3.4.11

Pekasus Jerman: Sturm und Drang (1767-1785/1790)

- Sturm und Drang yang berarti "badai dan tekanan" merupakan sebuah periode dalam kesusastraan Jerman yang diawali dengan terbitnya sebuah karya dari Herder yang berjudul Fragmente pada tahun 1767. Nama Sturm und Drang sendiri diambil dari sebuah drama karya Friedrich Maximillian Klinger untuk menggambarkan keadaan sastra pada zaman tersebut.

- Ciri khas dari zaman Sturm und Drang, di antaranya:

  • Banyak terdapat protes/kritik. Yang dikritik: kehidupan mewah keluarga bangsawan di istana, kehidupan kaum Burgertum yang hanya mengejar keuntungan (kapitalis), jurang antara kaum bangsawan (kaya) dan rakyat jelata (miskin) yang sangat lebar, aturan-aturan penulisan sastra pada zaman Aufklaerung, penggunaan rasio yang harus seimbang dengan perasaan.
  • Dalam kesusastraan tidak hanya Kopf (Verstand/rasio) yang dipentingkan tetapi juga Herz (Fuehle/perasaan).
  • Muncul istilah "genie" = jenius, untuk menyebut tokoh-tokoh hebat di masyarakat yang multitalenta. Misalnya dalam bidang sastra pada tokoh-tokoh yang dapat tetap menghasilkan karya-karya besar sekalipun tidak mengikuti aturan. Contoh: Shakespeare (penyair abad pertengahan yang sudah mampu menghasilkan karya-karya spektakuler), dan Goethe.
  • Pengarang-pengarang didominasi kaum muda, dari kalangan masyarakat (bukan bangsawan) dan umumnya memiliki ciri khas masing-masing dalam berkarya.
- Genre-genre karya sastra yang populer:

  • Drama, contoh: die Raeuber, Kabale und Liebe (keduanya karya Schiller)
  • Puisi --> banyak mengambil tema "Natur" dan "Liebe" sebagai pengaruh dari digunakannya perasaan. Contoh: puisi-puisi karya Goethe dan Herder.
  • Briefroman: roman/prosa yang ditulis dalam bentuk seperti surat menyurat antartokoh-tokohnya. Dipopulerkan oleh Goethe. Contoh: Die Leiden des Jungen Werther. 
- Drama pada masa Sturm und Drang mulai berbeda dengan drama-drama sebelumnya. Drama Jerman sebelum Sturm und Drang terpaku pada teori Aristoteles, salah satunya tentang Drei Einheiten = tiga kesatuan, yaitu: Einheit der Handlung (kesatuan alur), Einheit des Ortes (kesatuan tempat), dan Einheit der Zeit (kesatuan waktu). Schiller dalam die Raeuber telah melakukan suatu revolusi dengan mengabaikan ketiganya. Ia menggunakan banyak pergantian waktu dan tempat dalam dramanya.

- Tokoh-tokoh periode Sturm und Drang:

  • Friedrich Schiller (ketika muda): merupakan seorang putra dari tentara yang bekerja untuk bangsawan Wuerttemberg. Ia dipaksa ayahnya menjadi tentara namun karena tidak menyukai bidang politik maka ia melarikan diri ke Jena dan menjadi profesor Sejarah. Ia mulai karier menulisnya di Jena dan bersahabat dengan Goethe. Ia banyak menulis roman dan drama yang terinspirasi tokoh-tokoh nyata seperti Mary Stuart, Wilhelm Tell dan Jeanne d'Arc. Ia juga bekerja sama dengan musisi Italia dalam beberapa tulisannya yang dijadikan opera seperti Turandot. Salah satu karyanya yang terkenal dan mewakili zaman Sturm und Drang adalah die Raeuber yang bercerita tentang konflik suatu keluarga bangsawan. Dalam die Raeuber ia mengkritik kemunafikan kaum bangsawan dan gereja, jurang antara kaya dan miskin serta terlalu banyaknya penggunaan rasio tanpa memperhatikan moral.
  • Johann Wolfgang von Goethe (ketika muda): merupakan seorang anak dari keluarga kaya yang pada usia 20-an sudah banyak menghasilkan karya-karya. Ia adalah seorang genie karena kemultitalentaannya. Goethe adalah penyair, dramawan, ilmuwan, negarawan, ahli botani, ahli geologi, ahli warna, aktor, dll. Ia berkenalan dengan Herder yang menginspirasinya untuk berkarya di bidang sastra. Ia juga bersahabat dengan Schiller. Puisi pertama yang ditulisnya adalah Heidenroeslein. Sementara karyanya yang populer untuk periode Sturm und Drang adalah die Leiden des Jungen Werther yang menceritakan tentang tragedi cinta tak sampai yang dialami tokoh Werther yang berujung pada bunuh diri. Roman ini sangat populer hingga banyak pembacanya menirukan gaya berpakaian Werther namun juga kontroversi karena telah membuat tren bunuh diri di kalangan remaja pada masa itu.
  • Herder: adalah seorang filsuf yang menginspirasi Goethe. Ia menyatakan bahwa Sturm und Drang seharusnya mengembangkan Volksdichtung (sastra rakyat) karena hasil dari bangsa sendiri dianggap lebih kuat dan apabila dikembangkan maka dapat memajukan masyarakat dan bangsa.

