17.5.12

The North



Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish

I want to dance under the midnight sun
Wrapped tightly with the shawls of northern lights
To swim in the water flowing to the sea
In the northern fjords, my dreams, my wishes

Why the northern ways always fascinate me?
And the northern stars feel like a guidance to my dream
The north sky seems to hold freedom
And the northern land as my home, I wish

I want to listen to the north songs
Feel the rain and dance with the thunder
To close my eyes in the lullaby
of the northern myths and ancient tales


by LV~Eisblume
17.05.12

10.5.12

Kambing, Domba dan Serigala


Sama seperti hampir seluruh penduduk desa ini, aku seorang penggembala. Aku memang masih gadis muda, namun aku terlatih sedari kecil. Orang tuaku mengelola sebuah peternakan kecil di kaki gunung yang subur ini. Di peternakanku ada dua jenis hewan ternak: domba dan kambing. Domba dan kambing tak pernah akur. Entahlah aku tak tahu mengapa, padahal mereka masih satu jenis. Baunya pun sama, makanan tidak pernah kubedakan. Hanya saja induk domba dan induk kambing memang seperti tidak akur. Seolah-olah musuh bebuyutan sejak zaman leluhur mereka.
                Suatu hari seekor kambing muda gagahku menghampiriku di tengah kegiatan makan rumputnya.
                “Nona, aku mau mengaku,” katanya.
                Aku terkejut karena ia jarang sekali berbicara sebelumnya. “Ada apa?” tanyaku sembari memainkan tongkat gembala di tanganku.
                “Aku... aku... sebenarnya aku.. dengan domba itu...,” ia menunjuk domba kecil betina kesayanganku.
                “Kenapa dengan dia?” tanyaku lagi.
                “Aku... aku jatuh cinta padanya,” kata si kambing.
                “Apaaa?!” aku berdiri terkejut. “Tidak boleh. Tidak bisa... kamu dan dia berbeda. Kalian tidak boleh bersama. Apa kata induk kalian nanti?” aku mulai sibuk berceramah tentang tidak baiknya persatuan kambing dan domba. “Kalian nggak bisa berkembang biak,” kataku lagi.
                Rupanya si kambing ngotot dan bersikeras. Ia justru berbalik menceramahi aku tentang keindahannya menciptakan spesies baru. Aku jadi bingung dibuatnya, karena orang tuaku tidak pernah mengawinkan kambing dengan domba sebelumnya. Lagipula, jika memang nanti akan menghasilkan anak, mau digolongkan jadi apa anak itu. Kambing dan domba saja tidak bisa akur, bagaimana jika ada spesies lain?
                “Nona, pokoknya aku akan mendekati domba itu. Tak peduli apa yang kau bilang,” katanya kembali menunjukkan keseriusannya.
                “Terserah, tapi kalau kamu dibantai oleh induknya aku tak peduli,” kataku, kemudian berlalu pergi untuk menghalau domba ke tempat yang lebih banyak rumput.
***
                Siapa sangka pada hari selanjutnya ganti si domba betina kesayanganku yang menghampiriku.
                “Nona, apa kamu mau dengar?” tanyanya dengan suara lirih dan muka bersemu merah.
                “Ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba semua ternak curhat padaku?” pikirku.
                “Kemarin... kambing gagah itu... baru saja mengembik untukku. Aduhh.... suaranya maniss sekaliii...,” katanya lagi, ia tertawa cekikikan sendiri. Lalu ia mendekati telingaku dan membisikkan sesuatu.
                Aku langsung melotot dibuatnya. “Jadi sekarang kalian....?”
                “Iya, jangan bilang siapa-siapa yaaa...,” katanya masih dalam bisikan. “Aku nggak mau induk kami tahu.”
                “Uh, baiklah, kalian merumput saja jauh-jauh berdua,” saranku.
                “Hmm... ide yang bagus...,” kata si domba berlalu pergi.
***
                Maka pada hari-hari selanjutnya kutemukan domba dan kambing itu selalu merumput berdua. Jauh dari kawanannya sehingga induk-induk mereka tidak tahu. Kupikir hanya manusia saja yang melakukan semacam itu. Sebenarnya aku pun sendiri bertanya-tanya, mengapa domba dan kambing tak boleh kawin? Mereka toh seperti spesies yang bertetangga. Hanya saja dalam perjalanan evolusinya terjadi sesuatu sehingga mereka jadi berbeda. Huh, aku jadi teringat hubunganku yang sudah berakhir dengan anak saudagar kain itu. Semua gara-gara ayahku menganggapnya tidak sama denganku. Katanya kita dari kelompok yang berbeda, dia orang tersesat yang suka membolak-balik cerita tentang bangsa kita.
                Aku duduk mengamati ternak-ternakku dari atas batu yang cukup tinggi. Seekor anjing gembala Jerman yang setia menemaniku senantiasa. Aku duduk sampai bosan mengamati kambing dan dombaku, lalu aku beralih mengawasi pasangan baru aneh yang sedang merumput agak jauh menuju hutan. Beberapa langkah di belakang keduanya terhampar hutan lebat dengan pohon-pohon ek besar mengelilinginya. Aku tak pernah ke sana karena memang tak diizinkan orang tuaku. Konon katanya hutan itu berbahaya, lebih berbahaya daripada apapun. Aku harus ekstra hati-hati mengawasi ternakku yang berada dekat dengan hutan itu.
                Hari beranjak sore dan aku merasa haus. Sebelum menggiring ternak kembali ke kandang, kuputuskan meninggalkan tempat itu dan mencari air di peternakan untuk kuminum. Aku berbisik pada anjing setiaku untuk mengawasi kambing dan domba selagi aku pergi. Kemudian aku melangkah santai menuju peternakan. Aduh, rupanya aku kebelet pipis juga. Butuh waktu agak lama untuk menggunakan kamar mandi karena airnya habis. Aku harus menimba dulu di sumur.
                Aku tengah berjalan santai kembali menuju batu tadi ketika kudengar lolongan panjang mengerikan dari kejauhan.  Anjingku menggonggong tiada henti dengan mata garang. Tatapannya menuju hutan, seolah telah terjadi sesuatu di sana.
                “Ada apa, Hundie?!” aku bertanya-tanya panik. Kulayangkan pandangku pada hutan lebat nan mengerikan yang ada di seberang. Pasangan baru kambing-domba itu sudah tidak ada. Aku mencari mereka berkeliling, berharap mereka ada di antara hewan ternak yang lain.
                “Oh, tolonglah, di mana kalian?!” aku mulai panik sendiri. Aku berputar-putar dan berkeliling dengan dibantu Hundie. Rasa sedikit lega muncul ketika kulihat si kambing sedang merumput bersama saudara-saudaranya.
                Tapi, di mana domba betina kecil itu???
* * *
                “Tidak, sesuatu pasti terjadi padanya. Oh, tidak, aku akan dimarahi ayah dan ibu...,” pikirku panik. Hundie menghampiriku seolah ingin memberi petunjuk dengan gonggongannya ke arah hutan.
                Hutan itu. Ya, hutan itu, pasti domba betina kecilku ada di sana. Aku berlari bersama Hundie mendekati pohon-pohon ek besar di tepi hutan. Tepat di bawah pohon itu kutemukan pita merah yang mengikat leher domba kecilku telah tercabik cabik. Aku terduduk lemas menyadari bahwa mungkin saja ada hewan buas yang telah memangsa domba kecilku. Ah, kasihan kambing muda itu, ia akan sangat kehilangan kekasih barunya.
                Hundie duduk di sampingku. Kepalanya dielus-eluskan pada kakiku. Ia menggonggong kecil, seolah memaksaku menatap matanya. Harapan. Demikian kata pandangannya. Ya, tentu masih ada harapan. Tapi aku harus beranikan diriku masuk menembus hutan gelap itu. Semakin cepat semakin baik, karena mungkin domba betinaku belum jauh. Siapa tahu ia hanya tersesat, dan lolongan tadi hanya serigala di kejauhan.
                Aku kembali ke peternakan mengambil lentera kecil yang tergantung di atap kandang. Dengan langkah perlahan kumasuki hutan lebat itu bersama Hundie. Pohon-pohon semakin rapat tanpa jarak. Pohon Ek, Linde, Pinus, Birch, dan lain-lain. Pohon-pohon yang konon katanya memiliki roh penunggu sejak ratusan tahun lamanya. Ranting dan daunnya ditiup angin hingga gesekannya menimbulkan suara aneh, seperti banyak orang berbisik-bisik. Bisikan tajam yang menusuk telingaku.
                Setengah jam sudah aku memasuki hutan tanpa  tanda-tanda domba kecilku. Aku mulai mengatur perasaan kalau-kalau nanti domba kecilku ditemukan mati diterkam serigala. Sampai kutemukan benda aneh terpancang di jalan setapak yang kulalui. Sebuah papan penunjuk jalan, bertuliskan huruf-huruf yang tak pernah kukenal sebelumnya. Aku seolah memasuki peradaban lampau yang lebih tua dari zamanku. Dan aku seolah telah lupa akan jalan pulang.
