atau berdiam dalam kolam-kolam kecil di bawah air terjun yang mengaliri hutan itu. Di kerajaan itulah para peri yang masih muda tinggal dan belajar untuk kemudian pergi ke dunia luar untuk membantu pekerjaan alam dan manusia di negeri tersebut.

Clairessa adalah salah satu peri cahaya yang tinggal dan berlatih di Tropicalea. Sebagai peri cahaya, ia harus menyerap sedikit berkas cahaya mentari pada siang hari serta bulan dan bintang pada malam hari. Ketika ia dewasa, ia akan keluar dari Tropicalea dan menggunakan cahaya itu untuk membantu manusia. Peri cahaya akan tinggal dalam lentera-lentera dan lampu-lampu yang digunakan manusia untuk menerangi dunianya di malam hari. Ketika hari hujan atau dingin, peri cahaya juga membantu menghangatkan manusia. Semua peri cahaya selalu bersemangat menantikan hari ketika mereka cukup dewasa dan meninggalkan Tropicalea. Tak terkecuali Clairessa, yang sayangnya mempunyai sedikit masalah.

"Clairessa!! Bagaimana kau ini?! Berapa banyak cahaya yang kau serap tadi siang? Bahkan kau tak bisa menguapkan embun di daun ini! Bagaimana kau akan menghangatkan perapian di masa depan nanti?!" bentak Lumina, guru yang bertanggung jawab mendidik para peri cahaya kecil.
"Tapi, Bu... Aku, aku sudah berbaring seharian di bawah sinar matahari. Memang cahayaku tidak sehangat yang lain," Clairessa  mencoba menjelaskan.
"Aku tidak mau tahu. Sudah tugasku meluluskan semua peri cahaya untuk memasuki dunia manusia. Aku tidak ingin kau menodai keberhasilanku, Clairessa. Besok aku mau kau berbaring di atas daun yang paling puncak dan menyerap sebanyak mungkin sinar mentari. Kau mengerti?!" perintah Lumina. Tongkatnya diarahkan ke pucuk pohon tertinggi di hutan itu, yang terletak dalam wilayah Tropicalea.
"Baik, Bu," ujar Clairessa tertunduk sedih.
Demikianlah pada pagi berikutnya, Clairessa langsung terbang ke pucuk pohon yang dimaksud Lumina dan menjemput sinar mentari sejak detik pertama ia terbit. Ia berbaring sepanjang hari di sana, menyerap setiap sinar yang dipancarkan sang mentari. Clairessa tak ingin gagal. Ia selalu bermimpi melihat dunia luar, terutama dunia manusia yang selalu diidamkan para peri. Ia ingin menjadi berguna bagi para manusia dan tentu saja tidak ingin terjebak di Tropicalea untuk selama-lamanya, meski tempat itu indah. Lama ia berbaring di atas daun tertinggi di hutan itu sembari melihat pemandangan hutan yang luas nan hijau. Ia baru kembali ke Tropicalea ketika mentari terbenam.
"Mudah-mudahan besok aku berhasil, " katanya dalam hati.
Hari berganti kembali. Siang itu, semua peri cahaya berkumpul kembali di sebuah lapangan, di atas permukaan yang tersisa dari sebuah pohon tumbang. Clairessa ada di sana, juga beberapa peri cahaya lain yang setingkat dengannya. Pada mulanya ada kepercayaan diri dan harapan yang tumbuh dalam diri Clairessa setelah melalui hari sebelumnya dengan berbaring seharian di bawah mentari. Namun akhirnya perasaan itu lenyap, tatkala ia melihat bahwa peri-peri cahaya lainnya menatap dirinya dengan pandangan aneh dan mulai berbisik-bisik. Akhirnya, salah satu dari mereka angkat bicara.
"Oh, Clairessa, tidakkah kau berdandan terlalu berlebihan hari ini?" tanya Lichta, peri cahaya yang tercantik di kelompok itu. "Apakah kau ingin menyaingi aku?"
"Berdandan? Ah, tidak, aku sama sekali tidak memakai apa-apa hari ini," Clairessa tampak bingung.
"Lihatlah dirimu dan pakaian yang sangat berkilauan itu! Bahkan mataku silau dibuatnya!" ujar Sonneia sambil tertawa mengejek.
Dengan ragu-ragu dan malu, Clairessa memandangi tubuhnya sendiri. Cahaya kuning yang begitu terang terpancar dari tubuh dan pakaiannya. Tampaknya ia terlalu banyak menyerap sinar mentari kemarin hingga tubuhnya menjadi terlampau bercahaya. Dan kini peri-peri cahaya lain mulai menertawakan dirinya. Bahkan Lichta tampaknya menganggap bahwa ia terlalu mencari perhatian dengan cara yang berlebihan. Clairessa ingin sekali cepat-cepat pergi dan menghilang dari hadapan teman-temannya. Sayang sekali, Lumina keburu datang dan hendak memulai lagi latihan hari itu.
"Baiklah semua, hari ini aku ingin kalian menguapkan embun di dedaunan untuk mengetahui berapa panas yang kalian mampu pancarkan untuk menjadi peri-peri cahaya penghangat!" jelas Lumina tentang rencana latihannya hari itu.
Cahaya terang yang memancar dari pakaian Clairessa langsung tertangkap pandangannya begitu ia menyelesaikan penjelasan itu. Disuruhnya Clairessa untuk menjadi peri pertama yang melakukan ujian itu.
"Tampaknya kau menganggap perintahku dengan sangat serius, Clairessa!" katanya sembari menyuruh peri muda itu menghampiri salah satu daun berembun yang terletak tak jauh dari situ.
Rasa malu Clairessa seketika menghilang. Kini ia begitu percaya diri karena banyaknya cahaya mentari yang berhasil diserapnya kemarin. Dengan mantap ia melangkah mendekati daun itu dan berusaha mengirimkan panas dari tubuhnya.

Menit demi menit berlalu, namun daun itu tak kunjung kering. Embun di atasnya masih tenang dalam butiran-butiran dan tidak juga menguap. Lumina mulai melihat dengan tidak sabar selagi Clairessa mulai frustrasi dan kesal karena panas tubuhnya tidak mampu menguapkan embun itu.
"Buat apa pakaian sebercahaya itu jika tidak ada panasnya, Clairessa?!" tanya Lumina dengan kesal.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Saya rasa, memang saya tidak mampu menyimpan panas mentari seperti yang lainnya," Clairessa mulai merasa tidak tenang. Suaranya pelan dan seperti tercekat.
"Hahahaa... kasihan kamu, Clairessa! Peri cahaya tanpa panas tak akan berguna bagi manusia!" Lichta tertawa, diikuti oleh peri-peri yang lainnya.
Dengan malu dan sedih, Clairessa terbang meninggalkan tempat itu. Masih dapat ia dengar tawa teman-temannya yang begitu meremehkan dirinya. Ia tidak mengerti apa yang salah dari dirinya. Telah ia ikuti segala suruhan Lumina, namun tak juga berhasil. Mungkin memang dirinya ditakdirkan untuk menjadi tidak sepanas peri-peri lainnya, meski kini ia begitu bercahaya. Mungkin memang ia berbeda, meski ia tak tahu mengapa.

Clairessa kembali pada daun di pucuk pohon. Duduk di sana dan termenung hingga mentari terbenam lagi dan mendatangkan kegelapan. Ia hendak tidur ketika tiba-tiba ia terbangun oleh suara-suara bisikan yang ribut. Suara teman-temannya! Ia mengintip dari balik dedaunan dan mendapati Lichta, Sonneia dan beberapa peri lainnya tengah terbang di dekatnya dengan berbisik-bisik.
"Kau yakin ingin melakukan ini, Lichta?" tanya Sonneia.
"Oh ya, tentu saja! Buat apa menunggu sampai dewasa untuk melihat dunia luar! Kalian sudah tidak sabar, bukan?" tanya Lichta.
"Tentu saja!!!" sahut peri-peri cahaya yang lain.
 Clairessa terkejut mendengar apa yang direncanakan para peri itu. Berulang kali ia berpikir mengenai rencana yang sesungguhnya juga terdengar menarik untuknya. Tetapi bergabung dengan Lichta dan kawanannya bukanlah ide bagus, setelah apa yang ia lakukan padanya hari ini. Rupanya Clairessa memilih untuk tidak peduli. Dengan nekat ia turun mendekati peri tercantik itu.
"Hei, mau apa kau kemari? Pasti kau ingin melaporkan perbuatan kita, bukan?" ujar Sonneia yang menyadari kedatangan Clairessa lebih dulu.
"Aku tidak ingin melapor. Justru aku tertarik untuk ikut dengan kalian," jawab Clairessa.
"Ikut dengan kami? Maaf ya, Clairessa. Bukan maksudku melarangmu ikut, tetapi cahayamu terlampau terang dan akan membuat kita semua ketahuan!" tolak Lichta dengan nada angkuh.
"Mmm.. tidak, aku tidak akan membuat kalian ketahuan. Kalian terbang duluan saja, aku akan mengikuti kalian jauh di belakang," kata Clairessa.
Para peri cahaya itu kemudian berunding. Perdebatan memutuskan bahwa Clairessa boleh ikut, dengan syarat ia akan terbang jauh di belakang dan menjadi umpan bagi para penjaga Tropicalea yang mungkin tak sengaja melihat mereka terbang ke pinggir hutan dan menyeberangi batas kerajaan peri. Meski ada perasaan takut, Clairessa menerima hasil perundingan itu. Ia begitu ingin melihat dunia luar dan bertemu dengan manusia. Mungkin ia dapat menemukan jawaban, apakah dirinya benar-benar tidak berguna tanpa panas atau tidak.