- Periode Sturm und Drang dianggap berakhir dengan peristiwa perjalanan Goethe ke Italia yang mengubah pemikiran dan cara pandangnya.

Pekasus Jerman: Aufklaerung Literatur (1720-1785)

Kondisi sosial politik dalam periode Aufklaerung:

  • Masih menggunakan sistem politik Absolutismus
  • Kekuasaan raja yang terlalu mutlak telah membuat sekelompok masyarakat golongan menengah (Burgertum) yang terpelajar karena memiliki akses terhadap pendidikan ingin membebaskan diri mereka.
  • Muncul kultur "Salon" (Salon = ruangan tempat duduk-duduk seperti Wohnzimmer), yakni kebiasaan berkumpul untuk bertukar pikiran dan mengemukakan pendapat di ruang duduk. Para wanita pun sudah turut ambil bagian dalam kultur ini.
  • Dari pertukaran pendapat di Salon ini, maka berkembanglah berbagai kritik terhadap kondisi sosial politik dan kekuasaan raja yang akhirnya berujung pada pergerakan Aufklaerung.
  • Pada masa ini ada pula usaha mencerdaskan masyarakat dari golongan yang mendapat akses pendidikan lewat diterbitkannya buku dan majalah.
- Aufklaerung = Enlightement = Pencerahan
- Semboyan: Beranilah menggunakan akal budimu sendiri.

Perbedaan abad kegelapan (Mittelalter) dengan zaman pencerahan (Aufklaerung):
>> Mittelalter

  • Percaya takhayul dan tidak masuk akal (Aberglaube) sebagai akibat dari begitu ketat dan kuatnya kekuasaan gereja sehingga orang mencari kepercayaan dan pegangan di luar gereja. Maka dari itu pada zaman Mittelalter banyak terdapat Hexe (penyihir).
  • Feodalismus dan kekuasaan yang sewenang-wenang di berbagai bidang.
>> Aufklaerung (hal yang diharapkan berubah dari Mittelalter)

  • Digunakannya rasio dan akal budi
  • Masyarakat memiliki kebebasan (untuk berkembang dan terlibat) di berbagai bidang seperti politik dan ekonomi
  • Emansipasi wanita
- Zaman Aufklaerung merupakan periode yang memodernkan Eropa.

- Tokoh-tokoh zaman Aufklaerung:

  • Rene Descartes (Prancis), seorang filsuf yang menjadi pelopor pergerakan Aufklaerung (yang dicirikan dengan semangat penggunaan rasio). Ia menyatakan "corgito ergo sum" (Ich denke also bin ich = bahwa eksistensi manusia disebabkan karena mereka berpikir menggunakan akal budinya).
  • Voltaire, J.J.Rousseau (terkenal karena teori "contract social") dan Diderot (penyusun ensiklopedi yang pertama). Tokoh-tokoh ini muncul didorong oleh kekuasaan Louis XIV yang sewenang-wenang.
  • John Locke, Isaac Newton (Inggris)
  • Leibniz (Jerman), yang menyatakan: manusia harus memiliki keinginan-keinginan yang berasal dari akal budinya.
Jenis-jenis sastra yang berkembang pada zaman Aufklaerung:

  • Burgerliches Trauerspiel: menceritakan konflik dan tragedi antara wanita dari golongan Burgertum dan pria bangsawan. Contoh: Emilia Galotti karya G.E. Lessing.
  • Fabel, banyak ditulis oleh G.E. Lessing sebagai sarana untuk mengkritik penguasa. Contoh: Der Esel und der Wolf, der Hamster und die Ameise.
  • Lehrgedicht: puisi yang berisi tentang ajaran-ajaran.
- 3 Tema populer untuk sastra Aufklaerung:

  1. Vernunft (akal budi)
  2. Toleranz (toleransi beragama)
  3. Menschenrechte (HAM)
- Gotthold Ephraim Lessing adalah sastrawan yang sangat terkenal dan berjasa di masa Aufklaerung. Lessing mengembangkan nationaltheater dengan menulis banyak drama dalam bahasa Jerman (bukan karya terjemahan) dan merintis pembangunan gedung pertunjukan teater di Hamburg. Drama-dramanya yang terkenal di antaranya:

  • Nathan der Weise: kisahnya berupa Ringparabel (cerita berbingkai) yang pada intinya ingin mengangkat persoalan toleransi antarumat beragama. Kisah ini masih banyak dimainkan sampai sekarang karena dianggap relevan.
  • Minna von Barnhelm: merupakan salah satu jenis Burgerliches Lustspiel (komedi tentang golongan Burgertum dan bangsawan). Terinspirasi dari pengarang "der Fruehling" dan salah satu tokohnya yaitu Tellheim terinspirasi dari seorang bangsawan sungguhan yaitu von Kleist.

2.4.11

Pekasus Jerman: Barockliteratur

  • Zaman Barock dikenal sebagai awal mula perkembangan kesusastraan Jerman modern. Pada zaman sebelumnya (Mittelalter, Renaissance/Humanismus) kesusastraan Jerman masih dipengaruhi oleh sastra Italia dan menggunakan bahasa Latin, Althochdeutsch atau Mittelhochdeutsch. 
  • Barock berasal dari kata "Barocco" yang berarti mutiara yang tidak beraturan.
  • Istilah Barock berkembang khususnya dalam seni lukis, rupa dan arsitektur yang ditandai dengan bentuk-bentuk yang berlebihan, mewah, banyak ukiran, berwarna-warni, dll. Kemudian juga dipakai untuk sastra sesuai keadaan masyarakat pada zaman tersebut.
  • Dalam periode ini terjadi tiga peristiwa penting dalam sejarah yaitu: Reformation (1517, diawali dengan 95 Thesis Luther), Gegenreformation (usaha gereja Katolik untuk memurnikan dan mereformasi ajaran dan institusinya yang ditandai dengan bermunculannya ordo-ordo), dan Perang 30 Tahun (perang antaragama Protestan dan Katolik yang berlangsung dari 1618-1648).
  • Perang 30 tahun telah mengakibatkan kelaparan, wabah penyakit dan jatuhnya moral serta kepercayaan diri masyarakat.
  • Peristiwa-peristiwa sejarah tersebut menjadi motif dan latar belakang sastra-sastra zaman Barock.

Situasi masyarakat pada zaman Barock:
  • Sistem politik Absolutismus = raja berkuasa mutlak
  • Pusat perkembangan seni dan sastra ada di lingkungan istana (Hof), seniman-seniman disewa dan tinggal di istana serta berkarya sesuai keinginan raja.
  • Dalam berpenampilan orang banyak menggunakan wig dan pakaian mewah untuk menutupi sosok aslinya. Ada anggapan bahwa topeng lebih penting dari kepribadian sesungguhnya.
  • Kemewahan di berbagai bidang untuk menutupi kesedihan dan kehancuran akibat perang 30 tahun.

Ciri sastra pada zaman Barock:
  • Bermotif/latar belakang peristiwa sejarah, yakni: reformation, gegenreformation, 30 Jaehrigekrieg.
  • Banyak bermunculan tulisan tentang teori sastra yang berusaha menggali kesusastraan Jerman (bukan terjemahan), cth: Buch der Deutschen Poeterey karya Martin Opitz.
  • Bahasa Jerman mulai digunakan sebagai bahasa sastra menggantikan Latin.
  • Ada usaha menggali Nationalliteratur/kesusastraan Jerman
  • Masih dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran zaman Mittelalter dan Renaissance (Humanismus)
Jenis-jenis sastra pada zaman Barock:

1. Emblematik (simbol)
  • Bentuk sastra yang sangat populer di zaman Barock
  • Disebut juga Sinnbild = gambar yang bermakna
  • Terdiri dari 3 bagian: Judul/Inscriptio (pepatah yang ditulis dalam bahasa Latin), Gambar/Pictura (gambar yang menjadi elemen terpentingnya), Epigramm/Subscriptio (syair sepanjang 5-6 baris untuk menjelaskan gambar dan pepatah)
  • Contoh: Ex Maxima Minimum
2. Puisi, jenis-jenis yang populer:
  • Figurengedicht: puisi yang mementingkan kesesuaian bentuk dan isi
  • Liebeslyrik: puisi-puisi cinta, biasanya berbentuk Ode/Lied/Sonnett. Contoh Soneta yang populer:  Traenen des Vaterland karya Andreas Gryphius, tentang penderitaan perang 30 tahun.
  • Kirchenlied: Lagu-lagu gereja (dari gereja Protestan)
3. Drama
  •  Belum memiliki nationaltheater seperti Shakespeare di Inggris dan Moliere di Perancis. Masih menggunakan drama-drama terjemahan.
  • Masih menganut teori Aristoteles bahwa drama tragedi menceritakan kaum bangsawan dan drama komedi tentang rakyat jelata.
  • Wanita sudah boleh ikut main drama. Dahulu pemain tokoh wanita pun selalu pria. Ketika itu wanita masih tidak boleh keluar rumah. Maka itu berkembang Hofischetheater agar wanita tidak keluar dari lingkungan istana (karena drama dipentaskan di lapangan terbuka).
  • Jenis-jenis drama yang berkembang: 
             - Jesuitendrama: drama Katolik, berasal dari ordo Jesuit dan terkait dengan gegenreformation.
             - Martyrer- und Heiligendrama: drama yang bercerita tentang orang kudus, santo/santa
             - Schuldrama: drama yang dipentaskan di sekolah/gymnasium
             - Oper: drama yang dialognya dinyanyikan, perpaduan drama dan musik, pengaruh dari Italia
             - Komedi: drama yang berkembang dan disukai di kalangan rakyat jelata karena menceritakan kehidupan mereka.

4. Prosa, ada 3 jenis yang berkembang:
  • Hoefische-historische roman
          - penulis dari kalangan bangsawan dan menceritakan kehidupan bangsawan di istana serta absolutisme
          - ceritanya rumit dan membingungkan
          - mencampur kehidupan sehari-hari dan kejadian-kejadian sejarah
          - sangat panjang dan satu judul dapat terdiri dari beberapa jilid
          - dibaca oleh kaum bangsawan
  • Schaeferroman: bercerita tentang kehidupan percintaan tokoh-tokohnya
  • Schemelroman dan Pikaroroman: bercerita tentang kehidupan tokoh dari rakyat jelata yang dilihat dari sudut pandang rakyat jelata juga. Contoh yang paling terkenal: Das Abenteuerliche Simplicissimus karya Hans Jakob Christoffel von Grimmelshausen.

28.3.11

Sebuah perumpamaan

Sang elang betina jatuh cinta pada sebuah arca batu. Namun arca batu itu hanya melirik pada wanita pemikir di sudut taman. Selagi menggalau hatinya, sang elang betina didatangi sesosok garuda yang mengajaknya terbang bersama melupakan arca batu itu. Sang elang betina jadi ragu, manakah yang akan ia pilih? Arca batu yang tak peduli padanya, atau garuda yang tak dicintainya? (bersambung)




for my experience...

25.3.11

Sigurd dan Brynhild

Langit bersetubuh dengan bumi jadilah dirinya yang lebih indah dari permata dan lebih perkasa dari batu mana pun

Dibawanya sosok lain lembut gemulai berkendara dengan sayap-sayap kuda menuju aula di angkasa tempat pahlawan berdiam menanti hari senja

Ketibaan sang ibu yang melahirkan cintanya di atas awan-awan surga adalah kesalahan 

Maka dikecup dua kelopak mata yang mohon ampun oleh sang Mahadewa hingga ia lelap tertidur dalam buaian gunung batu di tengah dinding api membara

Tersimpan, terlelap, terdiam, tak hidup
Brynhild and Sigurd

Siapakah gerangan ia, ksatria yang muncul di atas bumi menempa besi dan menyatukan pedang berkilat warisan ayah yang terbelah dua oleh sang leluhur?

Dengan sekali tebas matilah naga penunggu gua dan direbutnya harta karun paling diinginkan di muka bumi anugerah Sungai Rhein

Nyanyian burung yang didengarnya sembari mandi darah naga membuka berlembar masa depan yang tertulis untuknya

Berkendara di atas keberanian menuju gunung batu buaian masa depannya yang terpagari dinding-dinding api bertemu ia dengan sang pengembara

Sang pengembara, leluhurnya, ayah dari masa depannya dan sang Mahadewa

"Capailah puncak gunung batu itu tempat harta karun yang lebih indah dari emas Sungai Rhein terlelap dalam kesendirian menanti seorang penyelamat!"

Dipacunya kaki-kaki kuda menembus dinding api dan tiba di puncak gunung sang gadis terlelap di atas bilah batu beralaskan rambut emasnya

Ia yang lebih indah dari permata dan lebih perkasa dari batu mana pun dikulum bibirnya oleh sang ksatria pembunuh naga penunggang kuda keberanian penguasa harta karun Sungai Rhein hingga terbangun dalam rasa cinta

Dan bercermin aku di atas kaca kehidupan sadar akan siapa diri dalam legenda dari utara tertulis dalam baris kata-kata itu

Akulah Brynhild sang Valkyrie ditidurkan dalam buaian kesepian oleh sang Mahadewa dalam perjalanan yang terpagari api-api petuah

Dan siapakah gerangan ksatria Sigurd yang pemberani bertekad menembus dinding api pemagar hidupku?

By LV~Eisblume
24.03.11
inspired by the second part of Volsunga Saga, a Norse legend

21.3.11

die Tage und die Geschichte (asal usul nama-nama hari dalam bahasa Jerman)

Akhirnya setelah penelusuran beberapa saat ketemu juga nih soal asal-usul nama-nama hari dalam bahasa Jerman. Awalnya saya tertarik gara-gara baca Mitologi Norse yang memang ada hubungannya dengan nama-nama hari ini. Lalu ketika disebutkan di dalam website tentang Mitologi Norse (http://www.timelessmyth.com/) yang saya baca tentang hari-hari ini, saya jadi ingin menelusuri lebih lanjut dan akhirnya ketemu juga jawabannya :D


Nama-nama hari di Jerman adalah sebagai berikut: Sonntag, Montag, Dienstag, Mittwoch, Donnerstag, Freitag, dan Samstag. Walau begitu beberapa nama hari dalam bahasa Jerman ada yang mengalami perubahan dari nama aslinya. Pada awalnya, nama-nama hari di Jerman memperoleh namanya dari nama dewa-dewi yang dipuja bangsa-bangsa Germania. Sistem penamaan ini mungkin terinspirasi dari bangsa Romawi yang juga menamakan hari-hari menggunakan nama dewa-dewi pujaan mereka. Hal ini khususnya tampak dari nama-nama dewa-dewi yang diambil oleh bangsa Germania yang merupakan padanan dari dewa-dewi Romawi yang dijadikan nama-nama hari. Namun ada sedikit perbedaan karena dalam bahasa Latin, nama dewa-dewi mereka sama dengan nama planet sehingga dalam bahasa Latin, nama-nama hari juga dapat dikatakan berasal dari nama-nama planet termasuk matahari dan bulan. Sementara dalam bahasa Jerman, nama dewa-dewi mereka tidak sama dengan nama planet-planet.


Berikut ini adalah nama-nama hari yang asli di Jerman (sebelum mengalami perubahan) beserta artinya:


1. Sonntag = Minggu
Nama Sonntag berasal dari nama dewi matahari bangsa Germania, yaitu "Sunna". Dalam Mitologi Norse, Sunna disebut juga Sol. Dalam mitologi Jerman, Sunna atau Sol juga disebut Ostara. Matahari yang identik dengan datangnya musim semi, disambut dengan suatu festival di Eisenach yang menghadirkan sosok Frau Sunna atau jelmaan dewi matahari. Sementara itu, dari nama Ostara-lah bahasa Jerman untuk Paskah berasal. Paskah dalam bahasa Jerman disebut Ostern, karena perayaan ini identik dengan musim semi dan kebangkitan/kehidupan. Matahari merupakan salah satu simbol dari kebangkitan/kehidupan ini.


2. Montag = Senin
Nama Montag berasal dari dewa bulan Moon, atau dalam mitologi Jerman dikenal dengan nama Mani. Mani adalah saudara laki-laki dari Sol atau Sunna. 


3. Dienstag = Selasa
Dienstag berarti hari untuk berkumpul (Assembly Day). Saya belum menemukan mengapa ia disebut hari untuk berkumpul, mungkin ada suatu kebiasaan dalam sejarah yang terkait dengan hari ini. Namun, Dienstag bukanlah nama asli untuk hari Selasa. Pada awalnya nama untuk hari ini adalah Ziostag. Ziostag adalah bentukan dari Tiwazdaeg, yang berasal dari nama dewa perang dan keadilan bangsa Germania yaitu Tiwaz atau yang dalam mitologi Norse dikenal sebagai Tyr. Pada bangsa Romawi, padanan untuk dewa ini adalah Mars dan hari Selasa dalam bahasa Latin adalah Dies Martis.


4. Mittwoch = Rabu
Mittwoch berasal dari dua kata yaitu Mitte (tengah) dan Woche (minggu) yang berarti tengah minggu. Mittwoch merupakan nama pengganti yang dianggap lebih mudah oleh bangsa Jerman untuk menggantikan nama asli hari ini yaitu Wodenstag. Pergantian ini terjadi pada abad ke 10 ketika hari Minggu ditetapkan dengan pasti sebagai awal periode 7 hari (minggu). Wodenstag berasal dari nama dewa tertinggi bangsa Germania yaitu Wodan atau yang dalam mitologi Norse dikenal dengan nama Odin. 


5. Donnerstag = Kamis
Donnerstag berasal dari nama dewa petir bangsa Germania yaitu Donar, atau dalam mitologi dikenal dengan nama Thor. Donar dikisahkan memiliki sebuah palu raksasa yang jika dipukulkan dapat menimbulkan kilat dan petir yang menggelegar. Donar dipadankan dengan dewa Jupiter dalam kepercayaan Romawi, sekalipun ia tidak sama dengan Jupiter yang merupakan dewa tertinggi bangsa Romawi. Donar bukanlah dewa tertinggi bangsa Germania.


6. Freitag = Jumat
Dalam bahasa Jerman kuno (Althochdeutsch) disebut Frigedag, berasal dari nama dewi Frigga, istri dari dewa Wodan. Tetapi ada pula yang beranggapan bahwa nama Freitag berasal dari nama dewi cinta, kecantikan dan kesuburan bangsa Germania dan Skandinavia yaitu Freyja. Seringkali dalam mitologi Jerman, Frigga dan Freyja dianggap sebagai sosok yang sama. Dalam legenda Jerman, keduanya disimbolkan dalam sosok Frau Holle atau Holda, roh yang dianggap memberkahi manusia dengan kesuburan dan kecantikan. Padanan dewi ini dalam kepercayaan Romawi adalah Venus.


7. Samstag = Sabtu
Samstag berasal dari kata bahasa Jerman kuno (Althochdeutsch) yaitu Sambaz tac. Dikatakan bahwa nama ini berasal dari bahasa Perancis, Samedi yang berarti hari Sabat. Hari Sabat dalam kebudayaan Yahudi merupakan hari terakhir dalam satu minggu di mana orang tidak boleh mengerjakan apa-apa selain berdoa kepada Tuhan. Namun ada pula yang mengatakan nama Sambaz tac berasal dari bahasa Latin, Dies Saturni, yaitu hari Saturnus.


Demikianlah sedikit info tentang asal-usul nama hari dalam bahasa Jerman. Maaf jika ada kekurangan dalam pembahasannya ^^ Maklum, pengetahuan linguistik penulis masih terbatas nih heheehehee...:)

19.3.11

Seandainya Saja Bisa... (curhatan seorang mahasiswi Sastra Jerman)

Hari ini saya mau cerita atau tepatnya numpang curcol. Setelah satu semester saya belajar di jurusan Sastra Jerman FIB UI, saya merasa bahwa apa yang saya dapat di sini sangat kurang dan belum maksimal. Saya merasa materi yang diberikan masih kurang padat dan belum mampu memenuhi keingintahuan saya yang besar mengenai Jerman. Saya tahu bahwa cara belajar mahasiswa memang berbeda dari siswa. Kita tidak lagi disuapi melainkan dianjurkan untuk mencari sendiri materi yang memang tidak diperdalam di kelas. Namun alangkah baiknya apabila di kelas pun diadakan sesi khusus untuk membahas materi-materi ini.

Yang sangat saya sesalkan, sesungguhnya kesempatan itu ada namun tampaknya tidak dimanfaatkan atau dimanfaatkan untuk hal lain yang bagi saya kurang penting. Di FIB para mahasiswa diwajibkan untuk mengambil mata kuliah wajib universitas maupun fakultas. Mata kuliah wajib universitas yang sudah saya dapatkan di antaranya MPKT A (ini semacam PKn, budi pekerti dan etika disatukan), MPK seni, MPK agama dan Bahasa Inggris. Setelah saya jalani, saya merasa keempat-empatnya tidak terlalu penting. Mengapa? MPKT A misalnya, saya merasa tujuan dari pembelajaran MPKT itu yakni membuat mahasiswa mampu bertindak dan berpikir dengan baik dan benar (sesuai ajaran etika, moral dan berpikir tepat dan logis) tidak tercapai. Pada akhirnya walaupun saya diceramahi di dalam kelas untuk beretika sesuai Pancasila dan lain-lain, saya tetap pada pendirian saya bahwa manusia bebas bertindak apa saja sejauh tidak merugikan orang lain. Toh dalam diskusi kelas pun saya selalu berseberangan dengan yang lain. Isi buku MPKT menurut saya terlalu berlebihan dan tidak efektif dalam penyampaian. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan tetapi tidak dapat dipadatkan. Yang lebih parah lagi, isi buku itu kadang-kadang bertentangan dengan pemikiran saya. Apa iya lalu saya harus dipaksa mengikutinya?
Kemudian dengan MPK seni, saya memilih kelas musik dan vokal. Ekspektasi saya adalah saya akan mendapat pengetahuan tentang musik dan sedikit mengenai praktiknya. Ternyata, karena sks nya hanya 1 pada akhirnya MPK seni tidak lebih dari teori-teori yang disampaikan dengan terburu-buru dan praktik yang kurang sekali. Nah, lain lagi masalahnya dengan MPK Agama dan MPK Bahasa Inggris. Kedua hal ini sudah saya dapat dan diulang-ulang dari SD. Masa harus belajar lagi? Agama itu urusan pribadi masing-masing orang dan lebih merupakan tanggung jawab bagi keluarga dalam pengajarannya. Bahasa Inggris, di kelas ini saya menemukan hal unik. Kemarin ketika saya menerima kembali hasil karangan saya, saya lihat bahwa di situ sama sekali tidak ada koreksi dari dosen. Saya tidak percaya karena selama satu semester belajar bahasa Jerman saya yakin bahwa bahasa Inggris saya amburadul. Ternyata benar, setelah saya ketik ulang di Ms Word dan saya cek tata bahasanya, ada beberapa bagian yang salah. Bagaimana bisa dosen tidak melihat dan tidak mengoreksi kesalahan sebanyak itu? -.-"

Saya ingin jika seandainya bisa, mata kuliah wajib universitas dihapuskan saja dan diganti dengan mata kuliah wajib jurusan sesuai yang telah kita pilih. Hal itu akan lebih baik. Para mahasiswa akan dapat lebih mendalami dan maksimal dalam menyerap ilmu di jurusannya. Atau setidaknya jumlah sksnya yang diperbanyak. Semester ini untuk Sastra Jerman hanya wajib mengambil 15 sks, itu pun 6 sks untuk mata kuliah wajib universitas. Berarti yang wajib jurusan hanya 11. Sangat kurang menurut saya. Mengapa? Karena jelas-jelas ada beberapa mata kuliah yang kekurangan jam. Buktinya mudah saja, dosen yang mengajar Perkembangan Kesusastraan (Pekasus) di kelas saya mengatakan bahwa ia tidak akan membahas sastra abad pertengahan karena waktunya kurang. Bayangkan! dari sekian panjang periode kesusastraan (abad 1-21) kita melompati abad pertengahan yang nota bene berlangsung dari abad 8-16. Delapan abad dilewati begitu saja padahal jelas sumbangan dari abad ini khususnya untuk zaman Klasik dan Romantik cukup besar! *geleng-geleng kepala* Seharusnya jam untuk mata kuliah ini bisa ditambah agar kita bisa membahas juga bagian yang dibuang tersebut.
Kemudian kelas PKJ, saya merasa bahwa materi sangat banyak namun tidak semua dapat dibahas di kelas. Banyak bagian-bagian penting yang dari tahun ke tahun semakin dikurangi (saya lihat ini dari catatan mahasiswa angkatan senior saya yang begitu lengkap sementara pada angkatan saya hal-hal tersebut tidak lagi disinggung). Bahkan di kelas B (saya di kelas A) banyak pertanyaan dalam kelas yang akhirnya tidak pernah terjawab. Jelas bahwa mata kuliah ini perlu ditambah sksnya sehingga mahasiswa dapat menyerap pengetahuan dengan maksimal.

