15.7.12

My Journey to Middle Earth (part 1)

Halo semuanya, 
Gue nulis langsung dari Middle Earth nih ^^ *sepik* Maaf ya jadi jarang nulis gara-gara perjalanan panjang ini. Demi apapun sekarang gue lagi keranjingan LOTR!! (iya gue tau gue telat, awas klo ada yang ketawa >. >)

Hmm... ya begitulah gue selalu jadi manusia telat. Dulu waktu semua orang heboh Twilight, gue bahkan belum menyadari keberadaan novel itu. Terus waktu semua orang freak SuJu, gue sibuk ngejek-ngejekin mereka kayak bencong. Eh tiba-tiba pas semua orang nggak suka lagi atau udah bosen, gue baru suka. Terang aja semua orang jadi males gitu lihat kelebayan gue hahahaa,,, Nah kalo kasus yang ini agak beda dan menurut gue harusnya bisa lebih dimaafin kali ya secara filmnya keluar tahun 2002 (gue masih anak SD ingusan yang tontonannya kartun disney!). Tapi kayanya nggak bisa dimaafin juga sih secara filmnya udah diulang-ulang dari kapan tau di berbagai stasiun TV tapi gue lewatkan begitu saja atau nonton setengah-setengah. Well, sebelum nonton di HBO gue cuma tahu kalo trilogi LOTR tuh film yang isinya orang ganteng semua! (ya nggak semua juga sih hahaha...)

Tapi kalo dipikir-pikir gue sadar mungkin ini rencana Tuhan kenapa gue baru ada kesempatan nonton sekarang (apa pula ini bawa-bawa Tuhan -__-a). Dimulai dari waktu gue suka minta-minta film sama temen-temen gue yaitu Nuke dan Mumut yang punya segudang film di laptopnya. Awalnya cuma mau minta Red Riding Hood tapi karena gue lihat banyak film bagus lain yang belum gue tonton di koleksi mereka, akhirnya gue putuskan untuk ngopi juga. Intinya sih waktu itu trilogi LOTR cuma jadi sekedar "film bagus yang belum gue tonton". Sampai akhirnya gue mengalami kebosanan setelah UAS selesai. ue pun memutuskan buat nonton yang pertama. Awalnya iseng doang dengan asumsi film ini latar belakangnya agak-agak medieval gitu (zaman yang paling gue suka :D). Dan setelah gue tonton... jeng jeng... *drumrolls* astaga nih film bagus banget agsgdhagdjhgajsghfdahgfjgajkshda.. (baca: gak terdeskripsikan lagi deh bagusnya). Mungkin ini adaptasi terbaik yang pernah gue lihat (agak sotoy sih soalnya gue kan waktu itu belum baca novelnya). 

Melanjutkan bagian satu, akhirnya gue tonton juga bagian dua. Kali ini bareng adek gue yang beberapa hari sebelumnya begadang sampai jam setengah 4 pagi buat ngejar gue nonton yang pertama. And guess what?? Tiba-tiba aja HBO nayangin iklan kalau trilogi ini bakal ditayangin akhir bulan Juni secara beruntun. Whoaaaa.. kayanya emang gue ditakdirkan untuk kenal lebih dekat sama trilogi LOTR sekarang instead of waktu keluarnya film ini di tahun 2002. Habis nonton filmnya secara beruntun sekarang gue semacam nggak mau keluar dari Middle Earth. Bahkan gue langsung searching lewat Lontar UI kali-kali novelnya ada di Perpusat. And thanks God, novelnya ada lengkap bahasa Inggris maupun Indonesia. Akhirnya gue pinjem juga tuh novelnya. Bagian satu yang Fellowship of the Ring gue habiskan dalam waktu seminggu (sampai gue menemukan gimana caranya mengurangi adiksi gue terhadap internet!). Dan ketika mau lanjut ke bagian dua yang The Two Towers, duhhh.. kayanya susaaaah banget move on. Gue jatuh cinta sama tokoh Strider di bagian pertama ahahaha... :3