(bersambung)

 
 
 

 

 
 
 
 
 
 

 
 

 

17.6.13

The Winged Knight

Once upon a time on a cloudy day, Lady Terezka was sitting near the window. Her eyes gazed into the field surrounding her beautiful castle. Her mind flew somewhere, far to her dreams. If we could look at her face, we might find unhappiness there. All people thought that she was the luckiest woman on the earth at that time, because she lived in a very beautiful castle and married to a young handsome knight with a gentle heart. But deep inside her heart, all was different. Indeed she had a beautiful castle, but after quite a long time lived inside it, she felt that that was not her home. 

She looked at the linden tree that located not far from her window. Now the leaves started to fall one by one. It was a linden tree which was planted by her husband to remind them at her previous home, her lovely small castle. Under the linden tree near her castle they met each other for the first time. She knew exactly that he was the part of the cavalries that had just conquered some parts of her kingdom. She knew exactly that he served a big kingdom, which located far in the east, among the golden sand mountains. She knew exactly that he believe in different way with her. But Lady Terezka did not care about that. All that she believed is that this knight was very kind and gentle-hearted, loyal and even willing to leave his kingdom, just to build another castle on the land he had conquered, although all his companion has returned to their kingdom. 

While gazed at the green field below her window, suddenly she saw a gleaming light from afar. The light came nearer and nearer and it revealed to her as a strong white horse bore a knight in a shining armor. She was amazed with what she saw. Who was the knight, who dare to enter this area. He must be not one of her husband's companion. He must be a knight from an unknown place to her, because as she paid more attention to him, it seemed to her that there were wings on his back.
"A winged knight?" she whispered to herself. "I wondered where he came from. What are he doing near my castle?"
Even though she knew exactly that he didn't part of her castle, she hoped that this knight will pass the field safely, without being known by any of her husband's knight. But then the knight suddenly disappeared. Lady Terezka was surprised and began to search him, who had become her center of attention for a while. But before she could find the mysterious knight, someone called her name. The voice came from below, just below her window.
"I beg your pardon, young lady. But why do you seem very sad in this lovely day?" asked the voice politely.
Surprised, because it was the mysterious knight who spoke to her, Lady Terezka answered, "I...I.. i just wondering if my choice was true...."

The knight smiled without replying anything. He stared at the beautiful woman at the window and waited, as if he knew that Lady Terezka would answer more. And he was right.
"I'm not sure if I chose the right way... to agree and live in this place," said Lady Terezka.
"But this place is very beautiful, my lady. Why should you be sad because of it?" asked the winged knight.
"Because I feel trapped inside here, inside my own choice to marry the owner," answered the lady again.
"Is he mean to you? What had he done to you so that you become sad right now?" 
"No, he didn't do anything. In fact he is very kind and gentle-hearted. But it's me who feel uncomfortable with everything. I just heard what happen outside there. What his friends has done to my beloved land, my beloved kingdom. I know that he don't do anything and aren't involved in it, but those friends.... I can't see him being with his friends," told Lady Terezka to the winged knight.
"Oh, well, i understand. It seems that you and he come from different origin and now both of your kingdom are in war against each other," the knight smiled.
Lady Terezka nodded. Far in her heart she hoped that this knight wants to help her by giving some advice.
"But the difference don't give a problem, right?" 
"No, it doesn't. Even he built for me a special room to preserve my culture and let me decorate this castle in the way i want. But i still feel trapped. I can't eat my favorite food again, because it was uncommon for his tongue. I can't speak freely when deep in my heart i disagree with what his knights do, because i don't want to hurt his heart. He was proud of his culture and his knights. But i can't stand here without doing anything, while his friends attacked and conquered parts of my kingdom one by one," said Lady Terezka. Her voice sounded hopeless.
"Before you took this decision, my Lady, do you think about these consequences? What had attracted you to join him in the eternal vow?" asked the winged knight, his voice sounded very mature and wise for Lady Terezka, and she couldn't resist not to answer.
"I was still young at that time. For me, to be free from my childhood castle was really a dream. And there he came, with some adventurous challenges lay ahead. He introduced me to the world I've never known, the world of his culture and his kingdom which until that time I read only through old scrolls in my father's room. He was very romantic at that time. He wrote me some Minnelieds and that was so sweet. I ran away with him despite of the forbid of my parents..," said the beautiful lady.
The winged knight smiled slyly. He planned to do something. He knew that there is a solution for this enchanting lady. But he had to think about it first. And then the lady asked him.
"And who are you, winged knight? Never I heard about you before, nor your cavalry. Where are you come from? And where is your position in this terrible war?"
"I'm one of the winged knight cavalry. The strongest among all cavalry in this war. I'm behind your kingdom, my lady. I serve your king with my loyalty and everything that i have. I practice some culture with you and i believe in the same way with you. I know exactly what happen outside there and that you're in danger, my lady. You should immediately run away."
"What? Me? Runaway? But how... I'm trapped behind this high wall," said Lady Terezka sadly.
"Write your husband a letter of goodbye and jump here, my lady. I'll save you from this castle forever. You'll enjoy my castle very much. You can live freely and there is no enemy knights, because I and my companion will not let them enter our peaceful land."
And the beautiful Lady Terezka did what the winged knight said. She jumped onto his horse and ran away forever, left her dark past time and the trapping castle. In the land of the winged knight, they live happily ever after and keep fighting against the kingdom from the east until they left the land forever.


18.06.13
by LV~Eisblume
for my experience, wish and dream~
 

 
 

 

 
 
 
 

24.1.13

Terima Kasih pada Malam yang Dingin...

Angin dingin berhembus kuat di seluruh negeri. Udara yang beku menusuk kulit siapapun yang berada di luar bagaikan jarum-jarum besi yang tiada ampun. Pohon dan rerumputan bergoyang-goyang dan bergesekan karena tiupannya. Tidak ada seorang pun tampak di jalan pada malam itu, kecuali sesosok pria berpakaian lusuh yang terus memeluk tubuhnya erat-erat sembari berjalan. Kedua kakinya melangkah perlahan-lahan tetapi mantap melawan kuatnya angin yang bertiup. Tujuannya hanya satu: kekasihnya yang tinggal di kastil megah di ujung jalan itu. Dinginnya malam tak sebanding dengan pertemuan dengan sang kekasih.

Semakin mendekati bangunan kastil berwarna abu-abu itu, langkah sang pria justru diperlambat. Ia berbelok menjauhi gerbang utama. Tentu saja ia ingat betul bahwa kastil itu bukan tempat yang tepat untuknya dan karenanya ia harus melewati jalan lain agar tidak tertangkap penjaga. Ia melangkah masuk ke taman kastil lewat sebuah lubang di pagar batu yang tidak disadari keberadaannya oleh para penjaga. Dengan segera dirinya tiba di taman belakang kastil. Ke arah taman itulah jendela sang kekasih menghadap. Sang pria dapat melihat sosok seorang wanita di balik tirainya, yang sayangnya belum menyadari keberadaannya.

Diambilnya kerikil yang banyak terdapat di taman itu dan dilemparkannya hingga mengenai kaca jendela sang wanita. Mendengar suara yang ditimbulkan kerikil itu, sang gadis membuka daun jendelanya dan melongok ke bawah.
"Franz?" ia tampak terkejut. "Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" tanyanya. Ia tidak menyangka kekasihnya akan datang.
"Oh, Louisa..., tolong bukakan pintunya untukku," pinta Franz. "Izinkan diriku masuk ke tempatmu."
Louisa menunjukkan wajah ragu sesaat, lalu ia menggeleng. "Maafkan aku, Sayang, aku tidak mungkin melakukannya. Kau tahu ayahku mengawasi semua tempat malam ini. Aku juga tidak mungkin keluar dari kamar ini. Sebuah palang besi mengunci pintunya dan kuncinya tidak ada padaku."
"Ayolah, Louisa, kau tahu di luar sini sangat dingin. Apa kau tega membiarkan diriku berdiri di bawah cahaya bulan di tengah angin yang beku seperti ini sepanjang malam?" kata Franz terus membujuk.
"Kurasa... aku ada ide...," sesaat wajah sang gadis berubah cerah, "ah.., tidak.. hal itu tidak mungkin dilakukan," katanya tertunduk kecewa.
"Sayang, katakan saja idemu. Percaya padaku. Jika kau membukakan pintu bagiku malam ini, maka pagi tidak akan cepat datang seperti biasanya."
 Masih dengan wajah ragu, Louisa berbalik membelakangi jendela lalu menghilang pergi. Franz nyaris putus asa dan menyerah pergi ketika tiba-tiba gadis itu muncul lagi sembari melempar sesuatu keluar jendela. Kain beraneka warna menjuntai panjang dan sambung-menyambung terikat kuat di samping tempat tidurnya. Kain itu dibuatnya dengan mengikat tirai, kain penutup tempat tidur, berikut gaun-gaun dan selendang yang dimilikinya.
"Naiklah dengan kain itu, Franz!" serunya. "Cepatlah, sebelum penjaga menyadari keberadaanmu!"
Dengan cepat namun berhati-hati, Franz menggunakan untaian kain yang menjuntai ke bawah itu untuk memanjat ke kamar Louisa. Beberapa saat kemudian, ia tiba di jendela gadis itu.
"Teruntuk Franz-ku yang pemberani," dikecupnya kening kekasihnya itu setelah sebelumnya menarik kembali untaian kain panjang yang terikat pada tiang tempat tidurnya itu agar penjaga tidak melihatnya.
"Terima kasih untuk kekasihku yang telah membukakan pintunya untukku," Franz membalas Louisa itu dengan mengulum bibir gadisnya itu sebanyak tujuh kali.
"Berterima kasihlah pada malam yang dingin di luar sana. Kekejamannya telah membuatku tidak tega membiarkanmu berdiri di luar sepanjang malam," kata Louisa.
 * * *
Fajar mulai merekah di ufuk timur. Seekor burung kecil yang bertengger di dahan pohon linde tepat di depan kamar Louisa berkicau merdu menyambut pagi. Gadis itu terbangun dan tersadar bahwa ia telah lupa menutup jendela kemarin malam. Meski demikian, ia tidak peduli. Apa yang dialaminya sepanjang malam adalah suatu hal yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Diliriknya Franz yang masih terlelap di sampingnya. Lengannya yang kuat masih mendekap erat dirinya. Dibisikkannya rasa terima kasih dalam hatinya. Terima kasih pada malam yang dingin.


by LV~Eisblume
a story inspired by Faun's song titled "Diese Kalte Nacht" from the album "Von den Elben" and my sister's story titled "The Lady's Wedding".
 