Usul saya lagi, alangkah baiknya jika di jurusan Sastra Jerman ada mata kuliah wajib Mitologi Norse/Teutonic. Sebagaimana Sastra Perancis yang kebudayaannya berasal dari masa klasik (Romawi dan Yunani) mempelajari juga Mitologi Yunani, maka Sastra Jerman yang kebudayaannya berdasar pada mitologi Skandinavia kuno tentu perlu juga mempelajarinya. Sedikit banyak Mitologi Norse/Teutonic mempengaruhi atau menginspirasi banyak karya-karya sastra Jerman sampai sekarang. Sayang sekali jika tidak dipelajari. Gambaran tentang pengaruh ini mungkin dapat saya ceritakan sedikit. Dalam mitologi Norse/Teutonic ada suatu kisah yang disebut Edda atau Volsunga Saga. Kisah inilah yang kemudian disebut Nibelungenlied dalam sastra Jerman abad pertengahan. Nibelungenlied kemudian diubah menjadi opera tiga seri (Der Ring des Nibelung, Valkyrie, die Gotterdaemmerung) oleh Richard Wagner. Wagner ini merupakan komposer dan musisi ternama yang menjadi favorit dari Ludwig II von Bayern (yang membangun Neuschwanstein), Friedrich Nietzsche (filsuf besar Jerman) dan Adolf Hitler (diktator Jerman pada masa PD II). Nah, sedikit banyak pasti karya-karya Wagner berpengaruh pada mereka bertiga yang punya pengaruh dalam sejarah dan budaya Jerman.

Saya melihat salah satu universitas di Jerman yang memiliki jurusan Sastra Jerman (di sana disebut Germanistik) terbaik yaitu Universitas Freiburg di Baden-Wuerttemberg menuliskan hal-hal yang dipelajari dalam Germanistik itu. Termasuk di dalamnya perkembangan kesusastraan Jerman dari masa abad pertengahan sampai modern, telaah teks sastra termasuk yang ditulis dalam bahasa Jerman kuno (Althochdeutsch, Mittelhochdeutsch, Neuhochdeutsch), salah satu bahasa asing dari rumpun Skandinavia (Norwegia, Swedia, Denmark atau Eslandia), dan tentu saja Mitologi Norse/Teutonic. Seandainya jurusan Sastra Jerman tempat saya belajar juga melakukannya. Sayang sekali tidak. Atau mungkin memang sengaja tidak supaya saya nanti belajar lagi dan memperdalam hal-hal yang kurang ini di Universitas Freiburg? (AMIIIIINN...)

18.3.11

Linden: Pohon Sejuta Cerita

Judulnya lebay... sebenarnya nggak seheboh itu sih tapi di artikel kali ini saya mau bahas tentang pohon Linden. Kenapa saya tertarik membahasnya? Lagi-lagi bukan karena hobi berkebun atau suka dunia botani, saya hanya tertarik dengan cerita-cerita di balik pohon ini, sama seperti cornflower di awal blog ini.


Linden atau diterjemahkan dengan nama Tilia dalam bahasa Indonesia adalah sebuah pohon yang berasal dari wilayah Eropa tengah dan timur. Nama latinnya adalah Tilia platyphyllos. Pohon Linden merupakan salah satu jenis pohon yang sering tumbuh di hutan musim dan hutan homogen di wilayah pegunungan bagian tengah (tidak terlalu tinggi). Tinggi pohon ini dapat mencapai 40 meter dan diameter batangnya sekitar 1,8 meter. Warna daunnya hijau tua dan berbentuk hati. Lebar daun sekitar 6-15 cm. Pohon Linden berbunga pada bulan Juni dan bunganya berwarna putih kehijauan. Pohon ini dapat tumbuh sampai berumur ratusan tahun.

Unter der Linden di Berlin

Pohon Linden merupakan salah satu pohon yang multifungsi. Pada umumnya ia ditanam sebagai pembatas jalan atau penghias taman seperti yang terdapat pada salah satu jalan utama di Berlin yang bernama Unter der Linden. Bunganya menghasilkan banyak madu yang manis untuk makanan lebah. Kayunya juga sangat berguna untuk kayu bakar dan merupakan salah satu pohon yang baik untuk ditebang karena ia dapat tumbuh dengan cepat. Pucuk-pucuk mudanya yang lembut juga seringkali dimasak sebagai salad. Konon katanya pohon ini juga dapat menyembuhkan penyakit epilepsi dan bunganya sering diseduh dalam teh untuk minuman relaksasi. Pada abad pertengahan, kayu pohon Linden digunakan untuk seni ukir dan pembuatan patung.

