7.8.13

Deutschland, 4.Schritt: Eine Lange Reise

Maaf ya pemirsa eh.. pembaca, gue telat posting di sini. Maklum, terlalu bahagia melihat München hahahaa... Nah di sini gue mau cerita tentang perjalanan panjang gue menuju negeri impian ini. Gue berangkat tanggal 2 Agustus petang, sekitar jam 6. Pas awal-awal rasanya susah banget deh mau pisah sama keluarga. Maklum, gue orangnya bisa dibilang manja dan gue belum pernah perjalanan sejauh itu sendirian. Iya, benar-benar sendirian, bukan cuma sekedar tanpa keluarga tapi ada temannya. Tadinya gue mau masuk buat check in jam 3an, tapi berhubung gue takut nanti makin susah berpisah alhasil gue pamitan aja langsung. Makin cepat makin bagus, pikir gue. Dan benar saja, begitu gue masuk lewatin pintu dan pamitan sama Mutti dan Lyrae tiba-tiba langkah terasa ringan. Isi otak gue bahagia banget membayangkan pertama kalinya gue sendirian dan bisa ngapain aja! Yahh.. ada satu hal yang nyebelin sih.. koper gue berat dan bawaan gue banyak banget :(
Tantangan pertama gue adalah menemukan loket check in, yang ternyata setelah tanya orang langsung bisa ditemukan hehehe.. Lewat imigrasi lancar dan lancar terus sampai ruang tunggu mau ke pesawat. Nah, di ruang tunggu itu tuh banyak pemandangan. Cowok-cowok berbahasa Jerman yang ganteng-ganteng seliweran di mana-mana. Agak ngarep ada yang ngajak ngobrol sih, tapi sayangnya mereka pada sibuk sendiri. Sama handphone, sama temennya, atau bahkan sama pacarnya. Hiks.. :( Pas naik ke pesawat gue pun berharap bisa duduk sama native speaker Jerman. Lumayanlah buat belajar dan ngobrol-ngobrol dikit. Ternyata gue kurang beruntung. Sebelah gue kakek-kakek orang Indonesia yang kerja di perusahaan gas asal Qatar. Bleh. Tapi ternyata si kakek ini ramah. Dia ngajakin gue bicara dan kita diskusi soal masa depan Indonesia dan multikulturalisme. Seru juga sih. Dia bilang Indonesia itu bakal kacau di masa depan, katanya karena rakyat udah nggak percaya pemerintah lagi. Gue iya-iya aja, berhubung emang kelihatan begitu. Terus bagian yang paling seru adalah ketika dia cerita bahwa dia dari Aceh, tapi udah nggak solat karena menurut dia zaman sekarang udah ga ada agama yang benar. Dia juga bilang kalau anaknya nikah beda agama di gereja. Wedeww.. seru banget yak kalau dapat mertua kaya begitu cueknya sama keyakinan menantunya :)

Balik lagi ke perjalanan panjang. Gue nggak suka sama sekali perjalanan itu. Kenapa? Pertama, jadwal makan yang kacau. Orang lagi enak-enak tidur tiba-tiba lampu nyala dan pramugari dorong-dorong troli buat bagi-bagi makanan, padahal 2 jam sebelumnya baru aja dikasih makan. Kedua, lama banget, alhasil kaki pegel parah, bahkan sampai gak tau mau ditaruh di mana itu kaki. Mana gue sempat mengalami susah tidur pula karena pegel. Untungnya gue menemukan album Valtari-nya Sigur Ros di daftar lagu-lagu yang ada di pesawat. Gue pun berhasil tidur nyenyak dalam buaian senandung Islandia sebelum dibangunkan pramugari yang berisik -.-a

Sampailah gue di Doha dan mendapati bahwa ternyata transit di sana rebek banget. Tengah malam kita disuruh turun di tengah landasan yang membelah gurun lalu dipindahkan dalam bus-bus menuju terminal transit yang lumayan jauh. Mana gue bawa ransel segede gaban. Udah ngantuk parah super berat pula. Belum jalanannya muter-muter pas mau ke security check. Dan di bandara inilah terjadi sesuatu yang menyebalkan. Di tiket gue tertera waktu boarding pesawat ke München pk 1.20. Ketika gate dibuka, gue langung tancap gas mendekati gate supaya bisa cepat selesai urusannya dan naik ke pesawat. Tapi bukan München tujuan yang tertera di layar, melainkan Kigali dan Entebbe (yang belakangan gue baru tau kalau letaknya di Uganda). Pantesan yang masuk kok orang Afrika semua. Alhasil di depan pintu gue dan banyak orang Jerman lain kebingungan dan menggerutu. Setelah protes sana protes sini, akhirnya dibukalah gate untuk tujuan München, empat puluh lima menit setelahnya tentunya -___-a

Berhubung gue udah superngantuk, pas sampai di pesawat gue langsung tidur aja. Sempat ngobrol sedikit banget sama tetangga kiri kanan, yang kiri orang Afrika (nggak tau negaranya) yang mau mengunjungi temannya di München, yang kanan bapak-bapak Jerman muka ala Völkerwanderung dan berbadan gendut. Mereka mengira gue orang Jepang! hahahaa... dari mananya coba? Habis ngobrol sebentar itu gue langsund tidur, bahkan sampai melewatkan makan sahur (seriusan ini makan sahur, soalnya baru dibagiin jam 3an gitu!). Saking lelapnya tidur gue baru bangun waktu sarapan pagi dibagikan. Heran, sarapan pagi jauh lebih enak dari menu makan siang, malam, sahur, dll itu. Waktu itu langit udah mulai terang dan tetangga duduk gue membuka jendela. Waktu gue lihat peta di layar TV, ternyata kita udah di atas Austria. Terus kelihatan gitu puncak-puncak pegunungan Alpen yang menyembul dari awan. Salah satunya pasti Großglockner :3 Makin nggak sabar pengen turun!!

Sekitar dua puluh menit kemudian pesawat mendarat. Franz Joseph Strauss Flughafen München! Bener ya kata Lyrae, begitu sampai tuh rasanya supersangatamatsenangtidakterlukiskanlagi. Semacam nggak nyangka banget bakal menginjakkan kaki di neger impian. Semakin nggak sabar mau keluar dari bangunan bandara, tapi yah begitulah, mau ke tempat imigrasi aja jauhnya keterlaluan. Satu hal lagi yang aneh, super sepi! Gue sampai mikir jangan-jangan cuma kita doang pesawat yang mendarat. Dan kayanya bener deh, soalnya waktu mau ambil koper, cuma ada bagasi dari pesawat gue doang.

Karena gue harus mengejar bus yang jam setengah sembilan, gue langsung buru-buru ke Munich Airport Center buat tukar duit. Nah di sini nih ujian pertama bahasa Jerman gue, berhubung sama petugas imigrasi nggak ditanyain apapun dan bisa langsung ngeloyor begitu aja setelah dia lihat paspor gue. Padahal orang Timur Tengah yang berdiri di depan gue ditanya-tanyain lama banget hehehe.. mungkin si petugas udah muka gue muka gampang berintegrasi heheheh.. :P Ujian pertama gue adalah bertanya ke bagian informasi tentang letak money changer. Dan.. berhasil!! Gue menemukan money changer dan segera menukar uang sisa yang belum ditukar. Habis itu nyempetin diri ke MAC buat foto-foto. Biasa, buat sumber novel hehehee... Begitu melangkah keluar dari bandara. Oh my God..., udara 15 derajat langsung menyambut dengan kesegaran dan kesejukan luar biasa. Buru-buru gue ambil foto pemandangan di situ, termasuk Biergarten dan Maibaum yang supertinggi (gue belum tahu kalau yang tertinggi ada di Viktualienmarkt). Setelah beberapa foto gue pun berlanjut ke bus yang akan mengantarkan gue dan yang lain ke tempat registrasi ulang. Senangnya sudah sampai di München dengan selamat :))

31.7.13

Deutschland, 3. Schritt: Einpacken !!

