Mengapa tak kau kebaskan saja debu di kakimu seperti yang ia kata?
Mengapa tak kau sarungkan pedangmu seperti perintahnya?
Aku yakin betul, jika saja ia ada di sana saat itu
akan ia sambungkan kembali kepala-kepala yang kau pisahkan dari tubuh-tubuh tak bersalah itu.
Pada para pendahulu saya, yang mengaku percaya padanya
Saya malu jika tahu anda sekalian saudara saya
Karena kalian saya dibenci teman-teman saya
Nama para pendahulu saya, yang tercatat dalam lembar sejarah
Dielukan bagai pahlawan pembawa harapan pada bangsa yang tersesat
Namun bagi saya, pesta nama kalian harusnya tak pernah ada.
Pada para pendahulu saya, yang mengaku percaya padanya
Bukan saya maksud menghakimi, tapi kalian membuat
dunia membenci kami semua...
27.6.12
18.6.12
Pelaut dari Utara dan Pulau Nyiur Selatan
Pelaut dari utara
membentang layar
Bergulung ombak diterpa
badai
Empat lima pulau terlewat
Bersama kenangan dibawa
pulang
Pelaut dari utara tiada
kan melihat
Walau kapal telah
membelah
Laut jauh membuka gerbang
Mata sang pulau nyiur
selatan
Hanya dikaguminya dari
jauh
Nyiur melambai di tanah
selatan
Tiada ingin ia mencium
tanahnya
Selain pulau-pulau hijau
utara
Dan pulau nyiur selatan
Mengharap kaki pelaut
menjejak dirinya
Sembari menatap pada
indahnya
Pulau-pulau hijau utara
By LV~Eisblume
17.06.12
Cruel Dreams
After the small branches that warm my heart
Save me from the loneliness of life
And the colourful rainbow of lovely days
Come to protect me from the cruel fate,
I dream of the mighty oak trees
To hold it and kiss the trunk with my lips
And the shining waterfall of northern light
To be wrapped in and sleep together with
Who am I, such a woman without heart
This eyes see but cannot feel the kindness of the
weak
But enchanted by the magic of the strenght
The beauty of mystery i’ve never seen
Let my days here be forgotten days
And my life here be my past life
I want my future at the hands of the night
To put my soul in the beauty of death
By LV~Eisblume
17.06.12
8.6.12
Dienstag und Mittwoch (koreksi untuk artikel nama-nama hari dalam bahasa Jerman)
Halo semuanya, sebelumnya saya sudah pernah posting di blog ini tentang asal-usul nama-nama hari dalam bahasa Jerman. Sila lihat lewat link ini: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.com/2011/03/die-tage-und-die-geschichte-asal-usul.html
Kalau dibaca ulang, di posting itu saya meninggalkan beberapa pertanyaan khususnya pada keterangan untuk hari Selasa (Dienstag) dan Rabu (Mittwoch). Postingan ini akan menjawab pertanyaan itu. Seorang teman asal Jerman yang juga berkuliah di jurusan Germanistik dan sudah master tentang mitologi Jerman/Norse adalah sumber informasi yang saya dapatkan :) Danke fuer ihn ^^ hahaa...
Dienstag
Pada artikel sebelumnya saya menuliskan bahwa kata Dienstag berasal dari bahasa Jerman artinya Assembly Day atau hari untuk berkumpul. Rupanya keterangan tersebut kurang tepat, karena sesungguhnya nama Dienstag masih berakar dari nama dewa Tyr. Tyr dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama Tiwaz. Menurut keyakinan bangsa Jerman kuno, Tiwaz adalah Beschutzer des Ding ( = dewa pemilik dan pelindung benda-benda di bumi). Ding yang artinya benda berubah bentuk menjadi Dien, yang akhirnya membentuk kata "Dienstag".
Mittwoch
Nama asli dari Mittwoch adalah Wodenstag yang berasal dari nama dewa tertinggi bangsa Germania yaitu Wodan/Odin. Sampai sekarang semua negara berbahasa Germanik menggunakan nama hari yang berakar dari nama sang dewa untuk hari Rabu. Namun di Jerman terjadi perubahan pada abad ke-10. Hal ini dikarenakan misionaris dari gereja-gereja mulai menyebarkan ajaran Kristiani. Para raja juga sudah mulai memeluk agama baru ini dan untuk menghindari semakin berakarnya paganisme di masyarakat Jerman kuno maka Wodenstag diganti dengan Mittwoch yang artinya hari yang terletak di tengah-tengah minggu (in der Mitte der Woche).
Demikian revisi untuk artikel sebelumnya. Semoga bermanfaat :))
Kalau dibaca ulang, di posting itu saya meninggalkan beberapa pertanyaan khususnya pada keterangan untuk hari Selasa (Dienstag) dan Rabu (Mittwoch). Postingan ini akan menjawab pertanyaan itu. Seorang teman asal Jerman yang juga berkuliah di jurusan Germanistik dan sudah master tentang mitologi Jerman/Norse adalah sumber informasi yang saya dapatkan :) Danke fuer ihn ^^ hahaa...
Dienstag
Pada artikel sebelumnya saya menuliskan bahwa kata Dienstag berasal dari bahasa Jerman artinya Assembly Day atau hari untuk berkumpul. Rupanya keterangan tersebut kurang tepat, karena sesungguhnya nama Dienstag masih berakar dari nama dewa Tyr. Tyr dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama Tiwaz. Menurut keyakinan bangsa Jerman kuno, Tiwaz adalah Beschutzer des Ding ( = dewa pemilik dan pelindung benda-benda di bumi). Ding yang artinya benda berubah bentuk menjadi Dien, yang akhirnya membentuk kata "Dienstag".
