20.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (2)

Seluruh penghuni kastil cemas, terlebih lagi Sigmund, ayah Thorvard. Ia menanti kepulangan anaknya dari perburuan. Beberapa pengawal telah diperintahnya untuk mencari rombongan Thorvard, sedangkan ia duduk menanti putra tunggalnya itu dengan penuh kekhawatiran di meja makan. Tiba-tiba pintu kastil terbuka. Dua pengawal yang pakaiannya basah kuyup membawa masuk bangkai seekor serigala.
"Hamba mohon ampun Tuanku, kami tidak dapat menemukan putra Tuanku di mana pun. Kami terpisah darinya ketika badai datang. Kami sudah peringatkan ia agar tidak nekad menerjang badai, apa daya kami tak mampu mencegahnya. Keinginan Tuan Muda Thorvard untuk mendapatkan buruan sangat besar," kata Lars, salah satu pengawal yang mendampingi Thorvard.
"Huh! Dasar kalian berdua bodoh! Harusnya kalian tidak membiarkan putraku pergi sendirian!" kata Sigmund kesal.
"Tapi Tuanku, kedua kuda kami tidak mau dipacu menerjang badai itu," kata Knut, pengawal lainnya.
"Banyak alasan kalian! Sekarang cepat jelaskan mengapa kau bawa bangkai serigala itu kemari!" perintah Sigmund.
"Serigala ini kami temukan tergeletak mati di tepi hutan keramat, Tuan. Dan kami terkejut ketika menemukan ini padanya," Lars dan Knut mengangkat tubuh serigala itu dan memperlihatkan sesuatu yang menancap menembus lehernya: panah Thorvard! 
"Oh, tidak. Thorvard anakku!" Sigmund bangkit dari kursi makannya dan langsung menghampiri bangkai serigala yang dibawa kedua pengawal itu. "Thorvard..., putraku satu-satunya... ahli warisku..., bagaimana mungkin kau tewas dimangsa serigala ini?" ia menelungkup penuh penyesalan. Seketika ruangan itu menjadi sunyi seolah kabar duka yang dibawa kedua pengawal telah tersebar lewat udara ke segala penjuru kastil. 
"Tapi Tuanku," Lars memecah kesunyian penuh duka itu. "hamba tidak begitu yakin bahwa Thorvard pasti dimangsa serigala ini. Memang ada kemungkinan ketika ia dimangsa ia berusaha melawan dengan menancapkan panahnya ini. Tapi... jika memang serigala ini memangsanya, kami tidak menemukan sisa apapun dari Tuan Muda Thorvard, yang tentu seharusnya tidak terjadi,"
Sigmund mengangkat kepalanya. "Jadi.. maksud kalian, ada harapan bahwa anakku masih hidup? Lalu jika demikian di mana ia sekarang?" 
"Satu hal yang kami khawatirkan, Tuanku. Tuan Muda Thorvard mungkin telah tersesat dalam badai dan tanpa sengaja masuk ke hutan keramat," kata Knut.
"Apaaa?! Hutan keramat kau bilang?! Apa bedanya dengan kematian kalau begitu?! Siapa pun yang masuk ke sana tidak akan dapat keluar!" Sigmund tidak begitu suka dengan kemungkinan kedua.
"Setidaknya kita dapat berharap Tuan Muda Thorvard tidak seperti yang lainnya dan suatu saat menemukan jalan keluar," kata Lars berusaha memberikan pemikiran positif.
Sigmund sang tuan tanah melewatkan makan malam dalam kesendirian. Separuh hatinya masih berharap bahwa anaknya akan kembali. Sayangnya hingga ia beranjak tidur, tidak ada tanda-tanda kepulangan Thorvard.
* * *
Nun jauh di hutan keramat, Thorvard yang telah berubah menjadi serigala menanti datangnya malam dengan tidak sabar. Ketika sinar bulan pertama menembus celah-celah pohon yang begitu rapat, ia segera berlari dan membiarkan tubuhnya dimandikan cahaya bulan yang membuat bulu-bulunya menjadi keperakan. Ia membuat sebuah lolongan panjang lalu seluruh tubuhnya mulai berubah. Wajah, tangan, badan, kaki dan jari jemarinya kembali menjadi Thorvard, sang ksatria gagah. Ia berdiri dalam balutan baju besi yang bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Dengan mantap ia melangkah meninggalkan cahaya itu, bermaksud melaksanakan keinginan utamanya: pulang ke kastil.

Thorvard melangkah keluar dari hutan keramat, melalui desa-desa di sekitar dinding kastil yang sangat sunyi seolah mati. Malam sudah begitu larut, sampai-sampai ketika ia tiba di kastil, tak seorang pun masih terbangun kecuali para penjaga gerbang. Penjaga gerbang tampak terkejut melihat kehadiran sang ksatria yang tidak berubah kecuali sebuah luka yang tampak di kepala akibat terantuk batu tadi. Tanpa berkata apa-apa, mereka langsung membukakan gerbang untuk sang tuan muda. Thorvard harus melalui jalan panjang yang melingkar ke atas apabila ingin mencapai pintu kastil. Ia harus melakukannya dengan kedua kakinya karena kudanya telah kabur entah ke mana ketika melihat dirinya berubah menjadi serigala. 

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, tibalah Thorvard di pintu kastilnya. Semua pengawal yang berjaga membukakan pintu untuknya, tetapi ia merasa ada yang janggal, karena para pengawal itu kemudian berbisik-bisik dengan berisik sekali. Kepulangan Thorvard langsung diketahui oleh ayahnya lewat kurir kastil. Sigmund menghambur keluar menghampiri sang anak dan segera menanyakan banyak hal pada Thorvard. Tanpa mempertimbangkan waktu, sang tuan tanah memerintahkan para pelayan untuk memasakkan makanan mewah dan lezat untuk putranya. Ia begitu percaya akan keajaiban yang telah terjadi: Thorvard tidak mati namun berhasil keluar dari hutan keramat dengan selamat, nyaris tanpa kekurangan apapun. 

Ayah dan anak itu terus bercakap-cakap hingga lupa waktu. Ketika Thorvard tersadar, jam sudah menunjuk pukul lima pagi. Mereka telah mengobrol semalaman tanpa tidur dan Thorvard mulai khawatir. Ia sadar bahwa sebentar lagi mentari akan terbit dan sinarnya akan mengubah dirinya menjadi serigala kembali. 
"Tapi Thorvard anakku," kata Sigmund, "kau baru saja pulang, kenapa harus pamit dan pergi lagi?" tanyanya bingung.
"Tidak bisa ayah, aku harus pergi. Ada urusan yang belum kuselesaikan. Aku akan kembali lagi nanti," katanya. Ia langsung menyambar jubah yang disampirkan di punggung kursinya dan berlari melintasi ruang tengah kastil yang luas menuju keluar.
"Thorvard! Tunggu!" panggil Sigmund, namun ia tidak lagi dapat mencegah anaknya. Sang ksatria muda telah menghilang dari pintu.
Thorvard berlari dengan cepat melintasi lorong-lorong sempit di antara bangunan. Ia berusaha menghindari sinar mentari yang mulai menyusup menembus awan di ufuk timur. Namun ia kalah cepat. Matahari mulai naik dan menampakkan seluruh wujudnya. Sekelilingnya menjadi sangat terang dan perlahan-lahan ia merasakan bulu-bulu kembali menutupi tubuhnya. Dengan segera ia melompat bersembunyi di balik bayangan. Sial bagi Thorvard, seorang anak kecil justru berjalan mendekatinya karena penasaran.
"Aada.. celigalaaaa..., celigalaaa..," katanya dengan polos dan lugu seolah tak tahu bahaya yang mengancam nyawanya.
"Tidak ada serigala di dalam dinding kastil, Nak," kata ibunya tanpa menyadari keberadaan Thorvard.
"Jangan ke sini, Nak! Bahaya.., menjauhlah dariku! Hush.. hush...," Thorvard berusaha mengusirnya dengan melambai-lambaikan cakarnya. Ia tidak sadar suara yang dihasilkannya sama sekali bukan suara manusia, melainkan suara geraman hewan buas.
"Ada serigalaaaaaaa!!!! Toloooong!!" sang ibu menjerit ketika menyadari asal geraman itu. Ia menarik anaknya menjauh dan berteriak-teriak di sepanjang jalan lalu menunjuk tempat persembunyian Thorvard.
 Buru-buru Thorvard melompat keluar dari bayangan. Ia terkejut melihat banyaknya orang di jalan dengan berbagai macam senjata. Mereka juga tampak terkejut menemukan serigala abu-abu besar berada di balik dinding kastil.
"Itu serigalanya! Ayo kita kejar!!" seru seorang penduduk.
Mereka mengejar Thorvard sembari melesakkan anak panahnya berharap dapat melumpuhkan atau membunuh serigala itu. Thorvard berlari dengan panik mencari gerbang kastil selagi berusaha menghindari senjata apapun yang dilemparkan para penduduk. Sebuah anak panah yang tajam berhasil menggores kakinya. Siksaan belum berakhir, karena ketika ia tiba di gerbang kastil, penduduk desa di luar sudah bersiap dengan senjatanya masing-masing. Garpu ladang dan obor dengan api menyala dilemparkan ke arah dirinya. Kerumunan penduduk terus mengejarnya. Thorvard terengah-engah berlari melintasi padang rumput lalu menghilang di balik kelebatan hutan keramat. Sejak hari itu ia bertekad tidak lagi ingin masuk ke dalam kastil selagi kutukan itu masih ada. Ia hanya keluar pada malam hari sesekali dalam pakaian ksatria dan wujudnya yang tegap dan gagah dan menghilang sebelum matahari terbit. Orang di daerah tersebut kemudian mengenalnya sebagai ksatria malam.

