Tampilkan postingan dengan label mittelalter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mittelalter. Tampilkan semua postingan

23.5.14

Melepas Dirinya

Dari balik tiang, Sang Ksatria memandangi sosok mungil dalam balutan gaun biru itu. Putrinya, kekasihnya, seseorang yang telah menjadi pengabdiannya selama bertahun-tahun, tengah berdiri dikelilingi para dayangnya yang sibuk merapikan rambutnya. Diamatinya rambut coklat tua yang kini terikat dalam kuncir kuda, berayun-ayun lembut seiring dengan gerakan tubuh mungil Sang Putri. Sebelumnya ia tak pernah mengikat rambutnya demikian. Sang Putri selalu berkuncir setengah atau membiarkan rambutnya terurai bebas. Dan pada saat itulah sang ksatria akan mengagumi kecantikannya. 
"Tunggu sebentar," ujar Sang Putri pada dayang-dayangnya untuk menghentikan aktivitas mereka. Kemudian ia berjalan mendekati tiang, tempat Sang Ksatria berdiri mengamatinya dalam sunyi.
Sang Ksatria tidak menghindar atau membela diri. Dengan berani ia keluar dari persembunyiannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sang Putri bertanya. "Masih adakah sesuatu yang ingin kau katakan? Tidakkah kau baca suratku semalam?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya," jawab Sang Ksatria.
Sang Putri hanya tersenyum memaklumi. Ia tidak melarang, atau memarahi ksatria malang itu. Ia sadar bahwa keduanya pernah memiliki masa lalu yang indah bersama-sama, yang sayangnya tidak berlanjut lagi.
"Tinggalkan aku berdua dengannya," pinta Sang Putri kepada para dayangnya. 
Dalam beberapa detik, hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu, bersama kesunyian panjang di antara mereka.
"Maaf untuk keputusanku," suara lembut Sang Putri memecah kesunyian, berharap ia tidak terlalu menyakiti hati seseorang yang telah berbagi hati dan jiwanya selama bertahun-tahun. 
"Ya, apa lagi hal yang bisa kukatakan, Putri, selain menerima maafmu. Inilah risiko yang harus kutanggung sebagai ksatriamu," jawab Sang Ksatria, berusaha berbesar hati dan rela, namun suaranya yang seperti tertahan tidak mampu menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya.
Mengapa Sang Putri tega berbuat demikian? Bukankah dirinya yang selalu ada dalam hari-hari kesepian Sang Putri? Bukankah ia yang selalu menjadi tempat berbagi dalam suka dan duka? Apakah kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Sang Putri mencampakkannya seperti ini?

Pandangannya menerawang ke pemandangan padang rumput yang tampak dari jendela kastil. Ia teringat pada suatu hari yang mereka habiskan di bawah pohon Linde. Salah satu hari ketika pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik.
"Aku akan pergi ke negeri yang jauh. Telah kudaftarkan diriku untuk pergi bersama rombongan ksatria kastil ini," ujar Sang Ksatria pada hari itu.
Sang Putri hanya terdiam lama. Tatapan matanya mengisyaratkan kecemasan dan kekecewaan. Ia menarik nafas berkali-kali, seolah mengumpulkan kekuatan atau menyusun kata-kata dalam benaknya.
"Mengapa tak kau bicarakan denganku? Akankah kau meninggalkan diriku berhari-hari tanpa kabar dan membiarkanku dalam kecemasan akan bahaya yang kau hadapi di negeri-negeri nan jauh itu?" kata Sang Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kesempatan ini tidak datang dua kali. Sudah sejak lama aku menginginkannya," Sang Ksatria bersikukuh meyakinkan kekasihnya.
"Tapi tidak bisakah setidaknya kau bicarakan itu denganku dulu?" Sang Putri tertunduk sedih.
"Percayalah, ini akan jadi sesuatu yang baik. Aku pergi untuk menyiapkan segalanya, sehingga nanti aku pun dapat membawamu melihat negeri-negeri yang jauh itu," kata Sang Ksatria.
Sang Putri tersenyum kecil. Ia sedikit terhibur, meski jauh di dalam hatinya, ia sungguh tidak rela. Bukan karena ia takut ksatrianya akan menemukan putri lain di negeri yang jauh. Bukan karena ia takut ksatrianya tak akan mampu melewati berbagai bahaya dan rintangan di sana. Tapi karena ia merasa sudah terlupakan oleh Sang Ksatria. Ia merasa tengah menjadi sebuah mainan yang hanya diletakkan di sudut ruangan, tak dipedulikan ketika Sang Ksatria mengambil keputusan untuk memiliki sebuah kesenangan baru. Sudahkah kekasihnya lupa, bahwa cinta baginya adalah waktu dan perhatian, bukan ajang pamer kehebatan atau hujan hadiah?

Lalu berangkatlah Sang Ksatria bersama rombongan ksatria kastil itu. Dengan gagah ia menunggang kuda unggulannya yang berderap meninggalkan negeri itu. Pada tombak yang dibawanya terikat kain biru bunga Kornblume, warna simbol Sang Putri. Sang Putri berdiri dekat pintu kastil, melambai-lambaikan sapu tangan dalam warna yang sama. Bibirnya mengucap doa, berharap ksatrianya akan kembali.