Mittwoch
Nama asli dari Mittwoch adalah Wodenstag yang berasal dari nama dewa tertinggi bangsa Germania yaitu Wodan/Odin. Sampai sekarang semua negara berbahasa Germanik menggunakan nama hari yang berakar dari nama sang dewa untuk hari Rabu. Namun di Jerman terjadi perubahan pada abad ke-10. Hal ini dikarenakan misionaris dari gereja-gereja mulai menyebarkan ajaran Kristiani. Para raja juga sudah mulai memeluk agama baru ini dan untuk menghindari semakin berakarnya paganisme di masyarakat Jerman kuno maka Wodenstag diganti dengan Mittwoch yang artinya hari yang terletak di tengah-tengah minggu (in der Mitte der Woche).
Demikian revisi untuk artikel sebelumnya. Semoga bermanfaat :))
7.6.12
Mungkinkah Aku Mimpikan Pintu Neraka?
Akankah di masa nanti
Nyawaku berdiri di ujung pisau
Ketika palang terbalik
dan hitam jadi putih?
Akankah di masa nanti
Aku terkurung dalam tombak
Di antara dua pilihan
yang kusuka dan percaya?
Akankah di masa nanti
Khayalan berubah nyata
dan mungkin mimpiku kini,
ujungnya pintu neraka?
by LV~Eisblume
08.06.12
Nyawaku berdiri di ujung pisau
Ketika palang terbalik
dan hitam jadi putih?
Akankah di masa nanti
Aku terkurung dalam tombak
Di antara dua pilihan
yang kusuka dan percaya?
Akankah di masa nanti
Khayalan berubah nyata
dan mungkin mimpiku kini,
ujungnya pintu neraka?
by LV~Eisblume
08.06.12
17.5.12
The North
Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my
dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish
I want to dance under the midnight sun
Wrapped tightly with the shawls of northern
lights
To swim in the water flowing to the sea
In the northern fjords, my dreams, my wishes
Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my
dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish
I want to listen to the north songs
Feel the rain and dance with the thunder
To close my eyes in the lullaby
of the northern myths and ancient tales
by LV~Eisblume
17.05.12
10.5.12
Kambing, Domba dan Serigala
Sama seperti hampir
seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis
muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan
kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan
ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak
tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak
pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak
akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku
di tengah kegiatan makan rumputnya.
“Nona, aku mau mengaku,” katanya.
Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara
sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
“Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,”
ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
“Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
“Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
“Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak
bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian
nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan
domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru
berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku
jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing
dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak,
mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur,
bagaimana jika ada spesies lain?
“Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak
peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
“Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku
tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat
yang lebih banyak rumput.
***
Siapa sangka pada hari
selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
“Nona, apa kamu mau
dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
“Ada apa lagi ini?
Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
“Kemarin... kambing
gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,”
katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan
membisikkan sesuatu.
Aku langsung melotot
dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
“Iya, jangan bilang
siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami
tahu.”
“Uh, baiklah, kalian
merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
“Hmm... ide yang
bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
Maka pada hari-hari
selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari
kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja
yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa
domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga.
Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi
berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak
saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku.
Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka
membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
Aku duduk mengamati
ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman
yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan
dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput
agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan
lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana
karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya,
lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku
yang berada dekat dengan hutan itu.
Hari beranjak sore dan
aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan
meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku
berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku
pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku
kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena
airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
Aku tengah berjalan
santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan
dari kejauhan. Anjingku menggonggong
tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi
sesuatu di sana.
“Ada apa, Hundie?!”
aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan
yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku
mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang
lain.
“Oh, tolonglah, di
mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling
dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing
sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
Tapi, di mana domba
betina kecil itu???
* * *
“Tidak, sesuatu pasti
terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik.
Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah
hutan.
Hutan itu. Ya, hutan
itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie
mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu
kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik.
Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah
memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan
kekasih barunya.
Hundie duduk di
sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah
memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih
ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu.
Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa
tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
Aku kembali ke
peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan
langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin
rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon
yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting
dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti
banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
Setengah jam sudah aku
memasuki hutan tanpa tanda-tanda domba
kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan
mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak
yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak
pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua
dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
Angin dingin berkesiur
tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar
hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah
jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya
meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua
yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang
dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu
dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga
rumah itu.
“Kreeet...,” terdengar
suara pintu dibuka.
Aku dan Hundie melompat
masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah.
Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
Seorang bapak tua
berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti
pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang
apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai
kalung logam.
“Aku akan pergi, “
katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang
wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau
menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti
di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam
dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping
sang wanita.
“Lagi?” tanya wanita
itu.
“Ya, kau tahu aku
siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
“Baiklah. Tunggu
sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali
dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi
cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara
itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
“Kompas leluhur kita.
Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
Sang pengembara
berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari
belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana.
Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke
arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku
pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil
di dalam hutan itu?
Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu,
aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang
tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia.
Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke
kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut
sedih menyaksikan duka si kambing muda.
“Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali
menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
“Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha
menyembunyikan kejadian tadi sore.
“Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu.
Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya
tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
“Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng
kuat-kuat.
“Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota
itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi,
nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
“Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh
masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
“Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari
kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan
menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau
aku menanyakan pertanyaan itu.
“Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang
buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha
sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
“Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat
apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu
begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata
ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba
ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari
anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar
untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius.
Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu
tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa
yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa
yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam
dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu
katapun luput dari telingaku.
“Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya
kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal
tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu
atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang
bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud
membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi
pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir
berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan
aktivitasnya. Mereka ...,”
“... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat
fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
“Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan.
Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan
Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka
mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
“Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka?
Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita
biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan
keindahannya di sana,” kataku.
“Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa
dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan
yang benar,” jawab ayahku.
“Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu
menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana,
juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak
saudagar penjual kain itu. Katanya
mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang
lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
“Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku
meninggikan suaranya.
“Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa
ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita
nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
Ayahku melayangkan
tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
“Sudah, Yah... biarkan
saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak
masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
Ayah diam, tangannya
diturunkan namun masih memandangku dengan marah. Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari
keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing.
Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah
sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan
kekasihku...
Pandangan kualihkan
pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti
bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang
menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak
terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu
hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya
sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang
memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan
mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat
dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana
bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
Tiba-tiba kambing
mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
“Hei..., hei..., ada
apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
“Dia pulang...,” jawab
kambingku kegirangan.
“Dia siapa?” aku
bingung.
“Domba cantik,”
jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari
arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi.
Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
“Nona..., nona..., aku
pulang!!” serunya girang.
“Hei.., domba
kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang
selamat.
“Aku akan cerita pada
Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
Dan malam itu, aku
meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak
terduga.
“Kemarin aku sedang
merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya
aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga.
Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir
lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani
pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
“Ceritakan padaku, apa
yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
“Hmm.. baiklah. Dia
bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup
di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara
yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan
mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung
gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia
dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas
pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
“Hmm... aneh, tapi
menarik ya...,” aku bergumam.
“...lalu si ibu adalah
wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan
tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya
sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing
hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai
pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala
mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat?
Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat
semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
“Cerita yang sangat
menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu
berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
“Apa maksud Nona? Aku
tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang
ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
“Serigala itu musuhnya
domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
“Tidak, tidak mungkin.
Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan
mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri
dari laranganku.
“Tidak, kau tak akan
ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu
tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan
coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala!
Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
“Jangan larang aku,
Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku
tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku.
Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang
memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan
terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat
baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh
dariku. Seperti menjaga jarak.
“Kau.. domba.. kau
akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu,
kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang
bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
“Terserah apa kata
Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan
gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat
impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
Tidak. Dia kabur lagi.
Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku
harus mengejarnya.
Aku berlari melintasi
padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk
kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh
domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan
lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh
domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
“Oh, tidaaaaaakkk....,”
aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
Aku terduduk lemas
sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi
sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau
coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
Lolongan serigala
terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu
melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya
begitu besar.
“Domba itu milikku.
Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang
tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku
terdiam. Sunyi.
***
“Hei, sampai kapan kau
mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku
mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang
membawa palu dan pedang.
“Oh..., hai...,
halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di
mana serigala tadi?” tanyaku.
“Sudah kusuruh pulang
dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal
kalau sama orang asing,” jawabnya.
Langsung kusadari
bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang
kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya.
Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
“Aku tadi sedang
bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil
melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu
dari desa bangsa itu ya?” ia menunjuk
kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
Aku mengangguk. “Tapi
jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
“Aku mengerti,”
katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya.
Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh
bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak
saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.
12.4.12
Sebelum Pertemuan Itu
Siang hari, kira-kira pukul 14.30 di sebuah sekolah ternama
di pusat kota.
Aku berlari melintasi
koridor-koridor yang bernuansa hijau. Sekali lagi kelasku terlambat bubar.
Dengan cepat aku menuruni anak tangga dan mencapai lantai satu. Kemudian aku
berlari lagi melewati halaman dalam dan akhirnya berhasil mencapai halaman
parkir. Sinar mentari yang menyengat lagi silau langsung menyambutku. Tanpa
sempat melepaskan jaket yang membalut tubuhku, aku berjalan menyelip-nyelip di
antara mobil-mobil yang terparkir ---- mencari mobil putih yang jujur saja
kurang baik kondisinya. Mobil jemputanku! Ah, ternyata masih ada. Mesinnya
sudah menyala, tanda siap berangkat. Aku nyaris ditinggal lagi.
Seperti biasa
kubuka kotak bekal makan siangku. Aku selalu membawa dua bekal ke sekolah,
untuk sarapan dan untuk makan siang. Kali ini bekalku adalah nasi yang sudah
dingin dengan nugget goreng yang membosankan. Aku makan diiringi suara obrolan
dan tawa teman-teman sejemputanku yang sejak tadi memang sudah terlibat
pembicaraan seru. Aku diam saja, tak banyak menyahut, karena jujur saja aku
memang tipe introvert yang jarang mengobrol. Kunikmati bekalku sampai habis
sembari memandang ke luar.
Setengah perjalanan telah
berlalu dan teman-temanku sudah tertidur. Aneh. Mobil jemputan begitu panas
tetapi mereka bisa tidur. Sementara aku dari tadi mengalami kesulitan. Mungkin
karena aku memang tidak biasa membiarkan pemandangan di luar berlalu begitu
saja sekalipun pemandangan itu buruk. Ya, dalam perjalanan pulang dari sekolah
memang ada dua jalur yang biasa dilalui jemputanku. Aku menyebutnya jalur
pemandangan buruk dan jalur pemandangan bagus. Kesempatan melalui jalur yang
mana ditentukan oleh siapa saja yang ada dalam jemputan itu. Jika ada temanku
yang tinggal di daerah yang melalui pemandangan buruk maka kami akan lewat
sana.
Sebagai informasi, jalur
pemandangan bagus melewati daerah selatan ibukota yang dipenuhi gedung-gedung
pencakar langit, perkantoran, dan bangunan favoritku --- kedutaan negara-negara
asing dengan bendera asing yang berkibar. Sementara itu jalur pemandangan buruk
dipenuhi kemacetan, polusi dan udara panas. Ia melewati daerah timur ibukota
yang dipenuhi rumah-rumah yang kurang bagus keadaannya di kiri-kanan jalan.