Oke, cukup cerita soal kronologi keranjingan gue dengan trilogi terkeren yang pernah gue temui sampai sekarang itu. Nah, sekarang balik lagi ke soal rencana Tuhan. Menurut gue, kesempatan ini bukan nggak disengaja atau kebetulan, tapi emang rencana Tuhan. Ada dua alasan:
1.) Kalau gue nonton tahun 2002 atau waktu filmnya diputar berulang-ulang di tahun-tahun setelahnya, gue cuma akan nonton dan mendapat kesan kalau filmnya keren, epik dan pemainnya ganteng. Titik. Nggak lebih. Minimal inspirasi untuk nulis lagi. Tapi sekarang, setelah gue kuliah di jurusan Jerman, gue lebih mengerti esensi filmnya. Gue bisa mendapatkan lebih dari sekedar cerita epik dan tampang ganteng. Gue sekarang ngerti apa itu huruf Rune, macam-macam ras di Middle Earth (yang mirip sama 9 dunia dalam mitologi Germanik/Norse), bahkan gue lebih menikmati legenda cincinnya yang serupa dengan karya sastra Jerman kuno favorit gue: Nibelungenslied :)
2.) Tuhan semacam mau mengembalikan gue ke jalan yang benar. Dia menunjukkan ke gue bahwa hal-hal yang gue suka (baca: mitologi Norse, Rune, magic, paganism, wicca, dll.) yang menjurus pada kesesatan dan kemusyrikan bisa dipakai untuk menyampaikan nilai-nilai cinta kasih yang diajarkan dalam ajaran agama yang gue anut. Kalau diamati dalam dialog filmnya (apalagi bukunya) gue bisa menemukan ajaran cinta kasih yang disisipkan sang pengarang. Gue sempat baca sedikit biografinya J.R.R.Tolkien dan dibilang di situ bahwa dia adalah penganut Katolik yang taat. Sedikit banyak hal ini pasti menginspirasi nilai-nilai dalam karyanya, salah satunya LOTR ini. Dan kerennya, dia bisa menggunakan unsur-unsur mitologi Norse, magic, dll yang harusnya bertentangan dengan ajaran agama itu untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut :D This inspires me, really :)

Sebenarnya ada banyak nih yang mau gue tulis, tapi kalau ditulis di sini semua jadi semacam nggak nyambung gitu. Jadi bagian pertama perjalanan gue disudahi di sini saja...
Bis dann :))

27.6.12

Kepada para pendahulu saya, yang mengaku percaya padanya

Mengapa tak kau kebaskan saja debu di kakimu seperti yang ia kata?
Mengapa tak kau sarungkan pedangmu seperti perintahnya?
Aku yakin betul, jika saja ia ada di sana saat itu
akan ia sambungkan kembali kepala-kepala yang kau pisahkan dari tubuh-tubuh tak bersalah itu.

Pada para pendahulu saya, yang mengaku percaya padanya
Saya malu jika tahu anda sekalian saudara saya
Karena kalian saya dibenci teman-teman saya
Nama para pendahulu saya, yang tercatat dalam lembar sejarah
Dielukan bagai pahlawan pembawa harapan pada bangsa yang tersesat
Namun bagi saya, pesta nama kalian harusnya tak pernah ada.

Pada para pendahulu saya, yang mengaku percaya padanya
Bukan saya maksud menghakimi, tapi kalian membuat
dunia membenci kami semua...

18.6.12

Pelaut dari Utara dan Pulau Nyiur Selatan

Pelaut dari utara membentang layar
Bergulung ombak diterpa badai
Empat lima pulau terlewat
Bersama kenangan dibawa pulang

Pelaut dari utara tiada kan melihat
Walau kapal telah membelah
Laut jauh membuka gerbang
Mata sang pulau nyiur selatan

Hanya dikaguminya dari jauh
Nyiur melambai di tanah selatan
Tiada ingin ia mencium tanahnya
Selain pulau-pulau hijau utara

Dan pulau nyiur selatan
Mengharap kaki pelaut menjejak dirinya
Sembari menatap pada indahnya
Pulau-pulau hijau utara


By LV~Eisblume
17.06.12

Cruel Dreams


After the small branches that warm my heart
Save me from the loneliness of life
And the colourful rainbow of lovely days
Come to protect me from the cruel fate,

I dream of the mighty oak trees
To hold it and kiss the trunk with my lips
And the shining waterfall of northern light
To be wrapped in and sleep together with

Who am I, such a woman without heart
This eyes see but cannot feel the kindness of the weak
But enchanted by the magic of the strenght
The beauty of mystery i’ve never seen

Let my days here be forgotten days
And my life here be my past life
I want my future at the hands of the night
To put my soul in the beauty of death


By LV~Eisblume
17.06.12

8.6.12

Dienstag und Mittwoch (koreksi untuk artikel nama-nama hari dalam bahasa Jerman)

Halo semuanya, sebelumnya saya sudah pernah posting di blog ini tentang asal-usul nama-nama hari dalam bahasa Jerman. Sila lihat lewat link ini: http://mysecretcornflowerfield.blogspot.com/2011/03/die-tage-und-die-geschichte-asal-usul.html

Kalau dibaca ulang, di posting itu saya meninggalkan beberapa pertanyaan khususnya pada keterangan untuk hari Selasa (Dienstag) dan Rabu (Mittwoch). Postingan ini akan menjawab pertanyaan itu. Seorang teman asal Jerman yang juga berkuliah di jurusan Germanistik dan sudah master tentang mitologi Jerman/Norse adalah sumber informasi yang saya dapatkan :) Danke fuer ihn ^^ hahaa...