Hari berganti hari, namun Sang Putri tak kunjung melihat sosok yang dicintainya kembali berkendara menuju kastilnya. Ia termenung di dekat jendela, memandang bayangan biru dari puncak-puncak gunung di negeri yang jauh. Berulang kali ia tanyakan pada kurirnya, adakah surat dari sang kekasih. Mula-mula surat itu datang, namun kemudian tidak lagi. Sang Ksatria seperti hilang tanpa jejak, meninggalkan Sang Putri dalam kesepiannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Sang Raja mengetuk pintu kamar Sang Putri dan membawa kabar.
"Putriku, mau sampai kapan kau bersedih demikian? Ikutlah bersamaku. Aku akan mengadakan kunjungan ke Kerajaan Utara," ujar Sang Raja.
Sang Putri menoleh mendengar ajakan Sang Raja. Ia tak suka bersosialisasi. Baginya Sang Ksatrialah satu-satunya orang yang mampu menghibur dan menyenangkan dirinya. Tetapi kemudian ia memandang jendela. Ia tahu Sang Ksatria masih mencintainya, tetapi mungkin dengan caranya sendiri dan bukan dengan cara yang diinginkannya. Tak ada salahnya mengikuti ajakan ayah, demikian ia berpikir. Mungkin ia akan mendapat teman. Lagipula sudah lama ia tertarik dengan kehidupan di Kerajaan Utara yang penuh kedamaian dan kemakmuran. Dan di sana tinggal seorang pangeran, sahabat lamanya, yang sudah lama tak berhubungan dengannya.

Maka berangkatlah Sang Raja dan Sang Putri dengan kereta kuda menuju Kerajaan Utara, tempat Sang Pangeran yang terkenal dengan kehebatan ekspansinya tinggal. Mereka dijamu dengan makanan laut khas negeri itu. Meski kedua kerajaan tersebut seringkali bermusuhan, Sang Pangeran tampaknya sangat ramah, khususnya kepada Sang Putri. Sang Putri merasa bahagia, seolah-olah menemukan penghiburan atas kesepiannya.
"Aku terpikir untuk membawamu tinggal di sini," ujar Sang Pangeran suatu hari, ketika ia dan Sang Putri tengah berlayar di salah satu fyord yang menjadi kenampakan alam khas Kerajaan Utara.
"Sungguhkah itu, Pangeran? Engkau tahu kita berbeda bangsa, dan seringkali berada pada pihak yang berlawanan," Sang Putri tampak tak percaya.
"Tidak masalah bagiku. Dengan bangsamu aku sudah terbiasa hidup bersama selama tahun-tahun belakangan ini. Lagipula kau adalah pengecualian bagiku," jelas Sang Pangeran.
Sang Putri tampak bahagia mendengarnya. Sembari menatap keindahan fyord yang ditunjukkan Sang Pangeran, ia banyak menceritakan tentang mimpi-mimpinya. Sang Pangeran berdiri di sampingnya, memainkan rambut panjangnya yang pada saat itu diikat kuncir kuda.
"Sesungguhnya aku sangat senang melakukan perjalanan. Namun aku tanpa daya untuk melakukannya. Aku terkurung dalam kastil dan tak bahagia. Hatiku ingin menyaksikan negeri-negeri yang jauh dengan alam yang indah," ujar Sang Putri.
"Mungkin kita bisa pergi bersama? Mintalah izin ayahmu dan kita akan pergi bersama menyaksikan negeri-negeri yang jauh," kata Sang Pangeran.
"Mungkinkah itu? Aku ingin sekali pergi berlayar dengan kapal panjang seperti milikmu ini," Sang Putri berandai-andai.
"Kita akan mengusahakannya bersama-sama. Membangun kapal panjang untuk berdua dan melihat negeri-negeri yang jauh bersama-sama. Dan kau tak perlu khawatir tentang hidup di sini. Aku tak akan memaksamu bertanggung jawab atas bagian dapur atau berlatih menjahit. Di Kerajaan Utara kau bisa setara denganku," kata Sang Pangeran.
Sang Putri tersenyum senang. Ia seperti menemukan  kebahagiaannya lagi. Sungguh tidak disangka, bahwa ia dan Sang Pangeran memiliki banyak impian yang sama. Sang Raja pun tak berkeberatan. Ia siap mengizinkan Sang Putri untuk menikahi Sang Pangeran dan tinggal di Kerajaan Utara. Dan hari ini adalah hari ketika Sang Putri akan berangkat ke tanah Sang Pangeran dan menyongsong mimpi-mimpinya.
"Begitukah, Putri? Kau lebih memilih Sang Pangeran dibanding diriku? Tak bisakah kau setia selagi aku pergi menjelajah negeri-negeri yang jauh?" tanya Sang Ksatria.
"Aku sudah mencoba. Bukan aku tak setia menunggumu. Aku hanya ingin dilibatkan dan diajak serta. Aku tak ingin kau tinggal di belakang, menunggumu mengejar kesenanganmu, dengan alasan aku akan diajak serta suatu hari nanti. Itu hanya pembenaran darimu. Sejak awal aku tak pernah menyukainya, bahwa kau bertualang seorang diri tanpa membawaku. Aku menginginkan seseorang, yang dengannya aku dapat berbagi dan membangun mimpi bersama-sama. Karena pada akhirnya, seseorang yang mengajakku ikut serta akan menang atas seseorang yang mengejar kesenangan hanya untuk dirinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, maafkan aku dan biarkan aku pergi," ujar Sang Putri, jauh dalam hatinya masih ada sedikit rasa bersalah yang terselip akibat ketidakmampuannya menunggu hingga Sang Ksatria pulang.
"Kau seperti tidak mengerti perasaanku," kata Sang Ksatria tertunduk sedih.
"Maafkan aku," sang Putri berkata pendek.
Sang Ksatria mendesah. Ia sadar, sudah saatnya ia melepas Sang Putri pergi. Mungkin memang ia ditakdirkan untuk terus-menerus berkorban bagi Sang Putri. Bersama dengan itu terdengar suara derap langkah kaki kuda dari jendela kastil. Kereta kuda yang akan mengantar Sang Putri telah tiba. Dayang-dayang kembali masuk ke ruangan untuk mengantar Sang Putri menuju kereta kuda itu. Sang Ksatria mengikuti mereka di belakang.
"Selamat tinggal," ujar Sang Ksatria, nyaris dalam bisikan.
"Selamat tinggal. Semoga kau berbahagia meski tanpa diriku,"  balas Sang Putri, yang kemudian melangkah masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintu selamanya dari Sang Ksatria.
by Frouwelinde
24.05.14
for my confession about life 
 
 
 
 
 
 

15.9.13

Brynhild, Sigurd dan Kriemhild

Tarian malam pengikat cinta tiada kuasa menahan sang ratu utara

Ditinggalkannya ksatria pembunuh naga penunggang keberanian yang telah tembuskan dinding pagar api demi dirinya

Dalam beku salju dan ratapan angin kutub bersemayam sang bidadari putih dalam kesendirian

Dinantinya kesetiaan sang cinta yang kini terbangun dalam serpih-serpih kenangan bersama ucapan janji yang sempat terucap

Namun siapakah ksatria di dunia tengah tak melupa dirinya?