Membosankan sekali. Aku sungguh tidak pernah menyukai jalur ini, sama sekali
tidak. Ada bagian dari jalur ini yang berupa jalan sempit dan di sebelah
kanannya adalah sungai yang airnya selalu penuh seolah tak pernah meluap. Di
jalan ini nyaris selalu macet dan udaranya sangat panas. Satu lagi, banyak
sekali "bebek liar", maksudku sepeda motor yang ugal-ugalan. Seperti
bebek yang baru dilepas dari kandang dan melihat mereka sungguh menyebalkan.
Membuat kemacetan semakin parah saja!
Lagi-lagi hari
itu dengan terpaksa aku harus mengikuti kenyataan --- melalui jalur pemandangan
buruk. Aku ingin sekali tidur supaya tidak melihat pemandangan tidak enak itu
dan tiba-tiba sudah sampai di rumah. Sayang sekali aku terlalu segar untuk
tidur, bahkan ketika mobil terjebak macet di jalur tepi sungai itu. Dan di
tengah macet itu aku melihat banyak "bebek liar" di sekeliling mobil.
Salah satunya dikendarai oleh dua orang anak SMA, keduanya laki-laki. Dari
seragamnya yang mainstream --- kemeja putih dan celana abu-abu
panjang --- tampaknya bukan sekolah swasta. Dua siswa itu bercanda saja
sekalipun sedang terjebak di kemacetan. Mereka sempat memandang ke arahku juga,
tanpa maksud tentunya, lalu melanjutkan pembicaraan serunya. Aku pun tidak
begitu memperhatikan keduanya, sekedar melihat saja, seperti aku melihat
orang-orang lain pada umumnya. Lalu mobil bergerak hingga aku tidak
memperhatikan mereka lagi.
Petang hari, kira-kira pukul 18.00 di teras rumahku.
"Besok
aku mau nonton," kata adikku sembari membelai-belai anjing kami yang
sedang setengah tertidur. "Nonton? Apa? dengan siapa?" tanyaku.
Aku berdiri agak jauh darinya karena aku takut dengan anjing kami. Aneh memang,
tapi aku pernah digigit sehingga ada trauma yang tersisa.
"New Moon, nonton bareng teman-teman
dong! Fifi, Leah, Chicha, dan yang lainnya," jawabnya dengan berseri-seri.
Maklum, adikku yang masih duduk di kelas 3 SMP ini sedang freak dengan si vampir Cullen dan
saudara-saudaranya.
"Oh,
" balasku. "Aku boleh ikut?" tanyaku.
"Mmmm..
gimana ya....," pikirnya dengan wajah keberatan.
"Baiklah
kalau kau tak mau, aku akan ajak Mutti,"
kataku kemudian beranjak ke dalam rumah.
Aku
mengetuk pintu kamar Mutti --- panggilan sayangku untuk Ibu, dari bahasa Jerman
tentunya. Mutti membukanya sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
"Habis
keramas ya, Mutti?" tanyaku.
"Iya
nih, panas banget udaranya," jawab Mutti. "Bagaimana sekolahnya?
"Baik
hehehehe... oiya, sekalian mau ngasih tau, tadi aku dikasih tau wali kelas,
katanya guru sejarahku mau ketemu Mutti," jelasku.
"Guru
sejarah? Ada apa?" tanya Mutti penasaran karena berita dariku tidak biasa.
"Nggak
tau tuh, mungkin soal yang kemarin, yang katanya aku bakal diseleksi sama
guru-guru untuk pertukaran pelajar ke Thailand," kataku lagi. Belum sempat
Mutti membalas perkataanku, kulanjutkan obrolan untuk mengutarakan maksud awal.
"Mau
nonton New Moon nggak, Mutti?"
tanyaku.
"Itu
film apa? Kapan?" tanya Mutti balik.
"Itu
lho, sambungannya Twilight yang dulu
kita nonton bareng. Minggu aja di tempat biasa," jawabku. "Mutti
nganggur kan hari itu?"
"Hmm..
boleh-boleh aja," jawab Mutti, dan aku sangat senang mendengarnya hingga
aku keluar lagi untuk memamerkannya pada adikku.
Jadi
begini rencana kami. Aku, adikku dan Mutti akan pergi menuju bioskop
bersama-sama lalu kita akan menitip tiket pada teman-teman adikku yang sudah
terlebih dulu ada di sana. Selanjutnya kita akan duduk di tempat terpisah dan
menonton film di jam yang sama. Maka setelah itu adikku dapat pulang bersamaku
dan Mutti tanpa harus diantar oleh teman-temannya.
Minggu siang, pukul 11.00 di bioskop langganan kami.
“Fifi,
Chicha, Leah!!” seru adikku menghambur ke arah teman-temannya. Ia langsung
memisahkan diri dariku dan Mutti setibanya di bioskop. Tak lama kemudian ia
kembali lagi untuk memberikan tiket titipan kami lalu berbalik lagi bersama
teman-temannya. Mereka langsung terlibat percakapan seru.
“Mbak,
tolong belikan pop corn dan minum,” pinta Mutti padaku.
“Oh
baiklah, pakai uangku atau Mutti?” tanyaku.
“Kamulah,
Mutti kan sudah bayar tiketnya tadi,” jawab Mutti, kemudian aku segera
melangkah ke counter makanan.
Agak sulit
mencapainya karena rupanya bioskop sangat ramai. Maklum, hari ini New Moon
tayang premier. Semua anak remaja ingin menyaksikannya, termasuk salah satu
pasangan yang kulihat sedang mengantre tiket di barisan panjang yang tampak tak
bergerak itu.