 
 

 

15.11.12

Kepulangan Kerudung Merah


Berbulan-bulan sudah Ibu menanti kepulangan anak semata wayangnya. Ia masih ingat hari itu, ketika anak gadisnya berpamitan ke rumah Nenek. Ia ingat betul pakaian yang dikenakan anaknya, sebuah jubah merah berkerudung dari wol yang dijahitnya khusus bagi anaknya itu. Kerudung Merah, demikian orang memanggil anaknya karena pakaian yang selalu dikenakannya tersebut. Pada hari itu pergilah Kerudung Merah ke rumah Nenek. Ibu telah berpesan sebelumnya, agar gadis itu menjauhi hutan dan terutama seekor serigala yang tinggal di sana. Namun, entah apa yang terjadi, sejak hari itu Kerudung Merah tidak pernah pulang.

Hari ini adalah ulang tahun Kerudung Merah. Sejak pagi Ibu sudah bangun dan membersihkan rumah. Ia menyiapkan banyak makanan lezat, termasuk kue cokelat dengan ceri dan krim kesukaan anaknya itu. Ia melakukan semuanya, seolah Kerudung Merah masih ada dan tinggal bersama dengannya. Ketika semua telah siap, terkejutlah Ibu karena telah melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Astaga! Aku lupa, kau sudah tidak ada, Kerudung Merah," bisiknya lirih dalam hati. 
Ia meletakkan sapu yang dipakainya untuk membersihkan lantai di sudut ruangan, kemudian beranjak menuju jendela. Dipandanginya keluasan hutan di luar sana.
"Oh, anakku, Kerudung Merah. Di mana pun kamu berada, juga kalau kamu telah di surga, kamu akan selalu tahu bahwa aku selalu mengingatmu," katanya, seolah menyampaikan pesannya pada angin dan berharap pesan itu akan terbawa masuk ke dalam hutan.
Ibu terus berada di situ sembari membayangkan berbagai kenangan yang dialaminya bersama Kerudung Merah. Ia teringat masa-masa ketika keduanya hidup bersama dengan damai di pondok bersama-sama. Tanpa sadar Ibu tertidur bersandar di bingkai jendela.

* * *

Mentari terbenam di ufuk barat, membawa kegelapan meliputi hutan. Sesosok bayangan kecil berjalan mengendap-endap ke arah pinggir hutan. Di tangannya ada sebuah obor yang apinya menyala-nyala. Di balik cahaya api terdapat sosok bayangan lain yang lebih besar mengikuti bayangan kecil.
"Sssh.. jangan berulah ya, ada seseorang yang akan kukenalkan," kata bayangan kecil itu dalam bisikan.
Bayangan besar mengangguk-angguk menurut pada isyarat tangan yang dibentuk bayangan kecil. Perlahan-lahan keduanya mendekati pondok di tepi hutan, tempat Ibu tertidur bersandar pada bingkai jendela. Bayangan kecil segera mengenali sosok Ibu. Ia berlari mendekati sosok itu dan menampakkan wujud aslinya, Kerudung Merah. 
"Ibu! Bangunlah! Anakmu sudah pulang!" serunya menghambur ke arah wanita yang tertidur itu.
Ibu terbangun karena terkejut. Ia melihat sosok berkerudung merah dari matanya yang masih mengantuk, tetapi ia tidak bisa mengenali suaranya.
"Kaukah itu, Kerudung Merah? Anakku yang hilang itu? Mengapa suaramu berbeda??" tanya Ibu.
Ia berusaha membuka matanya lebih lebar. Dilihatnya sosok cantik jelita dengan rambut emas yang terurai di balik kerudung merahnya. Tidak ada lagi dua buah kepang yang menjulur di balik kerudung itu, seperti yang selalu ia buatkan jika Kerudung Merah hendak pergi ke luar. Tidak ada lagi bibir kecil yang menguncup. Bibir itu telah berganti dengan warna merah delima dalam bentuk lengkungan kecil yang manis. Tidak ada lagi tubuh yang bulat dan mungil, hanya ada sosok molek seorang gadis dewasa yang ramping. Ketika keterkejutan Ibu belum berakhir akibat sosok cantik itu, muncullah sosok lain yang besar yang sedari tadi mendampingi Kerudung Merah. Sosok itu menampak diri sebagai seekor serigala abu-abu besar dengan kuku dan taring yang tajam. Mata kuningnya tiada henti memandang Kerudung Merah, bukan tatapan hendak memangsa, tetapi sebuah tatapan penuh cinta yang hangat. Ibu tidak bisa berkata-kata menyaksikan pemandangan sore itu.
"Selamat sore, Ibu tersayang," kata gadis itu dalam suara merdu layaknya seorang wanita. "Aku telah menjadi dewasa sekarang."
by LV~Eisblume
16.11.12
for my birthday 

 
 
 
 

5.9.12

Penyihir Cermin dan Lady Calime (3)

Tak ada satu pun manusia yang masih mengingat kisah Blanche sang penyihir. Bahkan semua orang kini menganggap keberadaannya sebagai dongeng saja. Termasuk Lady Calime, seorang putri yang sangat cantik dari garis keturunan halfelven atau campuran manusia dan elf. Darah elf yang mengalir di tubuhnya membuatnya memancarkan cahaya putih lembut. Walau demikian, darah manusia yang dimilikinya membuatnya tidak abadi sehingga tetap harus melewati kematian layaknya manusia.

Hari ini Lady Calime sangat berbahagia. Beberapa hari lagi akan tiba hari pernikahan yang paling dinantinya seumur hidup. Hari ini juga, Roland, calon suaminya yang juga seorang ksatria tampan dan gagah berani akan pindah ke kastil yang didiami Lady Calime. Pesta pernikahan memang akan dilangsungkan di kediaman mempelai wanita sebagaimana tradisi yang hidup di kerajaan tersebut. Siang itu Roland tiba bersama para pengawal dan pengiringnya. Mereka membawa banyak sekali barang dan menempatkan semuanya di kamar sang ksatria yang terletak tidak jauh dari kamar Lady Calime. Menurut tradisi kerajaan juga, kedua calon mempelai akan tidur di kamar berbeda sampai pada hari pernikahan mereka. Pada hari pernikahan itu akan disiapkan kamar lain tempat mereka akan bersatu pada akhirnya.

"Barang apa saja yang kau bawa, kekasihku?" tanya Lady Calime ketika ia mengintip ke dalam kamar Roland dari pintu. Tampak jelas ada banyak sekali barang baru di dalam kamar itu yang bahkan masih ditutupi selubung kain.
"Aku juga tidak tahu, Sayang, sebagian besarnya hadiah dari kerabat-kerabatku untuk hari pernikahan yang akan datang sebentar lagi," jawab Roland.
Ksatria itu kemudian mengundang sang kekasih masuk dan menemaninya di kamar. Lady Calime melangkah dengan penuh keanggunan dalam balutan gaun biru lautnya yang indah.
"Mungkin kita bisa membuka satu persatu benda ini bersama-sama," usul Roland, yang langsung disetujui Lady Calime.
Sesungguhnya dari sekian banyak barang, Lady Calime sangat penasaran dengan sebuah benda pipih yang lebar dan diselubungi kain berwarna hijau pupus yang warnanya sudah tidak indah lagi. Dengan segera ia mengambil benda yang bersandar di tembok itu dan membuka kain yang menutupinya.
"Apa itu, cermin?" tanya Roland ketika melihat benda yang dipegang kekasihnya.
"Sepertinya demikian, cermin antik yang sudah tua," jawab Lady Calime, ia membuka seluruh selubungnya.
"Aneh. Kenapa ada orang yang memberiku cermin?" sang ksatria bertanya dengan bingung.
"Haha... tidak apa-apa. Itu tetap hadiah. Seorang pria tidak berarti tidak butuh cermin, bukan?" ujar Lady Calime.
"Aku penasaran, siapa yang terpikir untuk menghadiahi aku sebuah cermin antik," kata Roland.
Karena penasaran, sang ksatria memanggil salah satu orangnya yang tadi membawa barang-barang ini ke kamar.
"Dari mana kau dapatkan cermin ini? Apakah ini hadiah? Siapa yang memberikan benda ini kepadaku?" tanya Roland.
"Cermin itu kami beli di pasar, Tuan. Seorang nenek tua menjualnya. Kata nenek itu, cermin ini akan membawa kebahagiaan bagi pernikahan Tuan," jawab pria yang dipanggil tadi.
Tanpa bertanya lagi, Roland menyuruh orang itu meninggalkan kamar. Baik Roland maupun Lady Calime tak ada yang sungguh-sungguh percaya dengan kebahagiaan yang dijanjikan benda itu. Meski demikian, Lady Calime merasa cermin itu memiliki keindahan tersendiri yang dapat menghias kamar yang kosong itu. Sang putri mengambil cermin itu dari tangan kekasihnya lalu menggantungkannya pada sebuah paku di tembok, tepat berhadapan dengan tempat tidur di tengah ruangan. Bayangan ruangan yang kosong dan kusam tampak indah di dalam cermin. Mungkin cermin itu sungguh-sungguh cermin ajaib.