Dienstag
Pada artikel sebelumnya saya menuliskan bahwa kata Dienstag berasal dari bahasa Jerman artinya Assembly Day atau hari untuk berkumpul. Rupanya keterangan tersebut kurang tepat, karena sesungguhnya nama Dienstag masih berakar dari nama dewa Tyr. Tyr dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama Tiwaz. Menurut keyakinan bangsa Jerman kuno, Tiwaz adalah Beschutzer des Ding ( = dewa pemilik dan pelindung benda-benda di bumi). Ding yang artinya benda berubah bentuk menjadi Dien, yang akhirnya membentuk kata "Dienstag".

Mittwoch
Nama asli dari Mittwoch adalah Wodenstag yang berasal dari nama dewa tertinggi bangsa Germania yaitu Wodan/Odin. Sampai sekarang semua negara berbahasa Germanik menggunakan nama hari yang berakar dari nama sang dewa untuk hari Rabu. Namun di Jerman terjadi perubahan pada abad ke-10. Hal ini dikarenakan misionaris dari gereja-gereja mulai menyebarkan ajaran Kristiani. Para raja juga sudah mulai memeluk agama baru ini dan untuk menghindari semakin berakarnya paganisme di masyarakat Jerman kuno maka Wodenstag diganti dengan Mittwoch yang artinya hari yang terletak di tengah-tengah minggu (in der Mitte der Woche).

Demikian revisi untuk artikel sebelumnya. Semoga bermanfaat :))

7.6.12

Mungkinkah Aku Mimpikan Pintu Neraka?

Akankah di masa nanti
Nyawaku berdiri di ujung pisau
Ketika palang terbalik
dan hitam jadi putih?

Akankah di masa nanti
Aku terkurung dalam tombak
Di antara dua pilihan
yang kusuka dan percaya?

Akankah di masa nanti
Khayalan berubah nyata
dan mungkin mimpiku kini,
ujungnya pintu neraka?


by LV~Eisblume
08.06.12

17.5.12

The North



Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish

I want to dance under the midnight sun
Wrapped tightly with the shawls of northern lights
To swim in the water flowing to the sea
In the northern fjords, my dreams, my wishes

Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish

I want to listen to the north songs
Feel the rain and dance with the thunder
To close my eyes in the lullaby
of the northern myths and ancient tales


by LV~Eisblume
17.05.12

10.5.12

Kambing, Domba dan Serigala


Sama seperti hampir seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
                Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku di tengah kegiatan makan rumputnya.
                “Nona, aku mau mengaku,” katanya.
                Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
                “Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,” ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
                “Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
                “Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
                “Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
                Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak, mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur, bagaimana jika ada spesies lain?
                “Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
                “Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat yang lebih banyak rumput.
***
                Siapa sangka pada hari selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
                “Nona, apa kamu mau dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
                “Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
                “Kemarin... kambing gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,” katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan membisikkan sesuatu.
                Aku langsung melotot dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
                “Iya, jangan bilang siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami tahu.”
                “Uh, baiklah, kalian merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
                “Hmm... ide yang bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
                Maka pada hari-hari selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga. Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku. Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
                Aku duduk mengamati ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya, lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku yang berada dekat dengan hutan itu.
                Hari beranjak sore dan aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
                Aku tengah berjalan santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan dari kejauhan.  Anjingku menggonggong tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi sesuatu di sana.
                “Ada apa, Hundie?!” aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang lain.
                “Oh, tolonglah, di mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
                Tapi, di mana domba betina kecil itu???
* * *
                “Tidak, sesuatu pasti terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik. Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah hutan.
                Hutan itu. Ya, hutan itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik. Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan kekasih barunya.
                Hundie duduk di sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu. Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
                Aku kembali ke peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
                Setengah jam sudah aku memasuki hutan tanpa  tanda-tanda domba kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
                Angin dingin berkesiur tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga rumah itu.
                “Kreeet...,” terdengar suara pintu dibuka.
                Aku dan Hundie melompat masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah. Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
                Seorang bapak tua berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai kalung logam.
                “Aku akan pergi, “ katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping sang wanita.
                “Lagi?” tanya wanita itu.
                “Ya, kau tahu aku siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
                “Baiklah. Tunggu sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
                “Kompas leluhur kita. Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
                Sang pengembara berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana. Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
                Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil di dalam hutan itu?
                Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu, aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia. Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut sedih menyaksikan duka si kambing muda.
                “Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
                “Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha menyembunyikan kejadian tadi sore.
                “Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu. Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
                “Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng kuat-kuat.
                “Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi, nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
                “Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
                “Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau aku menanyakan pertanyaan itu.
                “Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
                “Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
                Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
                Aku menggeleng pelan.
                “Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius. Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
                Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu katapun luput dari telingaku.
                “Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan aktivitasnya. Mereka ...,”
                “... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
                “Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
                Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan. Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
                “Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka? Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan keindahannya di sana,” kataku.
                “Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan yang benar,” jawab ayahku.
                “Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana, juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak saudagar penjual kain itu.  Katanya mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
                “Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku meninggikan suaranya.
                “Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
                Ayahku melayangkan tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
                “Sudah, Yah... biarkan saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
                Ayah diam, tangannya diturunkan namun masih memandangku dengan marah.  Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing. Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan kekasihku...
                Pandangan kualihkan pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
                Tiba-tiba kambing mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
                “Hei..., hei..., ada apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
                “Dia pulang...,” jawab kambingku kegirangan.
                “Dia siapa?” aku bingung.
                “Domba cantik,” jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi. Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
                “Nona..., nona..., aku pulang!!” serunya girang.
                “Hei.., domba kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang selamat.
                “Aku akan cerita pada Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
                Dan malam itu, aku meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak terduga.
                “Kemarin aku sedang merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga. Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
                “Ceritakan padaku, apa yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
                “Hmm.. baiklah. Dia bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
                “Hmm... aneh, tapi menarik ya...,” aku bergumam.
                “...lalu si ibu adalah wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat? Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
                “Cerita yang sangat menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
                “Apa maksud Nona? Aku tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
                “Serigala itu musuhnya domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
                “Tidak, tidak mungkin. Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri dari laranganku.
                “Tidak, kau tak akan ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala! Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
                “Jangan larang aku, Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku. Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh dariku. Seperti menjaga jarak.
                “Kau.. domba.. kau akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu, kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
                “Terserah apa kata Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
                Tidak. Dia kabur lagi. Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku harus mengejarnya.
                Aku berlari melintasi padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
                “Oh, tidaaaaaakkk....,” aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
                Aku terduduk lemas sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
                Lolongan serigala terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya begitu besar.
                “Domba itu milikku. Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku terdiam. Sunyi.
***
                “Hei, sampai kapan kau mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang membawa palu dan pedang.
                “Oh..., hai..., halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di mana serigala tadi?” tanyaku.
                “Sudah kusuruh pulang dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal  kalau sama orang asing,” jawabnya.
                Langsung kusadari bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya. Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
                “Aku tadi sedang bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu dari desa bangsa itu ya?”  ia menunjuk kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
                Aku mengangguk. “Tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
                “Aku mengerti,” katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya. Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.