Tatkala mata bertemu dengan sepasang lainnya, yang lebih bersinar daripada harta karun Sungai Rhein

Melongok dari menara-menara batu menjulang dari kota bangsa Nibelung yang diabdinya

Sang penakluk dinding api dan penguasa harta karun Sungai Rhein terpikat hatinya pada putri Frankia berambut merah terurai panjang 

Kriemhild!



Dengan bantuan madu dan anggur dalam jambangan digenggam kedua tangan lembut itu terlupalah sang ratu utara bidadari putih masa lalu sang ksatria

Maka berpestalah keduanya dalam riuh rendah pemersatu janji di bawah salib pengganti dongeng dewa-dewi utara

Bertahun lamanya hidup sang ksatria pembunuh naga dan putri berambut merah dalam gelimangan harta karun anugerah Sungai Rhein

Dan lupalah mereka akan harta karun penuh kutuk yang ditimbunnya bersama kebanggaan di balik tembok megah istana

Hingga hitam gelap bernaung di atas kota membawa mati membawa duka membawa perpisahan

Dalam satu perburuan tercabut nyawa sang ksatria pembunuh naga oleh ujung tombak penasehat raja atas perkataan sang rambut merah

Banjir tangis mengalir demi sang ksatria yang dilepaskan pada dewi-dewi Sungai Rhein bersama gelimang harta karun berkilau milik mereka

Sampai sang ratu utara bidadari putih masa lalu sang ksatria jadi masa depan oleh pedang yang menyatu dirinya dan cinta

Kembali bercermin aku pada kaca kehidupan sadar akan siapa diri dalam legenda utara yang terlukis lewat baris-baris kata

Akulah Brynhild, masa lalumu yang terlupa oleh anggur madu dan helaian rambut merah sang putri Frankia

Dan siapakah kau, Sigurd, yang 'kan bersatu denganku dalam keabadian dengan dewa-dewi utara?


by LV~Eisblume
16.09.13
inspired by der Ring der Nibelungen



10.8.13

Deutschland, 6.Schritt: Endlich finde ich meine Welt :')

Sebetulnya ini langkah yang entah keberapa, tapi aku sudah tak sabar menceritakannya pada kalian. Dalam tulisan ini tertuang perasaan emosional yang sulit dijelaskan, maka aku memilih kata-kata yang lebih indah dari biasanya untuk menceritakannya pada kalian.

Sore itu hujan lebat. Udara dingin bertiup dalam angin dari barat laut, membuat aku berulang kali berpikir bahwa aku telah salah berpakaian (meskipun aku mengenakan cardigan ungu sebagai pelapis dan celana panjang berwarna merah muda). Tetap saja aku salah berpakaian, karena sepatu yang kukenakan terlalu cantik untuk menjalani cuaca buruk.

Di bawah atap museum Residenz yang berlukiskan fresko-fresko gaya Barock, aku dan kedua temanku, Domi dan Nataly berlindung dari hujan. Kami tak ingin melewatkan sedikit pun waktu kosong selama di Munich, hingga kami nekat menerjang hujan untuk melihat museum Residenz yang dulunya istana kediaman wangsa Wittelsbach. Tentang keindahan Residenz akan kuceritakan lain kali, karena bukan itulah hal yang terpenting pada hari itu.

Hari itu aku telah membuat janji untuk bertemu seorang teman. Ia tinggal di Munich dan sudah menikah. Kalian tahu di mana kami bertemu? Interpals! Tepat sekali. Situs pertemanan internasional itu tentu pernah kuceritakan pada kalian semua. Memang menyenangkan mencari teman di sana, terlebih kalau kalian menemukan seseorang yang sungguh-sungguh teman. Percaya atau tidak, aku dan temanku ini belum lama saling mengenal di Interpals. Ketika itu aku tengah mencari seseorang yang tinggal di Munich dan mampu membantuku dalam berbagai hal selama di Munich nanti. Lalu aku menemukan sebuah akun yang namanya terdengar indah di telingaku sebagai pecinta Mittelalter dan mitologi Norse. Nama itu kira-kira berarti "pejuang dunia tengah". Dunia tengah adalah istilah dalam mitologi Norse maupun karya-karya Tolkien untuk menyebut planet bumi tempat manusia tinggal. Sepintas melihat deskripsi sang pejuang tampaknya ia bukan orang yang akan senang berteman denganku. Bukan karena aku terpengaruh pandangan bahwa semua orang yang menyukai mitologi Norse adalah pendukung gerakan ekstrem sayap kanan, bukan. Tapi karena kadang-kadang aku merasa bahwa aku sama sekali tidak menunjukkan kesukaanku terhadap subkultur Mittelalter dari penampilanku. Intinya aku tidak punya bukti apapun selain isi otak dan musik-musik yang kudengar.