4.9.12

Penyihir Cermin dan Lady Calime (2)

"Tolooong..!! Kebakaraaan!!"
"Selamatkan mereka!! Cepat! Cepat!"
Teriakan penduduk terdengar di seluruh penjuru desa. Mereka berlari ke sana ke mari mencari sumber air dan berusaha memadamkan api yang berkobar-kobar di salah satu sudut desa. Si jago merah sedang melahap salah satu rumah dengan ganasnya. Rumah Blanche. Di dalam rumah itu tinggal kedua orang tuanya dan Blanche sendiri, sementara sang kakak sudah pindah tinggal setelah pernikahannya. Api yang sangat besar disertai asap tebal seakan menelan rumah itu beserta isinya. Walaupun penduduk desa telah menyiramkan bergentong-gentong air, tetap saja api terus berkobar tak kunjung padam. Usaha yang mereka lakukan berjam-jam menjadi sia-sia ketika akhirnya bangunan itu habis dilalap api.

Tanah di sekitar rumah masih panas dan asap masih membumbung di beberapa sudut. Para penduduk berkerumun menanti sisa apa yang akan mereka temukan dalam rumah. Ketika dirasa cukup aman, beberapa dari mereka mencoba masuk menembus reruntuhan rumah itu. Mereka mencari entah apapun yang bisa mereka temukan di dalam. Semua habis tak tersisa, termasuk kedua orang tua Blanche yang telah menjadi mayat. Tiba-tiba terdengarlah suara isak tangis lain dari balik reruntuhan. Dengan cepat para penduduk desa bekerja sama mengangkat kayu dan batu yang rata dengan tanah. Mereka menemukan sosok Blanche yang terbungkus kain hitam dan menangis tersedu-sedu di bagian yang dulunya kamar pojok di rumah itu, tempat Blanche disembunyikan.
"Siapa gadis ini?" seseorang mencoba membuka kain hitam yang menyelimuti dirinya.
Mereka terkejut karena tak satu pun penduduk desa itu mengetahui keberadaan Blanche sebelumnya.
"Bukankah keluarga ini hanya punya satu anak perempuan?" tambah yang lain. 
"Tidak, mereka punya dua. Tetapi yang satu sudah mati," kata seorang ibu.
"Lalu siapa dia?" tanya yang lain lagi.
"Cukup sudah! Berhenti berdebat. Dia ini Blanche, adikku!" kata sang kakak.
Wanita cantik itu bangkit dari sisi mayat orang tuanya dan menghampiri adiknya yang menangis tersedu-sedu. Alangkah terkejutnya ia ketika dibukanya kain hitam itu dan mendapati bahwa adiknya sangat cantik, bahkan melebihi dirinya. Semua orang di sekitar mereka sibuk berbisik-bisik. Tak satu pun percaya bahwa wanita itu memiliki adik. Tak satu pun percaya bahwa ada seseorang yang sangat cantik telah selamat dari kebakaran besar itu. Mereka merasa keajaiban telah terjadi.

* * *
Setelah kejadian itu, Blanche tinggal bersama kakaknya di sebuah rumah di bagian desa yang terletak dekat dengan hutan. Sang kakak selalu sibuk bekerja. Ia mencari kayu bakar di dalam hutan. Sementara suami sang kakak menghidupi keluarga barunya dengan bekerja sebagai tukang kayu di rumah. Tanpa sepengetahuan kakaknya, diam-diam Blanche telah menaruh hati pada si tukang kayu. Mulanya si tukang kayu tak pernah meladeni setiap godaan yang dilontarkan gadis itu padanya. Blanche yang kesal karena selalu gagal membalaskan dendam pada kakaknya mulai menggunakan sihirnya lagi. Ia mengucapkan mantera dan berhasil menjerat si tukang kayu dalam perangkapnya. 

Suatu hari sang kakak pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar seperti biasa. Namun di tengah jalan ia teringat akan sesuatu. Ia lupa membawa bekal yang telah disiapkannya di atas meja. Alangkah terkejutnya ia ketika tiba di rumah. Sang kakak mendapati bahwa adiknya, Blanche, telah tidur bersama suaminya tanpa sepengetahuan dirinya. Ia juga terkejut menemukan buku mantra dan alat sihir lainnya berserakan di kamar Blanche. Segera ia mengetahui apa yang telah dilakukan adiknya. Dengan penuh amarah ia menyeret Blanche dan mengusirnya keluar bersama peralatan sihirnya.

Penuh benci dan dengki, Blanche pergi berlalu dari rumah itu. Ia kemudian hidup menumpang dari satu rumah ke rumah yang lain. Ia mengganti namanya berulang kali, juga wajahnya sehingga tidak diketahui orang. Tetapi selalu akhir yang sama ditemukan pada setiap rumah. Blanche berselingkuh dengan suami wanita yang tinggal di rumah itu sehingga ia selalu diusir. Lama kelamaan orang tersadar bahwa setiap wanita yang datang ke rumah mereka adalah orang yang sama. Wanita terakhir yang ditumpangi Blanche berhasil menyeretnya ke gedung pengadilan di kota yang terletak di balik tembok tinggi. Dibukanya keras-keras pintu gedung pengadilan dan ia berteriak dengan lantang:
"Bapak Hakim yang terhormat, hari ini juga telah saya temukan seorang wanita penyihir yang bersembunyi di antara kami!" lalu ditunjukkannya peralatan sihir Blanche sebagai bukti.
 Sidang atas terdakwa Blanche digelar. Semua penduduk yang telah menjadi korbannya berkumpul di situ dan berteriak-teriak dengan gaduh meminta Blanche segera dihukum.
"Hukuman paling pantas untuk penyihir adalah dibakar!" teriak seorang ibu.
"Atau ditenggelamkan di sungai!" tambah ibu lainnya.
Kemudian sang hakim berusaha menengahi keriuhan yang terjadi.
"Tenang dulu para penduduk desa. Kita tidak bisa langsung menjatuhkan hukuman dengan tidak bijak. Sebelumnya tidak pernah ada hukuman seperti itu yang dijatuhkan pada penduduk desa kita, " kata sang hakim.
"Biarkan saja, Pak Hakim! Hukum mati saja wanita ini!!" teriak beberapa wanita yang menjadi korban Blanche.
Namun para penduduk desa tak dapat menentukan apa hukuman yang pantas bagi Blanche. Beberapa wanita ingin dia dihukum gantung. Beberapa yang lain minta hukuman bakar, seperti penyihir-penyihir di negeri-negeri lainnya. Ada pula yang meminta agar Blanche ditenggelamkan di sungai. Pada akhirnya karena solusi tidak kunjung ditemukan, sang hakim memutuskan untuk mengusir Blanche jauh dari wilayah tersebut dan menyita segala peralatan sihirnya. Pakaian Blanche yang indah disita dan diganti dengan pakaian lusuh. Rambut merahnya yang indah dipotong dan segala perhiasan yang dipakainya dilucuti. Dengan mata tertutup ia dibawa jauh meninggalkan kota dan desa-desa di situ, lalu dilepaskan di tengah hutan dan ditinggalkan di sana. Tak satu pun pernah melihat Blanche setelah kejadian itu. Tahun-tahun dan masa yang panjang berlalu. Orang mulai melupakan namanya. Kisah Blanche hanya menjadi legenda, sebelum kemudian dilupakan sama sekali. Tetapi sesungguhnya ia terus hidup melewati tahun-tahun itu, tanpa seorang pun yang tahu apa yang dilakukannya. Sosok buruk rupa aslinya telah kembali, seiring dengan dirinya yang dijauhkan dari peralatan sihirnya.

(bersambung)

2.9.12

Penyihir Cermin dan Lady Calime (1)

Kisah ini datang dari zaman yang sudah sangat lama berlalu. Di sebuah desa yang terletak tak jauh dari kota yang dikelilingi tembok tinggi, tinggallah sebuah keluarga sederhana. Keluarga ini memiliki dua orang anak perempuan. Yang pertama berusia lima tahun dan dikaruniai wajah yang begitu cantik dan lembut, sementara yang kedua baru saja lahir kemarin dengan keadaan bertolak belakang dengan sang kakak. Meski demikian, anak kedua itu memiliki nama yang indah, Blanche.

Orang tua Blanche sangat kecewa melihat anak kedua mereka. Mereka bahkan berharap jika anak itu sebaiknya tidak dilahirkan saja. Wajahnya buruk dan perkembangan tubuhnya lambat. Kemampuan motorik maupun kepandaiannya jauh berbeda dibanding kakaknya. Karena begitu kecewa akan kondisi Blanche, orang tuanya berusaha menyembunyikan keberadaannya. Mereka selalu mengaku hanya memiliki satu anak saja kepada semua orang. Blanche disembunyikan dan dikurung dalam ruangan yang gelap di sudut rumah seolah ia orang gila atau berpenyakit menular. Ketika ia berbuat kesalahan, orang tuanya tidak segan-segan memberinya hukuman fisik yang berlebihan. Blanche tidak pernah kenal teman dan pergaulan. Masa kecilnya dihabiskan dalam kegelapan.