12.4.12

Sebelum Pertemuan Itu


Siang hari, kira-kira pukul 14.30 di sebuah sekolah ternama di pusat kota.

         Aku berlari melintasi koridor-koridor yang bernuansa hijau. Sekali lagi kelasku terlambat bubar. Dengan cepat aku menuruni anak tangga dan mencapai lantai satu. Kemudian aku berlari lagi melewati halaman dalam dan akhirnya berhasil mencapai halaman parkir. Sinar mentari yang menyengat lagi silau langsung menyambutku. Tanpa sempat melepaskan jaket yang membalut tubuhku, aku berjalan menyelip-nyelip di antara mobil-mobil yang terparkir ---- mencari mobil putih yang jujur saja kurang baik kondisinya. Mobil jemputanku! Ah, ternyata masih ada. Mesinnya sudah menyala, tanda siap berangkat. Aku nyaris ditinggal lagi. 
           Seperti biasa kubuka kotak bekal makan siangku. Aku selalu membawa dua bekal ke sekolah, untuk sarapan dan untuk makan siang. Kali ini bekalku adalah nasi yang sudah dingin dengan nugget goreng yang membosankan. Aku makan diiringi suara obrolan dan tawa teman-teman sejemputanku yang sejak tadi memang sudah terlibat pembicaraan seru. Aku diam saja, tak banyak menyahut, karena jujur saja aku memang tipe introvert yang jarang mengobrol. Kunikmati bekalku sampai habis sembari memandang ke luar.
        Setengah perjalanan telah berlalu dan teman-temanku sudah tertidur. Aneh. Mobil jemputan begitu panas tetapi mereka bisa tidur. Sementara aku dari tadi mengalami kesulitan. Mungkin karena aku memang tidak biasa membiarkan pemandangan di luar berlalu begitu saja sekalipun pemandangan itu buruk. Ya, dalam perjalanan pulang dari sekolah memang ada dua jalur yang biasa dilalui jemputanku. Aku menyebutnya jalur pemandangan buruk dan jalur pemandangan bagus. Kesempatan melalui jalur yang mana ditentukan oleh siapa saja yang ada dalam jemputan itu. Jika ada temanku yang tinggal di daerah yang melalui pemandangan buruk maka kami akan lewat sana. 
          Sebagai informasi, jalur pemandangan bagus melewati daerah selatan ibukota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, perkantoran, dan bangunan favoritku --- kedutaan negara-negara asing dengan bendera asing yang berkibar. Sementara itu jalur pemandangan buruk dipenuhi kemacetan, polusi dan udara panas. Ia melewati daerah timur ibukota yang dipenuhi rumah-rumah yang kurang bagus keadaannya di kiri-kanan jalan. Membosankan sekali. Aku sungguh tidak pernah menyukai jalur ini, sama sekali tidak. Ada bagian dari jalur ini yang berupa jalan sempit dan di sebelah kanannya adalah sungai yang airnya selalu penuh seolah tak pernah meluap. Di jalan ini nyaris selalu macet dan udaranya sangat panas. Satu lagi, banyak sekali "bebek liar", maksudku sepeda motor yang ugal-ugalan. Seperti bebek yang baru dilepas dari kandang dan melihat mereka sungguh menyebalkan. Membuat kemacetan semakin parah saja!
            Lagi-lagi hari itu dengan terpaksa aku harus mengikuti kenyataan --- melalui jalur pemandangan buruk. Aku ingin sekali tidur supaya tidak melihat pemandangan tidak enak itu dan tiba-tiba sudah sampai di rumah. Sayang sekali aku terlalu segar untuk tidur, bahkan ketika mobil terjebak macet di jalur tepi sungai itu. Dan di tengah macet itu aku melihat banyak "bebek liar" di sekeliling mobil. Salah satunya dikendarai oleh dua orang anak SMA, keduanya laki-laki. Dari seragamnya yang mainstream --- kemeja putih dan celana abu-abu panjang --- tampaknya bukan sekolah swasta. Dua siswa itu bercanda saja sekalipun sedang terjebak di kemacetan. Mereka sempat memandang ke arahku juga, tanpa maksud tentunya, lalu melanjutkan pembicaraan serunya. Aku pun tidak begitu memperhatikan keduanya, sekedar melihat saja, seperti aku melihat orang-orang lain pada umumnya. Lalu mobil bergerak hingga aku tidak memperhatikan mereka lagi. 