Pasangan
itu, sepertinya sebaya denganku. Masih remaja seperti aku. Sang gadis berambut
ombak mengembang seperti rambutku dan dibiarkan tergerai begitu saja. Sang
pemuda mengenakan kaos yang didobel kemeja kotak-kotaknya. Mereka tampak mesra,
sang pemuda seperti sangat mencintai gadisnya, dan gadisnya berkarakter sedikit
manja. Setidaknya itu yang kutangkap. Mereka tampak sedang membicarakan film
yang akan mereka tonton --- New Moon
--- seperti yang ingin kutonton bersama ibuku, bukan kekasihku. Sedikit
terbersit dalam hati, seandainya aku dapat menonton film semacam ini dengan
kekasihku, tapi apa daya, sekolahku saja homogen.
Aku
melewati mereka menuju counter makanan. Mereka sadar akan kehadiranku, tetapi
tidak peduli. Sang pemuda memang sempat melihatku, tapi kemudian ia melanjutkan
obrolannya dengan sang gadis. Tidak ada apa-apa terjadi dan memang tidak. Aku
melihat mereka seperti orang-orang lain pada umumnya, bukan seseorang yang
penting. Demikian juga mereka tak peduli dengan siapa aku selain sebagai orang
yang sama-sama ingin menonton di bioskop tersebut.
Siang hari pukul 13.30 di koridor depan kelasku.
Ponselku
berbunyi tidak lama setelah aku menyalakannya. Mutti calling, tertulis demikian di layar. Aku mengangkatnya dan
mendengar suara Mutti yang bernada cerah.
“Halo,
Mbak, sudah selesai sekolahnya?” tanya Mutti.
“Sudah,
kok, barusan aja,” jawabku.
“Kamu
nggak usah naik jemputan ya, Mutti tunggu di bawah sama teman kerja Mutti nih,”
kata Mutti padaku.
“Lho,
Mutti jemput? Kok tumben,” aku malah bernada bingung.
“Ya sudah
cepat turun, ini Mutti di parkiran, nanti Mutti ceritakan,” katanya kemudian
menutup telepon.
Aku
menghambur keluar dan kembali menerjang terik matahari. Kulihat Mutti berdiri
di depan pos satpam dan langsung mengajakku menuju mobil rekan kerjanya. Aku
mengambil duduk di bagian belakang sementara Mutti duduk di depan.
“Ada apa
sih ini, kok kayaknya seru?” tanyaku tak sabar.
“Ya, tadi
Mutti sudah ketemu gurumu. Katanya kamu terpilih untuk pertukaran pelajar ke
Thailand. Terus dia tanya, kamu punya paspor apa enggak. Mutti jawab kamu belum
punya. Terus sama dia disuruh segera bikin, jadi sekarang Mutti minta tolong
dianter sama temen Mutti ini ke kantor imigrasi buat langsung bikin paspor
kamu, “ jelas Mutti.
“Serius
itu aku dapat? Masa sih??” aku masih tak percaya kabar yang dikatakan Mutti.
“Ya,
betul. Katanya tadi ada tiga orang yang dinominasi, tapi setelah diseleksi sama
guru-guru, mereka mau kamu yang pergi,” jelas Mutti lagi.
“Itu
gratis? Beneran gratis?” tanyaku dengan nada bahagia.
“Ya,
gratis semua, tinggal bayar airport tax
seratus ribu aja. Tapi uang jajan nggak dikasih karena kamu nanti homestay.
Nanti sampai rumah langsung berdoa, bersyukur sama Tuhan,” nasehat Mutti.
“Iya,
Mutti” jawabku.
Siang hari pukul 14.00 dalam perjalanan menuju kantor
imigrasi.
Aku tidak
pernah tahu di mana letak kantor imigrasi. Kata Mutti cukup jauh, letaknya di
daerah timur ibukota. Tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa jalan menuju
ke sana akan melewati jalan pemandangan buruk itu. Walau demikian rupanya ada
yang sedikit berbeda karena jalan yang kulalui berbeda dengan jalan pulangku
setiap hari. Rupanya dekat stasiun tua di timur ibukota yang ada di seberang
pasar, ada jalan bercabang yang tak pernah kusadari. Biasanya mobil jemputanku
akan mengambil jalan ke kanan, yang akan berujung pada jalan tepi sungai yang
menyebalkan itu. Kali ini mobil tetap lurus dan tiba di jalan raya yang gersang
dan sepi pepohonan.
Kantor
imigrasi terletak di samping penjara dan daerah di sekitar situ sangat panas
udaranya. Mobil diparkir dan kami semua turun. Mutti memilih jalan belakang,
artinya aku akan mendapatkan paspor lebih cepat daripada orang yang melalui
jalan depan. Benar saja, tak lama setelah aku masuk langsung ada seorang bapak
yang berbicara dengan Mutti dan tiba-tiba saja aku sudah disuruh masuk ke suatu
ruangan yang di dalamnya terdapat bilik-bilik yang disekat. Di sana aku harus
menunjukkan surat-surat penting, menempelkan sidik jari, difoto, menandatangani
ini-itu dan ditanya-tanya akan pergi ke mana dengan alasan apa.
Tidak lama memang tetapi cukup membosankan. Beruntunglah
sebelum jam lima semua sudah selesai, tinggal menunggu paspor jadi.
Menjelang sore pukul 16.00 masih di bawah teriknya matahari
“Ini
kenapa muter-muter deh dari tadi?” tanyaku pada Mutti.
“Nggak
tau, Mutti lupa jalannya ke mana. Mutti nggak kenal daerah ini,” jawab Mutti.