                Angin dingin berkesiur tajam menusuk tulang. Mengibaskan dedaunan pohon yang akarnya besar-besar hingga membuat celah dan gua-gua kecil di bebatuan. Menunjukkan padaku sebuah jalan kecil menuju rumah di tengah hutan itu. Rumah yang asing. Atapnya meninggi dengan ujung kiri kanan melengkung lancip ke atas. Seperti kuil tua yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah itu diterangi lilin-lilin yang dipahat tulisan yang sama dengan papan penunjuk jalan tadi. Suara burung hantu dan gagak terdengar nyaring, seolah mereka bertengger di pepohonan menjaga rumah itu.
                “Kreeet...,” terdengar suara pintu dibuka.
                Aku dan Hundie melompat masuk ke dalam semak-semak agar tidak ketahuan mengintip oleh pemilik rumah. Sedikit banyak ada rasa penasaran akan siapa penghuni rumah terpencil itu.
                Seorang bapak tua berjubah panjang dengan topi dan penutup mata melangkah keluar. Ia tampak seperti pengembara yang akan berangkat ke negeri jauh. Hanya saja tidak membawa barang apapun. Sebuah pedang terselip di ikat pinggangnya dan ia mengenakan seuntai kalung logam.
                “Aku akan pergi, “ katanya berpamitan pada seseorang yang baru saja akan melangkah keluar. Seorang wanita sedikit gemuk berambut merah ombak nan panjang. Gaunnya hijau menjuntai-juntai ke lantai hutan. Perhiasan melingkari tangan dan lehernya. Mengikuti di belakangnya seekor serigala besar berbulu abu-abu dan dua ekor kucing hitam dengan mata kuning yang menyala. Hewan-hewan itu menempatkan diri di samping sang wanita.
                “Lagi?” tanya wanita itu.
                “Ya, kau tahu aku siapa,” jawabnya. “Jaga baik-baik hewan-hewanku sampai aku kembali.” pintanya.
                “Baiklah. Tunggu sebentar,” kata wanita itu. Ia kemudian beranjak ke dalam rumah dan kembali dengan sebuah mangkuk. Dicelupkan jarinya pada mangkuk itu --- yang berisi cairan berwarna gelap --- dan ia mulai mengukir sesuatu di dahi pria pengembara itu. Mulutnya seperti membisikkan sesuatu.
                “Kompas leluhur kita. Agar kamu tidak tersesat,” kata wanita itu.
                Sang pengembara berpamitan. Ia memanggil kudanya, yang tiba-tiba saja sudah berderap dari belakang rumah. Kudanya sangat aneh. Jumlah kakinya delapan!
“Baiklah, aku pergi. Awasi hutan di sebelah sana. Ada seseorang yang mengawasi kita,” tatapan pengembara itu langsung menuju ke arahku. Sekujur tubuhku merinding. Aku sudah ketahuan!
* * *
                Aku menyerah pulang. Dombaku tak ketemu. Tapi aku pulang membawa misteri baru. Siapakah pasangan yang tinggal di rumah terpencil di dalam hutan itu?
                Malam itu ketika aku santap malam bersama ayah ibu, aku tidak mengatakan akan hilangnya domba betina kecil itu. Pita merahnya yang tercabik-cabik telah kukubur dalam tanah. Aku menyimpannya sebagai rahasia. Takut kalau ibu dan ayah marah karena aku ceroboh. Aku juga enggan melongok ke kandang kambing. Kubiarkan ayah yang memasukkan kambing-kambing itu. Aku takut sedih menyaksikan duka si kambing muda.
                “Kenapa kamu diam saja, Nak?” ibu bertanya, sesekali menyuap kentang panas ke dalam mulutnya.
                “Enggak, nggak ada apa-apa,” jawabku berusaha menyembunyikan kejadian tadi sore.
                “Ayo, katakan saja. Kamu pasti mau ngomong sesuatu. Tentang anak tukang kayu tetangga kita ya? Ayah perhatikan, kamu sepertinya tertarik pada pemuda itu,” kata ayah membujukku dengan penuh kesoktahuan.
                “Ahhh... tidak... , bukan dia,” aku menggeleng kuat-kuat.
                “Lalu siapa? Ohhh... pasti pemuda tukang roti di kota itu, hahaha.., ayah kenal baik kok dengan orang tuanya,” kata ayah lagi, nadanya bercanda, tapi aku tidak tertawa.
                “Hmm... aku... aku.., ayah ibu, kenapa aku tak boleh masuk ke hutan itu?” tanganku menunjuk ke arah hutan di luar sana.
                “Hutan itu? Ahh... kamu... sudah kukatakan sedari kamu kecil berulang kali. Hutan itu berbahaya. Banyak binatang buas yang akan menerkammu,” ibu menjawabnya santai, dengan nada yang sama seperti dulu kalau aku menanyakan pertanyaan itu.
                “Tapi, ibu yakin di dalam sana cuma ada binatang buas? Memangnya hutan itu nggak ada penghuninya?” tanyaku lagi, berusaha sedapat mungkin menyembunyikan pengetahuan lebih yang aku dapatkan sore tadi.
                “Kurasa tidak..., eh... ya, tentu saja tidak.., buat apa orang tinggal di hutan gelap dan berbahaya itu?” kali ini nada suara ibu begitu ragu. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu. Sempat kutangkap sinyal mata ibu yang kemudian berpandang-pandangan sesaat dengan ayah.
                Lalu ayah mengambil alih. “Dengar, anakku. Coba ceritakan apa lagi yang kau dengar tentang hutan itu? Pasti kau dengar dari anak-anak tetangga ya?” tanyanya.
                Aku menggeleng pelan.
                “Hmmh..., baiklah, ayah rasa kamu sudah cukup besar untuk mengetahui rahasia hutan itu,” kata ayahku, lalu suasana berubah serius. Kami semua seperti merapatkan diri. Ayahku membuka cerita, “Ratusan tahun lalu tempat ini dikuasai oleh suatu bangsa. Bangsa yang hidupnya memuja alam. Bangsa yang bersembunyi dalam gelap malam bersama makhluk-makhluk misterius. Bangsa yang mengenal dunia lain, yang mampu meramalkan masa depan. Bangsa yang kejam dan bengis, yang suka menyerang desa-desa lain dan menghabiskan semuanya,”
                Aku memandang ayahku dengan serius. Tiada satu katapun luput dari telingaku.
                “Bangsa itu, memiliki wanita-wanita yang percaya kekuatan sihir. Budak-budak neraka. Mereka menari setiap tanggal-tanggal tertentu merayakan kekuatan gelap yang berkuasa. Mereka berkendara dengan sapu atau hewan magis menuju tempat-tempat pusat kegelapan di dunia. Sampai datang bangsa kita. Bangsa terang yang tinggal dalam siang. Bangsa ini bermaksud membawa pencerahan pada mereka. Dengan usaha demikian keras, pembantaian demi pembantaian, bangsa kita berhasil menaklukkan mereka. Mereka yang tersingkir berlari ke dalam hutan, sembunyi rapat-rapat walau tetap melakukan aktivitasnya. Mereka ...,”
                “... baiklah. Cukup. Cerita itu terdengar sangat fantastis,” komentarku. “Ayah yakin sedang tidak mendongeng?” tanyaku lagi.
                “Tidak Nak, hal itu benar adanya,” jawab ayah.
                Baiklah, yang tadi sore itu memang cukup mengerikan. Beruntung si wanita berambut merah itu tidak menemukanku berkat kegesitan Hundie. Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Ayah ibuku sepertinya suka mendongeng, dan aku tidak suka cara mereka membanggakan bangsa kami.
                “Ayah, tapi kenapa kita mau membawa pencerahan pada mereka? Kenapa mereka butuh dicerahkan? Bukankah apa yang mereka punya harusnya kita biarkan saja? Biarlah mereka mengagungkan malam, jika memang mereka menemukan keindahannya di sana,” kataku.
                “Tidak, tentu saja bangsa seperti itu tidak bisa dibiarkan. Mereka itu sudah sesat. Bangsa kita harus membantu mereka ke jalan yang benar,” jawab ayahku.
                “Aku tidak setuju. Ayah selalu saja begitu. Selalu menjelekkan orang di luar bangsa kita. Bangsa itu, yang datang dari timur sana, juga selalu ayah jelekkan. Gara-gara itu aku terpaksa berpisah dengan anak saudagar penjual kain itu.  Katanya mereka suka melakukan kekerasan. Mereka merasa paling benar dan menghukum orang lain yang dianggap salah. Tapi ayah sendiri...? Apa bedanya?” aku mulai kesal.
                “Kamu berani bilang begitu pada ayah?!” ayahku meninggikan suaranya.
                “Biarkan saja, ayah juga seenaknya bicara. Coba, apa ayah berani jamin, dulu ketika pencerahan itu dilakukan, apa benar bangsa kita nggak pakai kekerasan?” aku menatap ayahku dengan pandangan menantang.
                Ayahku melayangkan tangannya, nyaris menamparku, namun keburu ditahan ibu.
                “Sudah, Yah... biarkan saja..., itu memang masanya dia untuk bertanya-tanya. Dia pasti sedikit banyak masih kecewa dengan perpisahannya dengan anak saudagar kain itu,” mohon ibuku.
                Ayah diam, tangannya diturunkan namun masih memandangku dengan marah.  Aku kesal sekali. Kuputuskan untuk berlari keluar menuju peternakan. Aku bersandar pada dinding kayu kandang kambing. Kulihat keadaan kambing muda jantanku yang kini berdiam di sudut dengan wajah sedih. Kasihan dia, pasti merindukan kekasihnya. Seperti aku merindukan mantan kekasihku...