Petang hari, kira-kira pukul 18.00 di teras rumahku.

             "Besok aku mau nonton," kata adikku sembari membelai-belai anjing kami yang sedang setengah tertidur. "Nonton? Apa? dengan siapa?" tanyaku. Aku berdiri agak jauh darinya karena aku takut dengan anjing kami. Aneh memang, tapi aku pernah digigit sehingga ada trauma yang tersisa.
            "New Moon, nonton bareng teman-teman dong! Fifi, Leah, Chicha, dan yang lainnya," jawabnya dengan berseri-seri. Maklum, adikku yang masih duduk di kelas 3 SMP ini sedang freak dengan si vampir Cullen dan saudara-saudaranya.
            "Oh, " balasku. "Aku boleh ikut?" tanyaku.
            "Mmmm.. gimana ya....," pikirnya dengan wajah keberatan.
            "Baiklah kalau kau tak mau, aku akan ajak Mutti," kataku kemudian beranjak ke dalam rumah.

            Aku mengetuk pintu kamar Mutti --- panggilan sayangku untuk Ibu, dari bahasa Jerman tentunya. Mutti membukanya sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
            "Habis keramas ya, Mutti?" tanyaku.
            "Iya nih, panas banget udaranya," jawab Mutti. "Bagaimana sekolahnya?
            "Baik hehehehe... oiya, sekalian mau ngasih tau, tadi aku dikasih tau wali kelas, katanya guru sejarahku mau ketemu Mutti," jelasku.
            "Guru sejarah? Ada apa?" tanya Mutti penasaran karena berita dariku tidak biasa.
            "Nggak tau tuh, mungkin soal yang kemarin, yang katanya aku bakal diseleksi sama guru-guru untuk pertukaran pelajar ke Thailand," kataku lagi. Belum sempat Mutti membalas perkataanku, kulanjutkan obrolan untuk mengutarakan maksud awal.
            "Mau nonton New Moon nggak, Mutti?" tanyaku.
            "Itu film apa? Kapan?" tanya Mutti balik.
            "Itu lho, sambungannya Twilight yang dulu kita nonton bareng. Minggu aja di tempat biasa," jawabku. "Mutti nganggur kan hari itu?"
            "Hmm.. boleh-boleh aja," jawab Mutti, dan aku sangat senang mendengarnya hingga aku keluar lagi untuk memamerkannya pada adikku.
            Jadi begini rencana kami. Aku, adikku dan Mutti akan pergi menuju bioskop bersama-sama lalu kita akan menitip tiket pada teman-teman adikku yang sudah terlebih dulu ada di sana. Selanjutnya kita akan duduk di tempat terpisah dan menonton film di jam yang sama. Maka setelah itu adikku dapat pulang bersamaku dan Mutti tanpa harus diantar oleh teman-temannya.

Minggu siang, pukul 11.00 di bioskop langganan kami.