(bersambung)

19.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (1)

Kemarilah, aku akan menceritakan sebuah dongeng. Dongeng dari masa yang lampau. Dongeng dari negeri yang sangat jauh. Tempat hutan-hutan tumbuh dengan rimbun, desa-desa tua hidup di sekitarnya, dan benteng-benteng kokoh para raja masih berdiri tegak. Salah satu desa itu terletak di luar dinding kastil yang tinggi. Tak jauh dari desa itu ada sebuah hutan yang pohonnya besar-besar. Konon katanya, hutan itu keramat dan berhantu. Tak satu pun manusia berani menjejakkan kaki ke dalam hutan itu. Katanya, hutan itu ada penunggunya.

Sekarang kita kembali ke desa. Desa itu tidak besar, namun cukup banyak penduduk yang tinggal di dalamnya. Para prianya kebanyakan bekerja sebagai penggembala dan pemburu, sementara para wanitanya adalah peramu obat dan tabib yang handal. Meski demikian, tak satu pun dari bahan baku hasil produksi mereka diambil dari hutan keramat itu. Mereka memilih mencari hutan lain yang letaknya lebih jauh. Tidak hanya penduduk desa yang takut akan hutan itu, tetapi juga para penduduk yang tinggal di balik dinding kastil. Sang tuan tanah yang sangat suka berburu juga menghindari hutan itu. Ia selalu menasehati anak laki-lakinya, seorang ksatria muda yang tampan berambut pirang panjang sebahu, untuk tidak memacu kudanya melangkah masuk ke hutan itu.

Suatu hari menjelang musim dingin, Thorvard sang ksatria hendak mengusir rasa bosannya dengan berburu. Ia berpamitan pada sang ayah untuk pergi sejenak keluar kastil. 
"Ayah, aku sangat bosan. Aku hendak pergi berburu sebentar," katanya.
"Baiklah anakku, Thorvard, ingat selalu pesan ayahmu. Ayah tahu kau sudah beranjak dewasa dan mulai penasaran akan segala hal, tapi untuk hutan itu... itu sebuah pengecualian. Jangan kau pacu kudamu ke sana, karena hutan itu telah dikeramatkan untuk para dewa dan leluhur kita," pesan ayahnya.
Bersama dengan pesan itu Thorvard berangkat. Ia membawa serta dua pengawalnya yang setia dalam perburuan itu. Thorvard menunggang kuda hitam kesayangannya sedangkan para pengawal mengikutinya di belakang dengan kuda coklat mereka masing-masing. Derap langkah kaki kuda menggetarkan jalanan batu di balik dinding kastil, kemudian keluar menjauh mengikuti arah ketiga orang itu.

Jam demi jam berlalu, namun baik Thorvard maupun kedua pengawalnya tak ada yang berhasil mendapatkan buruan. Tak seekor burung atau pun kelinci yang berhasil mereka tangkap, apalagi babi hutan dan rusa. Entah mengapa binatang-binatang seolah terlalu malu menampakkan diri pada hari itu. Thorvard mulai merasa kesal dengan nasibnya yang kurang beruntung. Sementara itu para pengawal seperti cemas dan sedari tadi mereka terus memohon pada sang ksatria untuk pulang.
"Tuan muda Thorvard, apakah tidak sebaiknya kita pulang saja? Kita sudah berjam-jam mengelilingi hutan dan padang rumput tanpa hasil," kata salah satu pengawalnya.
"Apa kau bilang, Lars?! Kau memintaku pulang tanpa membawa apapun? Bodoh! Bagaimana bisa aku menerima pandangan seluruh penghuni kastil ---- Thorvard sang ksatria tidak bisa menangkap satu buruan pun. Huh!" gerutu Thorvard kesal.
"Tapi tuan muda Thorvard, lihatlah! Langit mulai gelap dan sebentar lagi badai akan turun. Badai musim gugur yang membawa angin musim dingin. Badai yang mematikan," Knut, pengawal kedua mencoba memberi saran.
"Tidak.., tidak.., aku tidak akan kalah dengan badai mana pun. Aku akan terus berburu sampai dapat, sekalipun dewa petir mengirimkan badai terdahsyatnya. Kalian para pengecut, silakan kalian pulang, aku akan mengadukan kalian pada ayahku bahwa kalian telah meninggalkanku!" kata Thorvard dengan nada mengejek. Para pengawalnya terdiam tak menjawab lagi. Dengan pasrah mereka mengikuti keangkuhan sang tuan muda sekalipun dalam hatinya merasa berat akan perkataan Thorvard tentang sang dewa petir.
 Sekonyong-konyong hujan turun dengan lebatnya. Bukan hujan salju, namun hujan air yang teramat sangat dingin. Angin bertiup kencang dan memperparah keadaan. Kedua kuda para pengawal Thorvard menolak dipacu, sehingga mereka terpaksa berhenti dan menunggu hujan sedikit mereda. Namun kuda hitam milik Thorvard, yang kebetulan berasal dari generasi kuda tertangguh di seluruh kerajaan, masih bersikeras menghadapi badai itu. Tampaknya ia tertular jiwa keras kepala tuannya. 

Thorvard memacu kudanya dan berusaha menembus badai. Namun angin semakin kuat bertiup dan menerbangkan segala hal yang dilewatinya. Kabut turun dari langit membutakan pandangan mata. Thorvard tidak bisa lagi melihat kejauhan. Jarak pandang matanya semakin terbatas. Tanpa ia sadari, langkah kaki kudanya telah membawa dirinya mendekat ke arah hutan keramat. Ketika kaki kudanya hendak melangkah masuk ke dalam lapisan pertama pepohonan hutan itu, ia terkejut ketika dilihatnya sebuah cahaya keperakan berjalan mendekat. Cahaya itu berhasil menahan kudanya untuk tidak melangkah masuk ke hutan. Thorvard mengusap kedua matanya, menyangka bahwa cahaya itu hanya ada dalam mimpinya. Namun cahaya keperakan itu begitu nyata dan semakin mendekat. Akhirnya Thorvard menyadari bahwa cahaya itu menampakkan siluet seekor binatang yang sangat gagah : serigala! Sang ksatria terpana memandang sosok sang serigala. Begitu terangnya cahaya perak yang dihasilkan bulu-bulunya, ia sampai dapat melihat keadaan di sekelilingnya. Hujan belum berhenti tetapi ia mampu melihat dengan jelas, bahwa kaki kudanya berdiri tepat di tepi hutan keramat. Sang serigala telah menyelamatkan dirinya.