                Pandangan kualihkan pada rapatnya pepohonan hutan. Di kegelapan malam hutan itu tampak seperti bayangan hitam yang besar. Dengan semburat warna indah di langit yang menaunginya. Cahaya itu lagi, kali ini warnanya hijau. Akhir-akhir ini tidak terlalu terlihat dari desa karena terhalang awan. Konon katanya, cahaya itu hanya bisa dilihat dari dalam hutan. Tapi kata ayah, cahaya itu sesungguhnya sepasukan roh-roh jahat yang menimbulkan ilusi bagi siapa saja yang memandangnya. Cahaya itu akan menggoda orang untuk masuk ke dalam hutan dan mati di sana dalam kegelapan. Cahaya itu adalah jebakan, agar roh-roh jahat dapat mengambil nyawa orang-orang baik untuk kekuatan mereka. Ah, bagaimana bisa sesuatu yang indah begitu jahat?
                Tiba-tiba kambing mudaku bereaksi. Ia berlari mendekati pintu kandang.
                “Hei..., hei..., ada apa?” aku bertanya sembari membelainya lembut.
                “Dia pulang...,” jawab kambingku kegirangan.
                “Dia siapa?” aku bingung.
                “Domba cantik,” jawabnya.
Serta merta aku menoleh ke belakangku. Domba betina kecilku berlari dari arah hutan dengan selamat. Hanya saja ia tidak mengenakan pita merah lagi. Wajahnya cerah, sama sekali tidak ada rasa takut.
                “Nona..., nona..., aku pulang!!” serunya girang.
                “Hei.., domba kecilku..., ke mana saja kamu??” tanyaku, sedikit tak percaya dia akan pulang selamat.
                “Aku akan cerita pada Nona, tenang sajaaaa...,” katanya. Ia melirik genit. Aku tertawa saja.
                Dan malam itu, aku meminjam domba kecil dari kekasihnya. Ia memberikanku cerita yang tidak terduga.
                “Kemarin aku sedang merumput di sana, Nona, dekat hutan itu. Lalu datang seekor serigala. Mulanya aku takut, karena ia menyeramkan sekali. Tapi..., harus kuakui ia gagah juga. Hihihii..., “ domba kecilku tertawa genit. “Aku yang menyapanya duluan. Kupikir lalu ia akan memakanku, ternyata nggak. Dia justru dengan ramah melayani pertanyaanku yang bertubi-tubi tentang hutan terlarang itu,” jelasnya.
                “Ceritakan padaku, apa yang dikatakan serigala tentang hutan itu?” aku penasaran.
                “Hmm.. baiklah. Dia bilang hutan itu memang gelap, tapi dia sudah mengenalnya dengan baik. Dia hidup di sana, dipelihara oleh pasangan yang baik. Si bapak adalah seorang pengembara yang bijak. Ia selalu mencari ilmu di negeri-negeri yang jauh dengan mengendarai kudanya yang berkaki delapan dan teman setianya, seekor burung gagak. Salah satu yang berhasil didapatkannya adalan huruf-huruf aneh yang ia dapatkan setelah mengorbankan mata kirinya dan merasakan digantung di atas pohon berhari-hari,” cerita domba kecilku.
                “Hmm... aneh, tapi menarik ya...,” aku bergumam.
                “...lalu si ibu adalah wanita yang ahli meracik obat. Ia mengenal setiap jengkal hutan dengan baik dan tanaman-tanamannya. Ia mengenal semua makhluk hutan seolah-olah mereka anaknya sendiri. Ia memelihara sang serigala dengan baik, dan juga dua ekor kucing hitam. Oh ya, mereka juga punya seorang anak yang tampan yang bekerja sebagai pandai besi. Kurasa dia cocok untuk Nona. Oh ya, petang tadi sang serigala mengajakku ke puncak tebing di dalam hutan sana. Nona tahu apa yang kulihat? Cahaya menari yang menyentuh bukit. Yang selama ini hanya kita lihat semburatnya dari desa,” si domba bercerita dengan penuh semangat.
                “Cerita yang sangat menarik ya... seandainya aku punya kesempatan yang sama. Tapi hutan itu berbahaya, jadi kau tak boleh ke sana lagi,” kataku membelai si domba.
                “Apa maksud Nona? Aku tak boleh kembali ke sana? Tapi, tapi tempat itu impianku..., masih banyak yang ingin kuketahui,” nada suaranya bergetar mendengar laranganku.
                “Serigala itu musuhnya domba. Kamu memang belum dimangsa, tapi nanti mereka akan memangsamu,” jawabku.
                “Tidak, tidak mungkin. Dia baik sekali padaku. Dia tak akan membiarkanku dimangsa. Dia bahkan mengajariku bagaimana caranya hidup di hutan,” domba berusaha melepaskan diri dari laranganku.
                “Tidak, kau tak akan ke sana. Tempat itu memang indah. Tapi seekor domba di tengah serigala itu tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau sudah kuizinkan bersama kambing. Jangan coba-coba meminta lebih. Domba sama serigala? Domba itu mangsanya serigala! Malam ini kamu akan kembali ke kandangmu,” aku bersikeras.
                “Jangan larang aku, Nona. Aku senang di sana. Aku bahagia di sana. Hutan itu penuh kebebasan. Aku tidak harus terkungkung aturan di peternakan. Aku bisa ke mana pun sesukaku. Serigala itu bahkan mengajarkan aku bagaimana membela diriku bila ada yang memburuku. Tidak diam saja seperti domba bodoh. Kalau di peternakan, aku akan terus dipaksa bekerja. Dan aku akan menderita. Di hutan sana, aku cukup berbuat baik saja. Itu syarat cukup untuk hidup tenang,” domba kecilku kini menjauh dariku. Seperti menjaga jarak.
                “Kau.. domba.. kau akan lebih bahagia jika bisa berkorban untuk kehidupan manusia. Di hutan itu, kau akan mati. Mati karena itu bukan tempatmu, atau karena serigala lain yang bukan temanmu,” aku melunakkan suara.
                “Terserah apa kata Nona. Aku akan tetap kembali ke sana. Serigala itu tidak seburuk yang dikatakan gembala-gembala seperti Nona! Jadi, selamat tinggal! Aku akan pindah ke tempat impianku!” domba berteriak lalu berlari menuju hutan.
                Tidak. Dia kabur lagi. Sekarang dia akan hilang untuk selamanya. Lalu aku akan dimarahi ayah ibu. Aku harus mengejarnya.
                Aku berlari melintasi padang rumput, tepat di belakang domba kecilku. Dalam benakku berkecamuk kata-kata yang baru saja kuucapkan. Aku baru saja menggeneralisasi musuh-musuh domba. Aku baru saja memarahi domba karena ia berteman dengan hewan lain, hewan lain yang begitu berbeda dengannya, yang kata para gembala lain adalah musuh domba. Aku baru saja melakukan hal yang sama, serupa seperti kata-kata ayahku.
                “Oh, tidaaaaaakkk....,” aku menjerit menyaksikan dombaku melompat masuk ke dalam hutan.
                Aku terduduk lemas sekali lagi. “Kembali kau domba, kembali kemari!! Kau membuatku dalam situasi sulit! Kembalikan dombaku! Hei, siapapun yang ada di dalam sana, jangan kau coba-coba memangsa dombaku!” aku berteriak-teriak marah.
                Lolongan serigala terdengar lagi, kali ini begitu nyaring. Sekonyong-konyong makhluk berbulu itu melompat dan menggeram di depanku. Bulu-bulunya berkilau keperakan dan tubuhnya begitu besar.
                “Domba itu milikku. Tak akan kubiarkan kau mengambilnya kembali,” geramnya. Tatapan matanya yang tajam seolah membekukanku beberapa saat. Aku tak berkutik sama sekali. Lama aku terdiam. Sunyi.
***
                “Hei, sampai kapan kau mau merunduk seperti itu?” terdengar suara yang asing di telingaku. Aku mengangkat kepala dan mendapati seorang pemuda berambut emas panjang yang membawa palu dan pedang.
                “Oh..., hai..., halo...,” aku jadi salah tingkah sesaat melihat pemuda tampan itu. “mmm... di mana serigala tadi?” tanyaku.
                “Sudah kusuruh pulang dia, maaf ya, peliharaanku memang nakal  kalau sama orang asing,” jawabnya.
                Langsung kusadari bahwa dia adalah anak pasangan misterius yang kulihat waktu itu. “Lalu apa yang kau lakukan dengan benda-benda itu?” tanyaku menunjuk palu dan pedang di tangannya. Kedua alat itu berukir indah seperti buatan pengrajin ternama.
                “Aku tadi sedang bekerja, tapi kemudian aku bosan dan kuputuskan mengerjakannya di luar sambil melihat pemandangan hutan,” jawabnya. “Kamu sepertinya bukan dari sini. Kamu dari desa bangsa itu ya?”  ia menunjuk kumpulan atap di kejauhan di seberang padang rumput.
                Aku mengangguk. “Tapi jangan samakan aku dengan mereka. Aku bukan tipe yang ....,”
                “Aku mengerti,” katanya. “Jadi, kau mau ikut dengan domba kecilmu?” ia mengulurkan tangannya. Aku ragu-ragu menyambutnya. “Tunjukkan padaku cahaya menari yang menyentuh bumi,” pintaku. Dan aku menghilang ke dalam hutan bersama si pandai besi. Sejak saat itu aku tak pernah kembali ke desaku.