Deutschland, 3. Schritt: Einpacken !!

Kalau semua berkas-berkas seperti paspor, visa, tiket, dll sudah siap, yang berikutnya dilakukan adalah hal yang paling bikin sebel gue kalau mau pergi: packing! Duhh... tau sendirilah gue nggak bisa banget packing dengan beres. Gue tipe yang selalu masukin barang yang gue takut bakal dibutuhkan padahal kadang-kadang ujung-ujungnya enggak. Gue juga tipe yang nggak mau keluar duit banyak pas di sana akhirnya bawa semuanya dari sini aja meskipun bikin koper berat dan penuh -___-a nggak berbakat banget nih jadi traveler, tapi ya mau gimana lagi kalau keterbatasan dana. Misalnya nih ya, di München nanti gue belum tahu apakah bakal dapat kamar yang ada dapur komplitnya atau dapur kosong tanpa alat masak. Katanya penyelenggara kursus, hal itu baru bisa ketauan pas gue udah sampai di sana. Nah, akhirnya gue memutuskan untuk bawa panci dan wajan teflon kecil. Padahal sebetulnya gue bisa aja nggak bawa terus mengandalkan makan menu-menu kantin. Tapi gue ogah banget berhubung sekali makan bisa sampai 5 Euro. Mending gue masak deh lebih hemat. Nah itu dia contoh gue yang membawa barang yang cuma bikin penuh koper doang.

Hal lain yang juga gue masukin di sana dan gak penting adalah: kostum mittelalter gue berikut hiasan rambut dan sepatunya! Hahaha... nggak penting super kan?? Yah, gue bawa ini sebetulnya karena memang ada rencana untuk ke festival Mittelalter bareng temen gue orang Jerman tanggal 15 Agustus (hari libur di München jadi gak ada kuliah yeyeye~). Padahal untuk festival itu gue gak wajib pakai kostum. Bisa aja gue memilih datang sebagai turis biasa dengan pakaian santai untuk jalan-jalan. Tapi ya gitu, gue nggak mau. Nggak afdol ah kalau ke festival mittelalter nggak pakai kostumnya juga (sama kayak ke festival Jepang gak pakai baju cosplay atau gaya Harajuku). Belum lagi teman gue ini seorang fotografer dan memang sedang cari model. Kali aja kaaaan~ (hueekk ... pede jaya -___-a).

Dengan banyaknya barang yang dibawa, akhirnya gue harus cari akal supaya koper gue muat dan gak terlalu berat (harus dibawah 30 kg, kalau perlu di bawah 20 kg deh..). Gue browsing dan menemukan situs ini: http://www.myromanapartment.com/travel-light-bag-pack-single-suitcase-month-trip/ . Bagus juga sih tipsnya. Gue ikuti tips ini dan berhasil, sekalipun kalau si penulis artikel itu memasukkan buku dalam kopernya, gue menggantinya dengan makanan instan dan alat masak, sementara buku gue bawa di ransel. Tapi sebetulnya bukan itu masalah utama gue. Masalah utama gue adalah memilih baju yang akan dibawa. Nggak seperti orang-orang lain, gue nggak mau tiap hari cuma pakai jeans, T-shirt dan jaket doang. Bosan banget. Padahal kesempatan ke Eropa di musim panas adalah salah satu kesempatan yang terbaik untuk bebas berekspresi dengan pakaian. Tidak seperti di sini yang kalau kita pakai tank top dan mini skirt aja udah disuit-suitin abang-abang ojek, di München asal nggak telanjang orang bodo amat sama pakaian kita. Lihat saja foto yang diambil di suatu weekend yang super panas di München ini: https://twitter.com/huwba/status/360790433539956737/photo/1

Balik lagi ke baju yang bakal gue bawa, akhirnya setelah browsing di sana sini gue menemukan beberapa tips oke. Ada tiga tips penting yang gue ikuti:

  • Ambil semua pakaian yang ingin kita bawa lalu buat kombinasi pakaian yang berbeda sebanyak mungkin.
  • Bawalah pakaian-pakaian yang bisa dikombinasikan dengan beberapa pakaian lain, bukan yang hanya bisa satu kombinasi saja.
  • Bawa pakaian tebal sesedikit mungkin di musim panas. Jika kedinginan lebih baik untuk mendobel pakaian daripada membawa sweater tebal atau jaket tebal.
Selain tiga tips ini, gue juga tanya ke teman gue yang orang München tentang cuaca dan suhu di sana selama bulan Agustus. Katanya, suhu tertinggi bisa mencapai 30°C lebih, tetapi bisa jatuh juga ke suhu terendah yaitu sekitar 16°C-18°C. Dia menyarankan agar gue membawa Pullover (Turtleneck) supaya nggak kedinginan pada suhu-suhu seperti itu. Teman gue yang lain menyarankan agar gue membawa satu jaket saja yang cukup hangat. 

Setelah terkumpul semua pakaian yang kira-kira gue mau bawa, berikutnya adalah mencoba membuat beberapa kombinasi pakaian. Gue berhasil membuat 26 kombinasi pakaian. Itu pun masih bisa lebih, tapi berhubung keterbatasan waktu akhirnya gue putuskan untuk mencukupkan dengan 26 kombinasi itu. Nah, berikut ini beberapa kombinasi yang gue buat:

Blazer + tank top merah + rok summer floral + topi + sepatu casual
baju andalan buat ngampus eheheheh.. :)


Long sleeved Tee + legging + red shawl + running shoes
Baju buat pas berangkat :)

Pink weatherproof jacket + red tank top + polkadot mini skirt + legging + wool hat + running shoes
Ini buat piknik ke Neuschwanstein kalau cuacanya bagus. Pas lagi acara sunbathing tinggal buka jaket sama leggingnya :)

Purple pullover + pink skinny jeans + running shoes
ini buat piknik ke Salzburg, karena daerahnya bergunung-gunung dan dingin :)

Secara keseluruhan pakaian yang gue bawa ada 4 kaos, 5 tank top, 1 blazer, 2 kardigan, 1 jaket weatherproof, 3 rok (satu panjang), 3 celana panjang, 1 jeans, 2 celana pendek, 1 dress untuk pergi ke gereja, 1 dress batik untuk acara penganugerahan piagam atau kalau ada Kulturabend, 2 piyama, 1 set kostum mittelalter, 1 sepatu casual, 1 wedges yang agak resmi, sisanya ada topi, shawl, handuk, undies dan toiletries plus alat masak dan beberapa makanan instan. Untuk berangkat gue akan pakai kaos lengan panjang, shawl, legging dan running shoes. Itu banyak banget sih setelah gue lihat-lihat, tapi akhirnya muat dan oke juga dibawa. Mudah-mudahan nggak melebihi kapasitas deh itu koper -__-a