            “Fifi, Chicha, Leah!!” seru adikku menghambur ke arah teman-temannya. Ia langsung memisahkan diri dariku dan Mutti setibanya di bioskop. Tak lama kemudian ia kembali lagi untuk memberikan tiket titipan kami lalu berbalik lagi bersama teman-temannya. Mereka langsung terlibat percakapan seru.
            “Mbak, tolong belikan pop corn dan minum,” pinta Mutti padaku.
            “Oh baiklah, pakai uangku atau Mutti?” tanyaku.
            “Kamulah, Mutti kan sudah bayar tiketnya tadi,” jawab Mutti, kemudian aku segera melangkah ke counter makanan.
            Agak sulit mencapainya karena rupanya bioskop sangat ramai. Maklum, hari ini New Moon tayang premier. Semua anak remaja ingin menyaksikannya, termasuk salah satu pasangan yang kulihat sedang mengantre tiket di barisan panjang yang tampak tak bergerak itu.
            Pasangan itu, sepertinya sebaya denganku. Masih remaja seperti aku. Sang gadis berambut ombak mengembang seperti rambutku dan dibiarkan tergerai begitu saja. Sang pemuda mengenakan kaos yang didobel kemeja kotak-kotaknya. Mereka tampak mesra, sang pemuda seperti sangat mencintai gadisnya, dan gadisnya berkarakter sedikit manja. Setidaknya itu yang kutangkap. Mereka tampak sedang membicarakan film yang akan mereka tonton --- New Moon --- seperti yang ingin kutonton bersama ibuku, bukan kekasihku. Sedikit terbersit dalam hati, seandainya aku dapat menonton film semacam ini dengan kekasihku, tapi apa daya, sekolahku saja homogen.
            Aku melewati mereka menuju counter makanan. Mereka sadar akan kehadiranku, tetapi tidak peduli. Sang pemuda memang sempat melihatku, tapi kemudian ia melanjutkan obrolannya dengan sang gadis. Tidak ada apa-apa terjadi dan memang tidak. Aku melihat mereka seperti orang-orang lain pada umumnya, bukan seseorang yang penting. Demikian juga mereka tak peduli dengan siapa aku selain sebagai orang yang sama-sama ingin menonton di bioskop tersebut.

Siang hari pukul 13.30 di koridor depan kelasku.

            Ponselku berbunyi tidak lama setelah aku menyalakannya. Mutti calling, tertulis demikian di layar. Aku mengangkatnya dan mendengar suara Mutti yang bernada cerah.
            “Halo, Mbak, sudah selesai sekolahnya?” tanya Mutti.
            “Sudah, kok, barusan aja,” jawabku.
            “Kamu nggak usah naik jemputan ya, Mutti tunggu di bawah sama teman kerja Mutti nih,” kata Mutti padaku.
            “Lho, Mutti jemput? Kok tumben,” aku malah bernada bingung.
            “Ya sudah cepat turun, ini Mutti di parkiran, nanti Mutti ceritakan,” katanya kemudian menutup telepon.

            Aku menghambur keluar dan kembali menerjang terik matahari. Kulihat Mutti berdiri di depan pos satpam dan langsung mengajakku menuju mobil rekan kerjanya. Aku mengambil duduk di bagian belakang sementara Mutti duduk di depan.
            “Ada apa sih ini, kok kayaknya seru?” tanyaku tak sabar.
            “Ya, tadi Mutti sudah ketemu gurumu. Katanya kamu terpilih untuk pertukaran pelajar ke Thailand. Terus dia tanya, kamu punya paspor apa enggak. Mutti jawab kamu belum punya. Terus sama dia disuruh segera bikin, jadi sekarang Mutti minta tolong dianter sama temen Mutti ini ke kantor imigrasi buat langsung bikin paspor kamu, “ jelas Mutti.
            “Serius itu aku dapat? Masa sih??” aku masih tak percaya kabar yang dikatakan Mutti.
            “Ya, betul. Katanya tadi ada tiga orang yang dinominasi, tapi setelah diseleksi sama guru-guru, mereka mau kamu yang pergi,” jelas Mutti lagi.
            “Itu gratis? Beneran gratis?” tanyaku dengan nada bahagia.
            “Ya, gratis semua, tinggal bayar airport tax seratus ribu aja. Tapi uang jajan nggak dikasih karena kamu nanti homestay. Nanti sampai rumah langsung berdoa, bersyukur sama Tuhan,” nasehat Mutti.
            “Iya, Mutti” jawabku.

Siang hari pukul 14.00 dalam perjalanan menuju kantor imigrasi.

            Aku tidak pernah tahu di mana letak kantor imigrasi. Kata Mutti cukup jauh, letaknya di daerah timur ibukota. Tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa jalan menuju ke sana akan melewati jalan pemandangan buruk itu. Walau demikian rupanya ada yang sedikit berbeda karena jalan yang kulalui berbeda dengan jalan pulangku setiap hari. Rupanya dekat stasiun tua di timur ibukota yang ada di seberang pasar, ada jalan bercabang yang tak pernah kusadari. Biasanya mobil jemputanku akan mengambil jalan ke kanan, yang akan berujung pada jalan tepi sungai yang menyebalkan itu. Kali ini mobil tetap lurus dan tiba di jalan raya yang gersang dan sepi pepohonan.
            Kantor imigrasi terletak di samping penjara dan daerah di sekitar situ sangat panas udaranya. Mobil diparkir dan kami semua turun. Mutti memilih jalan belakang, artinya aku akan mendapatkan paspor lebih cepat daripada orang yang melalui jalan depan. Benar saja, tak lama setelah aku masuk langsung ada seorang bapak yang berbicara dengan Mutti dan tiba-tiba saja aku sudah disuruh masuk ke suatu ruangan yang di dalamnya terdapat bilik-bilik yang disekat. Di sana aku harus menunjukkan surat-surat penting, menempelkan sidik jari, difoto, menandatangani ini-itu dan ditanya-tanya akan pergi ke mana dengan alasan apa.
Tidak lama memang tetapi cukup membosankan. Beruntunglah sebelum jam lima semua sudah selesai, tinggal menunggu paspor jadi.

