24.1.13

Terima Kasih pada Malam yang Dingin...

Angin dingin berhembus kuat di seluruh negeri. Udara yang beku menusuk kulit siapapun yang berada di luar bagaikan jarum-jarum besi yang tiada ampun. Pohon dan rerumputan bergoyang-goyang dan bergesekan karena tiupannya. Tidak ada seorang pun tampak di jalan pada malam itu, kecuali sesosok pria berpakaian lusuh yang terus memeluk tubuhnya erat-erat sembari berjalan. Kedua kakinya melangkah perlahan-lahan tetapi mantap melawan kuatnya angin yang bertiup. Tujuannya hanya satu: kekasihnya yang tinggal di kastil megah di ujung jalan itu. Dinginnya malam tak sebanding dengan pertemuan dengan sang kekasih.

Semakin mendekati bangunan kastil berwarna abu-abu itu, langkah sang pria justru diperlambat. Ia berbelok menjauhi gerbang utama. Tentu saja ia ingat betul bahwa kastil itu bukan tempat yang tepat untuknya dan karenanya ia harus melewati jalan lain agar tidak tertangkap penjaga. Ia melangkah masuk ke taman kastil lewat sebuah lubang di pagar batu yang tidak disadari keberadaannya oleh para penjaga. Dengan segera dirinya tiba di taman belakang kastil. Ke arah taman itulah jendela sang kekasih menghadap. Sang pria dapat melihat sosok seorang wanita di balik tirainya, yang sayangnya belum menyadari keberadaannya.

Diambilnya kerikil yang banyak terdapat di taman itu dan dilemparkannya hingga mengenai kaca jendela sang wanita. Mendengar suara yang ditimbulkan kerikil itu, sang gadis membuka daun jendelanya dan melongok ke bawah.
"Franz?" ia tampak terkejut. "Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" tanyanya. Ia tidak menyangka kekasihnya akan datang.
"Oh, Louisa..., tolong bukakan pintunya untukku," pinta Franz. "Izinkan diriku masuk ke tempatmu."
Louisa menunjukkan wajah ragu sesaat, lalu ia menggeleng. "Maafkan aku, Sayang, aku tidak mungkin melakukannya. Kau tahu ayahku mengawasi semua tempat malam ini. Aku juga tidak mungkin keluar dari kamar ini. Sebuah palang besi mengunci pintunya dan kuncinya tidak ada padaku."
"Ayolah, Louisa, kau tahu di luar sini sangat dingin. Apa kau tega membiarkan diriku berdiri di bawah cahaya bulan di tengah angin yang beku seperti ini sepanjang malam?" kata Franz terus membujuk.
"Kurasa... aku ada ide...," sesaat wajah sang gadis berubah cerah, "ah.., tidak.. hal itu tidak mungkin dilakukan," katanya tertunduk kecewa.
"Sayang, katakan saja idemu. Percaya padaku. Jika kau membukakan pintu bagiku malam ini, maka pagi tidak akan cepat datang seperti biasanya."
 Masih dengan wajah ragu, Louisa berbalik membelakangi jendela lalu menghilang pergi. Franz nyaris putus asa dan menyerah pergi ketika tiba-tiba gadis itu muncul lagi sembari melempar sesuatu keluar jendela. Kain beraneka warna menjuntai panjang dan sambung-menyambung terikat kuat di samping tempat tidurnya. Kain itu dibuatnya dengan mengikat tirai, kain penutup tempat tidur, berikut gaun-gaun dan selendang yang dimilikinya.
"Naiklah dengan kain itu, Franz!" serunya. "Cepatlah, sebelum penjaga menyadari keberadaanmu!"
Dengan cepat namun berhati-hati, Franz menggunakan untaian kain yang menjuntai ke bawah itu untuk memanjat ke kamar Louisa. Beberapa saat kemudian, ia tiba di jendela gadis itu.
"Teruntuk Franz-ku yang pemberani," dikecupnya kening kekasihnya itu setelah sebelumnya menarik kembali untaian kain panjang yang terikat pada tiang tempat tidurnya itu agar penjaga tidak melihatnya.
"Terima kasih untuk kekasihku yang telah membukakan pintunya untukku," Franz membalas Louisa itu dengan mengulum bibir gadisnya itu sebanyak tujuh kali.
"Berterima kasihlah pada malam yang dingin di luar sana. Kekejamannya telah membuatku tidak tega membiarkanmu berdiri di luar sepanjang malam," kata Louisa.
 * * *
Fajar mulai merekah di ufuk timur. Seekor burung kecil yang bertengger di dahan pohon linde tepat di depan kamar Louisa berkicau merdu menyambut pagi. Gadis itu terbangun dan tersadar bahwa ia telah lupa menutup jendela kemarin malam. Meski demikian, ia tidak peduli. Apa yang dialaminya sepanjang malam adalah suatu hal yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Diliriknya Franz yang masih terlelap di sampingnya. Lengannya yang kuat masih mendekap erat dirinya. Dibisikkannya rasa terima kasih dalam hatinya. Terima kasih pada malam yang dingin.


by LV~Eisblume
a story inspired by Faun's song titled "Diese Kalte Nacht" from the album "Von den Elben" and my sister's story titled "The Lady's Wedding".
 

 
 

 

21.1.13

Bunga-Bunga yang Kuharap Tak Pernah Kau Tanam

Dulu ketika kau datang,
kau tanami ladang hati dengan taman yang indah
kau penuhi ia dengan bunga-bunga
berbulan-bulan lamanya kau pelihara kuntum-kuntumnya
dan kita bergulingan di sana, di antara bunga-bunga beribu warna
yang patah dan kita menjadikan mereka alas
pembaringan kita menuju mimpi
Lalu sekarang kau datang lagi,
kau meminta izinku untuk mengurangi bunga-bunga itu
kau ingin menghilangkan beberapa warna dalam tamanku
katamu, kau ingin mengubahnya menjadi kolam tempat kita dapat minum
tapi, bagaimana kalau aku lebih mencintai bunga-bungamu?
bagaimana aku dapat kehilangan warna-warni itu?
walau kau bersikeras taman itu akan tetap ada,
tanpa bunga-bunga itu tamanku sepi
dan masihkah taman itu akan berkembang,
walau ada air dan tanpa bunga?
Aku tahu bunga bukan taman,
ia hanya penghias,
yang kuharap tak pernah kau tanam di sana,
jika akhirnya kau tak menginginkannya lagi.

22.01.13
by LV~Eisblume

1.1.13

The Hobbit: Penuh Pesan Moral

Tahun 2013 ini saya mau mengawali dengan iseng menulis review film yang telah mewarnai akhir tahun 2012 saya: The Hobbit: An Unexpected Journey. Berhubung saya bukan ahli tentang teknik film, saya akan lebih banyak membahas dari segi ceritanya.

The Hobbit: An Unexpected Journey merupakan prekuel dari trilogi The Lord of The Rings sekaligus bagian pertama dari trilogi The Hobbit. Disutradarai oleh Peter Jackson dan dibintangi aktor-aktor yang keren membuat film ini tidak kalah oke dibandingkan sekuelnya. Hal yang membuat film ini melampaui The Lord of the Rings adalah teknik yang digunakan (tentu saja, karena LOTR dibuat 10 tahun sebelum film ini :)). Film The Hobbit menggunakan kamera yang sangat canggih yang mampu merekam 48 frame per detik. Hal ini membuat gambar yang dihasilkan sangat jelas dan bahkan lebih terang dari warna-warna yang kita lihat di kenyataan. Beruntung saya sempat menyaksikan The Hobbit dalam versi 3D (di Djakarta XXI, cuma 40 ribu loh ^^ *promosi*).

Sama seperti LOTR, The Hobbit merupakan film yang diadaptasi dari karya J.R.R. Tolkien dengan judul yang sama. Namun, film The Hobbit tidak murni mengambil dari bukunya saja, melainkan juga menyisipkan beberapa bagian yang tertulis dalam Appendix buku ke-3 The Lord of The Rings yaitu The Return of the King. Sebagai penyuka fantasi, tentu bagi saya The Hobbit dan rangkaian kronik Middle Earth lainnya sangat keren dan sukses menjadi dunia pelarian yang sangat menyenangkan. Terlepas dari pendapat subjektif itu, menurut saya, The Hobbit adalah film yang dipenuhi pesan moral (sama seperti LOTR ^^). Nah, setelah bagian yang ini, spoiler alert yak :P

Film The Hobbit dibuka dengan flashback pada masa kejayaan kerajaan ras Dwarf dengan sang raja, Thror, yang berkuasa di bawah gunung. Di bawah gunung yang bernama Erebor itu rupanya tersimpan begitu banyak bahan tambang yang mahal dan melimpah seperti emas, perak, dan berbagai jenis batu mulia. Kejayaan kerajaan ini bermula ketika mereka menemukan bahan tambang baru yang sangat berharga, yaitu Arkenstone. Dari hasil tambang ini, sang raja membangun kota-kota mewah dan istana di bawah gunung yang dipenuhi pilar-pilar megah. Namun, sang raja menjadi tamak dan terus menggali dan mengeksploitasi hasil tambang di dalam gunung itu. Bencana datang ketika tiba-tiba seekor naga bernama Smaug menyerbu kerajaan Dwarf tersebut, menghancurkan kota-kotanya dan membunuh banyak jiwa termasuk sang raja. Kaum Dwarf yang tersisa terusir dari tanah mereka dan terpaksa mengembara ke berbagai penjuru Middle Earth. Di sini sudah ada pesan moral pertama yang disampaikan lewat kata-kata Bilbo yang menceritakan flashback itu: "Di mana ada kegilaan, di situlah hal buruk akan datang." Pada intinya segala hal yang berlebihan akan mendatangkan bencana atau hal buruk.

Cerita berlanjut ke beberapa tahun setelahnya, kaum Dwarf yang terusir berusaha mencari tanah tempat tinggal baru. Anak dari Raja Thror, yaitu Thrain, mencoba memasuki tambang milik nenek moyang mereka yang sudah ditinggalkan di bawah Misty Mountain, yaitu Khazad-Dum. Sesampainya di sana, ia justru mendapati bahwa tambang telah diduduki oleh Orcs (salah satu makhluk jahat di Middle Earth) dan terbunuh. Putranya yang bernama Thorin kemudian mengumpulkan pasukannya dan bergerak menuju Khazad-Dum untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya. Raja Orcs yang bernama Azog berhasil dibunuh, namun anaknya yaitu Bolg berhasil lolos. Di pihak Dwarf terdapat angka kematian yang sangat tinggi sebagai dampak perang. Orcs yang tersisa rupanya tidak tinggal diam. Mereka memburu Thorin, yang kini menggantikan ayahnya sebagai raja Dwarf, untuk dibunuh sebagai bentuk balas dendam atas kematian raja mereka. Pesan moral kedua: segala hal yang dilandasi dendam hanya akan membawa hal yang lebih buruk lagi dan permusuhan yang berkelanjutan.

Terlepas dari perang Dwarf dan Orcs, cerita inti The Hobbit adalah usaha merebut kembali Erebor dari tangan Smaug sang naga. Usaha ini dipimpin oleh Thorin sang raja Dwarf dengan bantuan Gandalf the Grey sang penyihir bijak yang mencarikan satu orang lagi sebagai pelengkap rombongan Dwarf yang sudah terdiri dari 13 orang tersebut. Entah apa alasannya, Gandalf memilih Bilbo, seorang Hobbit yang sehari-harinya hidup damai di dalam lubang bersama makanan-makanan lezat dan perapian di Bag End. Mulanya Bilbo ragu untuk ikut karena ia merasa tidak bisa melalui perjalanan yang berbahaya seperti itu dan lebih memilih menikmati hidup di rumahnya. Pada akhirnya karena terbujuk nasehat Gandalf yang berkata: "dunia itu bukan berada di peta dan buku, melainkan di luar sana." Bilbo pun ikut dalam rombongan.

Masalah muncul dalam rombongan tersebut karena Bilbo merasa rendah diri karena bantuan yang diberikan hanya sedikit dan terkesan lebih banyak menghambat perjalanan. Di sisi lain, Thorin sang pimpinan rombongan merasa bahwa Bilbo tidak berguna dan skeptis bahwa ia akan membantu dalam perjalanan itu. Seiring waktu berjalan, rombongan Dwarf bersama Bilbo dan Gandalf melewati berbagai petualangan yang mendebarkan dan rintangan-rintangan berbahaya seperti ditangkap Troll, dikejar pasukan Orcs, melintasi pegunungan yang dipenuhi raksasa batu, sampai ditawan kaum Goblin. Pada saat ditawan kaum Goblin inilah Bilbo terpisah dan bertemu Gollum, makhluk yang memiliki cincin yang nantinya akan menggemparkan seluruh Middle Earth. Bilbo "tanpa sengaja" mencuri cincin itu dari Gollum. Selanjutnya, Bilbo-lah yang membawa cincin itu sampai kemudian keponakannya, Frodo, akan membawa cincin itu untuk dihancurkan dalam trilogi LOTR. Pesan moral ketiga: setiap orang pasti memiliki suatu misi dalam hidupnya yang telah direncanakan oleh sang pencipta. Bahkan orang yang paling kecil dan bukan siapa-siapa pun bisa mengubah dunia. Hal ini terbukti lewat Bilbo dan (nantinya) Frodo. Sekadar info, Hobbit adalah makhluk paling apatis dan tidak diperhitungkan di antara ras-ras lain yang menghuni Middle Earth.

Pesan moral yang paling penting muncul pada akhir cerita. Ketika itu, Bilbo yang awalnya hanya mempersulit dan nyaris memutuskan untuk pulang ke rumah, justru kembali kepada rombongan Dwarf untuk membantu mereka dari kejaran para Orcs. Saat Thorin berhasil ditangkap dan nyaris terbunuh di tangan para Orcs, Bilbo-lah yang turun dari pohon tempat dia menyelamatkan diri hanya untuk mengalihkan perhatian para Orcs dan menyelamatkan Thorin. Pada akhirnya, Bilbo menyadari kemampuannya dan merasa lebih percaya diri. Di sisi lain, pesan moral terpenting datang dari Thorin. Dengan jiwa besar, ia memeluk Bilbo dan meminta maaf. Dengan berani ia mengakui bahwa ia telah salah menilai Bilbo dan meremehkannya. Ternyata justru Bilbo-lah yang menyelamatkannya. Thorin dan Bilbo kemudian menjadi teman dan bersama-sama melangkah menuju Erebor.

Kalau menonton dan memperhatikan lebih detil, bisa jadi lebih banyak lagi pesan moral yang didapatkan, misalnya ketika Bilbo memilih untuk membiarkan Gollum tetap hidup. Perbuatan ini rupanya memberikan dampak yang sangat positif bagi seluruh Middle Earth yang akan terungkap dalam trilogi LOTR. Intinya, perbuatan yang baik, suatu saat akan berbuah sangat baik. Kemudian ada juga pesan yang disampaikan Gandalf ketika ia memberikan sebilah pedang pada Bilbo: "Keberanian bukan berarti berapa jumlah nyawa yang telah kau bunuh, tetapi justru berapa jumlah yang tidak kau bunuh."

Sayang sekali film ini tiba di Indonesia bersamaan dengan munculnya dua film lokal yang juga bagus, 5cm dan Habibie Ainun. Perfilman Indonesia yang semakin membaik memberikan lebih banyak tempat pada kedua film tersebut. Film The Hobbit hanya muncul di bioskop-bioskop yang memiliki teknologi pemutar film 3D atau kamera High Frame Rate. Selain itu, tampaknya selera masyarakat Indonesia terhadap film fantasi tidak begitu besar seperti masyarakat negara lain. Hal ini membuat film The Hobbit mungkin tidak akan terlalu lama bertahan di bioskop-bioskop dalam negeri. Jadi, yang mau nonton dan belum sempat, buruan nonton! Nggak nyesel loh ^^

PS: Selain Thorin, ada Dwarf lain yang superganteng, namanya Kili :)

~ Eisblume


15.11.12

Kepulangan Kerudung Merah


Berbulan-bulan sudah Ibu menanti kepulangan anak semata wayangnya. Ia masih ingat hari itu, ketika anak gadisnya berpamitan ke rumah Nenek. Ia ingat betul pakaian yang dikenakan anaknya, sebuah jubah merah berkerudung dari wol yang dijahitnya khusus bagi anaknya itu. Kerudung Merah, demikian orang memanggil anaknya karena pakaian yang selalu dikenakannya tersebut. Pada hari itu pergilah Kerudung Merah ke rumah Nenek. Ibu telah berpesan sebelumnya, agar gadis itu menjauhi hutan dan terutama seekor serigala yang tinggal di sana. Namun, entah apa yang terjadi, sejak hari itu Kerudung Merah tidak pernah pulang.

Hari ini adalah ulang tahun Kerudung Merah. Sejak pagi Ibu sudah bangun dan membersihkan rumah. Ia menyiapkan banyak makanan lezat, termasuk kue cokelat dengan ceri dan krim kesukaan anaknya itu. Ia melakukan semuanya, seolah Kerudung Merah masih ada dan tinggal bersama dengannya. Ketika semua telah siap, terkejutlah Ibu karena telah melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Astaga! Aku lupa, kau sudah tidak ada, Kerudung Merah," bisiknya lirih dalam hati. 
Ia meletakkan sapu yang dipakainya untuk membersihkan lantai di sudut ruangan, kemudian beranjak menuju jendela. Dipandanginya keluasan hutan di luar sana.
"Oh, anakku, Kerudung Merah. Di mana pun kamu berada, juga kalau kamu telah di surga, kamu akan selalu tahu bahwa aku selalu mengingatmu," katanya, seolah menyampaikan pesannya pada angin dan berharap pesan itu akan terbawa masuk ke dalam hutan.
Ibu terus berada di situ sembari membayangkan berbagai kenangan yang dialaminya bersama Kerudung Merah. Ia teringat masa-masa ketika keduanya hidup bersama dengan damai di pondok bersama-sama. Tanpa sadar Ibu tertidur bersandar di bingkai jendela.

* * *

Mentari terbenam di ufuk barat, membawa kegelapan meliputi hutan. Sesosok bayangan kecil berjalan mengendap-endap ke arah pinggir hutan. Di tangannya ada sebuah obor yang apinya menyala-nyala. Di balik cahaya api terdapat sosok bayangan lain yang lebih besar mengikuti bayangan kecil.
"Sssh.. jangan berulah ya, ada seseorang yang akan kukenalkan," kata bayangan kecil itu dalam bisikan.
Bayangan besar mengangguk-angguk menurut pada isyarat tangan yang dibentuk bayangan kecil. Perlahan-lahan keduanya mendekati pondok di tepi hutan, tempat Ibu tertidur bersandar pada bingkai jendela. Bayangan kecil segera mengenali sosok Ibu. Ia berlari mendekati sosok itu dan menampakkan wujud aslinya, Kerudung Merah. 
"Ibu! Bangunlah! Anakmu sudah pulang!" serunya menghambur ke arah wanita yang tertidur itu.
Ibu terbangun karena terkejut. Ia melihat sosok berkerudung merah dari matanya yang masih mengantuk, tetapi ia tidak bisa mengenali suaranya.
"Kaukah itu, Kerudung Merah? Anakku yang hilang itu? Mengapa suaramu berbeda??" tanya Ibu.
Ia berusaha membuka matanya lebih lebar. Dilihatnya sosok cantik jelita dengan rambut emas yang terurai di balik kerudung merahnya. Tidak ada lagi dua buah kepang yang menjulur di balik kerudung itu, seperti yang selalu ia buatkan jika Kerudung Merah hendak pergi ke luar. Tidak ada lagi bibir kecil yang menguncup. Bibir itu telah berganti dengan warna merah delima dalam bentuk lengkungan kecil yang manis. Tidak ada lagi tubuh yang bulat dan mungil, hanya ada sosok molek seorang gadis dewasa yang ramping. Ketika keterkejutan Ibu belum berakhir akibat sosok cantik itu, muncullah sosok lain yang besar yang sedari tadi mendampingi Kerudung Merah. Sosok itu menampak diri sebagai seekor serigala abu-abu besar dengan kuku dan taring yang tajam. Mata kuningnya tiada henti memandang Kerudung Merah, bukan tatapan hendak memangsa, tetapi sebuah tatapan penuh cinta yang hangat. Ibu tidak bisa berkata-kata menyaksikan pemandangan sore itu.
"Selamat sore, Ibu tersayang," kata gadis itu dalam suara merdu layaknya seorang wanita. "Aku telah menjadi dewasa sekarang."
by LV~Eisblume
16.11.12
for my birthday 

 
 
 
 

28.10.12

Hermeneutik dalam Hubungan dengan Perbedaan

Banyak orang harus bermasalah ketika hubungannya terbentur perbedaan, entah perbedaan agama, etnis, budaya, bangsa, kelas sosial, bahkan jurusan atau profesi. Masalah ini klise dan umum ditemukan di semua kasus perbedaan, yaitu keadaan ketika mereka tidak bisa bersatu karena perbedaan itu. Nah, lalu biasanya yang terjadi adalah kedua pihak jadi galau dan ujung-ujungnya kalau sudah nggak kuat menghadapi tantangan itu biasanya mengakhiri hubungan begitu saja. Sebegitu cepatnya menyerahkah? Memangnya kalau ada perbedaan dua orang yang saling mencintai nggak bisa bersatu? Wah, sayang sekali dong kalau gitu apa gunanya Tuhan mempertemukan mereka? Kok kalau saya tidak secepat itu menyerah ya?

Saya berpandangan bahwa perbedaan dalam hubungan itu selalu bisa dijembatani. Tetapi pertama-tama, untuk bisa melihat cara menjembataninya ini dibutuhkan dua jiwa dan pemikiran yang sudah cukup dewasa. Kebetulan saya tipe orang yang menolak hubungan percintaan di bawah umur (dengan batas minimal umur itu sekitar 17 tahun). Alasannya sederhana, orang di bawah usia itu rata-rata belum bisa menyikapi hubungannya dengan benar dan keputusan-keputusannya masih sering banyak dipengaruhi orang tua tanpa bisa menyampaikan pemikiran dan alasan masuk akal milik sendiri. Kalau hubungan percintaan dengan perbedaan itu terjadi di usia segini sih nggak heran kalau ujung-ujungnya pisah.

Terus hubungannya sama hermeneutik apa? Nah, balik lagi ke jalur pembicaraan semula, bahwa setiap perbedaan termasuk yang level berat seperti agama itu bisa dijembatani. Caranya dengan proses Verstehen (saling mengerti) yang berhubungan sama suatu konsep filsafat bernama hermeneutik. Pada intinya sih hermeneutik ini semacam proses penyampaian dan penafsiran pesan, berasal dari nama dewa pengantar pesan bangsa Yunani, Hermes. Kebetulan karena saya berasal dari jurusan sastra, maka saya membahasnya dari sudut pandang sastra untuk memberi gambaran yang lebih mudah. Teori hermeneutik ini sering dipakai untuk mengkritik karya sastra. Dalam suatu karya sastra, ada seorang penulis yang ingin menyampaikan pesan lewat tulisannya. Pesan itu kemudian ditangkap oleh pembaca. Namun karena ada perbedaan latar belakang antara penulis dan pembaca, maka seringkali pesan tidak bisa tersampaikan persis sama dengan yang dikehendaki penulis. Proses menangkap dan menafsirkan pesan yang seringkali dipengaruhi oleh latar belakang pembaca itulah yang disebut proses Verstehen.

Proses Verstehen tidak hanya terjadi dalam hubungan antara penulis dan pembaca, melainkan juga antartokoh dalam cerita. Misalkan ada dua tokoh dengan latar belakang berbeda bertemu dan satu sama lain saling bertolak belakang. Dua tokoh ini membawa latar belakang A dan B yang berbeda dalam berperilaku. Ketika mereka bertemu, proses Verstehen yang terjadi lewat interaksi keduanya menghasilkan satu titik temu (anggap sebagai titik C) yang menjadi reaksi bersama hasil interaksi tersebut. Hasil interaksi ini terbagi dalam tiga jenis, yaitu: perluasan cakrawala (Horizonterweiterung), pendekatan cakrawala (Horizontannaeherung) dan peleburan/pembauran cakrawala (Horizontverschmelzung).

Mari kita gunakan contoh dengan perbedaan dalam hubungan tadi untuk menjelaskan ketiga jenis hasil proses Verstehen di atas. Misalkan ada seorang pria dengan agama A yang menjalin hubungan dengan wanita beragama B. Jika proses Verstehen mereka menghasilkan perluasan cakrawala, maka baik pria maupun wanita cukup mengetahui bahwa dalam ajaran agama pasangannya ada dogma, ritual, peraturan, dll. yang demikian. Keduanya tidak bisa menerima sepenuhnya mengapa ada hal-hal tersebut dalam agama pasangannya. Proses Verstehen ini bisa dianggap gagal, tapi bisa juga berhasil, jika pada akhirnya satu sama lain memilih untuk menganggap bahwa agama adalah hal privat yang tidak perlu dipaksakan untuk dimengerti oleh satu sama lain, intinya lebih baik diprivatkan dan tidak usah dibicarakan lagi di ruang publik antarkeduanya. Mereka bisa menaruh cinta di atas keyakinan dalam menyikapi perbedaan itu. Jika proses Verstehen menghasilkan pendekatan cakrawala, maka baik pria maupun wanita mengetahui mengapa dalam ajaran agama pasangannya ada dogma, ritual, peraturan, dll. yang demikian serta menerima dan memakluminya. Pria maupun wanita tetap setia dengan keyakinan masing-masing namun (mungkin) ketika pasangannya merayakan hari raya, ia mengucapkan selamat, ikut membantu dalam menyiapkan perayaan, atau bahkan turut memeriahkan tanpa harus ikut serta dalam ritual di tempat ibadahnya. Hal ini adalah hasil yang paling ideal :) Proses Verstehen terakhir adalah yang paling banyak diharapkan banyak orang tetapi kalau untuk saya tetap kurang oke. Jika hasil proses Verstehen adalah pembauran cakrawala, maka salah satu dari kedua pihak menerima dan mengikuti dengan rela apa yang diyakini pasangannya. Mengapa salah satu dan bukan saling? Karena nggak mungkin kan seseorang memeluk dua agama, atau mereka akhirnya cuma tukar agama (nanti perbedaannya cuma pindah posisi dong?). Intinya, ketika proses Verstehen ini berhasil (salah satu dari hasil di atas), maka pasti hubungan tersebut akan langgeng dan berhasil.

Hmm... tapi bagaimana dengan lingkungan sosial? dengan keluarga? dengan institusi agamanya? Nah, inilah pentingnya kedewasaan. Ketika seseorang sudah dewasa dan merasa bahwa proses tersebut telah berhasil, maka ia bisa menentukan sikap sendiri. Tidak satu pun orang di dunia ini yang dapat menentang kekuatan niat dan rencana Tuhan. Ketika kedua orang merasa cocok, apalagi yang harus dikhawatirkan. Oh, tapi ingat, pandangan ini berdasarkan pandangan saya yang sesungguhnya pernikahan itu kontrak sosial antara dua manusia :) Keluarga dan lingkungan sosial hanya sebagai penasehat dan pengarah, tetapi tidak bisa mengatur mutlak dua orang yang sudah dewasa dan punya hak memutuskan ini. Tentang institusi agama..., banyak pilihan kok, kalau memang keduanya sudah merasa saling cocok kan bisa dicari jalan keluarnya. Ada kok agama yang masih mengizinkan pernikahan beda, atau kalau saya sendiri tipe orang yang nggak mau cepat menyerah, karena nggak satu pun orang tahu akan masa depan. Siapa tahu suatu saat hukum agama berubah. Siapa tahu suatu saat di masa depan terbukti bahwa semua jalan keyakinan sama aja. Siapa tahu (walaupun sebenarnya kurang sreg sih) salah satu dari kita akhirnya ikut meyakini apa yang diyakini pasangannya. Siapa tahu... siapa tahu.. dan masih banyak hal yang tidak kita tahu bisa terjadi di masa depan. Intinya sih yang diperlukan cuma keberhasilan proses saling mengerti itu, kalau sudah saling mengerti, siapa lagi yang bisa menghalangi? Hanya jika bukan takdirnya atau bukan rencana Tuhan-lah hubungan itu akan menjadi gagal. Jadi, buat yang sedang menjalani hubungan dengan perbedaan (seperti saya :P), berhentilah menggalau yang tidak penting, mantapkan dulu keberhasilan proses Verstehen-nya supaya bisa melangkah lebih jauh :) Semoga berhasil :)

viele Liebe,
LV~Eisblume



7.10.12

Ketika Aku Berteduh di Bawah Payung Seorang Diri

"Besok acaranya apa?" tanyamu di sela-sela penjelasan pembicara dari seminar kritik film dalam sebuah acara kampus yang diselenggarakan jurusanku.
"Paginya seminar, lalu malamnya ada musik. Aku pengen banget nih nonton musiknya, ada Payung Teduh lho," kataku dengan bersemangat.
"Ah, kalau besok aku nggak bisa. Banyak tugas," jawabmu sembari mengalihkan pandangan.
"Tugas? Tugas apa?" tanyaku kecewa.
"Ya pokoknya banyak tugas, misalnya ada bersama-sama kamu," lalu kau cubit hidungku seperti biasa. Aku tertawa tersipu-sipu. Kamu bisa aja, pikirku.

*  *  *
Percakapan itulah yang kuingat sepanjang hari ini, sebelum akhirnya aku yakin bahwa hujan akan turun malam ini. Keyakinan itu muncul, ketika kubaca pesan singkatmu sebagai balasan pertanyaanku akan keberadaan dirimu siang ini.
"Udah pulang, udah di rumah,"
"Kok nggak bilang kalau mau pulang?"
"Aku buru-buru, Sayang," jawabmu disertai titik dua bintang, favoritku yang kini terkesan seperti usahamu mengganggap tak ada hal yang salah.
Kubiarkan pesan singkatmu di kotak masuk tanpa balasan. Kau harusnya tahu, betapa kecewanya aku. Kata-katamu kemarin, sekalipun nadanya bercanda, cukup membuatku berekspektasi akan sesuatu yang kini terlampau jauh untuk diharapkan.

* * *
Auditorium Gedung 9 FIB UI masih sepi ketika aku masuk ke sana dan mendapati dua orang temanku telah duduk di tempat favorit kami. Namun, tepat sebelum band yang kutunggu tampil, auditorium perlahan-lahan terisi penuh. Sorot lampu aneka warna yang tadinya berdansa kini mulai meredup dan fokus ke tengah panggung. Cahaya kuning temaram memang sengaja disiapkan panitia untuk membangun suasana. Beberapa saat kemudian, masuklah empat personil band bersama alat musik masing-masing. Mereka menempatkan diri di atas panggung dan mengalunlah lagu pertama.

"Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam menuju pagi yang dingin. Hanya ada sedikit bintang malam ini. Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya..."

Semua orang riuh rendah bertepuk tangan, tapi aku tidak. Benakku sibuk memainkan memori. Lirik itu seperti sesuatu, sesuatu yang pernah kudengar. Tidak persis, tapi senada. Baris-barisnya mengingatkanku pada puisi-puisimu yang menghiasi hari-hari di awal cerita kita. Kata-kata yang kudengar saat aku dan kamu baru menjadi kita. Betapa aku ingin mengenangnya bersamamu, bukan seorang diri seperti ini. 

Kupandangi sekitar. Kedua temanku yang duduk setingkat di bawahku tertawa-tawa sembari menikmati lagu-lagu yang mengalun. Bahkan seolah mereka tidak sadar akan keberadaanku. Diiringi kata demi kata dalam lirik, aku kembali tenggelam dalam kesepian.

"Malam jadi saksinya. Kita berdua di antara kata. Yang tak terucap ....
Mungkinkah kita ada kesempatan. Ucapkan janji takkan berpisah selamanya."

"Sayang, kamu inget nggak?" 
"Inget apa?"
"Itu lho, waktu kita kejebak hujan di payung gedung satu,"
"Ah, ya, haha..., aku inget dong,"
"Hihi.. waktu itu kita 'kan masih zaman galau-galau gitu. Ngomongin perbedaan, takut kalau nanti di masa depan kita nggak bisa nyatu karena beda agama," 
"Hehe...iya, tapi tenang aja, siapa yang tahu masa depan? Jalanin aja dulu,"
"Iya, kamu bener. Harapan itu selalu ada kok,"

Ah. Aku tersentak dari lamunanku. Tanpa sadar, benakku telah memainkan kata-kata, membuat seolah-olah aku sedang bercakap-cakap denganmu karena kenangan yang dibawa lirik lagu ini. Aku kembali melihat sekeliling, menatap keramaian yang membawa sepi untukku. Kukirim lagi pesan singkat, berharap kamu membalasnya untuk sedikit mengusir rasa sepiku.
"Coba kalau kamu di sini sekarang, kapan lagi coba Payung Teduh tampil sore. Biasanya 'kan mereka selalu disimpan buat malam, dan aku nggak selalu bisa pulang malam :'( " tulisku.
Hanya berselang beberapa menit, kuterima balasanmu. Dengan mencuri-curi kesempatan ketika sang vokalis sibuk berinteraksi dengan penonton, kubaca pesan singkatmu.
"Bolehkah saya menyimpan maaf dari kamu sebab hari ini?"
Ah, teganya dirimu, Sayang. Meminta maaf dengan bahasa yang sedemikian menyentuh. Rupanya menghubungimu bukan ide bagus. Aku malah jadi semakin sedih. Mengapa aku harus jahat membuatmu merasa bersalah? 

Lagu terhenti sesaat. Seseorang membuka pintu samping auditorium. Sepertinya panitia bagian keamanan yang hendak bertukar jaga. Samar-samar kudengar suara alam berbisik lewat udara. Hujan. Hujan yang deras terlihat dari balik pintu auditorium ketika ia terbuka. Rupanya langit sedang menangis di luar. Kualihkan pandanganku kembali pada band yang sedang bermain di atas panggung. Aku masih ingin berteduh, karena kurasakan isyarat hujan lain yang hendak turun.

"Aku cari kamu. Disetiap malam yang panjang. Aku cari kamu. Kutemui kau tiada..."

Lirik lagu ini, sungguh menggambarkan perasaanku sekarang, asal kamu tahu. 

Lalu teman-temanku yang duduk di tingkat bawah, seolah dengan sengaja menoleh padaku dan berbisik di tengah alunan suara sang vokalis yang menenangkan. 
"Mana dia? Kok dia nggak datang?" tanya salah satunya.
"Dia nggak datang, dia sibuk kerja," jawabku tanpa berani memandang kedua temanku. 
"Ah, sayang banget ya dia nggak ada. Padahal kalau mau nonton band ini 'kan harus ada dia. Ah.. sayang banget...," kata yang lain sambil mengguncang-guncangkan tanganku. 
Kembali kualihkan pandangan, tapi yang kutemukan lebih menyakitkan. Teman lain yang duduk di sisi kiriku sedang asyik mesra dengan kekasihnya. Ah, beruntung sekali dia, menikmati lagu-lagu seindah ini berdua dengan yang terkasih. Memandang mereka hanya menambah kesepianku saja. Sekali lagi hati ini menegaskan kalau ia menginginkanmu, di sisiku, sekarang.

"Aku ingin berjalan bersamamu. Dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua denganmu. Diantara daun gugur...."

"Kamu tahu nggak, kenapa aku manggil kamu "Ritter"?" tanyaku suatu hari.
"Nggak, kenapa?"
"Karena Ritter itu bahasa Jermannya ksatria. Kamu itu seperti ksatria buat aku, dan aku wanitanya. Kamu 'kan suka nulis dan bacain puisi buat aku, seperti ksatria-ksatria di abad pertengahan yang suka nyanyi di bawah jendela kamar wanita yang dicintainya. Tapi karena biasanya cinta di antara mereka itu terlarang karena sang wanita sudah dijodohkan, wanitanya akan turun diam-diam dari balkon, terus mereka ketemu berdua di bawah pohon Linde. Pohon Linde itu kalau di Jerman jadi simbol cinta," jelasku.
Kamu tersenyum, lalu melanjutkan, "aku mau dong, berdua sama kamu di bawah pohon Linde."

Bayangan percakapan itu menghilang perlahan, larut dalam riuh rendah tepuk tangan penonton yang membahana. Kedua temanku ikut serta, selagi aku menarik diri. Aku mundur ke belakang, tak ingin melihat keramaian itu. Hujan turun, membasahi pipi kiriku terlebih dahulu. Konon katanya, kalau air mata menetes dari mata kiri terlebih dahulu, artinya tangis itu sedih. Mungkin aku berlebihan dengan ini, karena banyak temanku yang toh sedang sendiri tetapi tetap bahagia. Mungkin aku berlebihan, karena toh kamu selalu ada di hari-hari biasanya. Mungkin aku berlebihan, tapi entah mengapa aku merasa kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi.

Masih dalam gelap aku menyingkir, pergi dari keramaian yang membawa sepi. Hujan masih turun di luar, namun aku tak ingin peduli. Kembali kulanjutkan malam ini dengan berteduh di bawah payung seorang diri, sambil melangkah dalam perjalanan pulang.



by LV~Eisblume
07.10.12
based on a true story~
ditulis dalam rangka proyek #UIMenulis dari @NBC_UI 


12.9.12

Burung Kecil

Di bawah tiang beton bukanlah rumahmu
Pun jalan layang bukanlah atapmu
Asap kendaraan bukanlah udaramu
Tapi mengapa kutemukan dirimu di sana,
oh burung kecil?

Di atas rumputan hijau seharusnya
Kaki-kaki kecilmu berlarian
Di bawah naung dedaunan seharusnya
Sayap-sayapmu mengepak terbang
Tapi mengapa kutemukan dirimu di sini,
oh burung kecil?

Tersesatkah engkau?
Kulihat tak seekor teman pun ada bersamamu
Atau kehendakmulah,
ketibaanmu di rimba jeruji besi ini?

Sadarlah, oh burung kecil!
Tempat ini bukan kebebasan
Kota hanyalah sangkar semu
Berkedok ilmu dan kemajuan zaman
Alangkah indahnya dunia
Jika kau tak pernah tiba di sini

Ah, burung kecil...,
kurasa aku tahu mengapa
dirimu ada di tempat ini...
Kau menunggu teman yang 'kan membawamu
pergi dari tempat ini, bukan?
Ataukah, kau menunggu kekasih,
yang 'kan kau bawa pulang ke bumi impian?


by LV~Eisblume
120912
for the little creature on the street that i saw this afternoon

7.9.12

Siapa Menyepakati?

Sebenarnya ini sebuah pertanyaan yang muncul di otak saya kemarin, ketika baru keluar dari kelas Semantik Pragmatik. Waktu di dalam kelas pertanyaan ini udah muncul, tapi bingung mau nanya gimana. Hal ini berkaitan dengan bahan kajian mata kuliah semantik, yaitu tanda secara umum dan tanda bahasa. Ibu dosen menjelaskan bahwa ada banyak hal yang dapat digolongkan sebagai tanda, misalnya: benda, rambu-rambu, kata, gambar, warna, dll. Pada intinya yang diperlukan sesuatu itu untuk menjadi sebuah tanda adalah adanya kesepakatan bersama dari orang yang melihatnya bahwa sesuatu tersebut menyiratkan suatu makna.

Banyak hal telah disepakati masyarakat sebagai tanda. Contoh yang kemarin sempat disebutkan juga misalnya warna putih sebagai simbol kesucian atau kebersihan dan warna hitam sebagai simbol duka, kesedihan dan kegelapan atau kejahatan. Sebenarnya saya bingung, siapakah orang-orang yang "menyepakati" tanda-tanda ini? Siapa yang bilang kalau putih itu simbol kesucian dan hitam adalah simbol kegelapan/kejahatan? Jika tanda itu sudah disepakati sejak lama oleh masyarakat yang lampau, apakah masyarakat atau generasi yang hidup sekarang boleh tidak sepakat atau harus menuruti apa yang sudah ada? Atau lebih ekstrim lagi, bolehkah saya tidak sepakat dengan makna tanda tersebut? Bagaimana kalau saya berpikir bahwa baik warna putih dan hitam itu sama saja? Bagaimana jika saya berpikir bahwa hitam itu lebih indah daripada putih? Bagaimana jika saya memberi arti yang berbeda dari orang-orang kebanyakan? Apakah berarti saya salah? :c

Ada yang bisa bantu? :)

5.9.12

Penyihir Cermin dan Lady Calime (3)

Tak ada satu pun manusia yang masih mengingat kisah Blanche sang penyihir. Bahkan semua orang kini menganggap keberadaannya sebagai dongeng saja. Termasuk Lady Calime, seorang putri yang sangat cantik dari garis keturunan halfelven atau campuran manusia dan elf. Darah elf yang mengalir di tubuhnya membuatnya memancarkan cahaya putih lembut. Walau demikian, darah manusia yang dimilikinya membuatnya tidak abadi sehingga tetap harus melewati kematian layaknya manusia.

Hari ini Lady Calime sangat berbahagia. Beberapa hari lagi akan tiba hari pernikahan yang paling dinantinya seumur hidup. Hari ini juga, Roland, calon suaminya yang juga seorang ksatria tampan dan gagah berani akan pindah ke kastil yang didiami Lady Calime. Pesta pernikahan memang akan dilangsungkan di kediaman mempelai wanita sebagaimana tradisi yang hidup di kerajaan tersebut. Siang itu Roland tiba bersama para pengawal dan pengiringnya. Mereka membawa banyak sekali barang dan menempatkan semuanya di kamar sang ksatria yang terletak tidak jauh dari kamar Lady Calime. Menurut tradisi kerajaan juga, kedua calon mempelai akan tidur di kamar berbeda sampai pada hari pernikahan mereka. Pada hari pernikahan itu akan disiapkan kamar lain tempat mereka akan bersatu pada akhirnya.

"Barang apa saja yang kau bawa, kekasihku?" tanya Lady Calime ketika ia mengintip ke dalam kamar Roland dari pintu. Tampak jelas ada banyak sekali barang baru di dalam kamar itu yang bahkan masih ditutupi selubung kain.
"Aku juga tidak tahu, Sayang, sebagian besarnya hadiah dari kerabat-kerabatku untuk hari pernikahan yang akan datang sebentar lagi," jawab Roland.
Ksatria itu kemudian mengundang sang kekasih masuk dan menemaninya di kamar. Lady Calime melangkah dengan penuh keanggunan dalam balutan gaun biru lautnya yang indah.
"Mungkin kita bisa membuka satu persatu benda ini bersama-sama," usul Roland, yang langsung disetujui Lady Calime.
Sesungguhnya dari sekian banyak barang, Lady Calime sangat penasaran dengan sebuah benda pipih yang lebar dan diselubungi kain berwarna hijau pupus yang warnanya sudah tidak indah lagi. Dengan segera ia mengambil benda yang bersandar di tembok itu dan membuka kain yang menutupinya.
"Apa itu, cermin?" tanya Roland ketika melihat benda yang dipegang kekasihnya.
"Sepertinya demikian, cermin antik yang sudah tua," jawab Lady Calime, ia membuka seluruh selubungnya.
"Aneh. Kenapa ada orang yang memberiku cermin?" sang ksatria bertanya dengan bingung.
"Haha... tidak apa-apa. Itu tetap hadiah. Seorang pria tidak berarti tidak butuh cermin, bukan?" ujar Lady Calime.
"Aku penasaran, siapa yang terpikir untuk menghadiahi aku sebuah cermin antik," kata Roland.
Karena penasaran, sang ksatria memanggil salah satu orangnya yang tadi membawa barang-barang ini ke kamar.
"Dari mana kau dapatkan cermin ini? Apakah ini hadiah? Siapa yang memberikan benda ini kepadaku?" tanya Roland.
"Cermin itu kami beli di pasar, Tuan. Seorang nenek tua menjualnya. Kata nenek itu, cermin ini akan membawa kebahagiaan bagi pernikahan Tuan," jawab pria yang dipanggil tadi.
Tanpa bertanya lagi, Roland menyuruh orang itu meninggalkan kamar. Baik Roland maupun Lady Calime tak ada yang sungguh-sungguh percaya dengan kebahagiaan yang dijanjikan benda itu. Meski demikian, Lady Calime merasa cermin itu memiliki keindahan tersendiri yang dapat menghias kamar yang kosong itu. Sang putri mengambil cermin itu dari tangan kekasihnya lalu menggantungkannya pada sebuah paku di tembok, tepat berhadapan dengan tempat tidur di tengah ruangan. Bayangan ruangan yang kosong dan kusam tampak indah di dalam cermin. Mungkin cermin itu sungguh-sungguh cermin ajaib.

4.9.12

Penyihir Cermin dan Lady Calime (2)

"Tolooong..!! Kebakaraaan!!"
"Selamatkan mereka!! Cepat! Cepat!"
Teriakan penduduk terdengar di seluruh penjuru desa. Mereka berlari ke sana ke mari mencari sumber air dan berusaha memadamkan api yang berkobar-kobar di salah satu sudut desa. Si jago merah sedang melahap salah satu rumah dengan ganasnya. Rumah Blanche. Di dalam rumah itu tinggal kedua orang tuanya dan Blanche sendiri, sementara sang kakak sudah pindah tinggal setelah pernikahannya. Api yang sangat besar disertai asap tebal seakan menelan rumah itu beserta isinya. Walaupun penduduk desa telah menyiramkan bergentong-gentong air, tetap saja api terus berkobar tak kunjung padam. Usaha yang mereka lakukan berjam-jam menjadi sia-sia ketika akhirnya bangunan itu habis dilalap api.

Tanah di sekitar rumah masih panas dan asap masih membumbung di beberapa sudut. Para penduduk berkerumun menanti sisa apa yang akan mereka temukan dalam rumah. Ketika dirasa cukup aman, beberapa dari mereka mencoba masuk menembus reruntuhan rumah itu. Mereka mencari entah apapun yang bisa mereka temukan di dalam. Semua habis tak tersisa, termasuk kedua orang tua Blanche yang telah menjadi mayat. Tiba-tiba terdengarlah suara isak tangis lain dari balik reruntuhan. Dengan cepat para penduduk desa bekerja sama mengangkat kayu dan batu yang rata dengan tanah. Mereka menemukan sosok Blanche yang terbungkus kain hitam dan menangis tersedu-sedu di bagian yang dulunya kamar pojok di rumah itu, tempat Blanche disembunyikan.
"Siapa gadis ini?" seseorang mencoba membuka kain hitam yang menyelimuti dirinya.
Mereka terkejut karena tak satu pun penduduk desa itu mengetahui keberadaan Blanche sebelumnya.
"Bukankah keluarga ini hanya punya satu anak perempuan?" tambah yang lain. 
"Tidak, mereka punya dua. Tetapi yang satu sudah mati," kata seorang ibu.
"Lalu siapa dia?" tanya yang lain lagi.
"Cukup sudah! Berhenti berdebat. Dia ini Blanche, adikku!" kata sang kakak.
Wanita cantik itu bangkit dari sisi mayat orang tuanya dan menghampiri adiknya yang menangis tersedu-sedu. Alangkah terkejutnya ia ketika dibukanya kain hitam itu dan mendapati bahwa adiknya sangat cantik, bahkan melebihi dirinya. Semua orang di sekitar mereka sibuk berbisik-bisik. Tak satu pun percaya bahwa wanita itu memiliki adik. Tak satu pun percaya bahwa ada seseorang yang sangat cantik telah selamat dari kebakaran besar itu. Mereka merasa keajaiban telah terjadi.

* * *
Setelah kejadian itu, Blanche tinggal bersama kakaknya di sebuah rumah di bagian desa yang terletak dekat dengan hutan. Sang kakak selalu sibuk bekerja. Ia mencari kayu bakar di dalam hutan. Sementara suami sang kakak menghidupi keluarga barunya dengan bekerja sebagai tukang kayu di rumah. Tanpa sepengetahuan kakaknya, diam-diam Blanche telah menaruh hati pada si tukang kayu. Mulanya si tukang kayu tak pernah meladeni setiap godaan yang dilontarkan gadis itu padanya. Blanche yang kesal karena selalu gagal membalaskan dendam pada kakaknya mulai menggunakan sihirnya lagi. Ia mengucapkan mantera dan berhasil menjerat si tukang kayu dalam perangkapnya. 

Suatu hari sang kakak pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar seperti biasa. Namun di tengah jalan ia teringat akan sesuatu. Ia lupa membawa bekal yang telah disiapkannya di atas meja. Alangkah terkejutnya ia ketika tiba di rumah. Sang kakak mendapati bahwa adiknya, Blanche, telah tidur bersama suaminya tanpa sepengetahuan dirinya. Ia juga terkejut menemukan buku mantra dan alat sihir lainnya berserakan di kamar Blanche. Segera ia mengetahui apa yang telah dilakukan adiknya. Dengan penuh amarah ia menyeret Blanche dan mengusirnya keluar bersama peralatan sihirnya.

Penuh benci dan dengki, Blanche pergi berlalu dari rumah itu. Ia kemudian hidup menumpang dari satu rumah ke rumah yang lain. Ia mengganti namanya berulang kali, juga wajahnya sehingga tidak diketahui orang. Tetapi selalu akhir yang sama ditemukan pada setiap rumah. Blanche berselingkuh dengan suami wanita yang tinggal di rumah itu sehingga ia selalu diusir. Lama kelamaan orang tersadar bahwa setiap wanita yang datang ke rumah mereka adalah orang yang sama. Wanita terakhir yang ditumpangi Blanche berhasil menyeretnya ke gedung pengadilan di kota yang terletak di balik tembok tinggi. Dibukanya keras-keras pintu gedung pengadilan dan ia berteriak dengan lantang:
"Bapak Hakim yang terhormat, hari ini juga telah saya temukan seorang wanita penyihir yang bersembunyi di antara kami!" lalu ditunjukkannya peralatan sihir Blanche sebagai bukti.
 Sidang atas terdakwa Blanche digelar. Semua penduduk yang telah menjadi korbannya berkumpul di situ dan berteriak-teriak dengan gaduh meminta Blanche segera dihukum.
"Hukuman paling pantas untuk penyihir adalah dibakar!" teriak seorang ibu.
"Atau ditenggelamkan di sungai!" tambah ibu lainnya.
Kemudian sang hakim berusaha menengahi keriuhan yang terjadi.
"Tenang dulu para penduduk desa. Kita tidak bisa langsung menjatuhkan hukuman dengan tidak bijak. Sebelumnya tidak pernah ada hukuman seperti itu yang dijatuhkan pada penduduk desa kita, " kata sang hakim.
"Biarkan saja, Pak Hakim! Hukum mati saja wanita ini!!" teriak beberapa wanita yang menjadi korban Blanche.
Namun para penduduk desa tak dapat menentukan apa hukuman yang pantas bagi Blanche. Beberapa wanita ingin dia dihukum gantung. Beberapa yang lain minta hukuman bakar, seperti penyihir-penyihir di negeri-negeri lainnya. Ada pula yang meminta agar Blanche ditenggelamkan di sungai. Pada akhirnya karena solusi tidak kunjung ditemukan, sang hakim memutuskan untuk mengusir Blanche jauh dari wilayah tersebut dan menyita segala peralatan sihirnya. Pakaian Blanche yang indah disita dan diganti dengan pakaian lusuh. Rambut merahnya yang indah dipotong dan segala perhiasan yang dipakainya dilucuti. Dengan mata tertutup ia dibawa jauh meninggalkan kota dan desa-desa di situ, lalu dilepaskan di tengah hutan dan ditinggalkan di sana. Tak satu pun pernah melihat Blanche setelah kejadian itu. Tahun-tahun dan masa yang panjang berlalu. Orang mulai melupakan namanya. Kisah Blanche hanya menjadi legenda, sebelum kemudian dilupakan sama sekali. Tetapi sesungguhnya ia terus hidup melewati tahun-tahun itu, tanpa seorang pun yang tahu apa yang dilakukannya. Sosok buruk rupa aslinya telah kembali, seiring dengan dirinya yang dijauhkan dari peralatan sihirnya.

(bersambung)