Terus di ransel gue bawa apa ya?? Di ransel ada laptop beserta charger dan printilannya, kotak aksesoris seperti karet rambut dan jepit, kotak bekal dan tempat minum kosong, tas untuk kuliah, binder, tempat pensil, obat-obatan, kamus, suvenir untuk dibagi-bagi di sana, charger hp dan charger kamera. Gue juga bawa tas kecil satu lagi untuk berkas-berkas perjalanan, kamera, hp, notebook kecil, dan satu buku yang gak boleh ketinggalan banget karena itu buku yang menginspirasi gue banget untuk memperjuangkan perjalanan ini, judulnya The Sound of Munich karya Suzanne Nelson :)

Nah, demikianlah barang-barang yang gue bawa dan menghasilkan satu koper beroda ukuran sedang, ransel besar dan satu tas kecil hahaha.. sungguh tidak mencerminkan seorang traveler yang baik. Tapi ya memang gue bukan traveler ya.., gue mahasiswi biasa dengan kondisi ekonomi yang sangat "mahasiswa" juga hahaha.. :P





26.7.13

Hanya Sebuah Khayalan yang Ketinggian

Di beberapa tulisan sebelumnya, gue selalu menekankan bahwa mimpi adalah sesuatu yang bisa dicapai dengan usaha keras dan fokus. Tapi di tulisan yang kali ini gue memutuskan untuk membagikan sedikit pemikiran (atau kegalauan?) gue berkaitan dengan mimpi ini. Pertanyaan seputar apakah gue sebetulnya sudah kebanyakan mimpi sebetulnya sudah sering bertualang di kepala gue. Ya, jujur aja sebagai tukang mimpi yang beberapa mimpinya sudah tercapai, tetap aja sebagai manusia gue merasa kurang. Gue merasa ada banyak mimpi yang belum diwujudkan tapi waktunya sedikit, atau malah terasa nggak mungkin. Sejauh ini mimpi-mimpi gue yang tercapai diperjuangkan dengan doa yang banyak, kemampuan kognitif dan harapan. Dan itu semua nggak mudah. Rata-rata butuh perjalanan panjang, gagal di sana-sini dan lain sebagainya. Gue pengen juga kadang-kadang ketiban mimpi yang tiba-tiba, yang karena keberuntungan gitu. Ok, baiklah, gue pernah sih beberapa kali ketiban keberuntungan kecil-kecil, termasuk menangin satu mini CD lagu Mittelalter yang jelas gak bakal dijual di Indonesia, tapi bukan mimpi seperti itu yang gue maksud.

Mimpi yang gue maksud sedikit banyak disebabkan oleh diri sendiri yang kebanyakan baca komik, baca novel romantis, nonton film atau bahkan ngepoin teman sendiri. Nah, ini nih yang mulai membuat gue berpikir bahwa gue udah kebanyakan melakukan hal-hal itu. Atau sebetulnya bukan benda-benda itu sih yang bikin gue jadi tukang mimpi, tapi guenya sendiri yang masih sulit mendefinisikan beberapa hal di dalamnya sebagai "khayalan belaka" dan bukan "realita yang mungkin aja terjadi". Gimana ya, kadang-kadang gue suka ngarep berlebihan sih kalau-kalau kejadian-kejadian di komik, novel dan film itu bisa terjadi beneran sama gue. 

Apa sih sebetulnya yang ada di komik, novel atau film yang gue nikmati sampai jadi kebanyakan mimpi itu. Yah.., sebetulnya ujung-ujungnya persoalannya sama sih, masalah masa depan. Lebih jelasnya, bertemu seseorang yang akan jadi masa depan kita. Gue heran ya kenapa sih kalau di komik, novel atau film itu kejadiannya selalu menarik (ya iyalah kalau ngebosenin atau biasa banget ntar gak ada yang beli -.-a). Misalnya nih, di novel romantis pertama yang gue baca, judulnya Love in Prague karyanya Riheam. Pasti banyak deh yang udah baca ini. Sebetulnya cerita cintanya biasa aja sih, tipikal teenlit gitu. Tapi kenapa yah, kok dua karakternya ini bisa jatuh cinta dengan latar belakang kota Praha yang cantiknya to the max? Padahal nih ya, kalau yang namanya jatuh cinta tuh mau kejadiannya di perkampungan kumuh pinggir rel dekat tempat pembuangan sampah pun rasanya tetap aja semua jadi indah banget, apalagi di kota secantik Praha :'3 Atau cerita yang ditulis sama empat penulis lokal, yang judulnya Travelers' Tale: Belok Kanan, Barcelona. Dua tokoh yang tadinya nggak disangka-sangka malah ketemu dan akhirnya nikah. Dan mereka jadi mengenal satu sama lain lewat perjalanan panjang yang mereka lalui untuk sampai di Barcelona. Mengenal seseorang dan jadi suka dalam suatu kesempatan melakukan perjalanan bersama itu menurut gue keren banget. Novel-novel kayak gini tuh sekarang lagi menjamur banget dan merekalah satu-satunya kelompok novel cecintaan yang gue masih suka baca (soalnya gue gak suka yang settingnya cuma di sekolah, kampus atau kehidupan perkantoran. Bosen banget -,-"). Gimana nggak makin berkhayal coba. 

Sebetulnya cerita-cerita di komik nggak sampai seheboh novel sih, karena mereka kebanyakan bersetting sekolah atau kampus. Tapi tetep aja ya, apapun yang mereka lakukan di sana, atau adegan-adegannya terasa "lebih" daripada dunia nyata. Adegan favorit gue misalnya kalau ada karakter yang pasangan lagi kencan di taman ria. Terus pas naik ferris wheel tiba-tiba tanpa sadar mereka ciuman. Atau misalnya mereka baru pdkt terus pas di puncak ferris wheel itu mereka jadian. Hmm.. gimana ya, waktu gue jadian kayanya gak ada yang sampai segitunya. Tempat jalan terromantis paling museum atau Kota Tua (yang udah banyak alaynya jadi bikin males -.-a). Itu pun pergerakannya terbatas oleh norma-norma ketimuran yang sebetulnya masih gue pertanyakan kenapa. Hmm...

Menjelang keberangkatan gue ke Jerman, gue pun semakin berkhayal ketinggian. Masalahnya, orang yang bakal jadi masa depan kita itu kan bisa ada di mana aja. Kalau gue diberkati dengan cerita hidup yang menarik seperti novel dan film, bisa aja orang itu ada di kursi samping gue pas di pesawat, di ruang tunggu bandara, di segala sudut kota Munich, di antrean panjang menuju Neuschwanstein, di dalam U-Bahn/S-Bahn, di suatu sudut di kota Salzburg ketika gue tengah berpetualang sendirian di sana, di tengah keramaian festival Mittelalter yang mungkin gue datangi, di dalam perpustakaan LMU ketika gue mencari bahan untuk skripsi, bahkan di kamar tetangga di Wohnheim. Atau bisa aja orang itu sebetulnya teman lama di Eropa yang jauh-jauh datang ke Munich ketemuan langsung dan lalu berlanjut sampai... ehem. >////< 

Yah... gue gak mau berharap muluk-muluk sih. Sampai saat ini gue cuma berdoa supaya perjalanan gue ini membawa sesuatu yang berguna dan menyenangkan, termasuk pengalaman-pengalaman seru yang tidak terlupakan. Berkaca pada pengalaman teman-teman gue, sebut saja si A, si D dan si S, semua berani melepaskan masa lalunya dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Mudah-mudahan setelah berani melepas masa lalu gue, gue pun memperoleh masa depan yang lebih cerah dan mimpi-mimpi lain yang tercapai. Amin. :)


14.7.13

Deutschland, 2.Schritt: Visum Beantragen

Selangkah mendekati Jerman. Saatnya saya mengajukan permohonan visa ke kedutaan Jerman. Rupanya walaupun segala macam prosesnya sudah dijamin DAAD, alias gak perlu bayar lagi sekitar Rp700.000,- ternyata prosesnya lumayan ribet hehee...