Singkat cerita, aku memberanikan diri mengirim sebuah pesan. Awalnya hanya mengomentari selera musiknya yang kurang lebih mirip denganku. Lalu lama sekali aku tak menerima balasan. Sampai akhirnya pesanku dibalas! Ia menanyakan beberapa hal dasar dan menceritakan sedikit tentang dirinya, yang ternyata seorang fotografer. Ia menanyakan apakah aku menyukai karya-karyanya. Oh ya, tentu saja, karya-karyanya bagus sekali. Kalian bisa melihatnya di sini: http://gelner-photography.de/index.php/en/ . Aku paling menyukai tema alam. Percakapan kami berlangsung singkat-singkat, karena entah mengapa ia jarang sekali berkunjung ke Interpals. Sampai akhirnya ia menanyakan apakah aku punya Facebook dan menyarankan agar kami berteman di sana juga karena rupanya ia lebih sering berada di Facebook.

Lewat Facebook, kami lebih banyak mengenal. Ia banyak bertanya tentang persiapanku ke Munich sekaligus menanyakan ke mana saja aku akan pergi. Aku pun bercerita bahwa aku sangat ingin melihat festival Mittelalter, yang sayangnya sedang tidak ada di Munich (belakangan aku tahu bahwa ternyata hal itu disebabkan karena di bulan Agustus sebagian besar penduduk Munich berlibur). Di saat yang hampir bersamaan, aku menemukan sebuah festival yang berlangsung di Fürth im Wald, dua jam dengan kereta dari Munich. Cave Gladium namanya. Aku menceritakan festival itu pada temanku ini. Balasannya cukup membuatku terkejut dan bahagia, ia menawarkan diri untuk menemaniku ke festival itu! Aku sangat senang, karena pada awalnya Mutti agak keberatan jika aku pergi sendirian. Selain tentang festival ini, kami juga banyak bertukar cerita tentang kehidupan yang lebih privat. Di sinilah aku mengetahui bahwa ia sudah menikah dengan seorang wanita dari Eropa Timur yang ternyata sangat cantik. Istrinya itu pun ingin bertemu denganku ketika aku tiba di Munich nanti.

Sebelum berangkat menuju festival Mittelalter, kami sepakat untuk bertemu langsung terlebih dahulu. Tanggal  9 Agustus kami sepakati bersama. Pada awalnya, kami akan bertemu di Hirschgarten, yang bagiku sedikit terlalu jauh, tetapi kemudian ia memberikan kebebasan padaku untuk menentukan tempatnya. Kukatakan bahwa aku akan pergi ke Residenz seusai kelas. Ia menawarkan Odeonsplatz sebagai tempat bertemu dan aku menyetujuinya. Kutambahkan sedikit petunjuk: carilah seorang gadis mungil dalam atasan ungu dan celana merah muda.

Dan demikianlah aku berpakaian. Sore itu aku berpisah dari Domi dan Nataly di Residenz. Sebuah pesan singkat menghampiri ponselku, menanyakan keberadaanku. Kukatakan bahwa aku masih di Residenz karena hujan, dan akan berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah Odeonsplatz dan menunggu mereka di sana, karena keduanya masih di Marienplatz, satu stasiun dari Odeonsplatz. Dengan ragu aku mengambil tempat duduk di lantai dua stasiun, berharap-harap cemas apakah akan mudah untuk menemukan kedua temanku ini, terlebih lagi karena ini pertemuan pertamaku di dunia nyata dengan seorang teman yang kukenal di dunia maya. Tepat ketika aku merasa tidak yakin akan ditemukan di tempat itu dan memutuskan untuk berjalan turun ke peron stasiun, mereka muncul di balik tangga dan memanggilku. Dengan bahagia aku berlari menghampiri mereka dan membuat sedikit kebingungan dengan menjabat tangan mereka (orang Jerman tidak berjabat tangan ketika berkenalan). Pertemuan pertama di dunia nyata dengan teman yang kukenal di dunia maya :")

Beberapa kalimat basa-basi kami lontarkan, hingga pada pertanyaan terpenting hari itu, karena itulah yang memutuskan segalanya: "Buch oder Mittelalter?" tanyanya. Dengan cepat, jawaban Mittelalter meluncur dari bibirku dengan penuh rasa bahagia dan semangat. Kami pun langsung menuju peron untuk naik kereta ke stasiun Sendlinger Tor, tempat satu-satunya toko Mittelalter di Munich yang temanku tahu. Dua stasiun kemudian, tibalah kami bertiga di Sendlinger Tor. Kami buka payung karena hujan masih terus turun. Kami harus segera mencapai tempat itu untuk berteduh menunggu hujan yang semakin deras.

Sebuah toko kecil dengan simbol ksatria berupa tiga fleur-de-lys menyambut kami di salah satu sudut jalan. Di balik kacanya tampak seorang ksatria berbaju besi berdiri tegap memandang ke arah jalanan. Mengikuti kedua temanku, aku segera melangkah masuk. Sungguh tidak ada kata yang mampu melukiskan betapa bahagia dan kagumnya aku pada toko kecil itu. Di dalamnya kutemukan berbagai jenis benda yang sebelumnya hanya dapat kulihat lewat foto atau rekaman video di internet. Berbagai macam perlengkapan yang biasanya hanya ada di festival Mittelalter menyambut kedua mataku dan memuaskan pandangannya. Pakaian, perabotan, aksesoris, buku, persenjataan, seragam, bendera, dan segala hal lainnya. Temanku membiarkanku melihat-lihat selagi ia berbincang-bincang dengan wanita tua pemilik toko. Wanita ramah itu kemudian juga mempersilakan aku untuk mengambil apapun yang kuinginkan dan mencobanya. Lama sekali aku menjelajah toko kecil itu, karena begitu sulit menentukan pilihan dari sekian banyak benda khas Mittelalter yang tidak ada di Indonesia. Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah tas khas Mittelalter (karena aku butuh tas untuk festival nanti), sebuah kalung Mjolnir Thor dan sebuah kalung dengan pahatan Rune Turisas. Sungguh, aku tidak menyangka akan pernah memiliki benda-benda yang selama ini hanya sukses membuatku melihatnya di monitor laptop dengan penuh keinginan.

