15.9.13

Brynhild, Sigurd dan Kriemhild

Tarian malam pengikat cinta tiada kuasa menahan sang ratu utara

Ditinggalkannya ksatria pembunuh naga penunggang keberanian yang telah tembuskan dinding pagar api demi dirinya

Dalam beku salju dan ratapan angin kutub bersemayam sang bidadari putih dalam kesendirian

Dinantinya kesetiaan sang cinta yang kini terbangun dalam serpih-serpih kenangan bersama ucapan janji yang sempat terucap

Namun siapakah ksatria di dunia tengah tak melupa dirinya?

Tatkala mata bertemu dengan sepasang lainnya, yang lebih bersinar daripada harta karun Sungai Rhein

Melongok dari menara-menara batu menjulang dari kota bangsa Nibelung yang diabdinya

Sang penakluk dinding api dan penguasa harta karun Sungai Rhein terpikat hatinya pada putri Frankia berambut merah terurai panjang 

Kriemhild!



Dengan bantuan madu dan anggur dalam jambangan digenggam kedua tangan lembut itu terlupalah sang ratu utara bidadari putih masa lalu sang ksatria

Maka berpestalah keduanya dalam riuh rendah pemersatu janji di bawah salib pengganti dongeng dewa-dewi utara

Bertahun lamanya hidup sang ksatria pembunuh naga dan putri berambut merah dalam gelimangan harta karun anugerah Sungai Rhein

Dan lupalah mereka akan harta karun penuh kutuk yang ditimbunnya bersama kebanggaan di balik tembok megah istana

Hingga hitam gelap bernaung di atas kota membawa mati membawa duka membawa perpisahan

Dalam satu perburuan tercabut nyawa sang ksatria pembunuh naga oleh ujung tombak penasehat raja atas perkataan sang rambut merah

Banjir tangis mengalir demi sang ksatria yang dilepaskan pada dewi-dewi Sungai Rhein bersama gelimang harta karun berkilau milik mereka

Sampai sang ratu utara bidadari putih masa lalu sang ksatria jadi masa depan oleh pedang yang menyatu dirinya dan cinta

Kembali bercermin aku pada kaca kehidupan sadar akan siapa diri dalam legenda utara yang terlukis lewat baris-baris kata

Akulah Brynhild, masa lalumu yang terlupa oleh anggur madu dan helaian rambut merah sang putri Frankia

Dan siapakah kau, Sigurd, yang 'kan bersatu denganku dalam keabadian dengan dewa-dewi utara?


by LV~Eisblume
16.09.13
inspired by der Ring der Nibelungen



6.9.13

Nymphenburg 11.08.12

Di bawah pepohonan linde yang tua
Kupandangi keluasan danau di muka
Angin meniup angin mengalir
Membawa sejuk masuk merasuk
Ini kali pertama aku tiba
Pada negeri impian sang Raja Mimpi
Kisahnyalah yang kuikuti
Hingga kudapat berlari menjauhi mati
Kar'na realita yang menyakiti
Biarlah aku diam di sini
Sampai hidupku berakhir nanti
Tak ingin aku pulang
Dalam peluk tanah air yang malang
Izinkan aku terbang lagi
Menyusul ke alam mimpi


by LV~Eisblume
07.09.12
written in Schlosspark Nymphenburg, right at the place where this photo was taken :)

10.8.13

Deutschland, 6.Schritt: Endlich finde ich meine Welt :')

Sebetulnya ini langkah yang entah keberapa, tapi aku sudah tak sabar menceritakannya pada kalian. Dalam tulisan ini tertuang perasaan emosional yang sulit dijelaskan, maka aku memilih kata-kata yang lebih indah dari biasanya untuk menceritakannya pada kalian.

Sore itu hujan lebat. Udara dingin bertiup dalam angin dari barat laut, membuat aku berulang kali berpikir bahwa aku telah salah berpakaian (meskipun aku mengenakan cardigan ungu sebagai pelapis dan celana panjang berwarna merah muda). Tetap saja aku salah berpakaian, karena sepatu yang kukenakan terlalu cantik untuk menjalani cuaca buruk.

Di bawah atap museum Residenz yang berlukiskan fresko-fresko gaya Barock, aku dan kedua temanku, Domi dan Nataly berlindung dari hujan. Kami tak ingin melewatkan sedikit pun waktu kosong selama di Munich, hingga kami nekat menerjang hujan untuk melihat museum Residenz yang dulunya istana kediaman wangsa Wittelsbach. Tentang keindahan Residenz akan kuceritakan lain kali, karena bukan itulah hal yang terpenting pada hari itu.

Hari itu aku telah membuat janji untuk bertemu seorang teman. Ia tinggal di Munich dan sudah menikah. Kalian tahu di mana kami bertemu? Interpals! Tepat sekali. Situs pertemanan internasional itu tentu pernah kuceritakan pada kalian semua. Memang menyenangkan mencari teman di sana, terlebih kalau kalian menemukan seseorang yang sungguh-sungguh teman. Percaya atau tidak, aku dan temanku ini belum lama saling mengenal di Interpals. Ketika itu aku tengah mencari seseorang yang tinggal di Munich dan mampu membantuku dalam berbagai hal selama di Munich nanti. Lalu aku menemukan sebuah akun yang namanya terdengar indah di telingaku sebagai pecinta Mittelalter dan mitologi Norse. Nama itu kira-kira berarti "pejuang dunia tengah". Dunia tengah adalah istilah dalam mitologi Norse maupun karya-karya Tolkien untuk menyebut planet bumi tempat manusia tinggal. Sepintas melihat deskripsi sang pejuang tampaknya ia bukan orang yang akan senang berteman denganku. Bukan karena aku terpengaruh pandangan bahwa semua orang yang menyukai mitologi Norse adalah pendukung gerakan ekstrem sayap kanan, bukan. Tapi karena kadang-kadang aku merasa bahwa aku sama sekali tidak menunjukkan kesukaanku terhadap subkultur Mittelalter dari penampilanku. Intinya aku tidak punya bukti apapun selain isi otak dan musik-musik yang kudengar.

Singkat cerita, aku memberanikan diri mengirim sebuah pesan. Awalnya hanya mengomentari selera musiknya yang kurang lebih mirip denganku. Lalu lama sekali aku tak menerima balasan. Sampai akhirnya pesanku dibalas! Ia menanyakan beberapa hal dasar dan menceritakan sedikit tentang dirinya, yang ternyata seorang fotografer. Ia menanyakan apakah aku menyukai karya-karyanya. Oh ya, tentu saja, karya-karyanya bagus sekali. Kalian bisa melihatnya di sini: http://gelner-photography.de/index.php/en/ . Aku paling menyukai tema alam. Percakapan kami berlangsung singkat-singkat, karena entah mengapa ia jarang sekali berkunjung ke Interpals. Sampai akhirnya ia menanyakan apakah aku punya Facebook dan menyarankan agar kami berteman di sana juga karena rupanya ia lebih sering berada di Facebook.

Lewat Facebook, kami lebih banyak mengenal. Ia banyak bertanya tentang persiapanku ke Munich sekaligus menanyakan ke mana saja aku akan pergi. Aku pun bercerita bahwa aku sangat ingin melihat festival Mittelalter, yang sayangnya sedang tidak ada di Munich (belakangan aku tahu bahwa ternyata hal itu disebabkan karena di bulan Agustus sebagian besar penduduk Munich berlibur). Di saat yang hampir bersamaan, aku menemukan sebuah festival yang berlangsung di Fürth im Wald, dua jam dengan kereta dari Munich. Cave Gladium namanya. Aku menceritakan festival itu pada temanku ini. Balasannya cukup membuatku terkejut dan bahagia, ia menawarkan diri untuk menemaniku ke festival itu! Aku sangat senang, karena pada awalnya Mutti agak keberatan jika aku pergi sendirian. Selain tentang festival ini, kami juga banyak bertukar cerita tentang kehidupan yang lebih privat. Di sinilah aku mengetahui bahwa ia sudah menikah dengan seorang wanita dari Eropa Timur yang ternyata sangat cantik. Istrinya itu pun ingin bertemu denganku ketika aku tiba di Munich nanti.

Sebelum berangkat menuju festival Mittelalter, kami sepakat untuk bertemu langsung terlebih dahulu. Tanggal  9 Agustus kami sepakati bersama. Pada awalnya, kami akan bertemu di Hirschgarten, yang bagiku sedikit terlalu jauh, tetapi kemudian ia memberikan kebebasan padaku untuk menentukan tempatnya. Kukatakan bahwa aku akan pergi ke Residenz seusai kelas. Ia menawarkan Odeonsplatz sebagai tempat bertemu dan aku menyetujuinya. Kutambahkan sedikit petunjuk: carilah seorang gadis mungil dalam atasan ungu dan celana merah muda.

Dan demikianlah aku berpakaian. Sore itu aku berpisah dari Domi dan Nataly di Residenz. Sebuah pesan singkat menghampiri ponselku, menanyakan keberadaanku. Kukatakan bahwa aku masih di Residenz karena hujan, dan akan berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah Odeonsplatz dan menunggu mereka di sana, karena keduanya masih di Marienplatz, satu stasiun dari Odeonsplatz. Dengan ragu aku mengambil tempat duduk di lantai dua stasiun, berharap-harap cemas apakah akan mudah untuk menemukan kedua temanku ini, terlebih lagi karena ini pertemuan pertamaku di dunia nyata dengan seorang teman yang kukenal di dunia maya. Tepat ketika aku merasa tidak yakin akan ditemukan di tempat itu dan memutuskan untuk berjalan turun ke peron stasiun, mereka muncul di balik tangga dan memanggilku. Dengan bahagia aku berlari menghampiri mereka dan membuat sedikit kebingungan dengan menjabat tangan mereka (orang Jerman tidak berjabat tangan ketika berkenalan). Pertemuan pertama di dunia nyata dengan teman yang kukenal di dunia maya :")

Beberapa kalimat basa-basi kami lontarkan, hingga pada pertanyaan terpenting hari itu, karena itulah yang memutuskan segalanya: "Buch oder Mittelalter?" tanyanya. Dengan cepat, jawaban Mittelalter meluncur dari bibirku dengan penuh rasa bahagia dan semangat. Kami pun langsung menuju peron untuk naik kereta ke stasiun Sendlinger Tor, tempat satu-satunya toko Mittelalter di Munich yang temanku tahu. Dua stasiun kemudian, tibalah kami bertiga di Sendlinger Tor. Kami buka payung karena hujan masih terus turun. Kami harus segera mencapai tempat itu untuk berteduh menunggu hujan yang semakin deras.

Sebuah toko kecil dengan simbol ksatria berupa tiga fleur-de-lys menyambut kami di salah satu sudut jalan. Di balik kacanya tampak seorang ksatria berbaju besi berdiri tegap memandang ke arah jalanan. Mengikuti kedua temanku, aku segera melangkah masuk. Sungguh tidak ada kata yang mampu melukiskan betapa bahagia dan kagumnya aku pada toko kecil itu. Di dalamnya kutemukan berbagai jenis benda yang sebelumnya hanya dapat kulihat lewat foto atau rekaman video di internet. Berbagai macam perlengkapan yang biasanya hanya ada di festival Mittelalter menyambut kedua mataku dan memuaskan pandangannya. Pakaian, perabotan, aksesoris, buku, persenjataan, seragam, bendera, dan segala hal lainnya. Temanku membiarkanku melihat-lihat selagi ia berbincang-bincang dengan wanita tua pemilik toko. Wanita ramah itu kemudian juga mempersilakan aku untuk mengambil apapun yang kuinginkan dan mencobanya. Lama sekali aku menjelajah toko kecil itu, karena begitu sulit menentukan pilihan dari sekian banyak benda khas Mittelalter yang tidak ada di Indonesia. Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah tas khas Mittelalter (karena aku butuh tas untuk festival nanti), sebuah kalung Mjolnir Thor dan sebuah kalung dengan pahatan Rune Turisas. Sungguh, aku tidak menyangka akan pernah memiliki benda-benda yang selama ini hanya sukses membuatku melihatnya di monitor laptop dengan penuh keinginan.

Aku masih sibuk mengamat-amati ketika tiba-tiba wanita tua pemilik toko beralih padaku dengan wajah heran tetapi ramah:

"Kamu belum pernah mencoba Met?" tanyanya heran.
"Belum," aku menggeleng.
"Kamu belum pernah?? Ahh.., kalau begitu kamu harus mencobanya sekarang,"
Lalu diambilnya sebotol Met buatan rumahan dan empat buah gelas kecil untuk kami bertiga dan dirinya sendiri. Dituangkannya minuman beralkohol tertua di Eropa itu dalam porsi kecil ke dalam gelasku. Warna merah tua segera memenuhi gelas beningku. Kutatap ketiga orang di depanku itu dalam wajah bahagia.
"Prost!!" seru kami berempat dan mulai meneguk sedikit demi sedikit.
Rasa manis dan hangat segera memenuhi lidah, tenggorokan dan akhirnya berdiam dalam tubuh mungilku yang kedinginan oleh hujan. Rasa manis dan hangatnya sungguh membuatku meledak dalam kebahagiaan. Kami larut dalam percakapan yang menyenangkan diiringi musik-musik Mittelalter yang cukup sering mewarnai hari-hariku. Dari sekian banyak lagu yang kudengar di berbagai tempat umum di Munich, hanya rangkaian lagu ini yang familiar bagiku. Rasanya campur aduk, seperti ada satu sisi dalam diriku yang mengingatkan akan kehangatan rumah, rumah yang tak pernah kulihat sebelumnya, sementara sisi lainnya menerbangkan diriku ke sebuah alam fantasi yang selama ini hanya kutemui dalam dongeng dan legenda.

Kuceritakan bahwa di negaraku tidak ada hal yang seperti ini, sehingga aku sedih karena tak mampu memenuhi kesenanganku. Aku juga meminta izin pada wanita pemilik toko itu untuk mengambil beberapa foto. Betapa bahagianya aku ketika ia mengizinkanku mengambil foto toko kecilnya itu. Aku juga mendengar banyak cerita. Wanita tua itu rupanya bukan orang Jerman. Ia berasal dari Slovakia. Memang gayanya sedikit banyak mengingatkanku pada sosok wanita bijak di era Mittelalter, tetapi juga seperti seorang gipsi. Sementara itu, kedua temanku menceritakan tentang diri mereka. Kudengar bahwa istrinya yang cantik itu berasal dari Ukraina dan lulusan Germanistik. Ah, mendengar bagian itu membuatku sedikit iri. Wanita ini telah berhasil meraih impian yang sama seperti yang kuimpikan. Bagaimana tidak? Kuliah Germanistik, menikahi pria asal Jerman yang sama-sama menyukai Mittelalter dan bekerja di bidang seni. Bahkan selama di toko, beberapa kali kudengar mereka tertawa kecil membicarakan bahwa beberapa perabot rumah tangga di toko itu cocok untuk rumah baru mereka. Ah, menyenangkan sekali hidupnya. Kapan ya aku bisa mendapatkan impianku yang itu? :') Rasanya hujan telah membuatku sedikit lebih melankolis hari itu.

Sungguh hari yang menyenangkan, terlepas dari cuaca buruk yang bertahan sejak pagi. Aku benar-benar bahagia. Aku semakin merasa telah menemukan duniaku, dunia yang sangat ingin aku diami, yang jauh dari keramaian dan kegaduhan di tanah airku. Betapa bahagianya berada di tengah orang-orang dengan minat yang sama, berbagi keceriaan bersama dan melakukan perjalanan lintas waktu bersama. Aku harap ini bukan yang terakhir. Aku masih ingin menikmati Met yang manis dan hangat itu, sama seperti perasaan yang muncul dalam diriku hari itu. Akhirnya aku menemukan duniaku. Terima kasih untuk kedua teman baruku, Dennis dan Olga :)


viele liebe Grüße aus München,
LV~Eisblume


Dan ini oleh-oleh dari München, foto-foto dari toko Mittelalter :)








 
 

Deutschland, 5.Schritt: akhirnya nyasar juga!

Judul sengaja dibuat bahasa Indonesia supaya lebih lucu. Konon kata orang, dengan kita tersesat kita bisa menemukan diri kita. Ah, apa iya? Hal itu diiyakan oleh Lyrae yang sempat hilang di Frankfurt gara-gara kamus Langenscheidt. Setelah berhasil menemukan jalannya kembali, ia mendapat pelajaran berharga: ternyata ia mampu mandiri. Padahal sebelumnya baca peta aja nggak becus. Sebuah novel bertema perjalanan pun pernah mengatakan, bahwa dengan tersesat, kita akan menemukan diri kita. Gue sebetulnya nggak begitu mengerti sama kutipan itu, tapi mari dengan cerita ini dulu.

Begitu tiba di bandara München dan tukar uang, gue langsung menuju bus yang akan mengantar gue ke tempat daftar ulang. Bayangan gue tentang tempat daftar ulang: di dalam ruangan, udah ada meja-meja rapi berjajar dan staf penyelenggara kursus duduk rapi bersama setumpuk kertas dan dokumen para peserta. Gue datang, lalu ngurus administrasi yang kurang, termasuk beli tiket U-Bahn untuk sebulan, MensaCard buat makan di kantin dan kunci Wohnung yang baru bisa dipakai jam 2 sehingga kemudian gue di antar ke ruangan lain untuk menitipkan bawaan gue dan dipersilakan menjelajah kota München dan cari makan dengan kartu-kartu yang baru saja gue beli. Kenyataan yang gue dapat: ruangan masih dikunci dan belum ada apa-apanya, staf penyelenggara kursus pada duduk-duduk di rumput sambil ngebir, ngerokok atau ngobrol, gue disuruh taruh barang bawaan di situ dan dikasih nomor biar gak hilang terus disuruh pergi ke mana aja terserah tanpa tiket apapun dan balik ke situ lagi buat daftar ulang jam 2. Apa-apaan ini?? Ini Jerman?? Betul sodara-sodara -.-a

Nah, karena sudah terbiasa dengan ketidaksiapan dan jam karet bangsa Indonesia, akhirnya gue merasa hal tersebut biasa aja. Salah satu yang membedakan adalah karena di situ gue bisa meletakkan koper gue sesuka hati tanpa takut ada pencurian. Padahal di dalamnya ada sejumlah uang dan laptop :) Nah, nggak berapa lama kemudian gue ketemu temen gue, sesama orang Indonesia (biasa, ngumpulnya sama satu negara dulu buat survival haha...). Bukan cuma karena itu sih, masalahnya yang lain orang China semua dan mereka pada ngomong bahasa Mandarin dan gue nggak ngerti. Alhasil gue jalan sama temen gue orang Indonesia ini, namanya Haifa. Tujuan pertama kita adalah beli makan dan minum.

Setelah bertanya pada staf di situ tentang letak supermarket, kita pun berangkat. Katanya supermarket cuma 10 menit jalan kaki, tentu saja 10 menit yang dimaksud adalah 10 menit orang Jerman. Intinya kalau kecepatan jalannya nggak secepat teman kampus gue yang bernama Olly, tentu saja waktu 10 menit bakal ngaret haha... Sembari bernorak ria di jalanan Jerman (maklum, baru pertama kali ketemu udara kota sebersih itu), gue dan Haifa jalan ke supermarket yang katanya bernama Aldi Süd. Gue tahu supermarket ini dari seorang dosen yang pernah mengajar di kelas gue. Supermarketnya sih standar, seperti supermarket pada umumnya. Nah, perjalanannya itu yang mengesankan.

Baru tiba di Jerman pagi itu, gue sudah dihadapkan pada fakta bahwa ia tidak sebersih yang gue kira (walaupun masih JAUH lebih bersih dibanding Jakarta atau Depok sihh), karena gue menemukan ini:


Puntung rokok dibuang di jalan begitu saja!!! Aaaaa.. mimpi buruk banget ini !! Beruntung trotoarnya luas jadi sedikit terhibur. Sembari melanjutkan perjalanan gue berusaha menghibur diri bahwa memang nggak ada tempat di dunia ini yang benar-benar bagus dan benar-benar menyenangkan karena semua itu hanya ada di alam mimpi. Ini salah satu hal yang gue angkat di novel yang sedang dalam proses penulisan :) 

Lanjut. Setelah berdiskusi sebentar tentang arah dan tujuan kita, dengan berbekal melihat peta di samping U-Bahn, gue dan Haifa memutuskan untuk melihat Englischer Garten. Yah, penasaran aja, selain nggak terlalu jauh (bisa ditempuh dengan jalan kaki), kita sama-sama penasaran, seperti apakah taman di München? Untuk mencapai Englischer Garten dari stasiun U-Bahn tempat kita berhenti tadi (namanya Alte Heide), kita harus jalan sekitar 10 menit menyusuri kompleks pemakaman dan perumahan. Sempat mampir juga ke kompleks makamnya, yang ternyata bagus banget. Persis seperti yang ada di film-film horor Eropa kalau ada mayat bangkit dari kubur. Bagian tanahnya nggak jauh beda dengan yang ada di pemakaman Indonesia seperti di Pondok Kelapa, jadi hijau dan banyak bunga gitu. Yang membedakan, di sini nisannya gede-gede banget. Bentuk salib atau setengah elips, tapi bener-bener gede. Bagus dan rapi sekali. Di sana banyak orang tua berjalan-jalan dengan anjingnya, entah mau menjenguk keluarga yang dimakamkan atau mau merenungi hidup hehehe...

Sampai di Englischer Garten, suasana langsung berubah. Teduh dan sejuk banget deh pokoknya. Di sana sini tumbuh pepohonan yang daunnya cantik-cantik bentuknya, seperti maple. Langsung aja gue foto, berhubung nggak ada di Indonesia. Kebayang deh itu cantiknya kalau musim gugur :') Gue sempat berniat mencari pohon Linde, tapi karena terlalu banyak pohonnya jadi gue membatalkan niat gue itu. Kita berdua jalan menyusuri sungai kecil dan menyeberangi jembatan. Bersih banget sungainya. Rasanya seperti memasuki taman Eden atau dunia tempat tinggal peri dan elf. Oke, gue banyak berkhayal... hehehe... 


Nah..., ini gambar sungainya. Cantik ya.. bahkan dasarnya kelihatan lho :))

Awalnya kita berniat jalan jauh dan muter-muter, tetapi berhubung matahari agak terik dan pakaian kita kurang nyaman akhirnya gue dan Haifa memutuskan untuk memilih satu jalan dari empat cabang yang ada. Taman ini luas banget loh, lebih luas daripada Central Park di New York dan Hyde Park di London. Konon sih memang yang terluas di dunia :) Oiya, di bangku tempat kita duduk ada hal yang unik. Di situ ada semacam papan logam bertuliskan sebuah kutipan yang bagus:


Kira-kira artinya: "sekarang saya belum mengenal dengan sempurna, tetapi saya akan semakin mengenal, sebagaimana saya akan semakin dikenali." Nah, coba ingat-ingat lagi, apa sih yang ada di bangku taman di Indonesia ini? Misalnya di Kebun Raya Bogor deh. Hmm.. kalau enggak peringatan seperti jangan menginjak rumput, jangan buang sampah sembarangan ya jangan dicorat-coret, atau malah coretan coretan nama pasangan alay -.-a DUH!!

Cukup lama kita duduk di bangku ini, sambil ngobrol tentang rencana ke depan mau mengunjungi apa aja. Lumayan lama sampai angka jam di hp menunjukkan pukul 12.30 dan kita sadar bahwa kita belum makan! Akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Obrolan di perjalanan pulang beralih pada FC Bayern München dan die Mannschaft. Haifa bercerita kalau Philipp Lahm, pemain favoritnya, tinggal di wilayah elit di München karena dia saat ini termasuk pemain dengan gaji tertinggi di Bundesliga. Sambil memandangi rumah-rumah di kompleks elit di dekat taman itu, kita berkhayal kalau jangan-jangan salah satu rumah ini punya Philipp Lahm, atau paling enggak pemain Bundesliga deh. Hahaha.. ngayal abisss.. Tapi ya gitu, kita terus berjalan dan berjalan, sampai gue sadar kok jalanan ini ujungnya jauh banget dan gue nggak kenal satu benda pun yang gue lewati. Semakin lama rumahnya semakin elit dan besar, sementara waktu berangkat tadi kebanyakan yang kita lihat adalah Altbauwohnung. Gue pun sadar kalau kita salah mengambil jalan. Kita nyasar di hari pertama di München!! -.-a Beruntung kita belum jauh dari jalan yang benar. Akhirnya kita memutar balik ke Englischer Garten kemudian ke jalan yang awalnya kita lewati tadi hehehe...

Lalu apakah gue menemukan diri gue? Sebetulnya bukan pada saat nyasar itu gue mulai menemukannya, tetapi ketika merenung di bangku di Englischer Garten. Gue sadar bahwa kesempatan langka yang gue dapat ini betul-betul anugerah Tuhan. Gue nggak pernah menyangka sebelumnya kalau kesempatan akan datang secepat ini, berbeda dari rencana awal yang mungkin baru bisa terwujud setelah gue lulus dari S1. Di Englischer Garten, gue juga melihat bahwa hidup adalah sesuatu yang harus dinikmati. Ketika di taman itu gue bertemu dengan banyak manula yang masih sehat tengah berjalan-jalan dengan anjingnya. Gue heran aja, mereka udah hidup mandiri dari anak-anaknya, masih pada sehat pula. Sepertinya bahagia gitu deh. Terus gue ingat kalau di Jerman itu bahkan toko-toko tutupnya cepat (jam 8 malam) dan hari Minggu pasti tutup. Gue jadi sadar bahwa para pekerja di toko dan segala macam stafnya itu sebetulnya sama seperti orang dengan pekerjaan lain. Mereka juga butuh libur dan istirahat. Berbeda dengan di Indonesia yang orang bisa kerja 24 jam nonstop, misalnya untuk toko-toko yang buka sepanjang hari. Kapan istirahatnya kalau begitu? Lalu percuma kalau dapat uang cuma bisa dipakai untuk pengobatan sakit karena kerja terlalu lama -.-a

Satu lagi, tradisi untuk meliburkan diri di hari Minggu sebetulnya berasal dari ajaran gereja di Eropa dulu kalau hari Minggu hari Tuhan yang harus dikuduskan. Meskipun pada saat ini banyak orang di Jerman yang sudah nggak ke gereja, intinya dengan libur sehari itu mereka menghargai diri sendiri dengan memberikannya waktu istirahat. Di sini gue dapat dua rahasia kebahagiaan: pertama, jangan melupakan Tuhan, paling enggak kasih satu hari atau satu waktu khusus buat Dia, dan kedua, menghargai diri sendiri dan jangan terlalu memaksakan diri meskipun apa yang kita lakukan bertujuan baik semisal cari uang atau ngejar nilai :)


liebe Grüße aus München,
LV~Eisblume



7.8.13

Deutschland, 4.Schritt: Eine Lange Reise

Maaf ya pemirsa eh.. pembaca, gue telat posting di sini. Maklum, terlalu bahagia melihat München hahahaa... Nah di sini gue mau cerita tentang perjalanan panjang gue menuju negeri impian ini. Gue berangkat tanggal 2 Agustus petang, sekitar jam 6. Pas awal-awal rasanya susah banget deh mau pisah sama keluarga. Maklum, gue orangnya bisa dibilang manja dan gue belum pernah perjalanan sejauh itu sendirian. Iya, benar-benar sendirian, bukan cuma sekedar tanpa keluarga tapi ada temannya. Tadinya gue mau masuk buat check in jam 3an, tapi berhubung gue takut nanti makin susah berpisah alhasil gue pamitan aja langsung. Makin cepat makin bagus, pikir gue. Dan benar saja, begitu gue masuk lewatin pintu dan pamitan sama Mutti dan Lyrae tiba-tiba langkah terasa ringan. Isi otak gue bahagia banget membayangkan pertama kalinya gue sendirian dan bisa ngapain aja! Yahh.. ada satu hal yang nyebelin sih.. koper gue berat dan bawaan gue banyak banget :(
Tantangan pertama gue adalah menemukan loket check in, yang ternyata setelah tanya orang langsung bisa ditemukan hehehe.. Lewat imigrasi lancar dan lancar terus sampai ruang tunggu mau ke pesawat. Nah, di ruang tunggu itu tuh banyak pemandangan. Cowok-cowok berbahasa Jerman yang ganteng-ganteng seliweran di mana-mana. Agak ngarep ada yang ngajak ngobrol sih, tapi sayangnya mereka pada sibuk sendiri. Sama handphone, sama temennya, atau bahkan sama pacarnya. Hiks.. :( Pas naik ke pesawat gue pun berharap bisa duduk sama native speaker Jerman. Lumayanlah buat belajar dan ngobrol-ngobrol dikit. Ternyata gue kurang beruntung. Sebelah gue kakek-kakek orang Indonesia yang kerja di perusahaan gas asal Qatar. Bleh. Tapi ternyata si kakek ini ramah. Dia ngajakin gue bicara dan kita diskusi soal masa depan Indonesia dan multikulturalisme. Seru juga sih. Dia bilang Indonesia itu bakal kacau di masa depan, katanya karena rakyat udah nggak percaya pemerintah lagi. Gue iya-iya aja, berhubung emang kelihatan begitu. Terus bagian yang paling seru adalah ketika dia cerita bahwa dia dari Aceh, tapi udah nggak solat karena menurut dia zaman sekarang udah ga ada agama yang benar. Dia juga bilang kalau anaknya nikah beda agama di gereja. Wedeww.. seru banget yak kalau dapat mertua kaya begitu cueknya sama keyakinan menantunya :)

Balik lagi ke perjalanan panjang. Gue nggak suka sama sekali perjalanan itu. Kenapa? Pertama, jadwal makan yang kacau. Orang lagi enak-enak tidur tiba-tiba lampu nyala dan pramugari dorong-dorong troli buat bagi-bagi makanan, padahal 2 jam sebelumnya baru aja dikasih makan. Kedua, lama banget, alhasil kaki pegel parah, bahkan sampai gak tau mau ditaruh di mana itu kaki. Mana gue sempat mengalami susah tidur pula karena pegel. Untungnya gue menemukan album Valtari-nya Sigur Ros di daftar lagu-lagu yang ada di pesawat. Gue pun berhasil tidur nyenyak dalam buaian senandung Islandia sebelum dibangunkan pramugari yang berisik -.-a

Sampailah gue di Doha dan mendapati bahwa ternyata transit di sana rebek banget. Tengah malam kita disuruh turun di tengah landasan yang membelah gurun lalu dipindahkan dalam bus-bus menuju terminal transit yang lumayan jauh. Mana gue bawa ransel segede gaban. Udah ngantuk parah super berat pula. Belum jalanannya muter-muter pas mau ke security check. Dan di bandara inilah terjadi sesuatu yang menyebalkan. Di tiket gue tertera waktu boarding pesawat ke München pk 1.20. Ketika gate dibuka, gue langung tancap gas mendekati gate supaya bisa cepat selesai urusannya dan naik ke pesawat. Tapi bukan München tujuan yang tertera di layar, melainkan Kigali dan Entebbe (yang belakangan gue baru tau kalau letaknya di Uganda). Pantesan yang masuk kok orang Afrika semua. Alhasil di depan pintu gue dan banyak orang Jerman lain kebingungan dan menggerutu. Setelah protes sana protes sini, akhirnya dibukalah gate untuk tujuan München, empat puluh lima menit setelahnya tentunya -___-a

Berhubung gue udah superngantuk, pas sampai di pesawat gue langsung tidur aja. Sempat ngobrol sedikit banget sama tetangga kiri kanan, yang kiri orang Afrika (nggak tau negaranya) yang mau mengunjungi temannya di München, yang kanan bapak-bapak Jerman muka ala Völkerwanderung dan berbadan gendut. Mereka mengira gue orang Jepang! hahahaa... dari mananya coba? Habis ngobrol sebentar itu gue langsund tidur, bahkan sampai melewatkan makan sahur (seriusan ini makan sahur, soalnya baru dibagiin jam 3an gitu!). Saking lelapnya tidur gue baru bangun waktu sarapan pagi dibagikan. Heran, sarapan pagi jauh lebih enak dari menu makan siang, malam, sahur, dll itu. Waktu itu langit udah mulai terang dan tetangga duduk gue membuka jendela. Waktu gue lihat peta di layar TV, ternyata kita udah di atas Austria. Terus kelihatan gitu puncak-puncak pegunungan Alpen yang menyembul dari awan. Salah satunya pasti Großglockner :3 Makin nggak sabar pengen turun!!

Sekitar dua puluh menit kemudian pesawat mendarat. Franz Joseph Strauss Flughafen München! Bener ya kata Lyrae, begitu sampai tuh rasanya supersangatamatsenangtidakterlukiskanlagi. Semacam nggak nyangka banget bakal menginjakkan kaki di neger impian. Semakin nggak sabar mau keluar dari bangunan bandara, tapi yah begitulah, mau ke tempat imigrasi aja jauhnya keterlaluan. Satu hal lagi yang aneh, super sepi! Gue sampai mikir jangan-jangan cuma kita doang pesawat yang mendarat. Dan kayanya bener deh, soalnya waktu mau ambil koper, cuma ada bagasi dari pesawat gue doang.

Karena gue harus mengejar bus yang jam setengah sembilan, gue langsung buru-buru ke Munich Airport Center buat tukar duit. Nah di sini nih ujian pertama bahasa Jerman gue, berhubung sama petugas imigrasi nggak ditanyain apapun dan bisa langsung ngeloyor begitu aja setelah dia lihat paspor gue. Padahal orang Timur Tengah yang berdiri di depan gue ditanya-tanyain lama banget hehehe.. mungkin si petugas udah muka gue muka gampang berintegrasi heheheh.. :P Ujian pertama gue adalah bertanya ke bagian informasi tentang letak money changer. Dan.. berhasil!! Gue menemukan money changer dan segera menukar uang sisa yang belum ditukar. Habis itu nyempetin diri ke MAC buat foto-foto. Biasa, buat sumber novel hehehee... Begitu melangkah keluar dari bandara. Oh my God..., udara 15 derajat langsung menyambut dengan kesegaran dan kesejukan luar biasa. Buru-buru gue ambil foto pemandangan di situ, termasuk Biergarten dan Maibaum yang supertinggi (gue belum tahu kalau yang tertinggi ada di Viktualienmarkt). Setelah beberapa foto gue pun berlanjut ke bus yang akan mengantarkan gue dan yang lain ke tempat registrasi ulang. Senangnya sudah sampai di München dengan selamat :))

31.7.13

Deutschland, 3. Schritt: Einpacken !!

Deutschland, 3. Schritt: Einpacken !!

Kalau semua berkas-berkas seperti paspor, visa, tiket, dll sudah siap, yang berikutnya dilakukan adalah hal yang paling bikin sebel gue kalau mau pergi: packing! Duhh... tau sendirilah gue nggak bisa banget packing dengan beres. Gue tipe yang selalu masukin barang yang gue takut bakal dibutuhkan padahal kadang-kadang ujung-ujungnya enggak. Gue juga tipe yang nggak mau keluar duit banyak pas di sana akhirnya bawa semuanya dari sini aja meskipun bikin koper berat dan penuh -___-a nggak berbakat banget nih jadi traveler, tapi ya mau gimana lagi kalau keterbatasan dana. Misalnya nih ya, di München nanti gue belum tahu apakah bakal dapat kamar yang ada dapur komplitnya atau dapur kosong tanpa alat masak. Katanya penyelenggara kursus, hal itu baru bisa ketauan pas gue udah sampai di sana. Nah, akhirnya gue memutuskan untuk bawa panci dan wajan teflon kecil. Padahal sebetulnya gue bisa aja nggak bawa terus mengandalkan makan menu-menu kantin. Tapi gue ogah banget berhubung sekali makan bisa sampai 5 Euro. Mending gue masak deh lebih hemat. Nah itu dia contoh gue yang membawa barang yang cuma bikin penuh koper doang.

Hal lain yang juga gue masukin di sana dan gak penting adalah: kostum mittelalter gue berikut hiasan rambut dan sepatunya! Hahaha... nggak penting super kan?? Yah, gue bawa ini sebetulnya karena memang ada rencana untuk ke festival Mittelalter bareng temen gue orang Jerman tanggal 15 Agustus (hari libur di München jadi gak ada kuliah yeyeye~). Padahal untuk festival itu gue gak wajib pakai kostum. Bisa aja gue memilih datang sebagai turis biasa dengan pakaian santai untuk jalan-jalan. Tapi ya gitu, gue nggak mau. Nggak afdol ah kalau ke festival mittelalter nggak pakai kostumnya juga (sama kayak ke festival Jepang gak pakai baju cosplay atau gaya Harajuku). Belum lagi teman gue ini seorang fotografer dan memang sedang cari model. Kali aja kaaaan~ (hueekk ... pede jaya -___-a).

Dengan banyaknya barang yang dibawa, akhirnya gue harus cari akal supaya koper gue muat dan gak terlalu berat (harus dibawah 30 kg, kalau perlu di bawah 20 kg deh..). Gue browsing dan menemukan situs ini: http://www.myromanapartment.com/travel-light-bag-pack-single-suitcase-month-trip/ . Bagus juga sih tipsnya. Gue ikuti tips ini dan berhasil, sekalipun kalau si penulis artikel itu memasukkan buku dalam kopernya, gue menggantinya dengan makanan instan dan alat masak, sementara buku gue bawa di ransel. Tapi sebetulnya bukan itu masalah utama gue. Masalah utama gue adalah memilih baju yang akan dibawa. Nggak seperti orang-orang lain, gue nggak mau tiap hari cuma pakai jeans, T-shirt dan jaket doang. Bosan banget. Padahal kesempatan ke Eropa di musim panas adalah salah satu kesempatan yang terbaik untuk bebas berekspresi dengan pakaian. Tidak seperti di sini yang kalau kita pakai tank top dan mini skirt aja udah disuit-suitin abang-abang ojek, di München asal nggak telanjang orang bodo amat sama pakaian kita. Lihat saja foto yang diambil di suatu weekend yang super panas di München ini: https://twitter.com/huwba/status/360790433539956737/photo/1

Balik lagi ke baju yang bakal gue bawa, akhirnya setelah browsing di sana sini gue menemukan beberapa tips oke. Ada tiga tips penting yang gue ikuti:

  • Ambil semua pakaian yang ingin kita bawa lalu buat kombinasi pakaian yang berbeda sebanyak mungkin.
  • Bawalah pakaian-pakaian yang bisa dikombinasikan dengan beberapa pakaian lain, bukan yang hanya bisa satu kombinasi saja.
  • Bawa pakaian tebal sesedikit mungkin di musim panas. Jika kedinginan lebih baik untuk mendobel pakaian daripada membawa sweater tebal atau jaket tebal.
Selain tiga tips ini, gue juga tanya ke teman gue yang orang München tentang cuaca dan suhu di sana selama bulan Agustus. Katanya, suhu tertinggi bisa mencapai 30°C lebih, tetapi bisa jatuh juga ke suhu terendah yaitu sekitar 16°C-18°C. Dia menyarankan agar gue membawa Pullover (Turtleneck) supaya nggak kedinginan pada suhu-suhu seperti itu. Teman gue yang lain menyarankan agar gue membawa satu jaket saja yang cukup hangat. 

Setelah terkumpul semua pakaian yang kira-kira gue mau bawa, berikutnya adalah mencoba membuat beberapa kombinasi pakaian. Gue berhasil membuat 26 kombinasi pakaian. Itu pun masih bisa lebih, tapi berhubung keterbatasan waktu akhirnya gue putuskan untuk mencukupkan dengan 26 kombinasi itu. Nah, berikut ini beberapa kombinasi yang gue buat:

Blazer + tank top merah + rok summer floral + topi + sepatu casual
baju andalan buat ngampus eheheheh.. :)


Long sleeved Tee + legging + red shawl + running shoes
Baju buat pas berangkat :)

Pink weatherproof jacket + red tank top + polkadot mini skirt + legging + wool hat + running shoes
Ini buat piknik ke Neuschwanstein kalau cuacanya bagus. Pas lagi acara sunbathing tinggal buka jaket sama leggingnya :)

Purple pullover + pink skinny jeans + running shoes
ini buat piknik ke Salzburg, karena daerahnya bergunung-gunung dan dingin :)

Secara keseluruhan pakaian yang gue bawa ada 4 kaos, 5 tank top, 1 blazer, 2 kardigan, 1 jaket weatherproof, 3 rok (satu panjang), 3 celana panjang, 1 jeans, 2 celana pendek, 1 dress untuk pergi ke gereja, 1 dress batik untuk acara penganugerahan piagam atau kalau ada Kulturabend, 2 piyama, 1 set kostum mittelalter, 1 sepatu casual, 1 wedges yang agak resmi, sisanya ada topi, shawl, handuk, undies dan toiletries plus alat masak dan beberapa makanan instan. Untuk berangkat gue akan pakai kaos lengan panjang, shawl, legging dan running shoes. Itu banyak banget sih setelah gue lihat-lihat, tapi akhirnya muat dan oke juga dibawa. Mudah-mudahan nggak melebihi kapasitas deh itu koper -__-a

Terus di ransel gue bawa apa ya?? Di ransel ada laptop beserta charger dan printilannya, kotak aksesoris seperti karet rambut dan jepit, kotak bekal dan tempat minum kosong, tas untuk kuliah, binder, tempat pensil, obat-obatan, kamus, suvenir untuk dibagi-bagi di sana, charger hp dan charger kamera. Gue juga bawa tas kecil satu lagi untuk berkas-berkas perjalanan, kamera, hp, notebook kecil, dan satu buku yang gak boleh ketinggalan banget karena itu buku yang menginspirasi gue banget untuk memperjuangkan perjalanan ini, judulnya The Sound of Munich karya Suzanne Nelson :)

Nah, demikianlah barang-barang yang gue bawa dan menghasilkan satu koper beroda ukuran sedang, ransel besar dan satu tas kecil hahaha.. sungguh tidak mencerminkan seorang traveler yang baik. Tapi ya memang gue bukan traveler ya.., gue mahasiswi biasa dengan kondisi ekonomi yang sangat "mahasiswa" juga hahaha.. :P





26.7.13

Hanya Sebuah Khayalan yang Ketinggian

Di beberapa tulisan sebelumnya, gue selalu menekankan bahwa mimpi adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan usaha keras dan fokus. Tapi di tulisan yang kali ini gue memutuskan untuk membagikan sedikit pemikiran (atau kegalauan?) gue berkaitan dengan mimpi ini. Pertanyaan seputar apakah gue sebetulnya sudah kebanyakan mimpi sebetulnya sudah sering bertualang di kepala gue. Ya, jujur aja sebagai tukang mimpi yang beberapa mimpinya sudah tercapai, tetap aja sebagai manusia gue merasa kurang. Gue merasa ada banyak mimpi yang belum diwujudkan tapi waktunya sedikit, atau malah terasa nggak mungkin. Sejauh ini mimpi-mimpi gue yang tercapai diperjuangkan dengan doa yang banyak, kemampuan kognitif dan harapan. Dan itu semua nggak mudah. Rata-rata butuh perjalanan panjang, gagal di sana-sini dan lain sebagainya. Gue pengen juga kadang-kadang ketiban mimpi yang tiba-tiba, yang karena keberuntungan gitu. Ok, baiklah, gue pernah sih beberapa kali ketiban keberuntungan kecil-kecil, termasuk menangin satu mini CD lagu Mittelalter yang jelas gak bakal dijual di Indonesia, tapi bukan mimpi seperti itu yang gue maksud.

Mimpi yang gue maksud sedikit banyak disebabkan oleh diri sendiri yang kebanyakan baca komik, baca novel romantis, nonton film atau bahkan ngepoin teman sendiri. Nah, ini nih yang mulai membuat gue berpikir bahwa gue udah kebanyakan melakukan hal-hal itu. Atau sebetulnya bukan benda-benda itu sih yang bikin gue jadi tukang mimpi, tapi guenya sendiri yang masih sulit mendefinisikan beberapa hal di dalamnya sebagai "khayalan belaka" dan bukan "realita yang mungkin aja terjadi". Gimana ya, kadang-kadang gue suka ngarep berlebihan sih kalau-kalau kejadian-kejadian di komik, novel dan film itu bisa terjadi beneran sama gue. 

Apa sih sebetulnya yang ada di komik, novel atau film yang gue nikmati sampai jadi kebanyakan mimpi itu. Yah.., sebetulnya ujung-ujungnya persoalannya sama sih, masalah masa depan. Lebih jelasnya, bertemu seseorang yang akan jadi masa depan kita. Gue heran ya kenapa sih kalau di komik, novel atau film itu kejadiannya selalu menarik (ya iyalah kalau ngebosenin atau biasa banget ntar gak ada yang beli -.-a). Misalnya nih, di novel romantis pertama yang gue baca, judulnya Love in Prague karyanya Riheam. Pasti banyak deh yang udah baca ini. Sebetulnya cerita cintanya biasa aja sih, tipikal teenlit gitu. Tapi kenapa yah, kok dua karakternya ini bisa jatuh cinta dengan latar belakang kota Praha yang cantiknya to the max? Padahal nih ya, kalau yang namanya jatuh cinta tuh mau kejadiannya di perkampungan kumuh pinggir rel dekat tempat pembuangan sampah pun rasanya tetap aja semua jadi indah banget, apalagi di kota secantik Praha :'3 Atau cerita yang ditulis sama empat penulis lokal, yang judulnya Travelers' Tale: Belok Kanan, Barcelona. Dua tokoh yang tadinya nggak disangka-sangka malah ketemu dan akhirnya nikah. Dan mereka jadi mengenal satu sama lain lewat perjalanan panjang yang mereka lalui untuk sampai di Barcelona. Mengenal seseorang dan jadi suka dalam suatu kesempatan melakukan perjalanan bersama itu menurut gue keren banget. Novel-novel kayak gini tuh sekarang lagi menjamur banget dan merekalah satu-satunya kelompok novel cecintaan yang gue masih suka baca (soalnya gue gak suka yang settingnya cuma di sekolah, kampus atau kehidupan perkantoran. Bosen banget -,-"). Gimana nggak makin berkhayal coba. 

Sebetulnya cerita-cerita di komik nggak sampai seheboh novel sih, karena mereka kebanyakan bersetting sekolah atau kampus. Tapi tetep aja ya, apapun yang mereka lakukan di sana, atau adegan-adegannya terasa "lebih" daripada dunia nyata. Adegan favorit gue misalnya kalau ada karakter yang pasangan lagi kencan di taman ria. Terus pas naik ferris wheel tiba-tiba tanpa sadar mereka ciuman. Atau misalnya mereka baru pdkt terus pas di puncak ferris wheel itu mereka jadian. Hmm.. gimana ya, waktu gue jadian kayanya gak ada yang sampai segitunya. Tempat jalan terromantis paling museum atau Kota Tua (yang udah banyak alaynya jadi bikin males -.-a). Itu pun pergerakannya terbatas oleh norma-norma ketimuran yang sebetulnya masih gue pertanyakan kenapa. Hmm...

Menjelang keberangkatan gue ke Jerman, gue pun semakin berkhayal ketinggian. Masalahnya, orang yang bakal jadi masa depan kita itu kan bisa ada di mana aja. Kalau gue diberkati dengan cerita hidup yang menarik seperti novel dan film, bisa aja orang itu ada di kursi samping gue pas di pesawat, di ruang tunggu bandara, di segala sudut kota Munich, di antrean panjang menuju Neuschwanstein, di dalam U-Bahn/S-Bahn, di suatu sudut di kota Salzburg ketika gue tengah berpetualang sendirian di sana, di tengah keramaian festival Mittelalter yang mungkin gue datangi, di dalam perpustakaan LMU ketika gue mencari bahan untuk skripsi, bahkan di kamar tetangga di Wohnheim. Atau bisa aja orang itu sebetulnya teman lama di Eropa yang jauh-jauh datang ke Munich ketemuan langsung dan lalu berlanjut sampai... ehem. >////< 

Yah... gue gak mau berharap muluk-muluk sih. Sampai saat ini gue cuma berdoa supaya perjalanan gue ini membawa sesuatu yang berguna dan menyenangkan, termasuk pengalaman-pengalaman seru yang tidak terlupakan. Berkaca pada pengalaman teman-teman gue, sebut saja si A, si D dan si S, semua berani melepaskan masa lalunya dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan setelah berani melepas masa lalu gue, gue pun memperoleh masa depan yang lebih cerah dan mimpi-mimpi lain yang tercapai. Amin. :)


14.7.13

Deutschland, 2.Schritt: Visum Beantragen

Selangkah mendekati Jerman. Saatnya saya mengajukan permohonan visa ke kedutaan Jerman. Rupanya walaupun segala macam prosesnya sudah dijamin DAAD, alias gak perlu bayar lagi sekitar Rp700.000,- ternyata prosesnya lumayan ribet hehee...

Berbeda dari pengajuan visa umum, saya cukup membawa beberapa dokumen saja, yaitu: formulir pengajuan visa diisi lengkap, foto 3,5x4,5 biometris yang nggak boleh senyum dan harus kelihatan kuping jadi bikin saya kelihatan kayak tante-tante galak, paspor yang masih berlaku min. 3 bulan sebelum tanggal berakhirnya, surat undangan dari universitas penyelenggara kursus (Teilnahmebescheinigung), keterangan jumlah beasiswa yang diterima (Annähmeerklärung), surat keterangan dari jurusan tempat kuliah, dan keterangan pemesanan tiket pesawat. Nah.., begini kira-kira yang tertera di email yang saya terima dari pemberi beasiswa.

Tanggal 24 Juni 2013 saya telah membuat janji dengan pihak kedutaan pukul 10.00 pagi. Pembuatan janji ini bisa dilakukan di website resmi kedutaan bagian pengurusan visa. Email bukti pembuatan janji juga harus dibawa. Nah, karena biasanya pagi-pagi jalanan Jakarta dirambati kemacetan, alhasil saya berangkat dari rumah pk 08.00. Begitu keluar sampai jalan besar Pancoran, benar saja, macet luar biasa! Ternyata sopir taksi yang menyupiri saya pintar, sodara-sodara, dia menyarankan untuk lewat tol. Awalnya sih agak keberatan, habis 'kan itu berarti keluar uang lagi. Dia bilang, kalau lewat tol macetnya cuma sebentar. Dan saya pun memutuskan untuk ikut. Pertama-tama agak skeptis sih, dan saya merasa dibohongin, habis macetnya lumayan panjang. Sampai tiba-tiba terdengarlah sirene mobil polisi. Si sopir taksi langsung membuat ancang-ancang. Ternyata itu rombongan pejabat lewat. Segera si sopir mengemudikan taksinya tepat di belakang rombongan dan jalan tol tiba-tiba terasa lengang karena pengemudi lain menepi semua. Dalam sekian detik tiba-tiba saya sudah sampai di Semanggi. Niat datang pagi supaya nggak terlambat eh malah jadinya terlalu cepat. Alhasil saya harus menunggu satu setengah jam sampai giliran saya dipanggil ketika di loket visa itu.

Gimana sih prosesnya ketika mengajukan visa itu? Jadi pertama-tama harus absen dulu sama satpam yang jaga di pintu depan. Nomor paspor kita dilihat dan dicocokkan sama catatan yang dimiliki pihak kedutaan tentang janji yang sudah dibuat. Habis itu kita masuk dan lewat bagian pemeriksaan tas. Waktu itu handphone harus dimatikan dan diberikan ke satpam. Handphone kita ini lalu dimasukkan di loker dan kuncinya diberikan pada kita buat diambil lagi waktu pulang. Selanjutnya naik deh ke lantai dua, bagian pembuatan visa. 

Di atas kita diabsen lagi sama mbak-mbak petugasnya. Intinya kita konfirmasi kalau sudah tiba, nanti nama kita diberikan ke penjaga loket dan kita disuruh nunggu sampai dipanggil. Astaga..., nggak ada handphone, bosennya minta ampun nunggu sampai satu setengah jam. Mana tempat duduk terbatas, jadi gak bisa ditinggal jalan-jalan. Apa ya kira-kira yang saya lakukan? Hehehe.. betul sekali sodara-sodara, saya mengepo!! xD Duduk saja diam di situ dan dengarkan pembicaraan orang di sekitar. Wah.., alasan mereka ke Jerman macam-macam ya.. Ada yang kuliah S2, ada yang mau bisnis, ada yang liburan, tapi yang paling bikin iri sih waktu ada dua orang keponakan dan tantenya yang sibuk ngobrol kalau mereka ke Jerman buat menghadiri pernikahan saudaranya. Duhh.. jadi pengen deh kayak saudaranya itu.. :) Kapan ya nyokap saya jadi seperti tante itu hehehee...:P

Akhirnya tibalah giliran nama saya dipanggil. Saya masukkan semua dokumen yang saya bawa ke loket. Setelah dicek oleh petugasnya, lalu saya cek ulang, saya boleh pergi. Satu-satunya pertanyaan yang saya dapat adalah: kamu di kota mana kursusnya? Hehehee... Lancar jayaaaa~ Saya pulang dengan selembar kertas semacam bukti pengajuan visa dan tanggal pengambilannya, yaitu 28 Juni.

* * *
28 Juni. Hari itu saya berencana berangkat lebih siang, berhubung janji jam 10 dan kalau urusan ambil visa, kita harus ngantri di luar pagar -___-a Saya berangkat jam setengah sembilan. Sopir taksi yang kali ini tidak sepintar yang sebelumnya. Ia lewat jalan lain untuk menghindari macet dan ternyata malah macet. Di tengah kemacetan itulah tiba-tiba saya ditelepon oleh pihak kedutaan. Mbak-mbak tersebut mengabarkan kalau asuransi saya dari DAAD hanya menjamin sepanjang hari kursus, alias tanggal 5-28 Agustus! Sementara itu gue sudah tiba di Jerman tanggal 3 dan baru pulang tanggal 29. Mbak itu juga mengatakan bahwa saya harus mengurus asuransi untuk sisa hari yang tidak dijamin. Mati banget... berapa duit itu?? Dengan memelas saya katakan bahwa pada waktu saya terima email berkas yang harus dibawa, saya tidak melihat adanya pernyataan itu. Saya juga bilang bahwa dua teman saya yang lain lolos-lolos aja walaupun ada perbedaan hari. Sayangnya si mbak bersikeras, katanya kalau dipaksa nanti saya dapat masalah di Jerman. Yah, terpaksalah saya merelakan hari itu untuk mengurus berkas yang kurang ini. Puji Tuhan, setelah berdoa saya menemukan ternyata asuransi perjalanan saya menjamin dari tanggal 2-5 Agustus dan 29-1 September :D Dengan segera saya cari tempat fotokopian dan mengantarkan berkas itu ke kedutaan. Agak nyebelin sih, karena 'kan buang-buang waktu dan uang. Sementara teman-teman saya yang buat visa sebelum itu lolos-lolos aja walaupun tanggalnya beda -__-a Tapi yasudahlah, mungkin ini ujian lagi buat saya sebelum sampai ke Jerman. Saya yakin semua ini akan terbayar ketika sudah tiba di Jerman.

Akhirnya saya datang lagi untuk mengambil visa tanggal 5 Juli. Saya datangnya lebih siang lagi ini, baru jalan dari rumah jam setengah sembilan lebih. Bahkan saya sampai lihat jam terus karena takut terlambat. Ternyata sampai di sana saya belum boleh masuk dan disuruh antre sama satpamnya di depan pagar kedutaan Jerman, bersama pengambil visa yang lain. Yah begitulah, mengantre dan mengantre sampai masuk ke dalam dan berada di depan loket berwarna putih tempat pengambilan visa. Nggak lama sih, tapi menegangkan juga, karena pas itu lagi ada kendala dari kedutaannya sehingga pembuatan visa agak terlambat. Bahkan ada mbak-mbak yang berdiri beberapa deret dari saya dan mendapati bahwa visanya belum jadi, alhasil dia harus datang lagi tanggal sekian untuk mengambil visanya. Saya berdoa aja tuh, komat kamit sendiri semoga visa saya udah jadi karena kalau harus balik terus datang lagi kan rugi juga -___-a
Dan... puji Tuhan.. visa saya sudah ada!! :') sambil disuruh cek ulang karena takut nomor paspornya beda, saya pun berbunga-bunga hehehee.. akhirnya, dapat juga nih satu hal yang paling bikin repot hahaa.. Akhirnya saya pulang bersama satu langkah lagi mendekati Jerman :)

13.7.13

Surga Utara dan Firdaus Selatan

Pada sebuah ruang hangat dekat perapian
Di tengah musim panas berkabut dingin
Ia bercerita tentang negerinya
Kerajaan yang jaya masa lampaunya
Namun terlupa oleh manusia

Pada sebuah ruang beku dalam pendingin
Di tengah musim kemarau basah
Kudengar cerita tentang negeriku
Kerajaan yang jaya masa lampaunya
Namun terlupa oleh manusia

Tanahnya surga dari utara
Milikkulah firdaus selatan
Tempat lukisan terindah tangan Tuhan terletak
Tempat manusia-manusia bodoh bergentayangan
Menggerogoti kecantikan surgawi
Kedua tanah kami

Ia berkata lagi
Selayaknya aku berdiam di sana
Karena aku ingat kisahnya
Sesaat aku rasa bahagia
Sebab aku t’lah diterima
Kemudian aku bertanya
Bukankah diri ini sama?
Meski selalu kuingat kisahnya
Dengan si bodoh apa bedanya?
Jika aku pun, manusia yang melupa
di negeriku sendiri

by LV~Eisblume
14.07.13
for our very short but meaningful conversation

3.7.13

Interpals: Meet Your International Penpals :)

Jadi di sini gue mau cerita tentang sebuah situs pertemanan yang sedikit banyak sudah mewarnai hari-hari gue yang sepi ini (lebay!) bahkan mengubah hidup gue (lebih lebay lagi!) hahahaa... Sebetulnya gue udah lupa darimana gue tahu situs Interpals.net ini. Kalau nggak salah sih dari teman yang juga suka main di tempat semacam ini. Situs ini pada awalnya dibuat untuk mencari sahabat pena dari seluruh dunia. Hmm.. kebetulan gue suka tukeran kartu pos dan koleksi perangko, jadilah situs ini cocok untuk gue. Tetapi setelah gue main di situ beberapa saat, gue justru berpikir bahwa situs itu lebih cocok untuk mencari teman dari berbagai negara secara umum (tidak harus penpal) dan yang paling penting, itu situs untuk bertukar bahasa :)

Gue lupa kapan pertama kali gue sign up di Interpals, kalau nggak salah sih sekitar awal masuk SMA gitu. Waktu itu profile gue namanya "LVEisblume", sama seperti nama di blog ini. Agak lupa sih waktu itu siapa aja yang jadi teman gue. Yang jelas gue dapat teman 2 cewek orang Jerman yang sampai sekarang masih berhubungan, namanya Sabrina dan Mimi. Sabrina ini akhirnya jadi teman email gue, meskipun akhir-akhir ini dia sibuk banget jadi kita udah jarang email-emailan -.-a Kalau Mimi ini asyik orangnya, soalnya dia berminat banget sama bahasa Indonesia. Bahkan dia fans beratnya Ariel NOAH. Jangan tanya gue dia tau darimana, karena gue bukan yang ngenalin ke dia hahaha... Jadilah partner belajar bahasa yang asyik, karena kebetulan gue juga belajar bahasa Jerman. Rencananya sih gue dan dia mau ketemu nanti di Jerman. Dia bakal datang naik kereta dari Leonberg, kota tempat tinggalnya. Hmm.. mudah-mudahan jadi ya.. :)

Nah, tapi profil gue dengan nama "LVEisblume" ini akhirnya gue hapus, karena pada saat itu tiba-tiba aja banyak banget teman gue yang udah lama gak main di Interpals. Gue pun sibuk dengan sekolah (tahulah SMA gue beratnya kaya apa) dan akhirnya nggak kepegang. Gue nggak enak sama teman-teman yang suka kirim pesan dan gak gue bales-bales, akhirnya daripada gue bingung, mending gue kabur sajaa.. hehee.. (duh, jangan ditiru ya sodara-sodara). Beberapa saat nggak bermain Interpals, ternyata gue kangen berat sama pertemanan internasional yang memang "beda". Gimana bedanya nanti gue ceritakan. Pada akhirnya gue pun memutuskan untuk membuat akun baru di Interpals. Di sini gue bertransformasi menjadi "Frouwelinde" hehehee... Gue berubah dari anak polos baik-baik yang selalu kabur tiap kali dikirimin pesan *piiiip* sama orang menjadi seorang penganut subkultur medieval Eropa yang lebih menarik. Seorang Scorpio memang paling ahli bertransformasi hehehe...

Bagaimanakah si Frouwelinde itu?? Gue susun sebuah profil baru yang tampilannya berbeda. Kalau dulu superngebosenin banget karena warnanya item doang, sekarang profil gue lebih berwarna. Kalau dulu isinya pengenalan singkat doang, sekarang lebih variasi. Gue isi profilnya dengan kisah-kisah khayalan gue kalau seandainya gue pernah hidup di masa lalu. Tulisan ini sebetulnya khayalan total, tapi cukup sukses menarik orang untuk mampir walaupun sekedar berkomentar. Kebanyakan dari mereka menyangka gue percaya dengan yang namanya reinkarnasi. Hmm.. tentu saja tidak, karena pemahaman gue berbeda dari reinkarnasi. Terus di bagian bahasa yang dipelajari, hmm.. agak nekat nih. Kalau dulu gue isi Jerman beginner dan English intermediate, sekarang gue nekat dengan pasang English fluent dan Jerman advance :) Di bagian bahasa yang gue pelajari diisi bahasa Norwegia dan Rusia, tadinya mau dimasukin lagi bahasa Polandia, tapi entar dulu ahh.. yang gampang aja belum beres mau mulai yang susah hahahaa... Oh iya, perubahan bahasa itu berkaitan dengan gue yang telah bertransformasi dari cuma Germanophile menjadi Germanophile, Scandinavophile dan Slavophile hehehee... :P Semua itu akarnya sama kok, kultur medieval yang gue ikuti. Dan gue senang karena setidaknya sekarang gue tahu di mana posisi gue dalam peta identitas internasional. Kalau dulu, pas zaman ababil gue nggak jelas termasuk di golongan apa, sekarang gue sudah bisa menggolongkan diri ke medieval lover ini :)

Yang gue suka dari Interpals? Hmm... banyak sih sebetulnya. Gue akui memang kata-kata seorang teman gue bener, yang bilang kalau Interpals anggotanya banyak yang alay dan sombong-sombong. Tetapi itu ada sebabnya. Yang alay itu rata-rata para weeabo, freak Kpop tingkat dewa atau otaku animanga yang udah akut. Gue juga males sih temenan sama orang-orang ini, habisnya yang diomongin cuma anime manga Kpop doang. Kalau yang sombong, gue maklum sih, emang banyak yang jadi begitu karena di Interpals suka banyak yang nggak sopan. Nanti gue cerita nih soal ketidaksopanan ini. Sekarang yang gue suka dulu. Jadi, di Interpals ini kalau sekalinya dapat temen tuh bisa beneran temenan :) Dan nggak tahu kenapa ya, mereka tuh omongannya sekalinya berbobot ya bisa berbobot banget. Mungkin gue ya yang kurang pergaulan di Indonesia, sampai gue bisa berpikir kalau di Indonesia gue belum pernah bertemu dengan orang yang bisa ngobrol soal-soal begitu. Gue jadi merasa nyambung banget :') Bukan berbobot aja, bahkan mereka banyak yang bisa membalikkan pendapat gue dan memberikan sudut pandang baru. Nah, ini nih yang bisa membantu gue jadi lebih maju.

Tapi di sisi lain ada juga negatifnya situs ini. Nggak jauh-jauh dari situs pertemanan lainnya, banyak yang pervert! dan maaf aja, bukannya mau rasis, tapi kebanyakan mereka orang Arab dan Afrika. Orang Turki juga banyak. Astaga kalau mereka kirim pesan tuh langsung sok kenal sok dekat gitu pakai panggilan "cutie", "baby", dll. Belum apa-apa udah minta temenan, padahal kenal aja belum ckckckck.. Terus kalau diiyain nih friend requestnya, mereka suka maksa. Kayak kemarin gue ketemu orang dari Pakistan yang ngajak Skype-an. Eh dia maksa telepon terus loh minta video call. Hiiy.. mending ganteng, ini nyeremin dan superpervert. Males juga kan kalau diajak video-an terus baru nyala belum apa-apa gambarnya udah *piiiip*. Berkebalikan dari orang-orang ini, berdasarkan pengalaman gue ada dua kelompok orang yang paling sopan, yaitu orang Jepang (cowoknya) dan orang-orang Eropa kebanyakan. Mereka sopan banget, kalau mau ngajak temenan nyapa dulu, kenalin diri dulu, dan tanya beberapa hal sama kita. Mereka nggak langsung minta temenan atau maksa pengen video call -.-a Jadi semakin respek gue :)

Yang bikin males lagi tuh kalau ada orang Indonesia datang ke profil gue dan ngajak ngobrolnya bahasa Indonesia terus dangkal-dangkal gak jelas gitu kayak nanya kuliah di mana, udah ada yang punya belum, ckckckck.. Woyy.. gue di sini mau belajar bahasa, jangan ngajak ngobrol bahasa Indonesia lah -.-a mana obrolannya nggak penting pula hmmm...

Yah, begitulah pengalaman gue dengan Interpals.net. Lumayan mewarnai hari-hari gue dan bikin belajar hehee.. :)

by LV~Eisblume