Berbeda dari pengajuan visa umum, saya cukup membawa beberapa dokumen saja, yaitu: formulir pengajuan visa diisi lengkap, foto 3,5x4,5 biometris yang nggak boleh senyum dan harus kelihatan kuping jadi bikin saya kelihatan kayak tante-tante galak, paspor yang masih berlaku min. 3 bulan sebelum tanggal berakhirnya, surat undangan dari universitas penyelenggara kursus (Teilnahmebescheinigung), keterangan jumlah beasiswa yang diterima (Annähmeerklärung), surat keterangan dari jurusan tempat kuliah, dan keterangan pemesanan tiket pesawat. Nah.., begini kira-kira yang tertera di email yang saya terima dari pemberi beasiswa.

Tanggal 24 Juni 2013 saya telah membuat janji dengan pihak kedutaan pukul 10.00 pagi. Pembuatan janji ini bisa dilakukan di website resmi kedutaan bagian pengurusan visa. Email bukti pembuatan janji juga harus dibawa. Nah, karena biasanya pagi-pagi jalanan Jakarta dirambati kemacetan, alhasil saya berangkat dari rumah pk 08.00. Begitu keluar sampai jalan besar Pancoran, benar saja, macet luar biasa! Ternyata sopir taksi yang menyupiri saya pintar, sodara-sodara, dia menyarankan untuk lewat tol. Awalnya sih agak keberatan, habis 'kan itu berarti keluar uang lagi. Dia bilang, kalau lewat tol macetnya cuma sebentar. Dan saya pun memutuskan untuk ikut. Pertama-tama agak skeptis sih, dan saya merasa dibohongin, habis macetnya lumayan panjang. Sampai tiba-tiba terdengarlah sirene mobil polisi. Si sopir taksi langsung membuat ancang-ancang. Ternyata itu rombongan pejabat lewat. Segera si sopir mengemudikan taksinya tepat di belakang rombongan dan jalan tol tiba-tiba terasa lengang karena pengemudi lain menepi semua. Dalam sekian detik tiba-tiba saya sudah sampai di Semanggi. Niat datang pagi supaya nggak terlambat eh malah jadinya terlalu cepat. Alhasil saya harus menunggu satu setengah jam sampai giliran saya dipanggil ketika di loket visa itu.

Gimana sih prosesnya ketika mengajukan visa itu? Jadi pertama-tama harus absen dulu sama satpam yang jaga di pintu depan. Nomor paspor kita dilihat dan dicocokkan sama catatan yang dimiliki pihak kedutaan tentang janji yang sudah dibuat. Habis itu kita masuk dan lewat bagian pemeriksaan tas. Waktu itu handphone harus dimatikan dan diberikan ke satpam. Handphone kita ini lalu dimasukkan di loker dan kuncinya diberikan pada kita buat diambil lagi waktu pulang. Selanjutnya naik deh ke lantai dua, bagian pembuatan visa. 

Di atas kita diabsen lagi sama mbak-mbak petugasnya. Intinya kita konfirmasi kalau sudah tiba, nanti nama kita diberikan ke penjaga loket dan kita disuruh nunggu sampai dipanggil. Astaga..., nggak ada handphone, bosennya minta ampun nunggu sampai satu setengah jam. Mana tempat duduk terbatas, jadi gak bisa ditinggal jalan-jalan. Apa ya kira-kira yang saya lakukan? Hehehe.. betul sekali sodara-sodara, saya mengepo!! xD Duduk saja diam di situ dan dengarkan pembicaraan orang di sekitar. Wah.., alasan mereka ke Jerman macam-macam ya.. Ada yang kuliah S2, ada yang mau bisnis, ada yang liburan, tapi yang paling bikin iri sih waktu ada dua orang keponakan dan tantenya yang sibuk ngobrol kalau mereka ke Jerman buat menghadiri pernikahan saudaranya. Duhh.. jadi pengen deh kayak saudaranya itu.. :) Kapan ya nyokap saya jadi seperti tante itu hehehee...:P

Akhirnya tibalah giliran nama saya dipanggil. Saya masukkan semua dokumen yang saya bawa ke loket. Setelah dicek oleh petugasnya, lalu saya cek ulang, saya boleh pergi. Satu-satunya pertanyaan yang saya dapat adalah: kamu di kota mana kursusnya? Hehehee... Lancar jayaaaa~ Saya pulang dengan selembar kertas semacam bukti pengajuan visa dan tanggal pengambilannya, yaitu 28 Juni.

* * *
28 Juni. Hari itu saya berencana berangkat lebih siang, berhubung janji jam 10 dan kalau urusan ambil visa, kita harus ngantri di luar pagar -___-a Saya berangkat jam setengah sembilan. Sopir taksi yang kali ini tidak sepintar yang sebelumnya. Ia lewat jalan lain untuk menghindari macet dan ternyata malah macet. Di tengah kemacetan itulah tiba-tiba saya ditelepon oleh pihak kedutaan. Mbak-mbak tersebut mengabarkan kalau asuransi saya dari DAAD hanya menjamin sepanjang hari kursus, alias tanggal 5-28 Agustus! Sementara itu gue sudah tiba di Jerman tanggal 3 dan baru pulang tanggal 29. Mbak itu juga mengatakan bahwa saya harus mengurus asuransi untuk sisa hari yang tidak dijamin. Mati banget... berapa duit itu?? Dengan memelas saya katakan bahwa pada waktu saya terima email berkas yang harus dibawa, saya tidak melihat adanya pernyataan itu. Saya juga bilang bahwa dua teman saya yang lain lolos-lolos aja walaupun ada perbedaan hari. Sayangnya si mbak bersikeras, katanya kalau dipaksa nanti saya dapat masalah di Jerman. Yah, terpaksalah saya merelakan hari itu untuk mengurus berkas yang kurang ini. Puji Tuhan, setelah berdoa saya menemukan ternyata asuransi perjalanan saya menjamin dari tanggal 2-5 Agustus dan 29-1 September :D Dengan segera saya cari tempat fotokopian dan mengantarkan berkas itu ke kedutaan. Agak nyebelin sih, karena 'kan buang-buang waktu dan uang. Sementara teman-teman saya yang buat visa sebelum itu lolos-lolos aja walaupun tanggalnya beda -__-a Tapi yasudahlah, mungkin ini ujian lagi buat saya sebelum sampai ke Jerman. Saya yakin semua ini akan terbayar ketika sudah tiba di Jerman.

