23.8.12

Ksatria Malam dan Bunga Salju (4)

Akhirnya Yngva bangkit berdiri. Ia sadar bahwa meratapi kehancuran di depan matanya sungguh tidak akan menghasilkan apapun. Ia memutuskan untuk melaksanakan nazarnya pada sang dewi di dalam hutan tadi. Sejak saat itu Yngva tinggal di hutan keramat bersama alam liar di dalamnya. Segala hewan dan tumbuhan menjadi temannya dan ia menjaga mereka dengan baik. Sesekali ia mendekat ke tepi hutan dan memastikan tidak ada satu pun orang dari desanya yang memasuki atau merusak hutan itu.

Pada akhir bulan itu, sang dewi meniupkan musim dingin ke seluruh penjuru negeri. Musim dingin itu menjadi musim dingin terdingin yang pernah dialami Yngva. Tidak ada perapian hangat di rumah atau makanan lezat di meja makan. Tidak ada ayah maupun ibu. Yngva melaluinya dengan seorang diri berada di dalam hutan. Ia berlindung di gua, menyalakan api dengan kayu bakar dan batu api dan menyantap kelinci salju. Dengan terpaksa ia kembali ke cara hidup kuno yang pernah ada di negeri itu juga. Mau tidak mau ia melakukannya sekalipun ia mulai merasa bosan.

Tetapi hutan keramat adalah hutan yang menakjubkan. Banyak hal indah tersimpan di dalamnya. Yngva sering berjalan-jalan mengamati indahnya musim dingin di hutan itu ketika ia bosan. Suatu hari, ia putuskan untuk kembali melihat air terjun dan kolam awal mula hidupnya berubah. Ia penasaran dengan air terjun yang membeku oleh musim dingin. Beruntung hari itu salju tidak turun sehingga ia bisa berjalan dengan aman sampai tiba di tempat itu. Alangkah terkejutnya Yngva ketika dilihatnya sesuatu yang baru telah berada di sana. Kolam tempat air terjun membeku berakhir telah dipenuhi dengan sesuatu yang indah. Serumpun bunga salju berwarna putih kebiruan seperti kristal yang tumbuh subur dari tanah yang beku.
"Alangkah cantiknya bunga-bunga ini. Tak pernah kulihat sebelumnya bunga-bunga seindah ini tumbuh di musim dingin. Kurasa tidak apa-apa aku memetik beberapa tangkai, setidaknya untuk menghias guaku yang sepi," pikir Yngva, lalu tangannya mulai memetik beberapa tangkai bunga.
Tapi tidak mudah rupanya melangkah pergi dari kolam beku. Yngva mulai merasakan dingin yang aneh merambat dari telapak kakinya hingga ujung rambutnya. Kakinya menjadi sulit digerakkan seolah menyatu dengan air kolam yang telah menjadi es. Es itu merambat menutupi seluruh tubuhnya. Yngva berteriak namun suaranya tertahan. Tubuhnya kembali berubah menjadi bunga salju. Tangkai-tangkai bunga yang dipetiknya berserakan di sekitar dirinya. Lalu muncullah sang dewi musim dingin.
"Yngva Thunorsdottir? Apa yang kau lakukan dengan bunga-bunga di kolamku? Bukankah kau sendiri telah berjanji untuk menjaga hutan ini dan tidak merusak atau mengambil apapun yang ada di dalamnya? Sebagai hukumannya kau harus menjalani separuh masa hidupmu menjadi pengganti bunga-bunga salju yang kau rusak. Dalam gelap malam kau akan jadi cahaya yang menyihir banyak orang untuk mencabut akarmu. Banyak orang akan mati karena dirimu. Hanya seorang ksatria yang tepat yang dapat mengembalikan hidupmu, tetapi ia harus menukarnya dengan nyawanya sendiri," sang dewi berkata, lalu menghilang, meninggalkan sang bunga salju yang menangis dalam hati menyesali kesalahan dan meratapi nasibnya.
* * *
Malam telah tiba. Thorvard yang sedang dalam perjalanan kembali ke negerinya terpaksa berhenti dan menumpang di rumah penduduk. Rumah yang ia tempati tidak besar dan terbuat dari kayu dengan lubang di bagian tengah rumah sebagai lubang sirkulasi udara sekaligus cerobong asap. Di dalamnya tinggal seorang nenek yang sudah tua seorang diri. Dengan ramah ia memberikan tumpangan bagi Thorvard untuk bermalam di rumahnya. Sang nenek tidak berbeda dari orang tua pada umumnya, kecuali satu hal, bahasa yang digunakannya bukan bahasa penduduk desa, seolah-olah nenek ini seorang bangsawan yang menyamar. Mungkin dulunya ia pekerja istana. Satu hal lain yang dari tadi membuat Thorvard penasaran: pandangan mata sang nenek padanya seperti mengawasi atau menyimpan misteri diam-diam.