“Tanya aja
deh ke orang, daripada tersesat terus nggak pulang-pulang,” aku memberi usul.
Rekan
kerja Mutti segera menepikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Aku tak lagi
ingat angka yang tertera di belakang tulisan “SMA Negeri”, yang jelas sekolah
itu ramai oleh siswa-siswi yang berlalu-lalang keluar-masuk. Sepertinya mereka
sedang menyelenggarakan suatu acara. Teman Mutti itu membuka jendela mobil dan
bertanya pada sekelompok siswa di situ. Aku melihat mereka juga, melihat mereka
dengan sangat biasa.
“Maaf,
kalau mau ke arah Bekasi lewat mana ya?” tanya teman Mutti.
“Oh, bapak
lurus aja ikutin jalan ini juga bisa....,” dan aku tidak lagi mendengar
terusannya, aku sibuk memperhatikan beberapa siswa yang berdiri di depan
pagarnya. Mereka membawa alat-alat musik, seperti sekelompok band yang ingin
tampil. Mungkin sedang ada acara di dalam, maka dari itu kelihatan sangat ramai.
Aku menatap lagi salah satu dari mereka yang berambut ombak dan tidak membawa
apapun. Ia juga sempat melihatku sesaat tanpa maksud, sebelum ditarik oleh
seorang gadis yang juga berambut ombak panjang. Gadis itu mengatakan sesuatu,
semacam ajakan untuk masuk karena acara akan mulai.
* * *
Ingatanku
merangkai sesuatu. Bayanganku mencari sesuatu. Pemuda yang kulihat di motor di
jalan tepi sungai itu, yang kutemui di bioskop ketika hendak membeli pop corn,
dan yang berdiri di depan sekolah.... mungkinkah....
“Mungkinkah
kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkinkah kita...,” aku menatap wajahnya yang
diterpa sinar mentari sore hari menjelang senja. Ia tersenyum seakan tahu aku
belum selesai.
“Mungkinkah
kita pernah ada di tempat yang sama, tanpa sadar bahwa sosok di seberang sana
akan menanti di masa depan? Mungkinkah kita pernah saling bertatap walau tanpa
maksud? Aku tak mengenalmu sebelumnya..., tapi sebelum pertemuan dua belas
tahun lalu di tepi danau ini...,” kubelai wajahnya yang tersenyum menatap balik
padaku.
“Di manakah
dirimu ketika aku sedang menunggu perjalanan ke luar negeri pertamaku? Apa yang
kau lakukan ketika aku sedang mengenakan gaun gothic lolita di malam perpisahanku? Sedang apa dirimu ketika aku
menangis setelah gagal mendapatkan beasiswa ke tanah impianku? Aku ingin tahu
dirimu... sungguh ingin tahu.. setiap detail cerita dari masa lalumu.. sebelum
pertemuan itu..,” kuselesaikan kalimat-kalimatku. Hening yang cukup lama
mengikutinya. Akhirnya ia menarikku lebih dekat dan selagi mendekapku ia
berkata, “mengapa kau ingin tahu itu, Sayang? Masa laluku tak penting. Sebelum
pertemuan itu tak perlu kau cari-cari. Yang terpenting itu, kita jadi masa
depan satu sama lain.”
31.3.12
Tentang yang terjadi di sini akhir-akhir ini...
BBM mau naik. Demikian kata pemerintah tanpa kejelasan dan sangat tiba-tiba. Sudah jelas yang terjadi selanjutnya: demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan kaum buruh. Teman-teman saya ini (baca: mahasiswa) mengaku membela rakyat kecil dan memperjuangkan nasib mereka dengan berusaha agar harga BBM tidak naik. Kebetulan saya bukan termasuk tipe yang suka berdemo, saya tipe berkoar-koar di belakang, lewat tulisan, entah karya sastra atau sekedar tweet-tweet nggak penting. Lewat tulisan itu, saya sama sekali bukan mau memaksa orang untuk setuju dan ikut pendapat saya. Saya hanya mau bicara, mengutarakan pendapat saya.
Kemarin saya sempat diskusi (atau berdebat?) via twitter dengan salah satu senior. Senior ini, menurut saya, orang yang luas wawasannya dan pandai. Pengetahuannya banyak, dan saya respek. Kalau bicara sama dia, sudah pasti saya kelihatan seperti orang berwawasan sempit yang nggak tau apa-apa. Ya memang, saya bicara kemarin itu tujuannya sama sekali bukan buat memberikan fakta supaya orang ikut pendapat saya, saya cuma mengeluarkan unek-unek kekesalan karena sepanjang saya hidup di Indonesia saya sudah dikecewakan dengan keadaan di luar sana. Saya tidak tahu pendapat saya benar atau tidak, saya hanya ingin bicara, dari kaca mata saya ya demikian.
Saya bukan orang yang anti demonstrasi kok. Menurut saya mengeluarkan aspirasi bersama-sama seperti itu memang hak warga negara yang (katanya) menganut demokrasi. Tapi tentu saja demonstrasi itu ada aturannya. Tetap sopan, tetap menghargai orang lain. Mengaku bela rakyat kecil, tapi apa mereka betul-betul tau apa yang ada di dalam pikiran rakyat kecil? Memang pernah salah satu perwakilan rakyat kecil(kalo bisa dibilang mewakili, karena rakyat kecil di Indonesia jumlahnya gak ketolongan banyaknya dan tentu saja pendapatnya beda-beda), ngomong ke mereka langsung minta diwakili dan disampaikan aspirasinya dengan cara demikian. Teman saya di twitter ada yang membenarkan demonstran menggunakan kekerasan, katanya: ya siapa suruh pemerintah nggak mendengarkan. Menurut saya mau apapun alasannya kekerasan itu ya salah. Oke, baik, kekerasan dilakukan pada pihak aparat yang juga terlalu keras menyikapi para demonstran. Tapi nggak perlu pakai merusak fasilitas umum kan? Nggak perlu ngotorin jalan kan? Nggak perlu blokade jalan kan? Memangnya pengguna jalan hanya mereka? Dengan mereka berlaku seperti itu justru saya makin nggak simpati. Yang tadinya merasa dibela malah jadi malu. Malu dong, tayangan demonstrasi ricuh itu udah sampai Eropa! Teman saya yang studi di sana nonton, malu dong dilihat warga dunia yang lain.