Akhirnya saya datang lagi untuk mengambil visa tanggal 5 Juli. Saya datangnya lebih siang lagi ini, baru jalan dari rumah jam setengah sembilan lebih. Bahkan saya sampai lihat jam terus karena takut terlambat. Ternyata sampai di sana saya belum boleh masuk dan disuruh antre sama satpamnya di depan pagar kedutaan Jerman, bersama pengambil visa yang lain. Yah begitulah, mengantre dan mengantre sampai masuk ke dalam dan berada di depan loket berwarna putih tempat pengambilan visa. Nggak lama sih, tapi menegangkan juga, karena pas itu lagi ada kendala dari kedutaannya sehingga pembuatan visa agak terlambat. Bahkan ada mbak-mbak yang berdiri beberapa deret dari saya dan mendapati bahwa visanya belum jadi, alhasil dia harus datang lagi tanggal sekian untuk mengambil visanya. Saya berdoa aja tuh, komat kamit sendiri semoga visa saya udah jadi karena kalau harus balik terus datang lagi kan rugi juga -___-a
Dan... puji Tuhan.. visa saya sudah ada!! :') sambil disuruh cek ulang karena takut nomor paspornya beda, saya pun berbunga-bunga hehehee.. akhirnya, dapat juga nih satu hal yang paling bikin repot hahaa.. Akhirnya saya pulang bersama satu langkah lagi mendekati Jerman :)

13.7.13

Surga Utara dan Firdaus Selatan

Pada sebuah ruang hangat dekat perapian
Di tengah musim panas berkabut dingin
Ia bercerita tentang negerinya
Kerajaan yang jaya masa lampaunya
Namun terlupa oleh manusia

Pada sebuah ruang beku dalam pendingin
Di tengah musim kemarau basah
Kudengar cerita tentang negeriku
Kerajaan yang jaya masa lampaunya
Namun terlupa oleh manusia

Tanahnya surga dari utara
Milikkulah firdaus selatan
Tempat lukisan terindah tangan Tuhan terletak
Tempat manusia-manusia bodoh bergentayangan
Menggerogoti kecantikan surgawi
Kedua tanah kami

Ia berkata lagi
Selayaknya aku berdiam di sana
Karena aku ingat kisahnya
Sesaat aku rasa bahagia
Sebab aku t’lah diterima
Kemudian aku bertanya
Bukankah diri ini sama?
Meski selalu kuingat kisahnya
Dengan si bodoh apa bedanya?
Jika aku pun, manusia yang melupa
di negeriku sendiri

by LV~Eisblume
14.07.13
for our very short but meaningful conversation

3.7.13

Interpals: Meet Your International Penpals :)

Jadi di sini gue mau cerita tentang sebuah situs pertemanan yang sedikit banyak sudah mewarnai hari-hari gue yang sepi ini (lebay!) bahkan mengubah hidup gue (lebih lebay lagi!) hahahaa... Sebetulnya gue udah lupa darimana gue tahu situs Interpals.net ini. Kalau nggak salah sih dari teman yang juga suka main di tempat semacam ini. Situs ini pada awalnya dibuat untuk mencari sahabat pena dari seluruh dunia. Hmm.. kebetulan gue suka tukeran kartu pos dan koleksi perangko, jadilah situs ini cocok untuk gue. Tetapi setelah gue main di situ beberapa saat, gue justru berpikir bahwa situs itu lebih cocok untuk mencari teman dari berbagai negara secara umum (tidak harus penpal) dan yang paling penting, itu situs untuk bertukar bahasa :)

Gue lupa kapan pertama kali gue sign up di Interpals, kalau nggak salah sih sekitar awal masuk SMA gitu. Waktu itu profile gue namanya "LVEisblume", sama seperti nama di blog ini. Agak lupa sih waktu itu siapa aja yang jadi teman gue. Yang jelas gue dapat teman 2 cewek orang Jerman yang sampai sekarang masih berhubungan, namanya Sabrina dan Mimi. Sabrina ini akhirnya jadi teman email gue, meskipun akhir-akhir ini dia sibuk banget jadi kita udah jarang email-emailan -.-a Kalau Mimi ini asyik orangnya, soalnya dia berminat banget sama bahasa Indonesia. Bahkan dia fans beratnya Ariel NOAH. Jangan tanya gue dia tau darimana, karena gue bukan yang ngenalin ke dia hahaha... Jadilah partner belajar bahasa yang asyik, karena kebetulan gue juga belajar bahasa Jerman. Rencananya sih gue dan dia mau ketemu nanti di Jerman. Dia bakal datang naik kereta dari Leonberg, kota tempat tinggalnya. Hmm.. mudah-mudahan jadi ya.. :)

Nah, tapi profil gue dengan nama "LVEisblume" ini akhirnya gue hapus, karena pada saat itu tiba-tiba aja banyak banget teman gue yang udah lama gak main di Interpals. Gue pun sibuk dengan sekolah (tahulah SMA gue beratnya kaya apa) dan akhirnya nggak kepegang. Gue nggak enak sama teman-teman yang suka kirim pesan dan gak gue bales-bales, akhirnya daripada gue bingung, mending gue kabur sajaa.. hehee.. (duh, jangan ditiru ya sodara-sodara). Beberapa saat nggak bermain Interpals, ternyata gue kangen berat sama pertemanan internasional yang memang "beda". Gimana bedanya nanti gue ceritakan. Pada akhirnya gue pun memutuskan untuk membuat akun baru di Interpals. Di sini gue bertransformasi menjadi "Frouwelinde" hehehee... Gue berubah dari anak polos baik-baik yang selalu kabur tiap kali dikirimin pesan *piiiip* sama orang menjadi seorang penganut subkultur medieval Eropa yang lebih menarik. Seorang Scorpio memang paling ahli bertransformasi hehehe...

Bagaimanakah si Frouwelinde itu?? Gue susun sebuah profil baru yang tampilannya berbeda. Kalau dulu superngebosenin banget karena warnanya item doang, sekarang profil gue lebih berwarna. Kalau dulu isinya pengenalan singkat doang, sekarang lebih variasi. Gue isi profilnya dengan kisah-kisah khayalan gue kalau seandainya gue pernah hidup di masa lalu. Tulisan ini sebetulnya khayalan total, tapi cukup sukses menarik orang untuk mampir walaupun sekedar berkomentar. Kebanyakan dari mereka menyangka gue percaya dengan yang namanya reinkarnasi. Hmm.. tentu saja tidak, karena pemahaman gue berbeda dari reinkarnasi. Terus di bagian bahasa yang dipelajari, hmm.. agak nekat nih. Kalau dulu gue isi Jerman beginner dan English intermediate, sekarang gue nekat dengan pasang English fluent dan Jerman advance :) Di bagian bahasa yang gue pelajari diisi bahasa Norwegia dan Rusia, tadinya mau dimasukin lagi bahasa Polandia, tapi entar dulu ahh.. yang gampang aja belum beres mau mulai yang susah hahahaa... Oh iya, perubahan bahasa itu berkaitan dengan gue yang telah bertransformasi dari cuma Germanophile menjadi Germanophile, Scandinavophile dan Slavophile hehehee... :P Semua itu akarnya sama kok, kultur medieval yang gue ikuti. Dan gue senang karena setidaknya sekarang gue tahu di mana posisi gue dalam peta identitas internasional. Kalau dulu, pas zaman ababil gue nggak jelas termasuk di golongan apa, sekarang gue sudah bisa menggolongkan diri ke medieval lover ini :)

Yang gue suka dari Interpals? Hmm... banyak sih sebetulnya. Gue akui memang kata-kata seorang teman gue bener, yang bilang kalau Interpals anggotanya banyak yang alay dan sombong-sombong. Tetapi itu ada sebabnya. Yang alay itu rata-rata para weeabo, freak Kpop tingkat dewa atau otaku animanga yang udah akut. Gue juga males sih temenan sama orang-orang ini, habisnya yang diomongin cuma anime manga Kpop doang. Kalau yang sombong, gue maklum sih, emang banyak yang jadi begitu karena di Interpals suka banyak yang nggak sopan. Nanti gue cerita nih soal ketidaksopanan ini. Sekarang yang gue suka dulu. Jadi, di Interpals ini kalau sekalinya dapat temen tuh bisa beneran temenan :) Dan nggak tahu kenapa ya, mereka tuh omongannya sekalinya berbobot ya bisa berbobot banget. Mungkin gue ya yang kurang pergaulan di Indonesia, sampai gue bisa berpikir kalau di Indonesia gue belum pernah bertemu dengan orang yang bisa ngobrol soal-soal begitu. Gue jadi merasa nyambung banget :') Bukan berbobot aja, bahkan mereka banyak yang bisa membalikkan pendapat gue dan memberikan sudut pandang baru. Nah, ini nih yang bisa membantu gue jadi lebih maju.

Tapi di sisi lain ada juga negatifnya situs ini. Nggak jauh-jauh dari situs pertemanan lainnya, banyak yang pervert! dan maaf aja, bukannya mau rasis, tapi kebanyakan mereka orang Arab dan Afrika. Orang Turki juga banyak. Astaga kalau mereka kirim pesan tuh langsung sok kenal sok dekat gitu pakai panggilan "cutie", "baby", dll. Belum apa-apa udah minta temenan, padahal kenal aja belum ckckckck.. Terus kalau diiyain nih friend requestnya, mereka suka maksa. Kayak kemarin gue ketemu orang dari Pakistan yang ngajak Skype-an. Eh dia maksa telepon terus loh minta video call. Hiiy.. mending ganteng, ini nyeremin dan superpervert. Males juga kan kalau diajak video-an terus baru nyala belum apa-apa gambarnya udah *piiiip*. Berkebalikan dari orang-orang ini, berdasarkan pengalaman gue ada dua kelompok orang yang paling sopan, yaitu orang Jepang (cowoknya) dan orang-orang Eropa kebanyakan. Mereka sopan banget, kalau mau ngajak temenan nyapa dulu, kenalin diri dulu, dan tanya beberapa hal sama kita. Mereka nggak langsung minta temenan atau maksa pengen video call -.-a Jadi semakin respek gue :)

Yang bikin males lagi tuh kalau ada orang Indonesia datang ke profil gue dan ngajak ngobrolnya bahasa Indonesia terus dangkal-dangkal gak jelas gitu kayak nanya kuliah di mana, udah ada yang punya belum, ckckckck.. Woyy.. gue di sini mau belajar bahasa, jangan ngajak ngobrol bahasa Indonesia lah -.-a mana obrolannya nggak penting pula hmmm...

Yah, begitulah pengalaman gue dengan Interpals.net. Lumayan mewarnai hari-hari gue dan bikin belajar hehee.. :)

by LV~Eisblume

25.6.13

Deutschland, 1.Schritt: Träume werden wahr!

Saya menulis ini dengan harapan memotivasi semua yang membacanya, bahwa mimpi itu bisa menjadi nyata, jika kita terus berusaha dan fokus pada impian itu. Pergi ke Jerman adalah salah satu impian terbesar saya sejak menyaksikan aksi timnas sepak bola Jerman dalam kancah Piala Dunia 2006. Itu kali pertama saya jatuh cinta dengan negara ini. Cerita selengkapnya bisa dibaca di It's D for Deutschland :) Di sana saya bercerita tentang jatuh bangun saya dalam mengejar impian ini.

Pada tahun 2009, saya sebetulnya punya kesempatan memperoleh beasiswa kursus tiga minggu di Jerman dari sekolah saya. Saya dan sepuluh orang lainnya mengikuti tes untuk memperoleh beasiswa itu. Namun saya gagal mendapatkannya. Ketika itu saya kesal dan marah. Saya merasa Tuhan tidak adil, karena ada kasus berkaitan dengan beasiswa itu. Pada awalnya, perhimpunan sekolah-sekolah partner pemerintah Jerman (PASCH) menetapkan bahwa jumlah penerima beasiswa di sekolah saya ada 6 orang. Jumlah itu lebih banyak 2 orang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya, semua penerima beasiswa itu diambil dari kelas Bahasa, karena kamilah yang mempelajari bahasa Jerman paling intensif. Saya percaya diri karena kuota yang besar itu. Saya hitung di kelas saya siapa saja yang pandai dalam kelas bahasa Jerman. Saya rasa saya bisa masuk ke dalamnya, karena sejak mulai memasuki kelas Bahasa, saya sangat bersemangat dan rajin di mata pelajaran Bahasa Jerman. Bahkan guru saya pun cukup menyukai saya. Tetapi rupanya kuota 2 orang yang lebih itu diberikan pada anak IPA dan IPS yang mengambil bahasa pilihan bahasa Jerman untuk kelas Sabtu. Saya sangat kecewa, karena peluang saya menipis. Saya sampai bilang dan protes pada guru saya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih kecewa lagi ketika saya tahu siapa yang mendapatkan kesempatan itu dari kelas IPA dan IPS. Apalagi ketika saya lihat para penerima beasiswa di kelas saya (dan saya tidak termasuk di dalamnya) sebagian besar adalah orang-orang yang mampu secara finansial dan karenanya bisa mengambil kursus di Goethe Institut. Saya pikir begini: "ya iyalah mereka bisa dapat, 'kan mereka bisa les bahasa Jerman di Goethe dan lesnya mahal." Intinya pikiran saya pendek sekali sewaktu itu, beranggapan bahwa kegagalan saya disebabkan karena faktor tidak mampu les bahasa Jerman di Goethe Institut.

Saya sempat down ketika itu, bahkan mengalami stress bawah sadar. Tapi semua orang di sekeliling saya terus menyemangati saya dan akhirnya saya bertobat serta membuang pikiran-pikiran itu jauh-jauh. Saya berpikir bahwa mungkin saja Tuhan ingin melihat usaha saya lebih lagi dan akan ada sesuatu yang lebih baik di masa depan saya. Ketika saya kemudian berkuliah di Sastra Jerman UI, saya semakin sadar bahwa memang Tuhan tidak memberikan kesempatan itu pada saya karena Ia tahu, saya masih punya banyak sekali kesempatan untuk ke Jerman, sedangkan teman-teman saya tidak. Dari enam orang yang saat itu berangkat, hanya satu yang kembali ke Eropa, itupun di Swiss dan bukan Jerman. Sementara saya?

Di Sastra Jerman UI ada kesempatan memperoleh beasiswa yang lebih berbeda dan jauh lebih menyenangkan dibandingkan apa yang tersedia di SMA. Penyelenggara beasiswa ini adalah DAAD. Apa keistimewaannya? Pertama, kursus yang akan kita ikuti tidak sekedar bahasa Jerman saja, tetapi juga beberapa bidang studi lain yang bisa dipilih misalnya: budaya, sastra, teater, jurnalisme, dll. Kedua, lebih lama. Jika yang sebelumnya hanya 3 minggu, yang ini satu bulan!! :D Ketiga, kita bebas memilih tempat. Waktu SMA, kita tidak bisa memilih tempat kursusnya, semua diurus oleh Goethe Institut dan PASCH. Sekarang, kita bebas memilih 3 pilihan dari banyak kota yang ditawarkan. Keempat, beasiswa di SMA diatur sedemikian rupa sehingga kita tinggal mengikuti programnya sementara di universitas kita bisa mandiri. Bahkan kita bisa bebas pergi ke mana saja ketika ada waktu luang di jadwalnya. Kelima, keberagaman asal negara dari peserta kursus lebih banyak dan kita bisa saja menjadi satu-satunya orang Indonesia di tempat itu sehingga tidak seperti ketika SMA yang membuat kita cenderung pergi berombong-rombong dengan sesama Indonesia dan akhirnya tidak sungguh-sungguh belajar budaya lain. Duh, kalau disebutkan intinya banyak banget deh kelebihannya. Ketika mengetahui hal ini, saya mulai sadar bahwa inilah rencana yang Tuhan simpan untuk saya.

Tapi, bagaimana cara saya bisa mendapatkannya? Hmm... itu perjuangan lagi. Seperti sebuah kutipan dalam film 5 cm, kalau kita ingin mencapai impian, taruhlah impian itu 5 cm di depan mata kita. Pada intinya, maksud dari kutipan itu adalah agar kita bisa fokus terhadap mimpi itu. Sejak awal saya mengetahui keberadaan beasiswa ini, saya mencoba belajar sungguh-sungguh di jurusan yang kata orang sulit ini. Sama seperti jurusan apapun, tentu tidak semua mata kuliah terasa mudah. Meski di kiri kanan ada pandangan-pandangan negatif terdengar, saya tetap memandang positif dengan sabar segala hasil baik maupun buruk yang saya peroleh. Saya mencoba menerima semua tantangan dan rintangan yang harus saya lalui. Kadang-kadang, akibat terlalu serius belajar, komentar miring pun muncul. Tetapi saya sungguh tidak mau peduli. Lihat saja nanti, apa yang saya lakukan akan membuahkan hasil. Toh saya tidak perlu menunjukkan kerja keras saya pada teman-teman. Yang perlu tahu akan kerja keras saya hanya Tuhan (supaya saya tidak cuma minta terus tanpa usaha) dan dosen (yang menilai). Tetapi jangan lupa, amal juga penting. Kalau ada yang minta bantuan dalam perkuliahan, bantulah mereka dengan senang hati :)

Memasuki semester 5, dosen mulai memilih kandidat-kandidat penerima beasiswa ini. Beberapa tahap seleksi dilakukan hingga tersisa 5 orang. Lima orang ini diharuskan menulis sebuah karangan tentang motivasi  belajar di Jerman. Setelah semua dari kami selesai menulis, kami sempat saling bertukar. Jujur, saya minder. Teman-teman saya tulisannya bagus semua. Ada yang sangat fokus ingin meneliti teater dan seorang dramaturg terkenal yang sangat relevan, ada yang bahasannya sangat berguna untuk perkembangan studi bahasa Jerman, ada yang motivasinya sangat up-to-date karena membahas multikulturalisme, dan satu lagi, kepribadiannya sangat baik, sehingga punya nilai plus. Karangan saya isinya betul-betul mimpi doang! Semakin mendekati hari pengumpulan akhir saya semakin tegang. Berkaca pada pengalaman di SMA, ketika saya begitu ingin dan terobsesi dengan beasiswa itu tetapi justru gagal, saya tidak mengulanginya lagi. Bahkan saya berusaha melupakan dan tidak peduli dengan beasiswa itu. Pemikiran saya telah berubah: dapat ya syukur, enggak ya udah. Saya cuma berpegang pada nasehat dosen saya yang mengoreksi karangan itu. Ada tiga nasehat penting yang bisa saya rangkum. Pertama, jadilah diri sendiri. Tulis saja keinginan pribadi yang membuat kita ingin sekali ke Jerman. Kedua, masukkan motivasi yang berbeda dari motivasi orang lain, pada intinya sesuatu yang hanya bisa kita dapatkan di Jerman. Ketiga, fokus dan ketahui apa yang kita inginkan. Nasehat itu menghasilkan sebuah karangan yang kalau dibaca nggak berbobot dan isinya mimpi doang hahahaa...Karangan saya menyebutkan keinginan menulis buku dengan latar belakang abad pertengahan Jerman, kota Munich dan kastil Neuschwanstein. Saya ingin melihat bunga Kornblume yang tidak ada di Indonesia karena katanya warna birunya tidak pernah hilang. Saya ingin menulis skripsi tentang perbandingan pohon Linde di Jerman dan pohon beringin di Indonesia (yang ternyata nggak jadi karena nggak ada waktu -.-a).

Pada akhirnya saya pasrah dan mengumpulkan karangan itu, ditemani oleh Ritter saya hehehee... Bulan demi bulan berlalu, saya belum juga mendapatkan hasilnya. Saya nyaris lupa dengan beasiswa itu ketika tiba-tiba seorang senior yang juga dulu pernah menerimanya meng-sms saya dan mengingatkan untuk sering-sering cek email. Bukan main kesalnya saya, karena saya sudah susah-susah melupakan eh sekarang ingat lagi. Permasalahannya, kalau saya ingat saya jadi semakin pengen -.-a

Dan, suatu pagi pada tanggal yang saya lupa tepatnya kapan, saya sedang duduk di payung dekat Gedung 1 bersama Ritter. Tiba-tiba seorang teman dekat sms saya dan tanya tentang hasil beasiswa. Karena saya takut, jadi saya bilang saya belum mau lihat. Ternyata dia bilang bahwa salah satu teman saya telah mengetahui hasilnya dan rupanya dia mendapatkan beasiswa ke Berlin. Buru-buru saya buka email. Betapa gembiranya hati saya ketika melihat sebuah email dari DAAD berjudul "Beasiswa HSK". Saat itu juga saya bangunkan Ritter yang ternyata sudah ketiduran di samping saya dan memberi tahu hasilnya. Bersamaan dengan itu, teman-teman saya yang duduk tidak jauh dari sana berdatangan dan menanyakan kota yang akan saya tuju. Munich. Lalu mereka bersorak gembira dan ikut memberi selamat. Saat itu saya benar-benar speechless. Nggak menyangka Tuhan kasih kesempatan itu kepada saya.

Demikianlah cerita saya memperoleh berkat tersebut. Sebuah impian ternyata memang harus dicapai dengan penuh perjuangan, fokus dan keyakinan :)

20.6.13

When the Lamb Wants to Fly

When the lamb wants to fly
She must leave the goat first
And be with the eagle instead
Or with the soaring hawk

When the lamb wants to see
What are hidden in this world
She must leave the goat first
And sail with the grey wolf

When the flower wants to bloom
She must leave the night sky
And be with the day instead
Or attach to the holy trunk

When the flower wants to grow
Beautifully and reach the sky
She must leave her own ground
And find a new fatherland


by LV~Eisblume
20.06.13
for my life...

19.6.13

Vakre Blomstene


Det finnes en rose, så hvit som snø,
kan aldri visne, kan aldri dø.
Denne rosen kjenner du nok igjen,
evig vennskap heter den.

(min bestevenn fra Norge) 

18.6.13

Marienplatz, Jam 3 Sore


Tanpa peduli pada panas terik yang menerjang, siang itu aku menyusuri jalan-jalan di sudut-sudut kota Munich menuju pusat kota. Marienplatz. Ke sanalah aku akan pergi. Distrik kota tua Munich itu memang tidak terlalu jauh dari apartemen tempatku menginap selama mengikuti konferensi mahasiswa Program Studi Jerman sedunia yang tengah berlangsung di salah satu universitas ternama di kota ini. Sebetulnya tidak ada kegiatan yang tengah berlangsung di sana, hanya saja, hari ini adalah satu-satunya waktu yang kumiliki untuk menangkap kemegahan menara-menara gereja di pusat kota itu dengan kameraku. Tak hanya menara-menara itu, aku pun hendak mendengarkan dentingan jam dengan boneka-boneka menari yang selalu berbunyi setiap jamnya.