Aku masih sibuk mengamat-amati ketika tiba-tiba wanita tua pemilik toko beralih padaku dengan wajah heran tetapi ramah:

"Kamu belum pernah mencoba Met?" tanyanya heran.
"Belum," aku menggeleng.
"Kamu belum pernah?? Ahh.., kalau begitu kamu harus mencobanya sekarang,"
Lalu diambilnya sebotol Met buatan rumahan dan empat buah gelas kecil untuk kami bertiga dan dirinya sendiri. Dituangkannya minuman beralkohol tertua di Eropa itu dalam porsi kecil ke dalam gelasku. Warna merah tua segera memenuhi gelas beningku. Kutatap ketiga orang di depanku itu dalam wajah bahagia.
"Prost!!" seru kami berempat dan mulai meneguk sedikit demi sedikit.
Rasa manis dan hangat segera memenuhi lidah, tenggorokan dan akhirnya berdiam dalam tubuh mungilku yang kedinginan oleh hujan. Rasa manis dan hangatnya sungguh membuatku meledak dalam kebahagiaan. Kami larut dalam percakapan yang menyenangkan diiringi musik-musik Mittelalter yang cukup sering mewarnai hari-hariku. Dari sekian banyak lagu yang kudengar di berbagai tempat umum di Munich, hanya rangkaian lagu ini yang familiar bagiku. Rasanya campur aduk, seperti ada satu sisi dalam diriku yang mengingatkan akan kehangatan rumah, rumah yang tak pernah kulihat sebelumnya, sementara sisi lainnya menerbangkan diriku ke sebuah alam fantasi yang selama ini hanya kutemui dalam dongeng dan legenda.

Kuceritakan bahwa di negaraku tidak ada hal yang seperti ini, sehingga aku sedih karena tak mampu memenuhi kesenanganku. Aku juga meminta izin pada wanita pemilik toko itu untuk mengambil beberapa foto. Betapa bahagianya aku ketika ia mengizinkanku mengambil foto toko kecilnya itu. Aku juga mendengar banyak cerita. Wanita tua itu rupanya bukan orang Jerman. Ia berasal dari Slovakia. Memang gayanya sedikit banyak mengingatkanku pada sosok wanita bijak di era Mittelalter, tetapi juga seperti seorang gipsi. Sementara itu, kedua temanku menceritakan tentang diri mereka. Kudengar bahwa istrinya yang cantik itu berasal dari Ukraina dan lulusan Germanistik. Ah, mendengar bagian itu membuatku sedikit iri. Wanita ini telah berhasil meraih impian yang sama seperti yang kuimpikan. Bagaimana tidak? Kuliah Germanistik, menikahi pria asal Jerman yang sama-sama menyukai Mittelalter dan bekerja di bidang seni. Bahkan selama di toko, beberapa kali kudengar mereka tertawa kecil membicarakan bahwa beberapa perabot rumah tangga di toko itu cocok untuk rumah baru mereka. Ah, menyenangkan sekali hidupnya. Kapan ya aku bisa mendapatkan impianku yang itu? :') Rasanya hujan telah membuatku sedikit lebih melankolis hari itu.

Sungguh hari yang menyenangkan, terlepas dari cuaca buruk yang bertahan sejak pagi. Aku benar-benar bahagia. Aku semakin merasa telah menemukan duniaku, dunia yang sangat ingin aku diami, yang jauh dari keramaian dan kegaduhan di tanah airku. Betapa bahagianya berada di tengah orang-orang dengan minat yang sama, berbagi keceriaan bersama dan melakukan perjalanan lintas waktu bersama. Aku harap ini bukan yang terakhir. Aku masih ingin menikmati Met yang manis dan hangat itu, sama seperti perasaan yang muncul dalam diriku hari itu. Akhirnya aku menemukan duniaku. Terima kasih untuk kedua teman baruku, Dennis dan Olga :)


viele liebe Grüße aus München,
LV~Eisblume


Dan ini oleh-oleh dari München, foto-foto dari toko Mittelalter :)








 
 

17.6.13

The Winged Knight

Once upon a time on a cloudy day, Lady Terezka was sitting near the window. Her eyes gazed into the field surrounding her beautiful castle. Her mind flew somewhere, far to her dreams. If we could look at her face, we might find unhappiness there. All people thought that she was the luckiest woman on the earth at that time, because she lived in a very beautiful castle and married to a young handsome knight with a gentle heart. But deep inside her heart, all was different. Indeed she had a beautiful castle, but after quite a long time lived inside it, she felt that that was not her home. 

She looked at the linden tree that located not far from her window. Now the leaves started to fall one by one. It was a linden tree which was planted by her husband to remind them at her previous home, her lovely small castle. Under the linden tree near her castle they met each other for the first time. She knew exactly that he was the part of the cavalries that had just conquered some parts of her kingdom. She knew exactly that he served a big kingdom, which located far in the east, among the golden sand mountains. She knew exactly that he believe in different way with her. But Lady Terezka did not care about that. All that she believed is that this knight was very kind and gentle-hearted, loyal and even willing to leave his kingdom, just to build another castle on the land he had conquered, although all his companion has returned to their kingdom. 

While gazed at the green field below her window, suddenly she saw a gleaming light from afar. The light came nearer and nearer and it revealed to her as a strong white horse bore a knight in a shining armor. She was amazed with what she saw. Who was the knight, who dare to enter this area. He must be not one of her husband's companion. He must be a knight from an unknown place to her, because as she paid more attention to him, it seemed to her that there were wings on his back.
"A winged knight?" she whispered to herself. "I wondered where he came from. What are he doing near my castle?"
Even though she knew exactly that he didn't part of her castle, she hoped that this knight will pass the field safely, without being known by any of her husband's knight. But then the knight suddenly disappeared. Lady Terezka was surprised and began to search him, who had become her center of attention for a while. But before she could find the mysterious knight, someone called her name. The voice came from below, just below her window.
"I beg your pardon, young lady. But why do you seem very sad in this lovely day?" asked the voice politely.
Surprised, because it was the mysterious knight who spoke to her, Lady Terezka answered, "I...I.. i just wondering if my choice was true...."