Ia terkesima dengan pemandangan beberapa detik itu. Tanpa mampu berkata-kata, Thorvard memacu kudanya berbalik memunggungi hutan keramat. Ia bermaksud meninggalkan tempat itu ketika disadarinya sang serigala tidak lagi bercahaya. Dari balik bahunya ia melirik dan menemukan seekor serigala biasa berbulu abu-abu tua berdiri di belakangnya. 
"Tampaknya yang tadi itu hanya halusinasiku saja..., hahaa..., bodoh kau Thorvard!" katanya pada diri sendiri. "Masa kau tidak sadar, serigala itu hadiah dari dewa untukmu. Lihat, serigala itu besar sekali, pasti kau akan jadi kebanggaan setelah pulang dan membawanya."
Dengan segera Thorvard mengambil busurnya dan melesakkan panah secepat kilat yang langsung menembus tubuh sang serigala. Serigala itu menggeram kesakitan lalu rebah di tanah. Thorvard terdiam, kemudian perasaan bangga langsung menyelimuti hatinya. Ia tertawa sendiri memuji keberhasilannya.  

Sang ksatria turun dari kudanya hendak mengambil dan membawa pulang sang serigala. Tiba-tiba sebuah petir yang begitu kuat menyambar dirinya. Ia terpental menjauhi tubuh sang serigala dan kepalanya terantuk batu-batu di jalan hingga luka. Sembari mengaduh ia berusaha bangun dan bermaksud melanjutkan pekerjaannya ketika dilihatnya sosok terang lain telah berdiri di sebelahnya, menghalangi pandangannya dari sang serigala. Ia adalah sang dewi yang menguasai musim dingin dan perburuan. Sosok wanita berambut kepang emas dengan pakaian dari bulu-bulu hewan musim dingin itu berkata:
"Thorvard Sigmundson! Ksatria pemberani yang angkuh, tamak dan tidak punya hati. Telah kutolong dirimu dengan mengirimkan serigalaku untuk membantumu pulang, tapi karena ketamakan dan keangkuhanmu, kau justru membunuhnya! Kau tidak pantas hidup sebagai manusia. Maka atas nama semua dewa-dewi dan penghuni kerajaan langit, kukutuk kau menjadi serigala, seperti makhluk malang yang telah kau bunuh! Kau akan berjalan dengan empat kaki, menghindari kejaran pemburu, ditakuti dan dibenci semua makhluk selama mentari bercahaya di langit. Kau akan selalu terburu-buru meninggalkan kastil sebelum matahari terbit hingga tiada mampu lagi kau menjejakkan kaki di dalamnya!"
Petir yang sangat kuat menyambar lagi, melenyapkan sosok sang dewi dari pandangan kedua mata kuning menyala, mata Thorvard Sigmundson, sang serigala.

(bersambung)




17.8.12

Sang Burung Malam dan Ketidakabadian



Dalam padang jiwa ketidakabadian menemukannya
Sang burung malam berbalut selendang putih menari
Masuk kegelapan hutan beribu tahun yang lampau
Menyanyikan lagu rindu tanah seberang

Tersembunyi dari pandang dunia tengah
Di balik selimut kabut hamparan laut
Alam tanpa derita impian sang burung malam
Ke sanalah seharusnya dia berlayar
Dengan kapal abu-abu dari pelabuhan barat

"Siapakah dirimu oh burung malam?"
Ketidakabadian menemukan separuh hatinya
Dan meski keduanya berbeda
Bertekuk lutut mereka pada sang cinta

Sang burung malam palingkan wajahnya
dari tanah impian di seberang lautan
Bersatulah ia dengan ketidakabadian
"Biarlah kumiliki satu hidup bersama dia
daripada melewati keabadian tanpa dirinya"

by LV~Eisblume
17.08.12
inspired by the story of Beren and Luthien by J.R.R.Tolkien, for our story...


13.8.12

Me? A Paradox!

Kadang-kadang gue nggak ngerti sama diri sendiri. Gue selalu merasa punya kepribadian ganda. Tapi yang namanya punya kepribadian ganda pasti antarkepribadian nggak saling tahu satu sama lain, jadi pasti ini bukan, soalnya gue sadar banget bahwa di dalam diri gue semacam ada 2 "orang" atau "jiwa" yang bertolak belakang. Entahlah gue juga nggak ngerti kenapa bisa gitu. Kalau adek gue bilang itu namanya alter ego. Tapi menurut gue bukan juga, soalnya kalau alter ego itu biasanya ada dua kehidupan berbeda yang dijalanin sama orang itu, sementara gue nggak sampai segitunya. Akhirnya gue lebih suka menyebut bahwa itu memang diri gue yang satu ini yang paradoks, tapi udah parah hahahaha...xD

Mungkin dari sini lebih enak dibilang kalau gue punya kepribadian dengan dua sisi. Dua sisi ini ikut ke mana aja gue pergi. Dua-duanya ke kampus, dua-duanya tinggal di keluarga yang sama, dll. Tapi yang bikin dia jadi paradoks adalah kesukaan, minat dan karakternya. Mungkin lebih mudah ditunjukin buktinya dulu.
Sisi kepribadian gue ada yang sifatnya gelap, yang bisa dilihat kalau buka blog gue yang ini: http://eventyrfjell.tumblr.com/. Di situ sebenarnya ada deskripsi panjangnya tentang siapa gue (dan orang yang nggak tahu gue punya blog yang lain mungkin percaya aja kalau gue ya begitu tanpa tahu sebenarnya gue punya sisi lain). Nah, di blog yang itu orang dapat kesan kalau gue itu seseorang yang tidak religius yang memiliki ketertarikan tingkat tinggi pada era medieval Eropa, Viking dan budayanya, mitologi Norse, paganisme, sihir, ilmu ramal meramal, berbagai ritual dan keyakinan orang Eropa kuno, alam liar, fantasi dan dongeng tapi yang sifatnya mistis (seperti kumpulan karya Grimm). Gue senang mendengar musik metal dan pagan folk. Gue posting segala penjelasan tentang dewa-dewi Norse, huruf Rune, simbol-simbol mistik mereka plus kadang-kadang ajaran bangsa mereka yang tertulis di buku Prose Edda dan Havamal (semacam kitab sucinya orang Norse kuno). Tapi jujur aja, walaupun kesannya gue orang tersesat dan pengikut aliran kayak gitu, sebenarnya tak satupun dari yang gue posting di situ gue percaya. Gue cuma suka aja dan pengen tahu lebih banyak tanpa mau dipercayai, seperti baca dongeng aja. Intinya sih gue tertarik pada hal-hal itu scientifically, bukan spiritually. Yahh.. walaupun gue pengen banget bisa meramal pakai Rune :3

Blog yang satu lagi ada di sini: http://frouwelineisblume.tumblr.com/ . Nah ini versi baik (light) gue. Orang yang lihat ini tanpa tahu blog yang di atas tadi pasti berpikir kalau gue cewek baik-baik, nggak suka aneh-aneh, anak rumahan, ceria, berhati lembut dan sensitif. Postingan gue di situ isinya baju-baju lolita atau mori kei (cabang J-style yang terinspirasi dari gadis yang tinggal di hutan), motif floral, bunga-bunga, foto-foto model cantik, baju-baju modis, kartun disney khususnya Princess, kutipan-kutipan bagus bahkan termasuk di antaranya ayat Alkitab! dan berbagai hal yang berkaitan dengan era Victoria dan gaya vintage. Huahahahaa... cewek banget kan? Dan jelas itu ada satu hal yang bertolak belakang, di blog yang dark gue bisa posting kutipan "kitab suci" nya para pemuja dewa Norse itu, giliran di sini postingnya ayat Alkitab. Kesannya gue aneh banget ya itu kan sangat bertolak belakang (gue juga nggak ngerti kenapa -.-a).