Menjelang sore pukul 16.00 masih di bawah teriknya matahari

            “Ini kenapa muter-muter deh dari tadi?” tanyaku pada Mutti.
            “Nggak tau, Mutti lupa jalannya ke mana. Mutti nggak kenal daerah ini,” jawab Mutti.
            “Tanya aja deh ke orang, daripada tersesat terus nggak pulang-pulang,” aku memberi usul.
            Rekan kerja Mutti segera menepikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Aku tak lagi ingat angka yang tertera di belakang tulisan “SMA Negeri”, yang jelas sekolah itu ramai oleh siswa-siswi yang berlalu-lalang keluar-masuk. Sepertinya mereka sedang menyelenggarakan suatu acara. Teman Mutti itu membuka jendela mobil dan bertanya pada sekelompok siswa di situ. Aku melihat mereka juga, melihat mereka dengan sangat biasa.
            “Maaf, kalau mau ke arah Bekasi lewat mana ya?” tanya teman Mutti.
            “Oh, bapak lurus aja ikutin jalan ini juga bisa....,” dan aku tidak lagi mendengar terusannya, aku sibuk memperhatikan beberapa siswa yang berdiri di depan pagarnya. Mereka membawa alat-alat musik, seperti sekelompok band yang ingin tampil. Mungkin sedang ada acara di dalam, maka dari itu kelihatan sangat ramai. Aku menatap lagi salah satu dari mereka yang berambut ombak dan tidak membawa apapun. Ia juga sempat melihatku sesaat tanpa maksud, sebelum ditarik oleh seorang gadis yang juga berambut ombak panjang. Gadis itu mengatakan sesuatu, semacam ajakan untuk masuk karena acara akan mulai.

* * *
            Ingatanku merangkai sesuatu. Bayanganku mencari sesuatu. Pemuda yang kulihat di motor di jalan tepi sungai itu, yang kutemui di bioskop ketika hendak membeli pop corn, dan yang berdiri di depan sekolah.... mungkinkah....
            “Mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkinkah kita...,” aku menatap wajahnya yang diterpa sinar mentari sore hari menjelang senja. Ia tersenyum seakan tahu aku belum selesai.
            “Mungkinkah kita pernah ada di tempat yang sama, tanpa sadar bahwa sosok di seberang sana akan menanti di masa depan? Mungkinkah kita pernah saling bertatap walau tanpa maksud? Aku tak mengenalmu sebelumnya..., tapi sebelum pertemuan dua belas tahun lalu di tepi danau ini...,” kubelai wajahnya yang tersenyum menatap balik padaku.
            “Di manakah dirimu ketika aku sedang menunggu perjalanan ke luar negeri pertamaku? Apa yang kau lakukan ketika aku sedang mengenakan gaun gothic lolita di malam perpisahanku? Sedang apa dirimu ketika aku menangis setelah gagal mendapatkan beasiswa ke tanah impianku? Aku ingin tahu dirimu... sungguh ingin tahu.. setiap detail cerita dari masa lalumu.. sebelum pertemuan itu..,” kuselesaikan kalimat-kalimatku. Hening yang cukup lama mengikutinya. Akhirnya ia menarikku lebih dekat dan selagi mendekapku ia berkata, “mengapa kau ingin tahu itu, Sayang? Masa laluku tak penting. Sebelum pertemuan itu tak perlu kau cari-cari. Yang terpenting itu, kita jadi masa depan satu sama lain.”
           

              


              

31.3.12

Tentang yang terjadi di sini akhir-akhir ini...

BBM mau naik. Demikian kata pemerintah tanpa kejelasan dan sangat tiba-tiba. Sudah jelas yang terjadi selanjutnya: demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan kaum buruh. Teman-teman saya ini (baca: mahasiswa) mengaku membela rakyat kecil dan memperjuangkan nasib mereka dengan berusaha agar harga BBM tidak naik. Kebetulan saya bukan termasuk tipe yang suka berdemo, saya tipe berkoar-koar di belakang, lewat tulisan, entah karya sastra atau sekedar tweet-tweet nggak penting. Lewat tulisan itu, saya sama sekali bukan mau memaksa orang untuk setuju dan ikut pendapat saya. Saya hanya mau bicara, mengutarakan pendapat saya.