Karena sudah dari saya kecil saya selalu melihat demonstrasi macam begini, akhirnya saya juga tidak bisa mengatakan kalau mereka ada di pihak yang benar. Baik pemerintah maupun mereka dua-duanya salah. Dan karena tidak ada yang benar saya pilih diam, saya pilih apatis, nggak dukung dua-duanya. Lagipula saya sudah terlanjur pesimis dengan apa yang ada di negara saya. Senior yang saya ceritakan tadi bilang harusnya saya nggak pesimis. Tapi gimana caranya coba? Kalau pemerintah yang sekarang turun, siapa yang siap mengganti? Partai oposisinya saja semalam sudah walk out semua, menyerah di tengah jalan. Saya yakin semua orang yang duduk di pemerintahan itu sama aja. Sama-sama udah pegang duit banyak, sama-sama jadi lapar dan haus kekuasaan. Ya tentu saja tidak semua demikian, ada juga yang baik. Tapi yang baik ini diam aja, sebenarnya bukan salah mereka diam, tapi karena kalau mereka berulah pasti digencet, ditekan sama yang salah. Karakter ini udah ada sejak mereka muda. Kelihatan kok dari lingkungan saya sekarang di masa kuliah ini. Yang nggak mau ngasih contekan dibilang pelit, yang nggak mau diajak bolos dibilang sok rajin, yang bersikap baik dan sopan sama dosen dibilang ngejilat. Lama-lama orang baik pilih diam aja. Generasi muda yang nantinya akan menggantikan mereka yang sekarang memerintah itu aja udah rusak kaya gini. Nggak cuma itu, kalau lihat ricuhnya sidang semalam itu jujur aja nggak jauh beda sama rapat-rapat di kampus. Walaupun cenderung lebih sopan, rapat di kampus itu juga sama, janji jam berapa mulai jam berapa, ujung-ujungnya semua mau ngomong gak ada yang mau dengar.
Menurut saya, generasi berikutnya yang naik jadi pemerintah negara ini bakalan sama aja. Kita sudah jadi korban dari generasi terdahulu yang membiarkan negara ini terlalu dieksploitasi bangsa asing, terlalu disusupi bangsa asing (dan ingat, bangsanya nggak cuma AS dan kawan-kawan baratnya, tapi juga negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah!). Ya kita ini korbannya, sudah terlanjur kecemplung di kolam kapitalisme dan globalisasi jadi susah keluar. Satu-satunya jalan menurut saya, peradaban di Indonesia yang sekarang ini harus hancur dulu. Hancur total entah karena apa. Dan orang-orang yang selamat akan membangun kembali Indonesia yang baru, yang beda, kalau perlu bikin ideologi baru yang lebih sesuai dan bentuk pemerintahan yang baru supaya sesuai. Kalau memang yang lama dirasa sudah nggak cocok, nggak masalah kok diubah. Manusia aja bisa ganti identitas, bangsa juga boleh dong kalau arahnya positif :)
Kemarin saya sempat diskusi (atau berdebat?) via twitter dengan salah satu senior. Senior ini, menurut saya, orang yang luas wawasannya dan pandai. Pengetahuannya banyak, dan saya respek. Kalau bicara sama dia, sudah pasti saya kelihatan seperti orang berwawasan sempit yang nggak tau apa-apa. Ya memang, saya bicara kemarin itu tujuannya sama sekali bukan buat memberikan fakta supaya orang ikut pendapat saya, saya cuma mengeluarkan unek-unek kekesalan karena sepanjang saya hidup di Indonesia saya sudah dikecewakan dengan keadaan di luar sana. Saya tidak tahu pendapat saya benar atau tidak, saya hanya ingin bicara, dari kaca mata saya ya demikian.
Saya bukan orang yang anti demonstrasi kok. Menurut saya mengeluarkan aspirasi bersama-sama seperti itu memang hak warga negara yang (katanya) menganut demokrasi. Tapi tentu saja demonstrasi itu ada aturannya. Tetap sopan, tetap menghargai orang lain. Mengaku bela rakyat kecil, tapi apa mereka betul-betul tau apa yang ada di dalam pikiran rakyat kecil? Memang pernah salah satu perwakilan rakyat kecil(kalo bisa dibilang mewakili, karena rakyat kecil di Indonesia jumlahnya gak ketolongan banyaknya dan tentu saja pendapatnya beda-beda), ngomong ke mereka langsung minta diwakili dan disampaikan aspirasinya dengan cara demikian. Teman saya di twitter ada yang membenarkan demonstran menggunakan kekerasan, katanya: ya siapa suruh pemerintah nggak mendengarkan. Menurut saya mau apapun alasannya kekerasan itu ya salah. Oke, baik, kekerasan dilakukan pada pihak aparat yang juga terlalu keras menyikapi para demonstran. Tapi nggak perlu pakai merusak fasilitas umum kan? Nggak perlu ngotorin jalan kan? Nggak perlu blokade jalan kan? Memangnya pengguna jalan hanya mereka? Dengan mereka berlaku seperti itu justru saya makin nggak simpati. Yang tadinya merasa dibela malah jadi malu. Malu dong, tayangan demonstrasi ricuh itu udah sampai Eropa! Teman saya yang studi di sana nonton, malu dong dilihat warga dunia yang lain.