Dalam bidang budaya, pohon Linden dijadikan sebagai penanda pusat kota atau desa. Tradisi ini berawal dari zaman dahulu kala dan sekarang pohon-pohon yang berusia ratusan tahun ini dapat ditemukan di beberapa pusat kota-kota tua di Jerman. Di bawah pohon inilah para warga kota dan desa berkumpul dan mengadakan pesta. Mereka menari di bawah pohon ini sehingga ada sebuah jenis pohon Linden di Jerman yang dikenal dengan nama Tanzlinden (Tanz = Tarian). Seringkali setelah berakhirnya suatu perang atau wabah penyakit, penduduk kota atau desa menanam pohon Linden yang dianggap sebagai simbol perdamaian. Salah satunya adalah ketika Perjanjian Westphalia yang mengakhiri perang 30 tahun di Jerman ditandatangani. Selain dua hal di atas, pohon Linden digunakan untuk tempat pertemuan para penduduk dan tempat melangsungkan upacara pernikahan.

daun Linden berbentuk hati

Dalam mitologi Teutonic atau Norse, pohon Linden dianggap (atau didedikasikan) sebagai dewi Freyja (atau Frau Holle), dewi cinta, kecantikan dan kesuburan. Mungkin karena daunnya yang berbentuk hati? Atau karena kecenderungan bahwa pada abad pertengahan, pohon ini sering digunakan para pasangan untuk duduk di bawahnya sembari memadu kasih. Karena dedikasi ini pula (mungkin) masyarakat menganggap pohon ini berjenis kelamin perempuan. Maka dalam bahasa Jerman disebut die Linden. Sementara itu pohon oak yang sering ditemukan tumbuh dekat pohon Linden didedikasikan untuk Thor, dewa petir.
Pohon Linden yang sangat besar dan tua

Mitos ini lain lagi dalam mitologi Yunani. Dikisahkan bahwa Zeus dan Hermes yang menyamar untuk turun ke dunia manusia dan melihat apa yang dilakukan manusia mencari tempat tinggal. Tidak ada seorang pun yang bersedia menerima mereka kecuali pasangan suami istri Philemon dan Baucis. Pasangan ini kemudian diberi hadiah sesuai permintaan mereka. Karena mereka meminta untuk tidak melihat pasangannya mati lebih dulu maka ketika keduanya mati, Philemon dijadikan pohon oak dan Baucis sebagai pohon Linden. Karena itu sampai sekarang kedua pohon ini sering ditemukan tumbuh berdekatan. Karena cerita ini juga, pohon Linden menjadi simbol cinta, kebaikan hati, persahabatan dan keramahan.

Dalam mitologi Celtic ada kisah lain lagi. Pohon Linden dianggap dapat memberikan kebijaksanaan dan keadilan maka suatu pengadilan terbuka di masa abad pertengahan seringkali dilakukan di bawah pohon ini. Kepercayaan ini juga terdapat di Jerman maka pada abad pertengahan pun pengadilan desa di Jerman dilakukan di bawah pohon Linden.

Pohon Linden di musim dingin

Pohon Linden sangat populer dalam seni sastra khususnya kesusastraan Jerman. Pohon Linden banyak disebut dalam puisi maupun prosa. Minnelied (syair/lirik cinta yang populer di Jerman pada abad pertengahan) karangan penyair ternama Walther von der Vogelweide berjudul Under der Linden. Syair ini mengisahkan tentang seorang gadis desa yang menceritakan pengalamannya bercinta dengan seorang ksatria di bawah pohon Linden.

Under der linden an der heide
Da unser zweier bette was
Da mugt ir vinden schone beide
Gebrochen bluomen unde gras
Vor dem walder in einem tal
Tandaradei!
Schone sanc diu nahtegall

Kemudian Bettina Brentano, saudara perempuan dari Clemens Brentano pun menulis pada saudara laki-lakinya sebagai berikut:

Die Linden blühen, Clemente, und der Abendwind schüttelt sich in ihren Zweigen. Wer bin ich, daß ihr mir all euren Duft zuweht, ihr Linden? Ach, sagen die Linden, Du gehst so einsam zwischen unseren Stämmen herum und umfaßt unsre Stämme, als wenn wir Menschen wären, da sprechen wir dich an mit unserm Duft.
Sebuah puisi karangan Wilhelm Mueller yang juga dibuat musikalisasi oleh Franz Schubert yang berjudul Am Brunnen vor der Tore juga menyebutkan pohon ini.
„Am Brunnen vor dem Tore, da steht ein Lindenbaum: ich träumt in seinem Schatten so manchen süßen Traum; ich schnitt in seine Rinde so manches liebe Wort; es zog in Freud und Leide zu ihm mich immer fort.“
Bahkan sastrawan nomor satu Jerman, Johann Wolfgang von Goethe pun menuliskan dalam salah satu briefromannya, Die Leiden des Jungen Werthers bahwa sang tokoh utama cerita, Werther sangat menyukai pohon Linden dan meminta ketika meninggal dikuburkan di bawah pohon ini.

Menarik bukan??


14.3.11

For the Land of the Sunrise

May the blossoms bloom
on the land of the sunrise
to calm mother earth


by LV~Eisblume
14.03.11
written in English haiku style

10.3.11

Lohengrin

Dari balik kabut sosok putih itu
Sayap yang terbentang membawa harap
Doa sang gadis telah terjawab
Di atas putih itulah sang pahlawan

"Mein Held, mein Retter, nimm mich hin!"

Menang adalah persembahan
Cinta adalah hadiah
Janji adalah syarat
Dan mereka bersatu

"Elsa, mein Weib! Du süße, reine Braut!"

Ingin tahu membawa duka
Kar'na jika kau tanya nama
Penyelamat itu pergi
Dan sang wanita kembali sendiri

"Jetzt muß ich, ach! von dir geschieden sein.
Leb wohl, Leb wohl! Mein süßes Weib!"

By LV~Eisblume
07.03.11