Saat paling aneh adalah ketika gue menyatukan dua sisi itu karena hasilnya pasti jadi aneh. Di kampus, orang melihat gue sebagai cewek yang selalu pakai baju floral yang ceweeeekk buanget (walaupun kadang-kadang kaos + jeans juga kalau lagi males dandan). Tapi di sisi lain gue dengarnya tetap aja musik metal atau mistis. Gue merasa aneh kalau sadar sama gaya gue yang super nggak nyambung ini hahahaa...xD

A Lay for the Land of Dream

I sing a lay for the land of dream:

Where the rivers keep flowing and gleam
And the golden sun never stop her light
Nor the white dim stars to brighten the night
The morning dew and those greenish hills

There live my friends, the merry hole-folk
Outside their doors to go to the mills

Back to the far land, the people tell more
About the fair folk and wonderful tale
Come here and there to reach the sea shore
Kingdom of wonder beyond the sky pale

There live a king in the fairest land
Own he a high throne and a mighty sword

Men of honour reached the golden sand
In long years ere him to proclaim the word
Deep in the caves of the precious stone
Dwell the dwarf lords in glittering hall
Long may the time till the quest well done
Ere the world get their best dreams and all

End of all ways may the wisest know
And until that I'll let my life flows
Runaway to walk my path on the land
To release myself from the nightmare's hand
Here I end my lay for the land of dream

by LV~Eisblume
13.08.12
for Middle Earth, a land who save me from loneliness..









12.8.12

Bhinneka Tunggal Ika, hanya sekedar semboyan saja?

Gue selalu mau nulis ini dan baru kesampaian sekarang, setelah banyak peristiwa terjadi mendorong gue untuk melakukannya. Plus bentar lagi Hari Kemerdekaan Indonesia jadi pas banget untuk bahas hal-hal seperti ini :)

Pernah nggak sih kalian menanyakan hal ini: apakah Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika itu beneran ada? Atau Bhinneka Tunggal Ika itu hanya semboyan buat keren-kerenan negara kita di mata internasional aja? Pertanyaan ini tuh selalu muncul di kepala gue kalau sedang heboh-hebohnya ada isu berkaitan dengan keberagaman SARA di negara kita. Gue tahu, negara kita itu bagus sekali apalagi dari segi keberagamannya. Gimana enggak, sukunya macam-macam dari yang asli maupun pendatang. Agama juga macam-macam, nggak terhitung lagi kepercayaan yang bahkan kita sendiri aja nggak tahu eksistensinya. Bahasa daerah macam-macam. Duh, apalagi yang macam-macam? Banyak banget kan... Dan menurut gue hal ini tuh jadi nilai plus di mata internasional.

Kenyataan bahwa banyak sekali sisi negatif negara kita yang juga terekspos ke luar negeri nggak bisa kita pungkiri. Korupsi, pembajakan, terorisme, kemiskinan, konflik-konflik dalam negeri, separatisme, illegal logging, dll. semua pernah masuk media internasional. Kebetulan gue suka sekali menjalin pertemanan dengan teman-teman dari berbagai negara dan gue selalu malu kalau segi negatif ini ketahuan. Untungnya sisi positif Indonesia dari keberagamannya bisa menutupi semua itu. Gue selalu bilang sama mereka: yah, itu bangsanya yang bikin citra buruk seperti itu, tapi kenyataannya Indonesia bagus lho. Kita punya buanyak sekali suku dan bahasa, kita terdiri dari masyarakat yang keyakinannya beragam. Percaya nggak kalau kita aja punya 4 tahun baru dalam setahun: tahun baru masehi, tahun baru Imlek, tahun baru Hijriyah dan tahun baru Saka. Waktu teman-teman gue dengar ini mereka memuji-muji Indonesia. Tapi JLEB!! kenyataannya gue sadar kalau gue sudah bohong ke mereka. Kenyataannya ada yang nggak beres di negara kita berkaitan dengan keberagaman ini. Gue nggak tahu kenapa, tapi gue ingat cerita nyokap gue dulu bahwa pada zaman Orde Baru masalah semacam ini tuh nyaris nggak lebih dari masalah kecil yang biasa ada di semua negara. Coba lihat sekarang deh.. Orang mau ibadah aja susah, mendirikan tempat ibadah harus izin sana sini, tempat ibadah dihancurkan, orang-orang dari golongan suku tertentu dianggap bukan "Indonesia", diskriminasi terjadi di sana-sini. Gue jadi bertanya-tanya lagi, sebenarnya segi positif yang gue bilang ke teman-teman di luar sana itu ada beneran nggak sih?

Yang gue tulis di atas bukan karangan. Gue yakin sekarang kalau Bhinneka Tunggal Ika itu nggak lebih dari semboyan doang. Kalau nggak percaya coba deh kita renungkan hal berikut ini:
- Kalau kita berada di antara orang-orang Indonesia, kita cenderung masih memandang mereka sebagai suku A, suku B, agama A, agama B. Jarang yang bisa memandang cukup sampai "sesama Indonesia" saja. Anggapan "sesama Indonesia" cuma berlaku kalau sedang ada pertandingan sepak bola, bulu tangkis atau intinya punya musuh bersama atau ketika sudah jadi teman akrab.
- Sebagian besar dari kita senang dan menerima adanya hari besar agama lain di kalender hari nasional Indonesia hanya karena senang dengan liburnya, bukan karena rasa ingin respek pada penganutnya. Pasti sebagian besar dari kita masa bodoh aja, bahkan nggak kasih ucapan apa-apa sekali pun teman kita merayakannya.
- Sebagian besar dari kita masih jauh lebih suka jika dipimpin oleh orang yang segolongan baik agama, suku, ras, dll. tetapi prestasinya biasa aja atau bahkan buruk daripada dipimpin oleh orang yang golongannya beda tapi prestasinya lebih bagus.
- Sebagian besar dari kita setidaknya masih menganggap suku tertentu sebagai "bukan Indonesia" atau "pendatang" sekalipun kenyataannya mereka dan nenek moyangnya sudah lama ada di Indonesia.
Kalau kita banyak setuju dengan pertanyaan di atas, artinya Bhinneka Tunggal Ika buat kita itu hanya semboyan doang dan belum masuk ke kehidupan kita sehari-hari. Kita masih mengutamakan kelompok atau golongan di atas kesatuan sebagai Indonesia.