12.4.12

Sebelum Pertemuan Itu


Siang hari, kira-kira pukul 14.30 di sebuah sekolah ternama di pusat kota.

         Aku berlari melintasi koridor-koridor yang bernuansa hijau. Sekali lagi kelasku terlambat bubar. Dengan cepat aku menuruni anak tangga dan mencapai lantai satu. Kemudian aku berlari lagi melewati halaman dalam dan akhirnya berhasil mencapai halaman parkir. Sinar mentari yang menyengat lagi silau langsung menyambutku. Tanpa sempat melepaskan jaket yang membalut tubuhku, aku berjalan menyelip-nyelip di antara mobil-mobil yang terparkir ---- mencari mobil putih yang jujur saja kurang baik kondisinya. Mobil jemputanku! Ah, ternyata masih ada. Mesinnya sudah menyala, tanda siap berangkat. Aku nyaris ditinggal lagi. 
           Seperti biasa kubuka kotak bekal makan siangku. Aku selalu membawa dua bekal ke sekolah, untuk sarapan dan untuk makan siang. Kali ini bekalku adalah nasi yang sudah dingin dengan nugget goreng yang membosankan. Aku makan diiringi suara obrolan dan tawa teman-teman sejemputanku yang sejak tadi memang sudah terlibat pembicaraan seru. Aku diam saja, tak banyak menyahut, karena jujur saja aku memang tipe introvert yang jarang mengobrol. Kunikmati bekalku sampai habis sembari memandang ke luar.
        Setengah perjalanan telah berlalu dan teman-temanku sudah tertidur. Aneh. Mobil jemputan begitu panas tetapi mereka bisa tidur. Sementara aku dari tadi mengalami kesulitan. Mungkin karena aku memang tidak biasa membiarkan pemandangan di luar berlalu begitu saja sekalipun pemandangan itu buruk. Ya, dalam perjalanan pulang dari sekolah memang ada dua jalur yang biasa dilalui jemputanku. Aku menyebutnya jalur pemandangan buruk dan jalur pemandangan bagus. Kesempatan melalui jalur yang mana ditentukan oleh siapa saja yang ada dalam jemputan itu. Jika ada temanku yang tinggal di daerah yang melalui pemandangan buruk maka kami akan lewat sana. 
          Sebagai informasi, jalur pemandangan bagus melewati daerah selatan ibukota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, perkantoran, dan bangunan favoritku --- kedutaan negara-negara asing dengan bendera asing yang berkibar. Sementara itu jalur pemandangan buruk dipenuhi kemacetan, polusi dan udara panas. Ia melewati daerah timur ibukota yang dipenuhi rumah-rumah yang kurang bagus keadaannya di kiri-kanan jalan. Membosankan sekali. Aku sungguh tidak pernah menyukai jalur ini, sama sekali tidak. Ada bagian dari jalur ini yang berupa jalan sempit dan di sebelah kanannya adalah sungai yang airnya selalu penuh seolah tak pernah meluap. Di jalan ini nyaris selalu macet dan udaranya sangat panas. Satu lagi, banyak sekali "bebek liar", maksudku sepeda motor yang ugal-ugalan. Seperti bebek yang baru dilepas dari kandang dan melihat mereka sungguh menyebalkan. Membuat kemacetan semakin parah saja!
            Lagi-lagi hari itu dengan terpaksa aku harus mengikuti kenyataan --- melalui jalur pemandangan buruk. Aku ingin sekali tidur supaya tidak melihat pemandangan tidak enak itu dan tiba-tiba sudah sampai di rumah. Sayang sekali aku terlalu segar untuk tidur, bahkan ketika mobil terjebak macet di jalur tepi sungai itu. Dan di tengah macet itu aku melihat banyak "bebek liar" di sekeliling mobil. Salah satunya dikendarai oleh dua orang anak SMA, keduanya laki-laki. Dari seragamnya yang mainstream --- kemeja putih dan celana abu-abu panjang --- tampaknya bukan sekolah swasta. Dua siswa itu bercanda saja sekalipun sedang terjebak di kemacetan. Mereka sempat memandang ke arahku juga, tanpa maksud tentunya, lalu melanjutkan pembicaraan serunya. Aku pun tidak begitu memperhatikan keduanya, sekedar melihat saja, seperti aku melihat orang-orang lain pada umumnya. Lalu mobil bergerak hingga aku tidak memperhatikan mereka lagi. 

Petang hari, kira-kira pukul 18.00 di teras rumahku.

             "Besok aku mau nonton," kata adikku sembari membelai-belai anjing kami yang sedang setengah tertidur. "Nonton? Apa? dengan siapa?" tanyaku. Aku berdiri agak jauh darinya karena aku takut dengan anjing kami. Aneh memang, tapi aku pernah digigit sehingga ada trauma yang tersisa.
            "New Moon, nonton bareng teman-teman dong! Fifi, Leah, Chicha, dan yang lainnya," jawabnya dengan berseri-seri. Maklum, adikku yang masih duduk di kelas 3 SMP ini sedang freak dengan si vampir Cullen dan saudara-saudaranya.
            "Oh, " balasku. "Aku boleh ikut?" tanyaku.
            "Mmmm.. gimana ya....," pikirnya dengan wajah keberatan.
            "Baiklah kalau kau tak mau, aku akan ajak Mutti," kataku kemudian beranjak ke dalam rumah.

            Aku mengetuk pintu kamar Mutti --- panggilan sayangku untuk Ibu, dari bahasa Jerman tentunya. Mutti membukanya sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
            "Habis keramas ya, Mutti?" tanyaku.
            "Iya nih, panas banget udaranya," jawab Mutti. "Bagaimana sekolahnya?
            "Baik hehehehe... oiya, sekalian mau ngasih tau, tadi aku dikasih tau wali kelas, katanya guru sejarahku mau ketemu Mutti," jelasku.
            "Guru sejarah? Ada apa?" tanya Mutti penasaran karena berita dariku tidak biasa.
            "Nggak tau tuh, mungkin soal yang kemarin, yang katanya aku bakal diseleksi sama guru-guru untuk pertukaran pelajar ke Thailand," kataku lagi. Belum sempat Mutti membalas perkataanku, kulanjutkan obrolan untuk mengutarakan maksud awal.
            "Mau nonton New Moon nggak, Mutti?" tanyaku.
            "Itu film apa? Kapan?" tanya Mutti balik.
            "Itu lho, sambungannya Twilight yang dulu kita nonton bareng. Minggu aja di tempat biasa," jawabku. "Mutti nganggur kan hari itu?"
            "Hmm.. boleh-boleh aja," jawab Mutti, dan aku sangat senang mendengarnya hingga aku keluar lagi untuk memamerkannya pada adikku.
            Jadi begini rencana kami. Aku, adikku dan Mutti akan pergi menuju bioskop bersama-sama lalu kita akan menitip tiket pada teman-teman adikku yang sudah terlebih dulu ada di sana. Selanjutnya kita akan duduk di tempat terpisah dan menonton film di jam yang sama. Maka setelah itu adikku dapat pulang bersamaku dan Mutti tanpa harus diantar oleh teman-temannya.

Minggu siang, pukul 11.00 di bioskop langganan kami.

            “Fifi, Chicha, Leah!!” seru adikku menghambur ke arah teman-temannya. Ia langsung memisahkan diri dariku dan Mutti setibanya di bioskop. Tak lama kemudian ia kembali lagi untuk memberikan tiket titipan kami lalu berbalik lagi bersama teman-temannya. Mereka langsung terlibat percakapan seru.
            “Mbak, tolong belikan pop corn dan minum,” pinta Mutti padaku.
            “Oh baiklah, pakai uangku atau Mutti?” tanyaku.
            “Kamulah, Mutti kan sudah bayar tiketnya tadi,” jawab Mutti, kemudian aku segera melangkah ke counter makanan.
            Agak sulit mencapainya karena rupanya bioskop sangat ramai. Maklum, hari ini New Moon tayang premier. Semua anak remaja ingin menyaksikannya, termasuk salah satu pasangan yang kulihat sedang mengantre tiket di barisan panjang yang tampak tak bergerak itu.
            Pasangan itu, sepertinya sebaya denganku. Masih remaja seperti aku. Sang gadis berambut ombak mengembang seperti rambutku dan dibiarkan tergerai begitu saja. Sang pemuda mengenakan kaos yang didobel kemeja kotak-kotaknya. Mereka tampak mesra, sang pemuda seperti sangat mencintai gadisnya, dan gadisnya berkarakter sedikit manja. Setidaknya itu yang kutangkap. Mereka tampak sedang membicarakan film yang akan mereka tonton --- New Moon --- seperti yang ingin kutonton bersama ibuku, bukan kekasihku. Sedikit terbersit dalam hati, seandainya aku dapat menonton film semacam ini dengan kekasihku, tapi apa daya, sekolahku saja homogen.
            Aku melewati mereka menuju counter makanan. Mereka sadar akan kehadiranku, tetapi tidak peduli. Sang pemuda memang sempat melihatku, tapi kemudian ia melanjutkan obrolannya dengan sang gadis. Tidak ada apa-apa terjadi dan memang tidak. Aku melihat mereka seperti orang-orang lain pada umumnya, bukan seseorang yang penting. Demikian juga mereka tak peduli dengan siapa aku selain sebagai orang yang sama-sama ingin menonton di bioskop tersebut.

Siang hari pukul 13.30 di koridor depan kelasku.

            Ponselku berbunyi tidak lama setelah aku menyalakannya. Mutti calling, tertulis demikian di layar. Aku mengangkatnya dan mendengar suara Mutti yang bernada cerah.
            “Halo, Mbak, sudah selesai sekolahnya?” tanya Mutti.
            “Sudah, kok, barusan aja,” jawabku.
            “Kamu nggak usah naik jemputan ya, Mutti tunggu di bawah sama teman kerja Mutti nih,” kata Mutti padaku.
            “Lho, Mutti jemput? Kok tumben,” aku malah bernada bingung.
            “Ya sudah cepat turun, ini Mutti di parkiran, nanti Mutti ceritakan,” katanya kemudian menutup telepon.

            Aku menghambur keluar dan kembali menerjang terik matahari. Kulihat Mutti berdiri di depan pos satpam dan langsung mengajakku menuju mobil rekan kerjanya. Aku mengambil duduk di bagian belakang sementara Mutti duduk di depan.
            “Ada apa sih ini, kok kayaknya seru?” tanyaku tak sabar.
            “Ya, tadi Mutti sudah ketemu gurumu. Katanya kamu terpilih untuk pertukaran pelajar ke Thailand. Terus dia tanya, kamu punya paspor apa enggak. Mutti jawab kamu belum punya. Terus sama dia disuruh segera bikin, jadi sekarang Mutti minta tolong dianter sama temen Mutti ini ke kantor imigrasi buat langsung bikin paspor kamu, “ jelas Mutti.
            “Serius itu aku dapat? Masa sih??” aku masih tak percaya kabar yang dikatakan Mutti.
            “Ya, betul. Katanya tadi ada tiga orang yang dinominasi, tapi setelah diseleksi sama guru-guru, mereka mau kamu yang pergi,” jelas Mutti lagi.
            “Itu gratis? Beneran gratis?” tanyaku dengan nada bahagia.
            “Ya, gratis semua, tinggal bayar airport tax seratus ribu aja. Tapi uang jajan nggak dikasih karena kamu nanti homestay. Nanti sampai rumah langsung berdoa, bersyukur sama Tuhan,” nasehat Mutti.
            “Iya, Mutti” jawabku.

Siang hari pukul 14.00 dalam perjalanan menuju kantor imigrasi.

            Aku tidak pernah tahu di mana letak kantor imigrasi. Kata Mutti cukup jauh, letaknya di daerah timur ibukota. Tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa jalan menuju ke sana akan melewati jalan pemandangan buruk itu. Walau demikian rupanya ada yang sedikit berbeda karena jalan yang kulalui berbeda dengan jalan pulangku setiap hari. Rupanya dekat stasiun tua di timur ibukota yang ada di seberang pasar, ada jalan bercabang yang tak pernah kusadari. Biasanya mobil jemputanku akan mengambil jalan ke kanan, yang akan berujung pada jalan tepi sungai yang menyebalkan itu. Kali ini mobil tetap lurus dan tiba di jalan raya yang gersang dan sepi pepohonan.
            Kantor imigrasi terletak di samping penjara dan daerah di sekitar situ sangat panas udaranya. Mobil diparkir dan kami semua turun. Mutti memilih jalan belakang, artinya aku akan mendapatkan paspor lebih cepat daripada orang yang melalui jalan depan. Benar saja, tak lama setelah aku masuk langsung ada seorang bapak yang berbicara dengan Mutti dan tiba-tiba saja aku sudah disuruh masuk ke suatu ruangan yang di dalamnya terdapat bilik-bilik yang disekat. Di sana aku harus menunjukkan surat-surat penting, menempelkan sidik jari, difoto, menandatangani ini-itu dan ditanya-tanya akan pergi ke mana dengan alasan apa.
Tidak lama memang tetapi cukup membosankan. Beruntunglah sebelum jam lima semua sudah selesai, tinggal menunggu paspor jadi.

Menjelang sore pukul 16.00 masih di bawah teriknya matahari

            “Ini kenapa muter-muter deh dari tadi?” tanyaku pada Mutti.
            “Nggak tau, Mutti lupa jalannya ke mana. Mutti nggak kenal daerah ini,” jawab Mutti.
            “Tanya aja deh ke orang, daripada tersesat terus nggak pulang-pulang,” aku memberi usul.
            Rekan kerja Mutti segera menepikan mobilnya di depan sebuah sekolah. Aku tak lagi ingat angka yang tertera di belakang tulisan “SMA Negeri”, yang jelas sekolah itu ramai oleh siswa-siswi yang berlalu-lalang keluar-masuk. Sepertinya mereka sedang menyelenggarakan suatu acara. Teman Mutti itu membuka jendela mobil dan bertanya pada sekelompok siswa di situ. Aku melihat mereka juga, melihat mereka dengan sangat biasa.
            “Maaf, kalau mau ke arah Bekasi lewat mana ya?” tanya teman Mutti.
            “Oh, bapak lurus aja ikutin jalan ini juga bisa....,” dan aku tidak lagi mendengar terusannya, aku sibuk memperhatikan beberapa siswa yang berdiri di depan pagarnya. Mereka membawa alat-alat musik, seperti sekelompok band yang ingin tampil. Mungkin sedang ada acara di dalam, maka dari itu kelihatan sangat ramai. Aku menatap lagi salah satu dari mereka yang berambut ombak dan tidak membawa apapun. Ia juga sempat melihatku sesaat tanpa maksud, sebelum ditarik oleh seorang gadis yang juga berambut ombak panjang. Gadis itu mengatakan sesuatu, semacam ajakan untuk masuk karena acara akan mulai.

* * *
            Ingatanku merangkai sesuatu. Bayanganku mencari sesuatu. Pemuda yang kulihat di motor di jalan tepi sungai itu, yang kutemui di bioskop ketika hendak membeli pop corn, dan yang berdiri di depan sekolah.... mungkinkah....
            “Mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkinkah kita...,” aku menatap wajahnya yang diterpa sinar mentari sore hari menjelang senja. Ia tersenyum seakan tahu aku belum selesai.
            “Mungkinkah kita pernah ada di tempat yang sama, tanpa sadar bahwa sosok di seberang sana akan menanti di masa depan? Mungkinkah kita pernah saling bertatap walau tanpa maksud? Aku tak mengenalmu sebelumnya..., tapi sebelum pertemuan dua belas tahun lalu di tepi danau ini...,” kubelai wajahnya yang tersenyum menatap balik padaku.
            “Di manakah dirimu ketika aku sedang menunggu perjalanan ke luar negeri pertamaku? Apa yang kau lakukan ketika aku sedang mengenakan gaun gothic lolita di malam perpisahanku? Sedang apa dirimu ketika aku menangis setelah gagal mendapatkan beasiswa ke tanah impianku? Aku ingin tahu dirimu... sungguh ingin tahu.. setiap detail cerita dari masa lalumu.. sebelum pertemuan itu..,” kuselesaikan kalimat-kalimatku. Hening yang cukup lama mengikutinya. Akhirnya ia menarikku lebih dekat dan selagi mendekapku ia berkata, “mengapa kau ingin tahu itu, Sayang? Masa laluku tak penting. Sebelum pertemuan itu tak perlu kau cari-cari. Yang terpenting itu, kita jadi masa depan satu sama lain.”
           

              


              

31.3.12

Tentang yang terjadi di sini akhir-akhir ini...

BBM mau naik. Demikian kata pemerintah tanpa kejelasan dan sangat tiba-tiba. Sudah jelas yang terjadi selanjutnya: demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan kaum buruh. Teman-teman saya ini (baca: mahasiswa) mengaku membela rakyat kecil dan memperjuangkan nasib mereka dengan berusaha agar harga BBM tidak naik. Kebetulan saya bukan termasuk tipe yang suka berdemo, saya tipe berkoar-koar di belakang, lewat tulisan, entah karya sastra atau sekedar tweet-tweet nggak penting. Lewat tulisan itu, saya sama sekali bukan mau memaksa orang untuk setuju dan ikut pendapat saya. Saya hanya mau bicara, mengutarakan pendapat saya.

Kemarin saya sempat diskusi (atau berdebat?) via twitter dengan salah satu senior. Senior ini, menurut saya, orang yang luas wawasannya dan pandai. Pengetahuannya banyak, dan saya respek. Kalau bicara sama dia, sudah pasti saya kelihatan seperti orang berwawasan sempit yang nggak tau apa-apa. Ya memang, saya bicara kemarin itu tujuannya sama sekali bukan buat memberikan fakta supaya orang ikut pendapat saya, saya cuma mengeluarkan unek-unek kekesalan karena sepanjang saya hidup di Indonesia saya sudah dikecewakan dengan keadaan di luar sana. Saya tidak tahu pendapat saya benar atau tidak, saya hanya ingin bicara, dari kaca mata saya ya demikian.

Saya bukan orang yang anti demonstrasi kok. Menurut saya mengeluarkan aspirasi bersama-sama seperti itu memang hak warga negara yang (katanya) menganut demokrasi. Tapi tentu saja demonstrasi itu ada aturannya. Tetap sopan, tetap menghargai orang lain. Mengaku bela rakyat kecil, tapi apa mereka betul-betul tau apa yang ada di dalam pikiran rakyat kecil? Memang pernah salah satu perwakilan rakyat kecil(kalo bisa dibilang mewakili, karena rakyat kecil di Indonesia jumlahnya gak ketolongan banyaknya dan tentu saja pendapatnya beda-beda), ngomong ke mereka langsung minta diwakili dan disampaikan aspirasinya dengan cara demikian. Teman saya di twitter ada yang membenarkan demonstran menggunakan kekerasan, katanya: ya siapa suruh pemerintah nggak mendengarkan. Menurut saya mau apapun alasannya kekerasan itu ya salah. Oke, baik, kekerasan dilakukan pada pihak aparat yang juga terlalu keras menyikapi para demonstran. Tapi nggak perlu pakai merusak fasilitas umum kan? Nggak perlu ngotorin jalan kan? Nggak perlu blokade jalan kan? Memangnya pengguna jalan hanya mereka? Dengan mereka berlaku seperti itu justru saya makin nggak simpati. Yang tadinya merasa dibela malah jadi malu. Malu dong, tayangan demonstrasi ricuh itu udah sampai Eropa! Teman saya yang studi di sana nonton, malu dong dilihat warga dunia yang lain.

Karena sudah dari saya kecil saya selalu melihat demonstrasi macam begini, akhirnya saya juga tidak bisa mengatakan kalau mereka ada di pihak yang benar. Baik pemerintah maupun mereka dua-duanya salah. Dan karena tidak ada yang benar saya pilih diam, saya pilih apatis, nggak dukung dua-duanya. Lagipula saya sudah terlanjur pesimis dengan apa yang ada di negara saya. Senior yang saya ceritakan tadi bilang harusnya saya nggak pesimis. Tapi gimana caranya coba? Kalau pemerintah yang sekarang turun, siapa yang siap mengganti? Partai oposisinya saja semalam sudah walk out semua, menyerah di tengah jalan. Saya yakin semua orang yang duduk di pemerintahan itu sama aja. Sama-sama udah pegang duit banyak, sama-sama jadi lapar dan haus kekuasaan. Ya tentu saja tidak semua demikian, ada juga yang baik. Tapi yang baik ini diam aja, sebenarnya bukan salah mereka diam, tapi karena kalau mereka berulah pasti digencet, ditekan sama yang salah. Karakter ini udah ada sejak mereka muda. Kelihatan kok dari lingkungan saya sekarang di masa kuliah ini. Yang nggak mau ngasih contekan dibilang pelit, yang nggak mau diajak bolos dibilang sok rajin, yang bersikap baik dan sopan sama dosen dibilang ngejilat. Lama-lama orang baik pilih diam aja. Generasi muda yang nantinya akan menggantikan mereka yang sekarang memerintah itu aja udah rusak kaya gini. Nggak cuma itu, kalau lihat ricuhnya sidang semalam itu jujur aja nggak jauh beda sama rapat-rapat di kampus. Walaupun cenderung lebih sopan, rapat di kampus itu juga sama, janji jam berapa mulai jam berapa, ujung-ujungnya semua mau ngomong gak ada yang mau dengar.

Menurut saya, generasi berikutnya yang naik jadi pemerintah negara ini bakalan sama aja. Kita sudah jadi korban dari generasi terdahulu yang membiarkan negara ini terlalu dieksploitasi bangsa asing, terlalu disusupi bangsa asing (dan ingat, bangsanya nggak cuma AS dan kawan-kawan baratnya, tapi juga negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah!). Ya kita ini korbannya, sudah terlanjur kecemplung di kolam kapitalisme dan globalisasi jadi susah keluar. Satu-satunya jalan menurut saya, peradaban di Indonesia yang sekarang ini harus hancur dulu. Hancur total entah karena apa. Dan orang-orang yang selamat akan membangun kembali Indonesia yang baru, yang beda, kalau perlu bikin ideologi baru yang lebih sesuai dan bentuk pemerintahan yang baru supaya sesuai. Kalau memang yang lama dirasa sudah nggak cocok, nggak masalah kok diubah. Manusia aja bisa ganti identitas, bangsa juga boleh dong kalau arahnya positif  :)

2.3.12

Tentang Kerajaan Ini

Pada awalnya tiada kutemukan bahagia
diam dalam kerajaan itu
Tiada yang menarik selain hari hari
dipenuhi coretan atas kertas
ruang ruang berbicara
dan untaian kata berkumandang

Sekalipun sang bunga salju
ditemani sepermainannya
tiada yang baru untuk
rangkaian ceritaku

Sesaat sang pujangga yang datang
dari negeri berbatu batu
sempat menjadi impian
namun hilang dari harapan
ketika gadis-gadis pandai
dan cantik membawanya pergi

Dalam kerajaan itu
akhirnya kami bertemu
ksatria bersimbol hati tujuh
yang mengubah kisahku

Sekalipun aku bukan perdana menteri
kerajaan ini, jadi milik kami
tak lama kurasa
karena dipenuhi kesenangan saja
dan para tetua tak suka

Lalu kudengar seorang
kaisar timur yang bijak
hendak meraih tahta
kerajaan ini

Hanya kuharap kisahku dan
sang ksatria bukan akhir di sini
kerajaan kami boleh usai
tapi di luar sana
akan kami bangun yang baru
di tanah berbeda...
di negeri yang jauh...


by LV~Eisblume
02.03.12
Ich bedanke mich fuer mein Lieblingsverein, in dem ich und er getroffen haben...




24.2.12

Budaya Kita, Budaya Maksa?

Ini sama sekali bukan esai antropologi. Ini sebenarnya hanya unek-unek gue beberapa hari ini. Langsung saja ya...
Gue biasanya bukan jadi orang pengamat yang suka mengamati sesuatu hal sampai detail, apalagi terus dipikirin dan direnungkan. Tapi kali ini gue baru "ngeh" bahwa ada banyak kejadian di sekitar gue yang membuat gue menulis post ini. Budaya kita, budaya maksa? Maksudnya? Sederhana saja, orang Indonesia itu kalau gue lihat hobinya maksain apapun. Sampai-sampai gue mikir keadaan memaksakan apapun ini sudah sangat membudaya dan bisa ditemui di mana saja!

Sebut saja kejadian yang paling sering gue lihat (dan kalian yang suka naik kendaraan umum juga). Kalau kita naik kendaraan umum, nyaris apapun itu, kereta, angkot, bus, transjakarta, dll. terutama yang bukan untuk perjalanan jauh pasti penuh banget. Penuhnya sampai nggak wajar (coba aja kalo naik kereta arah Jakarta pada pagi hari dan Bogor pada malam hari). Mengapa demikian? Karena sopir/masinis sudah tau penumpang penuh dan desak-desakan sampai pintu nggak bisa ditutup lagi, masih aja dimasukin penumpang baru. Penumpangnya juga nggak tau diri, udah tau di dalam penuh masih aja maksa naik. Duh -___-a
Alasannya memang masuk akal sih, sopir ngejar setoran dan penumpang mau cepat-cepat sampai tujuan.

Kejadian kedua misalnya di jalan raya. Waktu itu gue lagi naik motor di daerah Pasar Minggu dan macet karena lampu merah. Lampu merah! bukan macet total karena kecelakaan! Apa yang terjadi? Banyak banget motor yang nyelonong maksa lewat trotoar, padahal itu daerah pasar. Plis deh, trotoar itu kan buat pejalan kaki, masa nunggu lampu merah sedikit aja nggak mau. Padahal kalau di jalan sabar dikit gue yakin macetnya nggak akan parah. Lebih parahnya lagi, polisi yang harusnya bantu mengatur jalan malah ikut-ikutan. Waktu itu gue lagi di lampu merah Kalibata-Duren Tiga yang lamanya nggak manusiawi itu. Gara-gara harus nunggu seratus sekian detik sampai lampu hijau jalanan di situ jadi macet panjang. Eh tiba-tiba di samping gue ada polisi gendut naik motor jalan di trotoar di depan Taman Makam Pahlawan. Gilak!

Terus ada lagi kejadian di gereja. Kemarin gue misa Rabu Abu di gereja, kebetulan ambil jam yang paling malam (19.30). Gue udah duduk sama nyokap sebelahan dan bangku gereja itu kan di bagian tempat duduknya ada semacam kotak-kotak pembatas yang menunjukkan satu kotak itu ya buat satu orang. Tiba-tiba ada segeng ibu-ibu masuk dan bermaksud duduk di sebelah gue. Mereka berempat sementara di situ cuma ada space untuk tiga orang. Eh.. yang satu maksa loh, padahal di bangku-bangku bagian depan masih ada banyak tempat kosong (yang kalau mau ditempati ya gak bisa berempat sekaligus berderet tapi satu-satu diseling orang lain). Ini ibu maksa banget sampai gue yang udah duluan di situ duduk setengah pantat. Akhirnya gue ngomong ke nyokap untuk minta duduk pisah gue di bangku depan. Sepertinya si ibu itu dengar, langsung deh dia bisik-bisik ke temen-temennya trus pindah duduk di depan. ckckckck...

Memang sih hal-hal tersebut hanya kejadian sehari-hari di kota-kota besar. Gue gak tau apakah kejadian juga di tempat lain. Tapi budaya maksa ini sepertinya memang ada. Bahkan sistem di pemerintahan kita aja maksa. Mau menerapkan demokrasi tapi negara belum sejahtera dan masih miskin ckckck.. mana bisa berhasil. Syarat utama demokrasi kan kesejahteraan rakyat dulu.

Tapi kalau dilihat-lihat lagi permasalahan utama dari budaya maksa yang gue cerita tadi sepertinya ada di kependudukan deh. Orang Indonesia kesejahteraan dan pendapatannya masih rendah tapi pada maksa bikin anak banyak dan gede-gedean keluarga. Duh.. terang aja ya kendaraan umum penuh -___-a Belum lagi Jakarta yang udah penuh ini masih ditambah banyak orang berurbanisasi.. makin penuuuhhhh... Lebih parah lagi, satu orang beli kendaraan satu. Nggak ngerti lagi deh... x.x

Gue selalu mengidam-idamkan negara sepi kayak di Skandinavia atau negara tertib tidak maksa seperti Jerman.... Lebih sehat, lebih nyaman, lebih aman, dan lebih teratur juga. Kapan ya Indonesia (atau setidaknya Jakarta dulu deh) berubah kayak gitu...

19.2.12

List of 10 Tops Must Visit Places in Germany by Me

Sebenarnya judulnya kurang tepat sih karena masih ada banyak dari 10 tempat yang menurut gue wajib dikunjungi kalau ke Jerman. Tapi nanti postingannya jadi panjang banget trus berubah pula jadi blog travel. Padahal gue cuma mau share aja sedikit tentang tempat2 yang bagus di Jerman hehee..
Oke, here they are:

1. Schloss Neuschwanstein

Ini gue taruh di daftar nomor 1 bukan karena gue mainstream atau terpengaruh buku-buku National Geographic Traveler dan Lonely Planet ya... Gue taruh ini di nomor 1 karena memang Neuschwanstein itu tempat terindah di Jerman yang paling wajib dikunjungi. Kastil yang terletak di wilaya Allgaeuer Alpen di bagian selatan Jerman ini bisa dicapai dengan mobil dalam waktu satu sampai satu setengah jam dari Muenchen. Kebanyakan orang hanya tahu informasi ini: kastil ini dibangun oleh Koenig Ludwig II si raja gila pada tahun 1800an (lupa juga gue persisnya kapan) dan menjadi inspirasi kastil Disneyland. Yah, kalau cuma dua alasan itu sih gak worth it dong berkunjung ke sini. Pemandangannya bagus, iya memang, tapi kalau cari kastil di atas bukit yang dikelilingi danau dan gunung sih di Eropa banyak. Ada lagi sebenarnya yang bikin ini jadi wajib dikunjungi (khususnya untuk para mahasiswa Sastra Jerman hohoho..) yang mungkin cuma bisa diketahui dari kata2 pemandu wisata dan pasti gak akan didengerin juga kalau ke sana karena udah terpesona duluan sama keindahan kastilnya. Kastil ini dipenuhi lukisan-lukisan yang diambil dari adegan-adegan operanya Richard Wagner (komposer favorit Koenig Ludwig II dan juga Adolf Hitler!). Kisah-kisah operanya itu yang wajib dilihat. Bayangkan, ada legenda ksatria angsa (Lohengrin), ksatria pencari Holy Grail (Parzival), kisah cinta paling tragis sepanjang masa (Tristan und Isolde), epik tragedi yang paling menarik (buat gue) sepanjang masa (Die Nibelungenslied). Tuh, keren kaaaaan??? 

2. Berchtesgadener Alpen

Berchtesgaden adalah tempat impian gue buat tinggal sampai akhir hidup nanti :) Berchtesgaden adalah sebuah kota kecil (atau desa?) yang terletak di selatan Jerman berbatasan dengan wilayah Austria. Berchtesgaden dikelilingi oleh pegunungan Alpen yang dalam rangkaiannya terletak gunung tertinggi kedua di Jerman, Watzmann. Gambarnya yang di sebelah kiri ini. Berchtesgaden bukan sebuah pedesaan biasa. Ia menyimpan harta alam tak ternilai karena terletak di wilayah taman nasional. Di wilayah Berchtesgaden terdapat danau Koenigssee yang merupakan danau terdalam dan terjernih di Jerman. Tempat ini juga sangat bersejarah karena Adolf Hitler pernah membangun tempat persembunyian dan vila di wilayah ini. Tapi pada intinya tempat ini recommended karena keindahan alamnya. Masih banyak hal-hal menarik yang bisa kita temui di Berchtesgaden ini.

3. Rhein Valley

Lembah di sepanjang sungai Rhein ada di daftar nomor tiga versi gue. Di sepanjang sungai Rhein terhampar perkebunan anggur yang sudah ada sejak zaman Karl der Grosse (Charlemagne) yang menghasilkan wine yang lezat. Kastil-kastil abad pertengahan dengan setiap dongeng dan legendanya berdiri menjulang di kiri kanan sungai. Salah satu legenda yang terkenal di sungai Rhein adalah legenda Loreley. Sungai Rhein juga menjadi tempat yang penting dalam kisah Nibelungenslied. Semua pemandangan itu bisa didapat dengan berlayar menyusuri sungai Rhein dari utara ke selatan (Koblenz ke Rudesheim).

4. Saalfeld Feengrotten

Terletak di daerah Saalfeld di hutan Thuringia. Tempat ini merupakan sebuah gua besar bekas tambang mineral berupa batu bara dan lain-lain. Setelah ditinggalkan muncul mitos bahwa di gua ini tinggal bangsa peri-peri yang tak dapat terlihat. Gua ini merupakan salah satu gua terbesar di dunia dan yang pasti menurut Guiness Book World of Record tercatat sebagai gua paling berwarna di dunia. Di dalamnya terdapat danau dan mata air yang berwarna hijau kebiru-biruan. Cahaya yang masuk dari luar dan terpantul menghasilkan warna kuning emas kecoklatan yang membuat gua ini seperti berada dalam dongeng.

5. Brocken und die Hexenaltar

Urutan ke-5 adalah wilayah yang terletak di bagian tengah Jerman, terbentang dari Hesse sampai Thuringia. Pegunungan Harz yang salah satu puncaknya bernama Brocken atau Blocksberg. Pegunungan ini dikelilingi hutan misterius yang berkabut dan desa-desa tua yang konon didiami oleh para penyihir. Hutan Harz sangat berkabut hingga sering muncul fenomena alam yang disebut "Brockenspectre" yaitu semacam cahaya warna-warni seperti pelangi atau sosok bayangan yang sosok sesungguhnya tidak pernah ada. Di bagian puncak Brocken terdapat tumpukan batu granit yang disebut "Hexenaltar" karena menyerupai altar tempat para penyihir mempersembahkan sesajen atau mengorbankan sesuatu. Konon katanya pada malam St. Walpurga (Walpurgisnacht) yakni tanggal 30 April, para wanita penyihir akan terbang mengendarai sapunya untuk berkumpul di puncak Brocken dan berpesta mengelilingi api unggun besar bersama roh roh jahat yang lain. Legenda ini terdapat pula dalam salah satu karya Goethe, Faust.

6. Schloss Linderhof

Merupakan salah satu kastil yang dibangun oleh Koenig Ludwig II di wilayah Bavaria dan tidak jauh dari Neuschwanstein (tapi tidak dekat juga sampai tinggal ngesot doang nyampe). Istana ini tidak besar namun sangat indah, karena merupakan tiruan dari Versailles di Perancis versi mini. Seperti Versailles, istana ini berarsitektur klasik romanik dan dipenuhi patung-patung khas Yunani kuno dengan kolam-kolam air mancurnya yang indah. Istana ini juga dilengkapi taman-taman bergaya Perancis dengan patung-patung sejenis juga. Ruangan di kastil ini tidak banyak, namun ada satu kamar yang menjadi ruangan favorit Ludwig II dengan sebuah tempat tidur bernuansa biru muda emas yang langsung menghadap jendela besar dengan pemandangan taman dan air mancur. Romantis banget dehh... Lalu, sekalipun istana ini dibangun pada era Romantik (1800an di Jerman) ia sudah menggunakan teknologi canggih, seperti lift dan meja yang bisa muncul dari bawah lantai. Katanya Ludwig II tidak suka melihat pelayan bekerja menyiapkan makanan di depan dirinya dan berjalan ke sana kemari, maka makanan akan disiapkan di dapur di atas meja, dan setelah siap meja ditarik ke atas tepat ke ruang makan Ludwig II menggunakan sistem semacam lift. Tetapi, best feature dari istana ini adalah sebuah gua dengan danau dan perahu angsa tepat seperti dalam lukisan ksatria angsa Lohengrin di Neuschwanstein. Gua tersebut sendiri terinspirasi dari opera Tannhaeuser karya Wagner.

7. Saechsische Schweiz

Walaupun namanya berarti Saxon Switzerland, tetapi tempat ini ada di Jerman bukan di Swiss. Wilayah ini merupakan tebing-tebing berbatu yang berada di tepi sungai Elbe dan populer untuk olahraga panjat tebing. Selain panjat tebing, kita juga bisa sekedar berjalan-jalan (wandern) dan mencapai puncak tebing-tebingnya untuk melihat pemandangan sungai Elbe di bawahnya. Di daerah tersebut juga terdapat hutan-hutan dengan air terjun dan sungai kecil. Gambar di samping adalah sebuah jembatan tua yang menghubungkan puncak-puncak tebing di Saechsische Schweiz.

8. Wartburg bei Eisenach

Wartburg adalah sebuah kastil abad pertengahan yang berdiri megah di dekat kota Eisenach. Sekalipun rupanya tidak mirip, kastil inilah yang menjadi inspirasi Ludwig II ketika membangun Neuschwanstein. Kompleksnya yang luas dan memiliki halaman yang lebar di dalamnya dan dikelilingi bagian-bagian bangunan istana yang berdesain abad pertengahan digunakan untuk desain Neuschwanstein. Pada abad pertengahan, di kastil ini sering diadakan kompetisi Minnesang. Pada Minnesaenger berdatangan dari penjuru negeri untuk menampilkan puisi dan menyanyikan lagu-lagu karangannya. Yang terbaik akan mendapat hadiah berupa pernikahan dengan puteri tuan tanah pemilik kastil Wartburg, namun yang kalah dan tidak disukai tidak segan-segan dibunuh. Kompetisi Minnesang diadakan di ruangan yang disebut Sangersaal, ruangan ini juga ada di Neuschwanstein tetapi tidak pernah digunakan. Ruangan lain yang menarik adalah kolam pemandian yang digunakan para ksatria untuk upacara penobatan mereka. Kastil Wartburg inilah yang menjadi inspirasi Richard Wagner ketika menulis opera Tannhaeuser.

9. Heidelberg

Heidelberg merupakan kota pelajar yang terletak di barat daya Jerman. Universitasnya merupakan salah satu yang tertua dan tujuan studi terbaik mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Kota Heidelberg yang dilalui Sungai Neckar sudah sangat tua dan menjadi pusat turisme. Sebagai atraksi wisata kita dapat berlayar di Sungai Neckar dengan pemandangan kota tua gaya abad pertengahan di kiri kanannya. Dengan menaiki semacam kereta khusus kita juga dapat naik ke kastil Heidelberg yang telah jadi reruntuhan bersejarah. Sebelum memasuki kompleks kastil kita akan melalui Elisabethentor, sebuah gerbang yang dibangun oleh kekasih Elisabeth Charlotte, penguasa Heidelberg kala itu. Konon untuk setiap ukiran makhluk yang ada di gerbang itu dan dapat ditemukan oleh Elisabeth akan ditukar dengan sebuah ciuman dari kekasihnya. Kastil Heidelberg sudah tidak memiliki atap, sehingga ketika malam hari akan tampak bintang-bintang yang dapat disaksikan dari lingkungan reruntuhan kastil. Pada waktu-waktu tertentu di jembatan Heidelberg yang melintasi Sungai Neckar akan diadakan pertunjukan kembang api yang sangat indah.

10. Donauquelle, Schwarzwald

Donauquelle adalah sebuah mata air yang terletak di wilayah barat daya Jerman, di hutan yang terkenal dengan sebutan "Black Forest" atau Schwarzwald.
Donauquelle sama sekali bukan mata air biasa karena dari sinilah berasal sungai Donau atau Danube yang terkenal itu. Sungai Danube mengalir dari Jerman hingga Rumania dan melewati banyak negara. Wilayah Schwarzwald sendiri merupakan wilayah yang subur dan dipenuhi hutan-hutan. Wilayah ini terkenal dengan kue tart coklat dengan buah ceri yang lezat bernama Schwarzwalder Kirschetorte, yang kita kenal dengan kue Black Forest. Selain itu tempat ini juga merupakan satu-satunya wilayah di dunia yang memproduksi jam kukuk.

Nahh... itu dia daftar tempat-tempat yang wajib dikunjungi kalau ke Jerman, versi gue tentunya. Kebanyakan memang sesuatu yang tradisional, bersejarah dan bernuansa dongeng, Mungkin bagi kalian yang lebih suka wisata museum atau melihat kemodernan Jerman akan punya daftar sendiri yang sangat berbeda dari punya gue ini hehehe...

17.2.12

And Finally I Only Have to Open My Heart..

Berhubung belum jauh-jauh dari Hari Kasih Sayang (yang sebenarnya gak bener-bener gue rayain juga, bukan karena budaya Baratnya tetapi karena setiap hari sudah terasa Valentine buat gue, cieilaaahhh...), jadi gue mau curcol dikit soal Liebe.

Beberapa hari lalu gue sempat melakukan perenungan, ya semacam flashback tentang kehidupan cinta gue sejak yang pertama sampai yang sekarang. Kalau ditotal udah lumayan banyak juga orang yang gue "ekele"in dan yang meng"ekele"kan gue. (Hmm.. ekele itu bahasa ciptaannya temen gue, Abeth, yg artinya kira2 menggebet/suka, jadi kalo ada kata "ekele" artinya gebetan ya). Ekele gue dari yang pertama sampai yang sekarang tujuh. Satu di antaranya persis seperti impian gue, tapi di antara tujuh orang itu nggak ada yang sampai jadi. Di samping itu ada beberapa orang yang ngekelein gue juga (yang dalam waktu bersamaan gue sama sekali nggak mengekelekan mereka) tapi ada 2 yang jadi.

Sebenarnya untuk ukuran zaman sekarang gue terbilang agak telat mengalami yang namanya pacaran pertama kali. Kalau rata-rata orang udah pernah coba di SMP atau SMA, gue baru nyoba pas kuliah. Pas SMP kepentok aturan nyokap dan waktu SMA gak punya pemandangan karena di sekolah homogen. Jujur aja gue dulu sempat desperate juga kenapa kok teman-teman gue banyak yang suka atau berhasil jadi sama ekelenya sementara gue enggak. Banyak teman gue yang abis putus pasti ada aja yang gandeng lagi sementara gue jadian aja belom. Kata siapa gue gak pernah Upe (Usia Panik)? Nah tapi gue selalu punya senjata: gue menghibur diri dengan menyakinkan kalau jodoh gue emang bukan dari Indonesia tapi gue harus merambah dunia internasional yang memang gue impikan dari dulu. Emang sih kriteria gue ketinggian, secara fisik gue prefer orang Jerman, Slavia atau Skandinavia (ingat, bukan sekedar bule! tapi ada preferensi bangsa), secara karakter gue maunya yang jujur, setia, sabar, pengertian, romantis, lebih pintar dari gue, punya sifat kaya ksatria2 zaman Mittelalter dan belum pernah melakukan *piiiiiip* (yakali ada orang Jerman, Slavia atau Skandinavia yang kaya gini secara rata2 orang sana 13 tahun udah itu). Nah ketinggian kan, tuh??

Setelah beberapa kali gagal dengan ekele lokal gue gara-gara macem-macem alasan yang gue gak ngerti akhirnya gue merambah dunia internasional dengan ikut Deutschcamp. Di sana gue punya ekele orang Jerman, tinggi, cakep, pinter dan baik hati bernama Till Langrehr hahaha... eh sayangnya dia boro-boro ngelirik gue ternyata dia udah punya cewek pula. Yah, sedih deh... Dan jujur aja gue emang gak begitu dekat sama dia sekalipun gue udah berusaha sepertinya dia memang gak tertarik. Setelah dia gue sempat kenalan juga dengan beberapa orang Jerman yang menurut gue menarik via internet tetapi sepertinya mereka juga gak tertarik sama gue. Gue pun jadi desperado lagi dan berpikir jangan-jangan orang luar pun gak tertarik sama gue, apalagi setelah temen gue si Maya bilang muka gue terlalu cakep (huekkk narsis) buat orang bule yang biasanya seleranya sama muka mbak-mbak. -____-a

Akhirnya gue mulai berpikir, kalau gue terus-terusan berharap nemuin orang sempurna kaya kriteria gue itu kapan gue belajar menjalin hubungan. Apalagi sampai sekarang belum ada Praktikan ganteng yang masih muda dan mengajar di jurusan gue. Oke taruhlah gue baru jadian waktu gue udah di Jerman (paling cepat ya S2 dan itu kira2 umur gue udah 22-23 berarti 2 tahun lagi udah sampai usia ideal menikah). Saat itu pasti gue udah dikejar-kejar umur dan gak mungkin berlama-lama lagi pacaran kan? Sementara gue gak pengalaman pasti masih bego ini itu dan kekanak-kanakan, gimana caranya tuh orang bisa tahan? Sejak saat itu gue berpikir untuk pakai prinsip "carpe diem". Gue mulai berefleksi kenapa sampai kuliah belum jadian. Apakah gue tipe yang tidak disukai? Ternyata tidak juga, tapi kebanyakan orang yang mengekelekan gue itu langsung gue tepis dan usir karena jelas udah gak sesuai dengan kriteria gue. Gue gak pernah mau kenal dan lihat mereka lebih dalam lagi, gak cuma sekedar "kelokalannya" dan beberapa sifat minus yang membuat dia gak perfect dan dicoret dari daftar gue. Gue sombong banget berasa kaya putri bangsawan yang semuanya harus sempurna. Ya jelas aja gak ada yang jadi. Apalagi dengan orang-orang itu gue semacam membangun tembok tinggi dan pasang tulisan dijidat "gak mau didekati sama orang selain Jerman, Slavia atau Skandinavia".

Prinsip "carpe diem" itu sendiri bukan berarti jadian sama semua orang yang ngekelein gue, tapi lebih pada berpandangan realistis dan gak perlu lihat yang jauh-jauh kalau di sini sudah ada. Buat apa ngejar orang yang  gak jelas bakal ada atau tidak, atau yang gak suka sama kita sementara di dekat kita ada seseorang yang benar-benar menyukai kita dan menawarkan hatinya untuk kita? Siapa tahu dengan kita membuka hati sedikit dan membiarkan dia mencintai kita nantinya kita akan sadar bahwa orang itulah yang sebenarnya ditakdirkan untuk jadi pasangan kita? :') (duh, bahasanya...). Biarkan aja dulu orang itu (sekalipun gak sesuai dengan kriteria kita) mencintai kita dengan caranya, dari situ kita akan sadar kok orang itu sebenarnya berarti gak buat kita, pantas gak untuk kita habiskan waktu berlama-lama sama dia. Yang sesuai kriteria belum tentu yang terbaik juga buat kita, siapa tahu nantinya kita akan lebih bahagia dengan seseorang yang sama sekali gak bisa kita bayangkan? (contohnya gue sekarang :'D). Well, sometimes God gives me not what I want but what I need, and finally I only have to open my heart, to let him to love me through his own way... :) So far I'm happier than before :D

23.1.12

Dongeng yang Salah Tulis

.................
Sang ksatria bertemu putri di jendela menara dan hendak dijadikan kekasihnya. Wanita malang itu pun harus melintasi hutan belantara dan nyaris tersesat di dalamnya. Ia bertemu sosok penyihir jahat dan melarikan diri dari kutukannya. Lalu ia tiba di gua misterius yang tak berujung dan dihuni seekor naga besar penyembur api. Dihunuskannya pedang dan dikalahkannya naga itu. Dengan penuh luka hasil pertempuran berlarilah ia kembali ke istana menemui sang ksatria. Harta karun sang naga dibawa dalam tangannya.

"Ksatria, inilah harta karun persembahanku padamu, bersama segala perjuangan yang nyaris membunuhku. Aku melakukannya karena aku menerima cintamu..., " 


by LV~Eisblume
23.01.12
for all obstacle that i have to face, because i accepted your love...

10.1.12

Khayangan

pada ungunya langit
berseraknya putih awan-awan
cericit burung-burung pulang
canda tiupan angin pada mereka

daun yang terjatuh
kala rusak harmoni rantingnya
mencium tanah kering busuk
dipijak langkah anak Adam

tengah hutan tenang rapatnya
kesendirian menjadi luka tak terasa
semenjak daging menjelma baja,
benih serupakan buah sempurna

anak Adam dari mana berasal
kiri-kanan tak temu akar
suatu peristiwa di hulu
tak peduli dibuang mungkin

tengah hutan tenang rapatnya
kesendirian menjadi luka tak terasa
kala langit sangat ungunya
dipercik merah turun dari surga

lekuk wajahkah terbaca?
atau tubuh yang liuknya elok?
atau segala rupa perantara
mencipta sosok dewi jagad

hanya anak Adam di tengah
hutan membuatnya sendiri
seolah datangnya dewi
tancapkan sindiran padanya

dua mata yang terpana
membelalak keduanya; berbinar
penglipur kesendirian baginya tiba
tanpa mulut bisa berucap rupa

getarnya aura ketuk di hati
dari mana datangnya adinda...
cuma sedikit terusannya
dari kah..
       yang...
       an....


a poem by Ritter v.d.S
10.01.2012
for Eisblume..