Suatu ketika di ulang tahunnya yang ke-16, Blanche meratapi nasibnya seorang diri di sudut ruangan tempat dirinya disembunyikan. Bahkan sampai usianya yang hampir dewasa, orang tuanya tidak melepasnya keluar. Sementara kakaknya sudah berencana melangsungkan pernikahan, ia tidak kenal siapapun di luar, seolah ia tidak pernah ada di dunia. Di sela-sela tangisnya itulah terdengar suara kepak sayap yang semakin kuat.
"Selamat malam, gadis cantik. Mengapa engkau menangis?" terdengar suara parau yang dingin menyapanya.
"Siapa kau?!" Blanche menengadah dan terkejut melihat seekor gagak hitam besar bertengger di jendela kecil tepat di atas kepalanya. Jendela itu adalah satu-satunya sumber cahaya dan tempat ia dapat mengintip sedikit dunia luar.
"Aku? Aku utusan Maharaja Kegelapan," jawabnya sambil tertawa dingin.
"A-apa.. apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Blanche, masih ketakutan.
"Aku hendak membantumu keluar dari masalahmu, gadis cantik. Aku tahu betul masalahmu. Kau hampir dewasa dan kau ingin keluar dari sini, bukan? Kau ingin punya teman bukan? Kau ingin seperti kakakmu yang cantik itu, ya kau ingin itu dan aku bisa membantumu," jelas sang gagak.
"Omong kosong!" kata Blanche sembari menyeka air matanya. "Aku buruk rupa begini, bagaimana bisa aku jadi seperti kakakku yang cantik itu! Lebih baik aku mati saja!" 
"Jangan bodoh, Blanche. Kau berpotensi, bahkan melebihi kakakmu. Yang kau perlukan hanyalah mencari akar penyebab penderitaanmu dan menerima tawaranku untuk membantumu," kata sang gagak.
Blanche menatap gagak itu ragu. Ia lelah dengan kenyataan pahit yang harus dihidupinya, tetapi ia baru kenal gagak ini dan tidak tahu ada rencana apa dibaliknya.
"Ayolah, Blanche. Maharaja Kegelapan ingin melihatmu berbahagia di hari ulang tahunmu. Sungguh. Maka itu ia mengirim ini," kata sang gagak yang tiba-tiba telah membawa botol kecil di kakinya.
"Apa itu?" tanya Blanche.
"Ramuan ajaib untuk hadiah ulang tahunmu. Dengan ini kau akan mengetahui apa yang disebut kebahagiaan. Dengan ini kau akan bebas. Percayalah. Kau boleh menuntutku jika aku berbohong," bujuk sang gagak.
Akhirnya Blanche jatuh dalam bujukan burung berbulu legam itu dan menerima tawarannya. Sang burung menarik tutup botol yang dibawanya.
"Sekarang aku minta setetes darahmu dan setetes air matamu untuk dicampurkan dalam botol ini," pinta sang gagak.
Seolah terhipnotis, Blanche melangkah ke sudut lain ruangan kecil itu. Di atas meja yang terletak di sana ada pisau buah yang ujung tajamnya bersinar diterpa cahaya bulan yang masuk lewat jendela kecil. Tanpa ragu Blanche menggores telapak tangannya dan meneteskan darahnya ke dalam botol. Rasa sakit yang dirasakannya membuat matanya dibasahi air mata dan dengan segera ia menumpahkan air mata itu dalam botol kecil sang gagak.
"Minumlah, Blanche, dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan," bisik sang gagak lalu tertawa melihat keberhasilannya.
Blanche menghabiskan isi botol ramuan itu. Segeralah mata jahatnya terbuka dan hati baiknya tertutup. Ia melihat dengan jelas setiap orang yang menyakiti dirinya. Ia melihat jelas setiap orang yang ia harapkan mati saja. Dan sasaran pertamanya adalah orang tuanya sendiri.

(bersambung)

24.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (5 - end)

Alangkah terkejutnya Thorvard ketika ia tiba di negerinya. Desa-desa di sekitarnya sudah porak poranda. Bekas-bekas terbakar api tampak di sana sini. Entah apa yang terjadi di dalam kastil ia tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya. Ia ingin segera menemui gadis yang bernama Yngva lalu berlari mencari ayahnya. Menara kastil dan gerbangnya masih kokoh berdiri, tetapi bekas pertempuran terlihat jelas di berbagai sisi. Ia tidak tahu lagi siapa yang berkuasa di dalam kastil itu.

Thorvard berlari menuju salah satu reruntuhan desa. Ia tidak dapat menemukan seorang pun di sana. Lebih terkejut lagi karena yang dilihatnya hanyalah mayat-mayat orang tak bersalah tertancap di tombak-tombak yang dipancangkan di kiri kanan jalan --- tanda legitimasi kekuasaan dan kemenangan suku barbar yang menyerang mereka. Sepanjang hari ia mencari keberadaan atau setidaknya tanda-tanda keberadaan Yngva. Ia sangat berharap gadis itu masih hidup. Tetapi kenyataan yang tampak menunjukkan sebaliknya, bahkan tak ada manusia tersisa di desa itu. Pastilah meskipun ada yang selamat mereka telah melarikan diri entah ke mana.

Ksatria itu menatap langit. Di ufuk timur sudah muncul cahaya kemerahan. Ia tahu ia akan gagal menjadikan pagi kemarin sebagai pagi terakhirnya dalam wujud serigala. Sadar bahwa tidak ada satu pun manusia yang melihatnya, ia membiarkan tubuhnya berubah sosok di tempat terbuka tanpa bersembunyi terlebih dahulu. Dengan mata serigalanya, Thorvard mendapatkan penglihatan yang lebih tajam. Penciuman dan pendengarannya juga menjadi lebih baik. Dari sinyal bau ia ketahui bahwa tak jauh dari tempat itu ada sosok manusia. Dengan cepat diputarnya pandangan ke segala arah. Hutan keramat. Ke arah sanalah Thorvard mengikuti bau itu dan mendapati seorang gadis berambut emas berkepang yang kulitnya nyaris sama putihnya dengan salju. Yngva, berdiri di antara pepohonan ek yang tertutup salju di tepi hutan. Melihat kecantikan sang gadis, Thorvard jadi lupa diri.
"Selamat pagi, gadis cantik. Apakah kau Yngva?" tanya Thorvard dalam wujud serigala.
 Yngva terkejut mendengar suara geraman serigala tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mundur beberapa langkah dan memasang tatapan waspada.
"Yngva, tunggu! Kau harus menolongku. Aku mohon, aku minta sedikit saja air matamu."
Sang serigala berjalan mendekat sehingga kali ini Yngva dapat melihat sosoknya dengan jelas. Serigala itu menggeram-geram dan menatap lekat-lekat dirinya. Yngva mulai merasakan ancaman yang berada di dekatnya. Gadis itu berlari masuk ke dalam hutan.
"Yngva, tunggu aku!" seru Thorvard, ia langsung berlari menyusul Yngva.
"Oh, tidak! Hidupku dalam bahaya! Kenapa tiba-tiba ada serigala di sini?" pikir Yngva selagi kakinya melangkah cepat melompati semak-semak dan akar pohon.
Yngva berlari dan terus berlari. Sama seperti ketika suku barbar penunggang kuda itu mengejar dirinya. Ia berbelok ke sana dan kemari menghindari kejaran serigala. Tetapi Thorvard berlari begitu cepat. Penciuman dan pendengarannya yang tajam membuat Yngva selalu gagal menghilangkan jejak. Gadis itu terpaksa menghindar dengan memanjat pohon.
"Baiklah, aku akan tunggu di sini sampai dia pergi," pikir Yngva. Ia menempatkan diri pada dahan yang tidak mampu dicapai oleh Thorvard.
Thorvard berdiri dan menunggu di bawah. Bagi Yngva, sang serigala tidak kunjung berhenti menggeram dan melolong. Tetapi sesungguhnya Thorvard berbicara padanya dalam bahasa yang tak diketahuinya.
"Jangan takut, Yngva. Aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji. Tolonglah aku yang malang ini. Aku hanya meminta sedikit air matamu," mohon Thorvard. 
"Sungguh menakutkan, aku harus mencari cara untuk berlindung dari serigala ini. Kutunggu mentari terbenam dan aku akan berlari ke danau sehingga aku dapat menjadi bunga salju. Mungkin serigala itu tidak akan tertarik lagi untuk memangsa diriku," Yngva mendapatkan ide cemerlang.
* * *
Musim dingin menyebabkan siang tidak berlangsung panjang. Dengan cepat ufuk barat menjadi kemerahan tanda mentari hendak terbenam dan berganti dengan bintang-bintang malam. Yngva melihat sang serigala. Tampaknya ia tidak lagi memperhatikan. Namun sesungguhnya Thorvard pun menunggu malam tiba sehingga ia dapat berbicara dengan Yngva dalam sosok ksatrianya. Yngva turun dari pohon dengan mengendap-endap. Ketika ia sudah sedikit menjauhi pohon itu, Thorvard tersadar.
"Oh tidak, ke mana perginya gadis itu?" ia kebingungan mencari sosok Yngva. "Tidak bisa, aku harus jadi manusia seutuhnya mulai besok. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan." pikirnya.
Beruntunglah Thorvard karena gadis itu tidak pergi jauh. Yngva berdiri di tengah kolam yang membeku seolah menantikan sesuatu. Thorvard memutuskan untuk mengawasi gadis itu dari balik pohon dan keluar ketika malam mengubah sosoknya. Perlahan-lahan langit hitam musim dingin mendatangkan kegelapan di atas bumi. Yngva masih berdiri di sana, kini bermandikan sinar bulan. Sosok berwarna putih itu semakin putih dan menyatu dengan es di bawah kakinya. Perlahan dan anggun ia menjadi sosok yang berbeda sekali. Setangkai bunga salju.
"Tidak!! Yngvaaaa!! Apa yang terjadi?? Mengapa sosokmu berubah? Aku baru saja hendak meminta tolong padamu," Thorvard melompat keluar dari balik pohon, kini dalam sosok ksatrianya.
Dalam sosok bunga saljunya Yngva terkejut. Sosok yang melompat ke arahnya, bukan seekor serigala, tetapi seorang ksatria tampan.
"Oh, jangan... jangan sekarang..., aku tak ingin berubah jadi bunga salju. Dewi musim dingin, kembalikan sosokku," pintanya dalam hati. "Bagaimana jika ia sang ksatria itu? Tidak, aku tidak bisa melihat diriku membunuh orang lain."
"Yngva, tolonglah... kembalilah jadi manusia..."
Thorvard berlutut dan memohon. Ia menyentuh lembut kelopak beku sang bunga salju. Ia mendapatkan ide. Mungkin dengan mencabutnya, sosok Yngva akan kembali. Thorvard menempatkan genggamannya pada tubuh bunga itu.
"Hentikan perbuatanmu, wahai Ksatria. Kau akan mati jika mencoba memetik diriku," cegah Yngva dalam suara yang tidak terdengar oleh Thorvard.
Thorvard mulai menarik tubuh sang bunga salju. Akarnya begitu kuat dan sulit tercabut. Permukaan es tempat dia tumbuh bahkan tidak kunjung retak. Justru jari-jari dan telapak tangan sang ksatria mulai biru dan membeku. Tetapi ia terus berjuang.
"Cukup sudah, Ksatria! Jangan lakukan itu! Aku tak ingin kau mati oleh karena diriku!" Yngva menjerit sia-sia.
"Walau tubuhmu akan membekukanku, aku akan tetap menarikmu. Aku ingin kau kembali, Yngva!" Thorvard bersikeras selagi es mulai merambat dan membekukan seluruh tangannya.
"Tolonglah dengarkan aku...,"
Yngva pasrah. Hatinya menangis melihat perjuangan sang ksatria. Thorvard masih berusaha mencabut tubuhnya dari tanah. Kedua kaki sang ksatria sudah membeku. Es terus merambat menyelimuti separuh tubuhnya.
"Aku pasti bisa melakukannya. Yngva, kau akan kembali, kau harus menolongku," ia bersikeras.
Es tempat bunga itu tumbuh mulai retak. Tetapi bunga itu masih sulit tercabut. Waktu sang ksatria tidak banyak. Es hampir mencapai jantungnya. Jika es itu berhasil, maka sang ksatria akan mati.
"Yngva, kembalilah...,"
Thorvard berbisik lemah, namun tarikan tangannya tidak berkurang kuatnya. Ia kehilangan napasnya tepat ketika sang bunga salju tercabut dari tanah es yang mengurungnya. Sang ksatria terkapar di lantai beku kolam dengan bunga salju dalam genggamannya. Namun perlahan-lahan wujud bunga salju itu lenyap. Sosok Yngva yang seputih salju terbaring tepat di samping sang ksatria. Ia segera tersadar dan menghampiri Thorvard yang membeku.
"Oh, tidak...," bisik Yngva lirih dan sedih. "Tidak..., aku telah membunuhnya...," suara tangis gadis itu memecah kesunyian hutan di malam hari.
Ia mendekap Thorvard begitu erat, seolah hendak mengantarkan hangat tubuhnya dan mencairkan es yang membekukan tubuh sang ksatria. Air matanya jatuh dan membasahi pipinya, lalu mengalir jatuh tepat di dada sang ksatria malam. Tanpa Yngva sadari, air matanya yang hangat memberikan keajaiban. Es yang menyelimuti tubuh sang ksatria mulai mencair. Napas kehidupan perlahan kembali pada Thorvard. Ketika ia mulai tersadar dan membuka mata, dilihatnya kecantikan Yngva dalam balutan duka berada tepat di hadapannya. Ia melihat butir-butir air mata yang membasahi wajah sang gadis. Air mata yang telah menyelamatkan dirinya dan menghapus kutukannya.
"Yngva," panggilnya, "terima kasih." lalu didekapnya gadis itu dengan begitu erat.
Yngva terkejut lalu tersenyum ketika menyadari bahwa sang ksatria tidak mati. Ia membalas dengan dekapan yang sama. Air matanya menjadi air mata bahagia. Berakhirlah sudah kutukan atas mereka berdua.

Thorvard Sigmundson kembali ke kastilnya dan mendapati bahwa tidak ada keluarganya yang selamat. Kastil itu telah jatuh ke tangan suku-suku barbar. Ia kembali pada Yngva Thunorsdottir dan menikahi gadis itu disaksikan segala penghuni hutan keramat. Keduanya bersumpah menjaga hutan itu dari ancaman musuh atau orang-orang yang akan merusak hingga akhir hayat mereka. Konon katanya ketika mereka meninggal, Yngva dikuburkan di dekat kolam di tengah hutan dan makamnya dipenuhi oleh bunga-bunga salju yang tumbuh cantik di musim dingin, sementara Thorvard dikuburkan di sampingnya, tetapi arwahnya menjelma menjadi serigala abu-abu yang mendiami dan menjaga hutan itu sampai sekarang.

(end)

23.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (4)

Akhirnya Yngva bangkit berdiri. Ia sadar bahwa meratapi kehancuran di depan matanya sungguh tidak akan menghasilkan apapun. Ia memutuskan untuk melaksanakan nazarnya pada sang dewi di dalam hutan tadi. Sejak saat itu Yngva tinggal di hutan keramat bersama alam liar di dalamnya. Segala hewan dan tumbuhan menjadi temannya dan ia menjaga mereka dengan baik. Sesekali ia mendekat ke tepi hutan dan memastikan tidak ada satu pun orang dari desanya yang memasuki atau merusak hutan itu.

Pada akhir bulan itu, sang dewi meniupkan musim dingin ke seluruh penjuru negeri. Musim dingin itu menjadi musim dingin terdingin yang pernah dialami Yngva. Tidak ada perapian hangat di rumah atau makanan lezat di meja makan. Tidak ada ayah maupun ibu. Yngva melaluinya dengan seorang diri berada di dalam hutan. Ia berlindung di gua, menyalakan api dengan kayu bakar dan batu api dan menyantap kelinci salju. Dengan terpaksa ia kembali ke cara hidup kuno yang pernah ada di negeri itu juga. Mau tidak mau ia melakukannya sekalipun ia mulai merasa bosan.

Tetapi hutan keramat adalah hutan yang menakjubkan. Banyak hal indah tersimpan di dalamnya. Yngva sering berjalan-jalan mengamati indahnya musim dingin di hutan itu ketika ia bosan. Suatu hari, ia putuskan untuk kembali melihat air terjun dan kolam awal mula hidupnya berubah. Ia penasaran dengan air terjun yang membeku oleh musim dingin. Beruntung hari itu salju tidak turun sehingga ia bisa berjalan dengan aman sampai tiba di tempat itu. Alangkah terkejutnya Yngva ketika dilihatnya sesuatu yang baru telah berada di sana. Kolam tempat air terjun membeku berakhir telah dipenuhi dengan sesuatu yang indah. Serumpun bunga salju berwarna putih kebiruan seperti kristal yang tumbuh subur dari tanah yang beku.
"Alangkah cantiknya bunga-bunga ini. Tak pernah kulihat sebelumnya bunga-bunga seindah ini tumbuh di musim dingin. Kurasa tidak apa-apa aku memetik beberapa tangkai, setidaknya untuk menghias guaku yang sepi," pikir Yngva, lalu tangannya mulai memetik beberapa tangkai bunga.
Tapi tidak mudah rupanya melangkah pergi dari kolam beku. Yngva mulai merasakan dingin yang aneh merambat dari telapak kakinya hingga ujung rambutnya. Kakinya menjadi sulit digerakkan seolah menyatu dengan air kolam yang telah menjadi es. Es itu merambat menutupi seluruh tubuhnya. Yngva berteriak namun suaranya tertahan. Tubuhnya kembali berubah menjadi bunga salju. Tangkai-tangkai bunga yang dipetiknya berserakan di sekitar dirinya. Lalu muncullah sang dewi musim dingin.
"Yngva Thunorsdottir? Apa yang kau lakukan dengan bunga-bunga di kolamku? Bukankah kau sendiri telah berjanji untuk menjaga hutan ini dan tidak merusak atau mengambil apapun yang ada di dalamnya? Sebagai hukumannya kau harus menjalani separuh masa hidupmu menjadi pengganti bunga-bunga salju yang kau rusak. Dalam gelap malam kau akan jadi cahaya yang menyihir banyak orang untuk mencabut akarmu. Banyak orang akan mati karena dirimu. Hanya seorang ksatria yang tepat yang dapat mengembalikan hidupmu, tetapi ia harus menukarnya dengan nyawanya sendiri," sang dewi berkata, lalu menghilang, meninggalkan sang bunga salju yang menangis dalam hati menyesali kesalahan dan meratapi nasibnya.
* * *
Malam telah tiba. Thorvard yang sedang dalam perjalanan kembali ke negerinya terpaksa berhenti dan menumpang di rumah penduduk. Rumah yang ia tempati tidak besar dan terbuat dari kayu dengan lubang di bagian tengah rumah sebagai lubang sirkulasi udara sekaligus cerobong asap. Di dalamnya tinggal seorang nenek yang sudah tua seorang diri. Dengan ramah ia memberikan tumpangan bagi Thorvard untuk bermalam di rumahnya. Sang nenek tidak berbeda dari orang tua pada umumnya, kecuali satu hal, bahasa yang digunakannya bukan bahasa penduduk desa, seolah-olah nenek ini seorang bangsawan yang menyamar. Mungkin dulunya ia pekerja istana. Satu hal lain yang dari tadi membuat Thorvard penasaran: pandangan mata sang nenek padanya seperti mengawasi atau menyimpan misteri diam-diam.

"Saya tahu siapa kamu, Nak. Kau adalah sang ksatria malam yang banyak dibicarakan orang-orang, bukan?" tanya sang nenek ketika mereka menikmati makan malam bersama.
Thorvard tidak menjawab. Ia membiarkan nenek misterius itu melanjutkan kalimatnya.
"Apakah orang lain tahu mengapa kamu disebut ksatria malam?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, karena aku hanya muncul pada malam hari," jawab Thorvard.
"Maksud saya, alasan sesungguhnya yang membuat kamu terpaksa keluar hanya pada malam hari," kata "terpaksa" ditekannya dengan sengaja sehingga Thorvard sedikit terkejut.
"Aku? Terpaksa keluar pada malam hari? Apa maksud Nenek?" Thorvard pura-pura bodoh.
"Baiklah, tidak perlu diperpanjang lagi. Saya tahu betul apa yang menimpamu, Nak. Sungguh kasihan dirimu, kalau saja para dewa tidak terlalu kejam dan bisa membatalkan kutukan mereka padamu. Saya sudah dengar akan segala kebaikan yang kamu lakukan. Dengan berani kamu mengabdi pada banyak raja dan melindungi negeri-negeri dari bahaya. Sungguh, kamu pantas mendapat pengampunan," kata sang Nenek lagi.
"Aku tidak mengerti bagaimana Nenek bisa tahu akan kutukan itu. Tapi, kurasa para dewa benar, aku memang tidak pantas hidup sebagai putra tuan tanah kaya yang sombong. Lebih baik aku jadi serigala saja. Setidaknya aku berburu hanya untuk makan, bukan kesenangan, lalu menghancurkan alam ciptaan ini," kata Thorvard merendah.
"Kau yakin tidak ingin kembali menjadi manusia sepenuhnya? Baiklah ksatria malam, saya rasa kamu bisa memutuskan sendiri. Tetapi suatu rahasia sebaiknya tidak disimpan terlalu lama apabila ia berguna. Temuilah seorang gadis di kampung halamanmu yang bernama Yngva. Ialah satu-satunya yang dapat menolongmu. Mintalah beberapa tetes air matanya untuk mengembalikan kutukan yang menimpamu. Sebaiknya kau cepat pulang, kudengar desa tempat tinggal gadis itu sudah porak poranda oleh serangan suku barbar," kata sang nenek misterius.
"Bagaimana bisa aku menemukannya sedangkan aku tidak tahu seperti apa rupa gadis itu?" tanya Thorvard.
"Kulitnya putih seperti salju dan rambutnya emas berkepang," jawab sang nenek.
Dengan cepat Thorvard menghabiskan makanannya lalu berpamitan pada nenek itu seraya mengucapkan terima kasih. Ia menyambar mantelnya lalu pergi menghilang dalam kegelapan malam. Ia harus secepatnya mencari Yngva.

(bersambung)

22.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (3)

Thorvard -- yang kini dikenal sebagai ksatria malam --- sungguh tidak pernah lagi menjejakkan kakinya di lingkungan kastil itu. Ia telah memutuskan untuk berkelana ke negeri-negeri yang jauh dan mengabdi sebagai ksatria yang melindungi masyarakat. Karena keterbatasannya, ia hanya muncul dan beraksi pada malam hari. Sigmund, menyadari bahwa sang anak tak pernah kembali, akhirnya telah merelakan kepergiannya sekalipun ia masih sedikit berharap bahwa sebelum kematiannya nanti ia dapat bertemu kembali dengan putranya itu.

Sementara Thorvard pergi berkelana, keadaan di negerinya justru menjadi kacau. Ancaman demi ancaman dari suku-suku barbar mulai berdatangan. Pasukan kerajaan disiagakan di mana-mana, termasuk para pasukan yang mengabdi pada Sigmund sang tuan tanah. Mereka dikirim ke berbagai wilayah kerajaan untuk membantu mengamankan situasi. Di saat seperti ini, Sigmund begitu merindukan anaknya. Kemampuan berperang dan ketrampilan menggunakan senjata yang ada pada Thorvard sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini.

* * *
Di salah satu desa yang terletak di luar tembok istana tinggal sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu dan anak perempuan mereka yang masih muda dan cantik. Yngva namanya, dan sehari-harinya ia membantu orang tuanya dengan menggembalakan domba. Setiap pagi gadis itu menggiring beberapa ekor dombanya menuju padang rumput yang terletak di antara desanya dan hutan keramat. Sembari menunggui domba-dombanya merumput, ia senang duduk di atas sebuah batu besar yang ada di situ dan mengepang rambut emasnya lalu menghiasnya dengan bunga-bunga rumput liar yang tumbuh di sekitar situ. Yngva menyukai bunga. Kadang-kadang pandangannya beralih pada hutan keramat yang terbentang sejauh mata memandang di sebelah selatan desa. Ia membayangkan, bahwa di balik kelebatan hutan itu pasti ada banyak bunga-bunga yang tumbuh dengan indah.

Suatu hari menjelang musim dingin, Yngva menggiring domba-dombanya ke padang rumput. Tidak banyak rumput yang tersisa di situ. Nyaris semua helai rumput sudah mengering karena angin musim gugur yang bertiup. Tetapi orang tua Yngva memutuskan untuk menghemat persediaan rumput musim dingin bagi domba-domba itu sehingga mereka menyuruh anak perempuannya untuk menghabiskan sisa rumput yang masih bisa dimakan oleh hewan-hewan berbulu putih itu. Sedang ia menikmati dinginnya semilir angin musum gugur, dilihatnya sesuatu yang mengejutkan. Asap mengepul dari kejauhan. Ia segera tersadar bahwa asap itu berasal dari desanya. Ingatannya melayang pada kedua orang tuanya. Dengan cepat ia berlari meninggalkan domba-dombanya. Namun tiba-tiba ia berhenti dan berbalik. Sekelompok pria bertubuh raksasa yang menunggang kuda hitam memburunya. Yngva bingung. Ia tidak tahu harus melarikan diri ke mana lagi. Pandangannya tertuju pada hutan keramat di depannya. Ke sanalah ia berlari. Satu-satunya tempat yang dapat menyelamatkannya saat itu.

Yngva berlari dan terus berlari. Ia tidak peduli lagi akan jalan keluar selama ia dapat melarikan diri dari para penunggang kuda itu. Ia tahu mereka. Mereka pastilah suku barbar yang telah dikabarkan melintasi perbatasan negeri ini. Gadis gembala itu tahu betul keganasan suku itu. Mereka dikenal suka membakar dan menghancurkan apapun yang dilewatinya. Semua penduduk desa dibunuh dan para wanita diculik untuk dijadikan istri pemimpin mereka atau sekedar pemuas nafsu mereka saja kemudian dibuang atau dibunuh. Yngva bergidik ngeri membayangkan hal itu. Ia terus berlari, tak peduli dengan tersandung akar pohon atau tersandung batu berulang kali. Sesekali ia mengintip lewat bahunya. Para penunggang kuda itu belum juga berhenti. Kuda-kuda mereka tampaknya terlalu handal untuk dihambat dengan medan seperti hutan ini.

Tepat di sebuah kolam di bawah air terjun Yngva terjatuh. Kakinya tidak mampu lagi untuk berlari. Ia menangis ketakutan meratapi nasibnya. Dalam kata-katanya terselip kalimat-kalimat doa.
"Oh, dewa dewi penghuni hutan. Jangan biarkan diriku jatuh ke tangan mereka. Selamatkanlah aku dari kejaran musuh-musuhku. Biarkan aku kesempatan untuk hidup. Kan kuabdikan diriku sebagai penjaga hutan ini. Tak akan kubiarkan satu pun penduduk desaku merusak dan mengambil apapun dari hutan ini. Kumohon padamu dewa dewi penghuni hutan,"
Serta merta muncullah sesosok wanita berpakaian musim dingin --- sang dewi musim dingin dan perburuan yang juga dilihat oleh Thorvard. Hanya Yngva yang mampu melihat sosok ini, tidak dengan musuh-musuh pengejarnya. Wanita itu tersenyum pada Yngva dan mengucapkan sesuatu, lalu menghilang. Seketika tubuh Yngva berubah sosok menjadi setangkai bunga putih kebiruan yang tumbuh di tanah. Tanah di sekitarnya tidak coklat atau hijau, melainkan putih, karena tertutup salju.
"Tidak mungkin! Pasti perempuan itu hanya salah satu penyihir di desa itu. Ia menipu kita dengan triknya!" kata salah satu penunggang kuda.
"Ayo, kita tangkap dia!" seru yang lain.
Empat pria raksasa yang mengejar Yngva turun dari punggung kudanya. Mereka berjalan mendekati setangkai bunga putih yang tumbuh tepat di tengah kolam itu. Tetapi kemudian langkah mereka terhenti. Satu persatu dari mereka mulai tersadar bahwa kaki mereka telah terperangkap dalam air yang membeku tiba-tiba. Air terjun yang mengalir dari atas tebing di sisi kiri mereka juga telah menjadi beku. Es merambat dari kaki mereka lalu menelan mereka hingga kepala. Keempat penunggang kuda itu telah menjadi patung es, diam tak bergerak, mati. Sementara Yngva yang telah menjadi bunga hanya tersenyum penuh syukur dalam sosoknya yang berkelopak putih kebiruan seperti kristal itu.

Beberapa menit kemudian sosok manusia Yngva kembali. Ia mengucapkan terima kasih pada sang dewi yang menolongnya, kemudian pergi dari tempat itu, meninggalkan musuh-musuhnya yang telah menjadi patung es. Ia mencari jalan pulang dan tiba kembali di tepi hutan hanya untuk menyaksikan desanya yang habis terbakar dan domba-dombanya yang sudah menghilang entah ke mana dari padang rumput itu. Dengan terisak ia duduk di tanah melihat segala kehancuran di depan matanya. Ia tidak tahu lagi harus pulang ke mana.

(bersambung)
 

20.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (2)

Seluruh penghuni kastil cemas, terlebih lagi Sigmund, ayah Thorvard. Ia menanti kepulangan anaknya dari perburuan. Beberapa pengawal telah diperintahnya untuk mencari rombongan Thorvard, sedangkan ia duduk menanti putra tunggalnya itu dengan penuh kekhawatiran di meja makan. Tiba-tiba pintu kastil terbuka. Dua pengawal yang pakaiannya basah kuyup membawa masuk bangkai seekor serigala.
"Hamba mohon ampun Tuanku, kami tidak dapat menemukan putra Tuanku di mana pun. Kami terpisah darinya ketika badai datang. Kami sudah peringatkan ia agar tidak nekad menerjang badai, apa daya kami tak mampu mencegahnya. Keinginan Tuan Muda Thorvard untuk mendapatkan buruan sangat besar," kata Lars, salah satu pengawal yang mendampingi Thorvard.
"Huh! Dasar kalian berdua bodoh! Harusnya kalian tidak membiarkan putraku pergi sendirian!" kata Sigmund kesal.
"Tapi Tuanku, kedua kuda kami tidak mau dipacu menerjang badai itu," kata Knut, pengawal lainnya.
"Banyak alasan kalian! Sekarang cepat jelaskan mengapa kau bawa bangkai serigala itu kemari!" perintah Sigmund.
"Serigala ini kami temukan tergeletak mati di tepi hutan keramat, Tuan. Dan kami terkejut ketika menemukan ini padanya," Lars dan Knut mengangkat tubuh serigala itu dan memperlihatkan sesuatu yang menancap menembus lehernya: panah Thorvard! 
"Oh, tidak. Thorvard anakku!" Sigmund bangkit dari kursi makannya dan langsung menghampiri bangkai serigala yang dibawa kedua pengawal itu. "Thorvard..., putraku satu-satunya... ahli warisku..., bagaimana mungkin kau tewas dimangsa serigala ini?" ia menelungkup penuh penyesalan. Seketika ruangan itu menjadi sunyi seolah kabar duka yang dibawa kedua pengawal telah tersebar lewat udara ke segala penjuru kastil. 
"Tapi Tuanku," Lars memecah kesunyian penuh duka itu. "hamba tidak begitu yakin bahwa Thorvard pasti dimangsa serigala ini. Memang ada kemungkinan ketika ia dimangsa ia berusaha melawan dengan menancapkan panahnya ini. Tapi... jika memang serigala ini memangsanya, kami tidak menemukan sisa apapun dari Tuan Muda Thorvard, yang tentu seharusnya tidak terjadi,"
Sigmund mengangkat kepalanya. "Jadi.. maksud kalian, ada harapan bahwa anakku masih hidup? Lalu jika demikian di mana ia sekarang?" 
"Satu hal yang kami khawatirkan, Tuanku. Tuan Muda Thorvard mungkin telah tersesat dalam badai dan tanpa sengaja masuk ke hutan keramat," kata Knut.
"Apaaa?! Hutan keramat kau bilang?! Apa bedanya dengan kematian kalau begitu?! Siapa pun yang masuk ke sana tidak akan dapat keluar!" Sigmund tidak begitu suka dengan kemungkinan kedua.
"Setidaknya kita dapat berharap Tuan Muda Thorvard tidak seperti yang lainnya dan suatu saat menemukan jalan keluar," kata Lars berusaha memberikan pemikiran positif.
Sigmund sang tuan tanah melewatkan makan malam dalam kesendirian. Separuh hatinya masih berharap bahwa anaknya akan kembali. Sayangnya hingga ia beranjak tidur, tidak ada tanda-tanda kepulangan Thorvard.
* * *
Nun jauh di hutan keramat, Thorvard yang telah berubah menjadi serigala menanti datangnya malam dengan tidak sabar. Ketika sinar bulan pertama menembus celah-celah pohon yang begitu rapat, ia segera berlari dan membiarkan tubuhnya dimandikan cahaya bulan yang membuat bulu-bulunya menjadi keperakan. Ia membuat sebuah lolongan panjang lalu seluruh tubuhnya mulai berubah. Wajah, tangan, badan, kaki dan jari jemarinya kembali menjadi Thorvard, sang ksatria gagah. Ia berdiri dalam balutan baju besi yang bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Dengan mantap ia melangkah meninggalkan cahaya itu, bermaksud melaksanakan keinginan utamanya: pulang ke kastil.

Thorvard melangkah keluar dari hutan keramat, melalui desa-desa di sekitar dinding kastil yang sangat sunyi seolah mati. Malam sudah begitu larut, sampai-sampai ketika ia tiba di kastil, tak seorang pun masih terbangun kecuali para penjaga gerbang. Penjaga gerbang tampak terkejut melihat kehadiran sang ksatria yang tidak berubah kecuali sebuah luka yang tampak di kepala akibat terantuk batu tadi. Tanpa berkata apa-apa, mereka langsung membukakan gerbang untuk sang tuan muda. Thorvard harus melalui jalan panjang yang melingkar ke atas apabila ingin mencapai pintu kastil. Ia harus melakukannya dengan kedua kakinya karena kudanya telah kabur entah ke mana ketika melihat dirinya berubah menjadi serigala. 

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah Thorvard di pintu kastilnya. Semua pengawal yang berjaga membukakan pintu untuknya, tetapi ia merasa ada yang janggal, karena para pengawal itu kemudian berbisik-bisik dengan berisik sekali. Kepulangan Thorvard langsung diketahui oleh ayahnya lewat kurir kastil. Sigmund menghambur keluar menghampiri sang anak dan segera menanyakan banyak hal pada Thorvard. Tanpa mempertimbangkan waktu, sang tuan tanah memerintahkan para pelayan untuk memasakkan makanan mewah dan lezat untuk putranya. Ia begitu percaya akan keajaiban yang telah terjadi: Thorvard tidak mati namun berhasil keluar dari hutan keramat dengan selamat, nyaris tanpa kekurangan apapun. 

Ayah dan anak itu terus bercakap-cakap hingga lupa waktu. Ketika Thorvard tersadar, jam sudah menunjuk pukul lima pagi. Mereka telah mengobrol semalaman tanpa tidur dan Thorvard mulai khawatir. Ia sadar bahwa sebentar lagi mentari akan terbit dan sinarnya akan mengubah dirinya menjadi serigala kembali. 
"Tapi Thorvard anakku," kata Sigmund, "kau baru saja pulang, kenapa harus pamit dan pergi lagi?" tanyanya bingung.
"Tidak bisa ayah, aku harus pergi. Ada urusan yang belum kuselesaikan. Aku akan kembali lagi nanti," katanya. Ia langsung menyambar jubah yang disampirkan di punggung kursinya dan berlari melintasi ruang tengah kastil yang luas menuju keluar.
"Thorvard! Tunggu!" panggil Sigmund, namun ia tidak lagi dapat mencegah anaknya. Sang ksatria muda telah menghilang dari pintu.
Thorvard berlari dengan cepat melintasi lorong-lorong sempit di antara bangunan. Ia berusaha menghindari sinar mentari yang mulai menyusup menembus awan di ufuk timur. Namun ia kalah cepat. Matahari mulai naik dan menampakkan seluruh wujudnya. Sekelilingnya menjadi sangat terang dan perlahan-lahan ia merasakan bulu-bulu kembali menutupi tubuhnya. Dengan segera ia melompat bersembunyi di balik bayangan. Sial bagi Thorvard, seorang anak kecil justru berjalan mendekatinya karena penasaran.
"Aada.. celigalaaaa..., celigalaaa..," katanya dengan polos dan lugu seolah tak tahu bahaya yang mengancam nyawanya.
"Tidak ada serigala di dalam dinding kastil, Nak," kata ibunya tanpa menyadari keberadaan Thorvard.
"Jangan ke sini, Nak! Bahaya.., menjauhlah dariku! Hush.. hush...," Thorvard berusaha mengusirnya dengan melambai-lambaikan cakarnya. Ia tidak sadar suara yang dihasilkannya sama sekali bukan suara manusia, melainkan suara geraman hewan buas.
"Ada serigalaaaaaaa!!!! Toloooong!!" sang ibu menjerit ketika menyadari asal geraman itu. Ia menarik anaknya menjauh dan berteriak-teriak di sepanjang jalan lalu menunjuk tempat persembunyian Thorvard.
 Buru-buru Thorvard melompat keluar dari bayangan. Ia terkejut melihat banyaknya orang di jalan dengan berbagai macam senjata. Mereka juga tampak terkejut menemukan serigala abu-abu besar berada di balik dinding kastil.
"Itu serigalanya! Ayo kita kejar!!" seru seorang penduduk.
Mereka mengejar Thorvard sembari melesakkan anak panahnya berharap dapat melumpuhkan atau membunuh serigala itu. Thorvard berlari dengan panik mencari gerbang kastil selagi berusaha menghindari senjata apapun yang dilemparkan para penduduk. Sebuah anak panah yang tajam berhasil menggores kakinya. Siksaan belum berakhir, karena ketika ia tiba di gerbang kastil, penduduk desa di luar sudah bersiap dengan senjatanya masing-masing. Garpu ladang dan obor dengan api menyala dilemparkan ke arah dirinya. Kerumunan penduduk terus mengejarnya. Thorvard terengah-engah berlari melintasi padang rumput lalu menghilang di balik kelebatan hutan keramat. Sejak hari itu ia bertekad tidak lagi ingin masuk ke dalam kastil selagi kutukan itu masih ada. Ia hanya keluar pada malam hari sesekali dalam pakaian ksatria dan wujudnya yang tegap dan gagah dan menghilang sebelum matahari terbit. Orang di daerah tersebut kemudian mengenalnya sebagai ksatria malam.

(bersambung)