Kadang-kadang gue berharap pemerintah bisa memberi contoh yang baik lewat institusi-institusinya supaya Bhinneka Tunggal Ika nggak cuma jadi semboyan aja. Eh tapi sayangnya enggak. Bahkan dari institusi yang di dalamnya beranggotakan anak-anak dan remaja (yang harusnya sejak kecil diajarkan tentang penerapan semboyan itu) saja tidak. Misalnya saja institusi pendidikan milik pemerintah, dari jenjang SD sampai Universitas. Kebetulan gue nggak pernah mengayom pendidikan di sekolah milik pemerintah sampai akhirnya gue kuliah di UI dan terkaget-kaget dengan isinya. Beberapa hal yang gue catat berkaitan dengan bahasan di post ini:
1. Sejak masuk UI gue sering banget dengar orang tanya: "asal mana?" dan ketika gue tanya lagi: "asal apa? sekolah?", orang tsb menjawab: "bukan, asal daerah." Lebih parah lagi kalau orang itu langsung tanya: "suku mana?" hohoho.. pertanyaan ini paling males gue jawab. Memang apa pentingnya suku gue buat orang itu? Mau dicatat ke database? Udahlah ngapain sih masih bahas-bahas suku segala, kita sama kok orang Indonesia, suku-sukuan itu buat personal aja deh nggak usah dibawa keluar. Gue tau itu bisa memperkaya Indonesia, tapi kenyataannya pertanyaan begitu tuh nggak penting dan ujung-ujungnya malah dipakai buat beda-bedain orang :(
2. Sikap yang sama berlaku untuk pertanyaan: "agama apa?" dan semua kolom agama di semua biodata yang terpaksa gue isi kecuali yang buat database mahasiswa yang di SIAK NG. Lebih kesel lagi kalau pertanyaannya: "Lo x atau non-x?" Seolah-olah yang penting cuma x ini doang dan sisanya nggak dilihat lagi ragamnya cuma dibilang non-x. Duh di Indonesia kan ada 5 agama lainnya yang diakui (dan sebenarnya menurut gue ini masalah juga, masa dari ratusan keyakinan yang diakui cuma 5, padahal kita lebih beragam dari itu).
3. Ucapan salam di semua acara. Bukannya gue gak mau jawab atau sentimen, nggak sama sekali. Gue tahu itu hanya sebuah ucapan salam yang nggak ada salahnya dibalas (bahkan selalu gue balas). Sama dengan ucapan "Guten Tag" ketika masuk jurusan Jerman. Tapi masalahnya ada di sini nih: itu bukan bahasa Indonesia >.> dan nggak semua orang menempatkan "selamat pagi/siang/sore/malam" di belakangnya. Kenapa sih di institusi yang sifatnya milik umum, milik pemerintah dan universal nggak pakai bahasa Indonesia aja. Kecuali kalau ada di kelas bahasa tsb sih silakan aja. Coba deh kita ganti salam itu pakai bahasa Inggris, atau "God be with you" gitu misalnya, pasti nggak enak juga kan? Pakai bahasa asing di tengah acara resmi institusi yang labelnya "Indonesia" :c
4. Salah satu maba gue baru aja masuk UI dan ikut OBM. Pas di kelas Learning Skill dan disuruh muterin kertas trus ngisi pendapat tentang teman yang punya kertas itu, banyak orang nulis di kertas dia dengan tulisan nama sukunya atau yang berhubungan dengan itu. Buat apa coba? Setahu gue kertas itu harusnya dipakai untuk nulis karakter orang tsb deh -.-a Lebih parahnya lagi si maba ini cerita ke adek gue kalau dia dulu di SMA cuma satu-satunya anak yang agamanya beda. Sampai pas kelas agama gurunya frustasi trus marah-marah dan bilang: "ini nih akibatnya kalau kamu minoritas!" setelah sebelumnya menarik dia ke ruang guru. Hmm.. yang gue kaget, sekolahnya ini ternyata jadi partner pemerintah Jerman. Duh, kalau gue jadi pemerintah Jerman gue akan berpikir sekolah ini gak deserve posisi itu, karena mereka gagal melakukan sesuatu yang sedang diperjuangkan sekali sama pemerintah Jerman: Multikulturalisme.
5. Gue sama teman gue pernah lihat spanduk gede-gede di depan stasiun soal sukarelawan yang mau dikirim ke Palestina. Menurut gue spanduk itu berlebihan banget ya. Pertama, ngapain coba sukarelawan digembar-gemborkan. Sukarelawan kan harusnya anonim. Kedua, gue heran sama universitas ini. Indonesia masih banyak masalah, banyak orang-orang di wilayah terpencil yang nggak tersentuh tangan pemerintah. Kenapa nggak kirim sukarelawan ke sana aja trus digembar-gemborkan? Mereka sama-sama Indonesia lho...jadi kayanya lebih pantas digembar-gemborkan :) Yah, mungkin orang Indonesia (lagi-lagi) lebih melihat yang segolongan daripada yang sebangsa -__-a atau lagi-lagi cuma buat citra bagus yang palsu di mata internasional. Sama dengan konflik di Rohingya yang digembar-gemborkan tapi lupa kalau negara sendiri masih diskriminatif sama kelompok-kelompok minoritas -__-a

Gue tahu betul kalau di mana-mana minoritas, baik dari segi suku, agama, ras bahkan gaya dan selera (makanya ada namanya subculture) pasti didiskriminasi. Hak mereka nggak akan sebanyak kelompok mayoritas. Banyak orang Indonesia yang menunjuk-nunjuk kalau misalnya di Jerman terjadi hal yang sama terhadap para imigran Turki, di Norwegia terjadi hal yang sama terhadap imigran Afrika dan Afghanistan, dan lain sebagainya. Tapi ingat, Jerman, Norwegia, dan negara-negara itu pada awalnya bersifat monokultur. Negara yang terdiri dari satu bangsa, satu ras bahkan punya agama resmi. Sementara itu Indonesia berdiri di atas keberagaman itu. Berbagai suku, agama, ras dan golongan mendirikan Indonesia, bersumpah lewat Sumpah Pemuda dan akhirnya menghasilkan semboyan itu. Hal itu yang membuat kita jadi tidak boleh diskriminatif dan harus mengutamakan Indonesia di atas golongan. Kalau tidak setuju dengan hal ini lebih baik keluar dan buat negara sendiri khusus untuk kelompoknya :)

Tulisan ini sama sekali bukan buat mancing pertengkaran atau menyerang pihak-pihak tertentu. Gue bahkan nggak menyebut terang-terangan berbagai macam pihak yang ada di sini. Pada intinya inilah hal yang gue rasakan selama ini dan gue temukan di sekitar gue. Kalau ada hal yang menyinggung baik langsung dan tidak gue minta maaf sedalam-dalamnya. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita semua :)

Peace,
Eisblume :)

Teori Konspirasi dan Simbol-Simbol

Beberapa minggu lalu gue sama nyokap pergi ke toko buku. Kita keliling-keliling ke tempat kesukaan masing-masing. Nyokap gue ke bagian buku resep dan gue ke deretan novel fantasi (berharap gitu ada LOTR atau The Hobbit atau bahkan The Silmarillion haha.. yang tentu saja nggak mungkin xD). Pas udah selesai gue nyari nyokap gue. Tiba-tiba dia manggil gitu sambil nunjukin sebuah buku (yang gue lupa judulnya). Pas gue ambil bukunya gue sadar bahwa itu adalah salah satu jenis buku yang paling freak di dunia. Yep, buku tentang Teori Konspirasi.

Menurut gue buku yang isinya menjabarkan (bukan menyebutkan doang) berbagai macam jenis teori konspirasi dan penafsiran simbol-simbol itu freak. Kenapa? Sederhana aja, isi bukunya nggak bisa dibuktikan selain dengan buku itu sendiri. Coba kalau yang mereka bilang memang benar, tunjukin dong bukti fisiknya di depan mata sedunia, jangan cuma nulis buku doang. Lagipula itu lucu, sebutannya aja "teori", yang namanya teori kan harus terus diuji dan dibuktikan kebenarannya. Plus yang gue nggak suka, terlepas dari siapa yang nulis, teori konspirasi itu terkesan memojokkan golongan tertentu dan mengacak-acak (khususnya) keyakinan tertentu. Simbol-simbol keyakinan tertentu diterjemahkan sembarangan begitu saja. Misalnya simbol mata di dalam segitiga di uang kertas Dollar. Di situ dijelaskan itu maksudnya "One World Order" alias satu pemerintahan di dunia. Kalau baca bukunya ada deh penjelasannya maksudnya apa. Intinya ada oknum tertentu yang mau memerintah secara tunggal di dunia ini dan mengatur segalanya. Simbol yang sama pernah gue temuin di gereja gue yang lama. Gue sempat tanya sama pastornya soal arti simbol itu dan katanya simbol itu artinya kira-kira "Tuhan Maha Melihat". Kok sembarangan banget ya penulis bukunya gonta-ganti arti simbol itu? -.-a

Hmm.. ya sebenarnya hak asasi penulis sih untuk menyatakan pendapatnya. Tapi yang gue nggak ngerti kok ada ya orang-orang Indonesia yang main percaya aja tanpa diteliti dan dibuktikan dulu. Orang-orang ini juga biasanya datang dari golongan tertentu (yang sebaiknya tidak usah diperjelas lagi deh, pokoknya orang-orang yang kaya gitu deh) yang begitu bodohnya sibuk ubek-ubek buku itu, percaya begitu saja, terus dipakai untuk ngejudge ini itu tanpa memperhatikan masalah lain yang sebenarnya jauh lebih penting. Bayangin, orang-orang ini bahkan menerjemahkan simbol mata itu jadi lambang setan. Okee.. gue ngga ngerti lagi, dari Tuhan kok jadi setan -.-a Nggak cuma simbol mata itu, simbol yang lain pun diterjemahkan sembarangan. Kelihatan banget misalnya waktu ada kasus Lady Gaga mau konser terus videonya dibedah di salah satu acara TV (yang kira-kira membahas 7 simbol misterius yang dipakai Lady Gaga di videonya -.-a *sigh*). Ada simbol Pentagram, yang lagi-lagi dibilang simbol setan. (Duh.. apa2 setan yak, orang-orang itu antek-anteknya kali ya, habis kaya tau semua tentang setan). Padahal Pentagram itu kan simbol 5 elemen bumi dan berasal dari paganisme Eropa, artinya jiwa, api, air, tanah dan udara. Terus lagi, simbol Eye of Osiris yang rupanya seperti mata dan berasal dari Mesir. Ini juga dibilang simbol setan, padahal simbol dewa Mesir. Tapi yang paling freak sih yang pernah gue temuin di salah satu link dari teman di Facebook. Di situ dibilang salah satu snack di Indonesia (ngga mau sebut merk deh), bentuknya bintang segienam seperti bintang David (di bendera Israel) dan simbol perusahaannya kakek-kakek (yang katanya) mirip Charles Darwin. Oke, ini freaknya nampol deh. Kok bodoh banget sih makan aja mikirin bentuknya, mending dicek apakah konten makanannya haram atau racun atau enggak daripada mempermasalahkan bentuknya -.-a Dan si kakek-kakek itu, ya udah sih kalo mirip Charles Darwin, bisa aja kan kebetulan atau sekilas mirip doang. Buktinya kalo itu foto Pak Darwin juga ngga ada -.-a

Intinya buku-buku teori konspirasi dan penafsiran simbol-simbol itu merujuk ke satu hal, yaitu adanya organisasi yang mengendalikan jalannya dunia dan organisasi ini terkait dengan golongan tertentu di dunia. Duh.. bisa banget sih bilangnya. Kok gue agak nggak percaya ya kalau satu dunia yang luasnya gak karuan dan buanyak banget penduduknya ini dikendalikan sama kelompok itu dengan mudahnya. Kalau emang kita hidup dikendalikan kaya gitu sih mending ngga usah hidup aja dari awal. Kayanya Tuhan nggak bikin rencana kaya gitu deh waktu menciptakan dunia. Hmm.. *geleng-geleng* Nah, gara-gara teori-teori ini, orang-orang bodoh yang tadi gue sebut itu kalau ketemu masalah apa di Indonesia gitu pasti langsung nyalah-nyalahin pihak atau negara tertentu. Boleh deh kalau mau nyalahin tapi pastikan dulu orang-orang itu nggak mengkonsumsi budaya atau produk apapun dari kelompok atau negara yang bersangkutan. Kalau masih bicara pakai bahasanya, atau pakai produknya mending ngga usah ngomong gitu. Kenyataannya mereka dan bahkan negara kita aja masih sering bergantung sama negara itu.

Well, itu pendapat gue aja sih. Gue bukan orang ahli yang mengerti betul dengan segala seluk beluk masalah yang dijabarkan di buku itu. Gue bukan ahli sejarah dan politik yang ngerti masalah-masalah di dunia. Gue cuma melihat buku itu dari sudut pandang gue dan pengetahuan terbatas yang gue dapat. Intinya buku itu belum bisa dibilang 100% benarlah sampai gue bisa lihat sendiri buktinya. Dan gue agak kesel sama orang-orang bodoh itu akhir-akhir ini. Orang-orang semacam itu hobinya merusak image negara kita aja -.-a





8.8.12

Imaginary Idols

First come to the servant
of the garden in the hole-folk land
to search for true friendship
That i long to have in bad and good times

Then to elven lady
of the last home under the mountain
to find for faithfulness
and hope in love that end in darkness

Last to the sons of kings
Sail from the sea to land of white tree
For I've found what's missed,
To see the wise leads my own country


by LV~Eisblume
08.08.12
for the missing things in my life...

Wooy.., Tungguin Gue Dong!!

Ini bukan cerita tentang gue ngejar bikun atau kereta. Ini cerita tentang masalah Unpunktlichkeit gue. Sengaja gue tulis nama masalahnya dalam bahasa Jerman biar lebih "nampol" lagi. Orang Jerman dikenal sebagai masyarakat yang punktlich alias tepat waktu. Walaupun nggak selalu benar, tapi kebanyakan mereka memang lebih punktlich dibanding masyarakat lainnya di Eropa. Kebalikannya, unpunktlich berarti tidak tepat waktu dan Unpunktlichkeit adalah nominanya (hmm.. kok jadi belajar Sprache ini?). Nah, gue sebagai salah satu mahasiswi Sastra Jerman yang tentu banyak berkontak dengan budaya Jerman, salah satunya ketepatan waktu ini, justru kelihatannya nggak pernah tepat waktu -__-a

Masalah Unpunktlichkeit gue bukan seperti yang dialami orang pada umumnya misalnya telat kuliah, telat datang ke tempat janjian, dll. Untuk masalah ini (puji Tuhan) gue sudah berhasil mengatasi :) Masalah gue lebih gawat dari itu karena membuat gue terlihat aneh, freak dan tidak punya teman (hiks!). Ya begitulah, gue tidak pernah tepat waktu jika menyukai atau nge-fans sesuatu. Selalu antara gue yang terlalu cepat menyukai dibandingkan orang-orang pada umumnya atau gue telat dan telatnya bukan cuma satu dua bulan, bisa bertahun-tahun! Kadang-kadang hal itu disebabkan kesalahan gue yang terlalu ignorant atau hipokrit duluan, kadang-kadang bisa juga salah orang lain :c

Mungkin salah satu contohnya bisa kelihatan dari postingan gue sebelum-sebelumnya yang selalu tentang LOTR. Wooy.. itu film udah dari tahun 2002 dan udah sering banget kali diputar di TV lokal!! Jujur sih gue malu kalau norak-norakan sendiri soal LOTR atau fangirling heboh sama tokoh2nya. Mana gue udah mau 20 tahun pula, masih aja belum bisa nyantai kalo ngefans sesuatu :c Beruntungnya gue, beberapa temen gue seperti Thomas, Nuke dan Siska juga fans berat LOTR jadi kalo gue ngomongin ini seenggaknya ada yang nyambung. Terus gue punya teman fangirling (walaupun mbak yang satu ini cool banget fangirlingnya xD) a.k.a Olly yang sama-sama nge-fans om-om American Danish ganteng bernama Viggo Mortensen (yang main Aragorn >.<). Plus tampaknya Hollywood berbaik hati sama gue (apa hubungannya?!) dengan merencanakan premier The Hobbit pada 14 Desember tahun ini. Gue kebantu banget, seenggaknya kalau orang tahu gue baca bukunya dari awal mereka mikir itu karena supaya kalau nonton The Hobbit jadi lebih nyambung :)

Masalah Unpunktlichkeit gue ini benar-benar jadi problem waktu masa sekolah. Misalnya waktu SD kelas 4 kalau nggak salah pas novel Harry Potter keluar pertama kalinya. Semua anak di sekolah gue heboh banget, apalagi waktu filmnya mau keluar. Tiap hari di kelas yang diomongin Harry Potter melulu dan gue sama sekali nggak nyambung. Dasar anak SD, pas gue tanya ini apa itu apa gue malah dikatain cupu, katanya masa gue gitu aja nggak tahu. Kesannya gue ketinggalan zaman dan nggak update. Suer, itu bukan karena gue yang nggak mau update. Dari kecil gue suka banget kali sama fantasi. Masalahnya ini kesalahan ortu gue yang fanatik agama. Katanya apapun yang berbau penyihir diasosiasikan sama setan, termasuk si Harry Potter ini. Padahal mereka belum nonton atau baca, boro-boro tahu ceritanya. Awalnya gue punya teman sama-sama nggak tahu HarPot, yaitu sahabat gue waktu itu. Nyokap dia satu gereja sama nyokap gue dan ya gitulah, sama-sama ngelarang anaknya baca HarPot. Eh, tapi tiba-tiba pas gue main ke rumah dia gue lihat novel HarPot di kamar dia (mungkin hadiah dari saudaranya). Jadinya dia pun nyambung sama teman-teman yang lain, tiap hari ngomongin HarPot sampai gue ditinggalin huhuu... T.T Yang bikin gue sakit hati sih, karena bertahun-tahun kemudian waktu film HarPot yang keempat tayang di TV, nyokap gue nggak sengaja nonton. Trus tiba-tiba dia komentar: "hahaha.. ini HarPot lucu juga yak.." trus dia nonton sampai selesai! Sejak itu baru deh gue nonton film HarPot, dan sampai sekarang gue belum pernah baca bukunya! :(

Waktu SMA gue juga pernah nggak nyambung dan nggak punya teman gara-gara masalah Unpunktlichkeit ini. Tepatnya kelas 10 gue punya sahabat yang sama-sama suka Jerman dan Slavia :D Dia baik banget ngajarin gue bahasa Jerman sampai akhirnya kita masuk Jurusan Bahasa bareng-bareng. Waktu itu lagi heboh-hebohnya Twilight Saga, temen gue ini salah satu yang ngefans berat sama novelnya. Dia beli terus tiap kali yang baru keluar. Plus dia kesenangan pas tahu aktor yang main Edward Cullen itu aktor favoritnya yaitu Robert Pattinson. Waktu itu gue sama sekali nggak nyambung tentang novel itu. Jujur itu novel harganya lumayan mahal buat gue jadi gue nggak beli sementara temen gue beli versi Inggrisnya o_O Karena penasaran akhirnya gue pinjem novelnya. Belum selesai gue baca, filmnya keluar. Gue dan teman-teman kelas Bahasa nonton bareng di Jakarta Theater. Nah, pas itu gue baru sadar bahwa nih film bagus banget, ceritanya juga, wawawawa... sampai lebay sendiri. Gue jadi ikutan ngefans kayak teman gue tadi. Waktu itu gue senang banget dan berharap bisa nyambung lagi kalau ngobrol sama sahabat gue ini. Tapi... nasib berkata lain... Sayang sekali ternyata sahabat gue dan teman-teman barunya dia yang tadinya sesama Twilight-freak kecewa sama filmnya. Waktu gue ajak ngobrol mereka di kelas dengan wajah bahagia dan berharap bisa gabung lagi dalam obrolan mereka, mereka cuma nanggapin dingin dan kecewa karena menurut mereka filmnya jelek banget nggak kayak novelnya :c Hiks.. gue nggak nyambung lagi dehh...

Habis masa Twilight berakhir, teman-teman gue berpindah ke Kpop dan boyband Korea! Satu kelas gue pada ngefans SuJu dan wajah-wajah Asia lainnya. Karena waktu itu gue masih ada di bayang-bayang Twilight dan aktor-aktor bule ganteng ala barat, gue sama sekali nggak minat sama wajah Asia. Malah menurut gue SuJu dll itu mukanya "cantik" seperti cewek, walaupun gue tahu sih mereka nggak banci. Semua teman ngomongin SuJu dan Kpop, muter videonya pakai proyektor kelas waktu istirahat, gosipin membernya, dll. Gue yang nggak minat duduk aja di kursi dan makan sendirian, atau gabung makan tapi nggak ikut ngobrol. Tibalah semester terakhir gue di SMA dan saat itu diadakan perlombaan lipsync antarkelas. Kelas gue yang melipsync Kuburan Band dan "Thriller"-nya MJ mendapat juara 2. Juara 1 jatuh ke tangan kelas IPS yang kebetulan punya murid yang merupakan salah satu anggota SuJu Girls (grup cover dance SuJu yang terdiri dari cewek2). Mereka mengcover lagu Super Junior yang berjudul Sorry Sorry. Itu kali pertama gue lihat tariannya dan dengar lagunya full. Pulang dari sekolah gue penasaran dan akhirnya gue tonton juga tuh boyband di Youtube. Mulai hari itu gue resmi jadi fans SuJu, padahal teman2 gue udah adem ayem aja sama boyband itu sementara gue ngefreaknya minta ampun sampai rela streaming radio Sukira buat dengar suaranya Leeteuk! Nggak cuma itu, gue keluarin semua tabungan gue cuma buat beli versi A nya album SuJu -___-a

Kadang-kadang gue nggak terlambat, tapi kecepetan (tetep aja unpunktlich!). Misalnya waktu SD gue suka banget sama Disney's Princess. Dari langganan majalah Princess, koleksi DVDnya sampai maunya semua barang gambarnya Princess. Tapi waktu itu Princess belum trend di kalangan anak-anak Indonesia. Alhasil gue muterin semua mall nggak ketemu-ketemu. Pernah gue sekali rela-relain ke Taman Anggrek karena pas di sana ada acara temanya Princess. Di situ dijual banyak banget barang-barang gambar Princess dan gue beli beberapa, tapi tetap aja nggak sebanyak sekarang. Sekarang anak alay aja kaosnya Cinderella! Dulu boro-boro, di toko kaya Kidz Station aja belum banyak -.-a Contoh lain waktu gue ngefans Tokio Hotel. Gue tahu band ini sejak SMA kelas 2, waktu mereka baru keluar album yang kedua dan lagu-lagunya belum banyak yang di-Inggris-in (soalnya aslinya Jerman ^^). Teman Interpals gue yang promosiin band ini ke gue buat belajar Jerman. Karena gue suka browsing tentang mereka, gue jadi tahu banyak hal termasuk forum2 internasional buat fans TH, koleksi merchandise dan majalahnya, dll. Sayangnya di Indonesia bahkan cari poster mereka aja nggak mungkin. Boro-boro ada, remaja Indonesia waktu itu belum dengar nama band ini -.-a Tiba-tiba pas kesukaan gue mereda, tepatnya pas gue mulai kuliah, di sana sini bertebaran majalah dengan artikel TH. Bahkan muncul forum TH Indonesia yang salah satu pengurusnya teman gue si Nuke. Tapi sayang lagu2 mereka yang terkenal di Indonesia justru yang bahasa Inggris, ihh.. sedih.. padahal kerenan Jermannya ke mana2 -.-a Mulai deh semua ABG tertarik sama TH. Gue serasa mau teriak : "Woyy.. ke mana aja lo kemarin-kemarin?! Ini band udah lama kaleeee~"

Sejak kuliah Unpunktlichkeit gue makin parah. Bukan cuma telat setahun dua tahun, tapi telat berabad-abad plus salah tempat. Gue tergila-gila sama hal berbau Mittelalter, mitologi Norse, Viking dan paganism. Telat berabad-abad karena semua hal tersebut populer di abad 5-13 M -.-a Salah tempat karena yang gue suka itu sekarang jadi subculture dan pergerakan baru di Eropa. Jangan harap ada orang Indonesia yang tahu band-band seperti Faun, Estampie, Dunkelschoen, In Extremo, Omnia, dll. Teman gue aja tahunya gara-gara gue kasih denger lagunya xD

5.8.12

Men of Gondor (My Journey to Middle Earth part 3)

Kalau di post sebelumnya gue cerita soal tokoh favorit gue di LOTR versi film, sekarang gue mau cerita kalau ternyata setelah baca bukunya sampai The Two Towers, rupanya pilihan gue berubah.

Setelah gue baca bukunya, pilihan tokoh favorit gue jatuh pada Men of Gondor alias ras manusia dari Gondor (emang sih karena gue manusia ujung-ujungnya seleranya manusia juga). Lebih tepatnya lagi Aragorn dan Faramir. Bukan karena mereka ganteng (ganteng sih, tapi itu 'kan di filmnya, di buku nggak ada deskripsi tampang yang detail tuh), tapi lebih ke karakter keduanya. Baik Aragorn maupun Faramir adalah dua tokoh di LOTR yang lolos seleksi "Ksatria Idaman" ala gue (huekk kontes apaan nih -.-a).

Aragorn and Faramir

Apa sih kriteria buat menang kontes "Ksatria Idaman"? Tentu saja punya 3 karakter utama menurut aturan Rittertum (keksatriaan) di abad pertengahan. Tiga sifat utama yang makin langka saja ditemukan pada spesies cowok ini adalah: Êre, Treue, dan Heldenmuot (ditulis dalam bahasa Mittelhochdeutsch supaya lebih ngena xD) atau diterjemahkan kira-kira menjadi: kehormatan, loyalitas/kesetiaan dan kepahlawanan. Tentu saja anda sekalian tidak akan menemukan kriteria seperti kejujuran, keterbukaan, dll karena itu lebih menyerupai kontes cari jodoh dan di sini gue bukan membahas tentang cari jodoh hahaha..

Oke, balik lagi ke manusia-manusia ganteng dari Gondor ini. Buat yang belum baca atau nonton (walaupun kemungkinannya kecil) mungkin harus "kenalan" dulu nih sama mereka. Aragorn son of Arathorn heir of Isildur, demikian biasanya gue menyebut Men yang satu ini, sekalipun sepertinya bukan itu nama panjangnya. Aragorn adalah keturunan resmi dari garis raja-raja penguasa Gondor dan Arnor (Arnor adalah sebuah kerajaan di utara yang sudah hilang dan hancur akibat salah satu perang besar di Middle Earth jadi yang tersisa tinggal Gondor di selatan). Sejak nenek moyangnya yang keberapa entahlah gue juga lupa meninggalkan tahta Gondor tanpa pewaris, akhirnya tidak ada lagi orang dari garis keturunan raja yang menjadi raja di situ. Sementara itu nun jauh di Rivendell (The Last Homely Home dan Imladris nama lainnya dan kota ini merupakan tempat tinggal para Elves), tinggal garis keturunan Isildur yang lain dari anaknya yang satu lagi. Dulunya mereka menguasai kerajaan Arnor sebelum runtuh dan hilang karena serangan dari utara, tapi kemudian terpencar-pencar dan menghilang. Aragorn adalah keturunan terakhir dari keluarga ini. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di antara para Elves di Rivendell sehingga ia pun memberikan hatinya pada Arwen Undomiel, putri Elves dari Rivendell. Ia juga tergabung dalam Rangers (ksatria pengembara yang tersisa dari garis keturunan kerajaan manusia di utara dan ahli dalam berburu) dan dikenal dengan nama Strider. Kemunculan pertamanya dalam cerita adalah ketika ia menolong para Hobbit (Frodo,dkk) di Bree, sebuah tempat tidak jauh dari The Shire, dari kejaran para Nazgul (tangan kanannya Sauron). Pada saat itu ia masih menggunakan nama Strider dan memiliki kesan yang misterius. Sekalipun menjadi keturunan resmi raja Gondor, Aragorn tidak pernah menggunakan posisi itu untuk merebut kekuasaan orang atau mencari keuntungan untuk diri sendiri. Bahkan di versi film, ia justru tidak percaya diri bahwa ia dapat menjadi raja yang bijak dan tidak melakukan hal ceroboh seperti Isildur, nenek moyangnya yang tewas ketika mengamankan cincin itu untuk dirinya sendiri.

Men yang satu lagi, Faramir son of Denethor adalah putra dari wakil raja (Steward) yang selama ratusan tahun menggantikan tugas kepemimpinan raja di Gondor sampai keturunan resmi dari keluarga raja (yaitu Aragorn) kembali dan mengambil alih tugasnya. Faramir memiliki kakak laki-laki bernama Boromir. Boromir ini salah satu anggota dari Fellowship of the Rings yang diutus untuk membantu Frodo dalam perjalanannya ke Mordor. Sayangnya di tengah perjalanan, sang kakak harus mati dalam serangan Orcs setelah sebelumnya nyaris merebut cincin dari Frodo. Boromir adalah anak kesayangan Denethor. Ia selalu mendapat kepercayaan dari sang ayah. Kebalikannya, Faramir selalu jadi nomor dua. Sang ayah tidak begitu percaya padanya. Bahkan kalau di versi film, dengan kejamnya sang ayah menyatakan ia sangat ingin nasib kedua anaknya ditukar sehingga biarlah Faramir menggantikan Boromir mati di tangan Orcs. >.< Meski demikian, Faramir tetap setia mengabdikan diri pada sang ayah dan Gondor. Bahkan ketika sang ayah menyuruhnya merebut kembali Osgiliath (kota pertahanan terakhir kerajaan Gondor yang direbut oleh pasukan Mordor) dengan kekuatan tentara yang sedikit, ia tetap berangkat sekalipun ia tahu bahwa ia tidak akan selamat dari misi itu. Semua itu dilakukan dengan harapan sang ayah akan sedikit memandang dan mengakui dirinya. Ia menolak mencari pengakuan ayahnya dengan cara kotor, misalnya dengan mencuri cincin dari Frodo dan membawanya ke Gondor, sekalipun ia punya kesempatan terbuka di depan matanya.

Êre --- Baik Aragorn maupun Faramir pantas menjadi dua orang yang terhormat di Middle Earth. Keduanya berhasil menunjukkan kualitas masing-masing dan menjalankan perannya dengan baik. Tak satupun dari mereka menunjukkan kelemahan manusia yang sempat dideskripsikan dalam novel itu, yaitu haus kekuasaan. Bahkan mereka berhasil menolak godaan dari cincin yang sesungguhnya berpotensi membawa mereka pada kekuasaan.
Treue --- Ada sedikit perbedaan pada mereka berhubungan dengan kesetiaannya. Ketika memutuskan untuk bergabung dalam Fellowship of the Ring, Aragorn telah bersumpah akan membantu Frodo (kalau di film dinyatakan dalam salah satu dialognya: my sword will serve you). Hal ini terbukti dalam perjalanan panjang itu, bahwa ia sama sekali tidak mencoba merebut benda itu dari Frodo dan mengulang kesalahan leluhurnya. Selain itu Aragorn, yang punya kekasih seorang Elves yaitu Arwen dan harus berpisah darinya untuk waktu lama dalam misi itu, telah berhasil menunjukkan kesetiaannya pada wanita itu sampai akhir cerita. Padahal ia tahu bahwa kecil kemungkinannya Arwen akan setia padanya sampai dunia ketidakabadian manusia dan di tengah petualangannya ia sempat bertemu dengan Eowyn, seorang putri dari Rohan yang satu ras dengannya. Tetapi tetap ia tidak berpindah hati ^^ (duh.., ksatria banget kaaaan~). Sedangkan dalam cerita Faramir, kesetiaannya ditujukan pada Gondor dan ayahnya, seperti yang gue ceritakan di atas. Lebih baiknya lagi, kesetiaan itu ditunjukkan dengan cara yang bersih dan keputusan yang bijak.
Heldenmuot ---- Nah, apalagi ini, sudah jelas mereka berdua punya sifat bak pahlawan bagi ras dan bangsanya, bahkan bagi seluruh Middle Earth. Dalam setiap perang mempertahankan kebaikan di Middle Earth dari kekuasaan gelap yang mengancam, mereka selalu siap sedia dan berperang dengan berani. Dengan menolak godaan dari cincin kekuasaan itu mereka juga telah menunjukkan sikap pahlawan sejati. Mereka berkorban mengesampingkan kepentingannya demi kedamaian di Middle Earth dan bagi seluruh bangsa yang tinggal di sana.

Two souls of men
Best of all knights
From the dreamland
Come in my nights

Wise as the old
Shining in gold
Both North and South
Name them in mouth

Two souls of men
Know the heirloom
Will bring the land
Back to its doom
Don't take the thing
For their glory
Instead they bring
Peace and merry
 Cuma beberapa bait puisi yang gue tulis terinspirasi dari mereka. Semoga di bumi ini makin banyak pemimpin (dan terutama, cowok!) yang sifatnya seperti mereka. Kembalikan Rittertum ke dunia!! xD