Sebetulnya aku bisa saja menempuh perjalanan dengan kereta api bawah tanah, tetapi aku tidak ingin. Pemandangan kota ini terlalu cantik untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan. Lagipula letak apartemenku sungguh tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki dan aku akan tiba di Marienplatz. Dan benar saja, tanpa terasa kakiku telah menginjak lapangan luas berlantai konblok itu. Menara-menara gereja tua dari abad-abad lampau menjulang tinggi di salah satu sisinya. Dari menara-menara itu, berterbangan burung-burung gereja dan merpati ke sana kemari. Mereka mengitari menara-menara itu seolah tengah berkejaran. Segera kutangkap pemandangan itu dengan kameraku.

Kudekati sebuah air mancur yang terletak di sana. Sembari duduk menunggu pertunjukkan jam berbunyi, aku berusaha menangkap pemandangan orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Sungguh pemandangan yang menarik, seolah aku menyaksikan dunia modern berpadu indah dengan masa lampau. Konsentrasiku pada orang-orang itu terhenti, ketika aku mendengar suatu suara asing yang menyebut sesuatu yang tidak asing. Namaku! Ya, aku yakin sekali orang itu meneriakkan namaku. Tetapi, kupikir ulang, namaku bukan nama yang tidak lazim di dunia barat. Ah, mungkin saja ia memanggil orang lain.

Sebuah tangan menepuk pundakku hingga aku berbalik dan terkejut. Aku mengenalnya. Aku kenal dia. Kenal betul siapa dia.
"Kamu?? Bagaimana bisa kamu ada di sini?" aku terkejut hingga mundur beberapa langkah, hendak memastikan bahwa itu memang sosok yang kukenal.
Sosok itu hanya melemparkan senyum jahil, seolah senang melihat dirinya telah berhasil mengejutkan diriku. Sementara itu, aku hanya bengong dan bertanya-tanya bagaimana ia bisa berada di sini dan menemukanku di tempat ini.

* * *

3 Minggu Sebelumnya

isblomst : boleh aku tanya sesuatu?
rycerz    : silakan. kamu mau tanya apa?
isblomst : setelah sekian lama kita kenal, pendapatmu tentang aku apa?                               
rycerz    : hmm... aku suka wanita yang cerdas
isblomst : jadi, maksudmu aku cerdas? Atau sebaliknya?
rycerz    : kalau kamu nggak cerdas, aku nggak akan mau bicara sama kamu. Kamu cerdas, ramah dan menarik. Aku ingin sekali ketemu secara pribadi sama kamu.
isblomst : ahh.. terima kasih :P
rycerz    : giliranmu.
isblomst : kamu dewasa dan penuh perhatian. Kamu sangat baik dan aku juga ingin mengenalmu lebih lagi.
rycerz    : :)
isblomst : ya Tuhan, tidak bisakah kita ketemu? Aku sungguh-sungguh ingin ketemu kamu. Seandainya kamu bisa menemuiku di Munich. Aku ingin mengunjungi beberapa tempat bersamamu. :')
rycerz    : itu sulit, tetapi bukannya nggak mungkin. Ah, aku punya ide lain. Bagaimana kalau ketemu di Passau? Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku.
isblomst : sepertinya akan sulit. Karena aku punya jadwal, dan aku perlu uang lebih untuk ke sana. Ah, lupakanlah. Itu cuma ide gilaku. Kita bisa ketemu kalau aku ke Eropa lagi kapan-kapan.
rycerz    : maaf ya, liburan ini aku harus belajar. Banyak hal yang harus kukerjakan.
isblomst : nggak apa-apa. Aku bisa mengerti.

* * *

Ia ceritakan semuanya dengan jelas. Tentang percakapanku dan dia selepas tengah malam itu. Tentang kata-kata dan harapanku yang diingatnya terus sampai saat ini. Tentang keinginan rahasiaku yang sesungguhnya masih ingin kuwujudkan meski kuminta ia melupakannya. Dan kemarin ia memutuskan untuk memenuhi keinginanku. Ia tinggalkan pekerjaannya. Ia lupakan setumpuk buku tebal yang harus ia pelajari jelang ujian akhirnya hanya demi mengejar kereta lintas negara yang berangkat di waktu pagi. Hanya demi menemuiku di sini.
"Tapi aku masih tak mengerti. Kota ini luas. Bagaimana bisa kau menemuiku di sini?" aku bertanya bingung.
Ia mengambil tempat di sampingku. Sembari memandang pada menara-menara katedral, ia ceritakan dengan sabar, suatu hal yang rupanya terlewat olehku.

* * *
Sekitar setengah jam sebelumnya

isblomst : sudah dulu ya, aku mau siap-siap pergi.
rycerz    : ke mana? memang kamu sedang nggak ada acara?
isblomst : begitulah, dan ini satu-satunya kesempatan yang kupunya.
rycerz    : mau ke mana?
isblomst : ke Marienplatz. Mau hunting foto bagus
rycerz    : Ohh.., jangan lupa jamnya.
isblomst : ya, aku tahu. Sekarang sudah jam dua lebih. Aku akan mengejar dentangan yang jam tiga.
rycerz    : baiklah, hati-hati ya. Simpan foto bagus untukku.
isblomst : oke, sampai nanti :)

isblomst is offline

* * *

"Sebetulnya aku tadi sudah tiba di Hauptbahnhof ketika aku berkirim pesan itu," katanya sembari tersenyum jahil.
"Lalu?"
"Awalnya aku mau tanya lokasimu, tapi kemudian kamu sudah membocorkannya duluan."
"Kamu ya... keterlaluan! Senang sekali mengerjai aku!" kucubit lengannya dengan gemas.
"Hehee.. aku kan sudah bilang. Aku jahat banget!!" ia menjulurkan lidahnya, seolah mengejekku. "Tapi kamu senang 'kan?"
Aku mengangguk kuat. Dalam hati kubisikkan rasa terima kasih. Meski aku dan dia tak punya hubungan apapun, aku merasa begitu dekat dengannya. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengan sosok yang begitu cocok denganku. Ia seperti sahabat, kekasih, dan kakak laki-laki yang sangat kudambakan keberadaannya. Ia seorang pendengar yang baik, selalu bersedia mendengarkan masalah-masalahku. Dan ia begitu dewasa, mampu memberiku saran-saran yang tak pernah terpikir sebelumnya. Ialah alasanku meninggalkan keputusan lama yang telah kubuat, yang pada akhirnya tidak terlalu membahagiakan. Aku memang belum tahu akan jadi apa kita berdua nanti. Sepasang sahabat pun tak apa, karena aku masih menginginkannya. Tetapi jika lebih, mengapa tidak?

Jam berdentang lima belas kali. Fünfzehn Uhr, kata orang Jerman. Seluruh Marienplatz, termasuk aku dan dia terdiam sejenak, memandang pada boneka-boneka menari di menara jam sana. Marienplatz, jam tiga sore, tempat kami bertemu secara langsung untuk pertama kalinya.


By LV~Eisblume
19.06.13
for my wish...