The knight smiled without replying anything. He stared at the beautiful woman at the window and waited, as if he knew that Lady Terezka would answer more. And he was right.
"I'm not sure if I chose the right way... to agree and live in this place," said Lady Terezka.
"But this place is very beautiful, my lady. Why should you be sad because of it?" asked the winged knight.
"Because I feel trapped inside here, inside my own choice to marry the owner," answered the lady again.
"Is he mean to you? What had he done to you so that you become sad right now?" 
"No, he didn't do anything. In fact he is very kind and gentle-hearted. But it's me who feel uncomfortable with everything. I just heard what happen outside there. What his friends has done to my beloved land, my beloved kingdom. I know that he don't do anything and aren't involved in it, but those friends.... I can't see him being with his friends," told Lady Terezka to the winged knight.
"Oh, well, i understand. It seems that you and he come from different origin and now both of your kingdom are in war against each other," the knight smiled.
Lady Terezka nodded. Far in her heart she hoped that this knight wants to help her by giving some advice.
"But the difference don't give a problem, right?" 
"No, it doesn't. Even he built for me a special room to preserve my culture and let me decorate this castle in the way i want. But i still feel trapped. I can't eat my favorite food again, because it was uncommon for his tongue. I can't speak freely when deep in my heart i disagree with what his knights do, because i don't want to hurt his heart. He was proud of his culture and his knights. But i can't stand here without doing anything, while his friends attacked and conquered parts of my kingdom one by one," said Lady Terezka. Her voice sounded hopeless.
"Before you took this decision, my Lady, do you think about these consequences? What had attracted you to join him in the eternal vow?" asked the winged knight, his voice sounded very mature and wise for Lady Terezka, and she couldn't resist not to answer.
"I was still young at that time. For me, to be free from my childhood castle was really a dream. And there he came, with some adventurous challenges lay ahead. He introduced me to the world I've never known, the world of his culture and his kingdom which until that time I read only through old scrolls in my father's room. He was very romantic at that time. He wrote me some Minnelieds and that was so sweet. I ran away with him despite of the forbid of my parents..," said the beautiful lady.
The winged knight smiled slyly. He planned to do something. He knew that there is a solution for this enchanting lady. But he had to think about it first. And then the lady asked him.
"And who are you, winged knight? Never I heard about you before, nor your cavalry. Where are you come from? And where is your position in this terrible war?"
"I'm one of the winged knight cavalry. The strongest among all cavalry in this war. I'm behind your kingdom, my lady. I serve your king with my loyalty and everything that i have. I practice some culture with you and i believe in the same way with you. I know exactly what happen outside there and that you're in danger, my lady. You should immediately run away."
"What? Me? Runaway? But how... I'm trapped behind this high wall," said Lady Terezka sadly.
"Write your husband a letter of goodbye and jump here, my lady. I'll save you from this castle forever. You'll enjoy my castle very much. You can live freely and there is no enemy knights, because I and my companion will not let them enter our peaceful land."
And the beautiful Lady Terezka did what the winged knight said. She jumped onto his horse and ran away forever, left her dark past time and the trapping castle. In the land of the winged knight, they live happily ever after and keep fighting against the kingdom from the east until they left the land forever.


18.06.13
by LV~Eisblume
for my experience, wish and dream~
 

 
 

 

 
 
 
 

24.1.13

Terima Kasih pada Malam yang Dingin...

Angin dingin berhembus kuat di seluruh negeri. Udara yang beku menusuk kulit siapapun yang berada di luar bagaikan jarum-jarum besi yang tiada ampun. Pohon dan rerumputan bergoyang-goyang dan bergesekan karena tiupannya. Tidak ada seorang pun tampak di jalan pada malam itu, kecuali sesosok pria berpakaian lusuh yang terus memeluk tubuhnya erat-erat sembari berjalan. Kedua kakinya melangkah perlahan-lahan tetapi mantap melawan kuatnya angin yang bertiup. Tujuannya hanya satu: kekasihnya yang tinggal di kastil megah di ujung jalan itu. Dinginnya malam tak sebanding dengan pertemuan dengan sang kekasih.

Semakin mendekati bangunan kastil berwarna abu-abu itu, langkah sang pria justru diperlambat. Ia berbelok menjauhi gerbang utama. Tentu saja ia ingat betul bahwa kastil itu bukan tempat yang tepat untuknya dan karenanya ia harus melewati jalan lain agar tidak tertangkap penjaga. Ia melangkah masuk ke taman kastil lewat sebuah lubang di pagar batu yang tidak disadari keberadaannya oleh para penjaga. Dengan segera dirinya tiba di taman belakang kastil. Ke arah taman itulah jendela sang kekasih menghadap. Sang pria dapat melihat sosok seorang wanita di balik tirainya, yang sayangnya belum menyadari keberadaannya.