"Saya tahu siapa kamu, Nak. Kau adalah sang ksatria malam yang banyak dibicarakan orang-orang, bukan?" tanya sang nenek ketika mereka menikmati makan malam bersama.
Thorvard tidak menjawab. Ia membiarkan nenek misterius itu melanjutkan kalimatnya.
"Apakah orang lain tahu mengapa kamu disebut ksatria malam?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, karena aku hanya muncul pada malam hari," jawab Thorvard.
"Maksud saya, alasan sesungguhnya yang membuat kamu terpaksa keluar hanya pada malam hari," kata "terpaksa" ditekannya dengan sengaja sehingga Thorvard sedikit terkejut.
"Aku? Terpaksa keluar pada malam hari? Apa maksud Nenek?" Thorvard pura-pura bodoh.
"Baiklah, tidak perlu diperpanjang lagi. Saya tahu betul apa yang menimpamu, Nak. Sungguh kasihan dirimu, kalau saja para dewa tidak terlalu kejam dan bisa membatalkan kutukan mereka padamu. Saya sudah dengar akan segala kebaikan yang kamu lakukan. Dengan berani kamu mengabdi pada banyak raja dan melindungi negeri-negeri dari bahaya. Sungguh, kamu pantas mendapat pengampunan," kata sang Nenek lagi.
"Aku tidak mengerti bagaimana Nenek bisa tahu akan kutukan itu. Tapi, kurasa para dewa benar, aku memang tidak pantas hidup sebagai putra tuan tanah kaya yang sombong. Lebih baik aku jadi serigala saja. Setidaknya aku berburu hanya untuk makan, bukan kesenangan, lalu menghancurkan alam ciptaan ini," kata Thorvard merendah.
"Kau yakin tidak ingin kembali menjadi manusia sepenuhnya? Baiklah ksatria malam, saya rasa kamu bisa memutuskan sendiri. Tetapi suatu rahasia sebaiknya tidak disimpan terlalu lama apabila ia berguna. Temuilah seorang gadis di kampung halamanmu yang bernama Yngva. Ialah satu-satunya yang dapat menolongmu. Mintalah beberapa tetes air matanya untuk mengembalikan kutukan yang menimpamu. Sebaiknya kau cepat pulang, kudengar desa tempat tinggal gadis itu sudah porak poranda oleh serangan suku barbar," kata sang nenek misterius.
"Bagaimana bisa aku menemukannya sedangkan aku tidak tahu seperti apa rupa gadis itu?" tanya Thorvard.
"Kulitnya putih seperti salju dan rambutnya emas berkepang," jawab sang nenek.
Dengan cepat Thorvard menghabiskan makanannya lalu berpamitan pada nenek itu seraya mengucapkan terima kasih. Ia menyambar mantelnya lalu pergi menghilang dalam kegelapan malam. Ia harus secepatnya mencari Yngva.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar