28.9.13

Deutschland, 7.Schritt : Gotteshäuser in München

Nah ini dia, salah satu alasan gue pilih kota München. Waktu SMA, gue sempat berdebat sedikit sama nyokap gue yang superkonservatif itu soal pergi ke gereja ketika di Jerman. Nyokap gue waktu itu ngotot, bahwa kalau gue dapat beasiswa kursus musim panas di Jerman gue harus tetap ke gereja. Sementara gue bilang kalau gue bakal pergi kalau memang waktu dan tempatnya ada. Sedikit informasi, meskipun Jerman berpenduduk mayoritas Kristiani, akibat perang agama 40 tahun setelah gerakan Martin Luther memisahkan diri dari gereja Katolik Roma, sekarang wilayah Jerman terbagi menjadi utara dan selatan menurut agamanya. Jerman utara, timur dan tengah mayoritas Kristen Protestan sedangkan Jerman barat dan selatan (terutama Bavaria) adalah wilayah mayoritas Katolik. Nah, kalau gue beruntung dapat kota di selatan atau barat baru deh gue bisa gereja setiap Minggu.

Balik lagi ke München. Kali ini gue beruntung bisa memilih kota yang gue inginkan. Langsung saja gue pilih München dengan berbagai alasan yang mendukung, salah satunya adalah supaya gampang cari gereja. Dan benar saja, waktu gue tiba di sini, setiap kali gue jalan-jalan selalu ketemu gereja. Bahkan kadang-kadang jaraknya cuma 5-10 langkah antargereja. Banyak banget, kayak mesjid kalau di Indonesia. Dan gue senang sekali, karena arsitekturnya selalu bagus dan megah. Langsung saja gue susun rencana untuk pergi ke gereja yang berbeda setiap Minggunya, sekalian ngumpulin foto hihihi...

Apa sih yang membedakan gereja di München dan di Indonesia?

  • ARSITEKTURNYA!!! Jelas kalau ini. Mungkin karena Eropa lama sekali berada di bawah kerajaan-kerajaan Kristiani sehingga mereka betul-betul punya perhatian yang besar terhadap bangunan gereja. Gereja mereka anggap sebagai rumah Tuhan sungguhan, sehingga mereka hias dan percantik sedemikian rupa. Sedangkan di Indonesia, hal ini tidak terlalu diperhatikan karena yang lebih dipentingkan adalah segi fungsinya. Selain itu sepertinya orang Indonesia nggak suka buat gereja terlalu mencolok. Nggak mencolok aja udah ditolak masyarakat atau bahkan dibom, gimana kalau mencolok ya?? 
  • PINTUNYA. Bukan karena keindahan atau bentuknya, tetapi pintu-pintu gereja di München selalu tertutup, sekalipun sedang tidak ada perayaan misa. Para wisatawan yang ingin melihat ke dalam harus membuka dulu pintunya (yang biasanya berat banget -,-a). Kalau sedang ada misa, pintu utama di bagian depan bangunan akan dikunci, sedangkan umat yang terlambat datang harus masuk lewat pintu samping. Pintu di depan ini nantinya akan dibuka kembali untuk umat yang akan beribadah selanjutnya, sedangkan yang baru selesai harus lewat pintu samping supaya nggak berjubel di pintu utama (sekalipun nggak bakal berjubel juga karena orangnya nggak banyak).
  • KOMPOSISI UMAT. Nah ini dia. Di Jerman, bahkan München, kebanyakan umatnya adalah lansia atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang kelihatannya sih supertajir dan masih konservatif. Sementara di Indonesia, astagaaaa.. umatnya banyak banget sampai bayi-bayi aja dibawa. Apakah anak-anak muda di Jerman malas ke gereja? Sebetulnya bukan malas, tapi lebih kepada sudah tidak merasa sebagai kewajiban lagi, karena beranggapan doa bisa di mana saja. Tapi awalnya gue pikir gue nggak akan bertemu dengan anak muda manapun, ternyata lumayan juga lho anak mudanya kalau di München. Umat yang tidak terlalu banyak ini ada untungnya juga, karena kita jadi bisa milih tempat duduk di mana saja. Satu deret bangku bahkan enggak pernah penuh, nggak kayak di Indonesia yang bisa terpaksa duduk setengah pantat. Sebetulnya kalau dinalar hal ini masuk akal juga di München. Selain karena jumlah gereja yang superbanyak dan penduduk kota München yang supersedikit kalau dibandingkan sama Jakarta misalnya, penduduk München kebanyakan masih pergi berlibur di bulan Agustus.
  • MISA. Cepat tapi ngena, padahal auf Deutsch. Serius ini. Kalau di Indonesia kan kebanyakan pastornya hobi nyanyi gitu deh jadi semua bacaan, semua doa dikasih nada. Kalau di München itu misanya singkat padat jelas. Nyanyian cuma di bagian yang perlu aja dan nggak semua bacaan atau doa dikasih nada. Khotbah juga singkat dan nggak bertele-tele. Terus ada yang beda lagi di bagian komuni. Kalau di Indonesia kan orang harus mengantre panjang gitu ke belakang. Kalau di Jerman, orang cuma tinggal maju ke bangku paling depan yang dekat altar. Dari deretan bangku umat sampai bangku yang ini ada semacam space luas untuk ngantre. Terus barisnya nggak cuma satu baris tapi banyak berderet-deret. Nanti pastornya cuma di bagian depan aja jalan bolak-balik kayak setrikaan sambil bagi-bagi komuni. 
  • SUASANANYA. Ini yang masih belum gue mengerti sampai sekarang. Mungkin karena arsitektur dan kondisi pintunya yang selalu tertutup, gereja-gereja di München selalu tenang. Padahal letaknya kadang-kadang di pinggir jalan raya dan tanpa pagar atau halaman. Begitu masuk ke dalam, nggak akan ada lagi suara dari luar yang terdengar. Tenang banget kayak di surga, apalagi ditambah arsitektur dan fresko-freskonya yang supercantik. Coba bandingkan dengan yang ada di Jakarta, hmm.. sudah ada halaman pun masih berisik, bahkan ketika pintu-pintunya ditutup. Cuma ada satu tempat yang gue ingat punya ketenangan menyerupai gereja di Jerman, yaitu kapel kecil di susteran di belakang SD gue dulu. Itu pun letaknya jauh dari jalan raya.
  • ATURAN PAKAIAN. Ini nih yang lumayan bikin kaget. Kebanyakan gereja di Indonesia sepertinya sudah tidak terlalu mengatur pakaian umat. Alhasil ada aja umat yang ke gereja dengan rok mini dan pakaian tanpa lengan. Sementara di Jerman, tepat di depan pintunya sudah ada peringatan agar mengenakan pakaian yang sopan. Rok mini dan tanpa lengan dilarang keras, bahkan turis yang pakaiannya terlalu terbuka pun bisa jadi sasaran tegur sama nenek-nenek konservatif yang banyak banget di gereja itu.
Empat Gereja di München yang Berhasil Gue Kunjungi

1. Theatinerkirche
Ini gereja pertama yang gue kunjungi dengan dadakan pada minggu pertama gue di München. Awalnya gue  memang berniat pergi ke gereja, tapi gue belum menentukan dari mana gue harus mulai. Akhirnya dengan asumsi di München banyak gereja, gue browsing sedikit tentang jadwal misa di beberapa gereja yang tidak jauh dari museum yang ingin gue kunjungi saat itu - museum lukisan Alte Pinakothek. Theatinerkirche terletak di Theatinerstrasse, tepat di depan Odeonsplatz, salah satu daerah bebas kendaraan alias zona pejalan kaki di kawasan kota tua München. Untuk mencapainya, kita harus naik kereta bawah tanah di jalur U-6 dan turun di stasiun Odeonsplatz. Bangunannya berwarna kuning dan arsitekturnya luar biasa bagusnya. Setelah gue mengunjungi beberapa gereja lagi di München, gue yakin bahwa gereja ini punya arsitektur terbagus baik sisi luar maupun dalamnya.
Theatinerkirche terletak tepat di depan sebuah jalanan yang selalu ramai oleh turis dan orang-orang yang duduk di restoran. Belum lagi pada waktu itu sedang ada festival makanan Jerman dan wine di Odeonsplatz. Anehnya, ketika gue berada di dalam gereja ini, ketenanganlah yang mendominasi. Oke banget deh pokoknya. Begitu misa hendak dimulai, lonceng gereja langsung dibunyikan dan seorang lektor (petugas misa) akan mengumumkan supaya turis atau orang-orang yang nggak berkepentingan segera keluar atau duduk tenang. Sebelum misa biasanya ada doa rosario dulu, dalam bahasa Jerman tentunya. Duh, senang banget deh gue. Apalagi misa di Theatinerkirche ini jadi salah satu yang paling berkesan buat gue. Gimana enggak? Pastornya khotbah dalam bahasa Jerman. Lumayanlah buat latihan Hörverstehen, walaupun cuma nangkep inti-intinya aja. Tapi, tiba-tiba pastor ini mengambil contoh untuk menggambarkan tema yang dibahas lewat cerita Nibelungenlied!! Hahaa... seketika gue langsung ngerti isi khotbahnya. Sampai sekarang gue masih ingat apa yang dikatakan pastor itu hehehee... :) Tuhan Mahabaik ya..., kalau niat ke gereja pasti dikasih yang bagus-bagus :3


2. Ludwigskirche

Mungkin dia tidak secantik Theatinerkirche, tapi menurut gue namanya paling ganteng, karena mengingatkan gue pada sosok sang Raja Mimpi :) Ludwigskirche ini letaknya di Ludwigstrasse, tepat di seberang gedung jurusan Deutsch als Fremdsprache LMU. Gereja ini dapat dicapai dengan kereta bawah tanah jalur U-6 dan turun di stasiun Universität. Gereja inilah markasnya perkumpulan mahasiswa Katolik LMU. Jika sedang tidak libur semester, di gereja ini selalu diselenggarakan misa mahasiswa setiap Sabtu sore. Arsitektur dan dekorasi interior Ludwigskirche tidak semewah dan semegah Theatinerkirche, bahkan terkesan lebih suram. Dari segi ketenangan sih sama saja, malah menurut gue lebih rekor yang ini karena letaknya betul-betul di pinggir jalan raya yang buat mobil lewat dan tanpa pagar atau halaman. Belum lagi di bawah tanahnya ada stasiun kereta. Anehnya, nggak ada satu pun kebisingan yang bisa masuk begitu kita ada di dalam. 

Pintu Ludwigskirche superberat. Bahkan gue harus nebeng di belakang bapak-bapak waktu mau masuk. Bedanya lagi dengan Theatinerkirche, di sini turis yang mau lihat misanya bisa tetap masuk, tapi tidak boleh lebih dari pintu kaca yang membatasi antara wilayah turis dengan bangku-bangku umat. Satu hal lagi yang unik di gereja ini. Di belakang deretan bangku umat ada semacam prasasti batu yang ternyata kalau diperhatikan adalah denah gereja beserta tempat duduknya dengan keterangan dalam huruf braille!! Gila nih ya, ramah penyandang cacat banget ini. Gue belum pernah lihat yang seperti ini di Indonesia. Mungkin ada juga, tapi nggak tahu di mana.

Secara keseluruhan sih misanya nggak jauh beda dari misa di Theatinerkirche. Pilihan lagu-lagunya juga sama. Tapi di sini gue untuk pertama kalinya dengar lagu yang sampai sekarang gue sukai. Lagu Anak Domba Allah dalam bahasa Jerman yang judulnya Lamm Gottes. Bagus banget musiknya. Lagu ini jadi satu-satunya yang gue ingat dari seluruh lagu yang gue dengar di gereja-gereja München. Di akhir misa, ada juga satu hal yang berkesan buat gue. Pastor yang memimpin misa memberikan pesan-pesan sebelum perayaan berakhir, dan dia mendoakan turis-turis dan pendatang lainnya yang kebetulan di München agar mereka betah dan menikmati saat-saat menyenangkan di sini. Langsung gue amini dan ternyata doa sang pastor terkabul sepanjang sebulan gue di München. Gott sei Dank! :) 

3. Michaelskirche

Gereja yang satu ini letaknya di Kaufingerstrasse yang juga termasuk jalanan utama di kota tua München yang dijadikan zona pejalan kaki. Bangunannya terselip di antara toko-toko bermerek dan kafe-kafe di pusat perbelajaan München. Untuk mencapainya, kita harus naik kereta bawah tanah jalur apa saja (seriusan ini!) dan turun di stasiun Marienplatz. Dari situ dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 3 menit. Dibandingkan dengan dua gereja di atas, arsitekturnya terbilang lebih rumit karena terdapat banyak sekali patung. Tetapi dari segi bangunan terlihat lebih sederhana karena letaknya yang menyempil di antara bangunan lain. 

Begitu masuk ke dalam, gue mendapati kesan yang sedikit suram. Tidak ada banyak cahaya yang masuk ke dalamnya. Akan tetapi, gue maklum, karena di gereja inilah tersimpan sesuatu yang lain dari gereja-gereja lainnya di München. Apakah itu?? Makam para bangsawan Wittelsbach, termasuk sang Raja Mimpi, König Ludwig II. Cerita tentang kunjungan ke sini akan gue bahas lain kali. Sementara perayaan misanya sendiri sih biasa saja. Tidak ada yang seberkesan kedua gereja sebelumnya. 
Hal yang menarik dari gereja ini justru gue dapati pada malam hari. Ketika itu gue iseng jalan-jalan untuk terakhir kalinya di zona pejalan kaki kota tua München pada malam hari. Gue terkejut ketika melihat bahwa gereja ini ternyata terkunci dan supergelap. Tidak ada lampu sama sekali yang menerangi daerah di sekitarnya. Rupanya kalau di München, gereja itu ada jam tutupnya, yaitu sekitar jam 9 malam. Beda dengan gereja di Indonesia yang selalu buka dan ada penjaganya, gereja di München sama sekali nggak kelihatan dijaga. Gue tiba-tiba jadi berkhayal, apa yang terjadi di kompleks pemakaman para bangsawan Wittelsbach ketika hari sangat gelap seperti itu ya? Kalau saja gue bisa masuk ke dalam dan mengobrol sejenak dengan sang Raja Mimpi tanpa ada yang memperhatikan :')







4. Der Alte Peter (Peterskirche) 

Alte Peter adalah salah satu gereja di München yang terletak di kawasan kota tua Marienplatz. Berseberangan dengan gereja lain bernama Allerheiligen dan pasar terbuka paling terkenal seantero München, Viktualienmarkt. Pada awalnya gue ke sini gara-gara seorang teman di tempat kuliah berhasil mendapatkan foto-foto keren kota München dari atas. Gue pernah sih ngambil foto serupa, tapi gue baru sadar kalau best featurenya München - Neues Rathaus di Marienplatz - gak kelihataaaan!! Jelas, karena gue ngambilnya memang dari menara Neues Rathaus itu. Nah, ini temen gue bisa dapat foto Neues Rathaus dari atas. Dari mana dong ngambilnya?? Setelah tanya orangnya, ternyata dia naik ke menara gereja Alte Peter. Dari situlah akhirnya gue mengunjungi gereja ini dan sempat ikut ibadah di sini juga. 

Secara arsitektur luar gue suka karena tua banget. Di luarnya masih banyak batu-batu pahatan seperti dari zaman akhir Mittelalter gitu. Entah sebetulnya gerejanya dibangun kapan gue juga masih belum tahu. Menaranya, yang akhirnya gue naikin juga supermittelalter! Bukan karena gayanya sih, tapi karena sangat tradisional dan kuno sampai-sampai lift saja tidak ada! Bayangkan saudara-saudara, gue naik ke menara setinggi sepuluh lantai tanpa lift, cuma pakai tangga kayu yang kalau diinjak bunyinya berderak-derak gitu. Tapi secara keseluruhan oke sih. Dari segi ketenangan juga sama seperti gereja-gereja lain. Perayaan misanya nggak ada bedanya, secara keseluruhan sama dan lagi-lagi gue masih jatuh cinta sama lagu Lamm Gottes :')

Satu hal lagi yang jadi ciri khas gereja di München termasuk Alte Peter ini. Selalu ada toko suvenir khas München yang jual kartu pos, magnet, kalender, dll. tapi lebih murah dari harga suvenir di toko dan hasil penjualannya akan disumbangkan untuk gereja. Gara-gara ini kartu pos gue banyak banget. Yah selain karena gue memang suka koleksi kartu pos, hitung-hitung kasih persembahan ke gereja buat Tuhan yang udah baik banget ngasih kesempatan ini :). Gambar di samping ini Alte Peter dan menaranya dilihat dari Viktualienmarkt.

Nah, keempat gereja itulah yang sempat gue kunjungi dan gue hadiri misanya. Eits, tunggu dulu, masih ada satu gereja lagi yang sebetulnya merupakan ikon kota München tapi sayang gue belum sempat masuk ke dalam. Gereja ini selalu nongol di hampir semua kartu pos tentang München dengan dua menaranya yang menjulang dan bangunannya yang sangat tua seperti dari abad pertengahan. Gereja ini merupakan katedralnya München, maka sering juga disebut Münchner Dom. Konon katanya, pemerintah kota München melarang pembangunan gedung di wilayah kota tua (sekitar ring 1-2 kalau menurut peta jalur transportasi) yang tingginya melebihi menara gereja ini. Gereja apa ya??


Ini dia, namanya Frauenkirche!! :) Cantik yaaa?? Foto ini diambil dari menara Neues Rathaus :)


3 komentar:

  1. Hallo, masih tinggal di Jerman? Boleh kenalan? Aku lagi nyari temen nihh.. :)
    Baru balik lagi ke Jerman dan pindah ke daerah Oberbayern. Mgkn bisa menambah sahabat2 di Jerman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo :) Aku cuma satu bulan di Jerman tahun 2014. Sudah pulang sejak lama. Tapi kalau mau kenalan boleh-boleh aja :)
      Salam kenal!

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus