30.4.11

Di Jerman juga ada lho...

Hari ini saya terdorong buat posting sesuatu yang agak-agak berbau mistis. Kalau di Jerman istilahnya Aberglaube. Mungkin di Indonesia kira-kira diterjemahkan sebagai takhayul, hal-hal yang tidak masuk akal. Nah, tapi bedanya takhayul-takhayul ini bukan seperti yang biasa kita temui. Mengapa? Karena mereka berasal dari Jerman! Nggak kebayang kan, orang Jerman yang pikirannya udah modern banget (bahkan banyak yang udah nggak percaya sama Tuhan atau apapun yang nggak bisa dibuktikan keberadaannya!). Tapi ada lho ini...


1. Kepercayaan pada Pohon Keramat
 Kalau kita di Indonesia punya pohon beringin yang kita anggap keramat, sarang hantu, ada penunggunya atau apalah. Di Jerman mereka juga punya pohon semacam ini (dan banyak!). Dulu ketika saya buat postingan tentang pohon Linden, saya pikir segala macam takhayul yang ada terkait dengan pohon itu hanya eksis di masa lampau. Ternyata, ketika saya baca di website ini: http://www.konsulat-frau-holle.de/pages/orte-der-frau-holle/wirkungsstaette-der-holle-frauen.php fakta mengatakan sebaliknya. Di kota-kota seputar Lembah Werra di wilayah Pegunungan Meissner, Hesse masih banyak terdapat pohon Linden yang dipercaya sebagai tempat berdiamnya Freyja, dewi cinta, kecantikan dan kesuburan bangsa Jerman kuno. Sepertinya yang sudah saya bahas, pohon ini dijadikan tempat berkumpul penduduk desa, berpesta atau (hanya di zaman dulu) melaksanakan sidang pengadilan karena dianggap memberikan kebijaksanaan.
Warga desa berkumpul di bawah pohon Linde


Linde yang dikeramatkan di Dohrenbach

dan ternyata nggak cuma Linde doang yang dibilang keramat karena masih ada pohon lain yaitu pohon Ek (Eiche, dalam bahasa Jerman). Pohon Ek diasosiasikan sebagai pohonnya dewa Donar atau Thor yang kalau dalam mitologi Teutonic (Jerman) merupakan anak laki-laki dari Wodan dan dewi bumi. Namun kekeramatan pohon Ek tidak seheboh pohon Linde yang masih banyak dipercaya sampai sekarang. Mungkin hal ini karena cerita menarik yang ada di baliknya. Pada masa abad pertengahan dalam kurun waktu pemerintahan Karl Martel di Kekaisaran Romawi Suci (sekarang Jerman), terjadi kristenisasi besar-besaran atas suku-suku asli Jerman yang masih pagan. Salah satu orang suci, yakni Santo Bonifasius menebang sebuah pohon Ek yang dipercaya sebagai tempat kediaman Donar dan disembah-sembah penduduk di wilayah Hesse. Ia berhasil membuktikan bahwa ternyata tidak ada petir yang menyambar setelah ditebangnya pohon keramat itu (fyi, Donar adalah dewa petir bangsa Jerman kuno). Santo Bonifasius pun berhasil membuat suku-suku bangsa itu meninggalkan kepercayaan politheisnya dan menjadi Katolik seperti raja mereka.

St. Bonifasius menebang pohon Ek Donar





pohon Ek

2. Kepercayaan pada mata air untuk kesuburan dan kecantikan.
Kalau pohon dikeramatkan masih mending. Tapi kalau ini?? Saya aja kaget bacanya kalau di Jerman sana masih ada kepercayaan macam begini. Saya kira hanya di Indonesia aja. Rupanya di wilayah Jerman (lagi-lagi di lembah Werra dekat gunung Meissner di Hesse) ada sebuah kolam yang juga dikeramatkan sejak zaman dulu. Kolam ini dipercaya sebagai sumber mata air yang dapat memberikan kecantikan dan kesuburan bagi para wanita. Kolam ini dijaga oleh Freyja sebagaimana pohon Linde. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, dari kolam inilah para bayi berasal. Mereka dibungkus oleh daun-daun teratai dan menunggu untuk dijemput oleh burung bangau untuk diantarkan pada orang tua masing-masing. Jika nantinya mereka mati sebelum lahir maka rohnya akan kembali lagi ke kolam ini. Konon katanya, para wanita yang ingin memiliki anak harus melakukan ritual di tempat ini dengan mandi di kolam tersebut. Nama kolam ini adalah Hollenteich yang diambil dari nama Frau Holle, tokoh dalam dongeng Grimm yang dipercaya sebagai jelmaan Freyja.
Hollenteich


Patung kayu Frau Holle di tepi kolam
3. Goa keramat
Nah, ada lagi nih. Ternyata nggak cuma di Pantai Selatan aja yang banyak goa keramat. Di Jerman juga ada! Goa ini namanya Hollestein dan terletak di wilayah yang sama dengan dua tempat di atas. Goa ini menjadi yang terbesar di wilayah tersebut dengan panjang 55 m, tinggi 12 m dan lebar 20 m hingga kita bisa berlari-lari di dalamnya. Di dekat goa tersebut juga terdapat sebuah kolam dengan kedalaman 4 m dan dipercaya dapat membuat para wanita awet muda jika mencuci muka di situ. Ketika mencuci muka mereka harus melakukannya tanpa suara sama sekali. Goa ini konon merupakan rumah dari Frau Holle. Sampai saat ini setiap wanita yang berkunjung ke sana sering membawa bunga dan mempersembahkannya pada Frau Holle. Bahkan di depan goa itu masih terdapat semacam tempat melakukan ritual sisa-sisa dari abad lampau.

pintu masuk Hollestein
di dalam Hollestein
Sisa-sisa tempat ritual dekat Hollestein



4. Pemberian sesajen
Saya nggak bohong! Di Jerman masih ada yang melakukan ini. Mereka mempersembahkan sesajen untuk Freyja tiap tanggal 1 Mei yang dipercaya sebagai awal musim semi. Memang tidak ada candi khusus untuk Freyja seperti candi-candi di Indonesia, tetapi ada semacam lokasi yang dijadikan tempat melakukan ritual dan sesembahan ini. Nah, ini fotonya...



altar sesajen

sesajen untuk tanggal 1 Mei


para wanita di sekeliling altar Freyja
Hoho... gimana? sedikit menambah pengetahuan tentang Jerman kan? ^^









Tidak ada komentar:

Posting Komentar