Diambilnya kerikil yang banyak terdapat di taman itu dan dilemparkannya hingga mengenai kaca jendela sang wanita. Mendengar suara yang ditimbulkan kerikil itu, sang gadis membuka daun jendelanya dan melongok ke bawah.
"Franz?" ia tampak terkejut. "Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" tanyanya. Ia tidak menyangka kekasihnya akan datang.
"Oh, Louisa..., tolong bukakan pintunya untukku," pinta Franz. "Izinkan diriku masuk ke tempatmu."
Louisa menunjukkan wajah ragu sesaat, lalu ia menggeleng. "Maafkan aku, Sayang, aku tidak mungkin melakukannya. Kau tahu ayahku mengawasi semua tempat malam ini. Aku juga tidak mungkin keluar dari kamar ini. Sebuah palang besi mengunci pintunya dan kuncinya tidak ada padaku."
"Ayolah, Louisa, kau tahu di luar sini sangat dingin. Apa kau tega membiarkan diriku berdiri di bawah cahaya bulan di tengah angin yang beku seperti ini sepanjang malam?" kata Franz terus membujuk.
"Kurasa... aku ada ide...," sesaat wajah sang gadis berubah cerah, "ah.., tidak.. hal itu tidak mungkin dilakukan," katanya tertunduk kecewa.
"Sayang, katakan saja idemu. Percaya padaku. Jika kau membukakan pintu bagiku malam ini, maka pagi tidak akan cepat datang seperti biasanya."
 Masih dengan wajah ragu, Louisa berbalik membelakangi jendela lalu menghilang pergi. Franz nyaris putus asa dan menyerah pergi ketika tiba-tiba gadis itu muncul lagi sembari melempar sesuatu keluar jendela. Kain beraneka warna menjuntai panjang dan sambung-menyambung terikat kuat di samping tempat tidurnya. Kain itu dibuatnya dengan mengikat tirai, kain penutup tempat tidur, berikut gaun-gaun dan selendang yang dimilikinya.
"Naiklah dengan kain itu, Franz!" serunya. "Cepatlah, sebelum penjaga menyadari keberadaanmu!"
Dengan cepat namun berhati-hati, Franz menggunakan untaian kain yang menjuntai ke bawah itu untuk memanjat ke kamar Louisa. Beberapa saat kemudian, ia tiba di jendela gadis itu.
"Teruntuk Franz-ku yang pemberani," dikecupnya kening kekasihnya itu setelah sebelumnya menarik kembali untaian kain panjang yang terikat pada tiang tempat tidurnya itu agar penjaga tidak melihatnya.
"Terima kasih untuk kekasihku yang telah membukakan pintunya untukku," Franz membalas Louisa itu dengan mengulum bibir gadisnya itu sebanyak tujuh kali.
"Berterima kasihlah pada malam yang dingin di luar sana. Kekejamannya telah membuatku tidak tega membiarkanmu berdiri di luar sepanjang malam," kata Louisa.
 * * *
Fajar mulai merekah di ufuk timur. Seekor burung kecil yang bertengger di dahan pohon linde tepat di depan kamar Louisa berkicau merdu menyambut pagi. Gadis itu terbangun dan tersadar bahwa ia telah lupa menutup jendela kemarin malam. Meski demikian, ia tidak peduli. Apa yang dialaminya sepanjang malam adalah suatu hal yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Diliriknya Franz yang masih terlelap di sampingnya. Lengannya yang kuat masih mendekap erat dirinya. Dibisikkannya rasa terima kasih dalam hatinya. Terima kasih pada malam yang dingin.


by LV~Eisblume
a story inspired by Faun's song titled "Diese Kalte Nacht" from the album "Von den Elben" and my sister's story titled "The Lady's Wedding".
 

 
 

 

10.5.12

Kambing, Domba dan Serigala


Sama seperti hampir seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
                Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku di tengah kegiatan makan rumputnya.
                “Nona, aku mau mengaku,” katanya.
                Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
                “Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,” ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
                “Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
                “Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
                “Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
                Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak, mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur, bagaimana jika ada spesies lain?
                “Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
                “Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat yang lebih banyak rumput.
***
                Siapa sangka pada hari selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
                “Nona, apa kamu mau dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
                “Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
                “Kemarin... kambing gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,” katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan membisikkan sesuatu.
                Aku langsung melotot dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
                “Iya, jangan bilang siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami tahu.”
                “Uh, baiklah, kalian merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
                “Hmm... ide yang bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
                Maka pada hari-hari selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga. Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku. Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
                Aku duduk mengamati ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya, lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku yang berada dekat dengan hutan itu.
                Hari beranjak sore dan aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
                Aku tengah berjalan santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan dari kejauhan.  Anjingku menggonggong tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi sesuatu di sana.
                “Ada apa, Hundie?!” aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang lain.
                “Oh, tolonglah, di mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
                Tapi, di mana domba betina kecil itu???
* * *
                “Tidak, sesuatu pasti terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik. Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah hutan.
                Hutan itu. Ya, hutan itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik. Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan kekasih barunya.
                Hundie duduk di sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu. Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
                Aku kembali ke peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
                Setengah jam sudah aku memasuki hutan tanpa  tanda-tanda domba kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
                Angin dingin berkesiur tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga rumah itu.
                “Kreeet...,” terdengar suara pintu dibuka.
                Aku dan Hundie melompat masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah. Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
                Seorang bapak tua berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai kalung logam.
                “Aku akan pergi, “ katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping sang wanita.
                “Lagi?” tanya wanita itu.
                “Ya, kau tahu aku siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
                “Baiklah. Tunggu sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
                “Kompas leluhur kita. Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
                Sang pengembara berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana. Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
                Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil di dalam hutan itu?
                Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu, aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia. Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut sedih menyaksikan duka si kambing muda.
                “Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
                “Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha menyembunyikan kejadian tadi sore.
                “Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu. Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
                “Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng kuat-kuat.
                “Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi, nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
                “Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
                “Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau aku menanyakan pertanyaan itu.
                “Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
                “Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
                Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
                Aku menggeleng pelan.
                “Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius. Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
                Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu katapun luput dari telingaku.
                “Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan aktivitasnya. Mereka ...,”
                “... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
                “Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
                Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan. Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
                “Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka? Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan keindahannya di sana,” kataku.
                “Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan yang benar,” jawab ayahku.
                “Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana, juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak saudagar penjual kain itu.  Katanya mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
                “Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku meninggikan suaranya.
                “Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
                Ayahku melayangkan tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
                “Sudah, Yah... biarkan saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
                Ayah diam, tangannya diturunkan namun masih memandangku dengan marah.  Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing. Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan kekasihku...
                Pandangan kualihkan pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
                Tiba-tiba kambing mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
                “Hei..., hei..., ada apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
                “Dia pulang...,” jawab kambingku kegirangan.
                “Dia siapa?” aku bingung.
                “Domba cantik,” jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi. Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
                “Nona..., nona..., aku pulang!!” serunya girang.
                “Hei.., domba kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang selamat.
                “Aku akan cerita pada Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
                Dan malam itu, aku meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak terduga.
                “Kemarin aku sedang merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga. Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
                “Ceritakan padaku, apa yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
                “Hmm.. baiklah. Dia bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
                “Hmm... aneh, tapi menarik ya...,” aku bergumam.
                “...lalu si ibu adalah wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat? Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
                “Cerita yang sangat menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
                “Apa maksud Nona? Aku tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
                “Serigala itu musuhnya domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
                “Tidak, tidak mungkin. Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri dari laranganku.
                “Tidak, kau tak akan ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala! Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
                “Jangan larang aku, Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku. Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh dariku. Seperti menjaga jarak.
                “Kau.. domba.. kau akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu, kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
                “Terserah apa kata Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
                Tidak. Dia kabur lagi. Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku harus mengejarnya.
                Aku berlari melintasi padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
                “Oh, tidaaaaaakkk....,” aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
                Aku terduduk lemas sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
                Lolongan serigala terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya begitu besar.
                “Domba itu milikku. Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku terdiam. Sunyi.
***
                “Hei, sampai kapan kau mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang membawa palu dan pedang.
                “Oh..., hai..., halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di mana serigala tadi?” tanyaku.
                “Sudah kusuruh pulang dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal  kalau sama orang asing,” jawabnya.
                Langsung kusadari bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya. Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
                “Aku tadi sedang bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu dari desa bangsa itu ya?”  ia menunjuk kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
                Aku mengangguk. “Tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
                “Aku mengerti,” katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya. Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.

1.6.11

Renungan Isolde

Jika memang saya
Ditakdirkan untuk minum dari piala
Yang sama dengannya
Yang mengikat hati dengan janji
Mengapakah saya harus
Dimenangkan untuk orang lain?

Jika memang saya
Ditakdirkan untuk jadi bayangan cerminnya
Yang lekat padanya
Yang tak terpisah ke mana melangkah
Mengapakah saya harus
Dipersembahkan bagi sang raja?

Jika memang saya
Ditakdirkan untuk bersatu dengannya
Hanya dalam mati saja
Mengapakah saya harus
Hidup sekian tahun lamanya?

Jika memang saya
Ditakdirkan untuk tak jadi pemiliknya
Mengapa saya harus
Dibuat menginginkannya?

By LV~Eisblume
01.06.2011

Tannhäuser

Wartburg bei Eisenach adalah saksi
Persembahan cinta untuk Elisabeth
Cinta menggebu penuh gelora nafsu
Tak lembut nan halus tanpa percik sensasi
Cinta dalam syair-syairnya
Dilagukan dalam denting kecapi
Biarlah semua mata memandang
Mencampakkan dirinya dalam tuduhan dosa tak terampuni
Hingga beratus-ratus kilometer ke Roma
Dan ketika tongkat sang Paus berbunga
Ia telah memilih bersama Venus
Mempersembahkan cinta penuh gelora nafsu
Di atas puncak Horselberg


By LV~Eisblume
07.03.11

25.3.11

Sigurd dan Brynhild

Langit bersetubuh dengan bumi jadilah dirinya yang lebih indah dari permata dan lebih perkasa dari batu mana pun

Dibawanya sosok lain lembut gemulai berkendara dengan sayap-sayap kuda menuju aula di angkasa tempat pahlawan berdiam menanti hari senja

Ketibaan sang ibu yang melahirkan cintanya di atas awan-awan surga adalah kesalahan 

Maka dikecup dua kelopak mata yang mohon ampun oleh sang Mahadewa hingga ia lelap tertidur dalam buaian gunung batu di tengah dinding api membara

Tersimpan, terlelap, terdiam, tak hidup
Brynhild and Sigurd

Siapakah gerangan ia, ksatria yang muncul di atas bumi menempa besi dan menyatukan pedang berkilat warisan ayah yang terbelah dua oleh sang leluhur?

Dengan sekali tebas matilah naga penunggu gua dan direbutnya harta karun paling diinginkan di muka bumi anugerah Sungai Rhein

Nyanyian burung yang didengarnya sembari mandi darah naga membuka berlembar masa depan yang tertulis untuknya

Berkendara di atas keberanian menuju gunung batu buaian masa depannya yang terpagari dinding-dinding api bertemu ia dengan sang pengembara

Sang pengembara, leluhurnya, ayah dari masa depannya dan sang Mahadewa

"Capailah puncak gunung batu itu tempat harta karun yang lebih indah dari emas Sungai Rhein terlelap dalam kesendirian menanti seorang penyelamat!"

Dipacunya kaki-kaki kuda menembus dinding api dan tiba di puncak gunung sang gadis terlelap di atas bilah batu beralaskan rambut emasnya

Ia yang lebih indah dari permata dan lebih perkasa dari batu mana pun dikulum bibirnya oleh sang ksatria pembunuh naga penunggang kuda keberanian penguasa harta karun Sungai Rhein hingga terbangun dalam rasa cinta

Dan bercermin aku di atas kaca kehidupan sadar akan siapa diri dalam legenda dari utara tertulis dalam baris kata-kata itu

Akulah Brynhild sang Valkyrie ditidurkan dalam buaian kesepian oleh sang Mahadewa dalam perjalanan yang terpagari api-api petuah

Dan siapakah gerangan ksatria Sigurd yang pemberani bertekad menembus dinding api pemagar hidupku?

By LV~Eisblume
24.03.11
inspired by the second part of Volsunga Saga, a Norse legend