Kemarin saya sempat diskusi (atau berdebat?) via twitter dengan salah satu senior. Senior ini, menurut saya, orang yang luas wawasannya dan pandai. Pengetahuannya banyak, dan saya respek. Kalau bicara sama dia, sudah pasti saya kelihatan seperti orang berwawasan sempit yang nggak tau apa-apa. Ya memang, saya bicara kemarin itu tujuannya sama sekali bukan buat memberikan fakta supaya orang ikut pendapat saya, saya cuma mengeluarkan unek-unek kekesalan karena sepanjang saya hidup di Indonesia saya sudah dikecewakan dengan keadaan di luar sana. Saya tidak tahu pendapat saya benar atau tidak, saya hanya ingin bicara, dari kaca mata saya ya demikian.

Saya bukan orang yang anti demonstrasi kok. Menurut saya mengeluarkan aspirasi bersama-sama seperti itu memang hak warga negara yang (katanya) menganut demokrasi. Tapi tentu saja demonstrasi itu ada aturannya. Tetap sopan, tetap menghargai orang lain. Mengaku bela rakyat kecil, tapi apa mereka betul-betul tau apa yang ada di dalam pikiran rakyat kecil? Memang pernah salah satu perwakilan rakyat kecil(kalo bisa dibilang mewakili, karena rakyat kecil di Indonesia jumlahnya gak ketolongan banyaknya dan tentu saja pendapatnya beda-beda), ngomong ke mereka langsung minta diwakili dan disampaikan aspirasinya dengan cara demikian. Teman saya di twitter ada yang membenarkan demonstran menggunakan kekerasan, katanya: ya siapa suruh pemerintah nggak mendengarkan. Menurut saya mau apapun alasannya kekerasan itu ya salah. Oke, baik, kekerasan dilakukan pada pihak aparat yang juga terlalu keras menyikapi para demonstran. Tapi nggak perlu pakai merusak fasilitas umum kan? Nggak perlu ngotorin jalan kan? Nggak perlu blokade jalan kan? Memangnya pengguna jalan hanya mereka? Dengan mereka berlaku seperti itu justru saya makin nggak simpati. Yang tadinya merasa dibela malah jadi malu. Malu dong, tayangan demonstrasi ricuh itu udah sampai Eropa! Teman saya yang studi di sana nonton, malu dong dilihat warga dunia yang lain.

Karena sudah dari saya kecil saya selalu melihat demonstrasi macam begini, akhirnya saya juga tidak bisa mengatakan kalau mereka ada di pihak yang benar. Baik pemerintah maupun mereka dua-duanya salah. Dan karena tidak ada yang benar saya pilih diam, saya pilih apatis, nggak dukung dua-duanya. Lagipula saya sudah terlanjur pesimis dengan apa yang ada di negara saya. Senior yang saya ceritakan tadi bilang harusnya saya nggak pesimis. Tapi gimana caranya coba? Kalau pemerintah yang sekarang turun, siapa yang siap mengganti? Partai oposisinya saja semalam sudah walk out semua, menyerah di tengah jalan. Saya yakin semua orang yang duduk di pemerintahan itu sama aja. Sama-sama udah pegang duit banyak, sama-sama jadi lapar dan haus kekuasaan. Ya tentu saja tidak semua demikian, ada juga yang baik. Tapi yang baik ini diam aja, sebenarnya bukan salah mereka diam, tapi karena kalau mereka berulah pasti digencet, ditekan sama yang salah. Karakter ini udah ada sejak mereka muda. Kelihatan kok dari lingkungan saya sekarang di masa kuliah ini. Yang nggak mau ngasih contekan dibilang pelit, yang nggak mau diajak bolos dibilang sok rajin, yang bersikap baik dan sopan sama dosen dibilang ngejilat. Lama-lama orang baik pilih diam aja. Generasi muda yang nantinya akan menggantikan mereka yang sekarang memerintah itu aja udah rusak kaya gini. Nggak cuma itu, kalau lihat ricuhnya sidang semalam itu jujur aja nggak jauh beda sama rapat-rapat di kampus. Walaupun cenderung lebih sopan, rapat di kampus itu juga sama, janji jam berapa mulai jam berapa, ujung-ujungnya semua mau ngomong gak ada yang mau dengar.

Menurut saya, generasi berikutnya yang naik jadi pemerintah negara ini bakalan sama aja. Kita sudah jadi korban dari generasi terdahulu yang membiarkan negara ini terlalu dieksploitasi bangsa asing, terlalu disusupi bangsa asing (dan ingat, bangsanya nggak cuma AS dan kawan-kawan baratnya, tapi juga negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah!). Ya kita ini korbannya, sudah terlanjur kecemplung di kolam kapitalisme dan globalisasi jadi susah keluar. Satu-satunya jalan menurut saya, peradaban di Indonesia yang sekarang ini harus hancur dulu. Hancur total entah karena apa. Dan orang-orang yang selamat akan membangun kembali Indonesia yang baru, yang beda, kalau perlu bikin ideologi baru yang lebih sesuai dan bentuk pemerintahan yang baru supaya sesuai. Kalau memang yang lama dirasa sudah nggak cocok, nggak masalah kok diubah. Manusia aja bisa ganti identitas, bangsa juga boleh dong kalau arahnya positif  :)