Karena sudah dari saya kecil saya selalu melihat demonstrasi macam begini, akhirnya saya juga tidak bisa mengatakan kalau mereka ada di pihak yang benar. Baik pemerintah maupun mereka dua-duanya salah. Dan karena tidak ada yang benar saya pilih diam, saya pilih apatis, nggak dukung dua-duanya. Lagipula saya sudah terlanjur pesimis dengan apa yang ada di negara saya. Senior yang saya ceritakan tadi bilang harusnya saya nggak pesimis. Tapi gimana caranya coba? Kalau pemerintah yang sekarang turun, siapa yang siap mengganti? Partai oposisinya saja semalam sudah walk out semua, menyerah di tengah jalan. Saya yakin semua orang yang duduk di pemerintahan itu sama aja. Sama-sama udah pegang duit banyak, sama-sama jadi lapar dan haus kekuasaan. Ya tentu saja tidak semua demikian, ada juga yang baik. Tapi yang baik ini diam aja, sebenarnya bukan salah mereka diam, tapi karena kalau mereka berulah pasti digencet, ditekan sama yang salah. Karakter ini udah ada sejak mereka muda. Kelihatan kok dari lingkungan saya sekarang di masa kuliah ini. Yang nggak mau ngasih contekan dibilang pelit, yang nggak mau diajak bolos dibilang sok rajin, yang bersikap baik dan sopan sama dosen dibilang ngejilat. Lama-lama orang baik pilih diam aja. Generasi muda yang nantinya akan menggantikan mereka yang sekarang memerintah itu aja udah rusak kaya gini. Nggak cuma itu, kalau lihat ricuhnya sidang semalam itu jujur aja nggak jauh beda sama rapat-rapat di kampus. Walaupun cenderung lebih sopan, rapat di kampus itu juga sama, janji jam berapa mulai jam berapa, ujung-ujungnya semua mau ngomong gak ada yang mau dengar.
Menurut saya, generasi berikutnya yang naik jadi pemerintah negara ini bakalan sama aja. Kita sudah jadi korban dari generasi terdahulu yang membiarkan negara ini terlalu dieksploitasi bangsa asing, terlalu disusupi bangsa asing (dan ingat, bangsanya nggak cuma AS dan kawan-kawan baratnya, tapi juga negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah!). Ya kita ini korbannya, sudah terlanjur kecemplung di kolam kapitalisme dan globalisasi jadi susah keluar. Satu-satunya jalan menurut saya, peradaban di Indonesia yang sekarang ini harus hancur dulu. Hancur total entah karena apa. Dan orang-orang yang selamat akan membangun kembali Indonesia yang baru, yang beda, kalau perlu bikin ideologi baru yang lebih sesuai dan bentuk pemerintahan yang baru supaya sesuai. Kalau memang yang lama dirasa sudah nggak cocok, nggak masalah kok diubah. Manusia aja bisa ganti identitas, bangsa juga boleh dong kalau arahnya positif :)
2.3.12
Tentang Kerajaan Ini
Pada awalnya tiada kutemukan bahagia
diam dalam kerajaan itu
Tiada yang menarik selain hari hari
dipenuhi coretan atas kertas
ruang ruang berbicara
dan untaian kata berkumandang
Sekalipun sang bunga salju
ditemani sepermainannya
tiada yang baru untuk
rangkaian ceritaku
Sesaat sang pujangga yang datang
dari negeri berbatu batu
sempat menjadi impian
namun hilang dari harapan
ketika gadis-gadis pandai
dan cantik membawanya pergi
Dalam kerajaan itu
akhirnya kami bertemu
ksatria bersimbol hati tujuh
yang mengubah kisahku
Sekalipun aku bukan perdana menteri
kerajaan ini, jadi milik kami
tak lama kurasa
karena dipenuhi kesenangan saja
dan para tetua tak suka
Lalu kudengar seorang
kaisar timur yang bijak
hendak meraih tahta
kerajaan ini
Hanya kuharap kisahku dan
sang ksatria bukan akhir di sini
kerajaan kami boleh usai
tapi di luar sana
akan kami bangun yang baru
di tanah berbeda...
di negeri yang jauh...
by LV~Eisblume
02.03.12
Ich bedanke mich fuer mein Lieblingsverein, in dem ich und er getroffen haben...
diam dalam kerajaan itu
Tiada yang menarik selain hari hari
dipenuhi coretan atas kertas
ruang ruang berbicara
dan untaian kata berkumandang
Sekalipun sang bunga salju
ditemani sepermainannya
tiada yang baru untuk
rangkaian ceritaku
Sesaat sang pujangga yang datang
dari negeri berbatu batu
sempat menjadi impian
namun hilang dari harapan
ketika gadis-gadis pandai
dan cantik membawanya pergi
Dalam kerajaan itu
akhirnya kami bertemu
ksatria bersimbol hati tujuh
yang mengubah kisahku
Sekalipun aku bukan perdana menteri
kerajaan ini, jadi milik kami
tak lama kurasa
karena dipenuhi kesenangan saja
dan para tetua tak suka
Lalu kudengar seorang
kaisar timur yang bijak
hendak meraih tahta
kerajaan ini
Hanya kuharap kisahku dan
sang ksatria bukan akhir di sini
kerajaan kami boleh usai
tapi di luar sana
akan kami bangun yang baru
di tanah berbeda...
di negeri yang jauh...
by LV~Eisblume
02.03.12
Ich bedanke mich fuer mein Lieblingsverein, in dem ich und er getroffen haben...
Langganan:
Postingan (Atom)